Pengantin Tuan Adam

Pengantin Tuan Adam
Pertemuan Alice dan Rose.


__ADS_3

Episode 68 : Pertemuan Alice dan Rose.


***


"Sempurna," Haley sangat puas dengan riasan Alice hari ini, Alice terlihat sangat cantik dan anggun, gaun yang dikenakan terlihat pas dan menunjukkan kecantikan Alice dengan sangat baik.


"Ckrek!"


Haley mengambil potret Alice hari itu dan mengirimkannya ke Bosnya.


"Tring!"


Saat Adam menerima gambar istrinya yang terlihat cantik sekali dan anggun, pipi Adam langsung memerah.


Segala campur aduk perasaan mengenai asal usul Alice langsung sirna, dia benar-benar telah terpana kepada istrinya itu.


"Siapapun kau, kau tetap istriku, jika kau bukan anaknya Gordon Brown maka itu jauh lebih bagus," serunya tersenyum sangat puas.


"Ah, aku harus mengajaknya kencan malam ini, sebelum lelang besok aku harus menghabiskan waktu bersama istriku!"


"Lalu sehabis kencan kami akan .... ah, aku tidak sabar, aku belum puas sama sekali! ha ha ha!" Adam tertawa di ruangan kerjanya.


Dia sudah memikirkan segala pikiran nakal dan bayangan nakal di kepalanya.


Tujuannya hanya satu yaitu, mendapatkan pelukan, ciuman dan malam panas bersama wanita nya.


Adam langsung kembali ceria begitu cepat.


Hanya melihat keindahan dan kecantikan istrinya, mood Adam kembali secepat kilat.


"Tring ... Tring ... Tring!"


Setelah puas melihat foto istrinya di kirimkan oleh Haley, Adam segera menghubungi Kai.


"Kai ...."


"Iya Bos?"


"Untuk perjamuan yang aku sebutkan saat lalu bersama seluruh keluarga Brown, aku ingin pertemuan itu dituda dulu, kita harus tahu asal usul Alice terlebih dahulu,"


"Kita tidak boleh gegabah dan melangkah terlalu cepat,"


Adam memerintahkan kepada Kai untuk menunda perjamuan satu minggu setelah dia memenangkan pemilu.


Mereka harus sangat berhati-hati dalam langkahnya, karena rencana mereka sudah berjalan sangat lancar tanpa cela, jadi mereka harus sangat hati-hati.


"Siap Bos," Kai segera menyanggupi permintaan Bosnya.


Lalu setelah itu Adam Duke mengakhiri panggilannya bersama anak buahnya itu.


Dia akhirnya bisa fokus melakukan pekerjaannya, dia akhirnya sadar siapapun Alice, Alice tetaplah istrinya, tidak peduli dia anak kandung Gordon Brown atau tidak.


***


Di restoran pribadi keluarga Brown,

__ADS_1


Alice dan Haley sudah sampai di tempat pertemuan antara Alice dan Rose.


Awalnya Alice gugup akan tetapi ia tahu ini adalah langkah pertama untuknya agar bisa maju dan menjadi kuat.


"Aku akan tidak akan kalah!" geramnya melangkah dengan sangat percaya diri.


"Hummm!" Haley ikut mendukung Alice.


Haley akan menjaga Alice selama bertemu dengan Rose, Haley tidak akan membiarkan apapun terjadi kepada Alice.


Alice dan Haley melangkah dengan percaya diri, dari kejauhan di dalam restoran mewah kosong, Alice sudah bisa melihat Rose.


Kakaknya yang selama ini memberikan penyiksaan kepadanya secara tidak manusiawi.


Ini adalah kali pertama Alice melihat wajah Rose akan tetapi Alice bisa langsung kenal, entah mengapa wajah Rose telah terkena di kepalanya sejak ia kecil, Alice juga bingung akan tetapi itu bukanlah hal yang besar untuk saat ini.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Jantung Alice berpacu saat melangkah mendekat kearah Rose.


Dan disaat yang bersamaan Rose juga terlihat kebingungan.


"Kenapa wanita rendahan ini bisa melihat dengan benar? mengapa dia kelihatan cantik sekali?"


"Wajahnya juga terlihat percaya diri! apakah ini Alice yang dikurung di belakang mansion ayahku?"


