PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
KE RUMAH JENDRAL.


__ADS_3

"Ayah...apakah kita bisa pergi sekarang.?" tanya Alea pada Jendral Murong Han.


"Sebentar nak...Ayah takut Yang Mulia mencarimu..." kata Jendral Murong Han sambil melihat sang putri yang terlihat sangat lelah.


"Tapi Alea sangat lelah Ayah..." kata Alea dengan wajah lelahnya. Dia memang lelah, tapi dia sebenarnya merasa tidak enak berada di istana Long ini, bagaimanapun dia adalah gadis yang pernah di tolak dan di gagalkan perjodohannya oleh putra Mahkota kerajaan Long ini.


"Baiklah Lea'er...Ayah akan berpamitan dulu pada Raja Rueyan di dalam, kau tunggu dulu di sini..." ucap Jendral Murong Han pada sang Putri.


"Baik Ayah, aku akan menunggu Ayah di sini...tapi Ayah..Alea hampir lupa, kakek Kaisar tadi meminta bubur, dan aku tak tahu harus meminta pada siapa....." kata Alea sambil duduk di kursi sebelah sang Ayah.


"Kau ini...kenapa kau melupakan hal sepenting itu nak...?" kata sang Ayah. Dia buru- buru memanggil seorang pelayan untuk cepat- cepat membuatkan bubur untuk Kaisar tua. Dan dengan terburu- buru pelayan itu pergi kedapur kerajaan untuk melaksanakan perintah Jendral Murong Han. Tak lama putra mahkota Lingzhi ikut duduk juga di kursi yang di ambilkan oleh pengawalnya. Dia menaruh kursi di sebelah Alea. Pangeran Lingzhi sepertinya benar- benar tidak ingin jauh dari Alea.


Sedangkan Raja Rueyan setelah dia di persilahkan oleh Alea untuk melihat sendiri keadaan Kaisar tua.


Dengan perasaan takut dan cemas raja dan permaisuri berjalan masuk kedalam kamar sang Kaisar tua di ikuti oleh selir dan para putra putrinya. Sebenarnya Alea mau mencegah mereka masuk berbondong- bondong tapi takut mereka tersinggung, lagian keadaan Kaisar tua sudah tidak membahayakan lagi. Saat kaisar masuk, dia sangat kaget melihat keadaan Kaisar tua. Terlihat sang


Kaisar sedang terbaring dengan wajah segar .


"Ayaaah...anda sudah sehat..." seru Raja Rueyan sambil berjalan cepat ke pembaringan sang Ayah.


"Dasar anak durhaka...apakah kau mengharapkan ayahmu selalu sakit...!" seru kaisar Tua marah. Melihat sang Ayah telah kembali bisa marah Raja Rueyan bahagia. Karena itu bertanda kalau Kaisar tua sudah sembuh.


"Ayah aku lebih suka melihat Ayah marah seperti ini, daripada melihat Ayah sakit..." ucap Raja Rueyan sambil memeluk sang Ayah.


"Apa kau ingin aku cepat mati ha..? Kau ini..." seru Kasar tua semakin marah.dan suara kaisar tua sudah tidak lemah lagi. Kini wajah tua itu terlihat segar seperti tidak pernah mengalami penyakit parah.


Walau untuk bangun dia masih belum bisa. Bukan belum bisa, tapi dia tidak berani.


"Bukan begitu Ayah...apakah Ayah tahu, saat Ayah sakit, aku merindukan omelan dan kemarahan Ayah...karena jika ayah marah aku tahu ayah menunjukkan kasih sayang ayah melalui kemarahan Ayah. aku tahu sebenarnya Ayah sangat menyayangiku..." ucap Raja Rueyan pada kaisar tua. Kaisar tua tersenyum mendengar perkataan sang putra.


Setelah sang Raja berbincang sebentar dengan Kaisar tua. Permaisuri dan para selir serta para cucu mengucapkan selamat pada sang kakek yang telah di beri kesembuhan oleh dewa. Setelah itu, satu parsatu mereka keluar, karena kaisar tua akan istirahat. Namun sebelum mereka keluar semua , tiba- tiba Jendral Murong Han meminta ijin ingin bertemu. Setelah memberi salam pada Raja Rueyan dan Kaisar tua, Jendral Murong berkata.


