PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
Racun Alea.


__ADS_3

Sedang di Kerajaan We, ternyata yang di undang oleh tabib Rou adalah tabib Cheng Raw tabib dari Sekte Tiangzi .


Tabib Cheng Raw belum tahu masalah yang terjadi. Saat dia di mintak tolong oleh sahabatnya yaitu tabib Rou untuk menolong mengobati salah satu pasiennya yang dia tidak mampuh, dia segera datang ke Kerajaan We , apalagi di sini ada saudaranya yang bekerja di kerajaan We, Saat sampai di sana Dia segera menemui Rekyu yang merupakan saudara nya sendiri ..


Saat itu Rekyu sedang bersiap- siap akan pindah dari Kerajaan We ke Kerajaan Shi bersama keluarganya. Mereka akan pindah secara diam- diam demi keselamatan keluarganya. Semenjak kepulangannya dari Kerajaan Shi itu, Dia sekeluarga selalu di awasi dari jauh, sepertinya Raja Saujin menahan Rekyu agar tidak bisa pergi dari kerahaannya. Sedang Rekyu berusaha akan mencari kesempatan untuk pergi dari kerajaan We . Ketika dia sedang mempersiapkan barang yang akan mereka bawa , untuk kepindahan mereka, pada saat itulah ada ketukan di daun pintu rumahnya. Dengan cepat Rekyu menyembunyikan barang - barang itu di kolong tempat tidur.


"Siapa...?" tanya Rekyu dengan keras..


"Rekyu...!" terdengar suara yang akrab di telinganya. Rekyu segera mengintip dari cela pintu rumahnya . Dan dia melihat saudara laki-lakinya sedang berada di depan pintu. Dia cepat- cepat membuka pintu rumahnya dengan segera .


"Kakak...kau di sini...!" serunya bahagia.


Dia segera memelukbtubuh tapi Cheng Raw dengan erat .


"Apakah kau tidak mengajakku masuk kedalam rumahmu...?" tanya tabib Cheng Raw sambil tersenyum pada sang adik.


"Eh maaf , Ayo, ayo masuk...!" seru Rekyu sambil mengajak tabib Ceng Raw masuk kedalam rumahnya .


Mereka segera duduk di ruang tamu. Sedang istri Rekyu segera membuatkan makanan dan minuman untuk sang kakak yang sedang berkunjung.


"Bagaimana kabar kalian sekarang...?" tanya tabib Cheng Raw sambil menatap sang Adik .


"Kami dalam masalah kak...!" jawab Rekyu pelan .


"Masalah apa..?" tanya tabib Cheng heran.


"Nantin akan aku ceritakan kak..lalu ada apa Kakak datang kesini ..?" tanya Rekyu sambil menatap sang kakak.


Mereka sedang duduk di ruang tamu rumah milik Rekyu .


"Aku di minta oleh sahabatku untuk menyembuhkan penyakit putri Rajamu.?" jawab sang kakak.


"Putri Rajaku...? Maksud kakak Putri Asuya yang sedang sakit itu...?" tanya Rekyu dengan mengerutkan dahinya.


"Iya...katanya dia sakit aneh...?" tanya Chang Raw.saat itu istri Rekyu mengatakan kalau Sang kakak lebih baik makan dulu . maklum karena akan pergi dari rumah ini, Rekyu telah meberhentikan para pelayannya . akhirnya istrinya sendiri yang mengurus rumah. akhirnya Rwkyu mengajak sang kakak untuk makan dulu. Setelah selesai makan mereka kembali duduk di depan rumah sebelum nanti tabib Cheng pergi ke istana.


"Kak...Aku sekarang sudah keluar dari istana kak..." ucap Rekyu pelan.


"Keluar dari istana...? Kenapa..?" tanya Cheng Raw kaget.


"panjang ceriranya kak, tapi tang jelas Aku baru tahu kalau dia berniat membunuh tuan Mudah Sekte Tiangzi.." kata Rekyu dengan nada kesal.


"Tunggu, tunggu..jelaskan dengan benar, apa maksudmu ingin membunuh tetua muda, siapa yang kau maksud tetua mudah itu..?" tanya Chang Raw kaget.


