PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
PUTRA PERDANA MENTRI .


__ADS_3

Sekitar dua jam waktu yang mereka tempuh , akhirnya mereka tiba juga di ibukota kerajaan Shi. Quiro langsung membawa mereka kerumah kediaman perdana mentri Heng. Ketika sampai di sana mereka melihat rumah perdana mentri Heng dalam keadaan sepi .


"Tuan muda kedua datang..." seorang pelayan laki- laki dirumah perdana mentri datang menyambut , saat mereka baru turun dari atas kuda.


"Ayah ada di rumah ...?" tanya Quiro pada pelayan itu .


"Ada tuan , beliau ada di dalam...." jawab pelayan itu.


"Ayo masuk, ....dan kau bawa semua kuda kebelakang..." perintah Quiro pada pelayan tadi.


"Baik tuan...." pelayan tadi segera manggil temannya untuk membantu membawa kuda- kuda kebelakang rumah.


Sedang Quiro membawa teman- temannya masuk kedalam rumah.


Ketika mereka masuk kedalam rumah mereka di sambut oleh seorang pria paruh baya dengan pakaian mahal namun terlihat sederhana .


"Kau sudah datang nak...?" ternyata dialah sang perdana mentri Ayah Quiro .


"Iya ayah..." jawab Quiro datar.


"Ada apa kau pulang sebelum waktu libur nak..? kau juga mengajak teman- temanmu datang kemari...apa ada sesuatu yang sangat penting...?" tanya sang Ayah .


"Temanku ingin melihat keadaan kakak ayah..." jawab Quiro dengan wajah cerah .


"Untuk apa Quiro...kau tahu kakakmu sakit kan...dan dia tidak suka di kunjungi orang..." jawab sang Ayah.


"Dia seorang tabib Ayah...." kata Quiro lagi.


"Tabib...? Mana dia sekarang nak...?" seru sang ayah gembira.


"Ini ayah..." jawab Quiro sambil menunjuk pada Alea.


"Dia...?jangan main- main Quiro..pria ini yang kau sebut tabib...?" kata sang ayah meremehkan. Alea sadar itu, wajahnya yang terlihat sangat muda memang membuat orang tak percaya.


" Tapi memang dia seorang tabib ayah..." jawab Quiro denga kesal.


Melihat sang adik di hina, Lian Han berucap.


"Anda belum mencoba , kenapa anda menghina adik hamba ....." ucapnya dengan nada jengkel.


"Tidak usa mencobapun saya tahu kalau adikmu tidak akan mampu mengobati anakku, kau tahu sudah banyak tabib terkenal yang sudah saya datangkan, tapi semuanya gagal, apalagi adik anda yang masih muda seperti itu.." kata pria paruh baya itu dengan nada marah.


"Baiklah senior...karena ayah anda tidak menginginkan saya melihat kakak senior, maka kami akan pulang saja. Maaf kami mengganggu perdana mentri...ayo Kak Mimi , Lian'ge kita pulang...."ucap Alea tenang.


Namun sebelum langkah Alea keluar sebuah suara mengejutkan mereka semua.


"Hanpey kau di sini...?" terdengar suara bariton menyapa Alea. Mendengar suara itu semua orang menatap kearah pintu ruangan. Terlihat seorang pria tampan dengan pakaian mewah bersulamkan burung phonix didadanya masuk kedalam ruangan itu bersama dua pengawalnya .


"Putra Mahkota....?" ucap mereka bersamaan.


"Salam putra mahkota, semoga berumur panjang dan selalu sehat..." sapa mereka sambil mberi hormat.


"Aku terima salam kalian..." jawab putra mahkota Lingzhi sambil berjalan kearah Alea.


"Kenapa kau ada di sini Hanpey...?" tanya Pangeran Lingzhi .


"Sebenarnya hamba yang mengundang dia kemari untuk melihat keadaan kakak hamba, tapi ayah hamba meragukan kemampuan dia pangeran..." jawab Quiro dengan nada kesal menjawab pertanyaan pangeran Lingzhi pada Alea.


"Ya sudah kalau dia tidak percaya... Ayo kita pulang... Tapi perlu kau ketahui Mentri Heng...kesembuhan ayah Raja dialah yang menyembuhkannya...." kata pangeran Lingzhi sambil menarik Alea keluar. Mendengar perkataan pangeran Lingzhi Mentri Heng kaget. Dia buru- biru berucap.


"Maafkan hamba pangeran...tolong jangan anda bawa tabib itu keluar.. Maafkan hamba yang telah meremehkan dia..." ucap perdana Mentri Heng dengan penuh penyesalan. Pangeran Lingzhi berhenti. Dia berbalik menatap perdana mentri Heng dengan penuh kekesalan.


