PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
PERTANDINGAN DI ISTANA


__ADS_3

Tengah malam Alesan terbangun dan dia segera pergi keruang dimensi untuk berlatih , sampai di sana dia di sambut oleh keempat mahluk kontraknya. Dan dia segera berlatih dengan mereka. Seharian penuh Alea di latih oleh keempat mahluk kontraknya tanpa istirahat. Setelah berlatih cukup lama Alea segera bermeditasi di bawah air terjun kehidupan. Setelah melakukan meditasi selama sehari semalam Alea segera keluar dari air terjun dan berjalan ke istana nya untuk berganti baju. Ketika keluar dari ruang dimensi bersama Lauyan dan White, Alea melihat Mimi sudah terlihat rapi dan cantik. melihat Alea sudah berdiri di kamarnya , Mimi berucap.


"Kau sudah kembali Lea'er...." sapa Mimi.


"Iya kak..waah kakak juga sudah rapi..." jawab Alea.


Mimi tersenyum mendengar perkataan Alea. Dia berjalan mendekati Alea.


"Sayang...kau harus berhati- hati nanti, lawanmu sangat kuat,..kakak hanya bisa berdoa untukmu...." ucap Mimi sambil membelai rambut Alea.


"Iya kak...aku akan selalu hati- hati..." jawab Alea sambil tersenyum manis.


"Lea'er...aku melihat putra Mahkota Fang mencintaimu, kau tidak akan memberi harapan padanya kan...?" kata Mimi karena Mimi tahu cinta putri Lea pada sang Putra Mahkota dahulu.


"Untuk Apa aku memberi harapan padanya kak...salah dia sendiri yang telah melepaskan diriku, jadi bukan salahku kalau sekarang tidak ada lagi cinta untuknya..." jawab Alea. Sebenarnya Alea ingin berterus terang pada Mimi, kalau tuan putrinya yang dulu telah mati, namun dia belum sanggup mengatakan itu pada Mimi .


"Baguslah...karena aku lebih setuju kau menjadi putri Mahkota kerajaan Shi, mereka semua sangat menyayangi mu, kau lihat sendiri, betapa Raja dan Permaisuri sangat perhatian padamu, Apalagi putra Mahkota Lingzhi...." kata Mimi kembali .


"Hey...kenapa kakak membela dia ..? Hayo kau di bayar berapa oleh dia...?" goda Alea.


"Ck..kau ini...dasar gadis nakal, mana mau kakak menerima sogokan dari seseorang untuk kebaikanmu. Kakak berkata seperti ini karena kakak tahu pangeran Lingzhi lah yang terbaik untukmu..." kata Mimi sambil mengusap kepala Alea.


"He he he..Alea hanya bercanda kak...Alea tahu kakak sangat mencintai Alea, kakak adalah kakak terbaik untuk Alea..." kata Alea sambil memeluk Mimi.


"Ya sudah ayo kakak betulkan ikatan rambutmu...kau ini sudah besar , tapi mengikat rambut belum bisa rapi..." kata Mimi sambil membawa Alea kedepan kaca rias yang ada di dalam kamar.


"Karena Alea tahu tanpa ikatan rambut yang rapipun Alea tetap terlihat cantik..." jawab Alea narsis.


"Dasar gadis nakal..." ucap mimi sambil tertawa. Dia segera merapikan rambut Alea. Setelah selesai Mimi masih melihat penampilan Alea.


"Kenapa kak...apa penampilan Alea kurang rapi..?" tanya Alea sambil tersenyum.


"Tidak sayang...kau kenapa semakin lama semakin terlihat cantik dan kulitmu semakin bercahaya...?" ucap Mimi heran.


"Idih kakak...masak penampilan Alea berubah..." kata Alea sambil cemberut.


"Bukan sayang...tapi beneran, kau semakin lama semakin cantik..." jawab Mimi.


"Benarkah...? Kalau begitu syukurlah, jadi aku tidak akan takut putra Mahkota pilihan kakak berpaling dariku ha ha ha..." kata Alea sambil tertawa.


'Mana berani dia menghianatimu...apa dia ingin berhadapan dengan keempat gegemu...? dan lagi jika dia meninggalkanmu dia akan menyesali seumur hidupnya seperti pangeran Fang..." kata Mimi sambil tersenyum.