Akhirnya Rekyu menjelaskan semua kejadian yang di alami dia saat bertemu untuk pertama kali dengan Alea, dan soal Alea yang menjadi target pembunuhan yang do lakukan oleh Raja We yaitu Raja Saujin. Sebab Putri Alea menjadi penghalang Putri Asuya menjadi Putri Mahkota , karena putri Alea merupakan pilihan Raja dan putra Mahkota.


"Apaa...apakah yang kau maksud Putri Alea cucu guru besar..?" tanya Chang Raw tak percaya.


"Benar kak...aku pertamanya tak percaya, tapi di sana ada Zheng Bai yang sekarang menjadi pengawal pribadi tuan Putri..?" jawab Rekyu sambil menatap sang kakak.


"Brengsek...berani sekali Raja We meremehkan Putri Alea. Seberapa besar kekuatannya hingga berani mengusik Putri Alea...!" seru Cheng Raw marah.


"Karena itulah aku mengundurkan diri dari Raja We dan Putri mengharap aku pindah dari Kerajaan ini untuk bergabung dengannya..." ucap kembali Rekyu.


"Lalu kenapa kau masih di sini...?" tanya Chang Raw terlihat masih marah.


"Aku selalu di awasi. oleh Raja Saujin . Dia tidak memperbolehkan aku keluar dari kerajaan ini , karena dia tahu aku akan pergi ke Kerajaan Shi... oh ya , saat kakak kemari apakah mereka tahu kak..?" tanya Rekyu pada Chang Raw.


"Mereka belum tahu aku datang..." jawab Chang Raw.


"Apa mereka tahu kalau kau saudaraku..?" tanya Rekyu lagi.


"Entah...tapi sepertinya tidak, tapi yang mereka tahu kita satu perguruan, kalau begitu tunggu jangan pergi dulu, kita lihat perkembangannya, tapi lebih baik kau bersiap- siap saja dulu. .." jawab Chang Raw.


"Oh ya sebenarnya penyakit apa yang di derita Putri Kerajaan We ini...?" tanya Chang Raw lagi.


"Entahlah kak...sejak dia pulang dari dunia kecil tiba- tiba dia mengalami penyakit gatal yang aneh . Dia menderita gatal di sekujur tubuhnya . namun rasa gatal itu tak kunjung redah, hingga dia mengalami luka para di sekujur tubuhnya karena terkena garukan . sampai kuku- kuku tangannya di potong agar tidak melukainya . tapi dia akan mencari benda yang bisa memuaskan rasa gatalnya... sampai sekarang belum ada tabib yang bisa menyembuhkannya.


Begitu juga dengan tabib Rou ..." jawab Rekyu.


"Sebentar...jadi karena ini Rou memanggilku...?" tanya tabib Cheng .


"Mungkin kak..." jawab Rekyu .


"Kenapa mesti jauh- jauh sampai kedataran benua tengah, kenapa mereka tidak meminta tolong pada Putri Alea..?" kata tabib Cheng heran.


"Apaa...putri Alea..? tuan Putri tetua Mudah...? dia bisa pengobatan .?" tanya Rekyu heran.


"Ya ampun..kau tidak tahu kalau tetua Muda kita adalah seorang gadis jenius.. Dia sangat pandai dan piawai di dalam ilmu Alkemia, kalau di bandingkan denganku yang tua ini , aku kalah jauh darinya .." jawab tabib Cheng. Rekyu hanya bisa melingo kaget dan heran .

__ADS_1


"Ya sudah aku keistana dulu, kau bersiap- siaplah, setelah dari sana kita akan berangkat tengah malam saja agar tidak ketahuan . Biar barang - barang yang akan kau masukkan saja kedalam kereta milikku agar tidak terlalu mencolok. Atau begini saja, biar Lut dan Ken membawa istrimu jalan lebih dulu, sedang kita biar nanti naik kuda saja. Apakah kau punya kuda...?" tanya tabib Cheng. Lut dan Ken adalah pengawal sekaligus pembantu pribadinya . mereka berdua juga siswa Sekte Tiangzi .


"Ada kak...sepertinya itu ide yang bagus. Kalau begitu nanti setelah kakak keistana aku akan menyuruh istri. dan anakku pergi lebih dahulu. Untuk mengecoh mereka aku akan menjemputmu di istana..." ucap Rekyu.


