PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
RACUN ULAR KIRIN.


__ADS_3

"Karena kalian sudah saling mengenal, mulai besok setiap selesai menghadiri kelas, kau mulai belajar bersama kedua kakak seniormu . kau mengerti Hanpey..?" kata guru Juan pada Alea.


"Mengerti guru...tapi guru...bukankah guru baru saja sembuh...?" kata Alea .


"Setelah meminum pil darimu, guru merasakan kesehatan guru pulih kembali , jadi jangan kau cemaska. Keadaanku Hanpey..." jawab guru besar.


"Murid mengerti guru..." jawab Alea.


"Nach sekarang pergilah kekelasmu...". Perintah guru besar.


"Hamba guru...Murid mohon diri..." ucap Alea berpamitan. Dia segera berdiri dan berjalan keluar kamar. Namun belum juga Alea sampai di pintu , tiba- tiba terdengar suara teriakan dari luar.


"Guru...guru...guru besar...." teriakan itu mengejutkan mereka ber empat.


"Siapa itu...kenapa berteriak - teriak seperti itu,tidak sopan..." ucap Lhipo marah.


"Guru..guru besar ijinkan murid menghadap.." terdengar kembali teriakan dari luar.


"Lhipo akan melihat siapa dia guru..." siswa yang bernama Lhipo segera berdiri.


"Tidak, ... Ayo kita keluar..." kata guru Juan Bili.


"Tapi guru...guru masih baru sembuh..." ucap Lhipo lagi .


"Tidak...aku sudah sehat...berkat obat dan perawatan Hanpey tubuhku sudah segar, jadi jangan kalian kawatirkan lagi.." ucap guru Juan sambil bangun dari tempat tidurnya.


Lhipo dan Rhonsa segera berjala mengiringi guru Juan menuju keruang depan dan di ikuti Alea.


"Masuklah..." ucap guru Juan sambil duduk di kursi ruang tamu .


Tak lama masuklah dua orang siswa senior kedalam ruangan.


"Hormat murid guru besar..." kedua siswa itu segera menyapa dan menunduk di depan guru Juan.


"Ada apa, kalian berteriak- teriak di sini..?" tanya guru Juan datar.


"Maafkan kami Guru ...Senior Shecan telah datang, tapi kini dia mengalami luka parah...?" kata siswa itu dengan wajah tegang dan takut .


"Apaa...." teriak guru Juan hampir bersamaan dengan Lhipo dan Rhonsa. Mereka terkejut mendengar perkataan dari siswa itu .


"Lalu sekarang di mana dia...?" tanya guru Juan cemas.


"Dia sekarang di bawa keruang perawatan guru..." jawab salah satu dari mereka.


"Ayo kita segera kesana..." mereka akhirnya pergi kesana semuanya. Alea yang tadinya ingin masuk keruang pelajaran, akhirnya memutuskan ikut mereka. Dengan langkah lebar guru Juan dan keempat orang itu berjalan cepat menuju ruang perawatan, untung Alea tingkat kultivasinya sudah di rana langit tengah . Kalau tidak dia tak akan bisa mengimbangi kecepatan jalan guru dan kedua siswa asuhan guru Juan, sedang kedua siswa itu , terlihat agak tertinggal. walaupun keduanya terlihat sudah berada di Rana Kaisar tingkat dua.


Ketika mereka sampai di ruang perawat mereka bisa melihat guru Sen dan beberapa guru sudah berada di sana, dan seorang pria tua dengan janggut putih di dagunya juga berada di sana.


Tunggu...bukankah dia tabib yang ada di kerajaan tempo lalu... Dan dia sepertinya pria tua yang sangat di hormati oleh para tabib istana...seru Alea dalam hati.


"Guru besar Luo...kau sudah ada di sini juga...?" kata Guru Besar Juan Bili.


"Kebetulan muridku yang menemukan dia...apakah dia muridmu...?" tanya Pria tua yang di panggil guru besar oleh guru Juan Bili.


"Benar...dia Shecan muridku...ada apa dengannya.." tanya Guru Juan sambil mendekati Shecan yang terbaring seperti sudah hilang nyawanya. Seluruh tubuhnya terlihat biru , dan sebagian sudah mulai menghitam.


"Ya dewa....dia terkena racun yang sangat jahat...." seru guru Juan kaget.


"Bagaimana tidak jahat, dia berkelahi dengan ular kirin...." seru guru besar Lao.


"Apaa...." seru semua orang yang berada di sana. Siapa yang nggak tahu ular kirin, ular kirin adalah ular yang sangat berbisa dan masih belum di temukan penawar racunnya, dia ular yang tidak mengenal rasa takut. ular kirin muda memiliki tubuh sebesar paha orang dewasa, dan panjangnya lima atau enam meter. Namun ular kirin tua yang hidupnya sudah berpuluh tahun besarnya bisa sebesar bayi dan panjangnya mencapai tuju atau delapan meter.


