
Melihat kepergian kedua wanita itu, Alea merasakan malu dalam hatinya, namun apa daya pada pria yang selalu membuat dia tak bisa berkata- kata lagi.
"Kau sedang makan apa...?" tanya Pangeran Lingzhi pada Alea.
"Makan bakso, My Zhi mau...?" tanya Alea.
"Bakso...?" tanya pangeran Lingzhi lagi.
"Hmm..." angguk Alea.
"Boleh...aaa..?" kata pangeran Lingzhi sambil membuka mulutnya.
"Sebentar My Zhi..aku akan mengambilkan untukmu...?" ucap Alea sambil bermaksud mengambilkan mangkok lain.
"Tidak usah...aku ingin yang ada di mangkokmu...?" ucap pangeran Lingzhi sambil kembali membuka mulutnya. Akhirnya dengan ragu- ragu Alea membalikkan badannya dan menyuapi pangeran Lingzhi dengan bakso yang ada di mangkoknya dengan sendok bekas dia pakai. Melihat itu terlihat wajah Alea kembali merah.
"Hmm..enak sayang...siapa yang membuat ini..." tanya pangeran Lingzhi.
"Ibu San... " jawab Alea.
"Apakah kau bisa membuat ini sayang..." kata pangeran Lingzhi sambil kembali membuka mulutnya. Tentu saja Alea kembali menyuapinya.
"Aku yang mengajari mereka , semua masakan ini My Zhi..." jawab Alea tenang.
"Benarkah...ya ampuun...lalu apa yang tidak bisa kamu lakukan ....?" ucap Pangeran Lingzhi dengan wajah bangga dan heran jadi satu.
"Entahlah...." jawab Alea tenang.
Tak kama jihao dan Guansi bergabung di meja makan, mereka segera makan makanan yang ada di atas meja dengan lahabnya. Melihat itu, Alea menyuruh empat mahluk kontraknya keluar dari ruang dimensi. Begitu juga dengan pangeran Lingzhi. Kini di ruangan itu ada empat orang manusia, dan enam mahluk kontak milik Alea dan Lingzhi , sedang duduk menikmati makanan yang memang tersedia cukup banyak. Jihao dan Guansi hanya bisa ternganga melihat kehadiran enam mahluk kontrak dari Alea dan pangeran Lingzhi . Setelah makan keenam mahluk kontrak tersebut kembali keruangan mereka.
Sore Harinya Zio Sang menutup rumah makan dan rumah obat mereka lebih awal. Semua itu karena kehadiran Alea dan pangeran Lingzhi. Setelah membersihkan badan, mereka segera duduk bersama di ruang keluarga milik Alea. Ruang keluarga Alea hanya terdiri dari tiga kursi dan satu meja kecil , Alea menyisahkan ruangan luas yang dia beri kain tebal sejenis permadani yang dia gelar di sudut ruangan. Hingga bisa untuk tiduran ataupun duduk bersama di bawah. Alea juga menaruh beberapa bantal untuk Alas kepala jika ada yang ingin tiduran . Dan karena sekarang pangeran Lingzhi memilih tiduran di bawah dengan kaki Alea sebagai bantal, maka semua orang ikut duduk di bawah. Dan di tengah- tengah mereka duduk, ibu San dan ibu Zio menaruh beberapa kue dan minuman untuk cemilan mereka.
"Oh ya Pey'er...apa yang akan kau katakan tadi, katanya kau akan mengatakan sesuatu pada kami...?" tanya Zio Sang pada Alea.
Alea menatap mereka satu persatu sebelum menjawab pertanyaan Zio Sang. Sedangkan Pangeran Lingzhi yang kepalanya ada di pangkuan Alea sedang memainkan tangan Alea.
"Begini...apakah kalian mau aku ajak pindah ke Kerajaan Shi...?" tanya Alea perlahan.
"Apaa...!" seru mereka kaget.
