PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
KEMBALI KE KOTA .


__ADS_3

Darah hitam itu mengalir deras keluar dari luka pekerja itu. Dan terlihat wajah Alea semakin pucat. Melihat semua itu pangeran Lingzhi merasakan sakit di dalam hatinya. Ingin rasanya dia menggagalkan pengobatan itu, namun dia tahu pasti Alea sangatlah marah, dan dia tak ingin gadis keras kepala itu marah padanya. Tak berapa lama akhirnya darah yang keluar dari tubuh pria itu kini mulai merah terang, dan mungkin Alea merasakan kalau racun di dalam tubuh pasiennya telah habis. Terlihat matanya perlahan terbuka. Namun betapa terkejutnya semua orang , saat tiba- tiba tubuh Alea oleng.


Pangeran Lingzhi berlari dan memeluk tubuh Alea saat tubuh putih itu tiba- tiba terhuyung kedepan.


"Lea'er...."seru Pangeran Lingzhi sambil memeluk Alea dengan wajah penuh kekawatiran .


Namun Alea telah jatuh pingsan setelah menyelesaikan pengobatannya.


Dengan segera pangeran Lingzhi menggendong tubuh semampai itu keluar dari ruang pengobatan menuju kamarnya.( La.. kok malah di bawa pergi kekamarnya, bukankah ini rumah pengobatan. Kenapa harus di bawa kesana ya...? ) Ooo... ternyata pangeran Lingzhi tak ingin Alea tinggal bersama para penduduk yang dalam kondisi sakit, Alea sekarang dalam kondisi sangat rawan terserang penyakit karena kelelahan dan fisiknya lemah. Sedang kalau di bawa ke tenda tabib, di sana pasti dalam keadaan ramai. Setelah keempat mahluk kontraknya tahu kalau master mereka Lea'er jatuh dalam keadaan lemah , mereka berempat merasa sangat sedih. Mereka hanya bisa diam, karena pangeran Lingzhi sudah membawa Alea kedalam kamarnya. Jika mereka membawa Lea'er ke ruang dimensi, mereka takut ruang dimensi akan ditahui keberadaannya. Akhirnya mereka hanya pasrah melihat keadaan Alea. Mungkin yang mereka bisa hanya akan menemui Alea nanti.


"Jihao..." teriak pangeran Lingzhi setelah menaruh Alea di dalam kamarnya.


"Hamba yang Mulia..." jawab Jihao yang sudah bergegas menghadap pangeran Lingzhi.


"Panggil salah satu tabib datang kemari...?" perintah Pangeran Lingzhi dengan wajah cemas.


"Baik yang Mulia..." kata Jihao sambil memberi hormat dan keluar dari kamar sang pangeran. Setela Jihao pergi pangeran Lingzhi segera kembali ke dekat Alea . dia menatap Alea denga wajah terharu sekaligus cemas.


"Sayang...maafkan Aku...aku tidak bisa membantumu ...." kata sang Pangeran sambil mengusap kepala Alea dengan lembut.


"Maaf pangeran , nona Mimi dan tuan Lian Han ingin menjenguk tuan putri..." tiba - tiba terdengar ucapan dari luar kamar sang pangeran.


Mendengar kalau yang datang Mimi dan Lauyan, Pangeran Lingzhi tak dapat menolak, sebab keduanya adalah orang terdekat Alea.


"Suru mereka masuk..." kata Oangeran Lingzhi datar.


Tak lama terlihat Mimi dan Lian Han masuk kedalam kamar pangeran Lingzhi dengan wajah cemas. Lian Han baru tahu keadaan Alea saat dia sedang bekerja membantu membuat perumahan untuk penduduk. sedang Mumi saat itu dia sedang membantu para pelayan dan penduduk membuat masakan, tiba - tiba seseorang berkata kalau tabib Hanpey jatuh pingsan. namun saat mereka berdua mendatangi rumah pengobatan, mereka mendengar kalau Alea di bawa pangeran Lingzhi di ruangannya.