"Maaf Yang Mulia.. apakah hamba boleh membawa putri hamba pulang...?" ucap Jendral Murong Han dengan sopan.


"Ya dewa aku lupa...gadis itu pasti merasa lelah...demi kesembuhan Ayahanda kami tidak istirahat dengan benar, baiklah kau bawa dia pulang dulu Murong.....nanti malam kau bawa lagi dia kemari..." kata Raja Rueyan dengan wajah meminta maaf.


"Tunggu...kau suru kemari dulu gadis bau itu....aku belum mengucapkan terimakasih padanya, dan lagi apa dia sudah menyuruh orang membuatkan bubur untukku...?" kata Kaisar tua dengan wajah menatap Jendral Murong.


Mendengar perkataan Kasar tua yang meminta bubur, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut tidak terkecuali Raja Rueyan sendiri.


Sebab sudah beberapa bulan ini makan Kaisar Rueyan sangat sulit, dia jarang mau makan dengan benar, apalagi di dalam bulan- bulan saat penyakitnya mulai parah .


"Sudah yang mulia , hamba sendiri yang menyuruh pelayan untuk membuatkan makanan..." jawab Jendral Murong Han.


"Apaa..Ayahanda minta bubur...?" tanya Raja Rueyan dengan wajah kaget bercampur gembira.


"Ya kenapa....? Apa aku tidak boleh merasa lapar...?" tanya Kaisar Tua dengan nada marah.


"Bukan, bukan begitu Ayah...aku malah sangat bahagia mendengar Ayah mau makan... " kata Raja Rueyan dengan wajah sangat bahagia. Begitupun dengan menantu dan cucu- cucunya. Mereka sangat bahagia karena Kaisar tua sudah mau meminta makan.


"Kalau begitu suruh gadis bau itu kemari dulu, baru dia boleh pulang...." ucap Kaisar tua.


"Baik yang Mulia...kalau begitu hamba mohon diri dulu..." pamit Jendral Murong Han .


"Pergilah..." jawab Kaisar tua lagi.


Jendral Murong Han segera keluar ruangan. Tak berapa lama terlihat Alea masuk kedalam ruangan. Melihat kedatangan Alea, kaisar tua menggerakkan tangannya memanggil Alea.


"Anak bau kemarilah....!" seru kasar tua.


"Baik kakek Kaisar...." jawab Alea. Dia segera mendekati tempat pembaringan Kaisar tua .


"Kakek...apakah kau tidak ingin duduk...?" tanya Alea sambil tersenyum lembut.


"Apakah aku bisa bangun...?" tanya kakek Kaisar tua kaget.


"Apakah kakek tidak merasakan kesegaran dan kekuatan kakek telah kembali...?" jawab Alea lagi. Tentu saja kekuatan kakek Kaisar akan cepat kembali setelah meminum ramuan dari Alea yang mengandung buah dan air kehidupan.


"Dasar anak bau...kenapa kau tidak bilang dari tadi...!" seru kakek kaisar marah.


"He he he..maaf Kek...habis Kakek Kaisar nggak nanya. .." jawab Alea sambil terkeke pelan.


"Kalau begitu Ayo bantu aku bangun..." ucap Kasar tua .


"Baik Kek...." jawab Alea santai. Melihat Alea berbincang santai dengan Kaisar Tua, semua orang menatap Alea dengan wajah berbeda- beda.


Mereka merasa heran dengan Alea yang bisa berbicara dengan santainya ketika berbicara dengan Kakek Kaisar Tua. Sedang mereka saja harus merasa takut dengan Kaisar tua. Yang bisa berani berbicara agak santai dengan beliau, hanya putra Mahkota yang merupakan cucu kesayangan Kaisar tua.


Perlahan Alea dan kasim kepercayaan Kaisar tua, membantu kakek Kaisar bangun dan duduk sambil menyandar di bantal yang disusun rapi di belakang sang Kaisar tua .


"Nach sekarang apa kakek merasa baikan...?" tanya Alea lembut. Sedang sang kasim masih memakaikan selimut di kaki sang Kaisar.


"Sudah...kakek sudah merasa enakan..." jawab Kaisar tua.


"Ada apa kakek memanggil Lea...?" tanya Alea lembut .


"Kakek hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu nak... Kau telah membuat kakek tidak jadi menghadap raja akhirat...." kata Kakek Kaisar tua.