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu, kau ambilkan kuda untukku..." perintah tabib Cheng.


"Baik kak..." jawab Rekyu sambil berjalan keluar. Tak lama terlihat tabib Cheng pergi meninggalkan rumah Rekyu. Setelah kepergian tabib Cheng , Rekyu mempersiapkan istri dan kedua anaknya untuk segera naik kedalam kereta milik tabib Cheng yang telah terparkir agak jauh dari rumah Rekyu . Setelah memasukkan barang kedalam kereta tanpa masalah. Rekyu segera menyuruh istri dan anaknya naik kereta satu persatu tanpa di ketahui orang .


Setelah itu Rekyu keluar dari dalam rumahnya dengan menuntun kuda..


Saat Rekyu ingin naik kuda , tiba- tiba seorang pria muda datang menghampirinya. Dan dia tahu kalau pria itu pengawal istana.


"Maaf ..tuan Rekyu mau kemana ..?" tanya pria itu dingin.


"Aku mau keistana, apakah kalian mau mengantarku...?" jawab Rekyu dingin.


"Baik..kami akan mengantar anda..?" jawab pria itu. Akhirnya mereka berjalan bersama menuju kerajaan We.


Sedang istri dan anak Rekyu sudah berangkat bersama Lut dan Ken. Mereka sudah mulai meninggalkan kota kerajaan We.


Sedang tabib Cheng sudah berada di rumah sang sahabat. Setelah makan siang tabib Rou membawa tabib Cheng pergi ke Kerajaan. Ketika mereka sampai di depan pintu gerbang istana , mereka bertemu dengan Rekyu. Mereka pura - pura belum bertemu.


"Kak ..kau sudah datang...? Selamat pagi tuan Rou. " tanya Rekyu sambil menyapa tabib Rou . tabib Rou hanya tersenyum. Dia tahu kalau Rekyu adalah saudara tabib cheng.


"Aku baru datang...bagaiman kabar kalian...?" tanya tabib Cheng sambil memeluk Rekyu.


"Baik- baik saja kak...apakah kau mau mengobati putri Asuya...?" tanya Rekyu lagi.


"Benar, aku ingin melihat penyakit beliau.." jawab tabib Cheng.


"Kalau begitu aku tunggu di pos penjagaan saja ya kak...aku akan tinggal bersama mereka..." jawab Rekyu.


"Baiklah , kalau begitu aku masuk dulu.." ucap tabib Cheng pada Rekyu.


Akhirnya tabib Cheng dan tabib Rou masuk kedalam istana. Setelah melihat kedatangan tabib Rou dengan temannya, pengawal kerajaan langsung membawa mereka pergi ke istana milik Putri Asuya. Ketika sampai di sana, ternyata Raja We berada di kamar sang putri bersama permaisurinya. Mereka sedang menjenguk sang putri yang kini sedang tertidur setelah meminum obat penahan sakit dan gatal yang di buat tabib Rou.


"Salam sejahtera Baginda...tabib Rao ingin menemui putri Asoya..." ucap sang Pengawal .


Mendengar kedatangan tabib Rou , Raja Saujin segera menyuruh mereka masuk. Terlihat tabib Saujin datang bersama seorang pria yang lebih muda darinya .


"Salam sejahtera yang Mulia, semoga kebahagian selalu menyertai anda ." sapa mereka berdua .


"Hamba yang Mulia .." jawab mereka.


"Siapa pria di sebelahmu Rao..?" ucap raja Saujin ramah .


'Ini teman yang hamba janjikan, mungkin dia bisa melihat penyakit yang di derita tuan Putri.." jawab tabib Rao lagi.


"Oo jadi dia seorang tabib...siapa namanya..?" tanya


"Hamba Cheng yang Mulia..." jawab tabib Cheng Raw .


"Kalau begitu silahkan ... Ucap Raja Saujin . Dia berharap tabib itu bisa menyembuhkan putrinya .


Setelah mendapat ijin dari Raja , tapi Cheng Segera memeriksa putri Asuya.


Terlihat tabib Cheng memeriksa dengan teliti . Cukup lama dia melihat keadaan Putri Asoya Dan melihat lukanya.


Sampai akhirnya tabib Chang menghentikan pemeriksaan pada Putri Asuya , dan dia pun akhirnya angkat tangan tak mampir memeriksa penyakit Pitri Asuya. .


