PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
BERTEMU PUTRA MAHKOTA HUANG.


__ADS_3

Setelah semalaman Alea berada di ruang dimensi , pagi- pagi sekali dia keluar dan mendapati Mimi masih tertidur lelap di pembaringan. Sambil memakan buah pohon kehidupan yang masih dia pegang, Alea memanfaatkan waktu untuk membaca buku pengobatan dan racun yang dia bawa dari ruang dimensinya. Keasyikan dia membaca , hingga dia tak menyadari kalau Mimi sudah bangun dan sudah rapi .


"Sayang...kau sudah mandi kan...?" tanya Mimi yang sudah ada di sampingnya.


"Kakak...kau sudah bangun...?" kata Alea sambil memandang Mimi yang sudah rapi.


"Dasar gadis nakal....kalau sudah baca, ada halilintar menyambar kau tak akan dengar..." goda Mimi.


"Nggak juga kali kak...kalau halilintar menyambar , Lea pasti dengarlah..." jawab Alea sambil tertawa. Mimi ikut tertawa juga.


"Kau sudah mandi kan...?" tanya Mimi lagi.


"Sudah...lihat dulu kak..Alea sudah harum dan cantik gini masak masih belum mandi..."Penyakit narsis Alea kambuh.


"Iya kakak tahu...tapi kenapa rambut indah ini cuma di ikat cepol gini ...?" tanya Mimi sambil mengusap kepala Alea.


"He he he...kalau soal itu kakak tahu jawabannya..." jawab Alea. Memang kalau soal menata rambut Alea paling kesal. Kalau di jaman modern dulu, saat bekerja paling- paling di ikat ekor kuda


ala kadarnya . apalagi di jaman kuno ada yang membantunya menyisir rambut . jadi kemalasan Alea bertambah.


"Kau ini...kalau kau jauh dari kakak gimana...?" tanya Mimi.


"Karena itu kakak harus selalu bersamaku, atau kalau aku jadi istrinya si pangeran dingin itu, kan ada pelayan yang akan merawatku kak...?" kata Alea sambil tertawa.


"Apa benar kau sekarang sudah mau jadi istri si pangeran dingin...?" goda Mimi.


"He he he...apa boleh buat kak...kalian semua sudah menyetujui dia jadi suamiku, dan dia juga baik padaku mau apa lagi coba...? Lagian beberapa hari tidak bertemu kenapa aku ingat dia terus ya kak....?" kata Alea bodoh.


"He he he...itu namanya Rindu sayang..." jawab Mimi sambil tertawa. Mendengar omongan Mimi terlihat semburat merah di wajah cantiknya.


"Kau mulai mencintai dia Lea'er...?" tanya Mimi sambil masih tertawa.


"Entahlah kak... " jawab Alea.


"Ya sudah nanti kau akan tahu sendiri.. Sekarang ayo aku sisir rambutmu biar rapi..."ajak mimi. Alea pun segera berdiri dan berjalan kearah meja rias bersama Mimi. Dengan lembut Mimi merapikan rambut wanita yang dia sayangi ini. Dia masih ingat perkataan ibu Alea yang memintanya untuk menjaga Alea.


Saat Mimi selesai merias wajah Alea, terdengar ketukan di pintu kamar.


Tok..tok..


"Alea, Mimi...apa kalian sudah bangun..?" sapa orang di luar pintu.


"Sebentar..." jawab Mimi.


"Kak ayo kita langsung keluar saja.. Mungkin mereka sudah menunggu kita.." kata Alea. Mimi hanya menjawab dengan anggukan.


Mereka segera membuka pintu kamar. Terlihat teman perempuan mereka telah berdiri di depan pintu menunggu mereka .


"Ada apa kak...?' tanya Alea basa basi .


"Kalian sudah di tunggu kawan- kawan dan guru untuk makan pagi..." jawab kakak seperguruan mereka.


"Baik, trimakasih kak ayo..." ajak Alea.


Merekapun segera pergi dari kamar Alea setelah mengunci pintu kamar .


Ternyata mereka sudah di tunggu oleh teman- teman dan sang guru di depan penginapan, setelah Alea datang mereka segera berangkat kerestoran sebelah .


