
Setelah keluar dari ruang Alkemia Alea berkata pada Pangeran Lingzhi akan pergi keruangan guru besar.
"Untuk apa kau kesana..." tanya pangeran Lingzhi .
"Hamba telah berjanji pada guru besar akan menemui beliau setelah selesai ujian Alkemia pangeran..." jawab Alea.
"Aku akan menemanimu..." kata pangeran Lingzhi lagi.
"Tidak usah pangeran...hamba mungkin agak lama. biarkan hamba bertemu dengan beliau sendirian...." jawab Alea menolak keinginan Alea. dan pangeran Lingzhi sadar, kalau dia tidak boleh terlalu mengatur kebebasan gadis itu.
"Kalau begitu pergilah...aku tunggu kau di tepat tinggalmu..." jawab pangeran Lingzhi.
"Trimakasih pangeran hamba mohon diri...." pamit Alea.
"Hmm....." gumam putra Mahkota.
Alea segera pergi meninggalkan Pangeran Lingzhi yang masih menatap kepergiannya menuju ruang guru besar.
"Jihao..." ucap Pangeran Lingzhi datar.
"Hamba pangeran..." jawab Jihao .
"Buntuti dia..lindungi jangan sampai ada yang mengganggunya..." kata sang pangeran datar.
"Siap pangeran...hamba mohon diri..." pamit Jihao.Tak lama Jihao sudah hilang dari hadapan pangeran Lingzhi .
Sedang Alea kini sedang menuju Arah ruangan Guru besar. Ketika sampai di sana terlihat ruang yang sederhana namun rapi dan bersih. Saat Alea sampai di pintu ruangan, Alea di sambut oleh dua orang pria yang baru keluar dari ruang guru besar.
"Selamat siang kak..." sapa Alea ramah.
"Siang..kau siap? dan mau apa kau kemari...?" tanya salah satu dari mereka.
"Saya Alea kak ..saya ingin bertemu dengan guru besar ..." jawab Alea sopan .
Namun sebelum pria yang bertanya pada Alea menjawab, sebuah suara terdengar dari dalam.
"Biarkan dia masuk ...." terdengar suara lembut berasal dari dalam ruangan.
Setelah mendengar suara itu kedua murid senior memberikan jalan pada Alea.
'"Silahkan guru menyuruh saudara masuk ...." kata mereka ramah.
Alea segera masuk kedalam ruang guru besar. Ternyata di dalam ruangan ini terlihat sangat bersih dan rapi, Alea melihat sang guru besar telah menunggunya .
"Siang guru...murid Hanpey menghadap.." kata Alea sambil membungkuk memberi hormat.
"Duduklah..." kata sang guru lembut.
"Kau sudah mengikuti ujian Alkemia..?" tanya guru besar.
"Sudah guru..." jawab Alea.
"Hasilnya....?" tanya guru besar.
"Murid di minta belajar pada guru besar.." jawab Alea pelan.
"Sudah kuduga..." kata sang guru sambil tersenyum.
"Kenapa kau menyamar jadi pria...?" tanya guru besar langsung.
Mendengar pertanyaan guru besar Alea kaget, dia menatap sang guru dengan perasaan campur aduk. Ada takut, malu, resah. Melihat Alea terdiam sang guru seperti mengetahui perasaan Alea.
"Kau tidak udah takut....walauaku tahu kau itu seorang wanita , tapi bukan jadi masalah buatku , hanya aku ingin tahu kenapa kau menyamar....?" tanya sang guru besar.
"Maafkan murid guru...pada awalnya hamba menutupi jatidiri hamba karena tak ingin di kenal orang atau menutupi keberadaan hamba, namun lama kelamaan kebiasaan itu membuat hamba nyaman, hamba banyak terhindar dari masalah. Karena itu hamba meneruskan penampilan hamba seperti ini guru..." jawab Alea. Akhirnya dengan terpaksa Alea memberitahukan permasalahan yang sesungguhnya pada sang guru. Karena sudah terlanjur sang guru mengetahui jatidirinya.
"Menutupi keberadaanmu...?" tanya sang guru heran.
"Benar guru..." jawab Alea .
"Kenapa...?" tanya sang guru besar penasaran.