Dan bertepatan dengan berakhirnya ucapan Mimi, tiba- tiba pintu di ketuk dari luar kamar.


Tok tok tok


"Mimi, Hanpey apa kalian sudah bangun..?" tanya suara dari luar.


"Ya sebentar...." jawab Mimi sambil berjalan kearah pintu kamar.


Ketika pintu terbuka terlihat dua gadis teman mereka berada di depan pintu.


"Ada apa kak...?" tanya Mimi.


"Kalian sudah di tunggu , kita akan makan dulu baru berangkat ke Kerajaan..." jawab salah satu dari mereka.


"Baiklah Ayo kita sama- sama pergi..." kata Alea yang tiba- tiba sudah berdiri di dekat Mimi.


"Ayo..." mereka berempat segera pergi meninggalkan kamar Alea setelah Mimi mengunci pintu kamar. Ternyata mereka telah di tunggu di depan penginapan oleh semua temannya. Setelah keempat gadis itu terlihat , mereka segera berangkat ke rumah makan lebih dahulu untuk makan pagi. Terlihat wajah pangeran Fang yang sering mencuri pandang pada wajah cantik Alea. Memang sekarang Alea sudah tidak memakai samaran seorang pria muda .


"Lea'er...kenapa kau tidak merias wajah seperti biasanya hmm..." tanya Lian yang mensejajarkan jalannya dengan Alea dan Mimi.


"Apakah kakak tidak suka melihat penampilanku seperti ini...?" goda Alea.


"Suka, suka banget tapi kakak takut semakin banyak orang yang akan patah hati padamu...?" goda Lian Han balik.


"Yee..kakak, perasaan Alea biasa aja dech..kenapa mereka mesti patah hati.." tanya Alea.


"Kau tidak percaya...? Lihat pangeran Fang, sejak kemaren dia selalu memandangmu penuh dengan kekaguman, dan di sana aku melihat banyak penyesalan atas perbuatannya memutuskan pertunangan kalian, dan kau tahu tadi malam dia larut malam baru tertidur..." bisik Lian Han pada Alea .


"Tapi itu bukan salahku kan...?" jawab Alea .


"Iya memang bukan salahmu, salah dia sendiri yang melepasmu saat kau terpuruk dan berwajah jelek..." jawab Lian Han lagi. Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah makan langganan mereka. Karena sudah biasa, para pelayan restoran itu telah menyiapkan tempat untuk mereka.


Ketika mereka sudah duduk dan ingin memesan makanan tiba- tiba pemilik rumah makan dan para pelayan datang dengan membawa beberapa makanan yang belum mereka pesan.


"Lo ..kami belum pesan tuan..." seru guru Juan kaget.


"Tidak tuan...Ini pemberian dari tuan besar Borong untuk tuan Hanpey dan teman- temannya..." jawab pemilik restoran kembali.


"Ooo...begitu, trimakasih tuan..." kata guru Juan ramah.


"Jangan berterimakasih pada saya tuan.. ini pemberian tuan Borong..." jawab pemilik rumah makan.


"Selamat pagi semua..." tiba - tiba suara berat menyapa mereka semua.


"Tuan Borong...!" seru Alea, guru juan dan guru Lao hampir bersamaan. Terlihat tiga pria paruh baya seumuran guru Lao datang menghampiri meja mereka. Mereka adalah tuan Borong , tuan Yucan dan tuan Zheng Xuan tiga tetua agung kerajaan Amora.


"Apa kabar kalian semua...?" kata tuan Borong kembali dengan ramah.


"Kami baik- baik saja tuan Borong , waa... Suatu kehormatan untuk kami, karena mendapat jamuan dari ketiga tetua agung kerajaan Amora..." ucap guru Lao sambil berdiri memberi hormat pada mereka diikuti seluruh murid dan kedua guru perguruan Calang.


"Jangan sungkan seperti itu...ayo silahkan duduk kita makan bersama , kami tadi juga belum makan, boleh kami makan bersama kalian....?" tanya tuan Borong ramah.


"Waah tentu saja boleh , malah suatu kehormatan buat kami, kalau anda bertiga mau makan bersama kami..." jawab guru Juan gembira, Siapa yang tidak akan gembira sudah makan gratis, malah duduk bersama dengan pembesar kerajaan tetangga . ketiga orang itu tersenyum dan duduk bersama mereka semua. Mereka segera mulai makan bersama.