"Kakek.. jangan khawatir...Raja akhirat masih belum mau menerima kakek di istananya, jadi kakek masih akan memiliki umur yang cukup panjang kek..." goda Alea sambil terkeke.


"Dasar gadis bau...kau berani menggoda kakek tua ini ha...!" seru kaisar tua pura- pura marah.


"Maaf kakek...dengan melihat kakek sudah bisa marah kembali, itu tandanya kakek sudah sembuh...." jawab Alea. Alea kini sudah merasakan kedekatan putri Lea di masa lalunya dengan kakek ini, dia mendapatkan bayangan - bayangan kedekatannya dengan kakek Kaisar tua . Karena itulah dia dulu bertunangan dengan putra mahkota atas desakan Kakek Kaisar tua, karena kakek ini mengetahui kalau Putri Lea sangat mencintai putra Mahkota. Namun ternyata Putra mahkota membatalkan hubungan mereka . Alea tersrnyum mengingat semua itu . sedang para menantu kaisar tua segera keluar ruangan setelah melihat kesehatan Kaisar tua yang sudah membaik. Begitupun dengan para Putri dan Pangeran ,mereka ikut keluar bersama sang Bunda. Dan terlihat putra Mahkota Fang keluar dari kamar sang kakek dengan rasa enggan. Ingin rasanya dia berbincang bersama Kakek dan Alea. Semua tingkahnya tidak luput dari pandangan Raja Rueyan.


"Kau sekarang telah menyesali sikapmu yang telah membatalkan pertunanganmu dengan putri Lea , tapi semua sudah terlambat, dia sekarang sudah menjadi milik putra Mahkota Lingzhi. ..." ucap Raja Rueyan dalam hati. Dia juga merasa kasihan melihat kesedihan Pangeran Fang saat menatap Alea. Namun nasi sudah menjadi bubur, penyesalan yang dia rasakan akibat dari perbuatannya sendiri. Andai dia mau mendengarkan perkataan orang tua, dia tak akan pernah merasakan penyesalan seperti sekarang ini. Raja pun merasakan kekecewaan tidak bisa menjadikan gadis jenius dan ramah di depannya ini, menjadi menantu dan calon putri Mahkota kerajaan Long ini. Tiba- tiba terdengar ketukan pintu kamar Kaisar tua.


Seorang dayang masuk dengan membawa nampan berisi bubur untuk Kaisar tua. Kasim kepercayaan Kaisar tua segera mengambilkan mangkok berisi bubur untuk di berikan pada sang Kaisar.

__ADS_1


"Kek...kalau tidak ada masalah lagi, Alea mohon diri dulu, nanti malam Alea akan datang lagi..." ucap Alea .


"Baiklah kau boleh pulang ...tapi ingat kau harus datang lagi nanti malam..." kata Kaisar tua dengan wajah serius.


"Trimakasih kek...Alea janji akan datang lagi nanti malam, oh ya kasim, tolong kau berikan nanti dua pil ini pada kakek setelah beliau selesai makan, dan tolong makanan untuk kakek jangan terlalu banyak mengandung garam..." kata Alea sambil memberikan obat untuk kakek.


"Baik putri...hamba akan melaksanakan semua perintah putri...." jawab sang kasim. Alea segera keluar dari kamar Kakek Kaisar tua setelah berpamitan pada Kaisar tua dan Raja Rueyan. Ketika sampai di luar kamar kakek Kaisar, terlihat pangeran Lingzhi dan Jendral Murong serta kedua pengawal Pangeran Lingzhi telah menunggu Alea keluar dari kamar Kaisar tua .


"Ayo kita pulang...." ucap Jendral Murong Han setelah melihat Alea keluar dari kamar. dia segera berjalan mendahului mereka ber empat .


"Baik Ayah...." ucap Alea.


"Baik paman...." kata Pangeran Lingzhi.


Mereka berempat mengikuti Jendral Murong Han.


"Pangeran...kenapa kau masih memanggilku paman...apakah kau tidak mau memanggilku Ayah seperti calon istrimu...?" goda Jendral Murong Han yang berjalan di depan mereka .


Mendengar perkataan sang Ayah, terlihat semburat merah di wajah putri Alea .


"Apa boleh Paman...." jawab Pangeran Lingzhi sambil menatap Alea yang berpura- pura menatap taman kerajaan Long. Pangeran Lingsi tersenyum senang , dia merasakan senang melihat sang kekasih wajahnya terlihat memerah.