"Mereka para muridku menemukan dia sedang berkelahi dengan ular Kirin muda, namun mereka tidak bisa membantu lebih banyak, Muridku yang hanya tiga orang bukan tandingan ular kirin, mereka hanya bisa menghalau ular kirin..." jawab guru besar.


"Ya dewa... Apa yang bisa aku lakukan sekarang...." ucap guru Juan Bili frustasi.


"Tidak ada yang bisa kita perbuat lagi, aku hanya bisa memperlambat racun yang menjalar dalam tubuhnya..." ucapan lembut dan putus asa terlontar dari mulut guru besar Luo. Guru besar Luo adalah guru besar dari rumah obat terbesar yang menghasilkan obat- obat ajaib yang di buat sendiri oleh tabib Luo. Tabib Luo adalah kakak dati guru besar Juan. Dia dulu tinggal di perguruan Calang ini, tapi semenjak mereka mendirikan rumah obat , tabib Luo memutuskan untuk tinggal di rumah obat mereka.


"Lalu apa yang harus kukerjakan...?" rintih guru Juan dengan wajah sedih.


"Tidak ada... Kita hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban yang datang menolong muridmu..." jawab guru Luo pelan. Mendengar omongan guru Luo, guru Juan Bili tertunduk sedih, begitu juga para guru yang ada di sana. Mereka hanya mampu melihat kesedihan guru Juan dan penderitaan Shecan.

__ADS_1


"Guru...boleh murid mencoba mengobati kakak senior ....?" tiba - tiba mereka di kejutkan dengan ucapan Alea pada guru Juan.


"Hanpey...." seru guru Juan sambil memandang Alea.


"Apa boleh hamba mencoba mengobatinya ....?" tanya Alea kembali.


"Siapa kau nak....ini bukan mainan yang bisa kau lakukan..." kata Guru Lao pelan, siapa yang tak akan merasa kesal ketika ada seorang anak mudah yang mengatakan kalau dia akan mencoba kehidupan manusia. Dia seorang tabib saja yang sudah memiliki banyak pengalaman tidak mampu mengobati,


Apalagi dia yang masih mudah .


"Maaf ...dia muridku..." jawab guru Juan pelan.


"Apakah kau terlaluan lemah hingga muridmu tidak memiliki sopan santun Juan..." tegur sang kakak.


"Maafkan dia .... Tapi aku akan mencoba dia untuk mengobati muridmu..." kata guru Juan dengangan yakin.


"Apaaa....? apa kau sudah gila Juan...?kau memperhatikan nyawa muridmu untuk percobaan seorang anak muda..?" sertu guru Lao marah.


"Tanpa dia mencoba si Shican juga akan meninggal....apa salahnya kalau kita bertaruh dengan keajaiban...?" jawab guru Juan datar.


"Hanpey....cobalah kalau kau bisa..." kata guru Juan dengan wajah penuh percaya .


"Trimakasih guru...Murid akan mencoba semampu murid..." jawab Alea lembut .


Dia berjalan dengan perasaan yakin kearah tempat Shican terbaring diam .


Dia segera memegang tangan Shican yang kini sudah menghitam. Denyut nasinya terasa sangat lemah. dan Alea melihat di lengan kiri dan bahunya terlihat ada luka yang berlubang . seperti bekas taring yang menancap , yang agak parah adalah pangkal lengan kirinya.


"White'ge...apakah racunnya memang sangat keras...?" tanya Alea pada White yang ada di pergelangan tangannya.


"Memang benar...racun dari ular kirin sangat keras, bisanya memang sulit untuk mencari penangkalnya. Tapi coba kau gunakan jarum akupunturmu lalu kau tekan darah kotor kesatu titik, mungkin dengan cara itu kau bisa menolong nyawanya...." jawab White.


"Trimakasih...aku akan mencobanya..." kata Alea. Dia segera mengeluarkan jarum peraknya . dan saat Alea mengeluarkan jarum perak, terlihat keterkejutan di mata mereka yang ada di sana.


"Tehnik pengobatan akupuntur...?" seru guru Lao kaget. Begitu pula dengan para guru yang berada di ruangan itu.


"Kau akan melakukan tehnik akupuntur Hanpey...?" tanya guru Juan pelan , seolah takut mengganggu Alea .


"Benar guru... Murid mohon jangan ada yang mengganggu hamba dulu..." jawab Alea.


"Hanpey semangat , kami percaya padamu..." seru Lhipo memberi semangat.


"Benar Hanpey kami percaya padamu. .." ucap Rhonsa menambahi.


"Jangan khawatir kak, aku akan berusaha...." jawab Alea sambil tersenyum . melihat keakrapan mereka bertiga guru besar Juan tersenyum gembira.


