PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
CINCIN GIOK .


__ADS_3

Alea segera keluar dari kamarnya. Ketika dia baru saja berada di depan pintu kamarnya, tiba- tiba seorang siswa murid sekte Tiangzi datang menghampirinya.


"Maaf putri...apakah anda putri Alea...?" tanya pria muda murid Tiangzhi.


"Benar...ada apa..?" tanya Alea.


"Anda di suruh kekamar tetua agung..." jawab pria muda itu.


"Baik..kau bisa mengantarkan aku kekamar tetua agung...?" tanya Alea lembut.


"Baik putri...ikutlah hamba, hamba akan mengantar anda kekamar tetua agung.." jawab pria muda itu lagi.


"Baik ..ayo..." ajak Alea. Pria mudah itupun segera mengajak Alea pergi ketempat tetua agung.


Mereka berjalan di lorong istana Tiangzi menuju belakang istana. Ketika sampai di sana , Alea melihat sebuah bangunan kecil yang terlihat bersih , murid yang mengantarkan Alea berhenti. Dia menatap bangunan itu sebentar lalu menatap Alea .


"Putri silahkan anda masuk kerumah itu. Di sana sudah ada tetua agung yang menunggu kedatangan putri..." jawab pria itu sambil membungkuk menberi hormat.


"Trimakasih..." jawab Alea. Pria itu segera pergi meninggalkan Alea.


Alea menatap kepergian pria muda itu sampai tak terlihat lagi, setelah itu dia membalikkan badannya menatap bangunan kecil tapi bersih dan rapi yang ada di depannya. Perlahan Alea berjalan kearah bangunan itu, setelah sampai di depan pintu bangunan , Alea bisa melihat melalui pintu yang terbuka kalau di dalam rumah itu terlihat kalau ruangan tertata rapi,


"Masuklah cucuku..." terdengar suara kakek Jing Hao dari dalam rumah.


"Baik kek..." jawab Alea.


Perlahan kaki Alea melangkah masuk kedalam ruangan. Ketika sampai di sana, Alea melihat kakek Jing Hao sedang duduk di ruang tamu tidak sendiri, kini dia sedang duduk bersama kakek Bing Hu.


"Kakek Bing Hu juga ada di sini...?" tanya Alea sambil mendekati mereka.


"Iya sayang..kemarilah...." jawab Kakek Bing Hu.


"Baik kek..." jawab Alea. Dia segera duduk di sebelah kakek Bing Hu.


"Maaf kakek mengganggu istirahat mu sayang...." kata kakek Jing Hao .


"Tidak masalah kek...Alea juga ingin berjumpa dengan kalian.." jawab Alea.


"Kek maaf...sebelum kakek bertanya pada Alea. Boleh Alea tanya dulu pada kakek Bing Hu...?" tanya Alea sambil memandang sang kakek.


"Kau mau menanyakan sesuatu pada kakek Bing Hu...? Tanya kakek Jing Hao.


"Benar kek..." tanya Alea.


"Tanyakanlah..." kata Kakek Jing Hao.


"Ada apa nak....?" tanya kakek Bing Hu sambil menatap Alea yang ada di sebelahnya.


"Kek...kakek kan yang memberiku kalung yang memiliki bandul batu giok ini...?" tanya Alea pada kakek Bing Hu sambil menunjukkan kalung yang ada di lehernya.


"Benar kenapa sayang...?" tanya kakek Bing Hu pada Alea.


"Apakah kakek tahu benda apa ini...?" tanya Alea.


" Tidak..Memangnya ada apa nak...?" tanya kakang Bing Hu heran.


"Apakah kakek tidak pernah membersihkan bandul ini sebelum kakek menyerahkan padaku ..?" tanya Alea lagi.


"Sering...karena kakek menjaga keindahan bandul giok itu..memang ada apa Lea'er...?" tanya Kakek Bing Hu semakin heran.


"Dan tidak terjadi apa- apa..?" tanya Alea lagi tanpa menjawab pertanyaan kakek Bing Hu.


"Tidak...?" jawab kakek Bing Hu.


"Memang dari mana kakek mendapatkan kalung ini....?" tanya Alea lagi .


