PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
MENYEMBUHKAN PUTRI YUAN TAN 2


__ADS_3

Alea hanya bisa terkejut mendengar perkataan Mimi. Saat mereka sedang berbincang terdengar erangan dari arah tempat tidur, mereka berempat segera mengalihkan pandangan mereka kearah pembaringan. Dan mereka melihat tuan putri Yuan Tan mulai mengerjapkan matanya. White dan Lauyan segera merubah diri mereka menjadi hewan kembali. Lauyan ada di pundak Alea, sedang White berada di pergelangan tagan Alea.


Alea dam Mimi segera mendekati tempat tidur. Mereka melihat mata putri Yuan berkedip perlahan.tak lama mata itu membuka secara perlahan. Setelah terbuka sepenuhnya, sang putri menatap sekelilingnya.


"Di mana aku...?" ucapnya pelan.


"Putri ada di kamar putri sendiri..." jawab Alea pelan .


"Siapa kau..?" tanya sang putri ketika melihat wajah tampan dan cantik berada di depannya.


"Hamba tabib Hanpey dan dia kakak hamba Mimi...?" jawab Alea sambil tersenyum manis.


"Itu berarti ...aku masih hidup...?" tanya dia keheranan .


"Benar putri...anda masih hidup, dan kini anda berada di kamar anda sendiri..." jawab Alea lagi.


"Ya dewa...jadi aku masih hidup, belum mati..." seru putri Yuan Tan gembira. Alea dan Mimi hanya tersenyum melihat kebahagiaan putri Yuan Tan. tak lama Alea berucap.


"Putri ..coba anda gerakan tangan anda perlahan..." perintah Alea pada putri Yuan Tan .


"Apakah aku bisa...?" tanyanya dengan wajah terlihat sedih.


"Pasti anda bisa cobalah..." kata Alea memberi semangat.


Dengan wajah penuh ragu putri Alea mengangkat pelan tangannya. Dan secara perlahan tangan itu terangkat keatas. Terlihat keterkejutan di wajahnya yang telah kembali memancarkan kehidupan itu.


"I..ini..ini benarkah...? Benarkah aku bisa bergerak kembali...?"seru putri Yuan dengan wajah tak percaya.


"Kalau anda belum yakin juga, cobalah menggerakkan kaki anda perlahan,..." kata Alea lagi.


"Maaf tabib...jangan memberiku harapan , jika aku tidak bisa melakukannya. Aku akan sangat kecewa..." kata putri Yuan tidak percaya diri.


"Mana mungkin anda akan tahu kalau anda sudah sembuh atau tidak , jika anda tidak mau mencobanya..." kata Alea lagi.


"Apakah aku bisa...?" kembali dia bertanya dengan wajah ragu.


"Cobalah tuan putri...hamba yakin anda bisa..." kata Alea lembut.


'Baiklah akan kucoba..." jawabnya .


Dia mulai berusaha menggerakkan kakinya perlahan, tiba- tiba dia merasakan kekuatan untuk menggerakkan kakinya. Kekuatan yang semula terasa mati kini tiba- tiba dapat ia rasakan kembali, pertama dia mencoba menggerakkan jemari kakinya. Dan , aaah dewa ....aku berhasil...teriak putri dalam hati. Lalu dia kembali mencoba menggoyangkan kaki kanannya, inipun dia berhasil...


"Tabiiib....aku berhasil...!" serunya kegirangan.


"Coba sekarang angkat perlahan kaki putri..." kata Alea kembali.


Dengan semangat putri Yuan Tan mengangkat kaki kanannya , dan itupun dia bisa. Putri Yuan terbelalak kaget.


"Tabib aku bisa melakukannya hik hik...!" serunya kembali. Kini dia menangis bahagia.


"Lo kenapa menangis putri.. ?" tanya Alea kaget begitu juga dengan Mimi yang ada di sebelah Alea.


"Aku bahagia tabib...aku sangat bahagia... Aku nggak menyangka kalau aku akan bisa bergerak kembali...!" serunya sambil menangis bahagia. Dia menatap Alea dengan derai airmata di pipinya.


"Apakah putri akan mencoba bangun...?" tanya Alea lembut.


"Aku bisa bangun...?" tanya dia dengan wajah penuh harap.


