Pengantin Tuan Adam

Pengantin Tuan Adam
Adam Duke dan Baron Brown.


__ADS_3

Episode 139 : Adam Duke dan Baron Brown.


***


Keadaan dalam aula menjadi semakin tegang, tidak ada yang berani berkutik.


Baron yang menggunakan otaknya untuk berpikir begitu keras tengah mencari cara agar dia bisa lepas dan bebas dari cengkeraman lelaki muda yang sungguh bisa menjebaknya.


Mungkin, Baron telah dibutakan oleh ketertarikan nya dengan pesona Adam, bagaimana Adam begitu mirip dengannya, akan tetapi itu menjadi boomerang baginya.


"Aku akan mengabulkan segala permintaan mu, tapi mari kita berbicara baik-baik dahulu!"


Baron sudah kehabisan akal, jika dia bergerak sedikit saja maka mungkin dia akan dibunuh detik itu juga.


"Ho? mau memberikan penawaran ya?"


"Baiklah ... aku hanya ingin kau mengakui segala daftar bisnis ilegal, kecurangan dalam pemerintahan, termasuk pemilu, penjualan barang-barang terlarang bahkan pembunuhan banyak orang tak bersalah termasuk keluarga ku!"


"Katakan kau bersalah atas segala kejahatan itu maka aku akan membiarkan mu berunding denganku!"


Adam menyeringai tajam, dia tengah memancing Baron Brown agar dia mengakui segala kejahatannya.


Saat mendengar itu Baron menyipitkan matanya, dia kebingungan mengapa Adam ingin dia mengakui segalanya.


Akan tetapi tidak ada jalan lain, dia sungguh tidak mendapatkan ide untuk bisa keluar dari sini.


Jadi dia akan menurut untuk kali ini saja, akan tetapi kemarahan dalam dadanya pada Adam Duke tak akan kembali mereda.


Untuk pertama kalinya, Baron Brown selama hidup menundukkan kepala untuk keselamatan nyawanya.


Mungkin karena dia sudah semakin tua, tidak ada yang tahu akan tetapi segala sesuatu yang ia lakukan selama hidup, segala kejahatan itu akan memburunya sekarang.


"Baiklah jika itu mau mu, tetapi setelah ini biarkan kita berunding dengan damai ...."


Baron menarik nafasnya dalam-dalam.


Lalu ia secara lantang mengakui segala kesalahan dan dosanya, bahkan mengakui jika dia adalah dalang dibalik pembunuhan Akram Dutch, Ruby, keluarga Adam dan bahkan mengalihkan kekayaan atas nama Alice menjadi atas nama dirinya.


"Saya mengakui segalanya, jadi bisakah kita berunding sekarang?"


Walau dia masih kesakitan, Baron Brown mencoba dengan sangat keras agar dia bisa berbicara dengan tenang dengan Adam lalu saat itu ia akan menghasut Adam agar dia bisa bebas dan membalaskan perbuatan Adam seribu kali lipat.


Tentu saja Baron tidak menyesali perbuatannya, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah bagaimana cara agar dia bisa bebas hari ini dan membalaskan dendam.

__ADS_1


"Pfft .... ha ha ha!"


Adam tertawa namun wajahnya memerah karena marah sekali, dia bisa melihat wajah munafik dan menjijikkan dari Baron yang bahkan tidak menyesal atas segala perbuatannya.


Ternyata ucapan istrinya benar, jika manusia seperti Baron yang dengan sengaja dan tidak bersalah menghilangkan nyawa orang lain tidak akan memiliki penyesalan untuk kejahatannya.


Jadi, jika untuk membalaskan dendam sama dengan cara yang dilakukan oleh Baron maka cara itu terlalu mudah dan indah bagi Baron.


Ada cara yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri.


"Sudah ku duga kau tidak akan menyesal! dasar monster!" suara Adam terdengar dingin, wajahnya menjadi tegas kembali lalu senyuman mengerikan terlihat disana.


"Kai ... sudah usai kan semua? dia sudah mengakui sendiri kesalahannya! selanjutnya. adalah misi mu!"


"Ternyata lebih mudah dari dugaan ku, lelaki itu terlalu tamak sehingga bisa dijebak dengan mudah!"


"Mengetahui dia adalah dalang di balik kematian keluarga ku membuatku jijik!"


Adam berbicara menggunakan alat yang ada di jasnya ke tempat Kai.


Adam sudah berdiri lalu ia mendekat kearah Baron Brown.


Baron yang masih kesakitan mencoba merangkak mundur, akan tetapi Adam segera mengeluarkan senjata api dari saku belakangnya.


Dia mengarahkannya ke kepala Baron Brown.


"Haaahhh!"


Nafas Adam berat sekali, tangannya bergetar hebat, jika dia menarik pelatuk maka pelaku pembunuhan keluarga nya akan musnah.


Akan tetapi itu akan menghancurkan segala rencananya dan saran istrinya.


Adam memejamkan matanya sejenak.


"Aku tidak akan membunuhnya, sisa nya aku serahkan kepadamu!" seru Adam kemudian.


Akan tetapi ...


"Dor!"


"Dor!"


"Dor!"

__ADS_1


"Dor!"


Sebanyak empat tembakan tiba-tiba saja diarahkannya oleh Adam Duke.


"Heh! aku memang bilang tidak akan membunuhnya, tetapi jika menembak kedua tangan dan kakinya aku rasa tidak masalah!"


Seru Adam menatap tajam sembari menyeringai.


"Aaaahhhhh!"


Baron berteriak kesakitan, darahnya sudah bercucuran dan dia bisa melihat betapa ngeri Adam Duke yang berdiri di hadapannya.


Kengerian Adam yang menembaki nya secara brutal mengingatkan dirinya saat dia memerintahkan anggotanya menembaki anggota keluarga Adam Duke.


"Sakit ... siapapun kalian yang ada di ruangan ini, cepat lakukan sesuatu!"


Baron berteriak histeris, dia meminta pertolongan dari seluruh sekutunya.


Akan tetapi tak ada yang bergerak, semuanya hanya mementingkan nyawa mereka masing-masing.


"Aku tidak boleh mati disini!"


"Aku tidak boleh mati disini!"


"Aku tidak boleh mati disini!"


Hanya itu yang ada dalam pikiran Baron Brown.


Lalu dengan segala usaha agar dia bisa bebas dia merangkak menuju Adam Duke.


"Ampuni aku Adam, aku bersalah, jangan bunuh aku, aku akan lakukan apapun, tolong ...."


Baron meminta ampun, dia menangis seperti anak kecil demi nyawanya.


Darahnya sudah mengalir di segala tempat, dan dia sudah mulai merasa pusing karena kehilangan banyak darah.


"Hahahaha! ampun? kau bilang ampun?"


"Katakan itu di neraka saja, tidak ada ampun bagi manusia seperti mu!"


Bisik Adam malah menertawakan keadaan Baron Brown.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2