PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
UJIAN ALKEMIA.


__ADS_3

Pagi ini seperti hari kemaren , pagi- pagi Pangeran Lingzhi sudah mengetuk pintu kamarnya untuk mengajak Alea sarapan pagi. Apa boleh buat karena sudah terlanjur menyetujui sebagai pengawal sang putra mahkota walaupun itu karena keterpaksaan, akhirnya Alea mengikuti semua perintah sang pangeran. Seperti saat ini setelah selesai sarapan pagi Alea pamit akan pergi ke ujian masuk kelas Alkemia. Namun lagi- lagi dia mengikuti kepergiannya.


"Pangeran...apakah hari ini ada tidak sibuk ...? Lebih baik saya pergi sendiri..." kata Alea menolak halus sang Pangeran .


"Tidak...aku akan pergi denganmu , mana mungkin aku membiarkan pengawalku ikut ujian tanpa pendamping..." jawab pangeran Lingzhi beralasan .


"Hamba bisa jalan sendiri pangeran, hamba bukan anak kecil yang harus di antar ...." jawab Alea sambil cemberut.


Saat melihat wajah Alea yang cemberut Pangeran Lingzhi tertegun lama. Dia menatap Alea dengan wajah gemas.


"Ha ha ha...aku sudah bilang Lea'er..kau jangan menunjukkan wajah cemberutmu di depan pria lain selain kami, lihatlah wajah pangeranmu ... " tawa Lauyan menggema di ruang dimensi.


"Kau sengaja Lea'er....? " kata White menuduh.


"Hey...mana mungkin aku sengaja, aku melakukan itu karena kesal tahu.. bukankah sejak aku masuk dalam perguruan Calang ini dia selalu mengikutiku..." seru Alea tambah kesal.


Membuat wajahnya semakin cantik , imut dan menggemaskan. Dan tiba- tiba sebuah cubitan mendarat di kedua pipinya.


"Kenapa kau menggemaskan sekali tabib Hanpey..." seru pangeran Lingzhi yang sudah tidak tahan melihat wajah Alea. Andai dia sudah menjadi miliknya ingin rasanya mencium bibir merah yang terlihat agak mengerucut karena kesal. Sedang Alea terpanah melihat tingkah Pangeran Lingzhi.


Melihat protes di mata Alea , Pangeran Lingzhi melepas tangannya dari pipi Alea.


"Pangeran...apa yang barusan anda lakukan..." seru Alea sambil mengusap kedua pipinya.


"Mencubitmu..." jawabnya tenang.


"Pangeran....!" seru Alea kesal.


"Jangan cemberut lagi...atau aku akan melakukan lebih dari itu...." ancam pangeran Lingzhi.


Alea kaget mendengar ancaman pangeran Lingzhi.


'Apa maksud dia....? Atau...jangan - jangan dia telah mengetahui identitasku yang sebenarnya...?" batin Alea dalam hati.


"Lea'er...sepertinya pangeranmu sudah tahu kalau kau seorang wanita...?" kata White dari dalam ruang dimensi.


"Masak sich...?" kata Alea ragu.


"Melihat gelagatnya ,cara dia memperlakukanmu bukan sebagai laki- laki, tapi sebagai wanita..." kata White lagi.


Alea tertegun mendengar ucapan kedua mahluk kontraknya.


'Apa iya pangeran Lingzhi sudah tahu kalau aku seorang wanita...?" tanya Alea dalam hati.


"Hey...kenapa jadi diam....?" tanya Pangeran Lingzhi menyadarkan Alea yang sedang berbincang dengan kedua mahluk kontraknya.


"Ah tidak..tidak... maaf hamba harus segera pergi pangeran.. ..." ucap Alea sambil beranjak untuk segera pergi dari kamar pangeran Lingzhi.


"Baik kita pergi... " kata pangeran Lingzhi. Dia segera mengikuti Alea yang sudah berjalan keluar ruangan. Terlihat ada senyuman tipis di bibir pangeran Lingzhi.


Ketika sampai di luar kamar ternyata Jendral Guansi dan Jihao sudah menunggu mereka. Dan beberapa pelayan segera masuk kedalam kamar pangeran Lingzhi untuk membersihkan ruang kamar pangeran .


