
Alea Mimi dan Lian Han masuk kedalam restoran yang cukup terkenal itu dengan santai. Ketika mereka telah sampai di dalam , ternyata restoran telah penuh,
"Lian'ge...apa setiap hari di sini banyak pengunjungnya....?" tanya Alea pada Lian Han.
"Nggak selalu sich...aku juga heran, ada apa sich kok sekarang pengunjung restoran ini banyak banget...?" ucap Lian Han juga heran.
"Coba nanti kita tanyakan pada pelayan restoran..." kata Mimi memberi usulan.
"Benar kak...kita bisa tanyakan saja pada pelayan...?" ucap Alea menyetujui usulan Mimi.
"Tuan dan Nona...apa ada yang bisa kami bantu...?" tanya seorang pelayan pada mereka bertiga.
"Maaf Kak...apa masih ada tempat untuk kita..?" tanya Alea ramah.
"Maaf tuan, tempatnya sudah penuh semua, tapi kalau tuan mau di lobi masih ada satu set tempat duduk , apa kalian mau...?" tanya pelayan muda itu ramah. Dia menganggap Alea seorang pria muda.
"Trimakasih kak..kalau begitu kita pesan makanan yang enak dari restoran ini untuk kami bertiga...tolong bawa kesana ya kak...?" jawab Alea.
"Baik tuan muda, silahkan anda ke loby dulu..." kata pelayan itu ramah.
"Baik kak..." jawab Alea .
Alea, Mimi dan Lian Han berjalan bersama menuju loby. Ketika sampai di loby mereka memang menemukan meja dan kursi yang hanya cukup untuk tiga orang saja.
"Kak untung kita masih mendapatkan meja .." kata Alea pada Mimi.
"Iya Lea'er....untung saja masih ada, kalau tidak kita gagal makan di sini..." jawab Mimi sambil tertawa.
"He he he...benar katamu kak..." jawab Alea ikut tertawa. Sedang Lian Han hanya tersenyum melihat sang adik yang selalu ceriah di depannya. Dia Terkadang menyesali semua perbuatannya di masa lalu . Untung sang adik mau memaafkan kesalahan dia dan sang Ayah.
Mereka segera duduk di meja yang masih kosong itu. Tak berapa lama makanan yang mereka pesan datang. Ketika pelayan itu akan pergi, Alea memanggilnya.
"Maaf kak...mau tanya boleh...?" tanya Alea sopan.
"Iya, ada apa tuan..." jawab sang pelayan .
" sebenarnya di desa ini ada acara apa, sampai - sampai banyak tamu yang datang di kota ini..?" tanya Alea ramah.
"Lo emang tuan mudah tidak tahu...?" tanya pelayan itu heran
"Emang ada apa kak...?" tanya Alea heran.
"Dua hari yang lalu ada beberapa orang datang kemari mencari tabib Hanpey, mereka ingin bertemu dengan sang tabib...?" kata pelayan menerangkan .
"Lo memangnya mereka mau apa pak..?" tanya Alea heran.
"Saya juga tidak tahu tuan muda...yang kami tahu mereka datang mencari tabib Hanpey...." lanjut si pelayan.
"Lalu kenapa banyak pendatang yang pada datang kesini..?" tanya Alea lagi .
"Sebenarnya mereka kesini bukan karena orang yang mencari tabib Hanpey, tapi mereka penasaran dengan tabib Hanpey yang terkenal suka menolong itu..." kata si pelayan dengan wajah serius.
Alea , Mimi dan Lian Han saling berpandamgan,
"Lalu apa hubungannya dengan orang yang mencari tabib Hanpey...?" tanya Alea lagi.
"Mungkin kami bisa melihat wajah tabib yang baik itu, siapa tahu mungkin suatu saat kami akan bisa meminta tolong padanya. ..." jawab si pelayan.
"Ta ampuuun...bagaimana kalau mereka tahu , orang yang mereka nantikan ada didepan mereka.
