PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
MENGHADAP RAJA.


__ADS_3

Yinhan segera memeluk tubuh Alea dengan sayang.


'Kau semakin cantik Lea'er..." puji Putri Yinhan setelah melepas pelukannya.


'Kau semakin pandai memuji Jie jie..." kata Alea sambil tersenyum .


"Kau ini..." ucap putri Yinhan gemas sambil mencubit hidung Alea.


"Hey tampan....apa kabarmu sayang...?" seru Alea gembira saat melihat putra pertama Putri Yinhan .


"Jie jie...boleh aku gendong...?" pinta Alea dengan gembira .


"Tentu saja sayang...dia juga sudah merindukan dewi penyelamat dia..." kata putri Yinhan sambil memberikan Pangeran Jia Ju yang kini sudah semakin besar.


"Kenapa kau semakin tampan ha...? kelak kau pasti akan membuat para gadis jatuh bangun melihatmu sayang...?"ucap Alea sambil menciumi pipi montok sang pangeran kecil.


"Lea'er...kau menginap kan...?" tanya putri Yinhan sambil menatap Alea.


"Tidak Jie jie... Kami masih banyak tugas yang harus kami selesaikan..." jawab Alea.


"Kami...? Maksudmu kau kesini tidak sendiri...?" tanya putri Yinhan .


"Iya..sebenarnya tadi Lea sedang mengobati orang jie jie.." jawab Alea .


"Kau sedang menolong orang sakit...?" tanya Yinhan sambil memandang Alea serius.


"Iya Jie...putra perdana mentri Heng..." jawab Alea .


"Perdana mentri Heng..." seru Permaisuri dan putri Yinhan bersamaan.


"Iya...putra pertamanya, kak Sauki..." jawab Alea cuek.


"Dan hasilnya...?" tanya putri Yinhan dengan wajah tegang.


"Ya...syukurlah beliau sembuh..." jawab Alea tenang.


'Lea'...apa benar itu..." tanya putri Yinhan tak percaya.


"Hmm..." angguk Alea dengan wajah polosnya.


"Nak....apa benar kau telah menyembuhkan putra perdana Mentri yang telah lama lumpuh itu...?" tanya permaisuri juga tak percaya.


"Benar yang mulia, dia sekarang sudah sembuh, tapi dia harus tetap banyak istirahat dan berkultivasi agar kekuatannya kembali..." jawab Alea dengan tenang.


"Dan dia juga telah memenangkan hati mereka semua Bunda...kini dia menjadi putri angkat mereka, dan apakah Bunda tahu...dia juga telah menerima gelang giok leluhur mereka..." tiba- tiba putra Mahkota telah berdiri di belakang Alea yang sedang menggendong pangeran Jia Ju.


"Apa maksudmu putra Mahkota...?" tanya permaisuri dengan wajah serius.


"Lihatlah di tangannya bunda...dia adakah orang yang telah di pilih oleh gelang giok milik leluhur dari perdana mentri Heng, dan otomatis dia menjadi putri angkat perdana Mentri Bunda..." jawab pangeran Lungzhi panjang lebar.


Putri Yinhan dan permaisuri langsung menatap pergelangan tangan Alea, terlihat gelang putih kehijauan yang terlihat melingkar dengan indah di tangan Alea .gelang itu terlihat pas di tangan Alea tidak kekecilan juga tidak kebesaran.


"Bukankah itu gelang turun - temurun dari keluarga Heng..." ucap permaisuri. yang juga mengetahui rahasia gelang giok keluarga Mentri Heng .


"Benar Bunda...gelang ini gelang leluhur mereka. Gelang ini lambang keluarga Heng..." kata pangeran Lingzhi kembali.


"Ya dewa...apakah mereka tahu siapa Hanpey...?" tanya Permaisuri.


"Sudah Bunda...karena itu mereka ingin menjadikan calon menantu Bunda untuk istri putra mereka...." kata pangeran Lingzhi dengan nada kesal.


