
Karena menghawatirkan keadaan Kakek Kaisar tua, maka istirahat pun hanya sebentar. Hinga pada minggu kedua saat mereka melintasi sebuah hutan yang tidak terlalu besar, entah mengapa terlihat agak mencekam.
"Lea'er hati- hati , sepertinya kita akan bertemu dengan kekuatan hitam, aku merasakan kekuatan hitam itu di depan kita..." ucap Xiao Bai dari ruang dimensi.
"Maksud gege...?" tanya Alea.
"Sepertinya dari hutan itu Lea'er...?" lanjut Xiao Bai.
"Gege...apakah kita harus memeriksa terlebih dahulu...?" tanya Alea dalam telepatinya.
"Aku akan menemanimu Lea'er... Biarkan mereka istirahat dulu di sini..." kata Egle memberi saran.
"Baiklah..." jawab Alea.
"Ayah...! Kita berhenti sebentar...!" seru Alea keras pada sang Ayah yang berada di depan rombongan bersama Jihao.
Jendral Murong segera berhenti mendengar seruan Alea. Dia segera menyuruh mereka menepi.
"Ada apa Lea'er. .." tanya Jendral Murong setelah mereka berhenti.
"Ayah dan rombongan tolong berhenti di sini sebentar, aku akan memeriksan sesuatu di depan...." kata Alea sambil turun dari kudanya.
"Kau merasakan juga Lea'er...?" kata Pangeran Lingzhi sambil turun dari kudanya.
"Pangeran merasakan juga...?" tanya Alea sambil menatap pria tampan di sebelahnya. Pangeran Lingzhi menganggukkan kepalanya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sayang..?" tanya sang pangeran.
"Aku akan memeriksa kesana dengan mengendarai burung elang dewa....." jawab Alea.
"Aku ikut..." kata pangeran Lingzhi.
"Baiklah, ayo...." jawab Alea.
"Ayah...ayah di sini dulu sebentar menjaga yang Mulia, aku akan pergi sebentar..." ucap Alea.
"Baik nak...aku akan di sini menjaga Yang Mulia..." jawab Jendral Murong Han.
"Trimakasih Ayah...." kata Alea sambil berjalan meninggalkan sang Ayah di ikuti pangeran Lingzhi, sedang Jihao dan Guansi di tugaskan oleh pangeran Lingzhi untuk menjaga jendar Murong Han dan Raja kerajaan Long.
Eagle segera keluar dari ruang dimensi Alea , tak kama terlihat seekor burung besar berdiri di depan Alea dan pangeran Lingzhi. Melihat keberadaan burung elang dewa, jendral Murong Han, Raja Rueyan dan kedua pengawal pangeran Lingzhi ternganga takjub, mereka belum pernah melihat seekor elang yang besar dan mirip seekor garuda selama di kehidupan mereka.
Sedang Alea dan pangeran Lingzhi segera menaiki elang dewa. Sang Elang segera membawa pangeran dan Alea membumbung tinggi. Elang itu segera terbang menuju hutan lebat yang ada didepan mereka. Pangeran Lingzhi yang duduk di belang Alea merasakan perasaan bahagia ,kagum , cinta campur aduk jadi satu.
"Lea"er...betapa hebatnya dirimu, semakin hari semakin aku merasakan jatuh cinta teramat sangat pada dirimu, kau telah membuatku merasakan jatuh cinta dan rasa ingin memilikimu sendiri. Sayang...aku berjanji ,aku akan membuatmu jatuh cinta seperti aku mencintaimu seperti saat ini. Tolong jangan lagi pergi menjauh dariku lagi. Tak akan kubiarkan sedikitpun kau jauh dariku. Mulai saat ini aku akan selalu menempel padamu, tak akan kubiarkan pria manapun mengambil mu dariku.
Seru pangeran Lingzhi dalam hati.
Semilir Angin membawa harum tubuh Alea , tercium wangi mawar di hidung pangeran Lingzhi. Ingin rasanya dia mendekap tubuh langsing di depannya. Namun dia masih sadar kalau kini mereka sedang bertugas. Mereka sedang menyelidiki kekuatan apa yang ada didepan mereka.
Terlihat burung elang dewa melayang di atas hutan lebat yang kini terlihat di bawa mereka.
"Lea'er..kau bisa melihat itu..." kata Eagle melalui telepati.