"Aku ingin kalian pindah ke kerajaan Shi, di sana kalian akan kembali membuka restoran seperti di sini, dan gege Zio Sang bisa belajar di perguruan Calang dengan tenang, karena sewaktu- waktu gege Zio Sang bisa menjenguk kalian, dan kedua pria kecil ini , mereka bisa mendapat pelajaran di perguruan yang lebih bagus.." ucap Alea menjelaskan.
"Waah idemu bagus sekali Pey'er..jadi jika aku belajar di perguruan Calang , aku tidak khawatir meninggalkan kalian berempat, serta San Lau dan san Pai bisa belajar di perguruan yang lebih bagus,.. tapi gimana dengan restoran ini Pey'er..?" tanya Zio Sang denga wajah bingung.
"Tunggu dulu gege...gimana pendapat kedua ibuku...?" tanya Alea pada nyonya San dan nyonya Zio.
Kedua nyonya itu saling berpandangan, tak lama terlihat senyuman di bibir mereka.
"Kami setuju saja apa yang akan menjadi keputusanmu nak.., kami percaya keputusanmu adalah keputusan terbaik bagi kami..." ucap nyonya San pada Alea .
"Benar kata nyonya San Pey'er... Sejak dulu keputusan yang kau ambil semuanya demi kenaikan kami, jadi jangan khawatir , kami selalu mendukungmu..." ucap nyonya Zio dengan wajah berbinar.
"Ya sudah kalau begitu keputusan kita, kita akan pindah dari sini, dan soal rumah dan sawah kakak bisa menjualnya, kalau soal rumah pengobatan, biar kita serahkan pada desa untuk mengolahnya,.. "kata Alea lagi.
"Baiklah, aku akan berusaha menjual sawah dan rumah ini secepatnya..." jawab Zio Sang.
Sedang pangeran Lingzhi yang melihat dan mendengar rencana Alea, sangat mengagumi gadis itu, gadis yang selaku mengutamakan kebahagian orang di sekelilingnya dari pada kebahagiaan sendiri.
"Ya sudah kalau begitu aku akan menyuruh beberapa pengawal bayanganku agar tinggal di sini untuk membantu kalian pindah ke Kerajaan Shi..." ucap pangeran Lingzhi lembut.
Mendengar perkataan pangeran Lingzhi Alea menatapnya dengan wajah bahagia.
"Trimakasih My Zhi..." ucap Alea .
"Trimakasih yang Mulia..." kata keluarga Zio Sang dan keluarga San.
"Sudahlah...semua itu karena kalian kesayangan calon permaisuriku, gadis yang sangat aku cintai, jadi akupun harus menyayangi kalian juga, bukankah kalian akan menjadi rakyatku juga..." ucap pangeran Lingzhi cuek. Dia tetap saja tenang berbaring di bawah tanpa menghiraukan mereka yang ada di sekitarnya .
"Trimakasih yang Mulia..." ucap mereka lagi.
" Hmm...." ucap pangeran Lingzhi sambil memberi tanda pada Jihao untuk segera menyuruh mereka keluar semua. Melihat tanda dari Pangeran Lingzhi, Guansi dan Jihao segera mengajak mereka keluar ruangan , hingga meninggalkan Alea berdua dengan pangeran Lingzhi. Sedang Alea tidak menyadari itu, karena fokusnya sekarang di mana dia harus mencari tempat untuk rumah makan mereka. Dia bingung mau pilih di mana, di desa tempat perguruan Calang berada atau di dalam kota kerajaan Shi .
"Sayang...kenapa kau termenung... kau sedang memikirkan apa..?atau kau sedang memikirkan pria lain Ya...?" ucapnya membuat terkejut Alea.
"Apaa..Ya ampun pangeran...mana mungkin hamba memikirkan pria lain... " ucap Alea dengan wajah kaget.
.
"Hmm...kau masih menyebutku Pangeran dan mengucapkan kata hamba..." ucap Pangeran Lingzhi sambil mencubit pelan kedua pipi Alea kanan kiri dengan posisi masih tiduran dan kepalanya ada di pangkuan Alea.