Ketika mereka masuk kedalam , mereka melihat Alea sedang berada di atas pembaringan pangeran Lingxhi dalam keadaan tak sadarkan diri. dan Pangeran Lingzhi duduk di sebelah pembaringan Alea dengan wajah sedih dan cemas.


"Pangeran boleh kami melihat keadaan adik kami...?" tanya Lian Han dengan wajah cemas .


"Hmm...." jawab Pangeran Lingzhi sambil mengangguk sedikit. dengan perlahan Mimi dan Lian Han mendekati Alea. terlihat kecemasan di wajah mereka berdua.Tak berapa lama seorang tabib telah datang, dan kebetulan sekali tabib itu tabib dari perguruan calang.


"Hamba yang mulia..." ucap tabib itu dengan sopan.


"Cepat kau periksa dia...." ucap pangeran Lingzhi dengan wajah khawatir.


"Hamba yang mulia..." jawab sang tabib. Kemudian tabib itu menghampiri Alea yang tidur di pembaringan sang pangeran.


Setelah selesai memeriksa nadi Alea , terlihat wajah tabib itu terlihat agak sedih.


"Gimana keadaan Lea'er tabib...?" tanya pangeran Lingzhi dengan wajah terlihat cemas sekali.


"Tabib Hanpey hanya kelelahan dan terlalu menguras energinya pangeran... Tapi hamba mohon jangan sampai ini terjadi lagi di masa depan, takutnya tubuh dan dentiannya tidak mampu menerima ini, kalau ini terjadi lagi, hamba takutkan dia akan mengalami koma panjang... dan sekarang hamba mohon biarkan dia beristirahat dengan tenang, agar kesehatannya cepat pulih.." jawab tabib itu dengan wajah sedih. Terlihat kesedihan di wajah pangeran Lingzhi semakin dalam . Wajah tampan itu memerah marah dan terlihat terluka. Semua kejadian yang menimpa Alea karena menolong penduduknya , dan ini di karenakan penjahat yang ingin menghambat pekerjaan mereka.


"Baik terimakasih tabib...maaf aku mengganggu pekerjaanmu..." kata pangeran Lingzhi .


"Sama- sama pangeran...tidak masalah, tabib Hanpey seperti ini juga karena dia menolong para penduduk, kalau tidak ada dia, kemungkinan besar mereka tidak akan tertolong lagi.." jawab tabib itu sopan.


"Kalau tidak ada lagi, hamba undur diri yang Mulia..." ucap sang tabib mohon diri.


'Pergilah..." jawab sang pangeran .


"Kami berdua juga mohon diri Pangeran, Kami tak ingin mengganggu putri Lea istirahat..." kata Lian Han .


"Pergilah...nanti kalau putri Lea sudah siuman aku akan memberitahukan pada kalian..." ucap Pangeran Lingzhi.


"Baik yang mulia..." jawab Mimi dan Lian Han hampir bersamaan. mereka segera keluar dari ruang tidur pangeran Lingzhi .


Setelah kepergian tabib , Mimi dan Lian Han , pangeran Lingzhi menatap sang kekasih dengan wajah sedih.


"Sayang...maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan benar, aku berjanji tak akan kubiarkan lagi kau melakukan ini, aku akan menjaga hati dan tubuhmu selama hidupku...." ucap sang pangeran sambil membelai rambut Alea dengan sayang. Tak berapa lama tiba- tiba pangeran Lingsi melihat empat pria tampan berada di dalam kamarnya. Karena kaget kewaspadaan pangeran Lingzhi keluar, namun setelah melihat siapa mereka, diapun segera mengendurkan hawa kewaspadaan nya.


"Kalian...." ucap Pangeran Lingzhi datar.


"Kami ingin melihat keadaan master kami..." ucap Eagle lembut.


"Baiklah jaga dia sebentar, akan ku tinggalkan dia dalam pengawasan kalian, jaga dia jangan sampai terjadi apapun pada master kalian..." ucap pangeran Lingzhi sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Baik jangan khawatirkan itu..." jawab Eagle lagi.