"Tentu saja...kau sekarang adalah calon menantu Ayah, tentu saja kau harus memanggilku dengan sebutan Ayah..." kata Jendral Murong Han menegaskan.


"Trimakasih Ayah..." ucap Pangeran Lingzhi kembali. Mereka segera kembali ke Minsion tempat tinggal Jendral Murong Han . dengan mengendarai kuda mereka, mereka segera meninggalkan istana kerajaan Long. tak berapa lama mereka telah berada di depan Minsion milik sang Jendral yang memang tidak terlalu jauh dari istana. Saat mereka akan masuk kedalam Minsion milik Jendral Murong , terlihat dua penjaga gerbang mendekati mereka. namun saat melihat Jendral berada di antara kelima orang pendatang yang menaiki kuda itu, mereka segera membukakan pintu gerbang Minsion dan memberi salam.


"Selamat datang kembali tuan..." sapa mereka serempak.


"Hmm..." jawab Jendral Murong sambil meneruskan langkah kaki kudanya masuk kedalam Mensionnya. Alea mengikuti sang Ayah di belakangnya bersama Pangeran Lingzhi dan pengawal sang Putra Mahkota . mereka berdua mendapatkan tatapan kagum dari dua penjaga itu.


"Siapa mereka ber empat itu ya...?" tanya penjaga satu.


"Aku juga tidak tahu...tapi kalau wajah yang wanita seperti aku pernah melihatnya..." kata penjaga kedua .


"Benar...aku juga merasa seperti pernah melihat dia...?" kata penjaga pertama.


Alea hanya tersenyum mendengar percakapan mereka berdua. setelah sampai di depan rumah tempat tinggal Jendral Murong. mereka segera turun dari kuda .


"Ayaaah...kau sudah datang...?" terdengar suara nyaring dari arah tempat tingga para putri. mereka bertiga segera melihat pada sumber suara. seorang gadis cantik terlihat berjalan cepat menghampiri mereka bertiga. gadis itu berjalan bersama beberapa pelayan.


"Ayah..kau sudah datang...?" tanya gadis itu dengan manja.


"Mana sopan sentunmu putri May , apakah kau tidak melihat ada tamu.....?" tegur Jendral Murong sedikit marah.


"Maaf Ayah..karena aku merindukanmu.." jawab putri May dengan nada manjanya.


Mendengar perkataan putri May, Alea ingin tertawa. sejak kapan gadis sombong ini perhatian pada Ayah. karena Alea tahu pitri May akan bersikap manja seperti ini jika dia akan meminta sesuatu pada sang Ayah .


"Maaf nak tingkah dari saudaranya Lea..." kata Jendral Murong Han pada Pangeran Lingzhi.


mendengar s ara seseorang yang terdengar sangat lembut dan menyebut Jendral Murong Han dengan sebutan Ayah , membuat Putri May menatap asal suara. Dia bisa melihat dan merasa terkejut ,seorang pria teramat tampan berdiri di sebelah seorang gadis cantik yang terlihat sangat femiliar . namun dia tidak tahu kapan dan dimana dia pernah bertemu dengan wanita itu, tapi yang membuat dia bergetar dan tak bisa melepas pandangan , saat melihat ketampanan pria itu. dan dia dapat melihat kalau pria itu dengan lembut menggandeng tangan gadis yang berada di sampingnya , saat dia mengikuti sang Ayah masuk kedalam rumah. putri May juga ikut masuk kedalam rumah.


"Silahkan duduk dulu Pangeran..." kata Jendral Murong mempersilahkan pangeran Lingzhi untuk duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


Pangeran Lingzhi segera duduk di kursi yang ada di ruang tamu bersama kedua pengawal , namun tangannya tetap memegang erat tangan Alea, hingga akhirnya Alea harus duduk juga di sebelah pangeran Lingzhi. sedang Jendral Murong segera menyuruh pelayan untuk membersihkan beberapa kamar untuk mereka semua .


"Ayah...kalau boleh tahu siapa mereka...?" tanya putri May yang sejak tadi sudah penasaran dengan Alea dan pangeran Lingzhi.


"Kau tidak mengenali saudaramu...?" tanya Jendeal Murong Han sambil menatap putri May Han .