"Ee..maaf..." ucap Alea .
"Sayang kau memikirkan Apa tadi ...?" tanya Pangeran Lingzhi sambil menatap wajah Alea yang ada di atasnya. Sedang Alea kaget ketika melihat keadaan ruangan sepi. Tanpa sadar dia mengabaikan pertanyaan Pangeran Lingzhi.
"Lo mereka pada kemana...?" ucapnya pelan. Melihat tingkah sang kekasih yang terlihat lucu menggemaskan , pangeran Lingzhi tersenyum senang.
"Makanya jangan suka melamun...kenapa kewaspadaanmu hilang Hmm..." goda Pangeran Lingzhi sambil mencubit hidung bangir Alea.
"Bener juga...kenapa aku jadi teledor begini sich..." batin Alea.
"Seandainya tadi ada musuh datang gimana....?" tanya pangeran Lingzhi lagi.
"Kan ada My Zhi...." jawab Alea tenang.
"Hmm...jadi kau melepaskan kewaspadaanmu karena ada aku...?" kata Pangeran Lingzhi sambil bangun dari tidurannya lalu duduk di depan Alea.
"Tentu saja...seorang kekasih mana mungkin akan membiarkan kekasihnya terluka..." jawab Alea sambil tersenyum.
"Apakah kau sekarang sudah menganggapku sebagai kekasihmu...?" tanya Pangeran Lingzhi sambil menatap lembut Alea yang kini terlihat ada semburat merah di wajahnya.
"Apakah anggapan itu salah...?" jawab Alea sambil menyembunyikan debaran di dadanya .
"Tidak...apakah itu berarti kau mulai mencintaiku....?" ucap pria tampan itu sambil mendekatkan wajahnya pada Alea. Melihat tingkah pangeran Lingzhi tanpa sadar Alea menjauh kan wajahnya dari wajah Pangeran Lingzhi.
".ltu..itu..." terlihat rona merah semakin ada di wajah Alea.
__ADS_1
"Itu, itu apa Hmm...?" tanya Pangeran Lingzhi yang kini merasakan kebahagiaan di hatinya. Dia semakin mendekatkan wajahnya di wajah Alea. Dan kini kaki pangeran Lingzhi telah berada di kedua sisih tubuh Alea. yang sedang duduk bersimpuh.
Melihat wajah pangeran Lingzhi semakin dekat di depannya. Kedua tangan Alea mendorong dada pangeran Lingzhi pelan.
"Pa ..Pangeran..tolong agak menjauh.." ucap Alea semakin gugup.
"Kau memanggilku apa...?" kini Pangeran Lingzhi semakin ingin menggoda gadis cantiknya.
"Ma..maaf My Zhi..." ucap Alea tergagap. Melihat kegugupan Alea, pangeran Lingzhi kini memeluk pinggang ramping gadis di depannya.
Tentu saja Alea kalang kabut,
"Pa..My Zhi..apa yang kau lakukan...?" seru Alea kaget.
"Jawab pertanyaanku, atau kau tak akan kulepaskan....?" ancam Pangeran Lingzhi sambil menatap muka gadis cantik di depannya . Alea merasakan debaran jantungnya semakin menggila.
"Baik, baiklah akan ku jawab , tapi tolong lepaskan dulu tangan pangeran..." ucap Alea dengan berusaha melepas tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Tidak..tidak akan kulepaskan sebelum. Kau menjawab pertanyaanku..." jawab Pangeran Lingzhi.
"Iya, iya...aku mulai mencintaimu..." ucap Alea dengan wajah semakin merah karena merasa malu.
Mendengar jawaban Alea walaupun karena desakan ,hati pangeran Lingzhi bahagia.
"Benarkah sayang , kau mulai mencintaiku....? Sejak kapan itu...?" tanya Pangeran Lingzhi dengan wajah bahagia.