'Kalung itu kakek dapatkan saat kakek pulang dari masa depan dulu, Setelah kakek menukar jiwamu dan jiwa putri dari keluarga masa depan mu, kakek langsung kembali kemari, dan kakek bertemu dengan seorang kakek tua yang memakai baju putih , Dia berkata kalau kelak setelah kau dewasa , kakek harus memberikan kalung itu padamu, karena kalung itu memang milikmu .." kata kakek Bing Hu menjelaskan.


"Jadi kakek Jing Hao juga tidak tahu soal bandul ini...?" tanya Alea.


"Tidak cucuku...kakek baru melihat kalung itu sekarang..." jawab kakek Jing Hao sambil menatap kalung di leher Alea.


"Memang ada apa nak...?" tanya kakek Bing Hu penasaran .


"Bandul giok ini merupakan ruang dimensi kek...?" jawab Alea sambil menatap kedua kakek di depannya.


"Apaa...ruang dimensi...?" seru kedua kakek itu bersamaan .


"Iya kek.." jawab Alea.


Kedua kakek itu terdiam dengan mata menatap Alea tak percaya.


"Ada apa kek...?" kini Alea yang bingung menatap kedua kakeknya yang sedang menatapnya dengan wajah rumit.


"Lea'er... Kami pernah mendengar ruang dimensi itu dari guru kami, namun kami fikir itu hanya mitos saja, tapi kini...kau cucu kakek memiliki ruang dimensi itu, Apa itu benar nak...? Lalu apa yang di maksud dengan ruang dimensi..?" tanya Kakek Jing Hao sambil menatap cucu perempuanya dengan wajah tak percaya.


"Ruang dimensi adalah dunia lain yang berada di dalam batu giok ini kek...?" jawab Alea. Kedua kakek Alea menatap gadis itu dengan wajah penuh kagum.


"Lea'er...tanyakan pada kakekmu kenapa mereka memiliki lambang burung elang...". tanya Eagle dari ruang dimensi.


"Lalu kenapa kakek membuat lambang burung elang pada sekte Tuangzi...?" tanya Alea .


"Guru kami yang memberi nama dan lambang itu nak dan...ya ampuun kakek lupa..." kakek Jing Hao berdiri dan berjalan kearah almari satu- satunya yang ada di ruangan itu, almari itu sepertinya tempat kakek menyimpan baju dan barang berharga kakek. Beliau mengambil sebuah kotak kecil dari bawa tumpukan baju kakek. Lalu dia membawa kotak kecil ketempat Alea dan kakek Bing Hu. Dan dia kembali duduk.


"Nak...benda ini pemberian guru kami. Dan benda ini menjadi lambang pemilik atau pengusaha perguruan, mulai saat ini benda ini akan menjadi milikmu, dan kewajibanmu untuk merawatnya jadi mulai hari ini kekuasaan Tiangzi kaulah penguasanya nak..." kata kakek Jing Hao sambil menyerahkan kotak kecil itu pada Alea.


"Mana mungkin kek...Alea masih kecil, Alea kurang pengalaman, kenapa kakek tidak memberikan pada kakek Bing Hu saja..." tolak Alea.


"Nak...itu sudah keputusan kami berdua, jadi kau tidak bisa menolaknya..." kata kakek Bing Hu.


"Kek...tapi Alea masih mau mencari pengalaman dulu kek..lagian Alea masih mau mencari paman Zheng Rua Sah yang telah membuat ibuku pergi dari sini..." kata Alea .


"Kau tidak usah mencarinya, ketika dia mendengar kau telah datang, pasti dia yang akan mencarimu...?" ucap kakek Jing Hao dengan wajah sedih.


"Apa benar kek...?" tanya Alea sambil tersenyum licik.


"Benar nak...lihat aja nanti..." jawab sang kakek. Dan di angguki kakek Bing Hu.


Alea akhirnya menerima kotak kecil itu.


"Kek...boleh aku buka...?" tanya Alea.


"Bukalah...?" jawab kakek.


Alea segera membuka kotak kecil , dan di dalam kotak ternyata ada sebuah cincin giok yang terlihat indah. Hijau bulat membuat mata segar.


"Lea'er...kenapa cincin itu sepertinya pasangan dari kalung dan gelang mu..." ucap Eagle dari dalam ruang dimensinya.


"Benarkah...?" tanya Alea kaget.


"Iya..coba kau pakai, walaupun terlihat besar cincin itu, tapi kalau dia memang jodohmu dia akan pas di tanganmu..." ucap Eagle.


"Baiklah akan aku coba..." kata Alea .