"Ternyata ada pelayan yang membantu pangeran Lingzhi...." fikir Alea dalam hati. Sebab kemaren dia tidak melihat mereka.


"Pagi Pangeran, pagi tabib Hanpey..." sapa Jendral Guansi dan Jihao bersamaan.


"Hmm...." gumam Pangeran Lingzhi.


"Pagi Jendral, pagi Jihao..." sapa Alea.


"Pagi ini kita mau kemana pangeran...?" tanya Jihao.


"Mengantarkan dia keruang Alkemia..." jawab pangeran Lingzhi datar.


Merekapun segera pergi keruangan Alkemia. Namun saat mereka melintasi ruang aula mereka berjumpa dengan beberapa siswa senior yang telah berada di sana. Saat melihat Hanpey datang beberapa orang mendatanginya.


"Selamat pagi pangeran...maaf menggangu pangeran, kami ingin berbicara dengan saudara Hanpey...?" kata pria yang berbadan gagah dan tampan. Melihat itu pangeran Lingzhi mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Ada apa kalian mencari Hanpey...?" tanya pangeran dingin.


"Kami ingin menanyakan soal ramuan Qi..."kata pria murid senior yang menghadang jalan mereka .


"Lalu kenapa kalian semua berkumpul di sini, lalu apa yang ingin kalian harapkan dari Hanpey....?" tanya Pangeran Lingzhi terlihat mulai marah.


"Maaf pangeran, kami hanya ingin membeli pil ramuan Qi itu..." jawab murid senior yang melihat kemarahan di wajah pangeran Lingzhi. Mereka juga merasa takut ketika melihat putra mahkota terlihat mulai marah. Pangeran dan Alea saling padang , merek yang ingin membeli pil itu lebih banyak dari pada pil yang di miliki Alea.


"Jadi kalian semua ingin membeli pil ramuan Qi itu...?" tanya Alea kaget.


"Benar ...kami semua ingin membeli pil itu darimu saudara Hanpey..." kata pria tadi.


"Aku tidak bisa memberikan sekarang, karena aku hanya memiliki beberapa pil saja, jadi maaf... Aku akan memikirkan solusinya, kalian nanti tunggu saja kabar dariku ..." jawab Alea kebingungan.


Mendengar perkataan dari Alea mereka saling berpandangan , tak lama pira yang sejak tadi menjadi pembicara dari mereka berkata.


"Baiklah kami menunggu keputusan dari saudara Hanpey...." kata pria itu tegas.


"Bagus...sekarang menyingkirlah kalian dari jalan kami...." kata pangeran Lingzhi datar. Mereka segera menyingkir dari jalan yang akan di lalui Alea bersama rombongannya. Alea dan pangeran Lingzhi serta dua pengawalnya dengan tenang berjalan meninggalkan mereka.


Ketika sampai di ruang kelas Alkemia. Alea melihat tidak terlalu banyak yang berminat di bidang Alkemia. Terlihat hanya beberapa orang saja yang berada di ruangan itu. Ternyata siswa baru tidak ada satupun yang berada di sana . Mereka semua sepertinya para murid senior. Dan banyak dari mereka adalah siswa wanita, sedang siswa pria hanya ada tuju orang saja. Saat Alea masuk bersama pangeran Lingzhi dan kedua pengawalnya, mereka menjadi pusat perhatian siswa yang ada di sana.


Ada cibiran di wajah mereka saat memandang Alea, mereka merasa Alea memanfaatkan kedekatannya dengan putra mahkota. Mereka menduga kalau Alea masuk kedalam kelas Alkemia hanya untuk cari perhatian semata. Namun saat melihat putra Mahkota terlihat wajah mereka berseri- seri terutama para wanitanya. Dan kebetulan di sana juga ada gadis cantik yang kemaren mendekati pangeran Lingzhi yaitu pitri Asuya. Dia bersama seorang gadis cantik yang seumuran dengannya. Mereka menatap Alea penuh kebencian.


"Hey nona kenapa kalian memandangku penuh benci...? Bukankah aku sekarang sedang memerankan seorang laki- laki mudah, jangan kalian katakan kalau kalian cemburu pada pria juga hanya karena dekat dengan pria pujaan kalian ....teriak Alea dalam hati.


