PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
UJIAN DI PERGURUAN CALANG.


__ADS_3

Setelah melalui tahan seleksi pertama , mereka menuju pada tahap seleksi kedua. Di dalam seleksi ini para murid baru di bawa kesebelah kiri tempat pengujian mana tadi. Di sana terdapat beberapa tiang kayu yang berdiri cukup tinggi dan kokoh . setiap tiang memiliki lebar permukaan cukup untuk pijak kaki satu orang . dan banyaknya tiang haya ada sekitar lima puluh tiang kayu. Sedang orang yang mendaftar lebih dari dua ratus orang. Setelah para murid baru berada di sana. Seorang guru berdiri di atas podium dan menjelaskan cara seleksi yang kedua. Yaitu Setiap orang harus bisa berdiri di salah satu tiang itu, dan orang yang mampu berdiri di sana sampai babak terakhir dialah yang akan menjadi murid perguruan calang. Karena itu kekuatan dan kegesitan tubuh perlu di miliki oleh calon murid baru. Dan siapa yang telah jatuh dari tiang tersebut, akan tercatat sebagai kegagalan, dan orang yqng telah gagal di ujian ini sudah tidak bisa meneruskan Ketahap selanjutnya. Setelah sang guru selesai menjelaskan tata cara ujian kedu Maka para murid baru mulai bersiap untuk meloncat keatas tiang pijakan. Tak lama setelah mendapatkan aba- aba maka terlihat para murid baru yang mengikuti ujian kekuatan dan kelincahan tubuh serta olah kanuragan mulai berlompatan berebut tiang. Tak terkecuali Alea dan Mimi. Saat itu Alea bisa mendapatkan tiang no dua dari depan , sedang mimi berebut tiang nomer lima dengan seorang gadis mungil. Saat kaki Alea baru saja hinggap di atas tiang , tiba- tiba seorang pria tinggi besar ingin merebut pijakan tiang itu dari kaki Alea. Dan terjadilah perebutan di antara mereka berdua, tendangan dan pukulan di arahkan pada Alea oleh laki-laki itu, agar Alea terjatuh dari tiang pijakan . Namun dengan mudahnya Alea membuat pria besar itu jatuh dari atas tiang. Terlihat wajah kecewa di mata pria besar itu.


"Maaf..." seru Alea sambil menatap dia dengan wajah prihatin. Tak lama datang lagi pemuda lain yang ingin merebut tiang pujak kaki Alea. Dan lagi- lagi pria itu jatuh dari atas tiang. mula - mula banyak yang ingin berebut tempat Alea, karena melihat fisik Alea yang lembut mereka mengira mudah menjatuhkan nya dari tiang pijakan. tapi saat terlihat banyak yang jatuh saat melawan Alea hanya dalam waktu singkat, akhirnya mereka tidak ingin mendekati tiang Alea. Mereka mencari orang yang mudah mereka rebut. Pangeran Lingzhi yang melihat itu tersenyum gembira. Begitupun dengan Mimi, dia masih mampu bertahan dalam perebutan tiang pijakan. Satu persatu peserta jatuh gugur di dalam perebutan tiang pijakan . dan akhirnya menyisahkan lima puluh orang calon siswa murid baru . Alea dan Mimi termasuk di dalamnya. Setelah beberapa menit kemudian seorang pria paruh baya naik keatas podium dan berucap.


"Untuk kalian yang di atas tiang pijakan kalian lulus dalam ujian yang kedua ini. Selanjutnya kalian akan mendapatkan ujian mengelompokan kelas kalian, dan untuk yang belum beruntung lolos dalam ujian ini, kalian bisa mengulang tahun depan...." ucap pria paruh baya itu.


Setelah beberapa saat istirahat , mereka segera di giring kearena adu kekuatan.


Tempat Arena kekuatan tidak terlalu jauh dari tempat tiang pijakan, hingga penonton dalam podium bisa melihat para murid baru mendapatkan ujian tahap ketiga. Di mana ujian tahap ketiga ini juga menentukan tempat di mana mereka akan tinggali.


"Lea'er...apa kita bisa dalam satu lingkungan..." kata Mimi resah.


"Semoga saja kak... Kakak harus fokus dalam menghadapi siapapun sang penguji, jangan gelisah atau takut dan jangan sombong lalu meremehkan sang penguji siapapun dia..." kata Alea memberi nasehat.


"Baik, kakak mengerti..." jawab Mimi .