"Memangnya sejak kapan mereka datang mencari tabib Hanpey kak...?" tanya Alea lagi.
"Sudah dua hari yang lalu, tapi mereka ?belum juga keluar dari perguruan..." lanjut si pelayan. Alea, Mimi dan Lian Han kembali saling berpandangan.
"Maaf kalau tidak ada lagi yang di tanyakan saya pergi dulu..." kata si pelayan .
"Silahkan kak...trimakasih..." kata Alea sambil tersenyum ramah ..
Pria itu tersenyum dan berlalu dari meja Alea.
"Gege...gimana ini...kita cepat selesaikan makan kita, lalu kita cepat pulang..." ucap Alea.
"Ya sudah ayo kita cepat makan...?" ucap Lian Han sambil cepat menyantap makanan yang sudah mereka pesan.
Setelah selesai makan, mereka langsung kembali ke perguruan. Dengan terburu- buru mereka pergi keruang guru besar untuk melaporkan kedatangan mereka bertiga. Ketika melewati gedung aula perguruan , tanpa sengaja mereka bertemu dengan guru San yang baru keluar dari sana.
"Hanpey...." seru guru San gembira.
"Selamat siang guru..." sapa mereka bertiga.
"Siang ...kapan kalian datang...?" tanya guru San lagi.
"Baru saja guru..ini kami mau melapor kedatangan kami pada guru besar..." jawab Alea.
"Kalau begitu cepatlah kesana, guru besar sudah menantikan kedatanganmu.." ucap guru San lagi.
"Memangnya ada apa guru...?" tanya Alea bingung.
"Nanti kau akan tahu sendiri..." kata guru San lagi.
"Baiklah kami akan langsung keruang Guru besar, kalau begitu kami pergi dulu guru..." pamit Alea pada guru San .
"Iya, iya...pergilah..?" kata guru San .
"Selamat siang guru..." ucap mereka bertiga bersama- sama. Guru San hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Alea , Mimi serta Lian Han segera berjalan menuju ruang guru besar. Sesampainya di sana Alea melihat kalau guru besar sedang bersama dengan beberapa orang pria paruh baya di ruangan guru besar. Alea berhenti dan ingin kembali karena merasa tidak enak mengganggu mereka. Namun saat langkah kaki Alea berbalik bersama kedua kakaknya , tiba - tiba terdengar suara guru besar memanggil namanya.
"Hanpey...." seru sang guru terdengar jelas memanggil namanya. Akhirnya Alea kembali membalikkan badannya kembali menghadap keruang sang guru. Sedang para orang tua yang bersana guru Juan menatap kearah pintu ruangan, Ternyata mereka hanya melihat tiga orang siswa muda berada di depan pintu.
"Guru Juan...bukankah kau tadi memanggil nama tabib Hanpey, lalu mana dia...?" tanya salah satu dari mereka. Guru Juan hanya tersenyum mendengar pertanyaan mereka.
"Kalian kemarilah...?" panggil guru Juan pada ketiga muridnya .
Hanpey, Mimi dan Lian Han berjalan masuk kedalam ruang guru Juan.
"Selamat siang guru...?" ucap mereka bertiga memberi salam.
"Siang...kalian baru datang...?" tanya guru juan lembut .
__ADS_1
"Benar guru...kami baru bisa pulang hari ini karena permintaan baginda Raja..." jawab Alea sambil menunduk hormat.
"Duduklah..." ucap guru besar pada mereka bertiga. Mereka bertiga saling berpandamgan , Lian Han dan Mimi ingat perkataan pelayan restoran itu kalau ada tamu yang sedang menunggu Hanpey pulang, dan mereka menyadari kalau tamu yang di maksud adalah tamu di depan mereka ini. Akhirnya Lian merasa kalau mereka tidak di butuhkan di sini.
