
Mereka melihat Alea berdiri dengan tegak di ring pertarungan, sedang Pangeran Huang dalam pelukan Lauyan. sedang di sekitar mereka , terlihat tempat ring pertarungan sudah porak - poranda bagai di terjang Badai.
Dan di tengah ring pertarungan terlihat lobang besar yang menganga lebar, seperti habis terkena bom dari atas.
"Maaf...putra Mahkota pingsan..." kata Alea dari atas ring pertarungan yang telah hancur. wajahnya yang oucat dan ada darah di sudut bibirnya , menandakan dia terluka dalam, namun dia masih bisa tersenyum, mendengar ucapan Alea Dua pengawal segera datang untuk membawa sang putra Mahkota keluar dari ring pertempuran,
Uhuk
Uhuk
Tiba-tiba terdengar suara batuk dari Arah putra mahkota.
"Yang mulia kau sudah sadar...?" tanya Alea.
"Ah..ternyata kau telah menyelamatkan diriku putri...?" kata Putra Mahkota sambil melepaskan diri dari pelukan Lauyan.
"Yang Mulia..." kata Alea tak bisa berbicara. Memang tadi sebelum pertemuan tenaga tadi yang mengakibatkan ledakan dasyat, Alea masih sempat meminta Lauyan untuk menyelamatkan putra Mahkota dengan membawanya kedalam ruang dimensi untuk menghindari ledakan. Dan Alea tak menyadari kalau putra mahkota menyadari itu.
"Trimakasih....kau telah menyelamatkan nyawaku...?" kata sang pangeran sambil menatap Alea .
"Tidak pangeran itu sudah tugas kita saling menolong..." jawab Alea .
"Tidak...aku telah berhutang nyawa padamu....?" jawab putra mahkota.
"Sudahlah yang Mulia. Kita sesama kultivator bukankah seharusnya kita saling membantu..." jawab Alea.
'Baiklah tapi urusan kita belum selesai, dan sekarang aku mengatakan kalau aku sudah kalah..." jawab putra Mahkota.
Dengan berakhirnya perkataan putra mahkota, berarti Alea lah yang menjadi sang juara. Dan kemenangan turnamen antar cabang persilatan otomatis kembali di rahi oleh perguruan Calang dari benua barat, dan peringkat kedua sekte Tianzi . Akhirnya turnamen itupun berakhir, Terlihat Putra Mahkota turun dari tumpukan ring yang telah rusak. Diikuti Alea , sedang Lauyan telah kembali ke ruang dimensi batu giok.
Dan untuk menghormati mereka,
malam harinya diadakan perjamuan di kekaisaran. Setelah pulang dari pertandingan, Alea segera masuk kedalam ruang dimensinya untuk berkultivasi menyembuhkan luka dalamnya. setelah minum pil penyembuh dan makan buah pohon kehidupan , Alea segera pergi kebawah air terjun kehidupan, dia segera duduk lotus untuk bermeditasi. Sore Harinya mereka bersiap- siap pergi makan malam bersama- sama. Saat malam menjelang mereka segera berangkat bersama- sama. Merekapun di sambut dengan suka cita oleh keluarga kerajaan.
Saat perjamuan makan malam berlanjut, Alea tidak mendapati sang putra mahkota berada di area makan malam, begitupun dengan Raja dan permaisuri, mereka hanya sebentar berada di dalam pesta, dan putri crewet Yuan pun tak hadir, ada apa ini..batin Alea resah.
"Kenapa putra mahkota tidak hadir.., apa dia semakin parah...?" batin Alea.
"Ada apa Lea'er...apa yang kau cari...?" tanya Xiao Bai dari dalam ruang dimensi.
"Aku mencari putra Mahkota, apa dia terluka cukup parah ya...?" tanya Alea.
'Sepertinya iya sich...?" ucap Xiao Bai.
"Aku jadi merasa bersalah..." ucap Alea sedih.
"Itu resiko orang bertarung Lea'er..." kata Xiao Bai lagi.
"Gege...apa yang kini harus aku lakukan, jika aku bertanya atau datang kesana, akan terlihat berlebihan dan aku tak ingin orang salah sangka. tapi kalau tidak di tolong takutnya jadi masalah buat perguruan atau hubunganku dengan kerajaan ini..." kata Alea sedih.