"Akupun tak tahu...sejak kapan aku mulai mencintaimu..." jawab Alea pelan.
Melihat gadisnya menunduk karena malu, Pangeran Lingzhi mengangkat wajah Alea perlahan.
"Lihat aku...aku tak perduli sejak kapan kau mencintaiku, tapi sampai kapanpun jika kau belum bisa mencintaiku, aku akan tetap sabar menunggu, aku tak akan pernah melepasmu dari sisihku..." ucap pangeran Lingzhi sambil pengecup lembut kening Alea.
"Trimakasih My Zhi...aku akan berusaha mencintaimu selama hidupku . namun aku minta , jangan pernah melepas tanganmu dariku, atau membiarkan cinta lain ada di antara kita, jika itu terjadi aku akan pergi jauh darimu...." ucap Alea pelan.
"Tidak akan pernah terjadi , aku tak akan membiarkan cinta lain hadir di antara kita, aku janjikan itu padamu..." ucap pangeran Lingzhi sambil kembali memeluk Alea. Tak berapa lama Pangeran Lingzhi melepas pelukannya.
"Sekarang istirahatlah, besok kita akan mulai membuat rencana, tapi kita tidak bisa terlalu lama di sini sayang..." ucap pangeran Lingzhi dengan lembut .
"Janganbkawatir My Zhi, lusa kita akan segera pulang ..." jawab Alea sambil tersenyum.
"Trimakasih atas pengertianmu sayang." ucap pangeran Lingzhi lembut.
"Aku juga berterimakasih padamu, kau telah meluangkan waktumu untuk mengantarkan diriku kemari..." ucap Alea .
"Karena itu sudah tanggung jawabku, aku tidak akan rela melihat kau menjadi pusat perhatian setiap pria, dan aku tak rela mereka berharap mempunyai kesempatan bisa mendekatimu, .." jawab pangeran Lingzhi lembut.
Alea merasakan kebahagian yang tak pernah dia rasakan selama ini, ketika mendengar ucapan pangeran Lingzhi. apakah ini yang namanya jatuh cinta...?
Ucap Alea dalam hati.
"Kalau begitu aku masuk dulu My Shi..." ucap Alea ingin pergi dari pangeran Lingzhi agar setetes air mata keharuan tidak terlihat oleh pangeran Lingzhi.
Pangeran Lingzhi segera bangun dan mengulurkan tangannya untuk membantu Alea bangun.
Alea memegang jemari Pangeran Lingzhi yang terulur lalu segera berdiri dari duduknya . mereka kini berdiri berhadapan.
"Aku berjanji My Zhi, ajari aku untuk lebih mencintaimu..." jawab Alea.
"Pasti sayang ...apapun akan aku lakukan untukmu..." jawab pangeran Lingzhi sambil memeluk Alea dengan erat. Akhirnya Alea membalas pelukan pangeran Lingzhi walaupun dengan kaku. tak lama pangeran Lingzhi melepas pelukannya.
Mereka berpisa dan kembali kekamar mereka Masing- masing. Setelah sampai di dalam kamarnya, Alea segera pergi keruang dimensinya untuk berkultivasi. Ketika sampai di dalam ruang dimensi dia tidak menemukan para mahluk kontraknya .
"Pada kemana mereka....?" gumam Alea sambil mencari mereka di istananya . Namun Alra tidak menemukan mereka. Akhirnya dia memutuskan untuk berkultivasi sendiri. Alea melakukan meditasi di dalam ruang dimensinya . berhari - hari Alea bermeditasi di ruang dimensinya. Namun di alam biasa dia hanya melakukan beberapa jam saja.
Ketika dia keluar dari ruang dimensi, dan kembali berada di dalam kamar tidurnya, ternyata hari mulai menjelang pagi. Ketika Alea ingin rebahan sebentar, terdengar ketukan di daun pintunya.
Tok tok tok...
"Pey'er...kau sudah bangun...?" terdengar suara lembut memanggil namanya.