Setelah mendengar sedikit petuah dari seorang guru . Acarapun segera di mulai. Satu- persatu para murid mengambil nokor urut. Dan lawan yang akan mereka hadapi. Ada empat guru dan delapan kakak senior yang akan menguji mereka. Jadi total dua belas penguji yang akan berhadapan dengan murid baru. Kini mereka mulai mengambil nomor ujian. Mimi ternyata mendapatkan nomor 8 dan itu menunjukkan kalau dia akan berhadapan dengan kakak senior. Saat Alea mulai mengambil nomor ujian, dia mendapatkan nomor empat yang berarti dia akan berhadapan dengan seorang guru. Setelah semua dapat nomor ujian , maka ujianpun segera di mulai.


Satu persatu siswa murid baru mulai menghadapi penguji . hingga akhirnya sampai pada Alea yang mendapat lawan seorang guru pembimbing.


Guru itu seorang guru yang terlihat masih mudah, wajahnya yang tampan sangat berkarisma. Dia berdiri di depan Alea dengan gaya elegan.


"Kau sudah siap...?" tanya pria itu lembut.


"Mohon bimbingan guru...?" jawab Alea sopan.


Sang guru terkejut melihat tingkah sopan Alea. Dia menatap Alea dengan tajam. Tak lama dia terlihat tersenyum tipis.


"Bersiaplah...jangan sungkan melawan guru..." kata sang guru.


"Murid siap guru..." jawab Alea.


Tak lama terlihat mereka mulai memasang kuda- kuda. Dan akhirnya Alea yang memulai penyerangan. Saat tinju Alea akan mendarat di pelipis sang guru, Sang guru dengan mudah nya mematahkan serangan Alea. Dan akhirnya serangan - serangan yang mulanya lembut , kini terlihat semakin seru, sepertinya tak ada yang ingin mengalah.Hingga membuat semua orang menatap perkelahian itu dengan nafas tertahan. Serangan Alea yang gencar , di imbangi oleh sang guru. Mereka terlihat saling serang . perkelahian meteka cukup lama Hingga akhirnya sang guru menyudahi perkelahian mereka.


"Hey..anak mudah...ujianmu akukira sudah cukup, dan kau tidak pantas jika tinggal di kelas dasar...." seru sang guru.


"Maaf guru...?" jawab Alea dengan wajah merah karena lelah. namun itu membuat pesona tersendiri pada Alea.


"Nggak masalah...malah aku bangga bisa bertarung denganmu...." jawab sang guru bijak sambil tersenyum .


"Siapa namamu. .. aku Can Lokya..." kata guru Can memperkenalkan diri.


Semua siswa di perguruan Calang kaget melihat guru Can akrab dengan Alea, sebab semua orang tahu kalau guru Can seorang yang sulit di dekati .


" Hamba Hanpey guru...." jawab Alea sambil menunduk sedikit memberi hormat.


"Ya sudah kembalilah ketempatmu dan tunggu penempatan kamarmu..." kata guru Can lembut.


"Baik guru..." jawab Alea , lalu dia segera keluar dari tempat pertempuran. Dia segera melangkah ketempat Mimi.


Melihat kedatangan Alea , Mimi menyambutnya dengan senyuman.


"Lea' er kau hebat...." seru Mimi gembira.


"Maksud kakak...?" tanya Alea tak mengerti.


"Pertarunganmu dengan guru tadi sangat menegangkan , kakak lihat banyak orang yang merasa kagum melihat mu..." jawab Mimi dengan wajah bangga.


"Ck...kakak aja kali yang terlalu bangga pada Alea..." kata Alea cuek. Sebab tadi dia hanya mengimbangi pertempuran yang di lakukan guru Can.


"Ist kau ini... Dasar gadis cuek...." seru Mimi sambil mencubit pipi Alea.


"Kakak...pelankan omonganmu..." bisik Alea.


"Uff ...maaf Lea'er..." kata Mimi sambil mendekap mulutnya.


Tanpa Alea sadari semua perbuatan dan tingkah lakunya menjadi sorotan seseorang di podium kehormatan.


Siapa lagi kalau bukan mata Pangeran Lingzhi. Saat Alea mulai naik keatas arena uji ketangkasan , pangeran Lingzhi sudah menatap dengan wajah binar kebahagiaan. Namun saat guru Can maju sebagai guru uji, terlihat matanya menyorot tajam penuh kecemburuan. Bagaimana tidak cemburu, guru Can adalah guru termuda di perguruan Calang , dia guru yang menjadi idola para gadis di perguruan, walau pangeran Lingzhi tahu kakau dia masih di atas guru Can , dan guru Can juga salah satu sahabat pangeran Lingzhi. Ingin rasanya pangeran Lingzhi mendekati mereka dan membawa Alea turun dari arena ujian. namun itu tidak mungkin.