__ADS_1


"Oh ya putri Lea..terimakasih semua petunjuk yang telah kau berikan pada kami, karena petunjukmu telah membawa kami ke pelaku yang sebenarnya..." kata tuan Borong dengan nada lembut.


"Syukurlah kalau bantuan hamba bisa mengungkap kebenaran, itu untuk keselamatan tuan putri. Lalu gimana kabar tuan putri sekarang tuan...?" tanya Alea sambil menatap tuan Borong.


"Dia dalam keadaan sehat Nona, dan dia selalu mencari Nona..." jawab tuan Borong lagi.


"Hanpey maafkan aku...maafkan aku yang pernah meremehkan keahlianmu.." tiba - tiba terdengar suara tuan Yucan menyela pembicaraan Alea dan tuan Borong. Kontan saja semua orang menatap tuan Yucan.


"Untuk apa anda meminta maaf...?kalau itu hamba , pasti hamba akan bersikap seperti anda..." kata Alea sambil tersenyum lembut.


"Tapi aku meremehkan dirimu Hanpey..." ucap tuan Yucan lagi.


"Tidak masalah tuan...hamba telah melupakan nya...." jawab Alea.


"Trimakasih nak, kau memang gadis berhati baik...." kata tuan Yucan sambil tersenyum. Mereka pun melanjutkan makan pagi mereka. Setelah selesai mereka segera pergi ke Kerajaan bersama. Saat mereka sampai di pintu gerbang istana, karena melihat tuan Borong bersaudara berada di antara mereka yang datang, para prajurit segera membuka gerbang dengan cepat. Mereka masuk tanpa pertanyaan apapun. Saat akan memasuki aula kerajaan terdengar teriakan seseorang dari jauh.


"jiejie Lea...." terdengar teriakan renyah dari arah istana yang memanggil nama Alea, hingga membuat teman- temannya heran. Mereka berhenti dan mencari sumber suara itu. Dan terlihat oleh mereka seorang hadis cantik berpakaian seorang putri dengan beberapa pelayan sedang berlari kearah mereka. Setelah dekat gadis itu langsung memeluk Alea. Terdengar dia sedang menangis.


"Hey putri...kenapa menangis...?" tanya Alea bingung.


"Kenapa kau meninggalkan aku...?" ucapnya sambil masih memeluk Alea dengan posesif.


"Siapa yang meninggalkan putri...?" tanya Alea lembut.


"Kau...kau meninggalkan aku setelah aku sembuh... Kau pergi dan tak pernah datang lagi kemari...!" serunya dengan wajah cemberut menatap Alea.


"Jiejie harus bertemu dengan teman- teman jiejiei putri... Dan kami menghadiri pertandingan...." jawab Alea lembut.


"Tunggu...apakah jiejie yang akan bertanding dengan gege putra Mahkota...?" tanya putri lagi.


"Benar putri....Karena itu kami akan kedalam putri .." jawab Alea.


"Baiklah aku akan pergi bersama kalian.." jawabnya dengan tenang.


"Itu tidak mungkin putri...kau akan di cari Bumda permaisuri..." jawab Alea.


Mendengar pembicaraan Alea dan Putri Yuan semua orang hanya bisa menatap mereka dengan tak percaya.


"Tidak...aku akan pergi dengan kalian..." kekeh tuan putri.


"Biarkan dia bersamamu nak...aku akan mengatakan nanti pada Permaisuri dan Raja..." tiba- tiba terdengar suara tuan


Zheng Xuan yang sejak tadi diam saja kini berucap.


"Baiklah kalau itu kemauan tuan Putri, ayoo..." ajak Alea sambil berjalan masuk kedalam aula istana bersama tuan putri Yuan yang sedang merangkul lengan kanannya. Sedang Lauyan segera hinggap di bahu kiri Alea.


Ketika sampai didalam Aula ternyata para peserta sudah pada datang semua. Saat mereka melihat siswa dari pergiruan Calang datang, mereka menatap dengan perasaan cemburu, iri juga kagum, apalagi ketika mereka melihat ada dua gadis cantik berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka heran karena beberapa hari ini saat mereka melakukan pertandingan, gadis yang bersama gadis tercantik diantara kelima gadis di sana tidak pernah terlihat sebelumnya.


"Siapa gadis itu...setahuku selama pertandingan dia tidak ada...?" jawab yang lain.


