
Semakin mendekati kota penilaian semakin ramai keadaannya. Begitupun dengan Alea dan kawan- kawan , mereka sudah semakin dekat dengan kota penilaian.
"Untunglah kita tidak terlambat sampai di kota penilaian..." ucap Pangeran Huang yang sekarang berjalan di sebelah Alea.
"Benar Pangeran, Walaupun kita tertunda dua bulan setengah dirumah kuno untunglah tidak ada hambatan di perjalanan, hingga kita mampu mengejar ketinggalan kita.." jawab Alea.
"Dua hari lagi akhir masa kita di dunia kecil, semoga kita bisa bersama lagi di dalam satu acara Hanpey.." kata pangeran Huang sambil menatap Alea.
"Semoga saja Putra Mahkota..." jawab Alea sambil menatap Pangeran Huang sekilas.
"Hanpey kau begitu cantik, pandai , lembut, baik hati, kenapa semua kebaikan ada padamu, mana mungkin aku bisa mendapatkan semua itu pada gadis lain, andai kau bukan kekasih dari sahabatku sekaligus saudaraku, mungkin aku akan merebutmu dari kekasihmu, walau akan besar resikonya...batin Pangeran Huang sambil kembali menatap kedepan. Dia menghela nafas berat.
"Ada apa pangeran...? Apa ada masalah...?" tanya Alea saat dia mendengar Pangeran Huang membuang nafas berat.
"Tidak...aku hanya menyesalkan kenapa kita harus berpisah.." jawabnya dengan nada sedih.
"Lo..kok malah sedih...bukankah seharusnya pangeran bahagia..bukankah sebentar lagi kalian semua akan bertemu keluarga..." kata Alea dengan wajah heran.
"Ck kau ini...kami bahagia akan bertemu keluarga setelah berada di sini selama dua tahun, tapi kami sedih harus berpisah dengan gadis secantik dirimu..." kata pangeran Huang sambil mengacak rambut Alea dengan gemas.
"Benarkah..? tapi pangeran..jangan sedih hanya karena berpisah dengan kami , bukankah hari masih panjang . kita bisa bertemu kapan saja jika ada waktu.." jawab Alea.
"Apakah mungkin nona...?" tanya Pangeran Huang lagi.
"He he..tentu saja pangeran...bukankah hamba juga keluarga kerajaan Amora, dengan giok keluarga di tangan hamba.." canda Alea.
"Dasar kau ini..." kata Pangeran Huang dengan mengacak kembali rambut Alea dengan gemas.
Namun percakapan mereka terhenti ketika mereka di hentikan oleh segerombolan peserta lain yang tiba- tiba menghadang perjalanan mereka.
"Ada apa ini..." tanya pangeran Huang pada mereka.
"Serahkan token kalian semua agar kalian bisa sampai di kota penilaian dengan selamat..." kata salah satu dari mereka.
"Aah...soal token lagi...bukankah kalian sudah memiliki, kenapa masih mau meminta milik kami...?" tanya Pangeran Huang dengan kesal.
"Jangan cerewet..kalau ingin selamat serahkan pada kami token kalian..eeh .. tunggu dulu, apakah gadis itu yang bernama Hanpey...?" tanya pria itu dengan menatap Alea tajam.
"Ada apa tuan...kenapa kau menanyakan nona kami..?" tanya Zhen Bai yang tiba- tiba sudah berdiri di depan Alea.
"Apakah dia tabib Hanpey dari perguruan Calang...?" tanya pria itu lagi.
"Cih...kau tadi berteriak dengan lantang, kenapa sekarang berwajah memelas seperti itu..?" tanya Zhen Bai dengan wajah kesal.
"Maafkan aku...maafkan kesalahan kami, kami sudah mencari tabib Hanpey sudah berbulan- bulan di dunia kecil ini, semua ini kami lakukan demi meminta tolong pada dia, aku mohon biarkan aku bertemu dengan dia.." ucap pria yang terlihat gagah namun kasar itu.
"Kakak Zhen , biarkan dia menemuiku, biar aku tahu keinginan dia..." kata Alea .
"Baik Nona..." jawab Zhen Bai.
"Ada apa kau mencariku..?" tanya Alea sambil berjalan dua langkah kedepan.