"Bukankah kau meragukan kemampuan dia...untuk apa lagi kau menahan kepergian kami..." jawab pangeran Lingzhi dengan nada kesal tak di sembunyikan .


"Maafkan hamba...maafkan hamba pangeran, hamba terlalu sombong hingga berani meremehkan tabib muda.. tapi tolong biarkan tabib muda melihat anak hamba pangeran..." kata perdana mentri Heng penuh permohonan dia terlihat berlutut memohon.


"Berdiri jangan berlutut seperti itu.. bukan aku yang bisa memutuskan , dan bukan padaku pula kau meminta maaf,.. Tapi pada dialah seharusnya kau meminta maaf , karena kau bersalah padanya, dan dia juga yang memutuskan mau atau tidak melihat kondisi putramu..." jawab pangeran Lingzhi . tanpa Alea sadari kalau tangan besar milik sang pangeran


masih menggenggam erat tangannya.


'Hamba mengerti pangeran..." jawab perdana Mentri smbil menunduk.


"Anak muda...maafkan saya yang telah meremehkan dirimu. aku tidak sadar akan tingginya gunung yang berada di depanku, aku mohon tolong maafkan orang tua malang ini, tolong kau lihat keadaan anakku yang terbujur lemah di atas pembaringannya..." ucap perdana mentri Heng tanpa merasa malu pada Alea. Alea yang memang berhati baik tidak tahan melihat perdana mentri yang memohon padanya.


"Paman jangan seperti itu...saya tahu dan saya sadar kalau paman meragukan kemampuan saya karena saya terlihat masih sangat muda, Baiklah aku akan melihat keadaan putra anda sekarang..." jawab Alea lembut.


"Trimakasih, trimakasih anak muda..." seru perdana mentri bahagia.


Melihat sikap Alea , pangeran Lingzhi tersenyum bangga.

__ADS_1


"Kau ini....sudah di hina tapi kau masih menghormatinya , kau terlalu baik Hanpey..." ucap pangeran Lingzhi sambil mengacak rambut Alea. Semua orang yang mengetahui sikap pangeran Lingzhi pada Alea tertegun, sebab selama ini mereka tidak pernah melihat sikap pangeran Lingzhi yang lembut penuh perhatian pada orang lain. Kecuali Mimi dan Lian Han. serta kedua pengawalnya.


"Paman..ayo antar aku keruangan putra paman..." ucapan Alea menyadarkan perdana mentri dari keterkejutannya melihat sikap dari putra mahkota.


"Ayo paman tunjukkan tempatnya...." ucap perdana mentri dengan wajah penuh harapan. Alea mengikuti perdana mentri masuk kedalam rumah, sedang Mimi da Lian serta kedua teman Quiro serta pengawal sang Putra Mahkota duduk di ruang tamu .Alea di bawa oleh perdana mentri melewati ruang demi ruang mewah di kediamannya. Hingga akhirnya mereka berada di sebuah ruang yang di depannya terlihat taman yang cukup indah. Saat mereka sampai di depan sebuah kamar, terlihat seorang ibu- ibu yang masih terlihat wajahnya yang cantik dan anggun keluar dari ruangan itu. Saat dia melihat perdana mentri datang bersama putra mahkota dia terkejut diapun segera menyapa .


"Salam sejahtera putra Mahkota ,semoga sehat dan hidup bahagia.." ucapnya dengan menundukkan wajah sekilas memberi hormat .


"Hmm..." gumam sang pangeran.


"Suami...kau ingin menjenguk putramu..?" sapa dia pada perdana mentri dengan wajah sedih .


'Iya...apakah tabib masih berada di dalam..?" tanya Perdana mentri Heng lembut.


"Masih...dia masih memeriksa putramu tapi belum juga ada perubahan ..." jawab wanita cantik itu dengan wajah kecewa .


"Ya suda sekarang pergilah membuat minuman dan makanan kecil buat pangeran dan teman- teman putramu.." ucap perdana mentri memerintah.


"Baik suami..." jawabnya dengan lembut. Setelah itu dia pergi . Setelah kepergian nyonya Heng, perdana mentri Heng mengajak Alea dan pangeran Lingzhi masuk kedalam ruang kamar putranya , Quiro yang sejak tadi mengikuti mereka, ikut juga masuk kedalam.


Sesampainya di dalam ruangan Alea bisa melihat seorang pria mudah dan tampan sedang berbaring dengan lemah di atas tempat tidur mewah. Pria itu terlihat hanya bisa menggerakkan kepala dan tangannya. fan di sebelah pria itu duduk seorang tua sepertinya sedang memberi pengobatan pada putra perdanaentri.