Tak berapa lama terlihat mereka sudah menikmati makanan rumah makan bersama- sama.


Di sana mereka juga memutuskan kepulangan mereka ke benua barat esok hari.


"Karena pertemuan sudah selesai, lebih baik kita segera pulang ke perguruan..." kata guru Juan .


"Benar.. Kita pasti sudah di tunggu di perguruan..." ucap guru Lao juga.


"Kalau begitu kita putuskan pulang besok pagi..." kata guru Juan memutuskan .


"Guru Hanpey minta ijin untuk tinggal disini dulu..." kata Alea tiba- tiba.


"Tinggal di sini...?untuk apa nak...?" tanya guru Juan kaget.


"Hanpey akan pergi ke sekte Tiangzi guru..?" jawab Alea.


"Sekte Tiangzi...?Sekte besar itu...? untuk apa..apa kau tahu mereka atau kenal mereka...?" tanya guru Juan kaget.


"Hanpey belum tahu mereka, Hanoey juga tidak terlalu mengenal mereka, tapi Hanoey sudah berjanji pada mereka akan datang ke sekte mereka guru, lagian ada yang akan Alea tanyakan pada mereka..." jawab Alea.


"Kenapa kau muda percaya pada mereka Hanpey...?" tanya guru Juan.


"Mereka baik pada Hanpey Juan... mereka pernah menolong Hanpey walaupun pertolongan itu tidak perlu, dan mereka sepertinya mengenal Hanpey maksudku putri Lea Min Han..." kata guru Lao yang tahu masalahnya .


"Benar guru...dan mereka sempat mendatangi Lea'er saat pertandingan pertama dulu, dia memberikan sesuatu pada Lea'er..." kata Lian Han memotong pembicaraan mereka.


"Apa benar itu Alea...?" tanya Guru Juan.


"Benar guru..tapi maaf murid tidak bisa menunjukkan benda itu pada kalian..." jawab Alea.


Guru Juan kaget mendengar itu, ada apa sebenarnya antara Hanpey dengan sekte Tiangzi..pikir guru Juan.


"Kau ijinkan saja Juan...aku jamin Hanpey tidak ada masalah dengan sekte Tiangzi..." ucap guru Lao.


Terlihat guru juan merasa berat mengabulkan dan meninggalkan Alea.


"Tapi aku tidak bisa menemanimu nak.." kata guru Juan.


"Tidak masalah guru... murid tidak sendiri kok, ada kak Mimi yang akan menemani murid..." kata Alea lagi.


"Guru...boleh murid Lian menemani Lea'er...?" tiba- tiba Lian berbicara dengan keras meminta ijin menemani sang adik. Terlihat guru Juan diam sebentar. Dan akhirnya dia berucap.


"Baiklah kalian aku ijinkan tinggal dulu, tapi ingat setelah urusan kalian selesai, kalian harus langsung pulang..." kata guru Juan dengan berat hati.


"Trimakasih guru...." seru Alea, Mimi, dan Lian Han bersamaan .


"Tapi guru...tidakkah sebaiknya kita pergi bersama mereka...?" tanya Putra Mahkota Fang Xing Long dia terlihat khawatir .


"Tidak usah pangeran.. Kita harus segera pulang, karena perguruan memerlukan kita. ..." jawab guru Juan .


Mereka pun melanjutkan makan pagi mereka yang sempat tertunda karena perdebatan tadi.


"Oh ya Hanpey...setelah ini kita akan pergi kekerajaan...." kata guru Lao.


"Guru mengajak saya pergi ke Kerajaan.? Apa ada yang sakit lagi guru...?" tanya Alea dengan wajah khawatir .


"Tidak...putra Mahkota ingin bertemu denganmu..." jawab guru Lao ,


"Untuk apa guru...bukankah beliau sudah sembuh...?" tanya Alea dengan wajah terlihat heran. untuk apa lagi dia harus bertemu Putra Mahkota itu.


"Dia ingin berterimakasih padamu nak..." jawab guru Lao.


"Apa mesti harus datang guru...?" tanya Alea enggan.


"Harus Hanpey...sebab kemaren guru sudah berjanji pada putra Mahkota , akan membawamu kesana pagi ini..." kata guru Lao kembali.


"Baiklah guru..." jawab Alea pasrah.

