Pengantin Tuan Adam

Pengantin Tuan Adam
Berikan aku waktu.


__ADS_3

Episode 154 : Berikan aku waktu.


***


Di cafe star,


Hatinya tiba-tiba sakit melihat Haley menangis, bisanya memang Haley mengeluarkan emosinya terkadang dia menangis, akan tetapi kali ini Haley menangis dengan rasa pilu dan luka yang dalam.


Membuat Sazu tidak bisa berkata-kata dan terdiam di tempat.


"Aku rasa kita tidak akan pergi ke casino, jangan ganggu aku dalam waktu dekat, aku mau pulang!"


Haley berbicara ketus dan mengusap air matanya.


Dia kemudian pergi dengan kekesalan dan Kesedihan yang dalam.


Haley tidak tahu mengapa dia menangis dengan keras, mengapa hatinya sakit.


Mungkin karena Haley merasa, Sazu harusnya mengerti perasaan nya, mengerti bagaimana profesinya dahulu membuatnya menderita.


Tetapi Sazu dengan seenaknya malah mengatakan dia cantik dan harus menggunakan kecantikannya dengan baik.


"Dasar jahat! asal bicara! tidak tahu apa ... kalau aku takut bertemu orang baru karena takut dihina jika dia tahu pekerjaan lamaku!"


"Memangnya kenapa kalau aku hanya nyaman dengan kalian? memangnya tidak boleh?"


"Memangnya aku harus menikah? memangnya kenapa kalau aku terus bersama kalian, bersama Bos, Alice, kau, Kai dan Black?"


"Memangnya tidak boleh? apakah kau mau membuangku dengan cara halus?"


Haley yang memang membawa kendaraan sendiri meluapkan kemarahannya.


Dia memukul setir mobil dan berkendara dengan kecepatan penuh.


Entah mengapa dia marah sekali, dia tidak suka saat Sazu mengatur kencan buta dan mengatakan dia harus menggunakan kecantikannya.


Hanya dalam beberapa saat Haley sampai di mansion Adam Duke.


Sebenarnya Haley sepertinya sudah menjadi penghuni tetap di mansion besar itu.


Karena Haley suka tinggal disitu, bisa bermain dengan adik nya Alice.


***


Di mansion Adam Duke,


"Waahhh ... masakan pertamaku sudah usai, aku terharu sekali,"


Alice yang bekerja keras itu akhirnya selesai memasak makanan sederhana, hanya soup ayam dengan banyak sayuran di dalam nya.


Tetapi makanan ini sangat berharga, Alice ingin sekali suaminya segera mencicipi makanan ini.


"Selamat Nyonya Alice ... Anda akhirnya berhasil memasak menu pertama anda,"


Kepala koki memberikan selamat untuk Alice.


Walau dia membantu dan memberikan arahan tetapi tetap saja yang mengerjakan adalah Alice.


Jadi makanan ini adalah masakan Alice.


"Terimakasih Pak koki ... mohon bantuannya lagi ..." seru Alice terharu.


Dia akan berusaha keras untuk belajar lebih giat, agar bisa memasak makanan yang bermacam-macam nantinya.


"Dasar jahat ... jahat?"

__ADS_1


Saat Alice tengah senang, Haley lewat sembari mengegrutu dan menangis, dia berjalan melangkah dengan kesal.


Tidak melihat Alice bersama pelayan di dapur, Haley melangkah dengan cepat menuju kamarnya.


"Kak tertua ...."


Alice mencoba memanggil Haley, namun karena kesal dan masih bertengkar dengan dirinya sendiri, Haley tidak mendengar suara Alice.


Alice tentu panik, dia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan kakak tertuanya.


Alice segera mengikuti Haley menuju kamar pribadinya.


Setelah melangkah beberapa saat ...


"Tok ... Tok ... Tok!"


Alice mengetuk pintu kamar kakak tertuanya.


Haley yang baru merebahkan tubuhnya ranjang dan malas bangkit lagi dan mencoba mencari tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Cklek?"


Haley membuka kamar dan menemukan jika Alive dengan wajah polos dan mata bulatnya tengah berdiri di depan kamarnya.


"Kakak tertua ... ada apa?"


"Kenapa menangis?"


Dengan wajah yang sedih, Alice tidak senang saat melihat kakak tertuanya yang selalu menghibur nya ini menangis dan bahkan maskara nya sudah menghitam di bawah mata.