'


"Maaf yang Mulia... Hamba tidak mampuh melihat penyakit yang diderita putri . Mohon Maaf Yang mulia.." kata tabib Cheng yang mengakibatkan kekecewaan di dalam hati Raja We .


"Apakah kau tahu atau mengenal seorang tabib yang memiliki keahlian lebih dari kalian...?"tanya Raja Saujin dengan wajah putus asa .


"Maaf apakah anda pernah memanggil tabib dari perguruan Calang...?" tanya tabib Cheng membuat Raja We heran.


"Tabib dari perguruan Calang...? Apakah yang kau maksud tabib Lao..?" tanya Raja lagi.


"Bukan ..tapi tabib Hanpey...dia seorang Alkemis dari perguruan Calang. Dia mendapatkan juara utama di dalam Alkemia di pertemuan antar cabang perguruan di benua tengah beberapa bulan lalu..." jawab tabib Chang lembut.


"Seorang ahli obat...?" ucap Raja kaget.


"Dia putri Mahkota kerajaan Shi Ayah..." terdengar suara lemah dari arah tempat tidur. .


"Nak...kau sudah bangun Lalu apa yang kau maksud tadi...?"tanya Raja Saujin pada sang putri.


"Yang di maksud tabib Hanpey dari Calang adalah Putri Lea sang putri Mahkota. Dia dulu juga pernah menyembuhkan seorang murid perguruan Calang yang di gigit ular Kirin. Dan dia menyelamatkan siswa itu dari kematian.." jawab Putri Asoya pelan .

__ADS_1


"Apaa...jadi putri Asuya juga seorang tabib..?" seru Raja Saujin dengan perasaan kaget. Dia tak menyangka gadis yang ingin dia bunuh adalah seorang tabib yang pandai.


"Tunggu...apakah yang kau maksud adalah tabib yang telah menyembuhkan Raja Rong Kyu dari penyakit jantungnya..?" tanta Rou yang memang pernah mendengar rumor itu. Pria muda yang mereka bilang telah menyembuhkan Raja Rou dari kematian dan dia sendiri saat mengobati Raja Rong Kyu juga telah menyerah.


"Kemungkinan ... Sebab dia juga sudah menyembuhkan putri Raja Tan dari kerajaan Amora yang kau tahu sendiri banyak tabib telah menyerah untuk mengobati gadis itu. Tapi dengan kedatangannya , dia bisa menyembuhkan putri dalam satu hari saja. Jadi anda belum pernah mendengar itu...?" tanya tabib Cheng dengan wajah heran.


"Tapi saya tidak sudi meminta tolong pada gadis itu, apakah kalian berdua todak memiliki seorang ahli Alkemis selain dia...?" tanya Raja Saujin lagi.


"Rasanya hamba tidak memiliki seorang tabib yang hebat selain dia yang Mulia, mohon maaf yang Mulia..." jawab Cheng Raw datar .


"Kalau begitu hamba mohon diri. Sebab hamba ingin ke perguruan Calang untuk bertemu dengan tabib Lao.." kata tabib Cang lagi.


" Baiklah silahkan...kau bisa meminta uang pada mentri keuangan tabib.." jawab Raja Saujin pelan.


"Tidak usah Yang Mulia...hamba tidak pantas menerima uang itu karena hamba tidak dapat menyembukan Putri " tolak tabib Cheng . Akhirnya tabib Rao dan tabib Cheng keluar dari istana


Mereka segera mendatangi tempat Rekyu yang telah senunggu tabib Cheng di pos penjagaan .


Sesampainya di pos penjagaan , tabib Chang bersama tabib Rou segera menjemput Rekyu.


Tabib Chang merasa lega ketika Rekyu masih dalam keadaan tenang walaupun dia tahu keluarganya sudah pergi lebih dahulu ke kerajaan Shi. Tabib Chan Raw sudah menyuruh Lut dan Ken untuk membawa keluarga Rekyu ke Kerajaan Shi lebih dahulu. Mereka akan berangkat tengah malam nanti. Setelah berbasa - basih sebentar dengan para penjaga, tabib Rao memisahkan diri kembali kerumahnya, sedang tabib Cheng dan Rekyu segera kembali kekediaman Rekyu.