Alea bisa melihat dengan mata tajamnya, dari cela- cela pepohonan di hutan , segerombolan orang berpakaian hitam sedang berjejer seperti sedang menunggu sesuatu.
"Iya gege...apakah mereka menunggu kita lewat...?" tanya Alea kesal..
"Iya...mereka menunggu kalian lewat..." jawab Eagle.
"Dari mana mereka tahu kalau kami akan melewati tempat ini...?" tanya Alea lagi.
"Sepertinya mereka telah menunggu kalian beberapa hari ini..." jawab Eagle.
"Sayang...kau melihat mereka juga...?" tanya Pangeran Lingzhi yang ada di belakang Alea.
"Iya pangeran..sepertinya mereka menunggu kita lewat..." jawab Alea.
"Mereka bukan menunggu kita..tapi menunggu raja dan Ayahmu..." jawab pangeran Lingzhi lagi.
"Menunggu Ayah dan Raja...?" tanya Alea dengan wajah kaget .
"Benar...apakah Ayah mertua mempunyai musuh...?" tanya Pangeran Lingzhi .
"Aku tidak tahu...tapi melihatnya pernah terkena racun yang hampir membunuh nyawanya, aku fikir Ayah memiliki seorang musuh yang sangat membencinya..." jawab Alea dengan wajah menatap gerombolan itu lagi.
"Kalau begitu kita bereskan sekarang, dan kita tangkap pemimpinnya..." kata Pangeran Lingzhi lagi.
"Ayo...siapa takut..." jawab Alea dengan wajah ceriah.
"Gege ...kita turun..." ucap Alea pada Eagle.
"Baik Lea'er..."jawab Eagle.
Dia segera menukik kebawa ,Dan perlahan mendarat dengan mulus di dekat gerombolan itu. Tentu saja mereka kaget ketika melihat burung elang besar dan elok yang menyerupai seekor rajawali mendarat di dekat mereka. Dan lebih kaget lagi ketika dari punggung rahawali itu turun dua orang pria dan wanita berparas tampan dan cantik . mereka bagaikan dewa dan dewi yang baru turun kedunia ini. Dan kedua orang itu mendekati mereka. Sedang burung yang besar itu berubah menjadi pria tampan berbaju bercorak hitam dan putuh.
"Siapa kalian...?" seru salah satu orang yang ada di dalam gerombolan itu. Dan Alea rasa pria itu sang pemimpin gerombolan .
"Kalian tak perlu tahu siapa kami, untuk apa kalian berada di sini...?" tanya pangeran Lingzhi sambil menatap mereka satu persatu .
"Itupun bukan urusanmu anak muda...?" jawab pria itu membalikkan kata sang pangeran.
"Kalau aku ikut camur...?" ucap pangeran Lingzhi dingin.
"Ha ha ha...aku akan menghabisi kalian..." jawab pria itu sombong.
"Apa kalian bisa...?" tanya Pitra Mahkota enteng.
"Sombong... Apa kalian memiliki nyawa rangkap anak muda..." ucap pria itu marah.
"Untuk menghadapi kalian, kami tak butuh nyawa rangkap...." jawab pangeran Lingzhi dingin.
"Dasar pria bernyali besar. .. ayo kita bunuh mereka, dan biarkan gadis cantik itu menjadi penghangat ranjang kita...!" serunya marah. Dan merekapun segera mengepung Alea, Pangeran Lingzhi dan Eagle. Maka terjadilah perkelahian antara Para penjahat itu dengan Alea CS. Seperti biasa setiap Alea bertarung, pasti White berada di pergelangan Alea. Dia akan melindungi Alea dengan cara selalu melingkar di pergelangan tangan kiri Alea. Dia takut akan ada racun yang akan menyerang Alea.m
Namun mereka bukan tandingan ketiga manusia itu, dalam sekejap mata mereka telah jatuh bersimbah dara di tanah, hingga akhirnya tinggal dua orang saja. Si pemimpin dan satu lagi pria kekar berwajah sangar seperti si pemimpin . Pangeran Lingzhi segera menangkap si pemimpin dan salah satu anak buahnya itu. Namun saat mereka tertangkap
Tiba- tiba Alea berseru.
"Pangeran cegah dia jangan sampai bunuh diri , ada racun di dalam mulutnya ..!" seru Alea cepat. Pangeran Lingzhi segera menotok pangkal lehernya hingga dia tidak bisa memecahkan racun yang ada di dalam mulutnya, Sedang pria yang ada di depan Alea telah terlanjur memecah racun itu. Ternyata mereka lebih suka bunuh diri dari pada tertangkap musuh.