"Huhu ... adikku ..." Haley langsung memeluk adik kecil nya.


Dia memeluknya dan menangis semakin keras.


Alice membela kakak tertuanya.


Dia akan melawan siapapun yang membuat kakak tertuanya sampai menangis.


Haley menggelengkan kepalanya.


Sebenarnya bagus jika Alice menendang Sazu akan tetapi kali ini Haley mungkin memang terlalu terbawa perasaan.


Jadi tidak seharusnya Alice memarahi Sazu untuk hal ini.


Haley juga mengerti Sazu melakukan ini demi kebaikannya, hanya saja entah mengapa Haley marah sekali dan menangis karena kesal dan sedih.


"Adik ... maafkan Kakak mu ini, tetapi biasakah tinggalkan kakak sebentar?"


"Kakak ingin menggalau malam ini, besok kakak akan cerita semuanya,"


Haley melepaskan pelukannya.


Dia sungguh ingin sendirian dulu, dia ingin merefleksikan dirinya, dan tindakannya malam ini.


Mengapa dia marah dan apakah dia pantas marah atas perhatian Sazu tadi.


"Hummm!"


Alice dengan matanya yang bulat dan sayu, dia menatap kakak tertuanya.


Alice mengerti jika seseorang bersedih pasti ingin merasakan menyendiri sebentar.


"Baiklah Kakak tertua, tetapi besok cerita kepadaku ya ... aku akan memarahi siapapun yang membuat kakak tertua ku menangis ... tenang saja, aku di pihak ku kakak tertua,"


Seru Alice dengan polosnya semangat mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Ummm, aku tahu adik ..." balas Haley tersenyum.


***


Setelah itu, Alice kembali ke dapur dengan nafas yang berat, dia khawatir kepada Haley tetapi dia juga tidak bisa memaksa Haley untuk bercerita sekarang.


Dia masih mengenakan celemek saat ini, dia lupa melepaskan nya, apalagi dia masih harus menghias meja makan untuk makan malam bersama sang suami.


***


Di kamat Adam Duke dan Alice,


Adam melebarkan tangannya, dia mencoba mencari keberadaan istrinya, matanya masih terpejam, dia tidak menemukan istrinya dalam pelukannya.


Tetapi saat beberapa waktu mencari tidak ia temukan, Adam langsung membuka matanya.


Dia tidak menemukan istrinya diatas ranjang.


Nafasnya menjadi berat, dia tidak suka perasaan ini, perasaan tiba-tiba ditinggalkan saat ia membuka matanya.


Hatinya akan sangat sakit sampai menyelekit, bahkan tangannya sampai bergetar dan wajahnya menjadi pucat.


"Sayang ..." dia mencari Alice kedalam kamar mandi, tetapi tidak ada disana juga.


Sikap dan respon tubuh Adam ini menunjukkan jika masih membutuhkan waktu sehingga Adam bisa sembuh dari traumanya.


Tubuhnya bergetar hebat dan kakinya berat melangkah, dia keluar dari kamar dan dengan wajah pucat menanyai pelayan.


"Di ... dimana istriku?"


Dengan wajah yang sudah berkeringat dingin, dia sedikit terbata-bata menanyai keberadaan istrinya.


"Tuan ... Nyonya sedang ada di dapur ..." seru mereka kebingungan melihat wajah pucat tuan mereka.


"Haaahhhh!"


Adam menghela nafasnya lega.


Dia berlari kearah dapur dan hendak memberikan peringatan kepada istrinya, agar jangan pergi kemanapun saat ia masih tidur.


"Tak ... Tak ... Tak!"


Dia melangkahkan kakinya, dan saat ia sampai di dapur, dia menemukan Alice dengan tubuh mungil dan wajahnya yang sangat cantik.


Dia mengikat rambut nya, mengenakan celemek dan tengah mengatur meja dengan makanan seadanya yang memang dimasak oleh Alice sendiri.


"Deg ... Deg ... Deg?"


Jantung Adam berdegup sangat kencang.


"Sayang ... kau sudah bangun?" Alice yang menyadari kehadiran suaminya melihat kearah Adam dan tersenyum.


Dia tengah mengatur meja untuk mereka makan.


Saat itu, tanpa aba-aba, Adam langsung berlari dan mendekap istrinya erat sekali.


.


.


.


.


Like dan komentar kalian adalah semangat author loh, jangan lupa berikan Like dan komentar nya yaa 🤍

__ADS_1


__ADS_2