Mereka akan berada di kediamannya Rekyu hingga tengah malam nanti.


Sedang di dalam kediaman Putri Asuya terlihat Raja Saujin sedang berbicara dengan sang istri dan Putrinya .


"Putriku...apa benar kalau Putri Lea seorang Ahli kimia, atau seorang tabib.?" tanya Raja Saujin.


"Memang yang aku dengar seperti itu Ayah...tapi saat itu aku tidak percaya, karena melihat usianya yang masih sangat mudah , mana mungkin dia seorang Alkemia, aku saja yang belajar bertahun- tahun di Perguruan Calang saja tidak seberapa pandai..." jawab sang putri dengan suara yang lemah. Kini tubuh putri Asuya terlihat mulai kurus dan terdapat banyak luka di sekujur tubuhnya. Hanya bedanya dengan Lan wen dan Ibunya yaitu, putri Asuya tidak memiliki bentol- bentol bernana . Namun karena sering di garuk dan terluka , maka luka pada putri Asuya karena cakaran tangannya semakin banyak .


"Tapi bagaimana kita akan meminta tolong pada Putri Lea... Bukankah kita telah bermusuhan dengan kerajaan Shi. ." kata Raja Saujin bingung.


"Ayah...kalau tidak ada yang bisa menyembuhkan diriku, lama- lama aku pasti mati Ayah...dan Ayah tak akan pernah tahu betapa tersiksanya Asuya Ayah...mungkin ini balasan dari dewa atas kejahatan yang dilakukan Asuya selama ini, Asuya terlalu sombong, angkuh dan licik,.. andai dewa masih memberikan kesembuhan pada Asuya, asuya berjanji menjadi manusia yang lebih baik lagi Ayah, dan kalau sampai Putri Alea yang menolongku aku bersumpah akan mengangkat dia jadi saudara perempuanku" kata putri Asuya dengan wajah sedih dan putus asa.


Sang ibu hanya bisa menangis melihat penderitaan putrinya.


Setelah tengah Malam terlihat dua bayangan terlihat berlari menjauh dari rumah Rekyu. Bayangan itu berkelebat dengan cepat, menuju luar kota tanpa terlihat siapapun. Setelah berada agak jauh dari Kerajaan We, mereka memperlambat gerak lari mereka.


"Kak...kita harus mencari kuda untuk perjalanan kita..." ucap Rekyu yang berada di sebelah tabib Cheng Raw.


"Benar...apa kau tahu di mana kita akan membeli kuda..?" tanya tabib Cheng.


"Aku tahu kak..." jawab Rekyu. Dia segera mengajak tabib? Cheng ketempat penjual kuda. Setelah membeli dua kuda yang kuat, mereka segera melanjutkan perjalanan mereka. Mereka ingin segera bergabung dengan kereta yang membawa istri dan kedua anak Rekyu . Keesokan harinya mereka baru bisa bertemu dengan Keluarga Rekyu di sebuah desa dekat perbatasan . Mereka bertemu di penginapan di sebuah desa. Saat itu karena hari sudah menjelang senja. Dan di depan mereka terdapat hutan yang cukup sunyi. Akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam di penginapan di sebuah desa. Saat itulah Rekyu melihat sang Putri, yang berada di penginapan desa itu . Dan akhirnya mereka bisa berkumpul kembali. Tinggal satu hari lagi mereka akan sampai di Kerajaan Shi.


Sedang kan di sebuah rumah mega milik Mentri Lan, terlihat Lan Wen dan sang Ibu sedang menangis karena badan mereka kini sudah membusuk. Luka nana dan berdarah terlihat di sekujur tubuh kedua wanita bangsawan itu. Para pembantunya banyak yang pada berhenti bekerja di rumah Mentri Lan karena tidak tahan dengan bau dari kedua wanita itu. Banyak tabib yang di datangkan untuk menyembuhkan penyakit Nyonya Lan dan putrinya. Tapi tak satupun dari mereka yang bisa menyembuhkan mereka berdua. Setelah mendengar omongan dari ?tabib Lao , nyonya Lan meminta pada sang suami untuk mehadap Raja Rong Kyu . Mereka berharap Raja Rong Kyu menyuruh Putri Alea agar mau mengobati mereka berdua.


