
Episode 112 : Asal mula tragedi (II)
***
Kejadian masa lalu,
Asal mula tragedi ....
"Aku tahu Tuan Blake, kau tengah tersudut, tetapi ini bukanlah masalah yang mudah, aku juga tidak bisa melakukan hal banyak karena mereka semua kebal hukum,"
Akram Dutch kembali serius, dia sesekali melihat ke sisi Blake, di sisinya ada istri cantik Blake yang tengah hamil.
Berwajah lugu dan seperti kabarnya seperti nya wanita itu begitu terluka saat masa kecilnya sehingga memiliki penyakit mental, yang hanya bisa tenang saat berada di sisi suaminya.
Entah mengapa saat melihat wanita polos itu hamil dan memegangi perutnya, rasa iba langsung memenuhi kepala Akram.
Dia langsung ingat kedua anaknya, dan merasa betapa tidak adil jika anak yang belum lahir itu akan menjadi korban dari perebutan harta kekuasaan ini.
"Aku tidak meminta banyak Tuan Akram, aku hanya ingin kau menjaga surat wasiat ku, aku akan tetap melawan mereka demi melindungi anak dan istriku, tetapi aku tahu aku bisa mati kapan saja ...."
Saat Ruby mendengar kata mati dari suaminya, Ruby langsung mencengkeram tangan suaminya dan menatap suaminya dengan linangan air mata.
"Mati? kenapa? tidak ... tidak boleh, aku tidak akan biarkan!" Ruby menangis, dia tidak tahu apa yang terjadi hanya saja dia tidak suka suaminya mengatakan kata mati.
Blake kemudian tersenyum lembut, dia menatap istrinya penuh kelembutan dan rasa cinta, dia mengusap pipi istrinya dan berbicara dengan nada yang tenang.
"Tidak sayang, aku tidak akan mati ... tidak akan meninggalkan mu," walau nadanya bergetar hebat dan tangannya sudah terasa dingin, dia tetap ingin menenangkan istrinya.
Blake menghela nafasnya sejenak.
"Sayang ... bisakah kau menunggu aku di luar saja, kau kelihatan senang melihat anak kecil tadi, bermainlah bersamanya sebentar ya," seru Blake memutuskan agar istrinya tidak boleh mendengar pembicaraan nya juga.
Ruby segera menganggukkan kepalanya, dia tersenyum dan mengusap pipinya.
Lalu setelah Ruby keluar, disana Ruby bertemu dengan dua anak kecil yang sanga lucu.
Satu anak perempuan berusia sekitar 4 tahun dan anak laki-laki yang tadi ia lihat, sepertinya berusia 8 tahun.
Mereka menempelkan telinga mereka di pintu secara serempak, mencoba mendengar apa pembicaraan ayah mereka dan tamu misterius itu.
Saat Ruby membuka pintu, kedua anak itu langsung terkejut dan melebarkan mata, mereka berkedip-kedip dan mengaga.
__ADS_1
"Umm ... Aleya, tidakkah kau bilang mau bermain bersamaku," Adam langsung mencoba mengalihkannya perhatian dan pembahasan, dia tidak ingin dianggap tidak sopan sebab sudah menguping.
Adam hendak pergi berlari, tetapi ....
"Kak ... tunggu Eya, kaki Eya kecil jadi tidak bisa mengejar Kaka," Aleya dengan suaranya yang sangat imut dan gempal menggemaskan.
Berlari kecil sekali karena kakinya yang pendek mengejar Kakak laki-lakinya.
Saat mendengar itu tentu saja Adam berhenti dan mencoba menggendong adiknya saja.
"Pfft ..." Entah kenapa Ruby tertawa, dia terhibur dengan kepolosan dan ketulusan anak kecil itu.
Ini adalah kali pertama Ruby tertawa karena orang asing bukan suaminya.
Saat melihat wanita hamil itu tertawa seperti mengejek adiknya yang memiliki kaki pendek, Adam langsung melangkah dengan lantang sembari berkecak pinggang.
"Tante, kenapa tertawa? apakah Tante mengejek kaki pendek adik kecilku, walau kakinya pendek dia menggemaskan sekali, jadi jangan ditertawakan!"
Adam kecil yang menggemaskan dengan pipi masih tembem, mendongak keatas sebab tak rela adik kecilnya ditertawakan.
Baginya itu adalah tindakan mengejek yang disengaja.
Sedangkan Aleya yang memang sangat mungil dengan boneka kelinci di tangannya, tadi sudah berhasil berlari ke lokasi kakak nya.
"Hah!"
Aleya yang sudah kehabisan tenaga langsung duduk di lantai saja dengan sangat menggemaskan.
"Eya lelah, tidak mau berlari lagi," ketusnya dengan nada yang sangat imut.
"Lihat kan adikku jadi marah, Tante sih," gerutu Adam berlari kearah adik kecilnya dan menggenggam tangan adik kecilnya.
"Aku ..." Ruby memanggil Adam dan Aleya membuat kedua anak itu berhenti dan menoleh kearah Ruby.
"Aku tidak mengejek adikmu, aku hanya merasa dia cantik sekali dan imut, apakah kalau dia imut aku tidak bisa tertawa?" tanya Ruby benar-benar polos.
Adam tentu senang mendengar ada orang lain memanggil adik kecil yang ia banggakan cantik dan imut.
Pipi gembul Adam sampai merona.
"Tentu saja adikku lucu," Adam tersenyum.
__ADS_1
Lalu melanjutkan ucapannya.
"Maaf ya Tante, aku salah sangka, nanti Tante juga akan punya bayi lucu seperti adikku," seru Adam menunjuk perut Ruby.
Dimana bermaksud jika nanti, akan ada bayi lucu juga dari sana.
Ruby tersenyum dan mengusap perutnya, "Iya, suamiku mengatakan itu, anak ini apakah kau juga bisa menjaganya nanti?"
"Entah kenapa aku merasa kau adalah kakak yang baik, aku tidak terlalu pandai menjaga seseorang jadi aku ingin meminta tolong agar kau menjaga nya untukku,"
Ruby berseru dengan sangat yakin, walah wajahnya juga sedih.
Ruby juga sadar jika dirinya tidak akan bisa menjadi ibu yang baik, sebab banyak bisikan yang selalu terdengar di telinganya.
Sebab dirinya memiliki penyakit batin yang tidak akan bisa disembuhkan.
Saat Adam mendengar itu, dengan mata yang berbinar dan tulus, juga rasa bangga setelah tadi wanita hamil itu memuji adik kecilnya ....
"Karena Tante sudah memuji adik kecilku, maka aku mau menjaga nya nanti, tenang saja ...." balas Adam begitu yakin.
Seperti takdir yang menjadi benang merah atau seperti ucapan yang didengar semesta, semuanya benar-benar terikat dan terhubung tanpa diketahui dan diduga.
"Terimakasih," balas Ruby riang sekali.
Mengetahui akan ada yang akan menjaga anaknya kelak.
.
.
.
.
Guys maaf ya jika terlalu rumit, aku sudah mencoba menjabarkan secara mudah yaa ... sebagai catatan ini semua hanya ide dari author dan tidak ada sangkut paut dengan kenyataan, jadi bijak dalam membaca yaa..
Sayang kalian banyak banyak
Love
Author Joy
__ADS_1
***