Ketika pangeran Lingzhi masuk bersama Alea, kedua gadis itu mendekat, mereka mendekati pangeran Lingzhi dengan wajah berseri .


"Gege kau datang keperguruan...? Ada apa..apakah kau mencariku...?" tanya gadis yang bersama putri Asuya. Mereka mendekati pangeran Lingsi dengan tingkah manja.


"Aku datang mengantar kawanku bukan mencarimu..." jawab pangeran Lingzhi acuh.


"Mengantar teman...? ha ha..jangan beralasan gege...kalau kau memang menyukaiku katakan saja...Kenapa mesti beralasan mengantar teman , bukankah dia bukan anak kecil lagi, kenapa harus di antar . apakah dia takut berjalan sendiri...?"tanya gadis sambil menatap pangeran Lingzhi manja.


"Jaga ucapanmu putri Lan...Siapa yang ingin mebemuimu, jangan terlalu bangga diri. bukankah aku sudah bilang tidak menyukaumu...dan satu lagi aku tidak suka temanku ada yang mengejek..." kata pangeran Lingzhi terlihat marah.


"Bukan urusanmu, aku mengantarkan dia atau tidak, semua bukan urusan kalian ..dan satu lagi, camkan dalam fikiranmu, aku tak akan pernah mencintaimu...." kata pangeran Lingzhi dingin. Terlihat wajah putri Lan Wen memerah, mungkin dia merasa malu mendengar ucapan pangeran Lingzhi. Tangannya mengepal dengan keras. Sedang Alea hanya bisa menatap mereka sekilas dengan perasaan tak enak.


Pangeran Lingsi segera mengajak Alea untuk pergi meninggalkan kedua gadis itu . Guansi dan Jihao tertawa dalam hati. Hanpey yang berpakaian seperti pria saja membuat mereka cemburu, apalagi kalau memakai pakaian wanita.


Setelah menunggu beberapa saat dua orang pria paruh baya masuk kedalam ruang Alkemia. Mereka adalah guru- guru yang mengajar di kelas Alkemia.


"Baik karena kalian semua sudah berkumpul saya akan menguji tingkat kemampuan kalian dalam soal obat- obat tan sekarang kalian mulai berdiri di meja kalian masing- masing. Di sini Ada 16 orang termasuk siswa baru yang hanya satu orang. Di sini telah tersedia 8 tungku pil . jadi saya akan membagi dua tahapan, tahap pertama 8 orang dan tahap kedua 8 orang . masing - masing dari kalian boleh memilih bahan yang akan kalian buat di rak tanaman obat yang ada di sana, dan hasil dari pembuatan obat yang kalian buat, itu akan menunjukkan hasil dari tingkatan kalian dalam kelas Alkemia. Jadi harap kalian semua mulai memilih tanaman yang bisa kalian buat. Nach sekarang saya akan menyebutkan nama- nama kalian ada dalam tahap pertama dan kedua. Setelah itu kelompok tahap pertama segera mengbil bahan obat dan berdiri di dekat tungku pil masing- masing...." ucap salah satu dari kedua pria paruh baya tadi. Tak lama dia menyebutkan nama - nama dalam kelompok pertama dan kedua. Dan ternyata Alea termasuk dalam kelompok kedua , sedang Putri Asuya dan Putri Lan Wen berada di kelompok pertama.


Setelah terbentuk dua kelompok, kelompok pertama segera memilih tanaman obat dan mulai siap membuat pil ramuan. Sedang Alea yang termasuk dalam kelompok kedua duduk menunggu bersama pangeran Lingzhi dan kedua pengawalnya.


Sebelum mulai membuat pil ramuan , terlihat putri Lan Wen dan putri Asuya menatap kearah pangeran Lingzhi yang duduk dekat Alea. Sedang pangeran Lingzhi duduk diam dengan wajah dinginnya. Sesekali dia melirik wajah Alea.


"Pangeran...." ucap Alea .


"Hmm..." gumam pangeran Lingzhi sambil menatap Alea.


"Lihatlah kedua gadis yang memuja pangeran sedang menatap kemari, mereka meminta dukungan dari pangeran lo...." kata Alea perlahan.


