
Episode 141 : Alice hamil?
***
Dia tidak akan pernah bisa mengatakan bagaimana dia bersyukur menjadi anak dari ayah dan ibunya, bagaimana dia bersyukur menjadi kakak laki-laki dari Aleya.
Dia juga tidak akan pernah bisa mengatakan kata maaf karena telah hidup sendirian sedangkan keluarga nya telah pergi.
Adam menderita sekali, dia menepuk dadanya berkali-kali, sepertinya sampai membiru.
Tangannya berdarah karena memukul kayu dermaga kuat sekali, tetapi dia mati rasa, dia tidak merasakan sakit sekalipun, kecuali rasa kosong di hatinya.
Sedangkan disaat yang bersamaan,
Sazu tengah memeriksa keadaan Alice, yang sejak tadi terdiam dan matanya kosong.
Sama seperti Adam, Alice juga merasakan hatinya menjadi kosong.
Seperti kehilangan arah, setelah tahu jika tidak ada seorang pun bagian dari keluarga Brown yang menyesal atas perbuatan keji mereka.
Alice seperti ditampar oleh kenyataan, dan setelah Keluar Brown menuai kejahatan mereka, Alice kemudian kehilangan tujuannya.
Yang ada dalam pikirannya hanyalah ingatan yang semakin kembali, bagaimana ibunya sering memukulnya dahulu.
Tetapi sisi paling naas dari hal ini adalah, Alice sadar jika Ruby, ibunya sama sekali tidak bersalah, itu semua memang salahnya dan Ruby memiliki kondisi mental yang tidak stabil.
"Semua salahku ..."
"Semua salahku ..."
"Semua salahku ..."
"Untuk apa aku keluar dari kurungan itu jika aku hanya akan membawakan penderitaan bagi semua orang!"
"Aku tidak pantas bahagia!"
"Semua kengerian itu adalah karena aku!"
Alice kembali ke titik awal, ke tempat dimana dia berdiri sendiri di tengah kegelapan, dia tidak bisa melihat apapun disana.
Dana sekarang, dia kembali merasa pantas mendapatkan teriakan hinaan dari Rose, teriakan hinaan dari ibunya yang terus berputar di kepalanya.
***
"Bagaimana? ada apa dengannya?"
Sazu yang sudah usai memeriksa keadaan Alice keluar dengan terburu-buru dari ruangan pasien Alice.
Haley langsung bertanya mengenai keadaan Alice yang tiba-tiba saja membisu dan seolah tidak bisa mendengar apapun.
"Dimana Bos?"
Tetapi alih-alih menjawab pertanyaan Haley, Sazu malah bertanya dimana sekarang Bos mereka.
Haley menyipitkan matanya, dia sudah mencoba menghubungi Bos mereka, akan tetapi memang sejak tadi Adam tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Bos tidak bisa dihubungi sejak tadi, sejak saat masalah dengan Baron diserahkan kepada Kai dan Black, Bos pergi entah kemana ...."
Haley memberikan jawabannya, hal itu segera membuat Sazu terburu-buru menghubungi Black untuk segera memberikan kode akses melacak lokasi Bos mereka.
"Tring ... Tring ... Tring!"
"Halo, aku sedang sibuk, jangan menggangguku?"
Black memang sedang sibuk memindahkan semua sekutu Baron Brown ke tempat yang sudah disiapkan oleh Kai.
Jadi selama sidang dan proses pencarian seluruh sekutu Baron Brown, maka Kai dan Balck harus mengawasi seluruh tahanan agar tidak memiliki kesempatan untuk kabur.
Tentu Adam tidak akan percaya dengan seluruh personil yang disiapkan oleh negara 100 persen, jadi Adam mengambil langkah aman dengan cara menurunkan anggota utamanya untuk ikut mengawasi.
"Ais, kenapa alat yang aku berikan padamu kau matikan? sampai kau harus menelepon melalui ponselku!"
Sazu menggerutu terlebih dahulu, dia tahu setelah menyelesaikan misi pasti Black mematikan alat yang ia sediakan untuk komunikasi cepat.
"Ada apa memangnya?" Black yang tadi hampir mematikan ponselnya ingin mengetahui dengan cepat apa tujuan Sazu meneleponnya di tengah kesibukannya ini.
"Dimana lokasi Bos? dia tidak bisa dihubungi, atau berikan saja akses untuk melacaknya biar aku yang cari!"
seru Sazu merasa dia memang harus menyampaikan sesuatu yang penting secara langsung kepada Bosnya.