"Guru...biarkan kami berdua menunggu adik hamba di luar saja..." kata Lian Han sambil menunduk hormat.
"Baiklah kalau itu keinginan kalian' tnggulah sebentar di luar..." kata guru Juan smbil menatap mereka berdua.
"Baik guru..." jawab Mimi dan Lian Han bersamaan , mereka segera berjalan keluar meninggalkan ruang guru Juan. Setelah melihat keduanya keluar ruangan , guru besar segera berucap.
"Hanpey ...duduklah di sini nak..." perintah guru juan sambil menunjuk kursi yang ada di sebelahnya agar Hanpey mendudukinya.
"Baik guru...." jawab Alea . dia segera duduk di kursi sebelah guru besar . '
"Nak....mereka telah mencarimu sejak dua hari yang lalu..."kata guru besar pada Alea.
"Mencari hamba...?" tanya Alea heran, sebab seingatnya dia belum pernah bertemu dengan mereka dan berurusan dengan mereka.
"Tunggu guru Juan...apa benar dia tabib Hanpey yang kami cari...?" tanya salah satu dari mereka.
"Benar...dialah tabib Hanpey yang kami punya...?" jawab guru besar dengan tenang.
"Maksud guru Juan , yang di katakan tabib Hanpey adalah pria muda ini...?" tanya mereka lagi.
"Memang dia....dan dia bukan seorang pria , tapi dia seorang gadis, dia tabib kebanggaan perguruan calang, dia tabib kebanggaan kami..." jawab guru besar dengan rasa bangga. Mereka menatap Alea dengan sorot mata tak percaya. Mereka tak percaya kalau pria atau gadis yang berada di depan mereka adalah tabib Hanpey yang mereka cari.
Memang mereka hanya mendengar kalau tabib dari perguruan Calang yang pandai dalam ilmu pengobatan adalah tabib Hanpey , namun mereka tak pernah menyangka tabib Hanpey yang menghebokan itu hanyalah seorang gadis yang masih sangat muda.
"Sebenarnya ada apa ini guru...?" tanya Alea heran, kenapa mereka mempertanyakan dirinya.
'Mereka mencarimu karena mereka ingin kau membantu penyembuhan putri kerajaan mereka..." jawab guru besar kembali.
"Menyembuhkan penyakit...?" tanya Alea sambil mengeryitkan dahinya.
"Benar...kami dari kerajaan Benua tengah yaitu Kerajaan Amora . putri bungsu Raja kami telah lama memiliki penyakit yang sulit di sembuhkan, sudah hampir satu tahun setengah dia menderita penyakit ini, banyak tabib yang kami datangkan untuk mengobati Putri Raja kami, namun semua tabib angkat tangan setelah mencoba menyembuhkan putri kerajaan. Hingga kami mendengar kalau perguruan Calang memiliki murid yang cakap dan pintar dalam penyembuhan, karena itu kami datang kemari...." jawab salah satu dari mereka bertiga.
"Dan ternyata saat tuan bertiga melihat hamba , kalian tidak percaya kalau hamba seorang tabib...?" tanya Alea datar.
"Benar...aku fikir tabib Hanpey itu seorang pria paruh baya yang sudah banyak pengalaman, ternyata dugaan kami salah, kalau ternyata tabib yang tersohor itu hanya seorang gadis mudah yang tentu saja pengalaman belum banyak, perjalanan kami ternyata hanya sia- sia..." kata pria paruh baya yang memang sejak tadi dia sudah memperlihatkan sikap menghina pada Alea setelah tahu keadaan tabib Hanpey.
"Kalau begitu untuk apa saya menolong putri kerajaan anda, kalau anda sendiri tidak mempercayai saya...?" kata Alea tajam . dia segera bangun dari tempat duduknya.
"Kalau begitu tidak ada gunanya hamba berada di sini guru, hamba mohon diri..." ucap Alea sambil menundukan kepalanya pada sang guru.