__ADS_1


Merekapun kembali melanjutkan makan mereka . Setelah selesai makan, Alea Mimi dan guru Lau segera pergi ke kerajaan. Ketika sampai di pintu gerbang, ternyata ada dua pengawal yang telah menunggu mereka.


Saat mereka melihat kedatangan tabib Lao dan Alea, mereka segera datang mendekati mereka bertiga.


"Tuan tabib Lao kan...?" tanya pengawal itu.


"Benar...ada apa...?" tanya guru Lao.


"Mari tuan ikuti saya , saya pengawal dari putra mahkota Huang. Beliau memerintahkan saya untuk menggu tuan tabib.." kata pengawal tadi. Sedang Guru Lao dan Alea saling pandang saat mendengar perkataan dari pengawal tadi . Mereka sudah di tunggu...waah kayak pejabat kehormatan saja( dalam hati Alea tertawa😂)


"Baiklah ayo..." kata guru Lao. Mereka segera mengikuti pengawal masuk kedalam istana. Mereka langsung menuju istana putra Mahkota.


Ketika mereka sampai di sana, mereka segera di persilahkan masuk kedalam ruang tamu, tak lama beberapa pelayan datang dengan membawa makanan dan minuman lalu di hidangkan di depan mereka. Hingga akhirnya yang tunggu muncul juga , terlihat putra Mahkota keluar dari dalam kamar peraduannya, Dia memakai baju warna hitam ada motif burung phoenix di dadanya, dia berjalan dengan gagah menghampiri mereka bertiga sambil tersenyum lembut. Alea , Mimi dan guru Lao segera berdiri.


"Selamat pagi semuanya..." sapa putra Mahkota ramah.


"Selamat Pagi Yang Mulia , salam sejahtera dan panjang umur putra Mahkota,..." sapa Alea, Mimi dan guru Lao bersamaan.


"Trimakasih ayo silahkan duduk, jangan sungkan- sungkan...." kata putra Mahkota dengan wajah lembutnya. Mereka pun segera duduk kembali.


"Senang kembali bertemu dengan tabib sekaligus guru oerguruan Calang tabib Lao... apa kabar kalian hari ini...?" tanya sang putra Mahkota.


"Kami Baik- baik saja tuan...." jawab guru Lao tenang.


"Lalu kapan kalian akan kembali ke benua barat....?" tanya pangeran Huang dengan ramah.


"Besok kami akan segera kembali pangeran..." jawab guru Lao.


"Cepat sekali...apa kalian tidak ingin berlibur dulu di negaraku..." kata putra mahkota , terlihat keterkejutan di nada suaranya.


"Kami harus segera pulang Pangeran..." jawab guru Lao ramah.


"Dan kau pasti tabib Hanpey kan...?" tanya pangeran Huang sambil menatap Wajah Alea yang terlihat teramat cantik di mata hitamnya.


'Hamba yang Mulia....benar itu nama hamba...." jawab Alea pelan.


"Kau yang menyembuhkanku...?" tanya pangeran lagi.


"Benar yang mulia....?" jawab Alea lagi.


"Kau telah menyelamatkan diriku dua kali, aku berhutang nyawa dua kali padamu, lalu apa yang harus aku berikan padamu sebagai imbalannya...?" kata sang pangeran dengan senyuman dibibirnya.


"Maaf yang Mulia...hamba membantu anda sudah menjadi kewajiban seorang tabib, jadi jangan menjadi beban anda untuk membalas apa yang sudah hamba lakukan, hamba tidak meminta balasan apapun dari anda, maaf yang mulia hamba membantu anda sudah menjadi tanggung jawab hamba ..." jawab Alea lembut tapi tegas.


"Apakah kau sudah mempunyai kekasih..?" tanya pangeran Huang tiba- tiba. tentu saja Alea kaget mendengar keterusterangan pangeran Huang. Mendengar itu Alea dan guru Lao saling berpandangan. Tak lama terdengar suara Alea.


'Sudah yang Mulia..." jawab Alea. Mendengar perkataan Alea terlihat wajah kecewa di mata pangeran Huang.


"Sayang sekali, aku terlambat menemukan dirimu,..tapi masih bisakah aku menjadi sahabatmu....?" tanya pangeran Huang lagi.