Perlahan pangeran Lingzhi keluar dari kamarnya . setelah melihat pangeran Lingzhi keluar, Eagle dan ketiga temannya mendekati Alea.


Mereka menatap dan memeriksa Alea dengan seksama.


"Kita harus menyuntikkan energi Qi kita padanya..." kata Eagle lagi.


"Baik ayo kita mulai..." ucap Lauyan dengan wajah sedih. Dia sedih melihat gadis yang mereka sayangi terjatuh karena menolong orang.


Merekapun secara bergantian menyuntikkan energi Qi mereka ketubuh Alea. Di saat tangan terakhir dari Xiao Bai mengakhiri pengaliran energi Qi nya. Terdengar keluhan pelan dari bibir Alea. Dan perlahan mata Alea terbuka.


Setelah mengerjabkan mata nya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Alea bisa melihat empat mahluk kontraknya sedang mengelilingi nya.


"Kalian disini...? apa aku ada di dalam ruang dimensi...?" tanya Alea beruntun.


"Kau ada di kamar Pangeran Lingzhi lea'er...." ucap Xiao Bai yang ada di sisinya.


"Di kamar pangeran Lingzhi...?" tanya Alea kaget.


'Hmm..." angguk Xiao Bai .

__ADS_1


Alea tak percaya diapun menatap para gegenya yang ada di sekitarnya. Dan mereka semua menganggukkan kepalanya.


"Lo kok bisa...?" Alea segera mengingat kejadian yang menimpanya tadi. Dia ingat saat terakhir menolong penduduk yang terluka itu, tiba- tiba dia merasakan kegelapan saat dia menarik kembali kekuatannya yang semakin melemah.


"Ya ampuun....apa aku pingsan karena kelelahan...?" tanya Alea pada ketempat mahluk kontraknya.


"Bukan hanya kelelahan Lea'er...kau malah kehabisan energi Qi dalam tubuhmu, dan itu hampir membuatmu koma panjang...." jawab Eagle.


"Separah itu....?" tanya Alea tak percaya.


"Benar Lea'er...lain kali jangan kau lakukan lagi...kau akan membuat kerusakan di dalam dentianmu, mulai sekarang kau harus memperkuat dentianmu lagi..." kata Eagle melanjutkan.


"Sampai sebesar itu dampak yang terjadi...?" tanya Alea.


"Iya..." jawab Eagle.


"Ya sudah kau sekarang ikut kami ke ruang dimensi untuk berkultivasi sebentar. Mumpung pangeranmu pergi, dia tadi menitipkanmu pada kami..." kata Eagle lagi.


"Baik ayo...." jawab Alea.


Merekapun segera menghilang dari ruang itu masuk kedalam ruang dimensi. Sesampainya di ruang dimensi Alea segera menuju air terjun kehidupan. Dan dia mulai duduk lotus untuk segera berkultivasi. Dia segera menyerap energi Qi secepatnya.


Sedang di waktu yang sama pangeran Lingzhi dan pengawal bayangannya serta Guansi segera berjalan menuju ruang perawatan untuk melihat keadaan ke lima korban dari penyerangan kedua orang itu . dia tidak menaruh pengawal bayangan di kamar Alea karena di sana sudah ada keempat mahluk kontrak Alea. ketika Sampai di ruang perawatan dia melihat pekerja yang terluka ringan sudah bisa bangun, sedang kedua pekerja yang terluka parah sudah terlihat stabil keadaannya. Begitupun dengan pengawal nya. Kini mereka tinggal menunggu ketiga pasien itu sadar diri, Pangeran Lingzhi sudah tidak melihat keberadaan si Quiran lagi. Mungkin Jihao sudah menyuruh orang untuk membawa kembali gadis itu pulang ke rumahnya. Saat Pangeran keluar dari ruang pengobatan, dia bertemu dengan Jihao yang baru datang.


"Salam yang Mulia...." sapa Jihao sambil memberi hormat.


"Sudah selesai tugasmu...?" tanya pangeran Lingzhi pada Jihao .


