
Episode 120 : Takdir yang terikat.
***
Benang merah takdir yang telah terikat tak akan bisa di patahkan oleh apapun, harapan dan teriakan orang-orang yang terluka tak akan pernah putus, kejahatan mungkin akan menang sejenak tetapi keadilan tak pernah pandang bulu, keadilan sejati akan ditegakkan saat waktunya telah tiba.
Sama seperti takdir hidup Adam dan Alice yang telah terikat bahkan sebelum Alice lahir di dunia.
Hati mereka langsung kuat terjalin dan mata mereka saling berbicara sejak pertama bertemu, seolah mereka lebih mengenal dari siapapun di dunia ini.
“Haaah …” Alice telah terbangun dengan nafas yang berat, dia segera duduk, matanya sedikit kabur dan tatapannya sedikit silau.
Bagaimanapun hari sudah pagi, dia terbangun di ranjang hangat dan dalam pelukan lelaki yang terus memberikannya rasa aman dan nyaman.
Nafasnya sedikit berat dan matanya memerah, hatinya begitu ngilu dan dadanya sakit karena sesak.
Dia melihat ke sisinya, Adam yang memang kelelahan tadi malam masih terlelap, Alice melihat wajah suaminya yang begitu hangat, lalu ia menyadari tangan suaminya terluka.
Seperti petir menyambar, dia tidak suka melihat seseorang yang ia sayangi terluka, Alice meraih tangan suaminya dan mengusapnya lembut sekali.
Wajahnya sangat serius namun juga khawatir, dia mencoba meniup tangan terluka suaminya mencoba begitu lembut agar Adam tidak terbangun.
“Hmmm …” Adam sedikit demi sedikit membuka matanya, dia melihat istrinya yang sudah duduk sedang meniup tangannya dengan hati-hati.
Sampai akhirnya matanya terbuka sepenuhnya dan melihat wajah istrinya yang masih pucat, pasti lukanya masih membekas dan membuat hatinya sakit akan tetapi dengan segala yang ia punya, Alice lebih mementingkan luka luar di tangan suaminya ketimbang lukanya sendiri.
Hal itu semakin membuat Adam merasa bersalah sebab sesaat hendak menyalahkan keberadaan istrinya.
Adam kemudian menarik tangan istrinya lembut dan membuatnya terbaring dalam dekapannya.
“Sayang … kau jahat! kau membuatku ketakutan sepanjang malam, sudah ku bilang kau jangan kesana kan?!" Adam memejamkan matanya.
Bersandar di tengkuk istrinya dan mengusap pundaknya lembut.
Alice dengan segala beban di hatinya, dengan segala pernyataan yang memenuhi kepalanya merasa tenang berada dalam pelukan suami.
"Maafkan aku, aku hanya .... aku hanya ingin tahu siapa diriku sebenarnya, agar aku bisa melangkah lebih percaya diri, akan tetapi ...."
Suara Alice bergetar hebat, masih membekas di ingatan nya bagaimana ibunya sendiri memukulnya habis-habisan dan mengatakan jika dirinya terkutuk.
Adam sadar trauma wanita yang telah menjadi istrinya begitu dalam, dia tahu menyembuhkan trauma dan luka hati hanya bisa disembuhkan oleh waktu dan bantuan orang terdekat.
"Aku tahu ... sayang ... apakah kau mau mendengarkan kisah ku? sesuatu yang belum pernah aku ceritakan kepada siapapun,"
__ADS_1
"Aku ingin kau tahu jika kau tidak akan sendirian dalam kehidupan mu lagi, aku ingin kau menjadi seseorang yang menyembuhkan aku dari luka ku, dan aku menjadi seseorang yang menyembuhkan mu dari luka mu," Adam mengusap rambut istrinya.
Dia akan menceritakan segalanya tanpa menutupi fakta apapun, memang akan menyakitkan akan tetapi mereka sudah menjadi suami istri.
Yang artinya dua menjadi satu, dimana segala hal akan dibagi dua, termasuk rasa sakit.
Alice memang sadar ada sesuatu yang tersembunyi yang begitu dalam dan gelap di dalam diri suaminya, dan sepertinya suaminya akan membukanya.
Alice yang tadi gemetaran dan tengah cemas karena masih mengingat wajah ibunya, sekarang dia sudah bersandar di dada bidang suaminya hendak mendengar kisah yang memilukan.
Sebuah kisah yang akan membuat Alice membuka matanya dan menyadari jika mereka berdua berada di sisi koin yang sama.
***
Cerita Adam dimulai dari perkenalan keluarganya, ayahnya, ibunya yang lembut namun sedikit cerewet dan adiknya yang sangat ia sayangi, Aleya.
Awalnya Adam bercerita dengan senyuman yang sangat merekah, Alice memperhatikan raut wajah suaminya yang berubah-ubah dan rasanya menakjubkan melihat Adam terlihat sangat bersemangat saat menceritakan mengenai Aleya, adik kecil yang katanya sangat lucu dan menggemaskan.
