
Episode 150 : Salam perpisahan.
***
Setelah mempersiapkan hati, akhirnya keduanya sudah bersiap berangkat ke makam yang sudah dibenarkan, dimana ternyata Gordon memakamkan Ruby tepat disebelah makam Blake Brown.
Nafas Alice entah mengapa menjadi sedikit berat, jika diingat lagi ini akan menjadi kali pertama untuk jiarah di makam ayah dan ibunya.
Sosok yang selama ini tidak memiliki gambaran yang utuh di kepala Alice.
Tetapi Alice sudah memutuskan untuk memaafkan dan melupakan masa lalunya, dia ingin hidup bahagia dan menjadi istri juga ibu yang baik sesuai janjinya.
Adam tidak berhenti menggenggam tangan istrinya, dimana Alice tengah menggenggam bunga Daisy di tangannya.
Arti dari bunga Daisy adalah awal yang baru, dimana Alice ingin memulai segala sesuatu dalam hidupnya, memulai dari awal.
Walau ia tidak ada kenangan indah bersama ayah dan ibunya, Alice ingin memaafkan mereka, agar hatinya berdamai.
Setelah beberapa saat melangkah, akhirnya mereka sampai di tempat makam Ruby dan Blake Brown.
Entah mengapa angin kencang segera menyapa, pohon yang berada di dekat makam bergoyang seolah ada sesuatu yang telah menunggu kedatangan Alice dan Adam.
'Tes'
Air mata Alice bercucuran seketika, dia melihat batu nisan bertuliskan nama ayah dan ibunya.
Yaitu Ruby dan Blake Brown.
"Aku datang Ayah ... Ibu ..." dia berbicara pelan, dia mendekat lalu meletakkan bunga Daisy di dekat batu nisan ayah dan ibunya.
"Ya ... aku Alice ... putri kalian, aku baik-baik saja ... aku sudah dewasa dan bahkan memiliki suami, sebentar lagi akan memiliki anak ...."
"Aku disini untuk mengucapkan perpisahan secara layak, aku ingin mengatakan jika tidak marah dan aku ingin bisa hidup dengan damai sekarang ..."
"Ibu ... aku sudah mendengar seluruh kisah mu, aku mengerti mengapa kau membenci ku dahulu, tetapi sekarang sudah cukup ... tolong biarkan aku tenang dan jangan datang kedalam pikiran ku lagi ... aku memaafkan mu Bu, aku bersungguh-sungguh."
"Ayah ... aku juga sudah mendengar seluruh kisah mu, rasanya tidak adil kau mengalami segala nya, kita tidak pernah bertemu tetapi aku bisa merasakan bagaimana kau menyayangiku ... tolong tenang disana Ayah. .. aku sudah bahagia sekarang, setidaknya sekarang sudah ada yang menjagaku ...."
Alice berbicara, dia menumpahkan segala hal yang ingin ia sampaikan.
Dia menatap kearah suaminya yang berdiri kokoh seperti pohon yang melindungi dirinya.
Adam berdiri dan memerhatikan istrinya, menjaganya dan memastikan segalanya baik-baik saja.
Saat Alice menatap kearah suaminya, Adam memiringkan wajahnya dan tersenyum.
Matanya berbicara seolah mengatakan semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
"Tak ... Tak ... Tak!"
Alice segera berlari, dia memeluk suaminya dan membenamkan wajahnya di dadanya.
"Aku sudah selesai, apakah ada yang ingin kau sampaikan kepada Ayah dan Ibuku?" Alice mengangkat wajahnya sembari menatap keatas dimana suaminya sudah menunduk untuk bisa melihat istrinya.
Adam meraih kedua pipi Alice dan mengusap air mata di pipinya.
"Aku hanya ingin mengatakan jika sekarang kau akan bahagia selamanya, tidak akan ada lagi kesedihan, aku akan menjagamu dan mencintai ku seumur hidup ...." Adam tersenyum sangat hangat.
Wajahnya yang tegas dan maskulin, tetapi matanya sudah menjadi sangat lembut jika menatap istrinya.
Dia melihat ke arah makam Ibu kandung Alice.
"Mungkin aku akan memanggil mu Ibu mertua, aku sudah menyanggupi janjiku, aku menjaga nya dan akan menjadi pelindungnya sampai akhir, Ibu mertua sudah bisa tenang sekarang ..."