Guru Juan menganggukkan kepalanya, dia juga merasa marah pada utusan dari kerajaan benua tengah yang telah menghina muridnya.
"Tunggu...tunggu nak...." seru salah satu dari mereka menghentikan langkah Alea yang ingin keluar dari ruangan itu. Alea membalikkan badannya dengan malas menatap kembali ketiga pria utusan dari kerajaan tetangga itu.
"Tunggu nak....maafkan kami...maafkan kami yang telah merendahkan kampuanmu, bukannya kami sengaja meragukan kemampuan yang kau miliki, itu semua karena kami sudah begitu putus asa pada para tabib yang telah kami bawa untuk menyembuhkan penyakit tuan putri kami. Sudah banyak tabib yang kami bawa untuk dapat menyembuhkan dia, tapi semuanya sia- sia , mereka semua angkat tangan setelah mencoba menyembuhkan putri kami...." ucap pria paruh baya yang ada di antara mereka bertiga yang sejak tadi hanya diam saja .
"Karna itukah hingga anda bisa menghina orang yang lebih muda dari anda sekalian tanpa melihat dan membuktikan kebenarannya...?" tanya Alea datar.
"Karena itu kami yang tua ini meminta maaf padamu...?" jawab tetua itu lagi.
Melihat suasana hati Alea yang agak marah, guru Juan memanggil Alea kembali .
"Nak...kemarilah..." ucap guru juan lembut. Melihat tingkah guru juan yang hati- hati dan lembut pada Alea, membuat ketiga orang yang ada di depan mereka agak merasakan rasa tak enak di hati mereka.
"Hanpey..duduklah dulu..." ucap guru Juan lembut.
"Baik guru.... " jawab Alea sambil melepaskan nafas kesal nya. dia segera duduk kembali di dekat guru Juan.
"Maaf saudara Mu Borong, Jika memang kalian tidak mempercayai siswa kami, lebih baik anda sekalian mencari tabib yang lain, yang memang kalian percaya.." ucap guru Juan lembut. walaupun dia sangat marah dan kesal karena sikap mereka, namun guru Juan tidak bisa gegabah karena ini menyangkut dua kerajaan terbesar di dua benua. Benua Barat dan benua tengah. apalagi se bentar lagi akan ada pertandingan antar perguruan di seluruh benua dan tempatnya ada di benua tengah.
"Bukan, bukan begitu guru Juan...
maafkan adikku Mu Yucan yang agak kaku ini, mungkin karena kami terlalu putus asa hingga dia bersikap seperti ini, jadi sekali lagi maafkan kami.." kata pria tua yang bernama Mu Borong itu. melihat orang yang sudah mau merendah sampai seperti itu, Alea pun merasa bersalah. Dia juga merasakan kalau guru besar berhati- hati pada mereka.
"Hamba juga minta maaf tuan... maaf hamba yang muda ini telah berucap kasar dan lancang pada kalian..." ucap Alea sopan sambil berdiri dan menyatukan kepalan tangan di depan dada serta menunduk hormat, gaya pendekar memberi hormat.
para pria paruh baya itu tercengang menatap pada Alea,
"Kenapa gadis ini mau meminta maaf, sedangkan dia benar- benar mendapat hinaan dari mereka, dan mereka juga tahu kalau gadis itu tadi sudah tersinggung dan marah..." batin mereka dalam hati.
"Tidak, tidak masalah nak...kamilah yang seharusnya meminta maaf padamu ,..." jawab tuan Mu Borong sambil tersenyum lembut pada Alea.
Alea pun kembali duduk di dekat guru Juan.
"Kalau hamba boleh tahu, sakit apa yang di derita putri kerajaan anda..?" tanya Alea dengan sopan.
"Kami juga tidak tahu.. banyak tabib mendiagnosis berbeda penyakit, jadi kami tidak tahu penyakit apa yang ada di tubuh tuan putri kami..." jawab tuan Borong dengan wajah sedih .