"Ya sebentar ..." jawab Alea sambil melangkah kearah pintu kamar. Ketika pintu terbuka , terlihat nyonya San berdiri di depan pintu dengan wajah sedikit kurang enak.
"Ada apa ibu....?" tanya Alea menatap wajah nyonya San dengan heran.
"Maaf aku mengganggumu..." ucapnya agak takut.
"Nggak masalah...memangnya ada apa buu...?" tanya Alea dengan wajah tanya.
"Maaf di depan ada anak laki- laki yang sedang terkena racun..." jawab nyonya San pelan.
"Terkena racun...?" tanya Alea kaget.
"Benar...katanya dia digigit ular kirin di dalam hutan gunung Golda.." ucap nyonya San dengan wajah cemas.
"Apa di gigit ular kirin...?" tanya Alea kaget. bukankah ular kirin adalah jenis ular yang telah menggigit kak Shican dulu...pikir Alea.
"Benar nak..." jawab nyonya San lagi.
"Kalau begitu ayo kita cepat pergi kerumah pengobatan..." seru Alea sambil berjalan keluar dari kamarnya. Ketika sampai di depan pintu kamar, dia melihat pangeran Lingzhi sudah berdiri di sana.
"Mau kemana Lea'er...?" tanya pangeran Lingzhi.
"Ke rumah pengobatan..." jawab Alea .
"Memangnya ada apa...?"tanya pangeran Lingzhi lagi.
"Seorang bocah terkena racun ular kirin.." jawab Alea sambil melangkah pergi.
"Aku ikut..." kata Pangeran Lingzhi sambil berjalan di sebelah Alea. Mereka segera bergegas pergi ke rumah pengobatan. Sesampainya di sana terlihat Zio Sang sedang membantu menaruh anak remaja yang terlihat sudah pingsan. Setelah Alea mendekat, terlihat anak laki- laki itu bibirnya sudah agak membiru juga wahanya dan sebagian besar tubuhnya. Alea segera mendekati mereka.
"Jangan terlalu banyak orang di sini...harap kalian keluar dulu dari ruangan ini. Gege Zio tolong suru mereka keluar..." ucap Alea sambil mendekati pria remaja itu.
"Hey kau...! Siapa kau...? Berani sekali kau menyuruh kami pergi dari sini..dia adikku , kami harus menungguinya..." terdengar suara seorang wanita yang menentang perkataan Alea. Alea segera menatap asal suara. Terlihat seorang gadis sedang berdiri dengan sombongnya di depan Alea hanya terhalangi oleh tempat tidur pasien. Dan Alea ingat gadis itu yang menanyakan keberadaan pangeran Lingzhi yang ada di dekatnya , saat mereka pulang dari bendungan.
"Apakah dengan kau di sini , kau bisa menyembuhkan dia...?" tanya Alea tenang.
__ADS_1
"Kauuu...untuk apa kau kemari...?" kata gadis itu setelah melihat siapa gadis yang ingin menolong sang adik. apalagi dia melihat Pangeran Lungzhi yang berdiri di sebelah Alea.
"Pingluh...jangan berdebat dengan tabib Hanpey...dialah tabib pemilik rumah pengobatan ini..." ucap seorang pria paruh baya yang ada di sebelahnya.
"Maaf tabib...maafkan putri hamba..." kata pria paruh baya itu dengan wajah ketakutan.
"Tidak Ayah...aku tidak sudi wanita ini menolong adikku..." ucap wanita itu lagi .
"Bagus kalau itu maumu...silahkan bawa kembali adikmu pergi, dan jangan salahkan kami jika kau akan membuat dia tidak tertolong lagi, dan semakin kau menunda pertolongan kami pada adikmu, semakin tipis kesempatannya untuk hidup. Jadi jika kau berniat akan membawa dia pergi silahkan cepat kau lakukan... " jawab Alea, sebenarnya hati nuraninya tidak ingin melakukan ini, tapi kesombongan sang kakak tidak bisa di biarkan saja. Alea masih bisa melihat kalau racun di dalam tubuh pria remaja itu belum sampai menjalar ke arah jantung. Alea segera melangkah keluar bersama pangeran Lingzhi.