"Ceritanya panjang guru..." akhirnya Alea menceritakan Masalah yang terjadi pada dirinya. Namun dia menyembunyikan kalau dia roh dari masa depan yang tanpa sengaja masuk kedalam tubuh gadis malang putri Lea Min Han.
"Lalu dari mana kau memiliki keahlian seperti yang kau miliki sekarang...?" tanya sang guru.
"Sebenarnya hamba mendapat pelajaran dari seorang guru tua yang tidak ingin di ketahui namanya, murid sudah bersumpah pada beliau untuk merahasiakan siapa dirinya, beliau selalu mengajari hamba segala ilmu yang kini murid miliki beliau juga yang menyembuhkan hamba dari racun yang ada di dalam tubuh hamba, racun yang membuat meridian di dalam tubuh tersumbat hingga hamba menjadi seorang manusia seperti sampah yang tak bisa berkultivasi...." jawab Alea berbohong . mana mungkin dia mengatakan kalau dia memiliki ruang dimensi batu giok. dan guru yang di maksud adalah kedua kakeknya yang ada di dunia modern.
'Ha ha ha...kau pandai sekali berbohong Lea'er..." seru Lauyan yang cerewet dari dalam ruang dimensi.
"Maaf ...aku terpaksa Yan ge..." jawab Alea.
"Nggak masalah Lea'er...kami tahu itu.." kata Eagle.
"Ya Dewa...kejam sekali perbuatan selir Ayahmu..." seru guru besar kaget.
Namun saat guru besar melihat gelang yang ada di tangan Alea dia kaget.
"Nak...kau memiliki binatang kontrak..?" tanya sang guru kaget. Begitupun dengan Alea dan White mereka lupa kalau White masih tidur dengan tenang di tangan Alea.
"Maksud guru..." tanya Alea berusaha mengelak.
"Aku tahu gelang yang ada di tanganmu bukan sembarang gelang, bukankah dia ular putih kan...?" tanya sang guru sambil tersenyum.
"Guru tahu itu...?" tanya Alea bodoh.
"Kau bisa menutupi itu dari mereka, tapi kau tidak bisa menutupi dari gurumu ini Hanpey...." jawab sang guru lagi.
"Maaf guru...murid salah... Dia mahluk kontrak hamba namanya White.
White yang merasa sang guru sudah mengetahui identitasnya segera berubah penampilannya menjadi manusia gagah dan tampan. Sang guru kaget melihat penpilan White.
"Salam guru besar...." sapa White sopan.
"Ka..kau...kau mahluk ilahi..." tanya sang guru besar kaget.
__ADS_1
'Ya ampuun...seberapa besar kekuatan gadis ini hingga dia mampu memiliki kontrak dengan mahluk ilahi..." seru sang guru kaget dalam hati.
"Benar...hamba mahluk ilahi ular putih.." jawab White pelan. Guru besar hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya.
'waah gimana kalau guru tahu gue mempunyai ikatan dengan kalian bertiga ya...'kata Alea dalam hati.
"Gege..kembalilah kewujudmu semula.. aku takut ada yang tahu keberadaanmu.." kata Alea pelan.
"Baik Lea'er..." jawab White. Dia kembali kewujud semula dan melingkar kembali di tangan Alea.
"Maaf guru hamba harus menyuruh dia kembali kewujudnya , hamba takut ada yang tahu keberadaannya..." kata Alea meminta maaf.
"Tidak, tidak apa- apa guru tahu itu... Kau memanggilnya gege...?" tanya guru besar kembali.
"Benar guru...hamba menganggapnya saudara..." jawab Alea sambil tersenyum.
"Kau ini...hatimu sangat baik nak.. Sepertinya hubunganmu dengan mahluk kontrak yang kau miliki baik sekali..." kata sang guru besar.
"Hamba menganggapnya kakak hamba guru..." jawab Alea. Guru besar menatap Alea dengan kagum. Jarang dia melihat seorang manusia yang memiliki hewan kontrak menganggapnya teman atau saudara.
"Oh ya nak...aku dengar kau memiliki ramuan Qi hingga membuat perguruan ini heboh, apa benar berita itu putri Lea..?" tanya guru besar.