Mirip seperti Alice.
Sampai pada akhirnya, raut wajah Adam kemudian berubah begitu pilu dan sangat sedih.
Dia menceritakan malam saat tragedi yang mengubahnya menjadi seseorang seperti sekarang.
***
Akram Dutch telah membawa seluruh keluarganya pindah ke sebuah tempat terpencil yang sukar di jamah.
Awalnya untuk menghindari kejaran keluarga Brown namun juga sekalian menenangkan diri dari peliknya ibu kota dan banyaknya kasus kriminal yang sedang ia genggam.
Tetapi tak terasa sudah lima tahun berlalu sejak saat itu, mungkin keluarga Dutch nyaman tinggal di pedesaan sunyi dan bersih itu.
Dan keluarga Brown nampaknya juga masih hendak menemukan siapa yang membantu Blake, karena terlalu banyak pengacara dan hakim di negara ini dan mereka harus memeriksa satu persatu secara hati-hati.
Juga di saat yang bersamaan Keluarga Brown tengah membangun lagi tatanan perusahaan dan berbagai proyek yang sempat terhenti akibat Blake.
Walau harta belum atas namanya akan tetapi sebagai satu-satunya keluarga yang terlihat dan nampak, sepertinya Baron Brown bisa mengotak-atik harta sebelum pewaris sah muncul.
Jadi mereka sepertinya sudah tidak terlalu terburu-buru, namun tetap dalam pencarian untuk melenyapkan siapapun yang membantu Blake dan melenyapkan surat warisan itu juga.
Di sisi yang bersamaan,
Adam juga sudah mulai beranjak remaja, tetapi tak sedikitpun meruntuhkan rasa sayangnya pada adik kecilnya yang sudah berusia 9 tahun.
__ADS_1
"Ayah ... kado apa yang kau siapkan kepada Aleya?" Adam terlihat sangat bersemangat, dia sedang membicarakan mengenai perayaan kecil-kecilan ulangtahun adik kecilnya.
Walau keluarganya sangat kaya dan tersohor, tidak membuat Akram mendidik anaknya menjadi sombong dan malas, bahkan ulangtahun anak perempuannya hanya dirayakan seadanya oleh keluarga inti saja.
Kata Akram, merayakan ulangtahun secara berlebihan hanyalah sebuah tindakan yang melebih-lebihkan karena diluaran sana bahkan ada yang tidak pernah merayakan ulangtahun sekalipun.
"Rahasia ..." ledek Akram pada putranya yang sudah berbinar-binar sejak tadi hendak tahu apa hadiah yang diberikan ayahnya.
"Ayaaaaah ...." Adam sedikit kesal namun tidak terlalu ambil pusing.
"Malam ini kita akan kedatangan tamu, nanti jaga sikap mu yaa," Hari itu Akram memperingati Adam.
Karena malam ini, dia mengundang Alice dan ibunya yang tentunya di dampingi oleh pelayan dan perawat.
Akram tetap merawat Ruby dan Alice, walau tempat tinggal mereka berjauhan demi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan akan tetapi Akram dan istrinya secara berkala memeriksa keadaan dan merawat mereka sepenuh hati.
***
Malam akhirnya tiba, Aleya yang sudah berusia 9 tahun tidak sabar merayakan ulangtahun bersama keluarganya.
Dia mengenakan baju terindah yang ia miliki, bahkan mahkota di kepalanya, karena dia adalah putri di rumahnya, sangat disayang dan dimanja oleh ayah, ibu dan kakak laki-lakinya.
"Ibu ... kenapa ada dua kue di sini? aku kan sudah berusia 9 tahun, kenapa yang satu lagi berusia 5 tahun?" Aleya bertanya kebingungan.
Bagaimana tidak, dia menemukan ada 2 kue di atas meja.
"Nanti kamu akan tahu, tunggu saja ya sayang ...." Ibunya mencubit lembut pipi putrinya.
Ini akan menjadi salah satu kado untuk Aleya, bagaimana Aleya selalu menginginkan adik perempuan.
Kedatangan Alice yang begitu lucu dan menggemaskan akan membuat Aleya bahagia tentunya.
Akram dan istrinya memang sudah sepakat untuk memperkenalkan Alice kepada kedua anaknya, karena sebentar lagi Alice akan disekolahkan di sekolah Aleya, jadi sudah waktunya mereka saling mengenal.
Begitulah pikir Akram dan istrinya.
"Kenapa mereka belum sampai ya Yah? apakah mereka terkena kendala di tengah jalan?" istri Akram tengah bertanya-tanya mengapa Alice dan ibunya juga para pelayan dan suster yang menjaga keduanya.
"Iya, seharusnya mereka sudah tiba sejak tadi ..." balas Akram kebingungan juga.
Sampai pada ketika sebuah ledakan terdengar di pintu rumah, malam yang seharusnya membahagiakan berubah menjadi malam berdarah bagi keluarga Dutch.
***
__ADS_1