"Gege Zio..Suruh mereka keluar segera..." ucap Alea sambil melangkah keluar ruangan namun langkahnya terhenti saat di depannya pria paruh baya itu bersimpuh di depan Alea.
"Tabib...jangan suruh kami pergi...aku mohon tolonglah putraku satu- satunya, aku mohon...jangan kau dengarkan mulut jahat putriku..." ucap pria itu sambil menangis.
"Paman...jangan seperti ini...ayo bangun.." kara Alea sambil menarik pria tua itu dari tempat dia bersimpuh.
"Tidak...hamba tidak akan bangun kalau tabib tidak menolong anakku..sebab sudah beberapa tabib yang mengobati putraku, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan dia, jadi aku mohon tolong dia...." ucap pria itu dengan wajah memohon. Melihat itu, Alea hanya bisa terdiam.
"Suruh gadis bodohmu itu untuk meminta maaf pada calon istriku dulu..." terdengar suara pangeran Lingzhi dengan nada marah. Saat pria tua itu menatap pangeran Lingzhi, terlihat Wajahnya terkejut dan takut. Tak lama dia bersujud di depan pangeran Lingzhi.
"Ampun yamg mulia...hamba tak mengetahui kehadiran yang mulia..." serunya membuat orang di sekitarnya juga terkejut. Namun sebelum mereka memberi hormat terdengar suara pangeran Lingzhi.
"Sudah- sudah...kalian tidak perlu bersujud padaku, sekarang cepat kau suruh putrimu meminta maaf atau kau akan kehilangan putramu..!" seru pangeran Lingzhi marah.
"Trimakasih yang Mulia...Pingluh...!cepat kau minta maaf...!" seru Pria paruh baya itu pada sang putri.
"Tapi Ayah..." gadis itu sepertinya tak ingin meminta maaf pada Alea.
Plaak...
"Cepat kau lakukan atau aku akan kehilangan putraku..." seru pria itu marah. Dan dengan terpaksa hadis itu mendekati Alea.
"Maafkan aku tabib..." ucap wanita itu dengan wajah memerah karena marah.
"Baik....demi melihat Ayahmu , aku akan menolong adikmu, tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu, sekarang pergilah..." ucap Alea dingin. Entah kenapa Alea merasakan rasa yang lain saat melihat gadis itu menatap pangeran Lingzhi dengan tatapan yang genit dan memuja.
"Iist..perasaan apa yang ada di dalam dadaku ini..." teriak Alea dalam hati.
Mendengar perkataan Alea Pingluh terlihat mengepalkan tangannya marah. Namun dia tidak bisa berbuat apa- apa. Hanya terlihat matanya menatap pada pangeran Lingzhi untuk meminta pembelaan. Namun ternyata dia salah, bukannya wajah manis atau tatapan mengaguminya, tapi terlibat wajah sang pangeran menatapnya sekilas dengan tatapan jijik dan sinis .
"Sekarang tolong kalian semua keluar, biarkan aku menolong pria muda ini..." ucap Alea kembali.
Tak lama mereka keluar dari ruangan itu. Setelah ruangan sepi tinggal mereka bertiga, Alea, Pangeran Lingzhi dan Zio Sang, Alea segera menyuruh Zio Sang menutup pintu ruang periksa. Setelah itu Alea segera meneriksa denyut nadi si pasien, terlihat denyut nadi pria muda itu terasa melemah, dia melihat kalau ular kirin menggigit paha pria muda itu,
"Gege ambilkan aku sebuah tempat untuk menampung darah beracun dari tubuh anak ini, dan nanti saat darah beracun keluar dari paha anak ini walau cuma sedikit , gege jangan sampai memegangnya, karena racun ular kirin sanga keras..." ucap Alea oada Zio Sang.