Adam tersenyum, saat itu angin lembut menyala wajahnya.
Seolah Ruby bahagia jika anak lelaki yang dulu ia minta menahan putrinya sungguh menjadi penjaganya sekarang.
Mata Alice melebar saat mengetahui hal itu, dia bingung mengapa Adam seolah memiliki janji dengan ibunya.
"Janji?" tanya Alice dimana sekarang dia sudah dituntun oleh Adam untuk segera pergi kembali.
Sekarang giliran Adam yang akan membawa Alice ke tempat dimana Adam biasanya menjumpai keluarganya.
Di dermaga, sebab tidak ada makam fisik keluarganya karena hanyut di lautan saat dulu.
"Sayang ... apakah kau percaya jika takdir itu nyata?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Alice, Adam malah menimpah dengan pertanyaan yang lain.
"Ummm ... sepertinya aku percaya ..." balas Alice mengikuti langkah suaminya.
Angin sepoi-sepoi masih menyapa mereka, membuat perjalanan mereka terasa ringan dan segar.
"Aku juga percaya, apakah kau tahu, sebelum kau lahir ... sebenarnya Ibumu sudah menitipkan mu untuk ku? sangat luar biasa kan, seolah Ibumu bisa melihat masa depan ...."
Saat Alice mendengar fakta itu, matanya berbinar-binar, dia tidak menyangka jika hal itu terjadi.
***
Disaat yang bersamaan,
Kai, Black dan Sazu sudah usai menyelesaikan misi mereka.
Black akan mengambil libur panjang dan hibernasi di kediamannya.
__ADS_1
Kai akan membantu Bosnya di perusahaan, sebab Adam sudah mengundurkan diri dari pemerintah.
Karena Adam tidak cocok dengan dunia pemerintahan, lagian dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak menyembunyikan diri dengan istrinya.
Jadi keputusan tepat jika dia mengundurkan diri dari pemerintahan.
Karena Adam dan istrinya benar-benar memisahkan diri dari dunia luar untuk sementara waktu, Kai benar-benar membantu Bosnya dengan segenap hati.
Sebelum dia kembali pulang dan merawat ayahnya nanti, dia akan membantu Bos yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya.
Sedangkan Sazu yang dengan menggebu-gebu merasa Haley harus mendapatkan jodoh sesegera mungkin tengah mengatur kencan online untuk Haley.
Sazu akan melakukan segala cara agar Haley bisa melupakan masa lalu dan memiliki kekasih.
Sazu tidak pergi ke casino untuk berjudi atau taruhan, dia benar-benar bersungguh-sungguh hendak membantu Haley.
***
Kembali ke tempat Adam Duke dan Alice,
Setelah berkendara beberapa saat, akhirnya Adam dan Alice sampai di dermaga dimana Adam sering datang ke tempat ini.
Angin laut membuat udara sedikit dingin, walau cuaca terlihat cerah sekali.
Adam tetap menggenggam tangan istrinya, dia juga akan menyampaikan perpisahan nya dengan lukanya.
Walau berat, tetapi sama seperti Alice ... hal ini wajib ia lakukan agar nantinya tidak akan menjadi boomerang dalam hidupnya.
Mereka berdua tengah berdiri di tepi dermaga, Alice adalah orang pertama yang ia bawa bersama kemari.
Artinya, Alice benar-benar sangat berharga dalam hidupnya.
"Ayah ... Ibu ... Aleya, ini istriku, namanya Alice, anak yang dulu kalian selamatkan, sekarang menjadi istriku ...."
"Sekarang aku akan hidup bahagia Ayah, Ibu, Eya, maafkan aku tetapi sudah saatnya aku melangkah maju dan melupakan rasa sakit ku,"
"Aku sudah memiliki keluarga, jadi aku harus melupakan rasa sakit yang aku ingat dari kalian ..."
Adam menunduk, tangannya bergetar dan nafasnya menjadi berat.
Saat itulah Alice bisa melihat betapa menderita suaminya, tetapi walau Adam menderita dan kesakitan, dia tetap berdiri kokoh dan tegap dan menghibur nya.
Padahal Adam sendiri juga butuh dukungan dan hiburan.
.
.
__ADS_1
.
Like dan komentar kalian adalah semangat author loh, jangan lupa berikan Like dan komentar nya yaa 🤍