"Bukankah anda sudah bisa menggerakkan kaki dan tangan anda..?"


jawab Alea lembur.


"Baik ayo bantu aku untuk bangun...." ucapnya bersemangat.


"Tentu saja putri ayo..." ucap Alea sambil tersenyum. Saat dia akan mbantu putri Yuan bangun , tiba - tiba dia berseru pelan.


"Tunggu...kau laki- laki mana pantas membantuku..."ucapnya dan terlihat wajahnya memerah. Mendengar perkataan sang putri Alea tersenyum.


"Jangan khawatir putri...hamba wanita seperu anda juga .." jawab Alea .


"Kau wanita...?" tanya putri Yuan tak percaya.


"Benar...hamba wanita .." jawab Alea.


"Baguslah, ayo bantu aku..." pinta tuan putri Yuan Tan dengan wajah bahagia.


Alea segera membantu putri Yuan dengan mengangkat kepalanya perlahan. Alea membuat putri Yuan duduk di atas tempat tidur.


"Nach sekarang putri akan hamba lepaskan, putri harus yakin bisa..." kata Alea lembut memberi semangat.


"Baik...Trimakasih tabib..." kata putri Yuan dengan semangat. Perlahan Alea melepaskan tangannya dari tubuh tuan putri.Terlihat tubuh putri Yuan menegang.


"Santai aja putri..." kata Alea. Putri Yuan menganggukkan kepalanya, walau di dalam hatinya ketegangan itu ada. Dan diapun berhasil duduk dengan tenang. Setelah duduk agak lama terlihat wajahnya berseri gembira.


"Tabib aku bisa...?" ucapnya dengan gembira.


"Sekarang coba gerak- gerakkan kaki anda, dan kalau bisa geser kemari..." ucap Alea mengajari.


Dengan patuh putri Yuan melaksanakan perintah Alea, dia mulai menggerakkan kakinya perlahan , lalu menggesernya kearah Alea hingga kaki itu menjuntai kebawa. Terlihat senyum kegembiraan terlihat di bibir putri Yuan yang kini sudah kembali memerah.


"Apakah putri Akan mencoba berdiri...?" tanya Alea dengan menatap wajah putri Yuan.


"Tidak, tidak, jangan sekarang dulu...hati dan jiwaku masih merasakan kebahagian yang kini aku rasakan tabib.. Oh ya kalau aku boleh tahu, siapa nama tabib...?" tanya putri Yuan .


"Nama hamba Lea Min Han putri..." jawab Alea.


"Aoakah boleh aku bersahabat dengan mu...?" tanya putri Yuan penuh harap.


"Tentu saja boleh putri..." jawab Alea.


"Trimakasih Lea..." ucap putri Yuan dengan wajah haru. Terlihat air mata kembali keluar dari mata indahnya.


"Hey...jangan menangis lagi putri..." kata Alea lembut.


"Kalau kau sahabatku jangan panggil aku putri, ..panggil namaku saja .." pinta Putri Yuan .


"Baiklah kalau itu maumu...nah sekarang bolehkah hamba memberitahukan pada Raja kalau anda sudah sadar ...?" tanya Alea lembut.


"Iya...aku merindukan Ayahku..." jawab putri Yuan gembira.


"Kalau begitu hamba akan keluar dulu dan anda duduk dengan baik disini...." kata Alea sambil memberikan senyuman pada putri Yuan. Alea dan Mimi segera keluar dari ruangan itu. Ketika mereka membuka pintu kamar, ternyata beberapa orang telah berada di sana, Begitu juga Raja dan permaisuri yang berada di antara orang yang sedang menunggu kabar tentang tuan putri mereka.


"Tabib...gimana keadaan anakku...?" tanya Raja dengan wajah cemas.


"Anda bisa melihatnya sendiri baginda..." jawab Alea sambil tersenyum .


"Mendengar perkataan Alea, Raja dan permaisuri segera berjalan cepat masuk kedalam kamar putri Yuan. Ketika mereka sampai di sana, mereka melihat seorang gadis kurus sedang duduk di atas pembaringannya. Melihat semua itu, Raja dan permaisuri bagai tak percaya. Gadis kesayangan mereka kini bisa kembali duduk di atas pembaringan.