"Pangeran...." seru Alea merasa malu.


"Lalu..." tanya permaisuri penasaran.


"Mana boleh orang lain mengambil calon istriku,..Aku tak akan pernah membiarkan siapapun mengambil dia dariku..." ucap Pangeran Lingzhi sambil memeluk Alea yang sedang menggendong pangeran Jia Ju dari belakang dengan posesifnya .


"Pangeran...!' seru Alea kaget. namun pangeran Lingzhi semakin memeluknya.


"Pangeran tolong lepaskan, ada permaisuri di sini , jangan seperti ini pangeran..." ucap Alea pelan. Terlihat muka Alea memerah karena malu .


"Apakah kalau Bunda tidak ada aku boleh Memelukmu...?" goda Pangeran Lingzhi.


"Pangeran...." seru Alea kesal dan malu.


"Putraku...jangan kau goda lagi calon menantuku itu , lepaskan dia..." ucap permaisuri sambil tersenyum bahagia. Sebab dia memang mengharapkan gadis jenius ini menjadi menantunya.


Apalagi dia melihat putra dinginnya menginginkan gadis ini.


"Baik aku akan melepaskan pelukanku kalau kau berjanji akan ikut aku keruang pertemuan dengan memakai baju wanita, bukan sebagai tabib Hanpey, tapi sebagai putri Lea..." ucap Pangeran Lingzhi dengan senyum menggodanya.


"Ya ampuun...maunya apa sich dia... kenapa juga aku harus memakai baju wanita, dan darimana aku mendapatkan baju itu..." teriak Alea gemas dalam hati.


"Untuk apa hamba harus seperti itu pangeran...bukankah mereka sudah tahu hamba tabib Hanpey... lagian dari mana baju wanita buat hamba pakai.." jawab Alea berusaha menolak.


"Untuk menunjukkan kalau kau putri Lea adalah milikku..." kata pangeran Lingzhi dengan tenang.


"Kalau hamba tidak mau...?"tantang Alea.


"Tak akan ku lepaskan...." jawab pangeran Lingzhi tenang.


Alea menatap putri Yinhan dan permaisuri yang menatap mereka denga. senyum di bibir mereka.


"Ck...dasar pemaksa...baiklah hamba akan ikut pangeran dengan memakai baju wanita, tapi tolong lepaskan dulu tangan pangeran di tubuh hamba..." kata Alea dengan kesal. Namun tak urung Alea merasakan debaran lembut dan perasaan hangat di dalam hatinya.


"Trimakasih sayang...." ucap Pangeran Lingzhi sambil mencium sekilas pipi Alea. Dan akibatnya Alea membeku seketika ketika bibir pangeran Linzhi mendarat lembut di pipi putihnya. Terlibat semburat merah di wajah Alea.


Bukan hanya Alea yang kaget, tapi putri Yinhan dan permaisuri kaget bukan kepalang saat mereka melihat pangeran Lingzhi yang terkenal dingin hingga hampir beku berani mencium wanita di depan mereka. Ketika permaisuri tersadar dia melihat wajah Alea yang memerah.

__ADS_1


"Pangeran...berani sekali kau mencium gadis di depan Bunda. Kau harus mendapatkan hukuman, kau ku hukum agar kau cepat memutuskan untuk bertunangan dengan putri Lea..." ucap permaisuri dengan nada pura- pura marah.


"Hamba siap Bunda..." jawab pangeran Lingzhi cepat.


"Tapi yang mulia Permaisuri..." ucap Alea cepat.


"Stop...kau tidak bisa mengelak dari hukuman ini putri Lea..." ucap permaisuri datar. Mendengar perkataan permaisuri , Alea hanya bisa berpasrah diri .


"Baiklah...tapi dengan satu syarat , pernikahannya jangan terlalu cepat... Hamba masih ada urusan yang belum hamba selesaikan...." ucap Alea dengan pasrah.


"Trimakasih sayang....aku akan mengikuti semua permintaan dan perintahmu ..." janji pangeran Lingzhi.