"Pangeran...kenapa aku masih merasakan hawa hitam masih berada di sekitar kita...?" ucap Alea pelan.
__ADS_1
"Biarkan saja selama dia tidak mengganggu kita..." ucap pangeran Lingzhi . dia segera mencari racun yang Ada di mulut pria itu. Dengan mudahnya dia menemukan racun itu di bawah lidah si penjahat . Setelah mengeluarkan racun itu, pangeran Lingzhi segera mengikat tangan penjahat itu .
"Lea'er Ayo kembali, kau pergilah dengan elang Dewa, aku akan membawa pria ini lewat darat.
"Kenapa tidak kita bawa aja dia sekalian pangeran..." kata Alea .
"Tidak...kasihan hewan kontrakmu, biarkan dia aku bawa sendiri. Ayo kita pergi..." ajak pangeran Lingzhi sambil mulai mengangkat pria itu bagai membawa seekor kelinci di tangannya. Terlihat dia mulai berlompatan dan berlari diantara batang- batang pohon di dalam hutan. Sedang Alea setelah melihat pangeran Lingzhi menjauh dia segera berkata pada Eagle.
"Gege...apa kita akan mencari pemilik hawa hitam ini...?" tanya Alea sambil menatap sekeliling nya.
"Tidak usah Lea'er...aku merasa dia mulai menjauh dari kita..." jawab Eagle.
"Kalau begitu kita kembali saja... Kita membutuhkan waktu lebih cepat sampai di kerajaan Long...?" kara Alea.
"Ayo..." jawab Eagle , dia segera berubah menjadi burung elang dewa kembali . dan Alea segera naik keatas tubuhnya. Tak lama mereka telah sampai di tempat Jendral dan Raja menunggu. Ternyata pangeran Lingzhi sudah tiba lebih dulu . dia segera memberikan pria pemimpin kelompok tadi pada Jihao.
"Buat dia mengaku..." ucap pangeran Lingzhi.
"Tunggu tuan Jihao...aku akan memberi dia hadiah agar dia mudah mengaku siapa dia..." kata Alea sambil berjalan kearah pria besar itu. Setelah dekat dia memasukkan sesuatu pada mulutnya. Dan menekan leher pria itu sedikit sehingga sesuatu yang dia masukkan kedalam mulut pria itu tertelan dengan sempurna.
"Apa yang kau masukkan kedalam mulutnya Lea'er..." tanya pangeran Lingzhi heran.
"Sesuatu yang bisa membuat dua jujur dengan ucapannya..." jawab Alea.
"Benarkah....?" tanya Pangeran Lingzhi.
"Lihat saja apa yang akan dia ucapkan. Nach Jihao biarkan obat itu berekasi dulu, setelah itu coba kau tanyakan dulu siapa namanya..." kata Alea tenang.
Jihao pun membiarkan pria itu diam sebentar. Setelah membiarkan pria itu dian sekitar tiga puluh menit , dia segera menanyakan siapa nama pria itu. Dan pria itu menjawab tanpa berfikir. Dan saat Alea menyuruh menanyakan apa maksud mereka menghadang jalan tadi. Dengan jelas dia berucap.
"Kami di tugaskan pimpinan kami untuk menghadang Jendral Murong Han dan Raja yang Akan lewat sini..." jawab Pria itu dengan cepat. Namun sedetik kemudian , terlihat dia terkejut dengan ucapannya.
" Untuk apa kau menghadang mereka.?" tanya Jihao lagi.
"Untuk membunuh mereka...!" jawabnya dengan tegas, namun dia kembali kaget dengan ucapannya sendiri. Sedang Raja dan Jendral Murong Han kaget bukan main.
"Membunuh mereka...? siapa yang menyuruh atau membayar kalian...?" tanya Jihao lagi.
" Aku tidak tahu...yang aku tahu dia seorang pembesar kerajaan Long, dan dia berhubungan dengan tuanku pemimpin kami...." jawabnya dengan wajah kembali kaget mendengar ucapannya sendiri.
"Siapa pemimpinmu....?" kini pangeran Lingzhi yang bertanya.
"Tuan besar Rokyu, Kami dari kelompok pembunuh bayaran Hey Ya ...." jawab pria itu lagi.