Sedang yang mereka perbincangkan dengan tenangnya berjalan kearah tempat yang memang tersedia untuk mereka. sedang Raja dan permaisuri belum terlihat datang. tuan Borong dan ketiga saudaranya sudah berjalan ketempat mereka semestinya. Tak berapa lama kasim mengatakan kalau Raja dan permaisuri serta putra mahkota memasuki Aula. tak lama terlihat rombongan Raja Tan, Permaisuri dan putra Mahkota Tan Huang masuk kedalam aula. Melihat wajah putra Mahkota Tan Huang yang memakai pakaian lengkap sebagai putra mahkota membuat para wanita berseru kagum.


"Jiejie...apa kau tak tertarik pada gegeku..?" tanya putri Yuan tiba- tiba.


"Hey...kenapa kau berbicara seperti itu Yuan'er...?" tanya Alea heran.


"Gegeku tampan Lo...kalau Jiejie mau, pasti dia mau mengambilmu sebagai permaisurinya, dan kita menjadi saudara dan akan selalu bersama..." kata polos putri Yuan.


"Ck..kau ini...bukankah kita sudah menjadi saudara...? bukankah kau kini adik kecilku yang paling cerewet...?" kata Alea sambil mencubit hidung putri Yuan sayang.


"Tapi kalau kau jadi permaisuri gegeku, kita akan selalu bertemu Jiejie...?" jawabnya.


"Kami tak saling mengenal, dan Kami tak mungkin cocok sayang...lagian Putra Mahkota pasti sudah memiliki calon sendiri, kita tak boleh memaksa kehendak kita pada seseorang ..." jawab Alea menolak secara halus pertanyaan putri Yuan.


"Kalau gege Huang mau pada jiejie gimana...?" tanya Putri Yuan lagi.


"Mungkin Jiejie yang punya calon sendiri.." jawab Alea.


"Jadi jiejie sudah punya calon...?" tanya Putri Yuan kaget.


"Sst..diamlah sayang, Lihatlah... Ayah tuan Putri akan membuka pertandingan ini..." kata Alea mengalihkan pembicaraan. terdengar Raja Tan mulai memberikan sambutan untuk membuka acara. setelah itu Acara di mulai.


"Jiejie Lea..aku ketempat bunda dulu ya...bukankah kau sebentar lagi akan bertanding..." kata putri Yuan sambil menatap Alea.


"Pergilah, sebentar lagi Jiejie akan bertanding, nanti kau tidak ada teman di sini..." jawab Alea. terlihat putri Yuan pergi meninggalkan Alea bersama para pelayannya. saat sang putri berada di dekat permaisuri, para peserta mulai tahu kalau gadis yang bersama perguruan Calang tadi adalah tuan Putri kerajaan Amora . Mereka bertanya- tanya sambil menatap Alea, siapa sebenarnya gadis itu, hingga putri kerajaan Amora dekat dengannya. Namun beda dengan tabib Zheng Xuan dan temannya. mereka yang sejak tadi tidak memperhatikan tuan putri menjadi terkejut.


"Tabib Bou Yan...apakah gadis itu tuan putri Yuan yang sakit itu...?" tanya tuan Zheng Xuan pada sang teman.


"Sepertinya dia putri Yuan...bukankah putri terdekat Raja dan permaisuri adalah putri Yuan...?" kata tabib Bou Han dengan wajah kaget juga.


"Kalau memang dia sejak kapan putri Yuan sadar dari sakitnya, dan siapa yang mampuh mengobati tuan putri...?" tanya Tabib Zheng Xuan heran.


"Entahlah... aku ingin bertemu dengan tabib yang mampuh mengobati tuan putri..." kata tabib Bou Han dengam wajah penuh tanya.


"Aku juga...lebih baik kita tanyakan nanti setelah selesai pertandingan..." kata tabib Zheng Xuan dengan yakin. Sedang di bangku peserta terlihat para peserta yang akan bertanding berjalan kearah ring pertandingan untuk mengambil nomor pertandingan, Saat Pangeran Tan Huang bertemu muka dengan Alea, terlihat wajah terpesona di matanya. sedang Alea dengan cuek mengambil undian peserta. saat pengundian nomor peserta di buka, ternyata Alea akan berhadapan dengan peserta dari perguruan Calang sendiri yaitu putra Mahkota Fang. sedang Zheng Bai berhadapan langsung dari peserta Tiangzi sendiri yaitu Putra Mahkota Tan Huang. Setelah mendapatkan Nomor pertandingan, Alea segera meloncat keatas Ring yang sudah di sediakan bersama Putra Mahkota Fang. ternyata ring di kerajaan ini telah di beri Arai untuk melindungi para penonton dari bahaya jika peserta mengeluarkan tenaga dalamnya. dan Arai itu terlihat cukup kuat.


