
"Kau hampir mati karena racun ular kirin....." kata Lhipo lagi.
Shecan pun ingat dengan gigitan ular itu, dia melihat lengan kirinya. terlihat luka di lengan kirinya yang sudah di balut dengan kain tipis.
Sedang para guru dan Alea menatap pada Lhipo,
"Lhipo...gimana keadaanmu...?" tanya guru besar Juan menyadarkan Lhipo dari rasa kagetnya.
"Guru....." ucapnya sambil menatap sang guru dengan airmata berlinang.
"Gimana keadaanmu sekarang... ?" tanya guru Juan Bili lagi.
"Trimakasih guru... kau telah menyelamatkan diriku dari kematian...." kata Lhipo dengan wajah bahagia dan bersyukur.
"Maaf...bukan aku yang telah menyelamatkan hidupmu...." jawab guru Juan lembut.
"Bukan guru...? Apakah itu paman guru..?" tanya Shecan karena dia juga melihat guru besar Lao berada di sebelah guru Juan Bili.
"Bukan...bukan aku, tapi pria di sebelahku ini yang telah menolong nyawamu..." jawab Guru besar Lao sambil menatap Shecan.
"Maksud paman guru pria muda di sebelah paman...?" tanya Sechan sambil menatap Alea.
"Benar...dia yang telah menyelamatkan hidupmu,..." jawab guru besar Lao dengan lembut. Shecan menatap Alea tak percaya. Mana mungkin pria muda itu yang menyelamatkan hidupnya.
Oo ..pasti yang di maksud guru dan paman guru saat dia berada di dalam hutan Halimun , ya ya benar...pasti yang di maksud guru, pria muda itu yang telah membawa dia pulang kemari..batin Shecan.
"Kalau begitu trimakasih saudara muda atas pertolongan mu membawaku pulang keperguruan ini..." kata Shecan ramah.
"Nggak masalah kak...lagian bukan aku kok yang membawamu kemari...ya sudah karena kakak sudah sehat kembali aku akan kembali kekelas. Guru, paman guru ...murid mohon diri..." kata Alea sambil menunduk kearah kedua orang tua itu serta guru- guru yang berada di sana.
"Pergilah..." jawab guru Juan Bili.
Sedang guru Lao menatap Alea dengan wajah kagum dan harapan.
"Hanpey...maukah kau berguru kepadaku....?" tanya guru besar Lao.tiba- tiba.
Mendengar perkataan guru Lao semua orang kaget, sebab guru Lao selama ini tidak pernah mengangkat seseoarng menjadi muridnya. Sedangkan orang yang dia katakan murid hanyalah beberapa orang yang tinggal dengan dirinya untuk bekerja membantunya untuk mendapatkan bahan- bahan ramuan yang dia perlukan, memang sesekali guru Lao mengajarkan cara meracik bahan obat. tapi mereka bukan murid guru Lao.
"Guru Lao...kau ingin mengangkat muridku menjadi muridmu...?" tanya guru Juan kaget.
"Apa salahnya....? Bukankah dia pantas menjadi muridku juga...?" jawab guru Lao tenang .
"Tapi kau tidak bertanya dulu padaku...?" protes guru Juan.
'Hey...bukankah murid perguruan Calang adalah muridku juga...?" kata guru Lao tenang.
"Ck kau ini...tumben juga kau ingin memiliki seorang murid...?" kata guru Juan mengejek.
"Itu Hanya Hanpey yang ingin kujadikan murid..." jawab guru Lao cuek .
"Ha ha ha...kau memang licik, melihat kejeniusan di delanmu..otakmu berubah..." kata guru Juan sambil tertawa .
"Gimana Hanpey...?" tanya guru Lao kembali.
"Kau harus mau jadi muridnya Hanpey... kalau tidak dia akan menerorku dengan bujukan dan rayuan yang akan membuatku sakit kepala...." kata guru Juan dengan wajah pura- pura kesal . Sebenarnya niat guru Juan agar Hanpey mau menjadi murid guru Lao adalah demi keuntungan Hanpey sendiri. Dia ingin melihat Hanpey semakin maju .
"Baiklah kalau itu kehendak guru besar.." jawab Alea .
"Bagus... Mulai sekarang kau adalah muridku, jadi kau akan belajar tiga bulan di perguruan dan tiga bulan di tempatku..." kata guru besar Lao.
