
Episode 142 : Lupa rahasia kita?
***
Kematian dan kelahiran, semua bagian dari siklus kehidupan, hal itu tidak bisa diganggu gugat dan memiliki peranan penting dalam jalinan emosional setiap individu.
Kematian memang membawa kepedihan dan menjatuhkan orang yang ditinggalkan, tetapi seperti siklus yang memberikan tunas baru, akan ada kelahiran memunculkan kehidupan baru.
Kematian hanya meninggalkan raga, tetapi mereka tetap hidup di hati setiap orang yang ditinggalkan, jadi dendam bukanlah sebuah jawaban untuk membalaskan kematian yang merupakan rahasia alam yang tidak akan pernah diketahui oleh manusia.
Adam Duke menyadari hal itu baru saja, saat hatinya menjadi kosong dan hampa setalah ia berhasil membalaskan dendam.
Dia sadar jika dia tidak menemukan kepuasan apapun di penghujung dendamnya.
Saat di titik itu, saat Adam kehilangan tujuannya sekali lagi, dia mendapatkan jika kehidupan baru tengah tumbuh, menunggu nya untuk menciptakan kenangan baru.
***
Seperti mendapatkan semangat hidup dan harapannya kembali, dia pergi berlari meninggalkan lautan yang bagi Adam merupakan tempat ia dan keluarganya menyatu.
Adam pergi dengan hati yang sungguh berbeda saat ia tadi datang.
Tangannya tidak bisa berhenti bergetar dan jantungnya tidak bisa berhenti berdegup sangat kencang.
Sepertinya dia terlalu bersemangat sehingga tidak ada yang bisa menggambarkan rasa bahagia nya sekarang.
"Ayah ... Ibu ... Aleya, apakah ini adalah jawaban dari kalian? saat aku terpuruk disaat itu aku menemukan aku akan memiliki anak, apakah kalian juga tidak ingin aku terpuruk dalam kesedihan?"
Adam berbicara dalam hatinya, dia melihat lautan dilalui oleh mobil yang sekarang disetir oleh Sazu.
Dia seperti berbicara dengan keluarganya yang telah tiada
Seolah ini adalah apa yang diharapkan oleh ayah, ibu dan adiknya, agar Adam bisa terus melihat kedepan dan hanya akan mengingat mereka sebagai kenangan indah.
Mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, membuat mereka segera sampai ke rumah sakit yang memang dipertahankan oleh Sazu.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Suara sepatu yang mengenai lantai menggema, dia sudah tahu dimana istrinya di rawat, karena tadi Sazu sudah menginformasikan dengan lengkap.
Bagaimanapun saat ia sampai di gedung rumah sakit, yang ia inginkan hanyalah segera bertemu dengan istrinya dan memeluknya erat sekali.
Dia ingin meminta maaf karena telah tenggelam dalam kegelapan hatinya untuk kesekian kalinya saat lalu.
"Hah!"
__ADS_1
Dia menarik nafas terlebih dahulu, dia membuka ruangan dan disana dia bertemu Haley yang terus menggenggam tangan Alice.
"Sayang ...." Adam memanggil Alice, dimana Alice terdiam saja sejak tadi, walau Haley mengajaknya berbicara akan tetapi Alice tetapi diam seolah tak mendengarkan ucapan Haley.
"Bos ..." Haley segera berdiri, dia melihat tampilan Bosnya yang kelihatan berantakan, bahkan tangannya masih terlihat terluka dan memiliki bekas darah.
Tetapi Haley bisa melihat jika Adam sangat ingin berduaan dengan Alice, jadi dia mundur secara perlahan tanpa bertanya apapun.
***
"Sayang ... kenapa di tanganmu ada bekas tali? apakah kau baik-baik? aku sudah bilang harus hati-hati, mengapa kau kelihatan pucat?"
Adam segera mengomel, dia meraih bahu istrinya dan menghadap kan tubuh mereka agar saling berhadapan satu sama lain.
Hal yang pertama ia lihat adalah bagaimana wajah Alice pucat, dan ada bekas tali tambang membiru di tangannya.
Alice yang terkurung dalam dirinya sendiri, melihat lelaki yang membuatnya merasa sangat bersalah.
Matanya sangat tulus, dan gerakan bibir yang menunjukkan kekhawatiran menarik perhatian Alice.