"Jangan ucapkan itu pangeran...hamba tak ingin menekan anda, hanya satu permintaan hamba, hamba tak ingin berbagi cinta dengan wanita lain, jika itu terjadi lebih baik hamba pergi dari kehidupan pangeran, hanya itu permintaan hamba..." ucap Alea tegas.


"Jangan takut sayang... Akupun tak ingin membagi cintaku dengan gadis manapun, hanya satu dirimu yang akan selalu berada di sisiku, aku janjikan itu padamu, kakak dam bunda yang akan jadi saksi janjiku itu..." ucap pangeran Lingzhi dengan tegas .


Mendengar ucapan pangeran Lingzhi , putri Yinhan dan permaisuri terlihat kaget. Itu berarti pangeran Lingzhi tidak akan mengambil seorang selir di kerajaannya nanti. Namun kemudian terlihat senyum bahagia di wajah mereka, siapapun akan rela menjanjikan janji itu pada gadis seperti Alea. Mereka bahagia melihat Alea mau menerima pangeran Lingzhi yang dingin dan jutek itu.


Tapi mereka juga bisa melihat kalau pangeran Lingzhi akan kehilangan sifat dingin dan juteknya jika berada di dekat putri Lea.


"Baiklah kalau begitu sekarang cepatlah kau ganti baju sayang, agar kau bisa pergi keruang pertemuan dengan putra Mahkota, dan kau Han'er...bantu putri Lea berdandan..." ucap permaisuri dengan bahagia.


"Hamba yang Mulia..." ucap Alea sambil tersenyum.


"Baik Bunda..." jawab putri Yinhan.


Alea segera memberikan pangeran Jia Ju yang sudah tidur pada pengasuhnya .


"Lea'er...Mulai sekarang kau harus merubah panggilanmu padaku. Kini kau panggil aku Bunda seperti calon suamimu itu..." ucap permaisuri pada Alea.


" Hamba mengerti Bunda..." jawab Alea.


"Bagus...sekarang pergilah Bunda sangat senang kau akan menjadi putri bunda..." kata permaisuri sambil mengusap kepala Alea yang memberi hormat padanya. Alea segera berjalan mengikuti putri Yinhan.


'Sayang..tunggu..."seru pangeran Lingzhi sambil berjalan mendekati Alea .


"Pakailah baju yang aku belikan ini..." ucapnya sambil menyerahkan sebuah bingkisan yang memang sudah dia siapkan sejak tadi.


"Pangeran...kenapa harus memanggil sayang sich...?" ucap Alea pelan.


"Itu keharusan Lea'er..." jawab pangeran Lingzhi dengan tatapan menggoda .


"Emang harus seperti itu...?" tanya Alea bodoh. Memang di jaman modern pun Alea tidak pernah berfikir untuk berpacaran, karena dia fikir kasih sayang dari keluarga besarnya sudah cukup bagi dia.


"Harus....agar semua orang tahu kau itu milikku, wanitaku gadis yang sangat aku cintai..." ucap pangeran Lingzhi mulai pandai bermulut manis .


Putri Yinhan mendengar omongan pangeran Lingzhi menganga tak percaya. Namun dia cepat sadar kalau sang adik pasti sudah di tunggu di ruang pertemuan. Akhirnya dia terpaksa menarik Alea kedalam salah satu kamar yang ada di istana nya sang Bunda.


Setelah Alea berada di dalam kamar beberapa waktu lamanya. Perlahan pintu kamar itu terbuka. Terlihat putri Yinhan keluar dari kamar itu.


"Jie jie..Dimana Lea'er....?" tanya pangeran Lingzhi yang sudah sejak tadi menunggu di depan pintu.


"Putra Mahkota kenapa tercengang seperti itu...?" goda putri Yinhan. yang tahu kalau pangeran Lingzhi terpukau dengan kecantikan putri Alea.


Namun pangeran tetap diam menatap Alea denga wajah bengongnya.