"Itu putraku nak...dia sudah menderita seperti itu hampir dua tahun. Sudah banyak tabib yang aku datangkan, tapi mereka tidak mampu mengobatinya..." ucap perdana mentri Heng dengan wajah sedih.


"Hamba juga sudah angkat tangan tuan.. hamba tak mampuh mengobati tuan muda pertama..." kata tabib itu sambil mendekat pada perdana mentri.


"Trimakasih tabib anda bisa pergi ...." ucap tuan Heng. pria tua itupun pergi keluar ruangan.


"Boleh hamba memeriksanya paman...?" tanya Alea pelan.


"Silahkan nak..." jawab sang perdana Mentri.


Alea segera mendekati putra tertua perdana mentri itu, perlahan dia mulai melihat nadi di tangan kanan pria itu. Saat melihat nadinya Alea terlihat terkejut, dan dia menatap wajah pria yang ada di atas ranjang itu. Dia merasakan kalau aliran darah di tubuh pria ini terbalik, dan siapapun kalau bukan seorang ahli tidak bisa mendeteksinya. Serta meridian di dalan tibuhnya tersumbat, seperti di sengaja dan pukulan di pinggangnya itulah yang membuat dia lumpuh total. Terlihat wajah pasrah dan putus asa di sana. Kenapa si penyerang tidak membunuh pria ini seketika, atau dia memang sengaja untuk membuat pria ini tersiksa, lalu siapakah orang yang telah melukai putra perdana mentri ini. Alea terdiam, Namun Alea tiba- tiba bisa menyimpulkan semua itu . tapi dia benar- benar salut , Pria ini benar- benar kuat menahan sakit yang dia derita ,


"Gimana nak...apakah kau bisa menyembuhkan putraku...?" tanya sang perdana mentri .


"Hamba akan menyembuhkannya paman..." jawab Alea dengan menatap wajah putra perdana mentri yang terlihat memiliki harapan yang besar ketika melihat wajah meyakinkan di mata Alea.


"Tapi ini akan membuat anda kesakitan tuan...apakah tuan sanggup...?" tanya Alea pada putra perdana mentri.


"Demi kesembuhanku aku akan menahan segala sakit yang akan aku rasakan..." tekat pria itu.


Alea segera mengambilkan pil penahan sakit dari ruang dimensinya.


"Minumlah pil ini tuan...untuk menahan sebagian sakit di tubuhmu nanti. Pil warna putih itu dia berikan pada putra perdana mentri . terlihat dia mulai meminum pil itu , Quiro membantu dia memberi air minum.


"Sekarang tolong tinggalkan kami berdua di sini..." kata Alea pada semua yang ada di ruangan itu. perlahan mereka berjalan keluar ruangan.


"Senior Quiro tolong buka baju atasan kakak Anda terlebih dahulu..." ucap Alea ketika Quiro beranjak keluar. Dengan perlahan Quiro membuka baju sang kakak. Setelah itu dia keluar dari ruangan itu juga.


Namun terlihat sang putra mahkota tidak beranjak dari ruangan itu.


"Pangeran...." ucap Alea sambil menatap Pangeran Lingzhi.


"Tidak aku akan tetap di sini..." jawab sang pangeran. Waah...ternyata ada yang lagi minum cuka nich..,😂


"Pangeran....hamba sedang mengobati dia , lebih baik anda berada di luar ruangan saja..." kata Alea dengan sabar .


"Seorang wanita tidak boleh satu ruangan dengan seorang pria..." jawab Pangeran Lingzhi acuh.


"Tapi dia pasien pangeran.... Dan anda lihat sendiri dia tisak dapat berbuat apapun, Hamba mohon anda keluar dulu ...?" jawab Alea yang kini mulai kesal.


"Baiklah aku akan keluar, tapi kau harus janji setelah dari sini kau akan ikut aku ke istana..." ucap Pangeran Lingzhi mencari kesempatan.


"Hadeh nich orang....dalam keadaan seperti ini masih juga bernego...seru Alea kesal dalam hati .


"Baiklah hamba akan ikut pangeran ke istana setelah selesai nanti..." jawab Alea mengalah.


"Bagus....baiklah aku akan keluar, tapi ingat dengan perkataanmu tadi ..." ucap pangeran Lingzhi sambil berjalan keluar ruangan. terlihat senyuman tipis di bibir sexsinya.


Sedang Alea setelah melihat sang pangeran keluar, dia mendekati putra perdana mentri yang sedang sakit itu.