"Sudah yang mulia, hamba menyuruh beberapa orang anak buah hamba untuk membawa nona Quiran sampai di rumahnya dan memberikan ancaman pada keluarganya..untuk menjauhkan dia dari anda...." jawab Jihao.


"Bagus... sekarang kita pergi melacak si pengacau tadi...." kata pangeran Lingzhi dengan wajah dingin.


Mereka segera keluar dari perkampungan itu.


Sedang Alea sendiri telah menyelesaikan kultivasinya di dalam ruang dimensinya sebelum pangeran Lingzhi kembali kedalam kamarnya. Sebelum dia keluar masih sempat para mahluk kontraknya mengingatkan kembali agar tidak banyak mengeluarkan energinya dulu. Karena masih meragukan Alea. White memaksa kembali bersama Alea. Ketika kembali ke kamar pangeran Lingzhi, untunglah sang pangeran belum kembali.


Alea segera tidur di pembaringan sebelum sang pangeran datang , tak lama kemudian pangeran Lingzhi datang.


"Dari mana pangeran....?" tanya Alea.


Mendengar suara Alea pangeran Lingzhi kaget.


"Sayang...kau sudah sadar...?" tanya Dia sambil berjalan cepat kearah Alea yang sedang tiduran .


"Iya...pangeran dari mana..?" tanya Alea kembali.


"Aku menyelidiki masalah penyerangan tadi...?" jawab pangeran Lingzhi sambil duduk di kursi yang ada di sebelah pembaringan.


"Belum... Di sana kami tidak memiliki petunjuk. Sedang para pekerja yang menjadi saksi belum sepenuhnya sehat... yang dua malah belum siuman.." jawab pangeran Lingzhi lagi.


"Gimana dengan kesehatan pengawal pangeran...?" tanya Alea lagi .


"Dia baik- baik saja..." jawabnya kembali.


"besok pagi mereka baru akan siuman pangeran, setelah mereka sadar pangeran bisa menanyakan masalah ini pada mereka..." kata Alea dengan tenang.


"Sayang, jangan kau ulangi lagi menolong orang sampai membahayakan nyawamu, aku tidak ingin terjadi apapun pada dirimu ...." ucap pangeran Lingzhi sambil memegang tangan Alea lembut.


"Tapi mereka butuh pertolongan pangeran..." jawab Alea.


"Iya aku tahu....tapi tidak seperti itu lagi,.." ucap pangeran Lingzhi menegaskan.


"Tap...."


"Sstt...sudah jangan mengucapkan apapun lagi, sekarang tidurlah.. kau harus banyak istirahat..." kata pangeran Lingzhi memotong ucapan Alea yang masih ingin menyangkal nasehatnya. dia membenahi tidur Alea lalu memakaikan selimut di badannya. dia mencium kening Alea dan berucap .


"Tidurlah, saat makan malam nanti, aku akan membangunkan dirimu.." ucap sang pangeran sambil tersenyum membuat Alea merasakan kembali debaran yang aneh di dalam hatinya.


'list...persaan apa sich ini..." seru Alea kesal sendiri. namun tak urung wajahnya yang putih memerah seketika.


Pangeran Lingzhibtersenyum melihat tingkah sang kekasih.


"Tidurlah... aku akan keluar sebentar, ingat kau harus tidur, jangan berfikir macam- macam dan jangan kemana - mana..." ucap sang pangeran sambil membelai sebentar pipi Alea lalu keluar ruanganan. Alea hanya bisa diam dan menatap kepergiannya. tak lama diapun tertidur dengan nyenyaknya , sedangkan White ikut tidur di sebelah Alea . melihat tingkah White yang ikut tertidur di sebelah Alea , ketiga temannya hanya bisa menggelengkan kepalanya. mereka akhirnya memilih untuk berkultivasi.


