Pengantin Tuan Adam

Pengantin Tuan Adam
Mengusir makanan?


__ADS_3

Episode 155 : Mengusir makanan?


***


"Sayang ... kau sudah bangun?" Alice yang menyadari kehadiran suaminya melihat kearah Adam dan tersenyum.


Dia tengah mengatur meja untuk mereka makan.


Saat itu, tanpa aba-aba, Adam langsung berlari dan mendekap istrinya erat sekali.


Saat Adam mendekapnya erat sekali, Alice sampai harus menahannya nafasnya sejenak.


Dia merasa pelukan ini terlalu kencang sehingga ia merasa sedikit sesak.


"Sayang ... kau membuatku takut, jika aku sedang tidur jangan pergi kemanapun sebelum aku bangun ..."


Adam menggerutu, dia menyembunyikan wajahnya yang sudah terlihat sangat khawatir.


Dia tidak ingin menunjukkan ekspresi memalukan itu.


"Uhm ... sa ... sayang maafkan aku tapi kau memelukku terlalu kencang ..."


Alice mencoba mendorong suaminya, agar melonggarkan pelukannya sebentar.


"Ah ... maafkan aku, tapi kau harus janji dulu, jangan pergi kemanapun sebelum aku bangun, kau harus tetap di sisiku!"


Adam tidak ingin melepaskan pelukannya, Sebelum Alice mengatakan janji tersebut.


"Baiklah ... baiklah, aku tidak akan pergi kemanapun sebelum kau bangun ... aku janji ..."


Alice akhirnya menyadari betapa suaminya sangat manja dari sebelumnya, melebihi dari apa yang ia pikirkan.


Setelah mendengar hal itu, Adam melonggarkan pelukannya sebentar, dia menatap kearah istrinya sembari tersenyum nakal sekali.


"Kalau begitu cium dulu ...." ucapnya memajukan bibir dan menundukkan kepalanya.


Meminta ciuman disaat seperti ini, disaat masih banyak pelayan dan masih ada kepala koki yang tadi mengajari Alice adalah sesuatu yang sangat memalukan baginya.


Tetapi Alice mulai memahami, semakin hari ia semakin tahu bagaimana sebenarnya Adam itu sangat suka menunjukkan kepemilikannya atas dirinya.


"Ma ... masih banyak pelayan ..." Alice menunduk malu.


Dia bingung harus bagaimana, dimana seluruh pelayan yang ada di sekitar mereka juga menunduk dengan malu.


Atas sikap Adam yang menunjukkan kemesraan nya di depan mereka.


"Hehe ... kau masih malu saja, aku kan suamimu ... cium sekarang, atau aku akan mencium mu lebih dulu, jika aku yang mencium mu lebih dulu maka mungkin durasinya akan sangat panjang, dan kau tidak akan bisa melarang ku setelah aku memulai ..."


Adam menatap dengan nakal dan senyumannya menyeringai tajam.


Adam suka sekali mengerjai istrinya, membuat istrinya tersipu malu karena saat itu Alice akan terlihat sangat menggemaskan.

__ADS_1


Alice menatap kearah suaminya dengan tatapan menyelidik, Alice merasa selalu saja terkena jebakan oleh suaminya ini.


"Baiklah ... baiklah, kau selalu menang!"


Ketusnya menjijitkan kaki dan memejamkan matanya.


Dia mencium suaminya, namun sepersekian detik dia langsung tertunduk dan bersembunyi di dalam dada suaminya.


"Sudah ... aku malu sekali, sungguh ...." Alice berbicara pelan dan sekarang wajahnya pasti sudah semakin merah.


"Kau memang istriku yang sangat menggemaskan, kita bisa melanjutkan nya si ranjang nanti ..." seru Adam mengusap rambut Alice.


Saat itu matanya menangkap makanan seadanya yang ada di atas meja.


Matanya sedikit menyipit sebab ini adalah neng makanan paling sedikit yang pernah ia lihat, dia merasa kepala koki dan pelayan sepertinya bermain-main dengannya.


"Apakah ini makan malam kami?"


Adam bertanya kepada kepala koki yang sejak tadi menunduk di dekat mereka.


Suaranya sedikit tegas dan matanya menyipit seolah kepala pelayan itu sedang melakukan kesalahan.


"I ... iya Tuan, Nyonya Alice telah ...."