"Tentu saja yang Mulia... " jawab Alea sambil tersenyum, dan saat pangeran Huang melihat senyum itu, dia dapat merasakan debaran di dalam dadanya.


Pangeran Huang tertegun sejenak, namun dia segera sadar.


"Baiklah , kalau begitu mulai sekarang kita bersahabat,..untuk itu kita harus merayakan dengan menikmati makanan dari kerajaan ini, aku akan menyuru pelayan menyiapkan makan pagi buat kita..." ucap putra Mahkota dengan wajah ceriah.


"Tapi maaf pangeran....kami sudah selesai makan..." jawab Alea yang di anggukin Mimi. Sedang guru besar hanya memandang interaksi Pangeran dan Hanpey.


"Sepertinya putra Mahkota menyukai Hanpey...ucap guru Lao dalam hati.


"Tapi aku belum makan..." kata putra Mahkota lagi .


"Tapi..." kalimat Alea terpotong oleh perkataan sang pangeran .


"Baiklah kita nggak jadi makan, aku juga malas makan karena nggak ada teman, dan apakah kau tahu Hanpey...sejak turun dari pertandingan kita kemaren, aku belum makan apapun, dan kau tahu apa yang terjadi jika aku sekarang tidak makan lagi...? sedangkan aku masih lemah...? ucap pangeran Huang bernada sedih .


"Dan kau pemicunya, karena kau tidak mau menemaniku makan...." kata sang pangeran keras kepala.


"Anda menyalahkan saya pangeran...?" tanya Alea heran .


"Benar aku menyalahkan dirimu..." jawab pangeran Huang cepat.


"Ya dewa...kenapa aku mesti bertemu dengan pangeran seperti ini sich..kalau seperti ini kenapa aku teringat pada pangeran dingin itu ya..gerutu Alea dalam hati.


"Baiklah ayo kita makan... Guru , kita makan dulu lalu pulang..." kata Alea kesal.


"Nach itu baru benar ...ayo masuk..." ajak pangeran Huang gembira. Mereka berempat segera berjalan kearah ruang makan . ketika sampai di sana makanan sudah tersedia banyak di atas meja.


"Ayo silahkan duduk..." kata pangeran Huang. mereka segera duduk di kursi meja makan.


"Saat mengambil makanan Alea hanya mengambil sedikit sup dan daging. yang dia taruh di mangkoknya.


"Hanpey kenapa tidak mengambil nasinya...?" tanya pangeran Lingzhi.


"Bukankah hamba sudah bilang kalau hamba sudah makan YAANG MULIIAA..." jawab Alea menatap putra mahkota sambil menekankan kata yang mulia di akhir kaliamatnya. terlihat kekesalan di wajahnya yang cantik, tapi pangeran Huang bukannya marah, dia malah semakin gemas melihat kemarahan di wajah putri cantik di depannya. dia tertawa senang. sedang guru Lao dan Mimi ketakutan melihat sikap Alea yang agak berani pada putra Mahkota. Mereka takut putra mahkota marah. namun ketika mereka melihat Pangeran Huang tertawa, mereka jadi heran.


"Oo iya aku lupa...." kata putra mahkota tenang. terlihat Alea menahan kekesalan di dalam hatinya. tak lama terlihat mereka mulai makan bersama. setelah selesai makan Alea segera mohon diri. namun lagi- lagi pangeran Huang membuat alasan.


"Bukankah kau tabib yang telah menyembuhkan diriku...?." tanya Putra Mahkota saat Alea berpamitan .


"Lalu...?" tanya Alea singkat. terlihat sekali kalau dia sedang marah.


"Kau belum memeriksa kesehatan ku..." ucap pangeran Huang lagi .


"Anda bisa meminta salah satu tabib kerajaan untuk melihat kesehatan anda.." jawab Alea datar.


"Tapi kau yang telah menyembuhkan diriku, jadi kaulah yang harus memeriksanya..." jawabnya dengan senyum di wajahnya.


Ingin rasanya Alea menjambak rambut panjang manusia di depannya ini. andai bukan seorang putra mahkota , sudah kukibas kau...teriak Alea dalam hati. dia menatap Pangeran Huang dengan wajah kesal. Sedang yang di tatap hanya tersenyum dengan wajah memperlihatkan rasa bahagia melihat wajah Alea yang memerah karena kesal. seolah- olah dia tak bersalah pada Alea.