"Maaf kelancangan kami, sebenarnya kami mengikuti partisipasi dalam dunia kecil ini ada dua keinginan, yang pertama memang kami ingin mengikuti kompetisi dunia kecil , tapi sebenarnya tujuan kami yang utama untuk bertemu dengan anda tabib..." kata pria itu.
"Bertemu denganku...? Untuk apa..? Dan siapa kalian ini..?" tanya Alea heran.
"Perkenalkan , saya Guan Ro putra pertama sekte Posa di dataran benua timur. Sekte kami berada di dataran paling timur benua timur. Saat pertemuan para pendekar seluruh benua di benua tengah dulu, kami mendengar ada seorang pendekar muda yang juga seorang Alkemis yang jenius. Dan Alkemis itu juga telah menyembuhkan dua putra kesayangan Raja Amora. Saat itulah kami sebenarnya ingin menemui anda , namun jauh jarak kami membuat kami berfikir. Mana mungkin kami datang ke benua tengah. Akhirnya dengan perasaan sedih kami menekan keinginan kami untuk bertemu tabib. Kami berencana akan datang ke benua barat untuk bertemu dengan anda. Saat kami akan pergi , tiba- tiba kami mendengar kalau akan di buka dunia kecil yang anda pasti tahu berapa tahun dunia kecil baru di buka, karena itu Ayahku memutuskan untuk mengirim kami sekaligus membawa adik kami yang sakit kedalam dunia kecil . kami berharap kami bisa bertemu dengan anda. Namun usaha kami sia- sia, sudah berbulan- bulan kami berada di dunia kecil ini , tapi kami tidak bertemu dengan anda, kami sempat putus asa. Saat anda masuk kedalam rumah kuno itu, aku melihat keberadaan tabib, namun saat aku berjalan kearah rombongan kalian, tiba- tiba rumah kuno telah menelan anda sampai berhari - hari. Kami menunggu anda hampir satu bulan di luar rumah kuno, namun karena tidak ada pergerakan sama sekali dari dalam rumah, akhirnya kami mengira kalian sudah tiada dan kami memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu dengan berat hati. Ternyata keberuntungan kami tidak hilang. Ternyata di detik- detik berakhirnya masa kompetisi kami bertemu dengan kalian. Sekarang demi menyembuhan adik kami, kami rela
token kami dan token hasil rampasan kami kami serahkan pada kalian..." kata pria yang bernama Guan Ru.
"Di mana adikmu...?" tanya Alea datar.
"Dia di sana..sebentar akan aku bawa dia kemari..." ucap Guan Ru dengan perasaan senang. Dia segera berjalan kebelakang kelompoknya. Tak lama dia membawa tandu kecil yang bisa di angkat oleh dua orang saja. Saat tandu berada di depan Alea. Perlahan Alea mendekat.
'Tunggu Nona..!" seru Zhen Bai mencegah Alea mendekat.
"Ada apa kak Zhen...?" tanya Alea heran.
"Tuan Guan..tolong kau buka tandu itu lebih dulu..." ucap Zhen Bai dengan wajah dingin.
"Oh ya maaf..." ucap Guan Ru menyadari kesalahannya. Dia segera membuka tandu dan mengeluarkan sang Adik yang terlihat pucat dan letih. Seorang gadis manis yang berumur sekitar delapan tahun .
Para temannya segera membuatkan tempat agar adik dari Guan Ru bisa tidur.
"Kenapa dengan dia...?" tanya Alea sambil mendekati adik Guan Ru .
"Kami juga tidak tahu..sudah banyak tabib yang kami datangkan, tapi semua tidak bisa menyembuhkannya..." jawab Guan Ru.
"Kata tabib dia sakit apa..?" tanya Alea lagi.
"Mereka juga tidak dapat mendeteksi penyakit apa yang di derita Sian Ru.." jawab Guan Ru.
Alea segera melihat denyut nadi gadis itu . setelah melihat denyut nadi gadis itu terlihat wajah Alea mengengkerut .
"Ck...penyakit ini lagi..aah...kenapa di dunia kono ini banyak sekali orang yang suka bermain racun sich...aku , putri yuan dari Amora adik pangeran Huang dan kini putri kecil ini... Apakah mereka tak punya hati ya ngeracuni sesama manusia. .." umpat Alea dalam hati.