"Kek..boleh aku pakai...?" tanya Alea.


"Cobalah...kakek dan kakek Bing Hu dulu juga sudah mencoba memakainya, tetapi cincin itu terlalu besar , hingga tangan kakek dan kakek Bing Hu mu tidak muat dengan cincin itu...?" kata kakek Jing Hao.


"Baik Alea akan mencobanya, kalau memang tidak muat juga pada Alea, mungkin cincin ini bukan jodoh Alea..." kata Alea sambil mengambil cincin giok yang ada di dalam kotak . setelah itu Alea mencoba pada jari tulunjuk tangan kanannya. Ketika cincin sudah ada di jari telunjuk Alea, tiba - tiba ada cahaya putih keluar dari cincin itu . dan setelah cahaya hilang, terlihat cincin itu telah melingkar dengan manis di tangan Alea.


Kedua kakek Alea tertegun melihat kejadian itu, mana mungkin cincin yang terlihat sangat besar itu bisa pas di tangan Alea yang kecil dan ramping .


Sebab ketika cincin itu mereka pakai dulu, cincin itu terlalu besar di tangan mereka.


"Lea'er...cincin itu pas di jarimu...!" seru kakek Jing Hao gembira.


"Benar kek..." jawab Alea.

__ADS_1


"Kau memang pemilik dari cincin itu nak.." kata kakek Bing Hu.


"Cincin ini adalah pasangan dari bandul giok pemberian kakek Bing Hu , dan juga gelang giok keluarga perdana Mentri Huang kek..." kata Alea.


"Benarkah...?" kata kakek Bing Hu kaget. Dia melihat gelang giok yang berada di lengan kiri Alea. Gelang itu bercorak sama dengan bandul dan cincin yang Alea pakai.


"Alea...kau memang pemilik dari barang- barang itu nak..." kata kakek Bing Hu dengan wajah cerah.


ini gambar cincin giok milik Alea



Dan ini gambar gelang giok milik Alea.



Tiba- tiba pembicaraan mereka terputus karena ada dua orang siswa yang datang mengatakan kalau ada dua orang pria yang ingin bertemu dengan putri Alea dan tetua agung . Tentu saja Alea kaget. Siapa yang telah mencarinya dan sang kakek .


"Bawa mereka kesini..." kata kakek Jing Hao.


"Baik guru..." jawab kedua murid itu dengan patuh.


Mereka berdua segera pergi meninggalkan mereka bertiga. Tak lama terlihat mereka kembali lagi dengan membawa dua orang pria, satu kakek- kakek yang umurnya lebih tua dari kakek Jing Hao namun oerawakannya gagah dan raut wajahnya bercahaya , dan seorang pria kasar yang bertubuh kekar. Saat melihat pria kasar itu, Alea mengenalinya,


"Bukankah dia pria yang bertemu denganku saat di desa bencana dulu, yang ingin meneroyokku karena permintaan salah satu tabib ...." kata Alea dalam hati. Kedua pria itu masuk kedalam ruangan.


"Tetua agung ...mereka yang ingin bertemu putri, dan tetua agung..." kata salah satu murid.


"Pergilah biar mereka bersama kami..." jawab kakek Jing Hao.


"Kakek silahkan masuk dan duduk kek.."


ucap Alea ketika mereka masih berdiri di pintu masuk.


"Trimakasih nak..." kata pria tua itu.


Mereka segera masuk dan duduk di kursi yang ada di depan Alea.


Kakek tua itu memandang Alea dan berkata.


"Nak...kau telah menyatukan mereka...?" kata kakek tua itu sambil menatap Alea dan tersenyum bahagia. Tiba- tiba Lauyan dan Eagle keluar dari ruang dimensi .


"Master..." seru mereka bersamaan.


"Kalian menemuiku...?" kata kakek tua itu sambil tersenyum bahagia.


"Salam master...." kata Eagle dan Lauyan bersamaan.


"Kalian ini...aku bukan master kalian lagi..." kata kakek tadi sambil kembali tertawa.


"Gege...apakah dia master kalian dahulu...?" tanya Alea sambil menatap kakek tua itu.


"Benar Lea'er...dia adalah master sebelum kau menjadi master kami..." jawab Eagle.


"Guru...maafkan murid, murid tidak mengenali guru..." kata Alea sambil memberi hormat pada kakek tua itu.