'Baik, tapi setelah ini kami pulang..." kata Alea .


"Silahkan...." jawab Pangeran Huang lagi.


Alea segera berdiri dan mendekati pangeran Huang, dia segera mengambil tangan pangeran Huang untuk melihat nadinya.


"Kau sudah baik- baik saja... minumlah sisah pil yang aku beri kemarin, dan beristirahat dengan baik atau sering- seringlah berkultivasi agar kesehatanmu cepat pulih kembali....' kata Alea dengan kembali sabar setelah melihat duyut nadi Pangeran Huang.


"Trimakasih kau telah menyelamatkan nyawaku juga nyawa adikku, andai kau tidak ada, mungkin aku dan adikku sudah berakhir di dunia ini..." kata pangeran Huang dengan sungguh- sungguh.


"Aah sudahlah...semua itu karena dewa masih menyayangi kalian berdua, mereka masih menginginkan kalian ada di dunia ini, jadi semua itu bukan karena aku, aku hanya perantara dari mereka untuk menyembuhkan kalian berdua....karena itu, mulai sekarang hilangkan perasaan hutang nyawa padaku , karena setidak benat...." kata Alea bijak. Mendengar perkataan Alea pangeran Huang menatapnya dengan perasaan kagum .


"Gadis ini... sudah jelas dia yang menyembuhkan kami, tapi dengan bijak dia berkata kalau dewalah yang menyembuhkan kami...andai orang lain yang masih seumuran dia, pasti akan bangga dan sombong dengan segala kemampuannya, tapi tidak bagi gadis lugu dan bijak ini...andai kau belum punya kekasih...ya dewa...kenapa kau beri aku rasa cinta namun kembali kau padamkan...teriak pangeran Huang dalan hatinya.


"Ya sudah hamba pergi dulu Pangeran, kita jumpa lagi di lain waktu...." kata Alea lagi. Akhirnya dengan berat hati pangeran Huang mengijinkan mereka kembali .


setelah keluar dari istana pangeran Huang, Alea mengajak guru Lao dan Mimi untuk berpamitan pada Raja dan Permaisuri sekalian ingin berjumpa dengan tuan Borong , Alea ingin menanyakan letak sekte Tiangzi yang sebenarnya. Ketika Alea dan guru Lao menemui Raja, ternyata ketiga saudara itu berada di sana juga , Setelah berpamitan pada Raja dan Ratu , Alea berbicara pada tuan Borong kalau dia ingin menanyakan sesuatu pada mereka yaitu tentang tempat Sekte Tiangzi berada. tentu saja mereka kaget. dan mereka bertanya ada apa Alea mencari sekte Tiangzi.


Alea berkata kalau dia akan mengucapkan terimakasih pada mereka.


Akhirnya mereka berjanji akan mengantar Alea kesana besok . Setelah itu Alea segera pamit mohon diri. namun saat Alea akan berdiri, tiba- tiba seorang gadis cantik datang dengan tiba- tiba tanpa pemberitahuan kasim. ketika dia melihat Alea berada di dalam dia berseru dengan gembira.


"Jiejie...kau di sini...?" tanya putri Yuan dengan wajah gembira.


"Benar putri...." jawab Alea sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa jiejie tidak ke istanaku.....?" tanya putri Yuan dengan wajah kecewa. dia mendekati Alea dengan wajah cemberut.


"Jiejie buru- buru sayang..." jawab Alea.


"Ya sudah sekarang Jiejie main ke istana ku ...ucap putri Yuan dengan wajah memohon.


"Ya ampuun mati aku, bagaimana ini..." seru Alea dalam hati, dia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Baiklah putri, jiejie ikut putri pulang tapi ini hadiah untuk putri , karena jiejie besok akan kembali ke benua barat, ..." kata Alea dengan wajah lembutnya .


" Jiejie mau pulang...dan tak kesini lagi..?" tanya putri dengan wajah sedih. Alea hanya bisa mengangguk.


terlihat wajah putri Yuan sudah mengalirkan air mata.


