
Catatan : Bagi yang tidak sanggup jangan dibaca episode ini, karena menurut aku sangat sadis dan tidak adil.
Mohon bijak dalam membaca bacaan yaa.
***
Episode 121 : Awal dendam Adam Duke.
***
Alice sudah berusia lima tahun, dia tumbuh menjadi anak kecil yang sangat cantik dan juga memiliki kepandaian di atas rata-rata.
Hanya berbekal ajaran dari pelayan yang menjaganya atas perintah Akram Dutch, Alice sudah bisa menulis, membaca dan berhitung angka sederhana.
Sepertinya kepintaran dan kejeniusan keluarga Brown mengalir di darahnya.
Walau dia tidak pernah sekalipun keluar rumah demi keselamatan, dia tidak banyak bertanya sebab paman dan bibi uang rutin mengunjungi dirinya selalu menghibur dan membawakannya mainan.
Sedangkan Ruby, walau hatinya menjadi kosong dan pilu, tetapi karena kebesaran hati dan kebaikan keluarga Dutch, dia mulai membaik, dia mengenal baik Akram dan istrinya dan menganggap mereka sebagai keluarga.
Walau luka dan traumanya belum sembuh dan kadang kala mengamuk tetapi dia masih memiliki kesadaran yang tersisa karena selalu mendapatkan terapi yang layak dan perlakuan yang baik di sekelilingnya.
***
"Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Paman dan Bibi lagi, apakah kita akan bertemu mereka lagi malam ini?" Alice kecil bersemangat sekali.
Di tangan mungilnya sudah ada kado kecil yang tentu disiapkan oleh pelayan.
Pelayan yang diajak bicara oleh Alice tersenyum dan membalas dengan lembut.
"Tentu saja, karena Alice sangat pintar dan baik hati, malam ini kita akan ke rumah Paman Akram," balas pelayan itu bersemangat juga.
Setelah percakapan itu, Ruby yang juga sudah bersiap-siap dibantu oleh perawat muncul di hadapan Alice.
"I ... Ibu ..." Alice memiliki rasa takut tersendiri jika melihat ibunya.
Ibunya kadang berteriak dan menatapnya dengan sangat mengerikan.
Akan tetapi kali ini, Ruby terlihat tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk digenggam.
Alice meraih tangan ibunya yang sedikit dingin, lalu mereka memasuki mobil bersamaan.
Alice kecil tidak mengerti mengapa ibunya berubah, akan tetapi hal ini adalah hal yang baik.
***
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, matahari sudah tenggelam di ufuk, malam sudah mendera dan karena minimnya lampu jalanan di desa membuat mereka seperti menyusuri jalanan yang hanya disinari lampu mobil saja.
Lalu tiba-tiba ...
"Dor!"
Terdengar tembakan yang mengenai ban mobil sehingga mobil terpelanting karena jalanan licin sehingga seluruh orang yang ada di dalam terluka walau tidak terlalu parah.
"Ahhh ... sakit," Kepala Alice membentur sebuah benda keras yang membuatnya pusing dan pingsan seketika.
Sedangkan yang lain mencoba keluar dari dalam mobil, termasuk Ruby yang sudah gemetaran ketakutan dengan hebat seolah firasatnya mengatakan akan ada yang buruk akan segera terjadi.
"Tuan, mereka sudah kami temukan, apakah mereka akan langsung dilenyapkan disini?" Suruhan Baron akhirnya dengan susah payah menemukan Alice dan ibunya yang selamat lima tahun silam.
"Jangan dibunuh dulu, bawa kesini karena kita butuh sidik jari anak kecil itu untuk mengalihkan kekuasaan secara sah!" seru Baron sudah senang sekali.
Akhirnya tak ada lagi ketakutan dalam dirinya, ketakutan bahwa suatu hari nanti pewaris sah harta kekayaan sesungguhnya akan tiba-tiba datang dan menggulingkannya.
"Baik Tuan, bagaimana dengan yang lain?" tanya suruhannya melihat para pelayan dan suster yang juga sudah ketakutan ketika melihat banyak orang bersenjata di sekeliling mereka.