"Maaf...apa boleh aku memnggilmu kakak..?" tanya Alea pelan.


"Silahkan..." jawab Pria itu sambil tersenyum.


"siapa nama kakak...?" tanya Alea sambil mulai mengeluarkan jarum akupunturnya.


"Namaku Heng Sauki .." jawabnya pelan .

__ADS_1


"Kak...lukamu ini bukan karena pertempuran kan...? dan aku tahu kalau dia seorang gadis..." kata Alea langsung .


"Jangan sok tahu , dari mana kau tahu kalau dia seorang gadis..." seru Sauki kesal.


"Dari caramu melindungi dan menutupi kesalahan dia dari semua orang, dan aku juga tahu kalau dia gadis yang kau cintai..." kata Alea dengan menatap wajah Sauki dengan tatapan bersahabat.


pria itu menatap Alea dengan wajah rumit. tak lama dia menghela nafas panjang.


"apakah tebakanku benar kak...? lalu kenapa dia tega menyiksa kakak hingga seperti ini...?" ucap Alea. perlahan.


"Benar..dia memang gadis yang aku cintai, tapi dia tidak mencintaiku, dia telah menipuku dengan cintanya yang palsu, semua dia lakukan hanya karena ingin membalas dendam padaku..." ucap Sauki datar.


"Membalas dendam....? maaf..apakah kakak telah menyakitinya begitu parah, hingga dia membalas dendam dengan perbuatan keji seperti ini...?" tanya Alea kaget, sesakit apakah gadis itu hingga dia membalas dendam pada Sauki dengan menyakitinya sampai seperti ini.


"Aku tidak memiliki kesalahan padanya, hanya satu kesalahanku menolak cinta kakaknya hingga dia memilih untuk mengakhiri hidupnya, itupun aku tidak tahu..." jawab Sauki dengan wajah datar.


"Maksud kakak...?" tanya Alea tak mengerti.


"ceritanya panjang, tapi akan aku ceritakan intinya saja, dia memiliki kakak yang satu perguruan denganku, kami bersahabat, tapi bukan hanya kakak dia saja yang jadi sahabatku, kami terdiri dari empat orang , dan salah satunya adalah kakaknya. mungkin karena kebiasaan bersama, akhirnya kakaknya jatuh cinta padaku, saat dia mengutarakan cinta padaku, aku menolaknya karena aku masih terfokus pada pelajaran dan keinginan untuk kuat. setelah kejadian itu , aku tidak pernah bertemu dengannya, yang aku tahu dia keluar dari perguruan, mendengar itu aku biasa saja, namun tanpa setahuku ternyata dia mengakhiri hidupnya karena penolakanku itu. melihat semua itu si adek memiliki dendam padaku, dia bertekat akan membalas dendam padaku , karena itu dia mulai mendekatiku, dan saat aku mulai jatuh cinta dia mengajakku pergi kerumahnya, aku fikir dia ingin mempertemukan diriku dengan keluarganya, namun saat di dalam perjalanan tiba- tiba kami di serang oleh beberapa orang yang ternyata anak buah dari kekasih gadis itu, dan di sanalah aku mengetahui niat dia sebenarnya . dan akhirnya seperti inilah diriku, dia tak ingin membunuhku, tapi dia juga tak ingin membiarkan diriku memiliki kehidupan...." jawab Sauki mengakhiri ceritanya.


"Gila...gadis itu benar- benar gila... apakah kakak tidak menceritakan yang sebenarnya pada dia masalah kakaknya....?" tanya Alea kesal.


"Mana aku tahu kalau dia adik dari sahabatku itu..." jawab Sauki lagi.


"Dasar gadis geblek...membalas dendam tanpa menyelidiki masalahnya lebih dahulu, ya sudah kak ayo kita mulai pengobatannya....kakak sudah siap kan..?"tanya Alea.


"Baik kakak sudah siap..." jawab Sauki.


"Ini kak kain ..kalau nanti kakak tidak betah, kakak bisa menggigit kain ini keras- keras...." kata Alea sambil memberikan kain putih yang sudah dilipat menjadi kecil. Sauki segera mengambil kain itu. Sedang Alea segera mengeluarkan jarum akupunturnya.


"Apakah kau menggunakan pengobatan dengan tehnik akupuntur...?" tanya Sauki kaget.


"Iya kak...kalau tidak dengan cara ini mana mungkin aku bisa menyembuhkan kakak..." jawab Alea tenang.


