
Episode 45 : Awan warna-warni?
***
Malam yang begitu terang, banyak lampu berwarna-warni, tangan yang di genggam begitu erat, dan suasana ricuh namun terasa hangat, Adam yang ada di hadapannya menggenggamnya mengajaknya ke suatu tempat.
Adam sudah seperti pohon baginya, pohon yang menaungi dan melindunginya.
Dari segala hal bercahaya dan menakjubkan yang Alice lihat, Adam adalah yang paling bersinar di matanya, senyuman di wajahnya sejak tadi tidak luntur, kakinya berlari dengan cepat mengikuti langkah kaki Adam yang juga bersemangat hendak menunjukkan hal-hal menarik untuk Alice.
“Ayo kita naik rollercoaster ini, kau akan terkejut bagaimana rasanya saat menaikinya,” wajah Adam terlihat sangat bersemangat, matanya melebar dan seperti anak kecil yang menunjukkan mainan terbaiknya, dia benar-benar menggemaskan.
Tetapi Alice tidak kalah menggemaskan, mata Alice sejak tadi selalu saja membesar dan berbinar, dia terkagum-kagum melihat bagaimana orang-orang tertawa dan menikmati waktu bersama dengan seseorang atau bahkan keluarganya.
Banyak hal yang belum pernah dilihat Alice sebelumnya dan hal itu sangat menarik.
“Tunggu sebentar ya, aku mau beli tiket dulu,” Adam mengusap rambut Alice, Alice mengangguk dan matanya hanya terkunci kearah sebuah pemandangan.
__ADS_1
“Glek!”
Alice menelan salivanya karena ingin sekali menyentuh dan merasakan awan warna-warni yang dimakan oleh anak-anak yang berlalu lalang di hadapannya sejak tadi.
“Apa itu awan berwarna warna warni? ada yang berwarna pink, biru, apakah rasanya enak? bentuknya lucu dan terlihat seperti awan,”
*Alice sedang membicarakan gula kapas yang sejak tadi ia lihat di makan oleh banyak anak-anak atau bahkan ada juga orang dewasa*
Setiap kali ada seseorang menggenggam gula kapas, matanya akan mengikuti orang itu, begitu terus sampai ia penasaran sekali, mengapa bentuknya bisa terlihat seperti awan namun berwarna-warni.
Kebetulan, di hadapannya hanya sedikit menyeberang ada penjual gula kapas, dan disana sudah di pajang banyak gula kapas yang terlihat seperti balon.
Alice berdiri di depan penjual dengan mata yang terpaku ke gula kapas yang di pajang untuk menarik pembeli, dengan ekspresi yang sangat polos dan lugu.
Dia hanya bisa menelan salivanya berulang kali, sepertinya bibirnya sudah berair karena ingin sekali mencoba gula kapas.
“Nona, apakah anda suka? anda bisa membelinya jika mau,” penjual yang memperhatikan gadis cantik jelita di depan tokonya mentap kearah gula kapas dengan tatapan yang begitu lugu, tentu penjual itu langsung menawarkan jualannya.
__ADS_1
“Be … beli?” Alice berbicara pelan sembari merogoh saku dress nya yang kosong melompong.
Hal ini sudah diketahui Alice dari Adam saat belajar bela diri, Adam mengajari Alice bukan hanya bela diri saja, akan tetapi sembari memperagakan bela diri, Adam akan memberitahu beberapa hal yang belum diketahui oleh Alice, seperti misalnya jika ingin membutuhkan sesuatu maka harus membelinya menggunakan uang.
Setelah menyadari tak ada uang sepeserpun di kantungnya, Alice langsung menunduk lesu, dia melirik sedih kearah busa-busa awan berwarna warni itu.
Lalu ia menggelengkan kepalanya ke arah penjual dengan ekspresi yang sangat menyedihkan, mengatakan jika dia tidak bisa membelinya.
***
Disisi lain, Adam yang sengaja pergi tanpa pengawal itu sedang membeli tiket untuk nya dan istrinya menaiki rollercoaster, saat ia kembali dia tidak menemukan Alice, tentu dia langsung panik.
Wajanya tiba-tiba pucat, “ A … Alice,” serunya gemetaran, dia hendak berlari namun saat ia menoleh ke depan tepatnya di seberang, dia melihat Alice berdiri begitu lucu di depan penjual gula kapas berwarna-warni.
“Hahhh!”
Adam menghela nafasnya dalam-dalam, dia lega sekali ternyata Alice tidak hilang atau malah diculik.
__ADS_1
***