"Pangeran ...." sapa Alea.


"Adik...kenapa diam...apakah kau tak


akan membawa putri Lea ketempat Ayahanda...?" goda putri Yinhan sambil menepuk pelan bahu sang adik.


"A..a..ada apa kak..." gagap sang pangeran . sedang putri Yinhan tertawa keras.


"Apa pangeran urung membawa hamba ke ruang pertemuan...?" tanya Alea pura- pura kesal.


"Siapa bilang... Ayo kita pergi sekarang.." ajak pangeran Lingzhi untuk menutupi rasa malunya.dia segera menarik tangan Alea dan membawa dia keluar dari istana sang bunda setelah berpamitan dengan permaisuri.


Permaisuri hanya tersenyum bahagia melihat sang putra terlihat sangat bahagia.


"Putra Mahkota semoga lancar jalanmu untuk mendapatkan kebahagiaanmu..." doa sang permaisuri.


Sedang pangeran Lingzhi membawa Alea menuju ruang pertemuan dengan penuh kebahagiaan. Dia memegang erat tangan mungil yang ada di genggamannya.


"Lea'er...lihatlah pangeranmu , apa kau tak merasa kasihan jika genggaman tangannya kau lepaskan...?" ucap Lauyan dari ruang dimensi.


"Benar Lea'er....kasihan dia...lihatlah betapa bahagianya dia ketika kau mau menerima cintanya walau dia tahu kau masih belum sepenuhnya mencintai dia.." ucap White menambahkan.


"Bisa kan kau belajar untuk mencintai dia ...? aku merasakan kalau cintanya tulus padamu Lea'er..." terdengar Eagle juga memberi nasehat.


"Hey...kenapa kalian menyerangku bersama..." seru Alea kaget ketika mendengar nasehat para gege hewan kontraknya.


"Demi kebaikanmu sayang..." jawab Lauyan.


"Tapi aku tidak ingin dia memiliki seorang selir...dan kalian tahu kan kehidupan seorang Raja...?" bantah Alea.


"Tak semua Raja seperti itu Lea'er...kau tahu kami semua juga seorang Raja , bukankah kami tidak memiliki sifat seperti itu...?" ucap Xiao Bai yang sejak tadi diam.


"Baiklah, Baiklah... karena kalian mendukung sang pangeran, aku akan berusaha mencintainya dengan tulus, tapi ingat jika dia berkeinginan untuk membagi cintanya , jangan halangi aku untuk pergi dari dia...?" kata Alea dengan tegas.


"Baik...tapi sebelum kau pergi karena ada masalah di antara kalian , biarkan kami menyelidiki dulu masalahnya, jika itu suatu kebenaran kami akan mendukungmu, meskipun apa yang terjadi kami sebagai mahluk kontrakmu akan selalu mendukungmu..." jawab Eagle lembut .


"Lea'er...kenapa kau diam saja...?" tanya pangeran Lingzhi yang melihat Alea diam saja semenjak berjalan keluar dari istana sang Bunda.


"Apakah kau merasa tertekan dengan hubungan ini...?" tanya Pangeran Lingzhi dengan wajah sedih. melihat wajah pangeran Lingzhi , Alea tidak tega.


"ist...siapa yang bilang hamba tertekan... hamba sedang resah menghadapi mereka tahu..." ucap Alea sedikit berbohong demi perasaan pangeran Lingzhi .

__ADS_1


"Benarkah...itu berarti kau memberi kesempatan padaku untuk menunjukkan cintaku...?" terlihat nada kegembiraan di ucapan dan wajah sang pangeran.


"Jika tidak, apakah hamba mau di ajak kedepan Raja dan para pembesar kerajaan ..." jawab Alea sambil tersenyum. Ada rasa hangat masuk kedalam hati Alea saat melihat sang pangeran gembira.


"Trimakasih sayang....aku akan menunjukkan keseriusan cintaku ini padamu ..." ucap Pangeran Lingzhi dengan wajah serius dan binar kebahagiaan.