"Kau minta tolong saja pada guru Lao..." ucap Lauyan ikut bicara.
"Benar juga katamu Yan ge, baiklah aku akan mencari guru Lao..." kata Alea, dia segera berjalan mencari guru Lao.
"Mau kemana Lea'er...?" tanya Mimi yang tiba-tiba berada di dekatnya.
"Kakak...aku akan mencari guru Lao, apa kakak melihat beliau...?" tanya Alea sambil matanya lihat kanan kiri mencari sosok guru Lao.
"Oo..guru Lao, aku melihat beliau sayang...." jawab Mimi tenang, jawaban Mimi membuat Alea menatap padanya.
"Di mana...? Kenapa kakak nggak bilang dari tadi...?" tanya Alea sambil cemberut.
"Lo memangnya Lea'er tanya sama kakak tadi...? tidak kan...?" goda Mimi. Mendengar omongan Mimi, Alea sadar akan perkataannya.
"He he iya sich...lalu di mana beliau kak..?" tanya Alea lagi.
"Ayo ikut kakak..." ajak Mimi.
Mimi mengajak Alea masuk ke lorong taman, di sepanjang lorong terlihat banyak para tamu yang berada di taman itu.
"Mau kau ajak kemana aku kak...?" tanya Alea pada Mimi .
"Tenang saja sebentar lagi sampai...." jawab Mimi.
"Memangnya kakak tadi dari mana...?" tanya Alea heran.
"Mengantarkan Barang dari guru Juan pada guru Lao..." jawab Mimi.
"Ooo..." gumam Alea.
Benar saja perkataam Mimi, setelah selesai dia bicara terlihat guru Lao sedang berbincang dengan tuan Borong dan tuan Yucan. Buru- buru Alea mendekati mereka .
"Selamat malam tuan Borong, tuan Yucan, guru...." sapa Alea merangkap semuanya. Sambil memberi hormat di ikuti Mimi .
"Hanpey...kau kesini nak...? Darimana...? Sebenarnya kami tadi akan mencarimu, untung kau datang kemari..." kata guru Lao.
"Kami sengaja mencari guru...tapi ada apa guru dan tuan berdua mencari hamba...?" tanya Alea, walaupun hati Alea cemas takutnya kalau ini masalah tentang Pangeran Huan.
"Kami butuh pertolonganmu..." kata tuan Borong menjawab pertanyaan Alea.
"Butuh pertolongan hamba..? Soal apa..?" tanya Alea sambil menatap mereka bertiga.
"Luka Putra Mahkota ternyata cukup menghawatirkan, kami tidak bisa membantunya ...." kata tuan Borong lagi.
"Oo..soal itu...maaf ,seharusnya hamba tadi memberi obat pada Pangeran, tapi sekali lagi maaf ...hamba lupa...karena itulah saya kemari mencari guru Lao untuk meminta pertolongan guru Lau agar memberikan obat ini pada Putra Mahkota... " jawab Alea .
"Tidak nak...itu bukan kesalahanmu, sewajarnya bila seseorang bertarung pasti akan terluka, dan luka itu bukan kesalahan musuh..." kata tuan Borong lagi.
"Trimakasih tuan, ini obatnya..." kata Alea sambil memberikan botol obat pada tuan Borong.
"Nak...lebih baik kau yang memberikan pil ini pada Putra Mahkota, karena kami tidak bisa membangunkan Putra Mahkota..." kata tuan Borong lagi.
"Guru...?" tanya Alea sambil menyodorkanbotol pil pada guru Lao.
"Aku tadi juga sudah kesana Hanpey, tapi aku sudah tidak berani memegang tubuh Putra Mahkota, aku takut lukanya semakin parah...?" jawab guru Lao .
"Ya ampun...kenapa mesti gue yang harus mengobati Putra Mahkota sich..." batin Alea karena Alea takut putra mahkota semakin menganggap dia berhutang banyak pada Alea..
"Baiklah aku sendiri yang akan mengobati putra Mahkota..." kata Alea dengan terpaksa.
"Trimakasih putri Lea..." kata tuan Borong dan tuan Yucan bersamaan.