"Gege..tolong ambilkan aku air kehidupan, dalam botol yang agak besar .." kata Alea pada hewan kontraknya yang ada di dalam ruang dimensi . Tak lama Lauyan memberikan sebuah kendi pada Alea.
Alea berpura- pura mengambil kendi itu dari dalam cincin ruangnya. dan tanpa setahu mereka semua . White keluar dari ruang dimensi dan melingkar di pergelangan Alea. Tentu saja mereka tak melihat, saat ini Alea memakai baju dengan lengan agak besar dan panjang , baju caosan milik pria.
"Adikmu terkena racun, racun ini telah mengendap cukup lama di dalam tubuh adikmu. Apakah kalian memiliki musuh yang dekat dengan keluargamu...? Hingga dia tega meracuni adikmu..?" tanya Alea dengan wajah tenang.
"Racun...? adikku terkena racun...?" tanya Guan Ru tak percaya.
"Benar...sebentar lagi kau akan melihat buktinya...." jawab Alea.terlihat wajah Guan Ru memerah karena marah.
__ADS_1
Alea kembali menatap gadis Sean Ru.
"Sayang...kau bisa meminum air ini...?" tanya Alea pada gadis kecil itu.
Gadis itu mengangguk , lalu dia menatap Alea seolah dia berkata tolong bantu aku minum air itu.
"Ternyata saraf yang terkena racun mulai menyerang tanganmu juga.." kata Alea sambil membantu meminumkan air itu.
"Minumlah air ini agak banyak, nanti kalau kakak mengobatimu apakah kau kuat menahan sakit...?" tanya Alea pada Sean Ru. Terlihat anggukan kecil di kepala kecil itu.
"Tolong beri ruang padaku untuk menyembuhkan gadis kecil ini. Dan gege Lian, kak Zhen tolong lindungi aku.." ucap Alea.
Alea segera mengeluarkan jarum akupuntur dari dalam cincin ruangnya.
"Gege..karena ini alam terbuka tolong bantu melindungi kami, aku takut ada yang akan memanfaatkan kelengahanku, karena aku akan fokus dalam pengobatan..." kata Alea pada keempat hewan kontraknya .
"Baik..." ucap keempat hewan kontrak Alea. Mereka segera keluar dari ruang dimensi. Dan terlihat ada empat pria tampan yang tiba- tiba berada di dekat Alea. Kontan saja membuat semua orang kaget. Namun saat mereka melihat siapa yang datang, teman dari perguruan Calang tersenyum, sedang dari sekte Tiangzi kaget apalagi dari sekte Posa. Mereka bersiaga penuh.
"Jangan khawatir mereka saudaraku.." kata Alea dengan tenang.
Ke empat orang itu segera mengelilingi Alea. Sedang Alea sendiri segera memulai akupunturnya . Dia segera menancapkan jarum akupuntur di tubuh gadis kecil itu yang kini dengan terpaksa haris di buka semua.hingga menyisahkan ****** ********.
Setelah itu Alea segera mulai duduk lotus di dekat hadis itu.
"Sayang...tahan sebentar ya...tolong jangan bersuara agar konsentrasi kakak tidak terganggu. Kalau kau tidak tahan dengan sakitnya, kau bisa menggigit kain ini , kau mengerti...?" kata Alea pada gadis itu. Gadis itu mengangguk pelan.
Alea segera memasang kain kecil saputangannya di sela gigi gadis itu.
Tak lama dia mulai konsentrasi. Dia mengalirkan tenaga dalamnya secara perlahan. Setelah di rasa gadis itu mulai kuat menerima tenaga dalam yang dia salurkan , Alea mulai meningkatkan tenaga dalamnya. Alea merasa agak kesulitan membuang racun yang telah tertanam sejak kecil. Ternyata butuh waktu lama yang di butuhkan Alea untuk menguras racun di dalam tubuh gadis kecil itu. Hingga terlihat wajah pucat Alea yang menggiring racun agar terkikis dari alat vital gadis kecil itu .