"Waah...sulit juga kalau begitu, tapi Semua itu bisa kita lihat kalau kita sudah memeriksa tuan putri..." jawab Alea .
"Benar katamu nak...untuk itu kami ingin membawamu pergi memeriksa tuan putri kami..." kata tuan Borong lagi.
Alea terdiam mendengar perkataan tuan Borong yang akan mengajak dia pergi ke kerajaannya.
"Gimana Hanpey...apa kau mau ikut dengan utusan dari kerajaan Amora....?" tanya guru besar . Alea terdiam sejenak.
tak lama dia berkata.
"Andai hamba mau , kapan kita akan berangkat....?" tanya Alea.
"Secepatnya nak...karena kita di buru waktu..." jawab utusan Borong.
"Apakah kedatanganku mengganggu kalian semua...?" sebuah suara mengejutkan mereka semua yang berada di dalam ruangan.
"Tabib Lao...." seru mereka serempak.
"Guru Lao...." ucap Alea ketika sesosok pria paruh baya yang terlihat masih kokoh itu berdiri di depan pintu ruangan guru Juan.
"Apakah aku mengganggu kalian semua...?" tanya dia lagi.
"Mana mungkin... kami hanya membahas soal Hanpey, mereka meminta Hanpey untuk pergi ke kerajaan Amora..." kata guru Juan .
"Apakah kau sudah memutuskan untuk ikut Hanpey....? sebenarnya akulah yang memberitahukan pada mereka soal dirimu..." kata guru Lao dengan tenang.
"Guru...." seru Alea kaget.
__ADS_1
"kakak....kenapa kau memutuskan tentang Hanpey tanpa bertanya dulu padaku...?" terdengar nada protes guru Juan pada sang kakak.
"Mereka yang memaksakan untuk mempunyai ide seperti ini, aku yang sudah tak mampu menyembuhkan putri mereka, tapi mereka tetap memaksaku untuk menyembuhkan tuan putri kesayangan Raja mereka, ya terpaksa aku menyuruh mereka mendatangi Hanpey, lagian Hanpey juga muridku..." ucapnya cuek.
"Ck...kau ini...seharusnya kau memberitahu kami ....kau tahu muridmu tadi hampir marah...?" kata guru Juan kesal pada sang kakak.
"Kenapa...?" tanya guru Lau tak mengerti.
"Maaf tabib Lao...jadi memang dia tabib yang kau minta untuk kami temui...?" tanya utusan yang bernama Mu Yucan adik dari tuan Mu Borong pada guru Lao.
"Benar...ada apa...?" tanya guru Lao tak mengerti.
"Maaf tadi aku telah meremehkan dan menghina kemampuannya...." ucap Mu Yucan merasa malu dan menyesal.
"Ha ha ha aku tahu itu...jangankan kalian, aku saja pertama kali tidak percaya kalau gadis muda seperti ini bisa menyembuhkan orang sakit, dan apakah kalian tahu, kalau pasien dia salah satunya adalah adikku sendiri, bisa kau lihat kesehatannya sekarang, semua itu karena mendapat rawatan dari muridnya sendiri,...." kata tabib Lao dengan penuh pujian. Ketiga utusan dari kerajaan Amora hanya bisa menatap Alea tak percaya.
"Guru...kenapa guru malah mengatakan seperti itu...bukankah murid masih harus banyak belajar pada guru...?" kata Alea dengan wajah cemberut.
"Kau ini... sudah sekarang kau harus bersiap- siap pergi bersama mereka, aku juga akan ikut denganmu, kau tahu... semakin sering kau mendapatkan pasien yang sulit kau tangani ,semakin kuat ilmu yang kau dapatkan nak...." kata tabib Lao menasehati.
"Baiklah guru, hamba akan pergi dengan kalian, tapi apakah hamba boleh membawa kakak hamba...?" tanya Alea pada guru Lao.