"Yuan..." seru Raja dan permaisuri bersamaan, terlihat raja dan permaisuri tertegun di pintu kamar.

__ADS_1


"Ayah...Bunda...!" seru Putri Yuan gembira. Tanpa sadar karena bahagia putri yuan berdiri dan berlari pada sang Ayah.


"Putri hati- hati...!" teriak Ayah dan Bundanya karena kaget . namun sebelum putri Yuan tersadar dari perbuatannya , Dia telah masuk dalam dekapan sang Ayah.


Melihat kejadian itu Raja dan permaisuri kaget sekaligus bahagia.


"Nak..kau bisa berdiri dan berjalan...?" seru sang Raja kaget.


Mendengar perkataan Raja Tan , putri Yuan baru menyadari kalau dia berlari memeluk sang Ayah. Dia kaget juga bahagia.


"Ayah...aku bisa berjalan...?" seru putri Yuan dengan wajah kaget dan bahagia.


"Jadi kau tidak menyadari itu...?" tanya sang Ayah.


"Tidak Ayah...hamba tadi hanya mencoba untuk bergerak dan bangun dari tempat tidur..." jawab putri Yuan .


"Ya dewa...putriku telah sembuh..." seru Raja Tan dengan air mata mengalir di pipinya. Dan dia memeluk erat putri kesayangannya itu . Begitu juga dengan Permaisuri , sudah sejak tadi ketika melihat putri Yuan bisa bangun, air mata di pipinya deras mengalir.


"Yang Mulia , putri kita telah sembuh.. putri kita bisa bangun dan berjalan lagi hik..hik..." ucapnya sambil terisak - isak.


"Benar permaisuri...putri kita telah sembuh...dia sudah bisa kembali berjalan dan berlari..." jawab Raja Tan dengan bahagia. Setelah cukup lama saling berpelukan, Raja Tan mendudukkan sang putri di atas pembaringan kembali.


"Kau harus banyak istirahat dulu nak, kau baru sembuh dari penyakitmu, tubuhmu masih terlalu lemah..." nasehat sang Raja.


"Benar putri...kau masih harus banyak istirahat, kami tak ingin terjadi sesuatu padamu lagi..." kata permaisuri.


"Kan ada tabib Lea..." ucap putri Yuan .


"Tabib Lea...?" tanya raja tak mengerti.


"Tabib Lea yang mana...? Bukankah kau di sembuhkan oleh tabib Hanpey...?" tanya permaisuri heran.


"Apakah Ayah dan Bunda belum tahu kalau dia wanita...?" kata putri Yuan sambil tertawa. Melihat sang putri tertawa dengan gembira, Raja dan permaisuri saling pandang dan terlihat wajah kegembiraan di sana.


Mereka terfokus pada tawa sang putri,


"Ayah...Bunda...." tegur sang putri.


"Ah.iya.. Apa yang kau katakan tadi putri...?" tanya raja Setelah mendengar teguran dari putri Yuan Tan .


"Ayah...jadi Ayah dan Bunda tidak mendengar omonganku tadi...?" Ucap putri Yuan sambil cemberut.


"Maaf...Ayah dan Bunda terharu karena Ayah dan Bunda bisa melihat tawamu lagi..." kata Raja dengan wajah bahagia.


"Aku berkata kalau tabib Hanpey itu wanita, dan dia bernama Lea Ayah..." kata putri Yuan Tan kesal.


"Apaa...wanita...? Dia seorang wanita..?" kata Raja dengan nada terkejut.


"Iya Ayah... Dia seorang wanita yang cantik, dan dia kini sahabatku Ayah..." kata putri Yuan Tan dengan wajah bahagia.


"Jadi dia seorang wanita, dan kini kalian sudah bersahabat....?" tanya Raja lagi.


"Benar Ayah, kami sudah bersahabat.." jawab putri Yuan bahagia.


"Baiklah nak...sekarang kau harus istirahat dulu , bukankah kau baru saja bangun dari tidurmu..." kata Raja dengan kasih sayang.


"Baiklah Ayah, Yuan akan istirahat dulu..." kata putri Yuan Tan dengan bahagia.