Alice mengangkat tangannya dan mengusap pipi suaminya.
Alice menitikkan air mata tanpa mengucapkan sepatah katapun, saat melihat Adam yang begitu mengkhawatirkan dirinya semakin melukai Alice.
"Sayang ... ada apa? kenapa kau diam saja? aku minta maaf karena langsung mengomel, aku hanya takut kau terluka, kenapa kau tidak menjawab aku?"
Mendekatkan wajahnya dan menatapnya dari jarak yang sangat dekat.
Alice kemudian meraih tangan suaminya, dia melihat ada bekas luka disana, mungkin Adam tidak sadar akan tetapi ada serat kayu tertinggal disana.
Genangan air mata Alice membuat pandangannya sedikit kabur, dia menatap luka itu dan meniupnya dengan pelan, berharap luka itu segera sembuh.
Adam yang menyadari Alice terpaku ke lukanya mencoba menenangkan istrinya.
"Ini bukan luka besar, sebentar lagi akan aku obati pasti akan langsung sembuh, jangan khawatir ...." Adam berusaha tersenyum, dia belum tahu apa yang sedang terjadi kepada istrinya.
Yang ia tahu hanyalah ia harus menghibur dan meyakinkan jika segalanya baik-baik saja.
Alice masih menggenggam tangan suaminya yang masih terluka, lalu Alice melihat seluruh penampilan suaminya.
Terlihat berantakan dan tidak rapih seperti biasanya, Alice baru menyadari saat dia terkurung dalam dirinya sendiri, suaminya datang dalam keadaan terluka dan sepertinya baru mengalami hal yang tidak menyenangkan juga sama seperti dirinya.
"Buk!"
Alice memukul dada suaminya, walau kekuatannya tidak besar namun ia memukul nya dengan kepalan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa ... kenapa kau bisa terluka?"
"Kenapa kau hanya peduli padaku dan tidak peduli dengan lukamu?"
"Kenapa?"
Alice akhirnya berbicara, dia tdiak bisa melihat luka suaminya, dia menderita hanya melihat luka di tangannya.
Rasanya ada yang meremas hatinya sampai terasa ngilu saat melihat Adam hanya mementingkan Alice bahkan setelah sampai yang diingat oleh Adam hanyalah memeluk istrinya dan menenangkan istrinya ketimbang membalut lukanya.
*Adam dengan cepat memeluk Alice*
Adam mendekap istrinya, lalu mengusap rambutnya.
"Sayang ... aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadamu, kenapa kau menjadi diam dan kelihatan pucat,"
"Tetapi ... hanya kau yang tersisa untukku sekarang, jika kau terluka dan sakit aku rasa aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku lagi,"
"Bukankah sudah menjadi suami dan istri? jika kau terluka maka aku harus merawat mu dan mengkhawatirkan mu, dan jika aku terluka, maka kau harus merawat ku dan mengkhawatirkan aku,"
"Apakah kau lupa dengan rahasia kecil kita? kau bilang akan menjagaku kan?"
Adam merasa ketakutan saat mendengar tangisan Alice, sepertinya yang merasa terguncang batinnya setelah peristiwa ini bukan dirinya saja melainkan istrinya juga.
Bagaimanapun keduanya memang korban dan tragedi mengerikan itu.
"Aaaaaaa ...." Alice semakin menangis dengan keras, dia membalas pelukan suaminya dan mendekapnya erat sekali.
"Aku minta maaf, aku minta maaf ...."
"Apa yang harus aku lakukan agar rasa bersalah ku pergi? apa yang harus aku lakukan?"
Alice menangis, dia akhirnya bertanya dengan segala kerendahan hatinya kepada suaminya.
Adam yang mendengar itu akhirnya mengerti apa yang membuat istrinya begitu terpukul.
Pasti Alice terpukul karena keluarganya, yaitu Brown tidak merasa bersalah sama sekali atas kematian keluarganya.
Sehingga Alice menjadi jijik dengan dirinya dan merasa tidak pantas.
Adam yang tidak ingin istrinya berpikiran seperti itu, merasa harus melakukan sesuatu.
.
.
__ADS_1
.
Like dan komentar kalian adalah semangat author loh, jangan lupa berikan Like dan komentar nya yaa 🤍