Alea segera memasang kuda- kuda, namun saat Alea melakukan itu. tiba- tiba pangeran Fang menangkupkan tangannya didepan dada.


"Maaf Putri Lea Min Han, Aku menyerah kalah..." ucapannya membuat Alea kaget.


"Lo kita belum bertarung Pangeran..." kata Alea dengan wajah heran.


"Maaf..aku tidak sanggup melukaimu lagi.." jawabnya pelan. Dia segera turun dari ring pertandingan . dan akhirnya Alea juga turun dari Ring pertandingan. setelah itu terlihat Putra Mahkota yang sudah membuka baju kebesarannya juga naik keatas ring bersama rekan setimnya. namun ternyata sama, Zheng Bai melakukan seperti apa yang di lakukan Putra Mahkota Feng, dia menyatakan kekalahan sebelum bertempur . dan akhirnya mereka berdua turun dari atas ring pertandingan.. Dan akhirnya di tentukan pertandingan selanjutnya yaitu pertandingan Zhen Bai melawan Putra Mahkota Fang. Saat pertandingan itu berlanjut teryata kekuatan mereka sama kuatnya, hampir setiap hempasan kekuatan mereka mengguncang ring pertandingan. namun karena kekuatan Arai pelindung yang di buat oleh kerajaan Amora, kekuatan mereka tidak sampai bocor keluar. tidak bisa di bayangkan apa yang akan terjadi jika Arai mereka lemah.


Saat mereka masing- masing mengeluarkan hewan kontrak mereka, Alea baru tahu kalau hewan Kontrak putra Mahkota Feng adalah seekor Singa gurun yang terlihat sangat besar. dam Milik Zheng Bai adalah seekor Harimau jantan yang juga menyeramkan. maka terlihat dua kubu saling menyerang. cukup lama pertandingan putra Mahkota Fang dan Zheng Bai terjadi. dan akhirnya pertandingan di menangkan oleh putra Mahkota Feng. namun terlihat mereka terluka cukup parah begitu juga dengan hewan kontrak mereka . Alea dan Lauyan segera menghampiri putra Mahkota.

__ADS_1


"Minumlah ini dulu dua pil, dan anda beri juga hewan kontrak anda tiga pil.." kata Alea pada putra mahkota sambil memberikan botol giok berisi pil penyembuh buatannya.


Terlihat wajah pangeran Feng menatap Alea dengan pandangan rumit. Lalu Alea segera mendekati Zheng Bai yang juga sedang di papah rekannya.


"Kau minumlah ini, juga kau beri hewan kontrakmu, lalu usahakan bermeditasi sebentar agar kerusakan di dalam tubuhmu tidak terlalu parah, minumlah dua buah Pil ini dan untuk hewan kontrakmu beri tiga..." kata Alea dengan wajah tenang. peserta dari sekte Tiangzi menatap Alea dengan wajah kagum.


"Trimakasih Putri..." kata Zheng Bai dengan wajah bahagia.


"Sama- sama..aku pergi..." kata Alea sambil melangkah kembali mendekati Pangeran Fang yang sedang di papah Lian Han. Semua orang menatap perbuatan Alea penuh dengan tanda tanya, tapi tidak dengan sekte Tiangzi sendiri, mereka bahagia karena putri junjungan mereka memperhatikan keselamatan mereka. sedangkan tabib Zheng Xuan yang tadinya akan berjalan kearah Zheng Bai jadi tertegun melihat Alea telah memberikan obat untuk peserta dari Tiangzi. Setelah Tiangzi berada di dekatnya, dia meminta sisa obat yang di berikan Alea. dia kaget ternyata di dalam botol itu masih ada tersisa enam butir obat penyembuh tingkat tiga, dan dia tahu kalau pil itu sangat mahal sekali bila membeli.


"Kau sudah meminum pil ini...?" tanya tabib Zheng Xuan pada Zheng Bai yang masih keponakannya.