Dua jam lebih Alea baru bisa menekan racun itu keluar dari tubuh Sean Ru. Dam terlihat Sean Ru memutahkan darah hitam dan kental serta sangat bau dari mulutnya. namun mereka tak berani mendekat, karena Alea masih tetap menekan tubuh Sean dengan kekuatan tenaga dalamnya. tak lama Sean kembali memuntahkan darah hitam kental.
Tanpa di sadari oleh Guan Ru , kalau diantara teman- temannya ada dua orang pria yang menatap kearah Alea dengan penuh kebencian, mereka terlihat mengepalkan tangannya dengan wajah marah.
Setelah tiga kali Sean Ru memuntahkan darah. Alea menyudahi pengobatannya. perlahan dia membuka matanya.
"Apakah kalian membawa air .." tanya Aleh pada Guan Ru.
"Iya aku membawa..." jawab Guan Ru sambil mendekat dengan membawa tempat air minum miliknya.
"kau busa membersihkan darah beracun itu dari tubuh adikmu, .." kata Alea pelan. sedang dia sendiri mencabuti jarum akupuntur yang ada di tubuh Sean Ru.
setelah membersihkan darah hitam kental dari tubuh sang adik, Guan Ru menatap Alea.
"Apa yang harus aku lakukan lagi..." tanya pria itu.
"tinggalkan kami..." jawab Alea tenang.
"Gege tolong salah satu dari kalian mengambilkan air untukku." ucap Alea pada hewan kontraknya.
"Minumlah Lea'er...." ucap Lauyan penuh perhatian. semua orang menatap interaksi Alea dengan pria yang tak mereka kenal. hanya siswa dari perguruan Calang saja yang hanya tersenyum melihat mereka.
Alea segera meminum air di dalam botol giok itu. setelah selesai dia memberikan kembali botol pada Lauyan yang masih setia berdiri di sebelahnya. setelah itu Alea mengambil buah pohon kehidupan yang masih ada di cincin dimensinya. yang sudah dia bela dua itu. satu dia makan sendiri. dan yang satu dia berikan ke pada gadis kecil itu.
"Nach sekarang makanlah buah ini agar kekuatanmu segera pulih kembali .
"Itu apa kak...?" tanya gadis itu sambil menatap buah di tangan Alea.
"makanlah...kakak juga akan memakannya, tapi sebelum itu minum dulu pil ini agar kau cepat sembuh..." kata Alea lembut.
Alea segera meminumkan pil penawar racun dan pil penyembuh. lalu dia kembali meminumkan air kehidupan yang tinggal separuh botol. Alea menatap gadis kecil yang ada di depannya . Dia menyuapkan buah yang ada di tangannya pada gadis kecil itu . juga memakan buah yang memang untuk dia sendiri . setelah habis dia berucap.
"Sayang apakah kau akan belajar duduk..?" tanya Alea.
"Apa aku bisa kak...?" tanya gadis itu.
"Sekarang kau coba untuk menggerakkan tanganmu..." ucap Alea. gadis itu terlihat ragu. tapi melihat tatapan Mata Alea yang lembut, membuat gadis itu merasa percaya diri. dia mulai menggerakkan jemari tangannya dan dia kaget karena tangannya mudah di gerakkan.
dia tak percaya. dan dia berusaha mengangkat lengannya. dan dia terbelalak karena dia juga mampuh mengangkat tangannya. dengan wajah bahagia dia berucap .
"Kak...aku akan duduk...!" serunya bahagia. Alea tersenyum menatap gadis itu. diapun memegang tangan gadis itu dan membantunya untuk duduk.
Melihat dia bisa duduk juga, gadis utu berteriak bahagia.
"Kak Guan Ru...aku bisa duduk..!" serunya bahagia.
"Apakah kau mau mencoba untuk berdiri...?" tanya Alea. gadis itu terlihat agak takut.
"Kenapa..? kau takut...?" tanya Alea.
"Aku akan memanggil kakakmu agar dia membantumu untuk berdiri.." kata Alea sambil tersenyum .
"Apakah aku bisa kak...?" tanya gadis itu ragu.
"Percaya pada kakak, kau pasti bisa melakukannya..tuan Guan...apa anda bisa kemari..?" seru Alea sambil memandang Guan Ru yang terlihat meneteskan air mata bahagia. bergegas laki- laki kekar itu mendekati sang adik dan Alea.