"Ck...sejak kapan anda menjadi orang yang suka merayu seperti ini...atau ini memang keahlian anda baginda ...?" ucap Alea sambil cemberut.


"Tidak...aku tidak pernah berhubungan atau dekat dengan wanita mana pun... mana mungkin aku bisa merayu wanita, aku pandai merayu setelah bertemu denganmu sayang..." jawab pangeran Lingzhi sambil mencubit pelan hidung Alea dengan gemas. Dan tanpa terasa mereka sudah sampai di depan ruang pertemuan.


kasim Su kaget ketika dia melihat pangeran Lingzhi kembali dengan menggandeng seorang gadis yang terlihat sangat cantik dan anggun.


"Kasim Su mengapa bengong...ayo sampaikan pada Raja kalau aku telah datang..." kata pangeran Lingzhi mengingatkan kasih Su yang masih bengong melihat mereka berdua.


"Ma..Maaf pangeran..." ucap Kasim Su gugup.


"Ayo..." perintah pangeran Lingzhi lagi.


"Baik, Yang Mulia...pangeran Lingzhi telah tiba....!" terdengar suara kasim Su


berteriak lantang . setelah itu pangeran Lingzhi segera membawa putri Alea masuk kedalam ruang pertemuan.


Saat Alea dan Pangeran Lingzhi masuk terdengar kegaduhan di dalam ruangan itu. mereka tak percaya kalau pangeran Lingzhi benar- benar membawa seorang gadis kedepan mereka. apalagi gadis yang pangeran bawa adalah gadis tercantik yang pernah mereka lihat.


"Ya ampuun...ternyata pangeran benar- benar memiliki seorang kekasih..." seru salah satu pejabat yang ada di sana.


"Ck..itu belum tentu kebenaran...bisa saja dia gadis yang pangeran bayar agar mau bersandiwara dengannya..." jawab Mentri yang memiliki niatan untuk menjadikan putrinya permaisuri atau paling tidak selir putra Mahkota.


"Tuan...apakah kau tidak bisa melihat pandangan pangeran Lingzhi pada gadis itu...dan mana ada gadis secantik dan seanggun itu gadis bayaran...?" tanya sang teman bicara mengejek. Dia terdiam mendengar kata- kata Mentri yang ada di sebelahnya. dan banyak lagi ucapan yang bisa di dengar oleh Mentri keamanan Coiran yang membuat Dia merasakan sesak di dalam dadanya.


"Salam sejahtera bagi Raja semoga di berkahi hidup lama..." ucap pangeran Lingzhi dan Alea bersamaan.


"Salam kalian aku terima , sekarang silahkan kalian duduk..." ucap Raja Rong berwibawa.


"Hamba yang Mulia..." Jawab Alea dan pangeran Lingzhi kembali . mereka segera duduk di kursi yang kosong.


"Pangeran siapa dia,...apakah dia calon Putri Mahkota....?" tanya Raja dengan menatap tajam kedua anak muda di hadapan nya.


"Benar Ayah...dialah calon putri Mahkota pilihan hamba..." jawab Pangeran Lingzhi dengan raut wajah bahagia dan bangga.


"Siapa dia...?" tanya Raja dengan wajah menatap Alea lembut. Namun sebelum pangeran Lingzhi menjawab terdengar suara teriakan Kasim Su dari luar.


"Perdana Mentri tiba..." Tak lama seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah masuk kedalam ruang pertemuan.


"Ayah...." gumam Alea pelan.


sedang Perdana Mentri fokus pada sang Raja.


"Salam sejahtera bagi Raja, semoga di berkahi hidup lama..." ucap Perdana Mentri memberi salam.


"Salam mu aku terima Perdana Mentri.. Lo..katanya putramu penyakitnya kambuh, kok anda datang kemari....?" tanya sang Raja .


"Putra hamba sudah sembuh Baginda...?" jawab Perdana Mentri dengan wajah bahagia.