Akhirnya Alea berjalan kearah istana milik Putra Mahkota Huang bersama Mimi dan tiga orang tadi. Sampai di istana putra Mahkota terlihat dua orang penjaga berada di depan pintu istana Putra Mahkota. Mereka menatap kedatangan kelima orang itu, saat mereka melihat ada tuan Borong dan tuan Yucan bersama tamu yang datang, mereka segera membukakan pintu istana.
"Selamat malam dua tetua agung..." sapa mereka berdua.
"Malam..." jawab tuan Borong. Sedang seperti biasa tuan Yucan tak banyak bicara .
__ADS_1
Mereka segera masuk kedalam istana Putra Mahkota, ternyata di dalam ruangan sudah banyak pangeran dan putri kerajaan berada di dalam ruangan itu.
"Tuan Borong..." sapa seorang pemuda tampan yang berdiri di dalam ruangaan seperti ruang tamu.
"Pangeran kedua...? Bagaimana keadaan Putra Mahkota...?" tanya tuan Borong pada pemuda tadi yang ternyata pangeran kedua .
"Dia tetap seperti tadi. Dan siapa mereka...?" tanya pangeran kedua pada tuan Borong sambil menatap satu persatu wajah orang yang datang, saat matanya melihat Alea, terlihat sinar keterkejutan dan kekaguman memancar di sana.
"Mereka tabib yang akan mengobati putra mahkota..." jawab tuan Borong.
"Bukankah dia tadi sudah berada di sini dan tak mampu...?" tanya pangeran kedua lagi.
"Bukan dia pangeran, tapi gadis yang berada di sebelahnya..." jawab tuan Borong sambil melangkah masuk kedalam ruang dalam istana Putra mahkota.
"Apaa..tunggu tuan Borong....!" seru pangeran kedua sambil berjalan kearah tuan Borong yang sedang melangkah. Otomatis tuan Borong berhenti melangkah.
"Apa maksudmu kalau gadis itu yang akan mengobati Putra Mahkota...?" tanya Pangeran kedua sambil menunjuk Alea dengan dagunya.
"Karena dia seorang tabib, namanya tabib Hanpey yang kemaren telah menyembuhkan putri Yuan Tan...." jawab tuan Borong lengkap.
"Apaa...tabib Hanpey....?" tanya Pangeran kedua kaget, dia tak menyangka kalau tabib Hanpey yang telah menyelamatkan nyawa sang adik adalah seorang gadis cantik, bukan cantik lagi tapi teramat cantik.
"Benar Pangeran, dan tolong biarkan kami kekamar putra Mahkota ..karena Putra Mahkota menunggu kedatangan tabib Hanpey.." kata tuan Borong lagi. Pangeran kedua segera menyingkir dari jalan. Tuan Borong segera melanjutkan langkahnya.
"Permisi Pangeran...." ucap Alea saat berjalan melewati pangeran kedua. Dan terlihat wajah Pangeran kedua bengong melihat kecantikan Alea, dan dia dapat mengendus harum bungah mawar dari tubuh Alea saat Alea melewatinya tadi .
Sedang Alea dan rombongan melanjutkan langkahnya kearah kamar Putra Mahkota Huang. Ketika sampai di sana ternyata putri Yuan, Permaisuri , Dan Raja Tan Jhuan berada di dalam kamar Putra Mahkota. Ketika mereka melihat kehadiran Alea. Mereka segera mendekati gadis itu.
"Hanpey ...kau datang nak..." seru Peaisuri pada Alea.
"Salam sejahtera bagi Raja dan permaisuri, semoga berkah selalu menyertai....." ucap Alea dan rombongan saat bertemu dengan penguasa kerajaan Amora itu .
"Salam kalian aku terima, Hanpey apa kabar nak....?" sapa Raja Tan pada Alea.
"Hamba baik yang Mulia..." jawab Alea .
"Hanpey..tolong putra Mahkota nak..." kata Permaisuri sedih.
"Akan Hamba usahakan Bunda... maafkan hamba yang telah membuat Putra Mahkota sampai seperti ini..." kata Alea sambil menatap sosok Putra Mahkota yang sedang tertidur di atas pembaringan.
"Tidak apa- apa nak...itu bukan salahmu,.." ucap permaisuri lembut.
