Pengantin Tuan Adam

Pengantin Tuan Adam
Ijinkan aku menjadi bagian dari hidup mu?


__ADS_3

Episode 144 : Ijinkan aku menjadi bagian dari hidup mu?


***


"Sayang ... jika aku mengatakan kau tidak bersalah sama sekali, luka hatimu dan rasa bersalah mu pasti tetap tidak akan pergi,"


"Jadi ... aku putuskan untuk mencari cara yang lain, apakah kau tahu ... jika sekarang kau sedang hamil anak kita?"


"Jika kau ingin melunasi rasa bersalah yang seharusnya tidak kau lakukan, bagaimana jika kau melunasinya dengan cara menjaga aku dan calon bayi kita ...."


Adam melonggarkan pelukannya sejenak, dia meraih dagu istrinya dan berbicara sangat lembut.


Dia ingin memberitahu kepada Alice jika dia tengah hamil dan membawa kehidupan baru.


Adam tahu jika dia hanya mengatakan kata seperti sebelumnya, mengatakan jika Alice sama sekali tidak bersalah pasti Alice tidak akan bisa menerimanya.


Hati Alice sangat rapuh, dia tidak bisa melepaskan rasa bersalah, akan tetapi mungkin dengan ucapan dari Adam, maka Alice secara perlahan nantinya akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Walau sesungguhnya, Alice sama sekali tidak salah, hanya saja hati nuraninya yang tidak bisa menerima semua fakta yang ia baru ketahui.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Jantung Alice tiba-tiba saja berdegup sangat kencang, dia membeku sesaat dan air matanya mulai mengering.


Seperti musim semi yang datang setelah musim salju, rasa bersalah, rasa sakit dan perasaan kosong dan hampa seperti menemukan cahayanya lagi.


Debaran jantung yang berdegup begitu cepat, dan teriakan kengerian yang berangsur menghilang.


Matanya terbuka lagi, hatinya kembali hangat dan ia bisa melihat betapa besar bahu lelaki yang menaungi dan melindunginya.


Dan sekarang dia tengah membawa kehidupan baru ke dunia.


Kata kutukan seolah mati dalam dirinya, dia membawa kehidupan baru dan itu adalah berkah bukan sebuah kutukan.


"Ha ... hamil?"


"Aku ... hamil?" Alice mencoba bertanya lebih jelas lagi.


Dengan nada suara yang gemetaran dan tatapan yang kembali hidup.


Adam tersenyum riang setelah melihat perubahan istrinya, kehadiran calon bayi mereka seperti sebuah berkah yang mengubah hati yang terpuruk dan beku.


"Ya ... sayang ... kita akan memiliki anak, kau akan menjadi seorang Ibu dan aku akan menjadi seorang Ayah, jadi ... mulai hari ini kau akan mulai kerepotan mengurus kami,"


"Tidak ada waktu untuk mengingat dan bersedih karena masa lalu yang membuat kita menderita,"


"Kedepannya kita akan disibukkan dengan anak-anak kita ...."

__ADS_1


"Apakah kau bersedia mengurus kami? suami mu ini dan calon anak kita?"


"Kami mungkin akan merepotkan mu ... kami mungkin akan terlambat bangun, melempar handuk diatas ranjang, melempar sepatu secara acak dan masih banyak lagi ...."


"Apakah kau mau melakukan itu semua bersamaku? kita akan memiliki keluarga yang utuh ..."


"Sudah saatnya waktu bahagia untuk kita sayang ..."


Adam yang merupakan suami yang memang sangat menantikan kehadiran calon bayinya mencoba memberikan gambaran keluarganya kelak.


Mencoba memberikan gambaran bagaimana nanti Alice akan menjadi ibu yang bijaksana tetapi cerewet.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Jantung Alice kembali berdegup dan bersemangat.


Kehidupan yang ia bawa dalam dirinya, memberikan dia sebuah harapan dan suami yang mencintai nya memberikan dia cinta dan kasih sayang yang berlimpah.


Untuk apa dia bersedih lagi jika dia sudah memiliki segalanya sekarang.


Untuk apa menangisi dan menyesali siklus kehidupan yang tidak adil dahulu, jika dia bisa memperbaiki segalanya di keluarga nya kelak.