"Tidak masalah nak...kau tidak salah, karena kau memang belum mengenal diriku. syukurlah aku telah menemukan dirimu, aku sudah lega karena aku akan kembali ke alamku..." kata kakek tua itu.


"Apa maksud guru...?" tanya Alea tak mengerti.


"Umurku sudah lebih dari dua ratus tahun nak...aku menunggu kehadiranmu di dunia ini, saat kurasakan kehadiran bandul giok itu , aku menyuruh dia mencarimu..." kata kakek itu sambil menunjuk pria kasar di sebelahnya.


"Tunggu...guru menyuruh dia mencariku..? tapi dia bukan mencariku, dia malah ingin membunuhku...?" kata Alea sambil menatap pria kasar itu .


"Apaa...dia ingin membunuhmu...apa dia bisa...?" tanya kakek itu.


"Dia lari saat melihat pedang salju berada di tanganku guru..." jawab Alea.


"Dasar pria bodoh..." kata sang kakek sambil menatap pria itu dengan wajah lucu.


"Ya sudah jangan kau ulangi lagi..." kata kakek tua itu .


"Baik master..." jawabnya cepat.


"Tunggu guru...apakah anda yang menitipkan kalung yang di pakai Alea itu pada saya beberapa puluh tahun yang lalu...?" tanya kakek Bing Hu menyela pembicaraan Alea dan kakek tua itu .


"Benar nak...akulah yang menitipkan kalung itu padamu , trimakasih kau telah memegang janjimu untuk menyimpan dan memberikan kalung itu padanya..." jawab sang kakek.


"Tidak masalah kek...karena dia cucuku juga..." jawab kakek Bing Hu dengan bahagia.


"Nach sekarang aku meminta ijin sebentar untuk membawa cucu kalian pergi ke ruang dimensi, kalian pasti sudah tahu ruang dimensi...? jadi ijinkan aku pergi sebentar dengan muridku.." kata kakek itu dengan nada lembut .


"Silahkan guru...."kata kakek Jing Hao dengan nada hormat. mereka sadar siapa pria tua di depan mereka ini.


"Ayo nak kau ikut aku keruang dimensi... dan kau Elang, Phoenix ikut bersama kami..." kata kakek tua itu lagi.


"Baik master..." jawab Lauyan dan Eagle.


"Baik guru..." jawab Alea.


"Dan tolong titip pria bodoh ini sebentar " kata kakek tua itu pada terua agung.


"Baik guru..." ucap kakek Jing Hao.


Tak lama Alea, kakek tua itu, Lauyan dan Eagle hilang dari pandangan mata mereka. ketika Alea dan kakek sudah sampai di ruang dimensi, terlihat wajah kakek itu gembira.


"waah..ternyata ruang dimensi semakin luas di tanganmu nak..." kata kakek tua itu.


Semestinya sama dengan saat berada di tangan kakek kan...?" kata Alea lembut.


"Tidak nak...tanaman di sini subur dan terasa segar semua karena hatimu, pikiranmu, kebaikanmu, serta ilmu yang kau miliki lebih kuat dari yang aku miliki dulu, hingga membuat tanaman dan tumbuhan obat semakin subur dan memiliki khasiat lebih besar saat masih aku miliki dulu. Lihatlah buah kehidupan ini, dia berbuah sangat lebat sekali, dan itu semua karena kekuatanmu semakin hebat, nach sekarang kakek akan memberikan beberapa ilmu agar kekuatanmu bertambah.." jawab kakek tua itu.


" Baik guru..." jawab Alea.


"Kita duduk di bawah pohon kehidupan ini saja..." jawab si kakek.


"Baik guru..." jawab Alea, mereka segera berjalan kearah pohon kehidupan dan duduk lotus di bawah pohon itu. setelah itu kakek tua meletakkan tangannya di punggung Alea. tak lama Alea merasakan kekuatan hangat masuk kedalam tubuhnya melalui telapak tangan kakek tua yang berada di punggungnya. kekuatan hangat itu menjalar keseluruhan tubuhnya, dan perlahan berpusat di meridian miliknya. tak lama Alea merasakan kekuatan hangat itu semakin lama semakin panas. dia bertahan dengan mengerahkan kekuatan penetralan pada tubuhnya. namun kakek itu berkata .


"Jangan kau tahan kekuatan itu, biarkan dia masuk kedalam tubuhmu nak..." kata kakek tua saat dia merasakan ada kekuatan di dalam tubuh Alea yang menahan kekuatan yang akan dia salurkan kedalam tubuh Alea.