"Bunuh saja!" seru Baron segera mematikan panggilan itu.
Setelah mendapatkan perintah itu ...
"Dor!"
__ADS_1
"Dor!"
"Dor!"
Dengan membabi-buta, tembakan tanpa ampun mengenai seluruh orang yang tersisa kecuali Alice dan Ruby.
"Aaaaaaa!" teriakan berdarah menggema di tengah kegelapan, melewati pepohonan gelap yang sunyi.
Malam itu, Alice tidak pernah bertemu dengan Paman dan Bibi kesayangannya, dan keduanya dibawa ke mansion keluarga Brown.
***
Di sisi lain sekarang Baron tengah ada di kediaman Akram Dutch, Baron turun tangan secara langsung karena merasa jika Akram merupakan seseorang yang sangat hebat karena bisa bersembunyi selama lima tahun darinya.
"Duar!"
Sebuah tembakan besar meledakkan pintu mansion Akram Dutch.
Tetangga di desa ini berjarak beberapa kilometer jadi tidak akan ada yang mendengar dan tahu kejadian memilukan yang akan terjadi.
"Ah!"
Aleya berteriak ketika mendengar ledakan itu, lalu bersembunyi dibalik tubuh ibunya.
Nafas Akram Dutch memburu, dan belum sempat melakukan apapun, banyak orang dengan pakaian lengkap senjata dan topeng mengepung mereka.
Lalu diantara mereka muncullah Baron Brown yang sudah mendapatkan lokasi mereka.
"Jadi kau yang membuatku susah selama lima tahun ini?"
"Aku akui, kau memang hebat karena bisa bersembunyi selama lima tahun," seru Baron mengakui kehebatan Akram Dutch.
"Namun sayang sekali, karena kebaikan hatimu keluarga tersayang mu akan lenyap," bisik Baron menyeringai.
Dia melihat kearah Adam yang masih terbilang kecil dengan tatapan meremehkan, lalu kearah Aleya yang sudah gemetaran ketakutan di belakang ibunya.
"Jangan ... Baron Brown, setidaknya anak-anak ku tolong, jangan libatkan anak-anak ku," teriak Akram langsung memeluk putranya, tak tahu lagi harus bagaimana.
"Akram, kau tahu meninggalkan satu musuh hanya akan menjadi Boomerang bagiku, aku tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama, jadi sampai jumpa di neraka!" serunya tertawa.
Kedatangan Baron Brown secara langsung ke tempat terpencil ini adalah untuk memastikan secara langsung Kematian keluarga Dutch yang terkenal adil dan berwibawa.
Agar tidak ada saksi yang tahu jika harta kekuasaan Brown bukan milik Baron melainkan Alice, semua bukti harus dilenyapkan.
Baron merogoh rokok di kantongnya dan menghisapnya, "Bunuh mereka semua, lalu buang ke lautan, agar semua bukti tak tersisa," seru Baron dengan entengnya seolah nyawa manusia tidak berarti baginya.
Lalu di berlalu pergi, sekitar satu kilometer dari mansion ini memang ada pantai, jadi jika tubuh keluarga Dutch di buang ke laut maka mereka tak akan pernah di temukan.
Apalagi mansion ini sedikit terpencil sehingga akan sulit di temukan orang, dan penyelidikan kematian akan menemukan hambatan.
Saat Baron Brown keluar ....
"Ibu ... siapa mereka," Aleya menangis ketakutan, di peluk oleh ibunya.
Sedangkan Akram memeluk putranya.
"Maafkan Ayah, Nak, maafkan Ayah ... semua salah Ayah," Akram bahkan menangis, dia tidak sanggup menghadapi semuanya ini.
"Dor!"
"Dor!"
"Dor!"
Tembakan tanpa ampun dan membabi buta memenuhi ruang tamu yang awalnya akan menjadi perayaan ulang tahun Aleya.
"A ... AYAH, AYAH .... IBU ... ALEYA! AAAAAAA!" Adam berteriak, menangis dan hendak meraih Aleya yang sudah bersimbah darah dalam pelukan ibunya.