💖💖💖💖💖


Tak terasa waktu tiga bulan berlalu dengan cepat. Kini rombongan Alea dan pangeran Lingzhi harus kembali ke kota kerajaan, desa Rusan yang terkena bencana kini mulai hidup kembali. berkat penggalian sungai yang cukup dalam, membuat desa itu terbebas dari bencana banjir. hujan yang beberapa kali turun sudah membuktikan bahwa gagasan Alea untuk memperdalam aliran air sungai mencegah terjadinya banjir kembali. dan itu membuat tanaman padi yang mereka tanam tumbuh subur di sawah- sawah mereka. juga beberapa bibit sayuran yang di beri oleh Alea telah membuat para penduduk mendapatkan hasil melimpah. di pinggir- pinggir sungai para penduduk menanam beberapa pohon buah- buahan untuk menahan agar air tidak membuat tanah pinggiran sungai terjadi erosi. Saat rombongan pangeran Lingzhi meninggalkan desa Rusan , banyak penduduk yang menangis ketika Alea berpamitan. mereka merasa sedih tabib yang tak pernah mengeluh dengan segala penyakit yang ada, tak pernah menolak pada siapapun yang ingin mendapatkan perawatan, tabib yang tak segan membantu atau mengajari mereka bercocok tanam kini akan meninggalkan desa mereka, rasanya mereka ingin memiliki gadis itu sendiri.


"Tabib Hanpey....kenapa Anda tidak tinggal disini saja...?" tanya kepala desa desa Rusan dengan sedih .


"Paman...Hanpey harus belajar kembali di perguruan, kalau Hanpey harus di sini pendidikan Hanpey Akan berhenti..." ucap Alea lembut.


"Kakak...kau akan meninggalkan kami..." tiba- tiba seorang anak laki- laki mendatangi Alea sambil menangis.


"Bao Xei....kakak akan pergi belajar di perguruan, jadi kakak tidak bisa tinggal disini lagi...kalau kau ingin bertemu kakak lagi, Belajarlah dengan tekun, kelak kalau kau sudah dewasa kau bisa menyusul kakak ke kota kerajaan..." jawab Alea dengan lembut. dia berjongkok mensejajarkan diri dengan tinggi Bao Xei, Bao Xei adalah anak kecil yang meminta tolong saat sang ibu terkena serangan penyakit sesak saat Alea pertama datang di desa ini. Sejak kejadian waktu itu, karena kedatangan Alea yang setiap hari karena mengontrol kesehatan sang ibu, membuat hubungan mereka dekat selama tiga bulan ini. jadi saat mendengar Alea akan kembali pulang, Bao Xei sejak kemarin sudah merasa sedih.


"Baiklah agar kau giat belajar dan selalu mengingat kakak, kakak akan memberikan ini padamu, kau harus merawatnya dengan benar ..." ucap Alea , dia mengambil sebuah kalung dari tali hitam dan bandul giok kecil yang dia ambil dari dalam cincin ruangnya. lalu dia memakaikan kalung itu di leher Bao Xei. lalu dia mengeluarkan kembali sepasang Ayam dari cincin ruangnya. sebenarnya Ayam itu dia beli kemarin, memang sengaja Alea belikan buat anak ini agar dia bisa menikmati daging ayam peliharaan mereka sendiri.


"ini...kau harus merawatnya dengan baik, jika nanti kau menginginkan daging Ayam, kau bisa memotong anak nya... " kata Alea sambil tertawa lembut.


"Kakak....." Bao Xei memeluk Alea dengan erat.

__ADS_1


"Trimakasih kak...Bao Xei akan merawat pemberian kakak dengan baik..." ucapnya sambil menangis. mereka yang melihat kedekatan Alea dengan pria kecil itu , merasa iri dan cemburu pada Bao Xei, apalagi saat melihat Bao Xei menerima hadiah dari Alea. sang Ibu segera mendekati Alea dan putranya. lalu dia mengajak Bao Xei agar melepaskan Alea.


"Nak...lepaskan tabib Hanpey...dia akan


segera pergi, kau harus mengingat semua ucapan tabib..." ucap sang ibu.