"Kalau begitu Ayah tinggal dulu, kau istirahat yang banyak, nanti Ayah dan bunda akan datang kembali..." kata Raja Tan sambil membaringkan putrinya di ranjangnya kembali. Setelah mencium lembut dahi sang putri , Raja segera keluar dari kamar putri Yuan Tan, begitu juga dengan sang Permaisuri, setelah mencium dahi dan pipi sang putri dia segera mengikuti Raja keluar dari kamar putrinya. ketika sampai di depan pintu , Raja bertemu dengan tuan Borong dan Hanpey serta Mimi yang sudah menunggu sang Raja di depan kamar tuan putri.


"Borong...kau di sini...?" tanya Raja kaget.


"Ha ha ha... bukan hanya siuman Borong.. dia juga sudah bisa berjalan.. kau ternyata telah membawakan tabib yang benar - benar jenius, trimakasih telah membawakan tabib Hanpey kemari , Dan kau gadis muda, mengapa kau menyembunyikan identitasmu...?" tanya sang Raja sambil menatap Alea.


Tentu saja Alea dan tuan Borong kaget ketika mendengar omongan Raja Tan.


"Putriku telah mengatakan semuanya, dia juga mengatakan kalau kalian bersahabat..." kata sang Raja tahu akan keterkejutan Alea saat mendengar perkataannya.


"Maaf Yang Mulia... semua itu hamba lakukan untuk melindungi hamba yang Mulia..." jawab Alea dengan wajah menunduk.


"Kau memang berbeda dengan wanita muda lainnya Hanpey... " kata Raja Tan dengan senyum bijaksana. Alea merasa lega atas sambutan Raja Tan saat dia tahu kalau Alea seorang wanita . setelah itu dia menatap pada tuan Borong. dan tuan Borong tahu akan maksud Alea yang menatap padanya. sebab sebelum Raja dan permaisuri keluar dari kamar tuan Putri, Mereka telah bersepakat untuk mengatakan tentang sakit yang Putri Yuan derita selama ini . setelah melihat tatapan Alea padanya yang seolah berkata tuan tolong bilang sekarang pada Raja, tuan Borong segera berkata.


"Maaf yang Mulia..Nona Lea ingin membicarakan tentang penyakit tuan Putri Yuan Tan...karena ini sangat rahasia bolehkah kita membicarakan ini di ruang kerja yang Mulia ..." kata tuan Borong dengan halus.


"Baiklah ayo..." ajak Raja Tan Pada Alea dan tuan Borong.


"Kak...kau tetap di sini menjaga tuan Putri Yuan..." kata Alea pada Mimi.


"Gege Lauyan...apakah kau bisa menemani kak Mimi...aku takut jika mereka mendengar Putri Yuan sembuh, mereka akan berusaha menyakitinya lagi..." kata Alea pada Lauyan yang ada di pundaknya.


"Baik Lea'er..." jawab Lauyan.


Lauyan segera terbang dan hinggap di pundak Mimi.


Akhirnya Alea dan Raja serta permaisuri pergi ke ruang kerja sang Raja.


ketika sampai di sana, Raja segera menyuruh para penjaga untuk menghalangi siapapun yang akan masuk ke ruang kerjanya . Setelah itu mereka berempat masuk kedalam ruang kerja Raja.


"Duduklah kalian..." ucap Raja pada Alea dan tuan Borong .


Alea dan tuan Borong segera duduk di depan sang Raja yang duduk bersebelahan dengan permaisuri di kursi panjang.


"Nach sekarang coba kau jelaskan penyakit putriku...?" tanya Raja sambil menatap Alea.


"Putri terkena Racun yang mulia..." jawab Alea pelan. dengan jatuhnya kalimat Alea, terlihat Raja dan permaisuri melonjak kaget.


"Apaaa....!" seru Raja Tan dan Permaisuri hampir bersamaan, malah Raja Tan sampai berdiri karena terlalu kaget.


'Nak...jangan mengada- ada...sudah banyak tabib yang memeriksa putriku, tapi mereka tidak bisa mengetahui penyakit putriku, jika memang Putri Yuan terkena racun, kenapa mereka tidak bisa mengetahuinya..." kata sang Raja dengan wajah kesal dan kaget.


"Yang Mulia, ingat...hamba lah yang memeriksa dan mengobati Yuan putri, bagaimana hamba harus mengada - ada penyakit yang tuan putri derita...? bukankah tidak ada gunanya hamba melajukan itu...?" kata Alea sedikit kesal. Mendengar perkataan Alea sang Raja tersadar dengan ucapannya.


