
Episode 114 : Kenapa harus keluarga ku?
***
Kejadian masa lalu,
Asal mula tragedi ....
Sedangkan disisi lain, Baron Brown dan para pendukungnya telah bersorak-sorai sebab tidak akan ada lagi pengganggu.
Akan tetapi saat hendak pemindahan aset dan harta, menggunakan surat wasiat ayahnya, semuanya tidak bisa dilakukan sebab semua aset dan kekayaan itu sudah dipindahkan atas nama Adriella Alice.
Baron mengamuk, di murka, dia menjadi gelap mata, dia sudah melenyapkan saudaranya sendiri tetapi harta itu juga belum jatuh ke tangannya.
"CARI SIAPA YANG MENJAGA SURAT WASIAT ITU! DAN ISTRI GILA SI BLAKE DAN ANAKNYA HARUS SEGERA DITEMUKAN!"
Baron benar-benar mengamuk, dia memukul apapun yang ada, karena jika begini rencana mereka tak akan bisa segera dilakukan dan akan menghadapi beberapa kerugian karena beberapa proyek yang mangkrak.
Hal itu membuat Baron tak akan mengampuni siapapun yang berani membantu Blake Brown.
***
Di sisi lain,
"Ayah ... kita mau kemana?" Adam dan keluarga kecilnya sudah berada di mobil yang tengah melaju.
Tadi Adam juga melihat seluruh pelayan dan barang-barang mereka juga telah di packing untuk dikirimkan ke suatu tempat.
"Kita akan pindah, ke tempat yang lebih indah," balas Akram pada putranya yang sepertinya penasaran mereka akan kemana.
Disisi lain, di mobil yang berbeda, Ruby yang diawasi oleh para dokter bersama bayi Alice ikut bersama mereka.
Hal ini dilakukan oleh Akram karena tahu jika pasti keluar Brown sudah menyadari jika harta kekuasaan sudah tidak atas nama Blake melainkan atas nama Alice.
Jadi seluruh keluarganya sudah dalam ancaman sekarang.
Entah sampai kapan mereka bisa kabur.
__ADS_1
*Kejadian masa lalu off*
***
Kembali ke masa kini,
Ditengah Adam mendapatkan seluruh fakta mengerikan itu, dan bahwa Alice adalah sebenarnya seorang pewaris sah dari keluarga Brown membuat Adam berpikir banyak hal.
Perasaannya menjadi campur aduk, rasa marah yang meledak-ledak, akhirnya ia tahu alasan mengapa keluarga Brown membantai ayah, ibu dan adik kecilnya, Aleya.
Segala ingatan mengerikan tentang masa lalu, yang menyisakan dirinya seorang, tentang darah yang ia lihat mengalir tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Wajah Adam menjadi sangat pucat, tubuhnya bergetar hebat dan yang bisa ia lakukan hanyalah terdiam dan tak mampu mengungkapkan campuran perasaan ngeri yang ada di dalam dirinya.
"Bos ... apakah kau baik-baik saja?" Kai sudah menduga reaksi dari Bosnya.
Akhirnya Kai juga paham mengapa Bosnya sangat ingin melenyapkan seluruh keluarga Brown, ternyata selama ini Adam hendak membalaskan dendam atas kematian tidak adil keluarganya.
Kai mengikuti Adam selama ini memang hanya karena kagum atas kehebatan Adam, juga ingin bebas dari ayahnya, Kai tidak akan pernah tahu jika kehidupan Bosnya begitu pilu sejak ia kecil.
"Kai ... bisakah kau kembali untuk sekarang, aku ingin sendirian saja," Adam terdiam seperti patung namun wajahnya menjadi pucat.
Teriakan Aleya, adik mungilnya yang begitu lucu terngiang-ngiang di telinganya.
Mata Adam mulai memerah dan tubuhnya bergetar hebat.
Entah seberapa keji keluarga Brown membantai keluarganya, akan tetapi wajah Aleya tak akan pernah dilupakan oleh Adam.
Bagaimana tangan mungilnya hendak meminta tolong, bagaimana teriakan kecilnya tak menghentikan para bajingan merenggut nyawanya yang murni.
Bagaimana mata murni Aleya menangis hingga akhir, hal itu tidak akan pernah dilupakan oleh Adam.
Mendengar ucapan Adam, Kai yang langsung mengerti segera berlalu. Dia hanya diam saja, dia tahu jika untuk saat ini tak ada yang bisa ia lakukan.
"Hubungi kami Bos jika kau butuh sesuatu, kau tahu kau tidak pernah sendirian lagi," Kai hanya bisa menepuk pundak Bosnya dan berlalu.
Mencoba mengatakan jika apapun yang tengah dialami oleh Adam, Adam tak akan pernah sendirian lagi.
__ADS_1
***
Sudah beberapa menit berlalu sejak Kai pergi dari ruangan, Adam masih terdiam, tubuhnya menjadi dingin dan tak sadar dia meneteskan air matanya.
"Jika saja Blake tak datang meminta tolong, apakah semua akan berbeda?"
"Jika saja saat itu Ayah menolak permintaan Blake, apakah keluarga ku masih akan hidup hingga sekarang,"
"Jika saja Alice tidak menjadi penerus keluarga Brown, apakah adikku bisa bertumbuh menjadi wanita dewasa sekarang?"
"Ahhhhh!"
Adam memukul meja, derita di hatinya dan rasa sakit yang begitu pilu menghabisinya lagi.
"Kenapa ... kenapa harus keluarga ku, kenapa harus adikku! kenapa!" teriak Adam melempar apapun yang ia lihat.
Dia kehilangan akalnya, suara teriakan minta tolong adiknya menggema di telinganya, rasa sakit yang ia sembunyikan merobek hatinya.
"KENAPA?!"
"Jika saja Alice dan ayahnya tidak mengusik keluarga ku, pasti adikku sudah dewasa sekarang, pasti sudah menikah! kenapa?"
"KENAPA?"
Adam tidak berhenti berteriak seperti seorang iblis, dia menghabisi apapun yang terlihat, tak peduli kaca, meja, kursi dan sekarang Adam sudah berdiri di depan foto pernikahan nya dengan Alice.
Dia melihat wajah Alice di foto itu.
Dan ....
.
.
.
.
__ADS_1