"Hey...kenapa denganku...? kenapa mulut dan otakku tidak bisa sama...kenapa aku dengan mudah menjawab semua pertanyaan mereka yang seharusnya aku rahasiakan...ada apa dengan tubuhku, atau ini karena sesuatu yang di berikan gadis itu padaku..." seru pria penjahat itu di dalam hati. karena setiap pertanyaan yang mereka tanyakan akan dia jawab dengan sejujurnya.
"Jadi kalian dari kelompok pembunuh bayaran gagak hitam...?";ucap pangeran Lingzhi dingin.
"Benar..." jawab pria itu datar.
"Ya sudah ayo kita segera berangkat, bukankah kita mengejar waktu demi menolong Kaisar tua..." ucap pangeran Lingzhi , setelah mendapat informasi dari pria penjahat tadi.
"Baiklah Ayo...." kata Jendral Murong Han sambil mulai menjalankan kudanya.
"Jihao kau bereskan dia...kita sudah tidak membutuhkan dia lagi ..." ucap Pangeran Lingzhi sambil Naik keatas kuda dan menjalankan kudanya di dekat Alea. mereka segera memacu kuda mereka dengan cepat , untuk segera sampai di kerajaan Long. Sedang Jihao dan Guansi segera menyusul mereka setelah membereskan pria kasar tadi.
Ternyata waktu yang mereka tempuh memerlukan hampir tiga minggu. saat hari menjelang pagi , kuda- kuda mereka sampai di desa perbatasan antara kerajaan Long dan kerajaan Shi. tepatnya di desa Cahaya. Desa kesayangan Alea. saat melewati desa itu, Alea berhenti sejenak.
"Ayah...Apa boleh Alea mampir sebentar di desa ini...?" tanya Alea sambil menatap sang Ayah.
"Nak...kita mengejar waktu...bagaimana kalau kau kemari setelah melihat keadaan Kakek Kaisar tua dulu...?" kata sang Ayah.
"Baiklah...Mungkin itu lebih baik, karena aku tak mungkin hanya sebentar jika mampir di desa ini..." ucap Alea lagi.
"Kita akan kesini kalau urusanmu di kerajaan Long selesai Lea'er..." ucap pangeran Lingzhi lembut.
"Baiklah , ayo kita lanjutkan perjalanan kita..." ucap Alea.
Mereka segera melanjutkan perjalanan mereka.
Dua jam berlaku dengan cepat. kini mereka sudah mulai masuk kedalam kota kerajaan Long yang terlihat ramai di pagi hampir menjelang siang itu. Namun mereka langsung menuju ke kerajaan Long , tanpa berhenti untuk istirahat. Karena Raja Rueyan mendengar dari pengawal pribadi yang sudah menjemput mereka kalau Kaisar tua semakin parah.
Mereka segera masuk kedalam istana. ketika mereka sampai di istana , Raja segera membawa mereka menuju ruang tidur Kasar tua. sesampainya di sana, Alea dapat melihat kalau semua kerabat kerajaan berkumpul di depan ruang tidur tempat Kaisar tua tinggal. dan ternyata Putra Mahkota Fang Xing Long serta beberapa pangeran dan putri sudah berkumpul di depan pintu ruangan Kakek Mereka. . terlihat wajah semua orang berwajah sedih. Saat kasim meneriakkan nama sang Raja, semua orang menatap kedatangan beliau. dengan terburu- buru beliau berjalan sambil berucap tanpa mendengar salam dan sapaan mereka yang baru melihat ,Karena Raja Rueyan sangar menghawatirkan keadaan Kakek Kaisar tua,
"Putri Lea ayo kita masuk..." ucap sang Raja sambil melangkah kedalam ruangan. Alea dan pangeran Lingzhi mengikuti Raja Rueyan masuk . Sedang Jendral Murong dan Kedua pengawal Pangeran Lingzhi menunggu di luar.
Melihat kedatangan Raja dan seorang gadis cantik dan Pria tampan yang mengikuti Raja masuk ,membuat mereka heran. siapa gadis dan wanita itu...?" pikir mereka dalam hati. hanya Putra Mahkota Fang dan beberapa Pangeran yang belajar di perguruan Calang saja yang tak heran akan kedatangan Alea.
Malah wajah pangeran Fang yang terlihat sedih saat melihat Alea datang bersama pangeran Lingzhi. Ada perasaan kecewa, cemburu, iri dan penyesalan menyala di dalam hatinya .