" Biarkan saja...itu urusan mereka..." jawab Pangeran Lingzhi dingin. Alea pun diam mendengar omongan sang putra Mahkota. Melihat pangeran Lingzhi yang tak menghiraukan mereka, Alea melihat kekecewaan di wajah kedua gadis itu.


Waktu berlalu dengan cepat tak berapa lama udara di dalam ruangan tercium bau harum ramuan obat. Hingga akhirnya terlihat putri Asuya telah membuka tutup tungku obatnya. Dan dia mengeluarkan sebuah pil obat yang terlihat berwarna putih kehitaman, pil penyembuh dasar tingkat pertama. dia tersenyum melihat hasil yang dia dapatkan.


"Bagus putri Asuya...kau sudah bisa menyempurnakan pil penyembuh tingkat pertama..." kata sang guru bangga.


sedang putri Lan Wen agak kecewa karena pil yang dia buat hangus. dan ada enam orang lagi yang nasipnya sama dengan putri Lan Wen. sedang yang satu orang lagi bisa menghasilkan pil yang sama dengan putri Asuya. terlihat wajah bangga tercermin di wajah cantiknya. setelah itu dia bersama ketuju temannya meninggalkan tungku pil untuk di gantikan dengan pengikut ujian tahan kedua. Alea segera memilih tumbuhan obat yang sudah tersedia. teryata di dalam rak tanaman obat Alea menemukan rumput roh dan akar bunga lilian salah satu bahan untuk pembuat ramuan obat penyembuh tingkat lima , yang tingkat kesulitan pembuatannya hampir sama dengan pembuatan pil ramuan Qi. Alea segera mengambil bahan obat untuk membuat pil penyembuh tingkat lima. setelah di anggap telah cukup Alea segera mencari tungku obat yang bagus dan kuat . untung mereka belum selesai memilih. setelah melihat beberapa tungku yang tersedia, Alea mendapat tungku nomer tiga terlihat cukup baik dan kuat untuk dia pakai. walaupun tak sekuat tungku miliknya yang berada di ruang dimensi.


"Lea'er...tungku yang kau pilih memang yang terbaik dan terkuat..." kata Eagle dari ruang di dimensi.


"Hanya ini tungku yang terbaik ..." kata Alea.


"Lea'er..boleh aku keluar bersamamu...?" kata White yang paling suka mencium harim ramuan obat. dia akan menyerap udara yang berbau ramuan sebanyak- banyaknya untuk kekuatan tubuhnya.

__ADS_1


"Kalau kau suka keluarlah..." jawab Alea.


White segera keluar dari ruang dimensi tanpa setahu mereka yang ada di ruang Allkemia. dan melingkar dengan indah di tangan mungil Alea. namun tanpa Alea dan White sadari , Pangeran Lingzhi melihat seekor ular putih merambat di tangan Alea dan melingkar dengan indah di tangan Alea .


Mulanya dia kaget namun saat ular itu melingkar dengan enaknya dan Alea membiarkannya, pangeran Lingzhi tersenyum tipis.


'Sejak kapan gadis nakal ini memiliki mahluk itu..." batin pangeran Lingzhi.


Sedang putri Asuya setelah selesai melaksanakan tes ujiannya tadi , dengan bangga dia berjalan kearah pangeran Lingzhi.


"Pangeran apakah kau tidak mengucapkan selamat atas keberhasilan hamba...?" kata putri Asuya dengan bangga.


"Hanya keberhasilan sekecil itu kau sudah bangga...? berapa tahun kau belajar di perguruan calang ini...?" tanya pangeran Lingzhi dengan sinis.


"Pangeran...belajar menjadi seorang Alkemis tidak mudah, coba kau lihat, dari sekian banyak Alkemis hanya ada aku dan satu temanku yang lolos..." jawab putri Asuya sombong.


"Kemampuan seperti itu sudah kau banggakan, kau lihat saja nanti siapa yang terbaik hari ini..." ucap pangeran Lingzhi dengan acuh. Putri Asuya kesal dan marah mendengar perkataan pangeran Lingzhi. apalagi saat dia mau duduk di dekat pangeran, sang pangeran menghalangi karena tempat itu milik Hanpey.