"Saudaraku...? saudara yang mana Ayah.. kalau tuan itu, seoertinya dia bukan saudaraku, lalu kalau yang wanita sepertinya aku tidak pernah bertemu dengan saudaraku yang wajahnya seperti dia, kampungan....." kata putri May Han dengan tatapan sinis dan menghina.


Ternyata dia merasa iri dan cemburu pada Alea yang terlihat sangat di manja oleh pria tampan itu. hingga pria itu tidak memandang dirinya sama- sekali .


"Ayah...aku memang tidak pernah memiliki saudara selain gege Lian Han Ayah... " ucap Alea dengan tenang.


"Hey...siapa kau...kau mengaku adik dari gege Lian....? enak saja, akulah adik dari gege Lian, siapa kau berani beraninya mengaku adik dari gege Lian..." kata Putri May Han dengan tingkah sombongnya.


"Putri May....jaga sikapmu...!" seru Jendral marah.


"Ayah...kenapa Ayah membela dia, siapa dia...?kenapa Ayah lebih membela dia daripada putri Ayah sendiri.." ucapnya dengan tingkah menyebalkan.


"Kau katakan Ayah lebih membela dia daripada putri Ayah sendiri...? kau fikir siapa dia...? dia adalah putri Lea Min Han putri kandung Ayah yang telah pergi . dan kau sekarang berani menghina dirinya , Apakah kau tahu siapa pria yang ada di sebelahnya...! dia adalah putra Mahkota Kerajaan Shi. yaitu pangerah Lingzhi ..." ucap Jendral murong dengan marah.


"Apaaa...dia putri Lea Min Han...!" serunya kaget. begitu juga dengan para pelayan yang ada di sana


"Tidak, ini tidak mungkin....kenapa Lia Min Han bisa berubah menjadi gadis yang sangat cantik . tidak...itu tidak mungkin...dan apa tadi kata Ayah...dia bertunangan dengan putrah Mahkota kerajaan Shi...?" seru May dalam hati.


Dia tidak percaya semua yang telah dia dengar.


"Apa ayah...dia Putri Lia Min Han...? mana mungkin Ayah...gadis itu pasti bukan putri Lea Min Han , jangan percaya dengan dia Ayah...si ja***g itu tidak mungkin secantik ini Ayah...jangan percaya dia...!" teriak putri May keras.


Mana mungkin dia percaya gadis yang berdiri di depannya adalah si brengsek yang telah membuat sang Bunda mendapat hukuman mati, dan sang kakak pergi dari rumah ini . dan lebih gila lagi gadis di depannya sangat cantik dan dia calon istri penguasa dari kerajaan Shi yang terkenal besar dan kaya itu. Apalagi melihat wajah pangeran yang terkenal dingin dan tampan itu berada di depannya.


"Tutup Mulutmu May....kau menghina saudaramu...!" teriak Jendral Murong semakin marah.


"Tidak...dia bukan saudaraku...saudaraku Putri Meilan telah pergi dari rumah ini...!" teriak pitri May dengan keras.


"Ayah...biarkan saja...aku juga tidak ingin memiliki saudara seperti dia, aku sudah cukup memiliki Lian gege...aku hanya butuh Ayah dan gege Lian saja kok.." kata Alea dengan wajah tenang. mendengar perkataan Alea , putri May semakin marah.


"Tutup mulutmu...dasar pe****r murahan..." seru Putri May marah.


Plaak....


Terdengar suara tamparan menggema di ruangan itu. terlihat putri May memegang pipinya dengan mata molotot tak percaya.


"Ayah....kau telah memukulku....?" kata putri May dengan wajah kaget menatap Jendral Murong Han seolah rak percaya kalau sang Ayah telah menamparnya .

__ADS_1


"Ayah akan menamparmu kembali jika kau tidak bisa menjaga mulutmu..." seru Jendral Murong dengan wajah memerah karena marah.


"Sabarlah Ayah... jangan kau perdulikan perkataan putri May... Ayah harus menjaga kesehatan Ayah..." kata Alea lembut.


"Tapi Ayah tak mau kau di hina lagi sayang..." ucap Jendral Murong sambil menatap Alea yang duduk dengan tenang.


"Alea tahu Ayah...tapi biarkan saja, yang penting adalah kesehatan Ayah..." jawab Alea lagi sambil berdiri mendekati sang Ayah.