Kepala pelayan itu hendak menjelaskan jika masakan ini disiapkan oleh istrinya, dan hendak memberikan kejutan untuk Adam Duke.


"APA? apakah kau merasa remeh kepadaku dan istriku? istriku sedang hamil, dia butuh makanan bergizi dalam jumlah yang banyak, apakah kau mempermainkan kami? begitu?"


Suara Adam sedikit berteriak, dia tidak suka saat melihat menu makanan yang ada diatas meja.


Menurut nya jenis makanan itu terlalu sederhana dan sedikit untuk istrinya yang tengah hamil muda.


Padahal Alice membutuhkan asupan gizi yang banyak diawal kehamilan.


"Tapi Tuan ..." Kepala pelayan itu hendak menjelaskan.


Hingga ketika Alice menaikkan Wajahnya dan menatap kearah suaminya.


Matanya berkaca-kaca dan berbinar-binar, dia menatap suaminya seolah suaminya baru saja melakukan kesalahan paling fatal yang pernah ada.


"Sayang ... jangan sedih, aku akan memecat mereka semua jika perlu, aku tahu kau pasti membutuhkan makanan yang bergizi, mereka pasti menganggap remeh dirimu makanya menyediakan makanan seperti ini!"


Adam mengusap pipi istrinya dengan sangat lembut, bahkan berusaha memberikan Alice pembelaan yang kuat sekarang ini.


Sikapnya sungguh berbeda sekali terhadap orang lain dan terhadap istrinya.


Di hadapan istrinya, Adam akan sangat lembut dan pengertian, sedangkan di hadapan orang lain, Adam akan sangat tegas, mengerikan dan terlihat ganas.


"Sayang ...." Alice dengan wajahnya yang hampir menangis karena masakannya baru saja diusir oleh suaminya itu memukul dada suaminya pelan.


"Hmmm? kenapa sayang? apakah kau ingin makan diluar saja?"

__ADS_1


Adam belum juga paham, jika sebenarnya makanan itu adalah hasil masakan yang dimasak oleh istrinya untuk pertama kalinya.


Alice menunjuk makanan itu dengan tangan mungilnya ....


"Itu ... adakah makanan yang aku masak untukmu, aku belajar memasak dari Pak kepala koki, tetapi kau malah mengusir makanan yang aku masak .... apakah masakan ku seburuk itu?"


Alice menunduk lesu, dia mendorong suaminya dan kemudian memalingkan wajahnya.


Sekarang Alice terlihat kesal dan ngambek.


"APA?"


"Ka ... kau memasak untuk ku sayang?"


Nafas Adam memburu dan jantungnya rasanya berdegup semakin kencang.


Dia terlalu bersemangat sampai lupa apa yang hendak ia katakan.


"Deg ... Deg ... Deg!"


"Kenapa kau tidak jelaskan kepada ku! ini semua salah mu! pergi dari tempat makan romantis ku dengan istriku dan renungkan kesalahan mu!" Adam dengan mengangkat dagunya malah menyalakan kepala koki untuk semua ini.


Padahal sebenarnya dia sangat malu dan bersemangat disaat yang bersamaan, dia bahkan sedikit gugup saat memarahi kepala koki.


"Baik Tuan ..." kepala koki yang menjadi sasaran itu segera menunduk dan berlalu.


Dia mengajak seluruh pelayan untuk pergi dari ruangan itu juga.


"Haduh ... susahnya cari uang, tapi sepertinya Tuan tidak marah, tapi dia kelihatan malu! kenapa pasangan Tuan Adam dan Nyonya Alice imut sekali?"


Kepala koki itu berlalu sembari berbicara dalam hatinya.


***


Setelah semua orang pergi dari tempat makan, Adam segera menggenggam tangan istrinya, mengajaknya duduk di kursi makan.


Sekarang Alice duduk di pangkuan suaminya, dan Adam tidak akan membiarkan Alice pergi dari pangkuannya sebelum ia mendapatkan apa yang ia mau.


"Sayang ... maafkan aku, ini sangat luar biasa, mengingat ini adalah masakan pertama mu itu luar biasa, dan kau melakukan itu untuk ku, aku sangat sangat senang!"


Adam mencoba membujuk istrinya yang sudah terlanjur ngambek saat tadi makanan yang ia masak hendak diusir oleh suaminya.


.


.


.


.


Like dan komentar kalian adalah semangat author loh, jangan lupa berikan Like dan komentar nya yaa 🤍

__ADS_1


__ADS_2