"Ada apa tabib...?" tanya dia dengan suara serak.
"Bantu adikmu untuk berdiri..." kata Alea sambil berdiri dari duduk lotus nya. dia segera menjauh dari kakak beradik itu.
Tak lama terlihat Guan Ru berusaha membantu sang adik berdiri. dan perlahan gadis itu menegakkan badannya walaupun dengan susah payah.
"Kakak...aku bisa berdiri lagi hik..hik..!' teriaknya sambil menangis keras. melihat sang adik menangis, Guan Ru memeluk tubuh kecil itu, dia juga menangis.
"Sayang...kau sudah sembuh..." ucap Guan Ru sambil menangis.
__ADS_1
"Iya kak...aku sembuh...aku sudah sembuh...aku sudah bisa berdiri lagi kak.. hik..hik. hik.." seru gadis itu sambil menangis bahagia. setelah itu Alea mendekati mereka berdua.
"Adikmu sudah sembuh, jangan kau biarkan dia berjalan dulu, karena tubuhnya belum terlalu kuat, tandu kembali dia. dan satu lagi. aku merasa ada musuh didalam kelompok kalian . berhati- hatilah menjaga kembali adikmu, jangan sampai dia terkena kembali racun yang sama, sesampainya di sektemu cari biang kerok dari penderitaan adikmu, sekarang kami pergi dulu, ingat jaga adikmu .." kata Alea pelan. mendengar omongan Alea terlihat wajah marah Guan Ru.
"Trimakasih tabib Hanpey..aku hanya bisa memberikan tokenku padamu..." kata Guan Ru dengan wajah bahagia.
"Tidak..tidak usah..aku sudah bahagia melihat adikmu sudah sembuh . aku tidak membutuhkan token lagi.." tolak Alea .
"Kak..jangan menolak pemberian kami, dan ini punyaku juga..." kata Sean dengan menatap Alea lembut. Akhirnya dengan terpaksa Alea menerima token dari kedua bersaudara itu. juga beberapa token rampasan mereka. setelah itu mereka kembali meneruskan perjalanan mereka.
Dua hari kemudian, pagi menjelang siang mereka sampai juga di kota penilaian. mereka mulai masuk kedalam kota yang terlihat cukup ramai. banyak Peserta yang sudah sejak tadi pagi datang.
Namun banyak juga yang masih belum datang.
Peserta yang baru datang harus melaporkan semua hasil yang mereka dapatkan dan juga cap tanda kalau mereka bisa masuk kedalam rumah kuno peninggalan jaman purba. dan tanpa mereka sadari sebelumnya kalau nilai dari hasil peninggalan purba adalah nilai yang paling tinggi. namun mereka juga tidak tahun kalau tanda itu sudah mereka miliki sejak keluar dari rumah kuno. hingga tidak akan ada yang dapat menipu kalau mereka juga keluar dari rumah kuno . setelah melaporkan semua hasil mereka , mereka mencari tempat untuk istirahat. mereka juga melihat banyak peserta yang baru datang. hingga hari menjelang sore Alea melihat kalau kelompok Guan Ru baru datang.
Sedang di luar dunia kecil yang menghubungkan dunia kecil dengan dunia atas belum terbuka . para penjemput peserta sudah berdatangan. Terlihat guru Juan dan guru Lao serta pangeran Lingzhi dan dua pengawalnya sedang menunggu . Putra Mahkota Lingzhi terlihat resah walau dia berusaha menutupinya. terlihat juga guru Sekte Tianzi yaitu Kakek Bing Hu dan beberapa tetua sudah ada di sana juga. ketika pangeran Lingzhi melihat kakek Bing Hu dia segera mendekati .
"Salam hormat kakek..." sapa pangeran Lingzhi pada kakek Bing Hu.
"Pangeran, apa kabar...?" sapa kakek Bing Hu.
"Hamba baik- baik saja kakek..." jawab Pangeran Lingzhi dengan wajah bahagia. Saat guru Juan dan guru Lao melihat keberadaan kakek Bing Hu mereka kaget.
"Guru besar Tiangzi apa kabar.." sapa mereka berdua.