"Murid mengerti guru., sekarang murid mohon diri.." kata Alea sambil menghormati dan berlalu dari kamar perawatan.
Setelah memberi nasehat pada Shecan , guru Juan, guru Lao dan guru lainnya segera meninggalkan ruang rawat juga , agar Shecan bisa beristirahat. Di sana hanya ada Lhipo dan Rhonsa.
"Lhipo...kenapa guru besar mengambil pria itu jadi muridnya, apakah dia sehebat itu hingga guru Lao yang tak pernah mengambil murid sampai ingin menjadikan dia muridnya...?" tanya Shecan dengan wajah sedih dan kecewa.
"Maksud kamu siapa...?" tanya Lhipo tak mengerti.
"Pria yang tadi telah menolongku membawaku kemari...bukankah kalau hanya demi membalas budinya kita bisa menjadikan dia murid Calang aja kan..?" kata Shecan dengan perasaan iri. Sebab sejak dulu dia sangat berharap menjadi murid guru Lao, namun guru tak pernah berharap dia menjadi muridnya.
"Pria yang membawamu kemari...?" tanya Lhipo tak mengerti .
"Iya. Pria yang di angkat oleh guru besar Lao..." jawab Shecan.
"Maksudmu si Hanpey...?" tanya Lhipo dengan raut wajah kaget dan tak senang ketika melihat Shecan meremehkan Hanpey.
"Iya dia...bukankah dia hanya pria lemah yang hanya nolongku dari hutan..." kata Shecan dengan wajah meremehkan.
"Kau tanyakan kehebatan Hanpey...?" tanya Lhipo dengan nada kesal.
"Iya...." jawab Shecan .
"Ya dewa...kau masih menanyakan orang yang telah menyelamatkan dirimu dari kematian...? Shecan...kalau bukan karena dia, nyawamu sudah melayang meninggalkan tubuhmu ... " seru Lhipo marah.
"Kau itu telah berhutang nyawa padanya Shecan..." seru Rhonsa menyambung.
"Maksud kalian apa... Apakah hanya karena dia telah membawaku pulang kemari dia di sebut pahlawan...!" kata Shecan dengan sinis.
"Apaa...kau fikir dia hanya datang membawamu kemari...? Dia itu yang menghidupkanmu dari kematian...dia yang menghilangkan racun ular kirin dari tubuhmu, kau tahu guru besar Lao dan guru besar Juan sudah angkat tangan dengan tubuhmu yang sudah menghitam, kalau bukan karena Hanpey, mungkin saat ini kau sudah kehilangan kehidupanmu....lagian dia itu murid perguruan Calang ini" teriak Lhipo dengan marah.
"Apaa...tidak...tidak mungkin...mana mungkin pria muda itu yang menyembuhkanku...." ucap Shecan tak percaya.
"Kenapa itu tidak mungkin... Kami melihat sendiri dia mengeluarkan mu dari kematian, Dia berusaha menghilangkan racun yang ada di tubuhmu di saat Guru dan guru Lao sudah pasra tentang kehidupanmu..." kata Lhipo menjelaskan dengan marah.
"Jadi sebenarnya dialah yang telah mengobatiku ...." ucap Shecan pelan dengan wajah penuh penyesalan, dia ingat tingkahnya yang meremehkan Alea.
"Siapa sebenarnya pria muda itu...?" tanya Shecan pelan.
"Dia seorang gadis bukan pria...dan dia murid baru perguruan ini, dia juga murid pilihan guru Juan..." jawab Rhonsa.
"Seorang gadis....tapi dia memakai pakaian pria..." ucap Shecan.
"Dia menyamar...tapi kami sekarang sudah tahu kalau dia sebenarnya seorang gadis....?" ucap Lhipo masih kesal .
"Dia juga merupakan prajutit khusus dan pengawal pribadi putrah Mahkota..." sambung Lhipo .
__ADS_1
Shecan terdiam mendengar penjelasan dari kedua temannya .
Dia merasakan penyesalan yang sangat di dalam hatinya.
"Semua orang sudah merasakan putus asa melihat tubuhmu yang penuh dengan bisa ular Kirin, Kau tahu kan kalau bisa ulang kirin masih belum ada penawarnya...?" ucap Rhonsa datar.