Akhirnya Bao Xei melepas pelukannya di tubuh Alea. Setelah itu mereka segera kembali ke kota kerajaan. karena tidak membawa barang seperti ketika berangkat , perjalanan mereka kini lebih ringan. hanya membutuhkan waktu dua hari satu malam mereka telah sampai di kota kerajaan, itupun sore hari mereka telah masuk kedalam kota kerajaan. ketika mereka tiba di istana kerajaan Shi, mereka telah di sambut di pintu gerbang kerajaan oleh Para Pangeran dan beberapa Mentri kerajaan serta penduduk yang juga bahagia . mereka bahagia karena misi mereka telah berhasil . Mereka lalu di bawa kedalam aula kerajaan untuk bertemu dengan Raja dan Permausuri serta beberapa putri kerajaan. Ketika rombongan Pangeran Lingzhi dan Alea masuk, terlihat senyuman di bibir sang Raja. begitupun dengan permaisuri .


"Salam sejahtera untuk Raja dan Permaisuri, semoga keberkahan dan umur panjang selalu menyertai..." ucap mereka bersamaan sambil duduk dan memberi hormat.


"Salam kalian Aku terima, sekarang kalian semua duduklah..." ucap Raja Rong Kyu sambil tertawa bahagia.


"Trimakasih yang Mulia..." jawab Mereka kembali . mereka segera duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk mereka.


"Putra Mahkota...bagaimana keadaan desa itu sekarang...?" tanya Raja Rong Kyu dengan lembut .


"Lapor yang Mulia... desa Rusan kini sudah lebih baik setelah sungai di gali lebih dalam, saat hujan deras datang, bencana banjir sudah bisa di atasi. dan kini para penduduk sudah mulai mengerjakan sawah dan ladang dengan tenang...juga penduduk yang terkena penyakit semua sudah dalam keadaan sehat, dan kami juga membangun rumah petak sementara untuk para penduduk yang kehilangan rumah tempat tinggal mereka...." lapor pangeran Lingzhi .


"Waah...pemikiranmu sangat tepat Putra mahkota..." ucap Raja Rong Kyu bangga.


"Maaf Ayah...semua itu ide dan keinginan Putri Lea Min Han. Kami hanya mengikuti saran dari dia..." kata Pangeran Lingsi dengan wajah bangga.


"Apaaa putri Lea...?" tanya Raja Rong Kyu kaget.


"Pangeran..." tegur Alea. dia tak ingin orang tahu perbuatannya. dan pangeran Lingzhi sudah berjanji untuk merahasiakannnya .


"Malahan bahan yang di gunakan banyak yang dia beli sendiri Ayah..." ucap Pangeran Lingzhi sambil tersenyum bangga dan menatap Alea dengan wajah menggoda.


"Pangeran...." geram Alea pelan. terlihat wajahnya yang cemberut membuat semua orang yang memandangnya merasa gemas .


"Benarkah...? kau melakukan semua itu putri...?" tanya sang Raja dengan wajah terharu dan bahagia.


"Maaf yang Mulia...Putra Mahkota hanya membesar- besarkan saja..." jawab Alea dengan wajah malu.


"Dasar putra Mahkota nyebelin..." seru Alea dalam hati.


"Ha ha ha...ternyata calon menantuku seorang yang rendah hati... pantas... pantas...kau memang pantas menjadi Putri Mahkota nak...." seru Raja Rong Kyu bahagia. begitu juga dengan permaisuri Shulia, dia menatap Alea dengan wajah kagum dan sayang. Sedang Perdana Mentri Heng yang juga hadir di sana ikut merasa bahagia.


"Perdana Mentri...kau harus ikut merasa bahagia melihat putri angkatmu sebaik ini..." ucap sang Raja dengan perasaan bangga.


"Hamba yang mulia...." kata Perdana Mentri sambil tersenyum bahagia. Mentri Coiran yang ikut hadir di sana merasakan hatinya sedih. mengapa putrinya tidak bisa seperti Alea, yang memiliki kecerdasan dan berhati mulia.


Raja Rong Kyu ternyata telah menyuruh pelayan kerajaan menyediakan makanan untuk menyambut kedatangan putra mahkota dan rombongannya. Seterah selesai melaporkan semua yang mereka lakukan di daerah bencana atau desa Rusan, mereka segera di jamu makan besar di kerajaan , setelah itu para tabib di kembalikan lagi ke tempat perguruan masing - masing. namun Alea dan kedua kakaknya di minta pulang besok ke perguruan Calang.