"Baik guru Juan, guru Lao..aku mengucapkan terimakasih karena kalian telah mau menerima cucu- cucu kami di perguruanmu..." ucap Kakek Bing Hu dengan wajah menghormati
mendengar perkataan guru besar Sekte tiangzi mereka tahu pasti soal Alea dan Lian Han.
"He he..kami juga mengucapkan terimakasih karena telah membolehkan cucu jenius anda belajar di perguruan kami.." ucap guru Lao dengan sopan.
Namun percakapan mereka terputus karena gerbang penghubung dunia kecil terbuka. akhirnya mereka secara bergiliran masuk kedalam kota penilaian, namun mereka belum bisa bertemu dengan para peserta , karena penilaian belum dilakukan. para tetua perguruan yang ternama di beri tempat duduk di sebuah panggung yang cukup tinggi hingga bisa melihat pada para kontestan. Ada lima perguruan yang paling di segani yang bisa duduk di sana ,yaitu Sekte Tianzi , Perguruan Calang,Sekte pedang perak dan sekte Harimau putih serta perguruan Awan putih yang ada di benua timur. dan di tengah - tengah para terua terdapat kursi yang lebih tinggi. dan kursi itu milik kerajaan Shi, yang merupakan kerajaan terkuat di seluruh Benua. dan Pangeran Lingzhi lah yang didik di atasnya. Saat pangeran Lingzhi naik keatas. terdengar jeritan kekaguman dari para wanita. mendengar teriakan itu Alea hanya bisa tersenyum melihat Putra Mahkota Lingzhi yang sekarang sudah menjadi tunangannya di eluh- eluhkan para gadis.
"Ya ampun...kenapa aku memiliki kekasih yang merupakan idola para gadis . ." ucap Alea dalam hati. dia hanya bisa tersenyum masam ketika mendengar celoteh para gadis.
"Ya dewa...tampan sekali Pangeran Lingzhi..." seru seorang gadis yang ada di depan Alea.
"Kalau aku jadi istrinya, aku takkan pernah mau berpisah dengannya barang sedetikpun . kemanapun dia pergi, aku akan selalu mengikutinya.." jawab gadis yang lain.
"Ha ha ha...apakah kalau pangeran mau kekamar kecil mereka juga ikut.." seru Alea dalam hati.
Dan banyak lagi komentar yang Alea dengar hingga dia ingin tertawa keras. dan hasilnya dia senyum- senyum sendiri.
Sedang di atas panggung , Pangeran Lingzhi menajamkan matanya untuk mencari sosok yang sangat dia rindukan.
dan saat mata elangnya melihat keberadaan gadis yang dia rindukan hatinya semakin terbakar kerinduan. ingin rasanya dia terbang kedepan sang kekasi dan memeluknya erat. namun mana bisa dia melakukannya .
"Kenapa gadis nakal itu senyum- senyum sendiri..." ucap Pangeran Lingzhi sambil tetap menatap wajah Alea yang masih jau darinya.
"Hey..lihatlah pangeran Lingzhi Menatap kearahku...!" seru gadis yang ada di depan Alea. karena gadis itu lebih pendek dari Alea, jadi ketika pangeran Lingzhi menatap Alea, wajahnya seperti menatap gadis itu.
"Kau salah...dia menatapku.." kata gadis di sebelahnya.
"Mana mungkin , dia menatapku...?" jawab gadis pertama. sedang Alea segera menatap kearah pangeran Lingzhi , dan dia tersenyum karena Alea tahu kalau sebenarnya pangeran Lingzhi menatap ke arahnya. dan benar saja. saat Pangeran Lingzhi melihat Akea tersenyum, dia segera tersenyum pada Alea, dan gadis di depan Alea salah tingka. Mengira pangeran Lingzhi tersenyum padanya .
"Ya dewa...dia tersenyum padaku...!" serunya dengan bahagia. sedang Alea berusaha menahan tawanya. sedang teman si gadis merasa iri karena gadis temannya dapat perhatian dari pangeran Lingzhi. dan kegaduhan berakhir kala penilaian segera di mulai. Penilaian di bagi menjadi dua. 50 orang peringkat dasar. 50 orang peringkat utama. dan penilaian awal dari nomer ke 50 peringkat dasar . setelah di sebutkan ternyata perguruan Calang tidak ada yang masuk.