"Baik guru..." jawab Alea. dia segera melepas kekuatannya yang tadi sebenarnya akan menertalkan rasa panas yang dia rasakan.Setelah rasa panas itu beberapa saat ada di dalam tubuhnya, tak lama rasa itu berangsur- angsur berkurang dan menghilang. setelah itu Alea merasakan kesegaran di dalam tubuhnya .


"Nach selesai sudah, sekarang kau bisa membuka matamu..." ucap kakek tua yang kini sudah berada di depan Alea.


"Nak...ternyata kau sudah memiliki kekuatan di dalam tubuhmu, kekuatanmu tidaklah kecil Alea..." kata si kakek.


"Guru sudah mengetahui namaku...?" tanya Alea kaget.


"dasar anak polos...panggil aku kakek Jun...apakah kau di dunia lain sepolos ini...?" tanya kakek Jun sambil terkekeh.


"He he...apa Alea sepolos itu kek...?" kata Alea sambil ikut tertawa.


"Salam guru besar....?" White dan Xiao Bai memberi salam pada kakek Jun.


"Kalian ular putih dan rubah ekor sembilan...?" tanya kakek Jun kaget.


"Benar guru..." jawab mereka.


"Alea...kau telah mengompulkan hewan langkah di ruang dimensi mu...?" tanya Kakek Jun dengan tertawa.


"Mereka gege sahabat sekaligus saudara Alea kek..." jawab Alea.


"Baru sekarang aku melihat seorang kultivator bersahabat , malah menganggap saudara pada mahluk kontraknya...ha ha ha...kau memang unik Lea'er...tapi aku juga merasakan kehadiran mahluk terkuat bumi ada di sekitarmu Alea, kau bersahabat dengan siapa, sepertinya dia memiliki dua kekuatan mahluk ilahi...?" kata kakek Jun pada Alea.


"dua mahluk super kuat kek...?" tanya Alea.


"Apa itu super kuat..." tanya Kakek Jun tak mengerti.

__ADS_1


"maksud Alea mahluk yang terkuat kek..." jawab Alea menjelaskan maksudnya.


"Oo...kakek tak mengerti perkataanmu,.." kata kakek Jun.


"Maaf kek..." jawab Alea.


"Nggak masalah, lalu siapa orang yang memiliki mahluk terkuat itu.." tanya kakek Jun lagi.


"Mungkin dia pangeran Lingzhi Lea'er..." kata Eagle.


"Siapa...pangeran Lingzhi...? dia ada di sini...?" tanya Kakek Jun kaget.


"Dia kekasih Lea'er Master...?" goda lauyan.


"Bukankah kalian yang menyarankan itu padaku...?" kata Alea sambil cemberut.


""Dia calon putri mahkota kerajaan Shi guru...." kini White angkat suara.


"Bagus nak , bagus...kakek Jun juga menyetujui itu.. dia seorang calon kaisar yang kuat, aku lihat aura nya sangat kuat dan hebat, sepertinya raja kegelapan takut padanya..." ucap kakek Jun sambil tertawa senang.


"Kakek...kakek juga menyukai dia...?" tanya Alea kaget.


"Iya kakek sangat setuju kau mendapatkan pria itu...jika kalian bero


pasangan , kalian akan menjadi sepasang manusia hebat yang tak akan tertandingi , Kakek yakin itu.." kata kakek Jun meyakinkan.


"Iya, iya...Alea akan menerima pangeran Lingzhi sepenuhnya,..." kata Alea lagi.


"Jadi kau belum menerima cinta pria tampan itu...?" tanya kakek Jun lagi.


"Bukan tidak menerima dia kek...tapi Lea'er masih ragu, maklum dia kan calon seorang Raja, Lea'er takut dia mempunyai banyak istri ..." jawab Alea dengan jujur.


"Aku rasa tidak akan nak...Kakek yakin itu...nach sepertinya waktu kakek telah habis, kakek akan pergi, tolong kau pekerjakan pria yang bersamaku tadi, jadikan dia murid di perguruan kakekmu, dia pria baik, aku yakin dia akan setia padamu. nach kakek pergi dulu, selamat tinggal ..." tiba- tiba kakek Jun berubah menjadi gumpalan Asap putih dan menghilang di tiup angin.