"Tunggu sebentar, aku saja yang cari biar cepat!" seru Black mematikannya panggilan nya dan langsung dengan cepat mencari lokasi Bosnya hanya menggunakan ponselnya saja.
"Tring!"
Sebuah pesan segera masuk ke ponsel Sazu.
Ya, Sazu ingin segera bertemu dengan Bosnya untuk memberikan sebuah kabar yang sangat menggemparkan mengenai keadaan Alice
Dan Sazu yakin dia akan mendapatkan bonus besar jika Bosnya mendengar Ini secara langsung darinya.
"Adik Alice?"
"Sejak kapan memanggil adikku menjadi adik Alice ....."
Haley mencoba menanyai Sazu akan erat Sazu sudah berlari secepat mungkin dan menjauh darinya.
"Hmmm ... ada yang aneh darinya," Haley merasa menangkap sinyal aneh dari sikap Sazu.
Tetapi itu tidak penting sekarang, yang penting adalah dia harus menjaga Alice, adik kecilnya.
***
Sazu yang sudah mendapatkan lokasi Bosnya segera menyetir dengan kecepatan penuh, sehingga dia bisa sampai hanya dalam waktu cepat ke lokasi dimana Adam tengah menumpahkan kekosongan dan rasa sakit di hatinya.
"Jika Bos kesini sebenarnya tidak boleh diganggu, akan tetapi ini sangat penting!"
Sazu dengan berhati-hati mencoba mendekati dermaga.
Seluruh anggota Adam tahu, jika Adam sudah menyendiri dan pergi ke dermaga artinya Adam tidak ingin seorang mengganggu.
Akan tetapi Sazu merasa kabar yang ia bawa harus didengar oleh Adam Duke sekarang juga.
__ADS_1
"Bos ...."
Sazu memanggil Bosnya, yang duduk membelakangi dirinya.
Adam seolah tak mendengarkan, tetapi Sazu bisa melihat betapa berantakannya penampilan Adam.
Tangannya berdarah dan bajunya tidak rapih sama sekali.
"Pergi lah, aku tidak ingin diganggu sama sekali,"
Adam meminta kepada Sazu untuk segera pergi, dia sungguh tidak ingin diganggu hari ini.
"Maaf Bos, tapi aku merasa harus menyampaikan ini ...."
"Alice hamil, akan tetapi kondisi tubuhnya sedang tidak sehat, dia sepertinya tengah syok ...."
Sazu memberikan kondisi terkini Alice, dan setelah mendengar jika Aluce hamil, mata Adam melebar.
Sebelum Sazu melanjutkan ucapannya, Adam membalikkan badannya dan melihat kearah Sazu.
"Apa kau bilang? Alice hamil?"
Adam memperjelas ucapan Sazu, Adam seolah tidak ingin perkataan barusan hanyalah ilusi.
Sazu segera menganggukkan kepalanya.
"Iya Bos, dia hamil muda," Sazu tersenyum, dia tahu keadaan Adam yang sekarang pastilah Adam sedang terpukul.
Kelihatan dari tangannya yang berdarah dan bajunya yang tidak rapih.
Tubuh Adam langsung bergetar hebat, seperti petir yang menyambar kala hujan, seperti cahaya yang kembali kedalam kosong dan dingin hatinya.
"Alice ... ah iya, Alice ...."
"Aku masih memiliki tujuan hidup, aku masih memiliki Alice ...."
Adam meraih bahu Sazu dan menggenggam erat.
Seolah hatinya yang tadi menggelap digetarkan lagi oleh seseorang yang baru saja sempat ia lupakan karena mengingat keluarganya dan kenangan.
"Bos ... aku juga senang tapi tolong lepaskan bahuku ... bahuku sakit." Sazu tersenyum kaku sembari mengernyitkan keningnya karena kesakitan oleh cengkeraman tangan Adam.
"Oh maaf ..." seru Adam langsung telah begitu saja, namun ia segera menolah ke belakang di mana Sazu masih mengusap-usap bahunya.
"Apa yang kau lakukan? ayo kembali secepatnya! ISTRIKU HAMIL!"
Seperti mendapatkan semangat hidup dan harapannya kembali, dia pergi berlari meninggalkan lautan yang bagi Adam merupakan tempat ia dan keluarganya menyatu.
Adam pergi dengan hati yang sungguh berbeda saat ia tadi datang.
.
.
.
__ADS_1
Like dan komentar kalian adalah semangat author loh, jangan lupa berikan Like dan komentar nya yaa 🤍