"Trimakasih Bunda...kalau begitu hamba akan memeriksa Putra Mahkota..." kata Alea pada permaisuri.
"Silahkan nak..." jawab sang permaisuri. Alea segera melangkah mendekati pembaringan putra Mahkota.
"Jiejie..tolong gege Huang..." ucap putri Yuan sambil mendekati Alea.
"Tenang sayang, Jiejie akan berusaha mengobati Putra Mahkota, sekarang Yuan bantu Jiejie dengan doa ya...?" kata Alea sambil menatap wajah putri Yuan dan mengelus kepalanya.
"Hmm..." angguk gadis itu.
Alea segera mendekati pembaringan Putra Mahkota dan duduk di kursi dekat pembaringan. Perlahan dia mengambil tangan putra Mahkota dan melihat denyut nadi sang pangeran.
"Kenapa denyut nadi putra Mahkota tidak teratur.." batin Alea. Dia merasakan denyut nadi putra Mahkta Terkadang cepat, terkadang melambat. Mungkin ini karena luka dalamnya. Alea segera mengambil botol pil penyembuh dari dalam cincin ruangnya. Dia mengambil tiga pil penyembuh ,dan satu persatu pil itu dia masukkan kedalam mulut sang pangeran , setelah itu dia menekan lembut pangkal leher putra mahkota agar obat bisa masuk kedalam tubuh putra Mahkota , setelah itu dia kembali mengembalikan botol pil kedalam cincin ruangnya. Setelah menunggu beberapa saat dia berkata.
"Tuan Borong...bisa bantu saya mendudukkan sang putra Mahkota..." kata Alea sambil memandang tuan Borong.
"Bisa putri..." jawab tuan Borong cepat. dia dan tuan Yucan berjalan mendekati pembaringan , lalu secara perlahan mereka berdua mendudukkan Putra Mahkota di atas pembaringan.
Terlihat tubuh Putra Mahkota masih lemas. kalau tidak di pegangan akan ambruk.
"Baik putri..." jawab tuan Borong dan tuan Yucan hampir bersamaan.
Alea menatap Raja dan Ratu.
"Maaf Yang Mulia...hamba harus naik keatas pembaringan putra Mahkota..." ijin Alea sopan.
"Silahkan nak...jangan sungkan- sungkan..." jawab Raja.
"Trimakasih yang Mulia..." Alea segera naik keatas pembaringan dan duduk lotus di belakang sang Putra Mahkota, Lalu dia menempelkan kedua tangannya di punggung sang Pangeran. perlahan matanya terpejam, perlahan dia mulai mengalirkan tenaga Qi nya kedalam tubuh sang pangeran. cukup lama Alea melakukan itu, hingga terlihat wajahnya sedikit memucat namun kebalikaannya, wajah putra Mahkota yang tadinya seputih kertas, Kini terlihat merona merah , dan perlahan terlihat wajah itu semakin segar. Setelah Alea merasa cukup dalam mengalirkan tenaganya, perlahan dia menghentikan penyaluran energi Qi nya dan dia segera menarik kedua tangannya dari tubuh sang pangeran. Kini wajahnya terlihat semakin pucat. Setelah selesai perlahan dia turun dari pembaringan sang putra Mahkota.
"Tuan silahkan anda tidurkan kembali putra Mahkota..." kata Alea yang berdiri di sisi pembaringan, tiba- tiba seorang pria tampan yang tadi memeluk putra Mahkota di atas ring pertempuran saat ledakan, kini muncul di sisi Alea mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan. namun semua orang tahu kalau pria itu mahluk kontrak Alea.
"Lea'er..minum ini dulu ...wajahmu terlihat sangat pucat..." kata Lauyan sambil menyodorkan botol bulat panjang seperti tempat tuak ,yang terbuat dari tanah liat yang berisi air kehidupan. Alea segera meminum air di dalam botol pemberian Lauyan. Melihat kedekatan Alea dengan hewan kontraknya, membuat semua orang heran dan iri . biasanya seorang kultivator memang dekat dengan hewan kontraknya, tapi tidak sedekat seperti Alea, terlihat mereka bagai seorang kakak dan Adik. setelah Alea mengembalikan botol padanya, Lauyan segera hilang dari pandangan mereka.
