
Episode 126 : Ini juga tidak mudah bagiku.
***
Begitu banyak fakta yang diketahui oleh Alice hanya dalam beberapa waktu, hatinya menjadi sangat rapuh namun kembali kuat oleh dukungan suaminya.
Di dalam hatinya, dia memang menyalahkan dirinya dan keberadaannya, bertanya apakah dia pantas mendapatkan perlakuan dan rasa sayang ini.
Dimana dirinya adalah sumber kesedihan Adam dahulu.
"Sayang ... aku tidak apa-apa, itu bukan salahmu, jadi bisakah kau jangan terlalu memikirkan nya, aku takut kau sakit, jika kau sakit siapa yang akan menjagaku?"
"Kau bilang akan menjagaku,"
Adam mencoba sekuat tenaga untuk membujuk istrinya.
Alice masih kelihatan syok sekali, tentu saja, semua fakta itu bukanlah sebua perbincangan yang mudah dan ringan.
Sudah sewajarnya Alice akan terpukul dan merenung dengan segala kehidupan yang tidak pernah adil yang ia terima sejak ia lahir.
Ekspresi Alice menunduk saat mendengar itu, ia memang berjanji untuk menjaga suaminya, dan semua hal yang telah ia dapatkan, termasuk teman-temannya.
Akan tetapi ....
"Sayang ... kau bilang aku sangat baik kan? tetapi aku merasa kau lah yang terlalu baik disini, seharusnya kau memukul aku saja,"
"Seharusnya kau memaki aku, seharusnya kau membenci aku, tetapi kau malah memeluk aku dan bahkan memberikan aku rasa cinta yang terlalu besar,"
"Segalanya terlalu cepat untukku, bisakah kau memberikan aku berpikir sejenak, aku sedang bingung, maafkan aku ..."
Alice yang benar-benar serius dengan ucapannya, kelihatan sekali saat ia mencengkeram tangannya juga tubuhnya bergetar.
Alice sedang benci paga dirinya sendiri, kepada hidupnya, kepada takdirnya dan terlalu benci dan marah kepada keluarga Brown.
Dan yang paling menjijikkan dari skenario ini adalah dia bagian dari keluarga Brown, di jadinya mengalir darah Brown yang telah merenggut banyak nyawa termasuk nyawa tak berdosa keluarga Adam, suaminya.
Alice merasa mual, dia ingin muntah, dia jijik, segala perasaan yang meledakkan akal sehatnya tengah pecah dalam dirinya sekarang.
"Haaahhh!"
Adam menghela nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
Dia kemudian meraih dagu istrinya, menatap matanya lekat sekali.
Adam memiringkan wajahnya, lalu tersenyum.
"Bagiku ... segalanya juga tidak mudah, aku juga berharap segalanya tidak terjadi, aku berharap adikku masih hidup dan pasti dia sudah menikah sekarang,"
"Aku harap ayahku masih hidup, karena dengan begitu mungkin aku tidak akan menadi mafia akan tetapi mungkin akan menjadi hakim seperti cita-cita ku sejak kecil,"
"Aku harap ibuku masih hidup, apakah kau tahu betapa aku rindu omelan dan rasa masakannya?"
Adam meraih tangan mungil istrinya, dia menaruhnya di pipinya dan bersandar di tangan mungil istrinya.
"Tetapi ...."
Adam berhenti berbicara sebentar, ucapan yang hendak ia katakan begitu berat terucap.
Namun ia segera melanjutkan ucapannya.
"Mereka mungkin sudah tiada tetapi mereka hidup di hatiku, mereka hidup selamanya di ingatanku,"
"Yang aku harus lakukan sekarang adalah melindungi kehidupan yang sudah aku miliki ..." Adam membuka matanya lalu tersenyum walau matanya sudah memerah.
"Aku tidak ingin kehilangan kehidupan ku yang ini, aku tidak ingin kehilangan kamu, pertikaian ku dengan keluarga Brown, bukan lagi tentang dendam akan tetapi bagaimana aku harus melindungi mu dari mereka,"
Saat Adam mengatakan Alice adalah kehidupannya, mata Alice berbinar-binar, jantungnya berdegup sangat kencang.
Seolah ada angin topan yang langsung menerpa tubuhnya, segalanya menjadi diam dan bisu.
Waktu berputar sangat lambat.
***
"Aku akan memberikan mu waktu berpikir, aku sadar kau juga memiliki banyak hal di dalam dirimu, aku akan menunggu mu ...."
"Lalu keputusan apa pun yang kau temukan, aku akan menghargai nya, dan menampung segala kekesalan yang hendak kau ucapkan,"
"Ingatlah ... kita ini sudah menjadi suami istri, dimana dua menjadi satu, aku tidak akan meninggalkan mu dan kau juga tidak akan meninggalkan aku, kita lewati bersama-sama,"
Adam masih tersenyum, dia sekarang mengusap pipi istrinya.
Disaat Alice masih tertegun bagaimana besar hati suaminya, betapa hangat dan lembut hatinya, dan yang tahu kelembutan ini hanya dirinya seorang.
__ADS_1
Adam meninggalkan Alice di dalam kamar, Alice membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
Keputusan apa yang ia dapatkan, sebab dalam hal ini, Alice adalah korban yang sama-sama terluka oleh keluarganya sendiri yaitu Brown.
***
Disaat yang sama,
Di kediaman Gordon Brown,
Gordon Brown sangat lega, ternyata kakak tertuanya tidak terlalu murka ketika tahu dia sudah menikahkan Alice dengan Adam.
Mungkin Baron melihat peluang dari hubungan itu, jika dilihat hubungan antara Adam dan Alive memang terlihat sangat baik.
Hal itu adalah sebuah kelemahan bagi Adam, Dengan adanya Alice maka mengontrol Adam tidak akan mustahil lagi.
Entah mengapa kakak tertuanya itu sanga terobsesi dengan Adam Duke.
"Tuan .... beliau adalah pembunuh bayaran yang saya bicarakan saat lalu,"
Bawan Gordon sudah membawakan pembunuh bayaran yang katanya bisa membunuh Alice, walau ada perlindungan Adam sekalipun.
Keduanya sudah masuk ke dalam ruangan pribadi Gordon Brown.
"Hmmm ... tepat waktu sekali, tetapi rencana sedikit berubah ...."
"Jangan bunuh wanita itu, tetapi lumpuhkan dan culik dia, harus dilakukan hari Minggu, saat pertemuan besar dilaksanakan,"
"Ingat ... jangan sampai gagal, aku akan membayar mu dengan bayaran yang sangat mahal!"
Baron memberikan penawaran kepada pembunuh bayaran yang dipastikan memiliki kemampuan yang sangat hebat.
"Hmmm ... aku nanti nantikan bayarannya, jika hanya menculik seorang wanita kecil seperti ini, akan aku lakukan dengan cepat,"
Pembunuh bayaran itu menerima tawaran Gordon Brown, dia bekerja demi uang jadi jika bayarannya sangat tinggi maka dia juga akan bekerja semakin giat.
.
.
.
__ADS_1