Tak lama terlihat Alea mulai menusukkan jarum peraknya ketitik akupuntur di sekujir tubuh Shican. Kini terlihat seluruh tubuh Shican di penuhi dengan jarum - jarum perak, hingga Shican terlihat seperti seekor landak.


Setelah itu Alea mulai mengeluarkan tenaga Qi nya di atas jarum akupuntur. Tak lama terlihat jarum yang menancap di tubuh Shican bergetar hebat. Mata Alea terpejam rapat. Jarum akupuntur itu bergetar cukup lama, terlihat wajah Alea kini agak memucat, dam bintik- bintik keringat mulai memenuhi wajahnya. Tak berapa lama terlihat wajah hitam Shican mulai terlihat agak memutih. Dan secara perlahan warna putih di wajah Shican berjalan turun kebawah. Kini wajah itu terlihat bersih. Melihat semua itu guru besar Lao dan beberapa guru hanya bisa ternganga dan tak bisa berbicara. Mereka tak percaya akan melihat pengobatan dengan cara tehnik akupuntur, mereka hanya bisa menahan nafas karena tegang.


Secara bertahap tubuh Shecan pun berubah warnanya menjadi putih kemerahan kembali. Dan guru Juan mulai mengerti kalau Alea menggiring racun yang ada di tubuh Shecan menuju satu titik yaitu tangan kirinya.Setelah cukup lama terlihat hanya tangan kiri Shecan yang berwarna hitam. dan darah juga mulai merembes dari kuka yang Shecan derita. namun tak banyak.Tak berapa lama mata Alea terbuka , dia segera mengambil pisau tajam kecil miliknya. Dia meminta wadah untuk menampung darah Shecan. Buru- buru Rhonsa keluar dari kamar. Tak lama dia masuk kembali dengan membawa ember kecil. Alea segera melukai tangan Shecan sedikit untuk mengeluarkan darah beracun di tubuh Shecan. Terlihat darah itu mengalir dengan deras kedalam ember . darah hitam pekat dan berbau.


"Guru...apakah guru memiliki pil penambah darah...?" tanya Alea.


"Guru punya nak...?" jawab guru Juan cepat .


"Kalau begitu hamba minta untuk menggantikan darah yang keluar dari tubuh senior Shecan..." jawab Alea.


"Baik akan aku ambilkan...Lhipo kau ambilkan pil penambah darah dari kamar guru..." kata guru Juan gembira pada Lhipo,


"Baik guru..." jawab Lhipo sambil beranjak dan keluar dari ruang kamar pegobatan. Sedang darah dari tangan Shecan masih mengalir berwarna hitam. Tak berapa lama darah hitam pun sudah habis, kini yang keluar hanya darah berwarna merah terang. Melihat itu Alea bernafas lega. Dia segera menghentikan darah yang keluar. serta membalut dan mengobati luka di tubuh Shecan dengan obat yang dia ambil dari cincin ruangnya, Dan bersamaan dengan itu Lhipo datang dengan membawa botol giok yang berisi pil penambah darah.


"Ini pilnya guru...." seru Lhipo sambil memberikan botol giok pada sang guru.


Guru Juan menerimanya dan memberikan pada Alea.


"Nak...pilnya..." ucap guru Juan dengan wajah bahagia .


"Trimakasih guru..." jawab Alea sambil menerima botol yang di ulurkan sang guru.


"Hey..anak bodoh bukan kau yang harus berterimakasih , tapi gurumu ini..." seru guru Juan dengan wajah di liputi kegembiraan.

__ADS_1


"He he he...maaf guru..." jawab Alea sambil tertawa pelan. semua orang tersenyum melihat tingkah Alea.


Ada kembanggahan dan rasa haru di wajah setiap guru.


Sedang guru Lao terlihat iri melihat kedekatan sang adik dengan murid nya. dia iri melihat sang adik memiliki seorang murid yang jenius seperti Alea.


Sedang Alea kini sedang sibuk menghaluskan beberapa pil penambah darah . setelah halus Alea menbahkan sedikit air agar pil itu dapat cair.


"Andai mereka nggak ada disini tentu aku lebih mudah menyuntikan obat ini kedalam tubuhnya dan memberi infus pada senior Shican..." seru Alea dalam hati. Setelah pil itu menjadi cairan Alea dengan perlahan menyuapkan kedalam mulut Shican yang terkatup.


"Hanpey....biar aku saja yang menyuapkan obat itu pada Shican..." ucap Lhipo sambil berjalan mendekat.


"Silahkan...usahakan pil itu masuk semua kak..." kata Alea sambil memberikan mangkok berisi obat pada Lhipo.


'Beres... aku yakinkan padamu kalau semua obat yang ada di dalam mangkok ini akan berpindah kedalam perut Shican..." jawab Lhipo sambil tertawa.