Lalu peringkat 50 utama , dan prajurit khusus kelompok pertama Perguruan Calang ada di urutan 25 sampai 19 dan urutan selanjutnya dari perguruan lain namun saat peringkat 14 diduduki oleh Cindy ,13 Longya. 12 perguruan Tiangzi lagi ,11 Perguruan Tiangzi, 10 Xio Wei, 9 Xio Yiking , 8 Perguruan Tiangzi , 7 Yu Kui, 6 Qing Ju, 5 Gu Jing, 4 Lian Han , 3 Zheng Bai , 2 Pangeran Huang. dan yang terakhir adalah Alea atau Hanpey. Mendengar nama- nama mereka di sebut. semua kelompok Alea berteriak keras karena bahagia. Namun saat nama Alea atau Hanpey di sebutkan, Pangeran Lingzhi berdiri daribduduknya . dia segera berjalan ke depan dan segera melayang ke bawah masuk kedalam kelompok para peserta. dia berjalan kearah gadis yang sangat dia rindukan. saat melihat Pangeran Lingzhi turun dan berjalan kearah Alea, gadis yang berada di depan Alea salah tingkah.
"Hey.. dia datang kearahmu.." kata sang teman.
"Iya...apa yang harus aku lakukan.. ?" kata gadis itu dengan tingkah gugup.
"Tenangkan dirimu..dia hampir sampai.." kata sang teman.
Sedang Alea sendiri tidak menyadari kedatangan pangeran Lingzhi. setelah dekat. baru menyadari ketika tubuh rampingnya ditarik dan di peluk dengan erat da.
"Hey..sa.." mulutnya terdiam saat suara lembut berkata.
"Kau sudah datang sayang...? dan selamat atas kemenanganmu..." ucap Pangeran Lingzhi yang masih memeluk erat tubuh ramping Alea. Alea hanya bisa membeku dalam pelukan pangeran Lingzhi. Setelah terobati perasaan rindunya, pangeran Lingzhi melepas pelukannya dia mencium lembut kening Alea. sedang para peserta hanya bisa melongo tak percaya pada pandangan mereka . Pria berkuasa yang terkenal dingin itu dengan seenaknya memeluk seorang gadis cantik di depan semua orang. Sedang kakek Bing Hu hanya bisa tersenyum melihat tingkah pangeran Lingzhi. Sedangkan gadis yang salah paham tadi hanya bisa tertunduk malu. dan sang teman berusaha keras menahan tawanya melihat pada gadis itu.
"Cucuku...kau membuat seorang pangeran yang terkenal kekejamannya tunduk luluh padamu...dasar gadis nakal" batin kakek Bing Hu sambil tersenyum bahagia.
"Selamat datang kembali calon permaisuriku.." ucap Pangeran Lingzhi mesra. Dia lalu memeluk pinggang Alea dan melompat menggunakan gingkangnya untuk kembali keatas pentas.
"Maaf...aku harus menjemput calon permaisuriku .." ucap Pangeran Lingzhi lantang. mendengar omongan Pangeran Lingzhi, terdengar kegaduhan di penjuru kota penilaian.
"Apakah dia adalah Calon Putri Mahkota..?" tanya pria paruh baya yang tadi mengumumkan nilai peserta.
"Sebenarnya dia bukan Calon Putri Mahkota, tapi sudah terpilih dan dia adalah Putri Mahkota kerajaan Shi. kami tinggal mengumumkannya secara resmi.." jawab Pangeran Lingzhi . dia segera duduk bersama Alea yang sudah di ambilkan kursi oleh Jihao.
saat melihat sang kakek, Alea berseru gembira.
"Kakek..." seru Alea.
kakek Bing Hu tersenyum dan mengangguk
Melihat semua itu, para sahabat serta utusan dari Tiangzi merasa bahagia. sedang di tempat lainnya , terlihat Putri Lan Wen mengepalkan tangannya menahan marah. sedangkan putri Asuya terlihat marah- marah tak terima.
Maaf sampai di sini dulu ceritanya ya...
Jangan lupa like, vote, dan komennya aku tunggu selalu.
Bersambung.
__ADS_1