"Yang Mulia...keadaan Putra Mahkota sudah tidak dalam bahaya lagi, sebentar lagi dia akan sadar , karena itu ijinkan hamba pulang lebih dahulu, karena hamba rasa tubuh hamba perlu istirahat..." kata Alea pada sang Raja.
"Nak...kenapa tidak istirahat di sini saja, kau bisa memakai salah satu ruang di istana putra mahkota..." kata sang Raja.
"Iya Jiejie...kau istirahat di sini saja..kalau tidak di istana ini kau bisa tinggal di istana ku...!" seru putri Yuan yang terdengar mulai cerewet .
"Tidak sayang...kakak tidak bisa tinggal disini, ada sesuatu yang harus kakak kerjakan di penginapan kakak..." jawab Alea menolak permintaan putri Yuan.
"Biarkan Jiejiemu pergi sayang...pasti Jiejiemu sedang sibuk..." tiba- tiba terdengar suara merdu permaisuri yang membuat angin segar untuk Alea.
terlihat wajah Putri Yuan cemberut tapi akhirnya membolehkan Alea pergi. akhirnya Alea pergi dari istana itu bersama Mimi. Sedang yang lainnya tetap menikmati makan bersama di istana.
"Lea'er...kenapa kita buru- buru pulang..?" tanya Mimi di dalam perjalanan pulang kepenginapan,
"Memangnya kakak masih ingin tinggal di istana..?" tanya Alea.
"Tidak, bukan begitu...kakak hanya heran saja kenapa kau buru- buru pulang, aapa memang ada pekerjaan di penginapan..?" tanya Mimi lagi.
"He he he Tidak ada kak...Aku hanya tak ingin menambah beban perasaan putra Mahkota atas pertolonganku padanya..." jawab Alea tenang.
"Bukanya itu wajar ...?" tanya Mimi lagi.
"Benar katamu kak, memang wajar...tapi beda dengan putra Mahkota Huang, aku takut dia atau sang Raja akan memberikan hadiah yang aneh- aneh seperti giok keluarga yang telah mereka berikan kepadaku... sekarang coba kakak fikirkan, masak iya giok lambang keluarga , mereka berikan padaku yang bukan siapa- siapa mereka, apa itu nggak aneh.." jawab Alea panjang kali lebar.
"Benar juga katamu Lea'er..." ucap Mimi pelan.
"Dan lagian aku menghindari sesuatu kak.." kata Alea.
"Apa itu...?" tanya Mimi penasaran.
"Aku takut putra Mahkota menyukaiku..." jawab Alea pelan. mendengar perkataan Alea kontan saja Mimi tertawa keras. Melihat tingkah Mimi, Alea segera mendekap mulut Mimi yang tertawa lepas.
"kakak...jangan tertawa terlalu keras...lihat kita jadi pusat perhatiin orang..." seru Alea kesal. dan benar Kata Alea , banyak para penduduk yang melihat mereka .
"mm...mm..." seru Mimi karena mulutnya di dekap Alea. Alea segera melepaskan dekapannya .
"Kau itu menggemaskan Lea'er..makanya jadi orang jangan keterlaluan cantiknya, tentu saja putra Mahkota akan jatuh cinta padamu, siapa sich yang bisa lepas dari jerat pesona wajahmu...?" goda Mimi.
"Ck..ini memang sudah dari Alea lahir kak...memangnya Alea mengubah wajah Alea...?" kata Alea sambil cemberut.
"Itulah resiko punya wajah cantik sayang..." kata mimi lagi. dan tanpa terasa mereka sudah sampai di depan penginapan mereka. ketika mereka mau masuk ke dalam kamar tiba- tiba terdengar sebuah suara memanggil nama Alea.
__ADS_1
"Lea'er...kau baru pulang...?" Alea dan Mimi terkejut ,dan melihat pada sumber suara. terlihat putra Mahkota Fang Xing sedang berjalan kearah mereka.
"Putra Mahkota...!" seru Alea dam Mimi hampir bersamaan.
"Waah gawat...lepas dari yang satu, eee... ketemu yang lain..." seru Alea dalam hati.
"Iya yang Mulia...kami baru pulang..." jawab Alea ramah.