"Nah sekarang kakak bersiaplah...kalau kakak takut dengan jarum akupuntur kakak bisa memejamkan mata kakak..." kata Alea yang mulai konsentrasi. tak lama terlihat dia dengan cepat mencapkan jarum - jarum perak itu ketubuh Sauki dari kepala hingga di ujung kaki . Kini Sauki terlihat seperti landak raksasa yang sedang tertidur. karena merasa ngeri melihat jarum- jarum itu, Sauki segera memejamkan matanya. setelah lebih dulu menaruh kain putih itu di sela giginya .


Sedang Alea segera mulai mengerahkan Qi nya ke arah tubuh Sauki . terlihat jarum- jarum akupuntur itu bergetar sangat hebat . Dia menyalurkan tenaga Qi nya kearah kedua telapak tangannya.


Sedang Sauki mula- mula dia merasakan aliran panas masuk kedalam tubuhnya secara perlahan, namun tak lama kemudian aliran panas itu membuat tubuhnya seperti tercabik- cabik dan aliran darah di dalam tubuhnya seperti terbolak- balik menyakitkan sekali. Benar kata Hanpey, kalau dia akan merasakan sakit yang teramat sangat, jika bukan karena keinginan untuk sembuh dia mungkin akan menyerah. untung tadi kain yang di berikan Alea sudah ada di antara giginya. hingga dia bisa menggigit kain itu secara kuat. terlihat wajah kedua manusia itu penuh dengan keringat membasahi tubuh mereka. setelah beberapa lama kemudian, terlihat Alea bernafas lega. dan dia segera membuka matanya. begitu juga dengan Sauki , karena aliran panas yang mengalir di tubuhnya perlahan menghangat dan kemudian hilang sama sekali. begitu juga dengan sakit yang melanda di seluruh tubuhnya juga berangsur hilang. Kini terlihat wajah Alea berupa pucat. Dia segera mencabuti jarum akupuntur di tubuh Sauki.


setelah menyimpan kembali jarum itu kedalam cincin ruangnya dia menatap Sauki yang juga sedang menatap padanya.


"Nach sekarang coba kakak gerakkan kaki kakak perlahan- lahan..." ucap Alea.


Sauki mengikuti perintah Alea, dia menggerakkan jari kakinya. dan dia merasakan kalau dia bisa menggerakkan kakinya. dengan tak percaya dia mulai menekuk lututnya, dan itupun bisa dia lakukan. tanpa sadar dia berteriak karena gembira. mendengar teriakan Sauki, Ayah dan adiknya yang berada di luar ruangan merasa ketakutan. namun mereka tidak berani masuk . tak lama terdengar kembali teriakan , namun itu suara memanggil namanya.


"Ayaaah...." teriakan itu kembali memanggilnya. dengan cepat perdana mentri berlari masuk kedalam ruang kamar sang putra.


"Ada apa nak...? serunya sambil berlari kearah sang putra.


"Lihat Ayah...lihat aku sudah bisa menggerakkan kakiku..." serunya gembira sambil membuat gerakan pada kakinya.


"Cobalah kakak bangun...." kata Alea pada Sauki. Mendengar perkataan Alea Sauki berusaha bangun. perdana Mentri yang melihat sang anak akan bangun dia ingin membantunya.


"Jangan paman ...biarkan dia berusaha sendiri..dia bisa bangun sendiri paman." cegah Alea. Dan benar kata Alea Sauki akhirnya bisa bangun dan duduk dengan benar di atas pembaringan.


"Ya dewa...ternyata kau benar- benar sembuh nak..." seru Perdana Mentri Heng dengan gembira .


"Benar Ayah...aku benar - benar bisa bergerak kembali ayah...!" seru Sauki dengan gembira.


"Kak...kau telah sembuh..." seru Quiro sambil menangis.


"Benar dik...kakak sekarang bisa bergerak...." seru Sauki pada sang adik.


"Cobalah untuk berdiri dan berjalan..." ucap Alea menyela percakapan mereka.


"Apakah aku bisa...?" tanya Sauki ragu.


"kau menghinaku...?" jawab Alea .


"Maaf bukan begitu maksudku...baiklah akan aku coba..." jawab Sauki.


Dia dengan perlahan turun dari pembaringan , sedang sang Ayah dan Quiro terlihat tegang melihat Sauki.


Perlahan Sauki mulai menurunkan kakinya ke lantai. saat kakinya telah menginjak lantai terlihat keraguan di wajahnya.


"Kenapa berhenti kak..teruskan saja...Paman dan senior Quiro kalian bisa membantu kak Sauki untuk berdiri..." kata Alea pelan , dia yang kini sudah berdiri agak jauh dari Sauki hanya memandang pria itu dengan tenang.


Maaf...aku lanjutin besok ya... jangan lupa like, vote dan komennya selalu author ingatin maaf🙏🙏

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2