Sedangkan Hanpey sendiri sedang memilah tanaman obat yang akan dia buat ramuan. setelah mendengar waktu sudah di mulai, dia segera manaskan tungku obat dengan tenaga dalamnya. dia menstabilkan api biru yang menyelubungi tungku obat. dan setelah dia rasa cukup panas dia memasukkan bahan ramuan kedalam tungku. setelah itu dia menstabilkan kembali bara api dalam tungku. jika terlalu panas maka obat yang ada di dalam tungku kemungkinan gagal akan sangat besar. karena itu dalam pembuatan obat seorang Alkemis sangat di jauhkan dari segala gangguan yang akan membuat mereka gagal membuat obat.


Sedang Putri Lan Wen dan putri Asuya menatap penuh penghinaan pada Alea yang terlihat tenang. hingga akhirnya satu persatu para peserta mulai membuka tutup tungku mereka. namun yang berhasil membuat pil penyembuh dasar tingkat pertama hanya ada satu orang saja dan satu orang lagi menghasilkan pil penyembuh tingkat dua. sedang Alea masih tenang menstabilkan api di dalam tungku nya.


"Ck...kalau nggak bisa jangan sok pintar dech...lihatlah teman yang lain sudah selesai tapi dia masih tenang di depan tungkunya..." kata Putri Asuya penuh ejekan.


"Dasar pria sok pintar...dia seperti itu mencari perhatian pangeran Lingzhi..." kata putri Lan Wen.


"Biarkan saja...kita nanti akan puas menertawakan dia..." timpal putri Asuya sinis. tak berapa lama tercium harum ramuan obat yang sangat pekat di udara. terlihat kedua guru menatap penuh ketegangan.


"Guru Sen...apakah kau mengenal bau harum ramuan ini...?" tanya guru Bahua pada rekan sesama guru.


"Bau harum ini seperti bau harum pil penyembuh tingkat lima..." seru guru Sen kaget.


" Benar katamu , ini ramuan pil penyembuh tingkat lima , siapa sebenarnya pria mudah ini...kenapa dia mampuh membuat pil penyembuh tingkat lima, bukankah dia murid baru...?" seru guru Bahua kaget. sedangkan Alea kini sudah membuka penutup tungku nya. dan dia mengeluarkan sebuah bil berwarna hijau pekat. perlahan dia memasukkan pil itu kedalam botol giok yang sudah dia siapkan. dia segera memberikan hasil pil buatannya pada kedua guru . terlihat pancaran kekaguman dan keheranan terpancar di wajah sang guru.


" Ini pil penyembuh tingkat lima...?" tanya guru Sen tak percaya.


"Benar guru...itu pil penyembuh tingkat lima..." jawab Alea tenang.


"Bukankah kau murid baru....?" tanya guru Bahua .


"Benar guru...?" jawab Alea pelan.


"Siapa kau sebenarnya nak...?" tanya guru San dengan wajah gembira.


"Dia tabib Hanpey dari desa Cahaya kerajaan Long..." tiba- tiba Pangeran Lingzhi sudah berdiri di sebelah kedua guru.


"Putra Mahkota...?" kedua guru itu kaget.


"Dia tabib Hanpey yang telah me yembuhkan sakit sang Raja..." kara Pangeran Mahkota mengejutkan kedua guru itu.


"Ya Dewa...jadi dia si penyembuh itu...?" seru guru Sen kaget.


"Maaf guru...murid tidak setinggi itu hingga mendapatkan nama yang terlalu agung buat murid...." ucap Alea merendah.


"Tidak, tidak kau memang pantas menyandang nama itu nak..


dan aku juga mendengar, kau telah menyelamatkan putri Yinhan saat melahirkan...." kata guru Bahua dengan wajah kagum.


"Benar...dialah yang menyelamatkan Ayah dan kakak ku..." kata Pangeran Lingzhi dengan bangga. sedang Alea hanya terdiam salah tingkah.


"Kalau begitu kau lebih baik menjadi murid guru besar saja nak.. " seru guru Sen dan membuat siswa yang ada di kelas Alkemia tercengan dan iri.


siapa yang tak iri menjadi murid guru besar.


Cukup dulu ya....kita lanjut di episode yang akan datang.


jangan lupa like vote dan komenya aku tunggu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2