"Lea'er...kau datang...? tapi kenapa kau datang bersama dia...?" ucap Putra Mahkota Fang dalam hati.
Sedang Alea dan Pangeran Lingzhi telah berada di dalam kamar Kaisar tua.
"Lea'er...kau bisa memeriksa penyakitnya Kaisar tua...?" tanya Raja dengan wajah cemas.
"Baik yang Mulia...." jawab Alea dengan wajah tenang. ketenangan seorang tabib memang sangat di perlukan saat mereka harus memeriksa si pasien dalam keadaan apapun. terlihat di sekitar Kaisar tua beberapa tabib ada di sana. dan mereka terlihat sedih.
"Ampun yang mulia...sepertinya Kasar tua sudah tidak bisa bertahan, jadi maafkan kami..." kata salah satu tabib yang terlihat paling tua di antara mereka.
"Diamlah kalian semua...biarkan wanita ini melihat keadaan Kaisar tua..." ucap Raja marah. mereka semua terdiam mendengar kemarahan sang Raja. sedang Alea segera mendekati Kaisar tua yang terlihat sangat lemah.
"Sepertinya penyakit Kaisar tua gagal jantung...batin Alea. dia segera melihat denyut nadi kaisar tua. dapat dia rasakan kalau denyut nadi kaisar tua sangatlah lemah.
"Yang Mulia...boleh hamba meminta tolong...?" kata Alea pada Raja Rueyan yang menarapnya penuh harapan.
"Apa itu nak...?" kata Raja Rueyan pelan.
"Tinggalkan hamba dan pangeran Lingzhi di sini berdua, jangan biarkan seorangpun yang mengganggu kami, saat hamba keluar nanti, hamba akan mengatakan kondisi kakek Kaisar yang sebenarnya..." kata Alea dengan wajah tegas.
"Baiklah...aku akan menyerahkan kesehatan Kaisar Tua padamu..." ucap Raja Rueyan .
"Trimakasih yang Mulia atas kepercayaan yang Mulia pada hamba..." kata Alea.
"Tapi yang Mulia..." seru tabib tertua tadi seolah tak rela Kaisar tua berada di dalam kamar bersama Alea dan pria yang bersama gadis itu.
"Sudah...biarkan Putri Lea mengobati Kaisar Tua, kita keluar sekarang...." kata Raja dengan tegas. dia segera berjalan keluar di ikuti para tabib dengan langkah berat.
Setelah melihat mereka keluar, Alea segera berkata.
"Pangeran tolong jaga sebentar Kaisar Tua...hamba akan mengambil peralatan medis dari ruang dimensi..." ucap Alea.
__ADS_1
"Baik sayang...aku akan menunggu di sini...." kata Pangeran Lingzhi dengan yakin. Alea segera menghilang dari pandangan Pangeran Lingzhi. tak lama dia telah kembali dengan sebuah kotak di tangannya Alea segera mengambil stetoskop dari kotak yang dia ambil .lalu segera memeriksa detak jantung kaisar Tua. saat Alea memeriksa tiba- tiba mata tua Kaisar Tua terbuka.
"Kau siapa nak..." ucapnya lemah.
"Kakek kaisar lupa denganku.." jawab Alea, dia mulai melihat gambaran kakek ini di dalam memori ingatan putri Lea yang lalu.
"Kakek sudah tua...kakek Lupa..." jawab Kaisar Tua lemah.
"Hamba Lea Min Han putri Jendral Murong Han kek..." jawab Alea pelan.
"Ternyata kau sudah dewasa anak bau..." ucap Kaisar tua sambil tersenyum.
"He he..benar kek...anak bau ini sudah besar dan kini ingin mengobati kakek, jadi kakek percaya sama Lea ya...?" kata Alea pelan.
"Penyakit Kakek sudah tidak bisa di sembuhkan nak...sudah banyak tabib yang menangani kakek, namun penyakit kakek tetap saja tidak mau pergi dari kakek..." kata Kaisar Tua dengan tersenyum lembut.
"Jangan khawatir Kek...Alea akan menyembuhkan kakek, tapi kakek harus percaya pada Lea ya...?" kata Alea lembut.
"Baiklah aku akan percaya padamu,..." kata kakek Kaisar tua pasrah. dia memejamkan matanya.
Setelah pemeriksaan ternyata benar, Kaisar Tua mengalami gagal jantung dan tekanan darahnya tinggi, dan pasti mempunyai penyakit Diabetes.