"Kau bisa tanyakan sendiri pada guru Juan mu..." jawab guru Lau
"Bagaimana guru...." tanya Alea pada guru Juan.
"Hanpey...kalau soal kakakmu si Mimi kau bo?leh membawanya sekarang agar ada yang menemanimu, tapi kalau kakakmu si Lian Han, Dia akan berlatih dulu untuk menghadapi pertemuan antar perguruan yang akan di laksanakan satu bulan mendatang di kerajaan Amora, Dia dan kau adalah salah satu peserta yang akan bermain, jadi bulan depan kalian bisa bertemu di sana..." kata guru Juan sambil tersenyum lembut pada Alea.
Mendengar perkataan sang guru Alea mengerti.
"Kalau begitu hamba mohon diri dulu guru..." kata Alea sambil membungkuk.
"Pergilah...." ucap guru Juan,
"Hanpey...kita akan berangkat besok pagi ingat itu...." ucap guru Lao mengingatkan.
"Murid mengerti guru..." jawab Alae
sambil menunduk memberi hormat. lalu dia segera keluar dari ruang guru Juan . Ketika Alea keluar dari ruang itu, terlihat ketiga utusan dari kerajaan Amora menatap kepergian Alea penuh kekaguman.
"Guru Juan...dari mana kau dapatkan wanita secerdas dan sesopan itu... ?" tanya tuan Borong pada guru Juan.
"Dia salah satu peserta yang mendaftar pada tahun ini, dia murid terpandai dari angkatan tahun ini..." jawab guru Juan dengan kebanggaan yang sulit di sembunyikan.
"Maksudmu dia juga salah satu kultivator perguruan mu....?" tanya tuan Borong kaget.
"Benar, dia juga merupakan bakat kutivasi dari perguruan ini..." jawab guru Juan lagi.
"Mana mungkin....sebab seorang Kultivator dan Ahli kimia itu berbeda jalur, apakah dia bisa melakukan secara bersama- sama...?" tanya tuan Borong tak percaya.
"Kau bisa melihatnya nanti saat dia melakukan penyembuhan pada putri kerajaan kalian, dan soal Kultivatornya , Kalian bisa melihat saat pertandingan nanti, bukankah acara itu di selenggarakan di kota Kerajaan Amor..." kata guru Juan tenang.
"Benar juga kita bisa melihatnya nanti..." jawab tuan Borong .
"guru Juan...apakah kau tidak bisa memberikan Hanpey pada kerajaan kami...?" tiba - tiba terdengar suara utusan kerajaan yang sejak tadi diam saja.
"Apa maksud anda...?" tanya guru Juan dan guru Lao bersamaan, mereka kaget dengan ucapan salah satu utusan kerajaan Amora itu.
"Aku ingin menjadikan dia muridmu di kerajaan Amora..." ucap pria itu.
Mu Borong dan Mu Yusan kaget bukan kepalang, pria ini tidak pernah menginginkan seseorang menjadi muridnya. selama ini dia hanya mempunyai satu murid yang kini menjadi jendral besar kerajaan Amora. Banyak orang yang ingin menjadi muridnya, tapi dia tidak pernah menginginkan satupun dari mereka jadi muridnya. namun kini.. tiba - tiba dia meminta seorang gadis menjadi muridnya.
"Kak Zheng Xuan...kau menginginkan gadis itu jadi muridmu...?" tanya Mu Barong tak percaya.
"Apa masalahnya , aku suka gadis yang memiliki pendirian yang kuat namun hatinya sangat lembut, gadis seperti itulah yang cocok denganku...?" jawabnya tenang. Kedua Saudaranya hanya bisa menatap tuan Zheng Xuan dengan tak percaya .
"Tapi maaf... keinginan kalian tidak bisa kalian lanjutkan, karena dia adalah calon Putri Mahkota kerajaan Shi ini, dia calon permaisuri Putra Mahkota Lingzhi..." jawab guru Juan datar. Ketiga utusan itu kaget. jadi wanita cantik yang menyamar seperti pria adalah calon putri mahkota .