Dia sangat senang sahabatnya Shican telah terbebas dari bahaya dan kematian.


"Bagus kak...." jawab Alea. dia segera berdiri dan berjalan menjauh dari Shican.


Guru besar Lau menatap Alea dan berjalan mendekatinya.


"Nak...maafkan aku, aku terlalu meremehkan dirimu, aku tidak menyangka , kau yang masih sangat muda seperti ini telah memiliki bakat yang sangat tinggi, apakah kau tadi menggunakan pengobatan akupuntur getar...?" tanya Guru Lao dengan wajah penuh tanda tanya.


"Benar guru..." jawab Alea.


"Bukankah tehnik akupuntur getar itu telah lama hilang....? lalu dari mana kau mempelajari tehnik itu...?" tanya guru Lao dengan semangat.


"Guru hamba yang mengajar semua itu guru..." jawab Alea .


"Gurumu....? guru Juanmu aku yakin tidak memiliki pengetahuan tentang akupuntur...?" kata Guru Lao heran.


"Bukan...bukan guru Juan, tapi guru masa kecil hamba..." jawab Alea sambil tersenyum. sedang guru Juan cemberut. , memang dia tidak memiliki keahlian soal tehnik pengobatan akupuntur, begitu juga dengan sang kakak guru besar Lao, sebab tehnik akupuntur sudah lama hilang dari peredaran , apalagi tehnik akupuntur getar.


"Guru Lao...kau menghinaku...?" kata guru Juan sambil cemberut.


"Ha ha ha...kau merasa terhina...? bukankah ucapanku benar, diantara kita berdua tidak ada yang bisa melakukan pengobatan dengan tehnik akupuntur kan...? bukan hanya kau yang bodoh tapi aku juga..." kata guru besar Lao sambil tertawa. Mendengar perkataan jujur guru Lao semua orang tersenyum.


"Benar sekali kata- katamu kak... kita memang di kalahkan oleh muridmu sendiri..." jawab guru Juan sadar diri.


"Nak...siapa gurumu...?" tanya guru besar Lao pada Alea.


"Ya ampuun...apa yang harus gue jawab, mana mungkin gue jawab kalau guru gue ada di dunia lain...? bisa - bisa mereka jatuh pingsan...teriak Alea di dalam hati.


"Maaf guru...guru hambar tak ingin di kenal orang, dan hamba sudah terlanjur bersumpah pada beliau guru untuk merahasiakannya....." jawab Alea berbohong.


'Ya ya ya...kami mengerti itu... memang banyak para cendekiawan atau orang- orang pintar yang menybunyikan jati diri mereka...." kata guru besar Lao bijak. Dia tahu guru masa kecil Alea tak ingin di ketahui orang.


"Trimakasih guru..." ucap Alea.


tiba- tiba terdengar rintihan dari mulut Shican. mereka serentak melihat pada Shican yang sedang berbaring.


perlahan mata yang sejak tadi terpejam perlahan terbuka.


saat matanya terbuka, Shicam melihat dia berada di dalam ruangan dan dikelilingi oleh banyak orang .


"Lhipo aku dimana...? dan apa yang terjadi padaku...?" tanya Shican dengan wajah heran.


"Kau lupa apa yang terjadi padamu...?" tanya Lhipo pelan.


"Yang terjadi padaku...?" tanya Shican tak mengerti. tiba- tiba dia teringat saat dia mencari tumbuhan obat di hutan, dia melihat tumbuhan bunga anggrek ungu yang sangat langkah berada di sebuah akar pohon . Dan dengan gembira dia ingin mengambil bunga itu. namun saat berjalan dia tidak melihat akan kehadiran ular kirin yang telah membauhi keberadaan bunga itu juga . ular kirin memang sangat menyukai bunga itu. saat melihat Shican menginginkan bunga anggrek ungu itu, ular kirin sangat marah. dia segeta menyerang manusia yang mau mengambil barang yang ingin dia miliki, akhirya mereka berkelahi. dan seingat dia , dia telah tergigit dua kali di bahu dan lengannya. Setelah mendapatkan gigitan dari ular itu, Dia merasakan dunia menjadi gelap dan dia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


"Apa yang terjadi denganku Lhipo...?" tanya Shecan penasaran.


"Kau hampir mati ..." jawab Lhipo .


"Apaa...." teriak Shecan kaget.


Maah...besok lagi ya... jangan lupa like, vote, dan komennya author tunggu.


author ucapkan terimakasih untuk para pembaca yang sudi mampir dam mau membaca ceritaku, ucapan terimakasih juga aku ucapkan pada kalian yang memberi dukungan padaku, dengan memberikan like, komen, dan vote ,

__ADS_1


yang tak henti sehingga membuatku semangat.🙏🙏🙏


Bersambung.


__ADS_2