Alea segera mengambil obat dopamin dari dalam kotak obatnya. lalu di cairkan dengan glukosa lalu di masukkan kedalam suntikan. setelah itu Alea mencari Venanya. Alea segera menyuntikkan obat dopamin pada Kakek kaisar. merasakan jarum menusuk kulitnya, Kaisar tinggi membuka matanya.
"Apa yang kau lakukan nak..?" tanya Kakek Kaisar lemah.
"Kakek harus percaya Pada Alea ya.."kata Alea pelan. Kaisar Tinggi tersenyum pada Alea laku kembali memejamkan matanya . Alea lalu mengeluarkan infus dari dalam kotak obatnya. dia memakaikan infus di lengan kiri Kakek kaisar.
"Lea'er...ini apa...?" tanya Pangeran Lingzhi yang sejak tadi memperhatikan perbuatan Alea. sejak Alea keluar dari ruang dimensinya, dia melihat Alea mengeluarkan alat- alat aneh dari kotak yang dia bawa. dari mulai Alat menyerupai sebuah tali yang berbentuk aneh. dan alat itu dia pakai untuk memeriksa Kaisar tua. lalu sebuah jarum yang bentuknya aneh pula. Kini dia juga melihat barang aneh yang dia pasang di lengan kakek Kaisar tua.
"Ini namanya infus pangeran...alat ini untuk menambah cairan kedalam tubuh kakek Kaisar Tua. sedang yang hamba pegang ini namanya jarum suntik, jarum ini juga untuk memasukkan cairan obat kedalam tubuh si pasien yang sakit..." kata Alea menerangkan.
"Kau dapatkan dari mana semua alat ini..." bisik Pangeran Lingzhi.
"Akan hamba jelaskan kapan- kapan, bukan sekarang..." kata Alea pelan sambil menunjuk Kakek Kaisar Tua yang terlihat sudah agak tenang pernafasannya . tak berapa lama infus di tangan Kasar tua sudah habis. terlihat wajah kaisar tua sudah agak memerah tak seperti tadi. putih pucat seperti kertas. dan kini Kaisar tua terlihat tertidur dengan tenang.
Melihat semua itu, Pangeran Lingzhi semakin kagum dan bangga pada Alea calon istrinya .
"Lea'er...kau selalu membuat kejutan padaku, kau selalu memperlihatkan kejeniusanmu...semakin hari kau semakin membuatku semakin jatuh cinta padamu..." ucap Pangeran Lingzhi dalam hati. dia menatap Alea yang masih mengobati kakek Kaisar tua .
"Pangeran, bisakah anda membantu me jaga kaisar sebentar...?" tanya Alea.
"Tentu bisa Lea'er..memangnya kau mau kemana...?" tanya Pangeran Lingzhi lembut.
"Hamba akan membuatkan minuman dari buah kehidupan untuk kakek kaisar, hamba hanya akan pergi sebentar Pangeran..." ucap Alea lembut.
"Baik , pergilah....aku akan menunggui kakek Kaisar di sini..." Kata Pangeran Lingzhi sambil mengusap kepala Alea dengan perasaan sayang yang tidak dapat di sembunyikan, Alea hanya tersenyum melihat perbuatan yang di lakukan pangeran Lingzhi. walaupun dia bisa merasakan perasaan hangat yang mengalir di dadanya. Alea segera pergi ke ruang dimensi. sesampainya di ruang dimensi, Alea segera mengambil buah dari pohon kehidupan dan segera membuatkan jus dari buah itu dan air kehidupan . dia juga mencampurkan pil penyembuh kedalam jus buah. setelah itu dia keluar dengan membawa jus untuk kakek Kaisar tua. dan buah pohon kehidupan yang dia berikan pada pangeran Lingzhi.
"Pangeran ..makanlah buah ini dulu...sejak tadi pagi kita belum makan sama sekali..." ucap Alea sambil memberikan buah pohon kehidupan pada Pangeran Lingzhi.
Melihat apa yang di lakukan Alea. pangeran Lingzhi sangat terharu, dia tidak menyangka kalau Alea begitu perhatian padanya.
"Kau menghawatirkan kesehatan ku...?" tanya Pangeran Lingzhi pada Alea.
"Pangeran adalah calon suami hamba , jika anda sakit, hamba juga akan merasakan cemas...jadi sekarang makan dulu buah ini agar perut yang mulia terisi...?" jawab Alea sambil tersenyum. mendengar perkataan Alea membuat pangeran Lingzhi gembira. Dia segera memeluk tubuh langsing Alea.