Darah yang menggenang membuat kepala Adam pusing, teriakannya semakin melemah namun ia bisa melihat adiknya sudah terkapar namun masih mencoba memanggil ibunya.
"Ibu ... Ibu, bangun ... Aleya sakit ...."
__ADS_1
"Ayah ... Ayah, Kak Adam, tolong lakukan sesuatu, Aleya sakit ...."
Aleya menangis, tangan mungilnya sekarang hendak meraih Adam menyeret ke lantai hingga akhirnya.
"Dor!"
Satu tembakan langsung mengakhiri segalanya, Aleya sudah tidak bersuara lagi.
Ayahnya, ibunya, Adik kecilnya semuanya terkapar dalam keadaan berdarah.
"AAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Adam berteriak histeris, walau dia juga mendapatkan luka tembakan tetapi teriakannya masih menggema.
Dan ....
"Dor!"
Tembakan segera mengenai Adam juga dan dia ikut terkapar, namun dia hanya lemas dan kesakitan belum kehilangan nyawanya.
Dia bisa melihat saat tubuh keluarga nya diangkut dan dibuang ke laut, dadanya perih dan kemarahan mengerikan memenuhi dadanya.
"Baron Brown! akan ku habisi! akan ku habisi seluruh keluarga mu!"
"SEMUANYA!"
"BARON BROWN!"
Dia bersumpah dalam hatinya sampai akhirnya tubuhnya juga jatuh ke dalam lautan.
"Jangan mati! jangan mati!"
"Aku harus hidup, aku harus hidup!"
"Aku harus membalaskan mereka, aku rela melakukan apapun! apapun!" Adam berteriak dalam dadanya saat dia sudah mulai tenggelam.
Lalu semuanya menjadi gelap.
Adam mengira dia sudah mati dalam lautan itu, akan tetapi semesta memiliki rencana lain, Adam selamat karena lautan dangkal itu menyeret tubuhnya ke tepi pantai.
Di saat yang sama, Morgan Regis tengah dalam perjalanan menuju mansion baru Akram Dutch, saat itu sedang ada pengalihan kekuasaan di kerajaan Eden dimana saat itu raja sudah menjadi keturunan langsung yaitu Sean Regis.
Morgan bermaksud untuk mengajak Akram menjadi salah satu pejabat di kerajaan karena Morgan tahu seberapa cerdas dan lembut Akram Dutch, sangat cocok menuntun Raja baru yang terkenal susah diatur.
Akan tetapi yang temukan adalah mansion bersimbah darah yang mengerikan, dan Adam yang sudah dalam keadaan mengkhawatirkan di rumah sakit setempat, setelah di bawa oleh warga.
Sejak saat itu Adam dibawa ke kerajaan Eden, Morgan melatih Adam seperti anaknya sendiri, namun kegelapan dan dendam di hati Adam berakar lebih gelap dari dugaan Morgan.
Karena itulah dia rela putranya yang memang memiliki kekaguman dengan kehebatan Adam, mengikuti Adam kemanapun, agar Adam tidak kehilangan jati dirinya.
Dan Morgan berharap di perjalanannya menuju sukses dan tujuan hidup, Adam menemukan teman yang tepat dan seseorang yang berarti.
Agar hidup Adam tidak berhenti hanya untuk balas dendam.
***
Sejak itulah petualangan Adam Duke dimulai, saat merintis perkumpulan nya, dia bertemu Sazu dan Black, lalu dengan melakukan banyak hal Adam berhasil membangun perusahaan nya sendiri.
Lalu mereka bertemu Haley, dan setelah dirasa kekuasaan sudah mumpuni, Adam akhirnya melancarkan Rencana balas dendamnya kepada keluarga Brown, sampai akhirnya dia bertemu Alice.
Takdir hidup yang terikat dengannya.
.
.
.
Author : Maaf ya flashback lagi, biar lebih jelas alur nya dan mengapa Adam sangat dendam sama Baron Brown.
Juga mengenai kejelasan hubungan yang ada antara Alice dan keluarga Akram Dutch.
__ADS_1