"Maaf guru...jangan panggil hamba putri, panggil saja hamba Lea atau Hanpey itu lebih baik, dan maaf hamba membuat kegaduhan yang tidak hamba sengaja. Sebenarnya masalah itu berawal saat hamba memberikan ramuan pada kakak hamba Mimi, namun cerobohnya saya membuat semua tahu kalau hamba memiliki pil itu guru, jadi mereka ingin membeli nya..." kata Alea menjelaskan.
"Jadi kau benar- benar memiliki pil itu..?"
Tanya guru besar tak percaya.
"Benar guru...hamba memiliki pil itu, dan hamba membuatnya sendiri..." jawab Alea tenang.
"Apaa...kau buat sendiri...?" tanya sang guru kaget.
"Benar guru..." jawab Alea . dia mengeluarkan botol giok dari lengan caosannya. Lalu memberikannya pada sang guru .
"Ini guru..." ucap Alea.
Guru besar segera menerima botol dari Alea dan membuka tutup botol giok yang ada di depannya. Tercium keharuman dari pil yang ada di dalam botol . di dalam botol terdapat tiga buah pil yang sudah dia ketahui dari warna dan baunya kalau itu pil ramuan Qi. Terlihat kegembiraan di wajah tua guru besar. Dia mengeluarkan sebutir pil dari dalam botol dan mengamatinya.
Terlihat wajahnya semakin cerah.
"Sempurna...sempurna sekali...Hanpey.. apakah kau juga memiliki pil lain selain pil ramuan Qi...?" tanya sang guru.
"Ada guru...pil penyembuh tingkat lima dan pil pencuci tulang guru..." jawab Alea.
"Apaa...pil pencuci tulang....?" tanya sang guru tak percaya.
"Benar guru..." jawab Alea ringan.
"Waah Lea'er....bagaimana kalau guru besar tahu pil penetral racun yang kau buat...apakah dia akan jatuh pingsan ya..?" ucap White .
"He he...jangan dulu gege...aku takut guru semakin heran..." kata Alea sambil tertawa. Alea mengambil botol giok yang berisi pil pencuci tulang. Buru- buru guru besar mengambil botol yang ada di tangan Alea, lalu dia membuka tutupnya. Di sana terlihat sebutir pil warnah putih kehijauan dan dia tahu pil apa itu. Wajahnya semakin cerah bersinar.
"Lea...apalagi nak yang akan kau berikan kejutan untuk gurumu ini... Apakah ini yang di namakan gadis sampah dari kediaman Jendral Murong...?" seru guru besar sambil menatap Alea kagum.
"Guru...Alea masih butuh bimbingan dari guru..." ucap Alea sopan.
"Benar guru...setelah murid lolos dalam seleksi, Putra Mahkota langsung meminta hamba jadi pengawal pribadinya...." jawab Alea.
Saat mendengar perkataan Alea sang guru Juan tersenyum tipis. senyum itu sempat di lihat Alea,
'ada apa ini...apa arti senyuman guru besar...seru Alea dalam hati.
"Kalau begitu sekarang kau sudah boleh kembali kekamarmu..." kata guru Juan .
"Maaf guru murid ingin minta solusi dari guru, ini tentang pil ramuan Qii yang murid miliki..." kata Alea.
"Memang kenapa dengan pil itu..?" tanya guru besar.
"Karena banyak siswa yang ingin membeli pil ramuan yang murid miliki, lalu bagaimana hamba harus berlaku adil. sedangkan murid hanya memiliki beberapa pulu pil saja. sedang yang ingin membeli banyak sekali...murid bingung guru..." kata Alea.
Guru besar terdiam mendengar perkataan Alea. tak lama dia berucap.
"Kita tangguhkan dulu masalah pil ramuan Qi ini sampai tugas yang akan di berikan pada pasukan prajurit khusus selesai. .." jawab sang guru besar. mendengar perkataan guru besar Alea menatap sang guru.
"Hamba juga termasuk dalam tugas itu guru..?" tanya Alea.
"Tentu saja...bukankah kau termasuk salah satu siswa yang terpilih ...?" jawab sang guru.
"Trimakasih guru....hamba akan melaksanakan tugas dengan baik..?" kata Alea gembira.