"Bukan, bukan begitu tabib...aku hanya tidak menyangka kalau ada yang begitu berani meracuni putri yang aku sayangi.." ucap Raja kembali.


"Keirian dan kedengkian seseorang bisa membuat seseorang nekad berbuat jahat yang mulia, tak perduli siapa dia, kalau sudah penyakit itu menyerang hati manusia, apapun akan dia lakukan demi kepuasan hati mereka..." jawab Alea tenang. sang Raja terdiam saat mendengar perkataan Alea.


"Lalu bagaimana mereka bisa meracuni putriku di depan mataku, dan kenapa dia harus menderita seperti itu..." kata Raja Tan dengan wajah bingung.


"Yang Hamba tahu kalau si pelaku meracuni tuan putri mungkin sudah lama sekali , sebab racun yang menyerang tuan putri, kalau hanya sedikit tidak akan mengalami gangguan apapun atau tidak akan membuat si korban jatuh, tapi tuan putri bukan hanya sekali, sepertinya dia sudah di beri racun sedikit demi sedikit, dan ketika racun itu menumpuk di dalam tubuhnya. akhirnya sang putri jatuh . racun di dalam tubuh sang putri bukan hanya satu macam racun, tapi ada tiga jenis racun yang menyerang tubuhnya, ketiga racun itu tidak bersamaan saat masuk kedalam tubuh sang putri(akhirnya Alea menjelaskan tiga racun yang ada di tubuh tuan putri seperti yang dia katakan pada tuan Borong) dan maaf yang mulia, hamba yakin kalau si pelaku pemberi racun itu ada di sekitar tuan putri Yuan Tan..." ucap Alea dengan wajah tenang.


"Maksud tabib si pelaku ada di dalam kerajaan Amora ini..?" tanya Raja Tan tak percaya.


"Benar yang Mulia...kalau bukan orang dalam , mana mungkin mereka bisa memasukkan racun itu ketubuh putri Yuan..." jawab Alea.


"Bedebah...! siapa yang berani melakukan itu pada putriku,..." seru Raja marah.


"Tabib...kenapa mereka mesti menyiksa putriku dengan memberi racun seperti itu, kenapa mereka tidak membunuhnya saja...?" tanya permaisuri.


"Karena mereka takut ketahuan yang Mulia, kalau mereka secara langsung menyerang tuan putri, maka mereka akan langsung berhadapan dengan sang baginda Raja, namun dengan cara seperti ini , bukankah anda semua tidak tahu kalau tuan putri terkena racun, dan yang hamba tahu, mereka sudah tidak sabar melihat kematian putri Yuan Tan, karena pada racun yang terakhir , mereka memberikan racun yang sangat ganas, untunglah hamba masih mampuh mengatasinya..."jawab Alea.

__ADS_1


"Biadab ...!punya salah apa putriku pada mereka hingga mereka tega berbuat seperti ini...!" teriak Raja Marah.


"Yang Mulia..hamba sudah menyelidiki masalah ini setelah Putri Lea meminta pada hamba..." kata tuan Borong menyela.


"Jadi kau sudah tahu lebih dulu Borong..?" tanya sang Raja yang terlihat sangat marah.


"Hamba mengetahui setelah tabib Lea menemukan racun itu.." jawab tuan Borong.


"Lalu kenapa tidak kau katakan padaku..?" tanya sang Raja.


"Hamba yang memintanya yang Mulia, maafkan kami..kami takut jika kami mengatakan pada yang Mulia, takut si pelaku tahu dan dia akan menghilangkan barang bukti dan dia lebih waspada. ..." kata Alea menyela pembicaraan Raja dan tuan Borong. Terlihat wajah Raja Tan merah menahan kemarahan. Dia menghela nafas panjang.


"Baiklah kalau memang ini demi penyelidikan dan demi kebaikan putriku. aku memaafkanmu Borong, tapi tolong jangan kau ulangi lagi, karena ini menyangkut keluargaku, dan sekarang kuminta kau menemukan pelakunya siapapun dia. ..." kata sang Raja.


"Hamba akan segera menemukan sang pelaku yang mulia. ..." kata tuan Borong tegas.