"Apa maksudmu...?" tanya Raja tak mengerti . Sebab putra Perdana Mentri sudah lama sakit dan tak ada satupun tabib yang bisa menyembuhkannya.


"Putra Hamba telah sembuh total baginda... dia sudah bisa bergerak dan berjalan kembali..." jawab Perdana Mentri dengan wajah bahagia.


"Benarkah....? Siapa tabib yang telah begitu mampuh menyembuhkan putramu itu..?" tanya sang Raja.


"Salam Ayah...." sebelum Perdana Mentri menjawab pertanyaan Raja, terdengar suara menyapanya. Perdana Mentri segera melihat pada sang penyapa. terlihat seorang gadis yang teramat cantik sedang duduk di dekat Putra Mahkota. Dia melihat pada wajah cantik itu dengan penuh pertanyaan, tapi kenapa dia seperti femiliar sekali dengan wajahnya.


"Maaf Baginda...siapakah gadis ini...?" tanya Perdana Mentri dengan menatap Alea lebih teliti.


"Lo mengapa kau tanya padaku..? bukankah dia menyapamu....?" kata sang Raja .


"Ayah...apakah Ayah sudah melupakan putri Ayah...?" tanya Alea sambil tersenyum manis. melihat senyum itu Perdana Mentri kaget. dia teringat denga. Lea Min Han putri angkatnya. dan dia juga ingat bukankah Pangeran Lingzhi tadi pulang bersama putri Lea.


"Kau putriku...?" tanya Perdana Mentri tak percaya.


"Apakah Ayah sudah melupakan Putri sendiri..." jawab Alea menggoda.


"Kau dewa...ayah tak mengenalmu saat kau berpakaian seperti ini nak...ada apa kau disini....?" tanya Perdana mentri gembira.


"Menghadap baginda Raja Ayah...." jawab Alea tenang.


"Tunggu...tunggu perdana Mentri....apa maksudmu dia putrimu...bukankah kau tidak memiliki seorang putri...?" tanya baginda Raja tak mengerti .


"Maaf Baginda...dia putri sahabat hamba Jendral Murong Han sekaligus putri angkat hamba Lea Min Han Baginda..." jawab Perdana Mentri tenang .


"Apaa...dia putri angkatmu...?"tanya sang Raja heran.


"Benar baginda...setelah dia bisa menyembuhkan putra pertama hamba dari kelumpuhan, hamba berniat ingin mengambilnya sebagai menantu hamba, tapi ternyata putri Lea sudah memiliki seorang kekasih, akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan dirinya putri keluarga Heng yang Mulia..." jawab Perdana Mentri Heng denga hormat.


"Jadi dia yang mengobati putramu dan dia adalah putri Jendral Murong Han sekaligus putri angkatmu ...?" tanya Raja kembali .


"Benar yang Mulia..." jawab perdana Mentri dengan bangga.


"Dan kini apakah kau tahu kalau dia adalah calon putri Mahkota..." ucap sang Raja dengan wajah bahagia, dan itu menunjukkan kalau baginda Raja telah menyetujui pilihan sang Putra Mahkota.


Mendengar perkataan Raja perdana Mentri bahagia.


"Trimakasih yang Mulia...hamba berterimakasih atas anugrah yang telah baginda berikan pada kami..."kata Perdana Mentri sambil menunduk hormat. Begitu juga dengan Alea dan Putra Mahkota. Mereka mengucapkan terimakasih dan menunduk hormat pada sang Raja.


"Ayahanda ...Ayah harus menepati janji Ayah kalau ananda tidak ingin memiliki selir di kehidupan hamba selanjutnya...." ucap Pangeran Lingzhi tegas.


"Iya...Ayahmu akan menepati janji itu, dan kalian semua dengar itu kan...?" kata sang Raja berbicara dengan tegas.

__ADS_1


"Di mengerti Baginda..." jawab mereka serempak.


Udahan yo....jangan Lupa Like, vote, dan komennya author tunggu.


__ADS_2