"Sudah paman...kata putri aku harus meminum dua dan tiga untuk hewan kontrakku, dan dia menyuruhku segera bermeditasi secepatnya, agar luka di dalam tubuhku tidak terlalu parah..." kata Zheng Bai dengan lancar.


"Gimana rasanya setelah kau meminum pil ini...?" tanya tabib Zheng Xuan lagi.


"Aku merasakan kesegaran di dalam tubuhku..." jawab Zheng Bai.


"Tentu saja...kau tahu obat apa yang putri berikan padamu...?" tanya tabib Zheng Xuan. Zheng Bai hanya menggelengkan kepalanya.


"Ini pil Penyembuh tingkat tiga dan kau tahu, harga satu butir pil ini sangat mahal sekali..." kata tabib Zheng Xuan sambil menatap sang keponakan.


"Haa..." seru Zheng Bai dan para siswa dari Tiangzi hampir bersamaan.


"Putri sangat baik hati..." ucap salah satu siswa.


"Ingat selalu Zheng Bai akan kebaikan putri padamu ini..." kata tabib Zheng Xuan sambil mengacak rambut sang keponakan dengan sayang.


"Pasti Paman..." jawab Zheng Bai. namun di dalam hati Zheng Bai telah tertanam kebaikan Alea dengan dalam.


Sedang di ring pertandingan terlihat Alea sudah berdiri di sana dengan anggunnya. sedang di depannya Pangeran Tan Huang berdiri dengan gagah dan tampan.


"Maaf putri...kita bertemu di sini dalam pertandingan , harap kau maklum adanya jika salah satu dari kita terluka...." kata putra Mahkota dengan sopan.


"Tidak masalah yang Mulia...itu sudah ketentuan hukum jika kita bertanding..." jawab Alea.


"Kalau begitu Ayo kita bertanding, maafkan aku, aku minta pelajaran darimu.." ucap Pangeran Huang sambil memasang kuda - kuda.


"Sama- sama yang mulia..." jawab Alea. dan pertandinfanpun segera di mulai dengan serangan beruntun dari putra mahkota . dan dengan ringannya Alea menerima serangan itu. maka tetjadilah pertarungan yang sangat sengit antara putra Mahkota dan Alea. pertarungan tanggan kosong berlanjut lama, dan Akhirnya sang putra Mahkota mengeluarkan pedang Andalannya yaitu pedang hitam panjang, melihat itu Alea tidak mau kalah, dia mengeluarkan pedang salju Miliknya, melihat pedang salju para tetua dari Tiangzi terkejut dan kagum, pedang itu adalah pedang milik tetua agung tua yang telah hilang berpuluh tahun lalu, dan mereka tahu jika pedang itu telah muncul pasti burung Phoenix yang bersama pedang itu pasti bersama Alea. Alea segera mengalirkan tenaga dalamnya kedalam pedang salju miliknya, terlihat cahaya terang dan mengeluarkan hawa dingin keluar dari pedang itu. semakin lama cahaya pedang itu semakin kuat,


"Maaf pangeran kita lanjutkan pertarungan kita..." kata Alea sambil kembali menyerang Pangeran Huang. dan kembali pertarungan terjadi.


tiba- tiba terlihat ada gumpalan api merah di tangan putra mahkota, melihat itu Alea segera merapalkan kekuatan Bayu biru yang dia miliki..terlihat kekuatan Angin berwarna biru menggumpal di tangan kiri Alea, Saat pangeran Huang mulai menyerang Alea , dengan cepat Alea melontarkan tenaga bayu birunya. dan terjadi ledakan yang sangat kuat di udara. gumpalan asap memenuhi ring pertandingan , saat asap telah hilang terlihat pangeran Huang terbatuk dan mengeluarkan seteguk darah.


"Putra mahkota..." seru permaisuri.


"Tenanglah Bunda...' hibur sang Raja. namun beliau juga merasakam hatinya terguncang melihat sang putra mumuntahkan darah dari mulutnya.


sedang di atas ring terlihat Alea tetap tegar walaupun wajahnya memucat.


"Gimana yang Mulia...apa kita lanjutkan pertandingan ini...?' tanya Alea lembut.


"Kita lanjut putri...aku bangga bisa bertarung denganmu...?" jawab putra Mahkota sambil tersenyum.