Rose sampai tidak berkedip sama sekali.


Dia tidak menduga hanya dalam waktu singkat, perubahan Alice bisa sejauh ini.


geram Rose sejak tadi saat melihat Alice dengan percaya diri dan kecantikan yang sangat indah mendekat kearahnya.


***


Saat Alice sudah ada di depan meja makan, Alice tersenyum namun matanya sangat tajam, hal itu semakin membuat Rose kebingungan.


"Adik kecilku, kau cantik sekali setelah menikah, apakah mereka memperlakukan mu dengan baik?"


Tersenyum begitu manis, Rose sedang bersandiwara, dia meraih tangan Alice dan menyalaminya hendak memberikan tekanan dari salaman itu.


Akan tetapi ...


"Ah ... sakit!"


Rose berteriak kecil.


Jantung Rose berdegup kencang sekali, entah mengapa tiba-tiba saja dia merasa takut.


Bagaimana tidak, saat dia hendak meremas tangan Alice hendak memberikan ancaman pertamanya, malah kebalikannya.


Alice meremas kuat tangan Rose dan sekarang tengah tersenyum seperti tidak ada yang terjadi.


Padahal jelas-jelas kekuatan tangan Alice benar-benar membuat tangannya memburu sekarang.


"Siapa wanita ini, kenapa dia mengerikan, jelas-jelas ini bukan Alice," geram Rose dalam hatinya.

__ADS_1


Dia masih berdiri disaat Alice dan Haley sudah duduk.


Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya gemetaran, seolah baru melihat hantu saja.


Dia tidak mengenal wanita yang ada di hadapannya ini, Alice bukanlah seorang yang bisa tersenyum mengerikan seperti itu.


Alice adalah mainan bodohnya yang akan menerima pukulan dengan senang hati darinya, yang tidak akan menangis sekeras apapun dia memukulnya.


Alice adalah mainan bodohnya selama ini, dan mainan bodohnya itu sedang tersenyum percaya diri dan baru saja melukainya.


"Apa yang kau lakukan? kenapa kau tetap berdiri? tidakkah kau sedang mengundang ku untuk berbicara? sekarang katakan apa yang ingin kau bicarakan?" Alice dengan percaya dirinya hendak menanyakan apa maksud dan tujuan Rose hendak mengundang Alice ke restoran ini.


Dan saat mendengar hal itu, Rose yang masih percaya diri segera menyeringai.


"Adik kecilku, kenapa kau terlihat sangat ketus kepada kakak mu ini?"


"Aku mengajakmu kesini untuk membicarakan hal penting,"


Rose tersenyum menyeringai, dia berpangku tangan dan menatap Alice yang kelihatan berdandan dan memang sangat cantik sekali.


"Kau pasti tidak lupa betapa pelayan yang mati karena mu kan? kau itu terkutuk loh ...."


"Jangan membuat orang kesusahan adik, nanti karena kesialan mu, Adam Duke dan wanita yang ada di sisimu itu akan mati seperti pelayan yang ada di rumah dulu,"


"Aku hanya kasian kepada Tuan Adam Duke dan teman mu itu, mereka menampung seorang yang berbahaya seperti mu,"


"Jadi, disini aku hendak memberikan Penawaran ...."


Rose membisik, dia tersenyum sangat mengerikan.


Ucapan yang sangat menyakitkan, dia membuat Alice mengingat segala kenangan buruknya di mansion ayahnya.


Rose segera melanjutkan ucapannya ....


"Tinggalkan Tuan Adam Duke, dan kembalilah menjadi adik kecilku yang menurut," bisik Rose menekan Alice.


Dia yakin, Alice pasti percaya dengan semua kebohongan yang ia katakan, ia yakin Alice tidak akan mau melukai orang lain.


Dia yakin Alice hanya cantik bagian luar tetapi hatinya masih sangat lemah.


Akan tetapi ....


Alice yang mendengar itu segera tertawa, "Pftttt ... ha ha ha!"


"Rose, apakah kau kira doktrin mu masih akan berlaku untuk ku?"


Alice tersenyum, dia menantang Rose secara terang-terangan.


Tidak seperti yang diduga oleh Alice, ternyata menghadapi Rose tidak sesulit itu, bahkan sekarang Alice tidak tertekan atau takut sama sekali.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2