"Apaa..calon putri Mahkota...? apa aku nggak salah dengar ..?" tanya tuan Borong kaget.
"Benar apa yang kau dengar tuan Borong, dia adalah calon putri Mahkota..." jawab Guru Lao menegaskan perkataan sang adik.kedua utusan itu hanya bisa diam karena kaget mengetahui siapa Alea. namun di hati tuan Zheng Xuan beda, dia bertekat akan menjadikan Alea muridnya.
Sedang Alea yang keluar dari ruang guru Juan kini sedang berjalan dengan Mimi dan Luan Han.
"Kak...kita bersiap akan pergi lagi... besok pagi kita akan pergi ke kerajaan Amora..." kata Alea pada Mimi.
"Kita akan pergi lagi Lea'er...?" tanya Mimi tak percaya.
"iya kita akan pergi lagi..." jawab Alea singkat.
"Aku juga Lea'er...." tanya Luan Han.
"Tidak, gege tidak ikut, hanya aku dan kak Mimi yang pergi , karena gege akan mengikuti pelatihan selama beberapa hari untuk mengikuti pertandingan di kerajaan Amora, kita nanti akan bertemu di sana..." jawab Alea dengan serius.
"Waah ..tak terasa waktu pertandingan antar benua telah terjadi lagi, aku sampai lupa itu..." ucap Lian Han gembira.
"Maksud kakak pertandingan itu memang selalu ada...?" tanya Alea lagi.
"Benar Lea'er...pertandingan itu terjadi setiap empat tahun sekali, dan itu di selenggarakan bergantian, kalau empat tahun yang lalu di selenggarakan di benua timur, dan sekarang di benua tengah. mungkin empat tahun lagi di di benua kita ini..." ucap Lian Han dengan wajah gembira.
"Apakah kau tahu siapa yang jadi juara pertama empat tahun lalu..?" tanya Lian membuat orang penasaran.
"Siapa...?" tanya Mimi.
"Dari perguruan kita, dan Pangeran Lingzhilah pemenangnya...." jawab Alea pelan.
"Hey....dari mana kau tahu itu...?" teriak Lian Han kaget.
"He he he...dari sikapmu yang terlihat bahagia semua orang bisa menebaknya kak..." jawab Alea sambil tertawa.
"Dasar kau ini... punya adik jenius selalu membuat kita kalah langkah..." keluh Lian kesal.
"Apakah kakak nggak ingin punya adik sepertiku ...?" tanya Alea menggoda.
"Ooo...aku malahan bangga sekali Lea'er.. aku malah menyesalkan tahun yang telah kita lewati tanpa kedekatan kita , setiap gege mengingat semua itu gege selalu merasa bersalah ..." ucap Lian Han dengan sedih. Alea yang berada di sampingnya tersenyum dan mengambil lengan sang kakak untuk dia peluk sambil berjalan kearah kamar mereka. Melihat tingkah Alea yang menunjukkan kasih sayangnya. Lian Han merasakan kehangatan di dalam hatinya.
"Jangan ingat lagi masalalu kita gege... yang penting sekarang kita telah hidup bahagia, oh ya gege...apakah kau bisa memberi kabar pada Ayah kalau kita akan pergi ke kerajaan Amora...?" tanya Alea sambil menggandeng tangga sang kakak dengan manja.
"Bisa...nanti kakak akan menulis surat untuk Ayah..." jawab Lian Han dengan bahagia melihat tingkah sang adik, begitu juga dengan Mimi, dia merasakan kebahagiaan di hatinya ketika dia melihat kerukunan adik dan kakak yang ada di sebelahnya. tanpa sadar Mimi tersenyum bahagia.
__ADS_1
Udahan dulu ya...jangan lupa like, vote san komennya.🙏
Bersambung.