"Ayah...ayolah Ayah..datanglah menghadap Kaisar, Mintalah tolong pada beliau agar mau memerintahkan Putri Alea agar mau mengobati kami..." kata nyonya Lan dengan wajah sedih. Rasanya dia sudah tak tahan untuk menanggung sakit yang dia derita.


"Bagaiman aku meminta tolong pada Putri Alea, jika Putri itulah yang dulu kalian celakai.." jawab Mentri Lan denga perasaan sedih.


"Hadeh Ayah ...Putri dan Raja belum tentu tahu kalau aku yang melakukan itu, lagian si pembunuh bayaran itu belum melukai Putri Lea kak....?" kata Nyonya Kan masih dengan arogannya.sepertinya penderitaan yang dia dapatkan sekarang belum sanggup menghilangkan sifat jelek yang ada pada dirinya.


"Bunda...kenapa kau sekarang sudah dalam keadaan seperti ini, masih saja sifat sombong dan aroganmu tidak berkurang. Seharusnya kau itu sadar diri Bunda...!" ucap Mentri Lan dengan wajah sedih melihat sang istri tidak berubah.


"Sudahkah Ayah...tolong kami untuk memintakan pada Raja agar menyembuhkan kita dari penyakit ini.. Kalau Raja sendiri yang menyurih , pasti Putri Lea tak akan bisa menolak.." ucapnya kasar. Mentri Lan hanya bisa gendeng kepala.


"Baiklah aku besok akan berusaha menghadap yang mulia kaisar..." jawab Mentri Lan pasrah .


"Kenapa bukan sekarang saja suamiku.." ucap Nyonya Lan seenaknya.


"Apakah kau tidak melihat kalau hari sudah malam..?" jawab Mentri Lan marah. Mendengar nada bicara Mentri Lan yang marah. Keduanya terdiam.


💖💖💖💖💖


Keesokan harinya dengan perasaan ragu Mentri Lan datang menghadap Baginda Raja. Dengan perasaan takut dan cemas Mentri Lan meminta pertolongan pada Kaisar. Agar mengijinkan Putri Mahkota mengyembuhksn istri dan putrinya. Mendengar perkataan Mentri Lan kemarahan Kaisar yang sudah lama di pendam bagian mendapat pematik untuk meledak.


"Apaa...kau berani meminta padaku untuk putri mahkota menyembuhkan mereka...? Kau itu bodoh atau gila ya..?


Mana mungkin Putri Mahkota Mau mengobati istri dan anakmu yang jelas- jelas ingin membunuh dirinya. dan lagi sifat putrimu sangat lah jelek., Jelas- jelas Putra Mahkota tidak menyukainya, kenapa dia begitu percaya diri mau jadi permaisuri putra Mahko. Untuk kalian tidak mendapatkan hukuman mati dari diriku. Sekarang katakan pada anak dan istrimu, kalau Putri Mahkota tidak akan pernah mau mengobati mereka. Walaupun dia bisa. ...!" seru Raja Rong Kyu dengan marah. Mendengar perkataan Sang Raja , Mentri Lan Menggigil ketakutan. dia segera bersujud meminta ampun.


"Ampu kan hamba yang Mulia... ampunkan hamba...hamba memang gagal mendidik putra Putri hamba menjadi orang yang berguna.


"Dasar pria bodoh...andai aku rak melihat anak- anakmu yang dari Selirmu menjadi anak- anak patuh, dan melihat kesetiaanmu selama ini pada kerajaan , sudah kuhukum berat kau. karena kesalahanmu ini kau beserta keluargamu kupindahkan keperbatasan, selama lima tahun. dan kau di sana bisa mendidik kembali anak dan istrimu yang serakah itu...!" perintah turun langsung Dari Raja. Akhirnya Mentri Lan undur diri dengan sedih. semua memang salah dia, dia yang tahu akan rencana sang istri , tapi tidak mencegah secara tegas perbuatan istrinya yang salah. untung saja dia tidak di hukum mati. masih ada waktu lima tahun untuk menata kembali kehidupan keluarganya .


Ketika sampai di rumah, dia mengatakan semua yang di katakan Raja padanya.


Maaf sampai di sini dulu ceritaku, besok aku sambung lagi ya


jangan lupa like , vote dan komennya selalu aku tunggu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2