"Baiklah kalau itu kemauan yang mulia, kita lanjutkan pertarungan ini..." kata Alea sambil tersenyum manis, melihat senyum Alea, pangeran Huang tertegun sejenak. tak lama dia berucap.


"Putri aku akan mengeluarkan hewan kontrakku...." kata pangeran Huang lagi.


"Silahkan yang Mulia...hamba juga akan mengeluarkan hewan kontrak hamba. .." jawab Alea. tak lama terlihat seekor beruang hitam besar berada di sebelah Pangeran Huang.


Grruaa.....


serunya membuat orang ngeri melihat beruang itu. dan di sebelah Alea telah berdiri pria tampan dengan memakai baju putih dan kuning terang berdiri dengan gagahnya. ternyata Lauyan keluar karena pedang salju telah keluar lebih dahulu. Melihat kehadiran Lauyan semua orang terpukau.


"Putri ...siapa dia...?" tanya Pangeran Huang kaget.


"Dia hewan kontrak hamba yang Mulia.." jawab Alea tenang.


"Ya ampuun...hewan apa lagi yang dia miliki, sepertinya hewan yang ini bukan hewan yang kapan hari dia keluarkan, bukankah ini hewan legendaris pula ...." kata penonton.


"Benar..hewan yang sudah bisa berubah menjadi manusia adalah hewan yang sudah berada di tingkat hewan ilahi. dan itu merupakan hewan legendaris semua..." jawab sang teman.


"Siapa sebenarnya dia...dia memiliki mahluk kontrak lebih dari satu dan semua mahluk kontraknya hewan legendaris semua..." kata siswa yang lain.


Sedang di Sekte Tiangzi terlihat para murid Tiangzi menatap Alea penuh kekaguman. Mereka tak pernah menyangka keturunan yang di tunggu tetua agung selama ini adalah sosok yang sangat kuat, walaupun terlihat rapuh ,cantik dan Anggun.


"Bunda..Jiejie Lea hebat ya...?" seru.putri Yuan pada sang Bunda.


"Benar nak...andai dia mau jadi istri gegemu..." gumam sang bunda .


"Kenapa tidak bunda..." kata sang Putri.


"Tidak mungkin nak...karena dia calon istri Putra Mahkota Lingzhi dari kerajaan Shi..." jawab sang Bunda.


"Yaaa...sayang sekali Bunda...tapi dia bisa jadi Jiejie Yuan kan...?' tanya putri Yuan.


"Iya..dia jiejie mu, kami sudah memberikan plakat kerajaan sebagai keluarga kerajaan...." jawab sang bunda sambil tersenyum .


"Bagus Bunda...trimakasih..." seru putri Yuan gembira.


Sedang di ring pertarungan terlihat Alea dan Lauyan mulai berhadapan dengan putra Mahkota dan hewan kontraknya. namun hewan kontrak putra Mahkota hanya berani melawan Lauyan dalam hitungan menit, tak lama dia hilang dari ring pertarungan, melihat tingkah hewan kontraknya, pangeran Huang maklum, sebab yang di hadapi oleh hewan kontraknya bukan mahluk biasa. ketika sang hewan hilang, pangeran Huang hanya tersenyum kecut. Dia segera mengeluarkan tenaga dalamnya lebih kuat. dan terlihat gumpalan api di tangan putra mahkota terlihat cukup besar. dan Alea juga memperkuat Bayu birunya. terlihat gumpalan angin di tangan Alea besar juga. dan saat kedua kekuatan di adu terdengar dentuman keras menyakitkan telinga, dan terlihat ring pertarungan Hancur begitu juga dengan Arai yang melindungi kekuatan retak dan hancur, untunglah para tetua dan guru besar melindungi penonton demgan ilmu mereka. gumpalan Asap membumbung tinggi hingga keadaan Alea dan putra Mahkota tidak terlihat. rasa was- was, cemas melanda mereka semua. saat udara mulai jernih terlihat Putra Mahkota dalam pelukan mahluk kontrak Alea. sedang Alea sendiri berdiri dengan tenangnya. hanya wajahnya semakin pucat, dan ada darah di sudut mulutnya. sedang Pangeran Huang terlihat pingsan dalam pelukan Lauyan.


udah dulu ceritanya, besok aku sambung ya....jangan lupa like, komen , dan votenya ya...🙏🙏


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2