"Kau memang benar putriku.. aku harus selalu menjaga kesehatan diriku agar aku bisa melihat cucuku kelak..." kata Jendral Murong Han dengan wajah kini sudah kembali seperti semula.


"Nach...itu baru Ayahku..." ucap Alea sambil memeluk sang Ayah. tanpa mereka sadari terlihat wajah pangeran Lingzhi juga memerah.. dia mengepalkan tangannya karena menahan kemarahan.


"Dasar gadis sialan, berani sekali dia menghina calon istriku...awas saja kau.." seru pangeran Lingzhi dalam hati.


"Kalau begitu kalian istirahat dulu.." kata Jendral Murong Han dengan wajah masih terlihat sedih.


"Baik Ayah..." jawab Alea.


Jendral Murong Han segera memanggil pelayan yang dia tugaskan menyiapkan kamar untuk Alea dan pangeran Lingzhi serta pengawalnya, Dan menyuruh mereka mengantarkan pangeran Lingzhi , Alea, dan kedua pengawal sang pangeran menuju kamar yang sudah mereka persiapkan.


Pangeran Lingzhi segera memegang tangan Alea yang ingin berjalan mengikuti pelayan yang akan membawa mereka kekamar mereka masing - masing, dan menggandengnya dengan mesra.(Waah..pangeran tak perduli ada mertua tu...😂).


Melihat perbuatan pangeran Lingzhi terlihat May semakin marah. dia mengepalkan tangannya dengan keras hingga kuku tangannya menancap di telapak tangannya .


Dan saat Alea melewati tubuhnya, dengan sengaja dia menabrakkan bahu lengan kirinya di bahu kanan milik Alea dengan keras. namun karena kekuatan Alea lebih besar dari kekuatannya. dia sendiri yang jatuh ter kapar di lantai , dan tanpa dia sadari Alea menaburkan bubuk racun gatal kearah tubuh putri May .


Saat putri May terjatuh Alea berucap.


"Ya ampuuun...kau terjatuh putri May...?." ucap Alea seolah kaget.


Melihat itu putri May semakin marah. namun tanpa malu dia meminta tolong pada Pangeran Lingzhi.


"Pangeran...tonglah hamba...." ucap Putri May dengan manja dan mengulurkan tangannya pada pangeran Lingzhi yang berada di sebelah Alea.


"Masih banyak pelayanmu yang akan membantumu bangun...dan kau bukan siapa- siapaku , ayo sayang kita pergi..." Ajak pangeran Lingzhi pada Alea.


"Mari pangeran....." jawab Alea. mereka berempat kembali berjalan pengikuti pelayan yang sudah berjalan duluan.


Melihat kesinisan dan dinginnya Pangeran Lingzhi padanya, membuat Putri May bergidik ngeri , namun saat Oangeran Lingzhi berbicara dengan Putri Lea, terlihat wajah dan tindakan pangeran Lingzhi sangat lembut dan terlihat sangat menyayangi putri Lea Min Han .


Putri May segera bangun dengan bantuan para pelayannya dengan wajah marah. Dia merasakan rasa Iri, cemburu, marah semakin besar didadanya. Setelah sampai di dalam ruang kamarnya, Putri May tidak tahan lagi. Dia melemparkan semua barang yang ada di atas meja hiasnya. dia marah tak terkendali. semua pelayannya hanya bisa menatapnya dengan rasa takut.


"Dasar ja***g...Kenapa dia seberuntung itu...dia hanya gadis kampung jelek dan bodoh, kenapa dia bisa mendapatkan Putra Mahkota Kerajaan Shi yang terkenal itu. Aku fikir dia akan menderita karena penolakan pangeran Fang , tapi kenyataannya dia malah seberuntung itu, sial...sialan...kau memang Putri sialan yang selalu membuatku ingin membunuhmu...!" teriak Putri May dengan marah di kamarnya.


Sedang di tempat Alea terlihat pangeran Lingzhi berada di kamar Alea. Setelah mandi tadi , dia segera mendatangi kamar Alea.


"Ada apa pangeran kemari...?" tanya Alea heran , Ketika dia membuka pintu kamarnya karena ada yang mengetuk pintu .


"Aku hanya ingin bertanya padamu sayang...apa yang kau taburkan di tubuh adik tirimu tadi...?" kata Pangeran Lingzhi sambil memeluk pinggang Alea. Tentu saja tingkah pangeran Lingzhi membuat Alea kaget .