"Sekarang kembalilah ... dua hari lagi tugas itu di laksanakan. jadi kau bisa berkemas membawa kebutuhan yang akan kau bawa nanti...." kata Guru Juan.
"Trimakasih guru...murid mohon diri..." pamit Alea.
"Pergilah...jika nanti ada yang menanyakan soal pil ramuan Qi, bilang kalau kau akan mencari solusinya..." kata guru besar.
"Baik guru..." Alea segera keluar dari ruang guru Juan dengan mendapatkan tatapan kekaguman dari sang guru.
Alea segera kembali kekamarnya. Ketika sampai di taman dekat tempat tinggalnya Alea melihat Pangeran Lingzhi sedang duduk di depan ruangannya. saat melihat kedatangan Alea dia tersenyum.
"Kau sudah kembali..?" tanya dia dengan lembut.
"Iya pangeran... hamba masuk dulu untuk membersihkan badan ..." jawab Alea lembut .
"Masuklah..." jawabnya santai.
Alea segera masuk kedalam kamarnya. mungkin karena ruang ini dulunya ruang kerja sang pangeran, maka di tempat ini juga tersedia kamar mandi. dan ternyata bak kamar mandi sudah terisi dengan air bersih , Alea segera melucuti pakaiannya dan berendam di dalam bak mandi. sedang White sudah melingkar dengan tenang, tiduran di atas kasur milik Alea.
Setelah mandi dan mengganti baju, Alea segera keluar bersama White dan Lauyan yan ingin keluar dari ruang dimensi , dia berubah menjadi burung yang biasa bertengger di bahu Alea.
saat keluar dari kamar ternyata pangeran Lingzhi masih berada di luar kamarkamarnya . Kini dia duduk bersama Guansi dam Jihao.
"Pangeran..." sapa Alea .
"Kau sudah selesai...?" tanya pangeran Guanzhi .
__ADS_1
"Sudah...memang ada apa pangeran...?" tanya Alea.
"Ayo Kita makan di kantin perguruan..." jawab pangeran Lingsi.
"Lo...kalian belum makan...?" tanya Alea kaget.
"Kami belum makan Hanpey....kami menunggumu...?" jawab Jihao.
"Jihao..." ucap pangeran Lingzhi dingin.
"Maaf pangeran...." kata Jihao ketakutan.
Melihat itu Alea segera menengahi.
"Ayo..aku juga sudah lapar..." kata Alea sambil menutup pintu kamarnya. mereka segera melangkah kearah kantin yang ada do area perguruan.
Sesampainya di sana mereka menjadi pusat perhatian. memang Pangeran Lingzhi dan kedua pengawalnya adalah lelaki yang sempurna di mata para gadis. dan sekarang di tambah Alea yang yang terlihat tampan menawan, wajah halus putih tanpa cacat. tapi mereka banyak yang sadar kalau wajah Hanpey bukanya tampan tapi teramat cantik.
"Lihatlah empat pria tampan sudah datang..." seru seorang gadis yang sedang makan.
"Hanya memandang mereka saja hari- hariku terasa indah...." jawab yang lain.
"Siswa baru itu kok bisa ya dekat banget dengan sang Pangeran...?dan lihatlah dia memiliki burung yang warnanya sangat indah dan menarik.." kata seorang siswa pada sang teman.
"Pangeran sangat melindungi siswa itu... benar perkataanmu burung yang ada di bahu kanannya sangat cantik dan indah, lagian sangat menggemaskan, kenapa dia tidak terbang ya walaupun kakinya tidak di ikat..." kata teman di dekatnya.
"Mungkin burung itu sudah di jinakkan atau burung kesayangan, sampai- sampai dia membawanya kedalan perguruan...." kata sang teman.
"Apa di perbolehkan kita membawa hewan peliharaan...?" tanya yang lain.
"Asal kita bisa merawat dan tidak mengganggu ketentraman tidak masalah...." jawab sama teman.
"Waah...aku ingin memelihara burung seperti itu...lihatlah dia teramat jinak pada si pemilik..." kata sang teman iri melihat Lauyan dengan tenang bertengger di bahu Alea tanpa merasa terganggu.
Alea dan Pangeran Lingzhi serta Guansi segera duduk di sebuah meja yang masih kosong. sedang Jihao memesan makanan buat mereka berempat.