"Baginda...maaf bagaimana kalau si pelaku adalah salah satu dari Selir anda.." tanya Alea pelan.


"Apaa..Selirku...?" tanya Raja dengan wajah kaget.


"Hamba mengatakan jika yang Mulia..." kata Alea menyangkal.


"Kau sama saja dengan menuduh nak.." bisik tuan Borong.


"Benarkah...? dan apakah hamba bisa mendapatkan hukuman...?" tanya Alea Bodoh.


"Kalau begitu bisakah hamba meminta maaf..." tanya Alea polos.


"Kau ini anak jenius, tapi kau juga anak yang sangat polos nak...?" kata sang Raja dengan wajah terlihat sangat kagum pada Alea.


"Nona Lea..siapa sebenarnya kau ini, siapa nama kedua orang tuamu, aku nggak bisa membayangkan betapa bangganya kedua orang tuamu melihat kejeniusanmu..." kata Raja Tan dengan wajah penuh kekaguman yang tak dia sembunyikan.


"Hamba putri Lea Min Han Putri dari Jendral Murong Han dari kerajinan Long , namun sekarang hamba telah menjadi murid dari perguruan Calang di kerajaan SHi yang mulia..." jawab Alea dengan sopan.


"Pantas kau begitu sopan dan sangat cerdas, aku akan menjawab pertanyaanmu tadi, walaupun dia Selirku sendiri atau permaisuriku , tapi perbuatannya sangat keterlaluan dan tidak memiliki hati nurani, maka diapun akan mendapatkan hukuman yang setimpal. ..." jawab sang Raja sambil tersenyum pada Alea.


"Trimakasih yang Mulia... oh ya hamba hampir lupa, ini pil terakhir yang harus di minum putri Yuan Tan, ini hamba serahkan pada yang mulia permaisuri, sebab tiga hari lagi hamba akan menghadapi pertemuan antar cabang, mungkin hamba tidak bisa lagi bertemu dengan tuan putri Yuan Tan, maafkan hamba yang Mulia... pil ini di minum besok pagi setelah selesai makan, jadi sampaikan salam saya untuk putri YuanTan,..." kata Alea sambil memberikan pil penawar racun dan pil penyembuh.


"Nak...apakah kau tidak ingin bertemu dengan putri Yuan lagi...?" tanya permaisuri dengan wajah sedih, sebab dia tahu , dari ucapan sang putri, terlihat kalau putrinya sangat mengagumi gadis yang ada di depannya ini.


"Maaf yang Mulia, hamba sudah tiga hari lebih belum kembali kepenginapan hamba takut guru hamba akan khawatir pada hamba..." jawab Alea menolak secara halus.


"Tabib Lea..kami belum memberikan hadiah yang sesuai dengan pertolongan mu pada kami, kau ingin minta apa pada kami...?" tanya Raja Tan dengan wajah senang.


"Maaf yang Mulia...bukannya hamba menolak hadiah dari anda. tapi hamba telah menganggap putri Yuan sebagai adik hamba sendiri, jadi hamba mohon janganlah hamba di minta untuk meminta imbalan pertolongan hamba pada putri Yuan, jadi maafkan hamba..." tolak Alea.


"Ha ha ha...ternyata kau gadis yang sangat baik nak... apakah kau mau jadi menantuku, istri dari salah satu putraku..?" tanya Raja Tan tiba- tiba.


"Maaf yang mulia...dia adalah putri Mahkota kerajaan Shi, dia adalah calon istri dari putra Mahkota Lingzhi..." tuan Mu Borong memotong percakapan Alea dan Raja.


'Apaaa...dia putri Mahkota...!" seru Raja dan permaisuri bersamaan.


"Benar yang Mulia..." jawab tuan Borong cepat.


"Kenapa kau tidak mengatakan pada kami...?" tanya sang Raja kaget.


"Putri yang tidak menginginkan..." jawab tuan Borong pelan.


"Hamba datang sebagai tabib bukan sebagai putri Mahkota yang Mulia.


"Ck, ck, ck...kau memang gadis spesial putri Mahkota Lea..." puji Raja Tan.


"Trimakasih yang Mulia..." ucap Alea sopan.