"Hay, hey jangan menangis... ayo kita ke istana putri...." bujuk Alea.


putri Yuan hanya bisa mengikuti Alea keluar ruangan bersama Mimi dan guru Lao, setelah berpamitan pada Raja dan permaisuri. sesampainya di luar , Alea mengatakan pada guru Lao agar meninggalkan saja mereka di sini, nanti sore dia akan pulang bersama Mimi.


akhirnya Alea dan Mimi sampai sore berada di kediaman putri Yuan. Setelah Selesai makan malam, Alea dan Mimi kembali kepenginapan . sesampainya di penginapan Alea segera masuk kedalam kamar mereka. Saat tengah Malam Alea tidak bisa tidur. akhirnya dia membuka cendela dan menatap gelapnya Malam.


Sudah satu bulan lebih dia tidak bertemu dengan pria dingin itu. entah mengapa dua hari ini bayangkan selalu berada di dalam pikirannya.


"Ada apa ini... kenapa aku teringat dengan wajahnya selalu, Ck..pria dingin itu..sedang apa dia sekarang..apa dia ingat denganku,... ada apa sebenarnya denganku ini..' omel Alea sendiri.


"Kau merindukanku....?" tiba- tiba terdengar sebuah suara mengejutkan Alea, suara yang sudah beberapa hari tidak dia dengar lagi. Suara yang membuat getaran di dalam hatinya. Alea segera mencari asal suara yang terdengar, namun dia tak mendapati siapapun yang ada di sana,Alea mencari kesegala arah , namun tetap tak ada. hanya kesunyian dan kegelapan yang ada.


"Ck.. ternyata aku hanya salah dengar saja..." kata Alea kesal pada diri sendiri .


"Kenapa kau kecewa...? apakah kau sudah merasakan jatuh cinta dan merindukan diriku..." tiba- tiba sebuah lengan tangan kokoh memeluk tubuhnya dari belakang hingga Alea kaget dan hampir berteriak.


"Sst..ini aku sayang..." bisik pangeran Lingzhi , pria itu tiba- tiba sudah berada di belakang dan memeluk tubuhnya.


"Pangeran...kau mengagetkanku...." seru Alea pelan sambil membalikkan badannya.


"Sayang...aku rindu..." Kata pangeran Lingzhi sambil memeluk erat gadis yang sangat ia cintai itu. Alea membiarkan Pangeran Lingzhi memeluknya. namun karena dia merasakan juga kebahagiaan saat dalam pelukan pangeran Lingzhi akhirnya dengan perlahan tangannya memeluk tubuh tegas di depannya.


Setelah cukup lama di dalam pelukan pangeran Lingzhi, perlahan pangeran Lingsi menjauhkan badan Alea sedikit.


"Kau kurusan..." kata pangeran Lingzhi.


"Aku banyak berlatih..." jawab Alea.


"Kapan kau datang....?" tanya Alea sambil menatap wajah tampan milik Pangeran Lingzhi.


"Tadi pagi...." jawabnya sambil tersenyum.


"Tadi pagi...? lalu kenapa tidak menemuiku...?" tanya Alea kaget.


"Sebenarnya aku tadi ingin menemui dirimu, tapi ternyata ada yang ingin menemui putra mahkota Huang..." jawab Pangeran Lingzhi pelan.


"Karena itu kau tidak menemuiku...?" tanya Alea kaget.


"Hmm..." jawab Pangeran Lingzhi sambil menganggukkan kepalanya.


"Kau jahat...andai kau tadi menemuiku, tentu aku tidak akan bertemu dengan dia.." ucap Alea sambil menatap Pangeran Lingzhi dengan wajah kesal.


"Kalau tidak seperti itu, mungkin aku tidak tahu perasaan sebenarnya kekasihku padaku..." kata Pangeran Lingzhi sambil tersenyum gembira.


"Kau mengikutiku...?" tanya Alea kaget.


"Mana mungkin aku membiarkan gadisku menemui pria yang jelas- jelas menyukainya,...." jawab Pangeran Lingzhi.


"Lalu kenapa kau membiarkan saja..." kata Alea kesal.


"Dan aku tak akan melihat kejujuran kekasihku..." jawabnya dengan tenang.


Mendengar perkataan pangeran Lingzhi. Alea merasa malu, marah dan kesal.