"Baik Pay'er..".jawab Zio Sang patuh.
Alea segera mengeluarkan jarum perak dari cincin ruangnya. Setelah itu dia segera menancapkan jarum- jarum perak itu di titik akupuntur di sekujur tubuh pria muda itu. Setelah itu Alea naik keatas ranjang dan duduk lotus di dekat pria yang terbaring dengan wajah dan badan hampir membiru total. Dan perlahan Alea mengangkat tangannya di atas tubuh pria muda itu. Dan saat Alea mulai mengeluarkan tenaga dalamnya, terlihat jarum perak akupunturnya bergetar, dan terlihat jarum- jarum itu berwarna hitam pekat. Melihat semua itu Pangeran Lingzhi terlihat menatap Alea dengan wajah kagum dan bangga.
"Lea'er..kenapa semakin hari kau membuatku semakin jatuh cinta padamu, aku semakin tak ingin berpisah atau jauh darimu.. kau gadis yang sangat membanggakan sayang... untunglah putra Mahkota Fang pria bodoh, andai dia tak melepasmu, pasti aku kesulitan memisahkan kalian..." fikir Pangeran Lingzhi dalam hati. Dia menatap Alea dengan mata hitamnya.
Sedang Alea masih mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menekan racun yang menyerang tubuh anak muda itu. Racun ular kirin hampir menyerang jantung anak laki- laki itu gara- gara keegoisan kakak perempuan nya. Dengan agak susah payah akhirnya dia bisa menekan racun dalam tubuh pria muda itu ke arah tangan kanannya . terlihat tangan kanan anak itu berwarna hitam pekat, dari pangkal lengan samoai jemarinya. perlahan mata Alea terbuka.
"Gege...tolong kau berikan wadah yang aku minta tadi..." ucap Alea.
Dengan cepat Zio Sang memberikan wadah yang memang sudah dia sediakan. perlahan Alea melukai salah satu jemari anak laki - laki itu dengan pisau lipatnya , segera terlihat darah hitam pekat keluar dari jemari yang terluka dan mengucur deras di wadah yang sudah di sediakan Zio Sang. setelah cukup lama terlihat darah yang keluar berwarna merah terang. Alea segera menotok jalan darah di tangan anak itu untuk menghentikan darah yang keluar.
Setelah itu dia menyuruh Zio Sang membalut lukanya. kini wajah pria mudah itu terlihat pucat sekali. Alea segera memberi tiga pil sekaligus pil penambah darah. untuk melancarkan darah pria muda itu, Alea kembali menyalurkan tenaga dalamnya setelah melepas jarum akupunturnya.
Cukup lama Alea melakukan pengobatan, dan akhirnya dia bisa bernafas lega ketika melihat wajah anak muda itu terlihat agak memerah tidak sepucat atau sehitam tadi. Namun kini wajah Alea yang memucat.
"Sayang...kau tidak apa- apa...?" tanya pangeran Lingzhi cemas. ketika melihat wajah Alea.
'Aku tidak apa- apa My Zhi..." jawab Alea.
"Gege...tolong kau bawakan aku air kehidupan...." pinta Alea pada salah satu hewan kontraknya menggunakan telepati . tak lama Lauyan datang dengan membawa sebuah guci kecil berisi air kehidupan dan buah kehidupan .
"Lea'er...ini air nya, dan aku juga membawa buah...." ucap Lauyan sambil memberikan guci dan buah .
Alea segera meminum air dalam guci dan segera memakan buah dari pohon kehidupan . Sedang Layangan sudah kembali kedalam ruang dimensi .
Pangeran Lingzhi hanya bisa mengusap lembut kepala Alea. Sedang Zio Sang keluar dari ruangan itu sambil membawa darah hitam yang keluar dari tubuh pemuda yang terluka tadi.
Saat keluar dari ruangan , dia bertemu dengan Ayah sang pasien. melihat apa yang di bawa oleh Zio Sang, pria paruh baya itu bertanya.