"Pangeran....!" seru Alea sambil ingin melepas pelukan pangeram Lingzhi.


"Kau tak akan kulepaskan sebelum menjawab pertanyaanku..." ucap Pangeran Lingzhi sambil mempererat pelukannya. hingga jarak mereka sangat dekat.


"Iya, iya hamba akan mengatakannya... tapi tolong lepaskan dulu pelukan pangeran, hamba tidak nyaman ngomong dengan tubuh kita yang seperti ini..." ucap Alea dengan wajah memerah.


"Baiklah akan ku lepas, tapi kau harus menjelaskan yang sebenar - benarnya..." ucap Pangeran Lingzhi lagi.


"Baik hamba berjanji..." jawab Alea.


Dengan berat hati Pangeran Lingzhi melepas pelukannya. dia melakukan itu karena takut Alea akan membencinya. dia tak ingin perjodohannya dengan Alea mengalami kegagalan.


"Coba sekarang katakan, bubuk apa yang kau taburkan pada putri May tadi...?" ucap Pangeran Lingzhi.


"Bubuk gatal...bubuk itu kalau terkena tubuh seseorang akan terasa sangat gatal. kalau orang itu tahan, dalam satu jam rasa gatal itu akan hilang dengan sendirinya, tapi jika dia tidak tahan dan menggaruknya maka dia akan merasakan gatal yang semakin parah. walaupun orang itu mandi jika sudah terkena racun ini, gatalnya tidak akan bisa hilang kalau tidak meminum penawarnya...." kata Alea lagi. Mendengar perkataan Alea, pangeran Lingzhi tertawa keras.


"Sayang kau jahat banget.. apakah kau memiliki penawarnya...?" kata pangeran Lingzhi sambil mencubit lembut hidung Alea.


"Ini tidak sejahat yang mereka lakukan pada putri Lea pangeran..." jawab Alea pelan.


"Siapa yang kau maksud dengan mereka.." tanya Pangeran Lingzhi lembut.


"Bundanya, kakaknya dan dia sendiri. walau perbuatannya tidak sejahat putri Meilan sang kakak .." jawab Alea dengan wajah sendu.


"Apa yang mereka lakukan pada tubuh ini...?" tanya Pangeran Lingzhi lembut. Kini mereka duduk di atas ranjang yang di tempat putri Lea.


"Mereka meracuni tubuh ini semenjak tubuh ini masih berumur 7 tahun. dan itu dilakukan setiap hari..." kata Alea dengan wajah terluka.


"Gila lalu...?" tanya Pangeran Lingzhi antusias.


"karena terkena racun itulah putri Lea tidak dapat berkultivasi. Meridiannya tertutup oleh racun itu. hamba tidak bisa membayangkan, jika saja jiwa hamba tidak di bawa ke masa yang akan datang, apa yang akan terjadi pada diri hamba . Jiwa dan tubuh hamba yang akan mereka siksa, meskipun begitu tubuh hamba inilah yang mereka siksa saat itu . Untunglah Kedua kakek hamba dari kedua orang tua angkat di jaman masa depan , memberi hamba pelajaran tentang pengobatan, akupuntur, juga pelajaran beladiri, Hamba juga sekolah di bidang kedokteran, kalau jaman sekarang Alkemia. ." kata Alea dengan nada marah .


"Benar apa yang kau katakan sayang, lalu siapa namamu di jaman itu...?" tanya pangeran Lingzhi.


"Alea Agustin Pratama.... dan Alat- alat yang pangeran Lihat saat hamba menyembuhkan Kakek Kaisar adalah peralatan hamba di jaman modern...." Kata Alea menjelaskan.


"Waah ...nama kalian hampir sama.. Ya dewa...ternyata mereka sangat jahat sayang.. lalu di mana Ibu dan kakaknya..?" tanya Pangeran Lingzhi.


"Hamba telah membongkar rahasia mereka, dan entah kemana mereka sekarang...Melihat kebencian di mata putri May , Mungkin Bunda dan kakaknya mendapatkan hukuman berat. sebab Bunda dia yang telah membunuh Bunda Mai Li..." kata Alea menerangkan.


Cukup dulu ya ceritaku hari ini...jangan lupa Like, komen dan votenya author tunggu. maaf kalau masih ada typo di ceritaku.


Bersambung.


.


"

__ADS_1


__ADS_2