"Selamat jalan kek..." seru Alea sedih. entah mengapa walau hanya sebentar Alea bersama kakek Jun, dia merasakan perasaan akrab pada kakek Jun, tanpa terasa air mata jatuh di pipi Alea.


"Jangan menangis Lea'er..tidak baik buat Master..." ucap Eagle kembut .


"Aku mengerti gege...entah kenapa, walaupun aku baru bertemu dengan kakek Jun, aku merasa dekat dengannya.


"Master Jun memang seperti itu, semasa masih mudanya dulu, dia sangat penyayang pada setiap orang, tapi karena sifatnya itu, membuat para wanita patah hati olehnya,..." kata Eagle sambil tertawa.


"Kok bisa...?" tanya Alea heran.


"Mereka mengira Master Jun menyukai mereka hingga ketika mereka menyatakan cinta, Master Jun kelabakan dan akhirnya dengan terpaksa menolak cinta mereka..." kata Eagle lagi.


"Ha ha ha...apa masa mudanya kakek Jun sangat tanpan , hingga banyak cewek yang tergila- gila pada nya...?" tanya Alea.


"Sangat ..hampir sama dengan pangeran Lingzhi hanya lebih tampan pangeran Lingzhi, kalau pangeran Lingzhi orangnya dingin sekali pada wanita, tapi kalau Master orangnya terlalu ramah..." kata Eagle menjelaskan.


"Ha ha ha...terang aja mereka jatuh cinta..." kata Alea sambil tertawa.


"Ya sudah gege,... Alea keluar dulu, takutnya Kakek sudah menunggu Alea.." kata Alea sambil menghilang dari pandangan para gegenya. mereka hanya bisa tersenyum melihat tingkah Alea. ketika sampai di ruang kakek Jing Hao , Alea melihat sang kakek sedang berbincang dengan kakek Bing Hu. dan pria kasar bawahannya kakek Jun sedang duduk dengan wajah sedih.


"Lea'er..kau sudah kembali...?" tanya kakek Jing Hao.


"Iya kek..." jawab Alea.


"Lalu mana guru tadi..." tanya kembali kakek Jing Hao.


"Dia telah kembali kedunianya kek..." jawab Alea.


"Lalu pria itu...?" tanya kakek Bing Hu.


"Kakek menitipkan padaku agar aku bisa membimbingnya, tapi boleh kan kek aku menitipkan dia di sini..bukankah sekarang Alea masih belajar di perguruan Calang kek...?" kata Alea dengan wajah imutnya.


Melihat wajah Alea, Kakek Bing Hu dan Kakek Jing Hao tertawa.


"Bing...apakah kau bisa menolak permintaannya...?" ucap kakek Jing Hao sambil tertawa.


"Kalau kakak bisa, tolak saja kak..." kata kakek Bing Hu di sela tawanya .


"Baiklah agar kalian mau menerima dia, aku akan memberi kakekku hadiah..tapi tolong pria ini kakek suruh murid kakek untuk membawanya pergi dulu..." kata Alea tenang.


"Memangnya hadiah apa yang akan kau berikan pada kami...?" tanya kakek antusias.


"Kejutan kek...tapi dia biar di bawa murid kakek dulu pergi..." kata Alea lagi dengan penuh teka-teki. Kakek Bing Hu tak sabar, Dia segera memanggil dua orang murid untuk membawa pria itu ke asrama para siswa, dan memberikan satu ruangan untuk tempat tinggal dia. namun sebelum pergi Alea berbicara pada pria itu.


"Maaf siapa nama anda..." tanya Alea pada pria kekar dan kasar itu.


"Hamba Hudan putri..lalu di manakah kakek Master...?" tanya pria yang bernama Hudan itu .


"Kakek Jun telah pergi dan dia menitipkan anda pada saya, sekarang apakah anda mau ikut saya atau tidak itu terserah anda. kalau anda mau ikut saya, sementara ini anda tinggal di perguruan kakek saya , karena saya masih berguru di perguruan Calang, jadi saya tidak bisa membawa anda kesana, tapi jika anda menginginkan kebebeasan saya tidak akan menghalangi anda dan anda bisa pergi dari sini, murid kakek akan mengantar anda pergi,..." kata Alea dengan wajah lembut.