"Teman yang lain mana...? kok kalian pulang sendiri..?" tanya putra Mahkota Fang lembut.
"Iya kami pulang lebih dahulu, lalu kenapa putra Mahkota Fang ada di sini...jangan bilang anda tidak ikut hadir makan malam tadi..." tanya Alea menebak .
"Badanku masih terasa belum terlalu sehat setelah pertandingan tadi..." jawab putra Mahkota Fang dengan wajah lembut.
"Apa obat yang hamba berikan tadi tidak anda minum..?" tanya Alea heran. sebab biasanya setelah meminum pil penyembuh dua biji, biasanya rasa sakit akan segera hilang .
"Sudah.. trimakasih atas pemberian obat itu..." ucap Putra Mahkota Fan lembut .
"Kalau begitu kami pamit dulu Pangeran.." kata Alea lagi.
"Tidak bisakah kita ngobrol sebentar Lea'er...?" tanya putra Mahkota Fang penuh harap.
"Maaf Pangeran...Lea'er baru saja menyembuhkan putra Mahkota Huang, jadi badannya sekarang kelelahan..." ucap Mimi menjawab permintaan Putra Mahkota Fang.
"Oo..kalau begitu cepat istirahat Lea'er, jaga kesehatanmu..." ucap pangeran Fang dengan tulus, walaupun Alea dan Mimi melihat kekecewaan di mata sang Putra Mahkota Fang Xing Long . Akhirnya Alea dan Mimi berpamitan masuk kedalam kamar mereka. sampai di dalam kamar, Alea segera pergi keruang dimensi untuk bermeditasi mengembalikan tenaganya kembali.
Sedangkan di istana Amora, Setelah kepergian Alea, terlihat Raja , Permaisuri , dan penghuni kerajaan masih menunggui putra Mahkota yang belum sadarkan diri,
Tak berapa lama terdengar erangan dari arah tempat tidur Putra Mahkota. tak lama kemudian terlihat mata pangeran Huang terbuka secara perlahan. dia mengerjakan matanya menyesuaikan dengan cahaya. setelah terbiasa dia segera membuka matanya dengan sempurna. Dia melihat sekelilingnya, terlihat wajah Ayah dan Bundanya berada di sana .
"Ayah , Bunda..." terdengar suara parau Putra Mahkota.
"Kau sudah sadar nak...?" tanya sang Bunda.
"Berapa hari ananda pingsan Bunda...?" tanya Pitra Mahkota sambil memandang sang Ayah dan Bundanya.
"Beberapa hari,..? bukan beberapa hari nak, tapi beberapa waktu...." ralat sang Bunda.
"Beberapa waktu...?" tanya Pangeran Huan tak percaya.
"Iya, beberapa waktu setelah kau kembali dari pertandingan,..._" jawab sang Bunda.
"Lo kok Bisa Bunda...bukankah lukaku sangat parah...? mana mungkin..apa benar itu Ayah...?" tanya putra Mahkota semakin tak percaya.
"Itu benar Huang...Untung ada tabib Hanpey yang menolongmu..." jawab Raja .
"Tabib Hanpey...?tabib pria yang telah menyembuhkan putri Yuan...?" tanya Putra Mahkota lagi.
'Gege..dia bukan seorang pria, tapi wanita, bukankah dia tadi bertarung denganmu...?" seru putri Yuan kesal.
'Bertarung...? maksudmu..?" tanya Putra Mahkota tak mengerti.
"Ck Gege...dia wanita yang tadi telah mengalahkan dirimu di pertandingan...!" seru putri Yuan kesal.
"Apaa...petarung dari perguruan Calang itu...!" seru putra Mahkota kaget. Dan dia langsung bangun dan duduk di atas pembaringan .
"Pangeran hati - hati...!" seru Raja dan Permaisuri hampir bersamaan.
"Maaf Ayah...hamba terlalu kaget tadi, tapi hamba merasa kesehatan hamba telah pulih Ayah..." kata Putra Mahkota dengan wajah gembira.
"Tentu saja karena Jiejie Lea telah membantu gege menyalurkan energinya kedalam tubuh gege..." jawab Putri Yuan kesal. dia masih kesal karena Alea tidak mau tidur di istana nya.