"Seandainya tadi aku mengatakan belum punya pacar lalu kami jadian bagaimana...?" kata Alea kesal.


"Aku akan merebutmu dan membawamu kembali ke Kerajaan , lalu menguncimu di sana..." jawab Pangeran Lingzhi tenang.


Akeh hanya bisa menghela nafas kesal. tak lama dia bertanya


" Pangeran...sejak kapan anda ada diluar sana..." tanya Alea lembut.


"Sejak tadi...sejak kau kembali dari kerajaan..." jawabnya.


"selama itu...? kau gila, ini sudah malam dan hawanya dingin sekali, dan kau duduk diluar 4 jam yang lalu...?" seru Alea kaget. Pangeran Lingzhi hanya mengangguk, melihat wajah Alea yang terlihat mengawatirkannya, dia merasa senang , sebab dia bisa kembali melihat kepanikan dan mencemaskan dirinya di wajah cantik calon permaisurinya itu.


"Kau ini...kau seperti anak kecil, gimana kalau kau nanti sakit ,...." seru Alea marah. dia segera menyeret pangeran Lingzhi untuk duduk di kursi . mendengar keributan Mimi bangun. dan dia kaget ketika dia melihat Pangeran Lingzhi yang sedang di marahi Alea berada di dalam kamar mereka.


"Pangeran Lingzhi...salam pangeran.." kata Mimi memberi salam.


"Hmm..." jawab Pangeran Lingzhi yang masih mendapat omelan dari Alea. tapi bukannya marah, dia malah tersenyum bahagia. melihat pangeran Lingzhi tersenyum- senyum Alea kesal.


"Kenapa senyum- senyum..." kata Alea kesal.


"Aku senang melihatmu marah..." jawab Pangeran Lingzhi.


"Dasar pria sableng, di marahi malah senang..." umpat Alea. sedang Mimi tertawa lucu melihat tingkah dua orang di depannya.


"Sekarang Pangeran tidur sebentar di sini.." ucap Alea sambil menunjuk ranjang kosong.


"Tidur...?" terlihat wajah bahagia pangeran Lingzhi.


"Jangan berfikiran aneh- aneh, pangeran tidur sebentar di sini sampai badan yang Mulia kembali hangat. lalu setelah itu kembali kepenginapan pangeran sendiri dan istirahat..." jawab Alea.


"Aku fikir tidur denganmu....?" goda Pangeran Lingzhi. Tapi dia tetap naik keatas ranjang Alea, dan diam saja saat Alea memberikan selimut di badannya.


"Kenapa aku tidak boleh tidur fi sini,...?" tanya pangeran Lingzhi pelan.


"karena belum waktunya. .." jawab Alea.


"Kita percepat aja pernikahan kita setelah kita pulang nanti..." kata Pangeran Lingzhi dengan gembira.


"Terlalu cepat pangeran... " jawab Alea.


"Kalau aku malah kelamaan sayang..." goda pangeran Lingzhi kembali .


"Ck dasar pangeran... sekarang sudah hangat kan...? sekarang Pangeran kembali kepenginapan, dan besok kemari lagi, oh ya besok Alea akan pergi ..." kata Alea sambil membuka kembali selimut yang menutup badan pangeran Lingzhi.


"Aku sudah tahu dan aku ikut...' kata Pangeran Lingzhi.


"Hmm...." jawab Alea sambil menganggukkan kepalanya. dan akhirnya pangeran Lingzhi keluar dari kamar Alea melalui cendela kembali. setelah Pangeran Lingzhi pergi , Alea segera menutup pintu kamarnya kembali.


Setelah itu dia kembali menuju tempat tidurnya. dia berjalan sambil tersenyum kecil.


"Cie...yang lagi senang...?" goda Mimi.


"Apaan sich kak..." jawab Alea malu.


"Ya sudah ayo kita tidur, bukankah besok kita akan pergi ke Sekte Tiangzi..." kata Mimi sambil kembali ke pembaringan.


"Iya kak...kita akan menunggu tuan Borong dulu..." jawab Alea.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua segera tidur kembali.


Maaf udahan dulu ya...jangan lupa like, vote, dan komennya author tunggu.


__ADS_2