"Nak ...apa itu...?" tanya Ayah si pasien.
"Darah beracun yang keluar dari tubuh putra tuan...?" jawab Zio Sang tenang.
"Apaa...darah putraku...apakah dia sudah bisa di selamatkan nak...?" tanya sang Ayah.
"Ayah...jangan terlalu percaya pada gadis itu...mana mungkin dia mampuh mengobati Anthao , sedang tabib berpengalaman saja tidak mampu mengobatinya...." ucap Pingluh menghina.
"Nona...sejak kau datang sampai sekarang kau selalu menghina saudara kami, apa masalahmu dengan Saudara kami...setahuku kau belum pernah berjumpa dengannya...?" kata. Zio Sang dengan wajah marah.
"Aku tidak suka dengan wajah munafiknya....sok cantik , sok pintar, seperti orang kaya saja..." jawab Pingluh dengan nada meremehkan.
"Ha ha ha...kau mengatakan kalau Lea'er kami berwajah munafik...?' apa itu tak terbalik Nona... kau mengatakan Lea'er sok cantik...? memang dia cantik sekali..., kau mengatakan dia sok pintar,..? dia memang gadis jenius,.. kau mengatakan dia sok kaya...? memang dia sangat kaya...apakah kau tahu kalau dialah pemilik rumah pengobatan, restoran dan beberapa sawah luas di daerah sini...? lalu siapa dirimu...kau yang berani menghina adikku , kau yang hanya seorang putri saudagar kaya berani menghina dia... apakah kau tahu siapa dia...? Dia putri seorang Jendra besar kerajaan ini, yaitu Jendral Murong Han, Dia Putri Lea Min Han , Kau tahu Jendral Murong Han kan...?" ucap Zio Sang dengan marah.
Mendengar perkataan Zio Sang, Pingluh dan sang Ayah kaget.
"Apaa...Jendral Murong Han...?" seru mereka serempak,
"Kenapa...? apakah anak seorang Jendral masih kau anggap kurang berharga, bukankah kau tadi juga dengar kalau dia calon permaisuri kerajaan Shi yang besar itu...? atau sebenarnya kau membenci saudaraku tanpa sebab karena kau menyukai Pangeran Lingzhi...?" ucap Zio Sang sambil menatap Pingluh dengan tatapan menyelidik.
"Apa salahnya...aku juga tak kalah cantik dari dia...?" jawab gadis itu dengan pedenya. Mendengar perkataan gadis itu, Zio Sang tak bisa menahan tawanya.
"Kau membandingkan wajahmu dengan kecantikan Lea'er kami..ha ha ha..maaf tuan, apakah kau bisa menasehati putrimu ini... tolong kau beritahu kebenaran tentang wajahnya, agar dia tak merasakan rasa sakit jika aku yang mengatakan..." ucap Zio Sang sambil kembali tertawa dan pergi dari hadapan mereka.
Mendengar pembicaraan putrinya dan Zio Sang, pria paruh baya itu merasa marah dan malu, bagaimana bisa putrinya membandingkan wajahnya dengan calon permaisuri Putra Mahkota, dan dia memiliki angan- angan ingin memiliki putra Mahkota kerajaan Shi itu.
"Dasar gadis bodoh ,kau membandingkan wajahmu dengan wajah tuan putri...? kau itu gila apa nggak sadar diri.. mana bisa kecantikan yang tiada bandingnya kau bandingkan dengan wajahmu itu...kau itu putriku, tapi jika kau salah berfikir aku juga tak akan membenarkan pikiranmu yang salah itu...jangan berhayal terlalu tinggi, kau tidak sebanding dengan putri Lea Min Han..." ucap sang Ayah dengan wajah marah. gadis itu hanya bisa terdiam .
Sampai sini dulu ya...jangan lupa Like, komen dan votenya...🙏🙏
__ADS_1
Bersambung.