Keesokan Harinya Alea , Mimi Dan Lian Han kembali ke perguruan . Putra Mahkota sebenarnya ingin kembali juga ke perguruan, namun karena ada tugas dari Raja, akhirnya dengan berat hati dia membiarkan Alea pulang sendiri.


Ketika Alea akan pulang ke perguruan dia menyempatkan diri mampir kerumah perdana Mentri Heng. di sama dia bertemu dengan putra pertama Perdana Mentri Heng. Alea tertawa senang ketika Sauki terlihat telah kembali sehat.


"Kak...kau terlihat lebih kuat sekarang...?" kata Alea sambil tersenyum senang.


"Semua ini berkat dirimu Lea'er..." jawab Sauki gembira.


"Kak...kau tidak mendekati dia lagi kan..?" bisik Alea pada Sauki.


"Nggak akan lagi...apa aku gila Lea'er, aku tak akan pernah memaafkan dia lagi..." jawab Sauki .


"Kau ingin membalas perbuatannya...?" tanya Alea pelan.


"Pasti..." jawab Sauki yakin.


"Tunggu saja kak...aku akan membuatkan sesuatu untuk kau hadiakan padanya..." kata Alea dengan fikiran liciknya.


"Benarkah kau akan membantuku membalas dendam...?" tanya Sauki dengan binar di matanya.


"Tunggu saja...tapi yang penting sekarang kau harus memperbanyak kultifasimu untuk mengembalikan kekuatanmu yang telah hilang dua tahun itu..." kata Alea kembali.


"Pasti Lea'er...." jawab Sauki dengan pasti.


"Hey....ada apa kalian berdua sepertinya lagi membicarakan sesuatu yang penting..." tiba - tiba Perdana Mentri Heng berada di antara mereka berdua.


"Ayah...ini rahasia kami berdua...." ucap Sauki dengan wajah bahagia.


"Nak...kau kini kembali bahagia setelah kedatangan Alea..." ucap sang Bunda.


"Karena dia adikku yang menjadi sumber kekuatanku ibu..." ucap Sauki dengan wajah ceriah.


"Apakah kau selalu terlihat sedih saat aku tidak ada kak...?" tanya Alea curiga.


"Tidak....ibu saja yang terlalu menghawatirkanku....?" ucap Sauki sambil memeluk sang bunda.


"Tentu saja Bunda khawatir, kau tidak mau keluar dari kamarmu...." jawab sang ibu.


"Ibu...aku sedang berkultivasi memulihkan tenagaku ..." jawab Sauki lembut .


"Ayah sudah mengatakan itu pada ibumu, tapi dia tidak percaya...?" jawab sang Ayah.


"Ayah ,ibu ..yang penting sekarang kakak Sauki sudah sehat dan segar. Ayah dan ibu tidak perlu menghawatirkan nya lagi.." kata Alea menengahi.


"Benar sekali ucapanmu Lea'er ... sekarang yang penting Sauki sudah sehat dan ceriah lagi..." ucap Perdana Mentri Heng sambil tertawa. Akhirnya Alea berpamitan pulang setelah beberapa saat di sana. Mereka bertiga segera memacu kuda mereka dengan cepat menuju perguruan Calang. ketika sampai di sana hari sudah siang, sebelum masuk kedalam gerbang perguruan, mereka bertiga memutuskan untuk makan di restoran yang ada di desa . Mereka segera masuk kedalam restoran yang memang paling terkenal di desa itu.


Maa ceritanya sampai di sini dulunya... kita lanjut besok lagi, jangan lupa Like Vote dan Komennya selalu author tunggu. tahu nggak, setiap Komen , like dan Vote yang kalian berikan untuk Author ,selaku membuat author lebih semangat berkarya. trimakasih aku ucapkan untuk kalian yang selalu memberiku semangat.🙏🙏

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2