Mendengar perkataan Rhonsa, Shecan terdiam, terbayang wajah seorang pria yang tadi menatap wajahnya dengan pandangan bersahabat. Dan ternyata pria tampan itu adalah seorang gadis.
"Ternyata aku memang berhutang nyawa pada gadis itu..." ucap Shecan pelan.
"Dia tadi pagi juga menyembuhkan guru dari penyakitnya..." ucap Rhonsa.
"Apakah penyakit guru kambuh lagi..?" tanya Rhonsa kaget .
"Benar...dan untunglah dia tadi bersama guru, jadi saat penyakit guru kambuh, dia menolongnya..." kata Lhipo.
"Sehebat itukah dia...?" tanya Shecan tak percaya.
"Hebat sekali....dia menggunakan tehnik akupuntur untuk menolong guru dan dirimu..." ucap Lhipo.
"Tehnik akupuntur....? Apakah tehnik itu ada di dunia ini...?" tanya kembali Shecan dengan wajah tak percaya .
"Buktinya dia tadi memakai tehnik itu untuk menyelamatkanmu dan guru..." jawab Rhonsa.
Merekapun berbincang cukup lama sampai akhirnya Rhonsa berkata kalau Shecan harus istirahat.
Sedang Alea setelah keluar dari ruang perawatan terlihat hari sudah menjelang siang. dia segera berjalan ke tempat kelas Mimi. Di sepanjang jalan Alea mendapat tatapan kekaguman dari banyak murid pria. Ketika sampai di kelas pelatihan tempat Mimi , Alea melihat Mimi sedang keluar dari ruangan. ketika Mimi melihat keberadaan Alea, dia berseru dengan riang.
"Pey'er..." seru Mimi dengan keras .
"Kak...kenapa kau berteriak...?" kata Alea dengan wajah cemberut.
"He he he maaf...habisnya kakak senang melihat kau berada di sini...?"kata Mimi sambil tertawa riang.
"Kita ke kantin kak..." ajak Alea.
"Ayo...kau sudah lapar...?" tanya Mimi.
"Iya... sebab baru saja aku mengeluarkan Qi ku terlalu banyak..." jawab Alea.
"Mengeluarkan Qi...? untuk apa...?" tanya Mimi sambil menatap Alea dengan cemas.
"Jangan terlalu cemas...aku me keluarkan Qi bukan sedang berkelahi, tapi aku mengeluarkan Qi untuk pengobatan.." kata Alea mengerti apa yang ada di fikiran Mimi.
"Oo syukurlah...lalu siapa yang telah menjadi pasienmu..." tanya Mimi. dia sudah hapal dengan ucapan- ucapan Alea tentang orang yang di sembuhkan .
"Guru besar dan murid Alkemia..." jawab Alea datar.
"Apaa..." seru Mimi kaget.
"Sst...jangan keras- keras..." kata Alea mengingatkan.
"Maaf...habis kakak kaget...emang guru sakit apa Lea'er...?" tanya Mimi.
"Jantung...bukankah penyakit itu agak berbahaya.. apa guru memiliki penyakit itu...?" tanya Mimi lagi.
"Iya...dan aku pemicu penyakit itu kambuh..." jawab Alea.
"Kok bisa...gimana ceritanya...?" tanya Mimi bingung.
"Dia bertanya tentang hewan kontrakku,.." jawab Alea lagi.
"Dan kau mengatakan semuanya...?" tebak Mimi.
"Iya...sebab saat aku melawan gadis yang bernama Lan Yuyu ,Yan'ge keluar saat gadis itu mengeluarkan hewan kontrak nya... sedang guru sudah tahu kalau aku juga memiliki ular putih White'ge yang berupa gelang di tanganku....jadi dia menanyakan berapa hewan kontrakku..." jawab Alea polos.
"Dan kau katakan semuanya...?" tanya Mimi.
"He he he..iya..." ucap Alea sambil tertawa.
"Terang aja dia kambuh penyakitnya Lea'er...." seru Mimi sambil mengusap rambut Alea pelan.
"Tadi aku sebenarnya sudah ngomong sama dia kak, tapi dia tetap memaksa..." jawab Alea yang masih tertawa geli.
"Dasar anak nakal..." seru Mimi lagi.