"Tidak putri..hamba.telah berjanji pada master akan mengabdi pada beliau, tapi jika Master telah pergi dan dia menyerahkan saya pada anda, saya akan setia pada anda, jika saya harus di sini, saya akan patuh putri..." ucap pria kasar itu dengan yakin.


"Kalau begitu baiklah...kau bisa ikut dua murid kakek itu keasrama mereka,..." kata Alea lagi.


"Trimakasih putri..." kata pria yang bernama Hudan itu .


Kedua murid kakek Bing Hu segera membawa Hudan pergi keasrama para murid. setelah kepergian mereka , Kakek Bing Hu segera berkata.


"Ayo Lea'er...apa hadia untuk kami itu, kakek penasaran, hadiah apa yang akan di berikan cucu kakek pada kami ..." kata kakek Bing Hu dengan wajah penasaran.


"Sabar kek...tapi nanti jangan kaget ya...? goda Alea sambil tertawa. Dia segera mengambilkan buah pohon kehidupan yang sudah dia persiapkan, tentu saja saat empat biji buah kehidupan ada di tangan Alea kedua kakek itu kaget. Saat melihat buah itu kedua kakek terkejut bukan main.


"Lea'er...buah itu...?" tanya kakek Jing Hao dengan mata terbelalak , buah berwarna kuning keemasan yang hanya bisa dia lihat di dalam buku , kini berada di depan mereka berdua..


"Jangan kaget seperti itu kek...iya ini namanya buah dari pohon kehidupan, pasti kakek tahu buah ini dari buku kuno kan..?" kata Alea sambil memberikan buah itu pada kedua kakeknya.


"Dari mana kau dapatkan buah ini nak...?" tanya kakek Jing Hao penuh dengan rasa kagum dan khawatir.


"Dari ruang dimensi kek... di sana ada pohonnya..." jawab Alea tenang .


"Apaa...? ada pohonnya...? kau tak bercanda kan nak...?" tanya kakek Jing Hao syok.


"Tidak kek...Alea tidak bercanda, di sana memang ada pohonnya, dan di sana juga ada air terjun kehidupan kek..." jawab Alea pelan takut ada yang mendengar .


Terlihat wajah kakek Jing Hao pucat. sedang kakek Bing Hu hanya bisa menatap buah pohon kehidupan dengan wajah tak percaya, matanya menatap tanpa berkedip . sedang mulut melongo.


"Kakek...kakek kenapa...?" tanya Alea.


"Nak...apakah kakek bermimpi...?" tanya kakek Bing Hu tak percaya.


"Tidak kek...kakek tidak bermimpi, ini memang kenyataan..." jawab Alea sambil tersenyum. Mereka terdiam cukup lama sambil menatap buah pohon kehidupan yang ada di tangan mereka, sedang Alea menatap mereka sambil bersedekap.


Tak lama mereka berdua menghela nafas hampir bersamaan,


"Lea'er...kakek minta demi keselamatanmu , jangan kau bicarakan masalah ini pada orang lain,..." pinta kakek Jing Hao pada Alea.


"Tidak kek...lagian jika bukan orang terpilih oleh ketiga perhiasan giok itu, siapapun tidak bisa datang kesana secara sembarangan kek, buktinya kakek Bing Hu yang bertahun- tahun memegang bandul giok itu, tidak mengetahui kalau ada ruang dimensi..." kata Alea dengan. lembut.


"Benar juga katamu nak...dan cincin itu juga tidak bisa di pakai sembarang orang..." kata kakek Bing Hu menimpali.


"Begitupun dengan gelang giok ini kek...sebenarnya gelang ini gelang keturunan keluarga Mentri Huang, tetapi para tetua maupun putri keluarga Huang tidak ada yang bisa dengan pas memakai gelang ini, tapi saat Alea memakainya, langsung seperti ini..." kata Alea sambil menunjukkan gelang di tangannya.


"Benar katamu nak... ketiga benda itu memang menyatu pada pemilik yang sebenarnya..." kata kakek Jing Hao.


"Ya sudah, sekarang kakek makan dulu buah itu, dan yang satu dapat kakek simpan dulu. buah itu tidak akan busuk kok kek..." kata Alea.


"Bebarkah..." kata kakek Jing Hao dengan wajah kagum, dia lalu memakan buah itu. begitu juga dengan kakek Bing Hu.


Maaf sampai di suni dulu ceritanya , aku sambung lagi besok ya...


Jangan lupa like, vote, dan komennya aku tunggu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2