"Pangeran....dua hari lagi hamba akan mendapat tugas dari akademi..." kata Alea sambil duduk menunggu makanan datang.
"Tugas....?" tanya Pangeran sambil mengerutkan dahinya.
"Benar..." jawab Alea.
"Tugas Apa...?' tanya Pangeran Lingzhi.
"Entahlah besok kami akan mendapatkan beritanya, katanya besok lusa tugas itu baru di laksanakan. guru besar hanya memberi tahu padaku untuk bersiap - siap..." Kata Alea menjelaskan.
"Hanpey....!" tiba- tiba terdengar suara seorang gadis memanggil nama Hanpey.
"Kakak...kau baru datang...?" kata Alea saat melihat Mimi datang bersama seorang gadis.
"Iya..selamat sore Pangeran..." sapa Mimi saat melihat pangeran Lingzhi.
"Sore..." balas pangeran Lingzhi datar.
Mimi menunduk sedikit pada Guansi memberi salam. Guansi membalas dengan senyuman.
"Kau belum makan kak..?.dan siapa ini..? teman barumu...?" tanya Alea pada Mimi.
"Iya aku mau makan...dan ini teman sekamarku namanya Yuri..." kata Mimi memperkenalkan sang teman.
"Hey..apa kabar...aku Hanpey adik kak Mimi..." sapa Alea pada gadis itu.
terlihat gadis itu tersipu malu saat mendapat sapaan Alea .
"Aku Yuri teman sekamar Mimi..." jawab gadis itu malu- malu.
"Dan kau sudah tahu kan siapa mereka..?" kata Alea sambil menunjuk dua pria tampan yang sedang bersamanya.
gadis itu mengangguk dan memberi salam dan hormat pada pangeran Lingzhi dan Jendral Guansi.
"Pey'er..kami akan memesan makanan dulu dan kami akan duduk di situ..." kata Mimi lembut.
"Baik kak..." jawab Alea sambil tersenyum. melihat senyuman Alea gadis yang bernama Yuri memerah mukanya. dia tertegun melihat senyum manis Alea.
Melihat tingkah sang teman Mimi tertawa.
"Yuri...kau jangan terpesona oleh ketampanan adikku...senyumnya memang membahayakan orang...ayo kita pesan makanan sebelum kau jatuh cinta pada nya...." seru Mimi sambil tertawa.
Mendengar perkataan Mimi Aleapun ikut tertawa. Mimi segera membawa gadis itu pergi memesan makanan .
"Adikku...kau disini juga Pey'er...." terdengar suara cempreng dari pintu masuk. tak lama Chan Lian sudah berada di meja Alea dan duduk di sebelahnya.
"Gege...kau mau makan juga..?" tanya Alea.
"Iya...kau sendiri sudah makan...?" tanya Chan Lian.
"Hey...apakah kau melihat ada makanan di atas meja kami...?" tanya Pangeran Lingzhi kesal. Pangeran memang merasa kesal jika ada pria lain yang mendekati Alea walaupun itu Chan Lian saudara kandung Alea.
"Pangeran..hamba cuma bertanya..." ucap Chan Lian enteng.
"Kalau duduk jangan terlalu dekat..." kata pangeran Lingzhi posesif.
"Apa salahnya , hamba kakak dari tabib Hanpey pangeran...." ucap Chan Lian membantah.
melihat kekesalan di wajah pangeran Lingzhi Alea menengahi.
"Kakak...lebih baik sekarang kau memesan makanan yang akan kau makan, lalu kembalilah kemari ..." kata Alea menengahi.
"Baiklah aku akan memesan makanan dulu..." ucap Chen Lian sambil beranjak pergi.
Udahan dulu ya....jangan lupa like Vote dan komennya author tunggu, trimakasih kepada sahabat yang selalu memberi like komen dan vote yang membuat author semangat dalam membuat karya. walaupun author sedikit terganggu kesehatan nya namun sahabat yang selalu memberi komentar membuat author semangat dalam membuat karya. sekali lagi trimakasih ya...🙏🙏💖💖
Bersambung.
ini fisual pangeran Lingzhi.
__ADS_1
Kalau tidak sesuai dalam bayangan kalian maaf ya...