"Kau memang murid yang nakal dan kejam Lea'er..." seru Lauyan yang berada di bahu kirinya. saat dia mengobati Shecan tadi, Lauyan kembali kedalam ruang dimensi, namun sekarang dia sudah bertengger dengan manis di bahu kirinya. dan saat para murid perguruan melihat burung itu, mereka sudah tahu kalau burung itu mahluk kontrak Alea.
"Lalu soal murid Alkemia dia punya penyakit apa....?' tanya Mimi lagi .
"Dia di gigit ular kirin saat mencari tanaman obat..." jawab Alea .
"Apaaa...ular kirin...?" teriak Mimi denga. wajah kaget.
"Ck...jangan keras- keras napa kak..." ucap Alea lagi.
"Habis kau mengagetkan kakak..." jawab Mimi.
"Lalu apakah dia bisa kau tolong...?" tanya Mimi.
"Iya , dia bisa kutolong demgan tehnik akupuntur..." jawab Alea pekan .
"Syukurlah... sebab bisa ular kirin belum di temukan penawarnya..." kata Mimi. tanpa terasa mereka berdua sudah berada di kantin perguruan. dan saat mereka berdua masuk, mereka menjadi pusat perhatian para siswa yang ada di dalam kantin.
"Bukanya itu gadis yang menyamar jadi seorang laki- laki...?" tanya salah satu siswa wanita yang ada di sana.
"Benar...dia sebenarnya seorang gadis.." jawab sang teman.
"Kenapa dia menyamar ya...bukankah kalau dia berubah menjadi wanita , dia cantik sekali Lo..." kata sang teman lagi.
"Jadi laki- laki aja dia terlihat sangat tampan apalagi memakai pakaian wanita.." jawab kembali sang teman.
dan banyak lagi perkataan dari para Siswa ataupun siswi yang membicarakan tentang Alea di dalam kantin.
sedang Alea dan Mimi berjalan mencari bangku yang masih kosong.
__ADS_1
"Lea'er..kau cari dulu tempat duduk, aku akan memesankan makanan kita..." kata Mimi lembut.
"Baik kak..." jawab Alea.
Alea pun segera mencari tempat yang masih kosong. Saat Alea sibuk mencari tempat duduk, tiba - tiba terdengar teriakan dari pojok ruangan kantin.
"Hanpey...sini...!" suara itu sangat di kenal Alea. Dengan cepat Alea melihat kearah suara orang yang telah memanggilnya.
"Gege Lian Han..." seru Alea . terlihat
sang kakak sedang duduk bersama kedua temannya. Karena masih ada tiga bangku yang kosong , Dia segera berjalan kearah sang kakak.
"Kakak...kau sudah tadi...?" tanya Alea.
"Kakak juga baru datang... kau sudah pesan makanan ...?" tanya Lian dengan penuh perhatian.
"Sudah kak... kak Mimi sedang memesan nya..." jawab Alea.
"Lian...siapa dia..." tanya salah satu sari mereka dengan suara renyah.
"Ah iya..maaf pangeran...dia adik hamba Lea'er..." jawab Lian Han dengan wajah cerah. mendengar perkataan Lian Han kedua pria yang ada di depan mereka terkejut. dan saat Alea melihat mereka, dia juga sangat terkejut, karena kedua pria itu adalah Putra Mahkota kerajaan Long yaitu pangeran Fang Xing Long dan pangeran ketiga Chu Long .
"Maksudmu dia adikmu putri Lea Min Han yang dulu terkenal sampah itu...?" tanya pangeran Chu Long terus terang.
"Pangeran...." ucap Lian Han sedikit marah.
"Nggak masalah kak...iya benar pangeran... hamba Lea Min Han yang dulu sangat di benci semua orang, dan tidak di ingini oleh siapapun..." jawab Alea lembut sambil tersenyum manis. melihat senyum Alea, Kedua pangeran itu ternganga. bukan hanya pangeran, para siswa pria yang berada di dalam kantin dan sedang memperhatikan Alea, merasakan detak jantung mereka lebih cepat berdetak dari biasanya. sedang perasaan putra Mahkota campur aduk saat dia mengingat kalau dia telah membuang dan tak menginginkan gadis itu. gadis itu adalah calon permaisurinya yang telah dia batalkan. ada Penyesalan yang teramat sangat dia rasakan sekarang.