"Uff...untung mangkok isi jus tadi sudah aku taruh di atas meja. .." ucap Alea dalam hati yang merasa kaget akan tingkah putra Mahkota.
"Trimakasih sayang...trimakasih atas semua perhatianmu padaku ..." ucap pangeran Lingzhi penuh emosi.
"Sama- sama Pangeran...ya sudah ayo kita lihat keadaan Kakek Kaisar..." kata Alea lembut. Pangeran Lingzhi segera melepas pelukannya setelah mencium lembut kening Alea yang membuat si pemilik kaget . Setelah itu, mereka mulai mendekati ranjang tempat Kasar tua tertidur dengan tenang. hampir dua jam Kakek Kaisar Tua tertidur. hingga akhirnya dia terjaga. terlihat kesehatannya mulai agak pulih.
"Kakek..sudah bangun...?" tanya Alea lembut.
"Aku tertidur nak...?" tanya Kasar tua tak percaya. sebab selama ini dia bukan tertidur, tapi jatuh pingsan.
"benar kek...kakek tertidur hampir tiga jam..." goda Alea.
"Ya Dewa... jadi aku bisa tidur juga...?" ucap Kakek Kaisar tua.
"Lo memangnya kakek tidak bisa tidur...?" tanya Alea.
"Bukan tidur nak...tapi pingsan..." jawab sang kakek.
Alea tersenyum mendengar perkataan Kakek Kaisar.
"Nah kek...sekarang kakek minum ini dulu, apa kakek merasa lapar...?" tanya Alea.
"Benar sekali...aku ingin makan bubur..." jawab Kakek Kaisar lagi
"Baiklah aku akan meminta pelayan menyiapkan bubur untuk kakek, tapi sekarang kakek harus meminum minuman ini dulu..." kata Alea lembut.
"Baiklah..." jawab Kaisar tua sambil berusaha meminum jus pemberian Alea di bantu Pangeran Lingzhi. Setelah itu Alea segera memasukkan kembali peralatan medisnya setelah mengambil beberapa tablet Propranolol dan pil Glyceril trinitrate dari kotak obatnya.
"Kek...kami akan keluar, dan kakek harus banyak tidur, jangan terlalu banyak bergerak dulu..." ucap Alea pada Kaisar Tua dengan nada sayang.
"Trimakasih nak....ternyata nyawa orang tua ini masih lama..." kata Kakek Kaisar tua dengan wajah bahagia. setelah meminum jus buah pohon kehidupan, terlihat kesehatan Kaisar tua semakin baik.
"Kami tinggal dulu ya kek..." kata Alea sopan. dan Kakek Kaisar hanya tersenyum menatap kepergian Alea.
Alea dan Pangeran Lingzhi segera berjalan keluar dari ruangan Kaisar tua.
Ketika pintu terbuka, terlihat Raja Rueyan buru- buru mendatangi Alea. dan semua putra dan putri kaisar serta permaisuri dan para Selir juga bangun dari duduknya.
"Gimana Putri...apakah keadaan kakek bisa di tolong...?" tanya Raja Rueyan dengan wajah cemas.
"Silahkan baginda melihatnya sendiri.." jawab Alea. dia segera mempersilahkan Raja Rueyan masuk kedalam ruangan , sedang dia sendiri mendekati sang Ayah.
"Gimana nak...apa Kakek Kaisar Tua bisa di tolong...?" tanya Jendral Murong Han pada sang Putri.
"Semuanya sudah selesai Ayah..." jawab Alea dengan tenang.
"Benarkah...?" tanya sang Ayah gembira. sedang para tabib yang mendengar perkataan Alea merasa tak percaya.
"Apa benar Kaisar tua sudah tertolong putri...?" tanya tabib tua tak percaya.
"Benar paman...tapi tolong di perhatikan pola makan Kakek Kaisar. makan yang di kosumsi kaisar tua jangan boleh terlalu bayak mengandung garam...." kata Alea dengan nada lembut. semua tabib merasa tak percaya. mereka menatap Alea seperti melihat mahluk asing.
Udahan dulu ceritanya ya....jangan lupa like, vote dan komennya author tunggu.
Trimakasih atas semua kritik, saran, dukungan yang kalian kirim untukku, juga Vote, like, dan hadiah dari kalian. 🙏🙏
__ADS_1
Bersambung.