"Aku ... aku akan menjadi seorang istri dan Ibu yang membuat mu bangga, maafkan aku ... tetapi aku juga ingin meminta persetujuan mu,"


"Apakah kau bersedia mengajari aku lebih banyak hal lagi? aku ingin mengetahui lebih banyak hal agar nanti aku bisa mengajari anak kita,"


"Aku juga ingin hidup dan memiliki keluarga, aku ingin menjadi istri yang membanggakan untukmu ...."


Alice juga melakukan hal yang sama.


Walau keduanya sudah menikah sejak awal akan tetapi mereka sadar jika mereka belum pernah meminta ijin satu sama lain.


Meminta ijin agar saling menjaga, menyayangi dan menjadi versi terbaik dari diri mereka.


Dan hal itu terjadi saat ini, keduanya yang memiliki hati lembut dan besar, menyatakan betapa mereka ingin mengisi kehidupan satu sama lain dari mereka.


Ini bukan lagi hanya tentang cinta akan tetapi sebuah harapan juga tujuan yang selaras, keduanya memang seperti telah ditakdirkan untuk bersama sejak dulu.


"Tentu saja aku mau, kenapa kau jadi mencontoh ucapan ku? apakah kau tidak tahu barusan aku khawatir sekali padamu?"


"Aku takut kau tidak akan bisa memaafkan dirimu, padahal kau tidak salah sama sekali!"


"Mulai hari ini berhenti menyalahkan dirimu sendiri, jika kau berani melakukannya aku akan menghukum mu setiap hari!"


Sekarang setelah Adam tahu, istrinya mulai tenang dan mencoba memaafkan dirinya sendiri karena kehadiran calon bayi mereka.


Adam langsung mengomel lagi, dia tidak suka melihat Alice menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku kan memang mencontoh segalanya darimu, kamu juga ... kenapa bisa terluka? aku juga khawatir,"


Adam dan Alice mulai mengomel satu sama lain, namun saling berpelukan dengan sangat erat.


Seperti melepaskan masa lalu dan mencoba memaafkan segala kesakitan yang Mereka rasakan dahulu.


Mungkin akan membutuhkan waktu sampai mereka bisa memaafkan segalanya, akan tetapi semua sudah mungkin sebab mereka sudah membuka hati masing-masing dan bersandar di bahu masing-masing.


***


"Huaaaa ...."


Haley dan Sazu yang sebenarnya sejak tadi mendengarkan pembicaraan Adam dan Alice langsung menangis dengan keras juga.


Tidak bisa membendung rasa terharu dan bangga dia hati mereka.


Tadinya mereka mendengarkan percakapan hanya ingin menjaga mereka berdua tidak mulai satu sama lain.


Tetapi Haley malah mendengarkan berita bahagia sekaligus bagaimana Bos nya dan Alice sama-sama saling mencintai.


Dan cinta mereka seperti cinta sejati yang tdiak nyata.


"Bos ... adik kecilku, kalian sangat hebat dan kalian sangat serasi satu sama lain ... Huaaa!"


Haley semakin menangis dengan keras, membuat Adam dan Alice yang sudah usai adegan tangis itu hanya melihat dengan mata yang saling berkedip-kedip.


"Haley ... jangan menangis, kita harus memberikan waktu pribadi untuk mereka, ayo pergi ..."


Sazu yang mengatakan dengan suara bergetar mencoba menarik tangan Haley, padahal dia sendiri pun sudah menitikkan air mata.


Tetapi mencoba menutupi dengan cara hendak membawa Haley keluar.


"Hummm ..." Adam terkekeh kecil, dia juga bersyukur memiliki saudara seperti Kai, Sazu, Black dan Haley.


"Padahal kau juga menangis ..." seru Adam melihat kearah Sazu yang air matanya juga sudah banjir.


"Aku ... aku tidak menangis, ini karena tadi aku terkena debu ...." Sazu yang tidak mengakui dirinya juga menangis malah terlihat menggemaskan.


Sedangkan Haley yang tahu Sazu juga menangis melihat dengan sangat syok kearah Sazu.


Selama mereka mengenal ini adalah kali pertama Sazu menangis.


.


.


.

__ADS_1


Like dan komentar kalian adalah semangat author loh, jangan lupa berikan Like dan komentar nya yaa 🤍


__ADS_2