"Jadi kau gadis yang telah ditolak kakak putra Mahkota itu....?" tanya Pangeran ketiga tanpa saringan.
"Chu Long...jaga ucapanmu....!" seru Putra Mahkota marah.
"He he he...benar sekali apa yang di ucapkan pangeran ketiga , hamba memang gadis yang telah di tolak dan tak di inginkan oleh putra mahkota..." jawab Alea sambil tertawa renyah .
"Lea'er...ternyata kau di sini..." Terdengar suara Mimi di belakang Alea sambil membawa makanan . dan bertepatan pelayan yang membawa makanan yang di pesan putra Mahkota dan pangeran ketiga serta Lian Han tiba juga.
"Oh maaf...ada Putra Mahkota... selamat siang pangeran Fang, selamat siang pangeran Chu..." sapa Mimi dengan hormat .
'Hmm..." gumam pangeran Feng .
"Lo siapa gadis cantik ini putri..." tanya pangeran ketiga.
"Dia kakak hamba Mimi..." jawab Alea.
"Setahuku Lian tidak memiliki seorang adik perempuan selai dirimu dan dua gadis anak selir Jendral Murong..." tanya Pangeran ketiga.
"Hamba pelayan setia putri Lea Min Han yang telah di anggap kakak oleh putri , Pangeran..." jawab Mimi sambil tersenyum. Mimi tetap berdiri di belakang Alea. dia tidak berani duduk bersama dengan pangeran Fang.
"Oo..jadi kau pelayan setia putri Lea.." tanya pangeran ketiga tak percaya.
"Benar Pangeran...." jawab Mimi.
"Kak...kenapa kau tidak duduk...?" tanya Alea bingung.
"Tidak Lea'er..aku akan mencari tempat duduk lain .." jawab Mimi pelan .
"Lo kenapa...?" tanya Alea bingung.
"Lea'er..." ucap Mimi tak enak hati.
melihat Tingkah Mimi, dan wajah Mimi yang kaku menyadarkan Alea. kalau semua ini karena ada pangeran Feng yang duduk bersama mereka.
"Aah...kalau begitu kita cari tempat duduk yang lain kak...maaf putra Mahkota , pangeran Chu hamba mohon diri..." ucap Alea sambil berdiri.
"Kenapa kalian harus pindah...? duduklah di sini bersama kami..." ucap pangeran Fang pelan.
"Apa tidak ada masalah pangeran...?" tanya Alea lembut.
"Aku tidak mempermasalahkan itu...?" jawab pangeran Feng lagi .
"Kalau begitu trimakasih Pangeran... ayo kak kau duduk di sini.." ucap Alea sambil kembali memperlihatkan senyum manisnya.
Senyum itu membuat Pangeran Feng dan Pangeran Chu terdiam lama.
Mereka segera menikmati makanan mereka masing- masing .
"Lea'er...aku dengar samaranmu telah terbongkar ya...?" tanya Lian Han di sela makannya .
"Benar kak... gara- gara seorang gadis yang memprotes keputusan Putra Mahkota Lingzhi. .." jawab Alea.
"Memprotes keputusan pangeran Lingzhi...? emang apa yang di putuskan sang pangeran...?" tanya Lian Han lagi .
"Dia mengangkatku sebagai pengawalnya..." jawab Alea .
"Apaa...pengawal....?" tanya Putra Mahkota dan pangeran ketiga hampir bersamaan.
"Benar pangeran....hamba adalah pengawal putra mahkota Lingzhi,..." jawab Alea.
"Mana bisa..kau adalah penduduk kerajaan Long, mana bisa jadi pengawal kerajaan Shi ini..." seru Pangeran Chu.
"Kenapa tidak pangeran...?" tanya Alea.
"Karena kau penduduk kerajaan Long.." jawab Putra Mahkota Feng keras.
"He he he...bukankah hamba penduduk yang tidak di kehendaki kerajaan hamba pangeran, dan hamba telah terbuang dari kerajaan Long..." jawab Alea datar .
Pangeran Lingzhi dan Pangeran ketiga terdiam, sedang Sang kakak Lian hanya diam saja.
Mereka melanjutkan makan dengan diam.
cukup dulu ya...besok aku lanjut lagi. jangan lupa Like, vote dan komenya author tunggu.
Bersambung.
'
__ADS_1