Pengantin Tuan Adam

Pengantin Tuan Adam
Banyak modus.


__ADS_3

Episode 42 : Banyak modus.


***


Adam kembali melihat senyuman manis dan wajah lugu istrinya, menyambutnya dengan sangat bersemangat dan sekarang sedang berlari kearahnya, Alice sudah mengenakan pakaian latihan yang sering ia gunakan untuk berlatih dengan Adam Duke.


Senyumannya cerah sekali, matanya sangat lembut, Adam terhenti dari langkahnya, dia menutup pintu kamar dan menanti Alice menghampirinya.


Waktu seperti berjalan lambat, senyuman dan wajah polos yang mendekat berlari kearahnya, mendamaikan hatinya yang sejak tadi sedang kalut.


Saat Alice sudah berada di hadapannya, Adam berpura-pura menyerang Alice dengan melayangkan tinjunya, tetapi tentu saja hal ini tidak serius.


Dengan refleks yang cepat dan mata yang langsung bisa memantau, Alice menghindari pukulan itu, mata Alice sampai membesar dan nafasnya memburu, dia terdiam dan tubuhnya membeku.


Baru saja salah satu gerakan dasar yang diajarkan oleh Adam bisa ia terapkan dalam keadaan yang genting seperti barusan.


‘Aku hanya mengajarinya selama satu minggu, wanita ini memiliki intusi dan refleks yang sangat hebat bahkan diatas rata-rata, aku penasaran bisa sekuat apa nantinya wanitaku ini,’ benak Adam berbinar dan terpesona.


Dia semakin terpesona akan kehadiran dan dengan fakta bahwa Alice berada di sisinya sekarang.


‘Wa … wanitaku? apakah aku baru saja mengakuinya sebagai wanitaku? kenapa aku jadi malu sendiri? ada apa denganku? jantungku rasanya mau copot’ benak Adam masih saja bertempur dalam pikirannya.


Dan sekarang dia tengah mengangumi istrinya, bagaimana Alice bisa berkembang hanya dalam satu minggu, tidak tahu akan sekuat apa jika waktu latihannya bisa lebih banyak.

__ADS_1


***


“Tu … Tuan, apakah Tuan mau memukul aku?” dengan mata yang berkaca-kaca, wajah super menyedihkan dan hati yang langsung remuk, Alice menatap suaminya yang juga seperti tengah terkagum.


Adam segera tersadarkan oleh kekagumannya, dia sekarang melihat Alice dengan mata bulat berkaca-kaca tengah melihatnya dengan nanar dan seperti tidak menyangka Adam bermaksud untuk memukulnya.


“Pffttt ….” Adam Duke terkekeh sedikit.


Istrinya ini terlalu menggemaskan.


Adam langsung melebarkan kedua tangannya, lalu ia tersenyum sembari memiringkan wajahnya, matanya menatap penuh kelembutan dan hatinya saat ini hanya dipenuhi kelembutan dari Alice.


Alice yang tadi hatinya hancur karena merasa Adam Duke yang selama ini tidak pernah memukulnya itu hendak memukulnya kebingungan, melihat Adam melebarkan tangannya.


“Oh, Tuan lelah ya, baiklah bersandar lah di pundak ku,” serunya tersenyum kembali lalu mendekat dan memeluk erat Adam Duke.


Alice mengingat ucapan Adam, jika Adam pulang dan melebarkan tangan maka itu artinya Adam ingin meminjam pundaknya dan memeluknya karena lelah.


Sungguh, Adam memiliki banyak modus untuk istrinya, padahal bisa saja Adam mengatakan ingin dipeluk, entah kenapa untuk mendapatkan pelukan saja begitu rumit baginya.


***


Saat Alice memeluk Adam, Adam membalas pelukan istrinya dan mendekapnya erat sekali.

__ADS_1


“Aku tidak berniat untuk memukulmu, kau tidak sadar ya? jika selain aku menjadi suamimu, aku juga pelatih mu, yang barusan itu adalah ujian, dan kau sudah lolos,” bisik Adam memejamkan matanya.


Masin berdiri di depan piuntu kamar dan memeluk istrinya dengan sangat hangat.


Dia sangat menikmati waktu seperti ini.


“Benarkah? jadi aku baru saja lulus ujian? wah … aku senang sekali,” seru Alice tanpa sadar hendak melepaskan pelukannya dari Adam.


Alice terbawa suasana dan menjadi terlalu bersemangat.


Tapi saat itu, Adam segera menarik Alice kembali kedalam pelukannya, sampai kedua tubuh mereka saling bertubrukan.


“Tetaplah seperti ini, aku lelah sekali, karena baru saja kau lulus latihan, khusus untuk hari ini, bisa kah kau menemani aku saja tanpa latihan?”


Adam mendekap Alice semakin kencang.


Alice yang merasa sedih Adam kelelahan, langsung mengusap pundak Adam dengan tangan mungilnya.


“Aku akan menemani mu Tuan, percayalah selama Tuan membutuhkan aku, maka itu akan menjadi sesuatu yang sangat berharga untukku,” balas Alice bersandar di dada suaminya.


Mengusap pundak Adam seperti mengatakan jika Adam bida beristirahat jika sedang bersamanya.


“Hehe, kau memang spesial!” seru Adam melonggarkan pelukannya sebentar dan mencubit gemas pipi istrinya.

__ADS_1


***


__ADS_2