"Putri...ndak boleh berkata seperti itu pada kakak anda..."tegur sang Bunda .
"Jiejie Lea...? siapa Jiejie Lea Bunda..?" tanya Putra Mahkota Huang.
"Dia si tabib Hanpey itu Pangeran.. maafkan adikmu, dia masih kesal karena Jiejie Leanya sudah pulang dan tidak mau di suruh menginap di sini..." kata Permaisuri lembut.
"Oo..jadi adikku lebih menyayangi orang lain dari pada gege gantengnya ini..." goda sang kakak.
"Tentu saja sayang gege, tapi dia yang telah membuat Yuan sembuh hingga bisa berdiri seperti ini lagi, dan dia juga yang telah menyembuhkan gege dari luka dalam gege tadi, apa gege tahu setelah dia menolong gege, dia wajahnya pucat sekali hingga pria yang juga menolong gege dari ledakan itu datang memberi minuman entah apa itu pada jiejie Lea. setelah itu Jiejie pulang karena badannya lemas,.." kata putri Yuan berapi- api .
Putra Mahkota Huang tertegun
Dia teringat saat benturan tadi akan terjadi, dia mendengar gadis itu berteriak, tak lama sesosok bayangan menyambar dirinya dan dia tak ingat- apa- apa lagi. dan ketika dia tersadar dia sudah berada di dalam pelukan pria mahluk kontrak gadis itu, sekarang dia kembali menolongku , gadis itu... Seru Putra Mahkota dalam hati.
"Ayah...dimana tabib Hanpey tinggal....?" tanya putra Mahkota Huang sambil menatap sang Ayah.
"Dia berada di penginapan dekat sini, ada apa nak....?" tanya Raja lembut.
"Tidak Ada Ayah...aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padanya..." jawab Putra Mahkota.
"Kau bisa melakukannya saat kau sudah benar- benar sembuh nak..." kata Raja Tan lagi.
"Kapan mereka akan kembali kebenua barat...?" tanya Putra Mahkota lagi.
"Kau bisa menanyakan itu pada gurunya, itu tabib Lao gurunya Hanpey..." jawab Raja sambil menunjuk pada tabib Lao yang sedang duduk bersama ke dua tetua agung kerajaan mereka.
"Tabib Lao...?" tanya Putra Mahkota.
"Hamba yang Mulia..." jawab tabib Lao sambil mendekat.
"Apa benar kau guru tabib Hanpey...?" tanya Putra Mahkota .
"Benar Yang Mulia..." jawab tabib Lao .
"Kapan kalian akan kembali kebenua barat...?" tanya Pangeran Huang pelan.
"Hamba belum tahu yang Mulia...kami belum merencanakan itu, tapi kami secepatnya akan kembali , ..." kata tabib Lao dengan sopan.
"Kalau begitu bawa tabib Hanpey kemari besok pagi..." perintah Putra Mahkota pada tabib Lao .
"Baik yang Mulia..." jawab tabib Lao.
"Trimakasih tabib..." ucap sang Pangeran.
"Nach nak...kau sudah dengar itu kan...? sekarang tidurlah, kau harus banyak istirahat, kalau kau jatuh pingsan seperti kemaren, kau akan membuat putri Lea kerepotan lagi..."kata Raja menasehati.
"Baik Ayah..." Putra Mahkota Huang kembali merebahkan tubuhnya di pembaringan. Karena putra Mahkota sudah siuman dan terlepas dari masa kritis Akhirnya tabib Lao dan semua orang mengundurkan diri dari istana putra mahkota setelah melihat keadaan putra Mahkota.
Tabib Lao, guru Juan serta guru Can dan siswa perguruan Calang segera kembali kepenginapan mereka.
Lian sempat mencari sang adik yang tiba- tiba tak bersama mereka, namun setelah di beritahu oleh tabib Lao kemana Alea dan Mimi. Lian Han menjadi tenang.
Maaf sampai di sini dulu ya sobat, kita lanjut lagi besok....
Jangan lupa Like, vote, dan komennya author tunggu, trimakasih untuk sobat- sobat tercinta yang sudi memberi komen , vote, dan Like buatku, 🙏🙏🙏
__ADS_1
Bersambung.