Pengantin Tuan Adam

Pengantin Tuan Adam
Kematian Blake Brown.


__ADS_3

Episode 112 : Kematian Blake Brown.


***


Kejadian masa lalu,


Asal mula tragedi ....


Setelah berbicara begitu banyak dan sedikit tegang, Akram yang begitu iba mau membantu Blake akan tetapi hanya membantu menjaga surat wasiat dan menjaga Ruby juga calon anaknya kelak jika memang Blake akan kehilangan nyawanya.


Surat wasiat itu adalah surat yang menyatakan jika seluruh harta yang sudah ia milik menjadi milik Adriella Alice, putrinya yang akan segera lahir.


Karena rasa iba dan menimbang nasib anak yang belum lahir di perut wanita yang sepertinya butuh pengawasan itu, Arkam Dutch menyetujui menjaga surat wasiat atau warisan dan akan menjaga Ruby dan anak mereka jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


"Terimakasih Tuan Akram, saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa, tetapi terimakasih," Blake tidak tahu lagi bagaimana cara mengungkapkan terimakasihnya.


Di seluruh negeri tak ada yang berani memegang surat wasiatnya, karena takut menjadi sasaran para penjahat bisnis dan politik.


Hari itu, Blake Brown dan Ruby kembali ke kediaman mereka, sedangkan Akram sudah menuju ruang makan rumah mereka.


Keluarga Dutch sangat harmonis, istrinya begitu bijak dan cantik, bisa menyeimbangkan keluarga kecil ini.


Begitu juga dengan Adam dan Aleya, keduanya lucu dan pintar, juga Adam sangat menyayangi adiknya lebih dari apapun, dan hal itu adalah hal yang baik.


***


Akan tetapi, seperti pencuri di malam hari, tak tahu kapan akan datang.

__ADS_1


Musuh Blake Brown benar-benar melenyapkan dirinya, bagaimanapun seperti yang disebutkan Blake Brown adalah penghalang dari beberapa kesepakatan yang sudah di sepakati, sebelum kepala keluarga Brown menghembuskan nafas terakhirnya.


Dan karena Blake adalah penguasa selanjutnya, maka hal itu benar-benar menghancurkan segalanya, bisnis ilegal, para penjahat politik yang meraup keuntungan dari bisnis ini juga akan terhalang oleh Blake Brown.


Oleh karena itu, Blake Brown dilenyapkan dengan begitu bersih, pertumpahan darah antar saudara itu benar-benar sadis.


Tidak peduli Blake adalah saudaranya juga, tetapi demi harta dan kekuasaan, nyawa seolah tak penting lagi.


Setelah kematian Blake, seluruh identitas nya dilenyapkan untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.


***


Hari itu, Ruby berhasil selamat karena sudah dibawa oleh pelayan mansion keluar, akan tetapi seperti kehilangan dunia, setelah mengetahui suaminya telah tiada, kegilaannya semakin menjadi-jadi.


"TIDAK! TIDAK!" Dia berteriak histeris, sampai semuanya tak lagi bisa ia ingat.


"Su ... suamiku! TIDAK!" Ruby menangis histeris lagi, berteriak dan memukul apapun yang ia lihat.


Perutnya sudah besar, dan dia sama sekali tidak peduli dengan dirinya lagi.


Ruby mencoba membuka pintu menuju balkon, dia ingin mati saja, jika suaminya tidak ada maka untuk apa dia hidup, segalanya adalah warna gelap di matanya sekarang.


Akan tetapi ruangan dikunci rapat, sampai pada akhirnya beberapa tenaga medis memasuki ruangan dan menangkap Ruby, menyuntikkan obat penenang agar Ruby bisa tenang.


"Suamiku ... suamiku!" bahkan hingga sampai ia terlelap hanya suaminya yang ia panggil, sebab memang hidupnya bergantung pada suaminya.


"Tuan ... jika begini sepertinya proses lahiran harus dilakukan secara operasi sesar, karena jika melihat pemeriksaan bayinya sudah siap dilahirkan, tolong ikuti saya dan tanda tangani dokumen persetujuan operasi ini,"

__ADS_1


Dokter yang bertugas melihat nanar kearah Akram Dutch yang sebenarnya membawa Ruby ke rumah sakit.


Saat Ruby berteriak dan pingsan, Akram yang mendengar kematian Blake datang membawa Ruby sesuai dengan janjinya.


"Baiklah," Akram yang hanya datang bersama seorang kepala pelayan mansion nya menyetujui operasi lahiran ini.


Sedangkan anak dan istrinya berada di rumah, Akram tidak memberitahu siapapun karena hal ini akan membahayakan.


***


Tepat di malam itu, saat Guntur dan petir menyambar, seolah menyambut seorang yang akan menanggung penderitaan, lahirlah seorang anak perempuan yang sangat cantik.


Anak perempuan itu sudah memiliki nama yaitu Adriella Alice.


Akram menggendong bayi tak bersalah itu, entah mengapa buliran air mata menetes di pipinya, diusap nya lembut pipi bayi Alice.


Saat mata Alice bertemu dengan Akram, hati Akram seolah menjadi ngilu, dia memeluknya lembut dan berjanji akan menjaga Alice.


"Kau memang sudah tidak memiliki ayah, dan hidupmu akan mengalami banyak cobaan setelah ini, akan tetapi suatu hari kebahagiaan sempurna akan datang kepadamu, yang kau lakukan hanyalah mempertahankan hatimu agar tetap baik dan jernih,"


Akram menggendong bayi itu dan bersedih untuknya, mengingat bagaimana pilu kehidupan yang akan dijalani oleh Alice selanjutnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2