"Akulah yang seharusnya berterimakasih padamu nak..." kata Raja Tan dengan wajah haru. Alea tersenyum tulus mendengar ucapan Raja Tan.


" Kalau tidak ada masalah lagi hamba mohon diri yang Mulia, sebab selama tiga hari ini, kakak dan hamba belum tidur sama sekali..." kata Alea dengan wajah lucu menggemaskan.


"Kau ini...kenapa tidak tidur di sini saja..?" tanya sang Raja.


"Hamba tidak bisa tidur di tempat asing yang Mulia..." kata Alea beralasan.


"Kau ini...lalu apa bedanya di sini dan di penginapan....?" tanya Permaisuri sambil tersenyum.


"Beda yang Mulia..kalau di penginapan tersera hamba mau bangun kapan saja, tapi kalau di sini, hamba akan malu bila bangun kesiangan..." jawab Alea dengan wajah polosnya. tentu saja Raja dan Permaisuri tertawa, begitu juga dengan tuan Borong yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Ya sudah kalua kau ingin kembali kepenginapan aku persilahkan, namun sebelumnya kuberikan ini sebagai tanda Terimakasih padamu..." kata Raja Tan sambil memberikan giok lambang kerajaan Amora. melihat hadiah itu, Alea kaget.bukan main , begitupun dengan tuan Borong, karena giok itu melambangkan keluarga kerajaan Amora. pemilik giok itu adalah para putra dan putri Raja penguasa kerajaan Amora.


"Baginda...barang ini terlalu berharga bagi hamba ...mana mungkin hamba menerimanya yang mulia..." seru Alea kaget.


"Nak...aku memberikan ini dengan tulus, karena kau telah menolong putriku dengan tulus pula. jadi jangan kau tolak pemberianku ini , karena kau sudah kuanggap sebagai putriku juga, kakak dari putriku Yuan Tan..." kata Raja dengan wajah tegas.


"Ambilah putriku...kau kini juga putri kami..." kata permaisuri menyambung perkataan Raja Tan.


"Putri Lea...kau tidak bisa menolak pemberian Raja kami nak..." ucap tuan Borong dengan senyum kebahagiaan. di matanya.


Akhirnya dengan terpaksa Alea menerima giok lambang kerajaan Amora itu . setelah menerima giok itu Alea segera memberi hormat pada Raja dan permaisuri sebagai penghormatan seorang anak pada kedua orang tuanya.


"Trimakasih yang Mulia..." ucap Alea.


"Bangunlah putriku, kau juga bisa memanggil kami Ayah dan Bunda..." ucap Raja Tan kembali.


"Hamba mengerti Ayah..." ucap Alea lembut.


"Sekarang kembalilah ke penginapanmu, mainlah kemari kalau ada waktu..." kata Raja Tan kembali .


"Hamba usahakan Ayah.." ucap Alea . setelah itu dia segera keluar dari ruang kerja Raja Tan . tuan Borong juga ikut keluar. ketika sampai di luar tuan Borong berkata.


"Putri...ada yang ingin aku tanyakan pada anda...?" kata tuan Borong sambil menjajarkan jalannya dengan Alea.


"Soal selir...?" tanya Alea langsung.


"Anda sudah tahu...?" tanya tuan Borong kaget.


" Ini ada hadiah untuk anda..." jawab Alea. Dia memberikan kotak yang dia ambil dari cincin ruangnya.


"Apa ini...?" tanya tuan Borong Heran.


"Bukti pembelian racun dan surat Selir Rhong Ai pada seseorang untuk mencarikan racun itu, dan orang itu sekarang sudah berada di rumah anda.." kata Alea mengagetkan tuan Borong.


"apaa...selir Rhong Ai...?" tanya tuan Borong tak percaya.


"Itulah hasil penyelidikanku, anda tinggal melanjutkannya..." jawab Alea tenang. Barang itu pemberian Eagle dan Xiao Bai yang telah pergi menyelidiki masalah keracunan putri Yuan Tan.


Tuan Borong menatap Alea tak percaya.


gadis ini...begitu cerdik dan pandai sekali, tak heran jika banyak orang menyayangi gadis ini. batin tuan Borong.


Maaf sampai di sini dulu ya ceritanya, kita lanjut lagi besok. jangan lupa like vote dan komennya author tunggu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2