__ADS_1


Tapi saat melihat perkelahian antara sang sahabat dengan Alea, dia merasakan kekaguman semakin besar di dalam hatinya. Gerakan Alea yang lincah mengimbangi gerakan guru Can dan itu menunjukkan kalau kemampuan beladiri Alea bukan lagi di taraf level Kaisar. Namun Alea sengaja menutupinya.


Saat Alea berbicara dengan guru Can setelah selesai uji ketangkasan. Ada rasa amarah dalam hatinya. Dia tak ingin gadis yang sudah di klaim miliknya berbicara akrab dengan orang lain.


"Jihao ...kayaknya ada yang lagi minum cuka ya..." sindir Jendral Guansi pada Jihao.


"Emang siapa yang lagi minum cuka Jendral...apa nggak kecut...?" tanya Jihao tak nyambung.


"Dasar pria bodoh..." kata Gunsi kesal.


Sambil memberi isarat mata untuk melihat wajah Pangeran Lingzhi yang menatap Alea di arena ujian. Dan akhirnya Jihao mengerti apa yang di maksud Guansi.


"Jangan banyak omong... Apa kalian ingin aku pindahkan kalian ke daerah perbatasan...?" ucap pangeran Lingzhi dengan dingin, tapi matanya terus menatap kearah dimana Alea berada. Mendengar perkataan pangeran Lingzhi kedua bawahannya diam seketika. Hanya ada umpatan dalam hati mereka.


Saat melihat Alea telah kembali ketempat semula terlihat wajah pangeran Lingzhi agak cerah. Dia gembira karena Alea telah menjauh dari Can Lokya . Sedangkan permausuri melihat tingkah sang putra hanya tersenyum dengan lembut. Dia tahu kalau pangeran Lingzhi menyukai gadis yang menyamar sebagai seorang pria.


Hingga hampir sore seleksi penerimaan murid baru berakhir. Dan penempatan murid baru pun sudah di tentukan.


Mimi berada di kelas pemula 2 bersama 24 siswa lainnya. Sedang 25 siswa yang lainnya berada di kelas pemula awal. Saat Alea mendengar kalau hanya dia satu- satunya yang akan ikut tes prajurit utama dia merasa heran.


"Kok gue yang masuk seleksi mengikuti tes prajurit utama, bukankah banyak siswa senior yang menginginkan menjadi prajurit utama...." seru Alea heran.


"Mungkin saat kau tadi menghadapi guru Can mereka kagum padamu Lea'er..dan kau pantas ikut dalam seleksi prajurit khusus...." kata Mimi menghibur.


"Ck...nanti kita pasti pisah tempat tinggalnya kak...tahu gini gue tadi mengalah aja....." kata Alea kesal .


"Hus...nggak boleh gitu...seharusnya kau bangga , karena hanya dirimu dari siswa murid baru yang bisa mengikuti seleksi masuk prajurit khusus...." hibur Mimi.


"Tapi apa enaknya masuk jadi prajurit khusus sich...?" kata Alea sambil cemberut.


"Lea"er...kau harus bisa masuk menjadi prajurit khusus.. kakak yakin kau bisa.." kata Mimi dengan yakin.


"Kakak pingin Alea masuk prajurit khusus...? " tanya Alea pada Mimi .


"Sangat....karena kakak akan bangga Mei mei kakak menjadi prajurit yang di banggakan kerajaan Shi ini... biar kerajaan Long merasa sedih salah satu rakyatnya malah menjadi Prajurit khusus kerajaan tetangga... " jawab Mimi dengan wajah gembira .


"Baiklah kalau itu keinginan kakak..." jawab Alea.


"Lihat saja nanti...." jawab Alea cuek.


Mimi tersenyum melihat tingkah Alea yang terlihat dingin tapi sangat manja pada dia dan ketiga mahluk kontraknya.


"Baiklah ayo kita melapor dulu..." ajak Mimi. Mereka memang harus melaporkan kelas yang akan menjadi acuhan tempat kediaman mereka.


Mereka srgera berjalan kearah tempat koordinator siswa perguruan. setelah melapor Mimi bersama para Siswa pemula dua segera di antar oleh seorang siswa senior yang membawa mereka ketempat tinggal mereka yang baru.


Sedang Alea sendiri di bawa oleh seorang senior kearah berlawanan dari arah Mimi beserta rombongannya. Dia di bawa melewati beberapa ruangan yang terlihat banyak para siswa senior yang sudah lama tinggal di sana. Alea hanya diam mengikuti Siswa yang tadi membawanya.


Akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan yang ada di dekat sebuah taman yang cukup indah dan sejuk.


"Sobat...ini tempat tinggalmu sekarang, Ingat besok pagi aku akan menjemputmu karena kita akan pergi ke aula perguruan untuk mengikuti tes masuk prajurit khusus..." kata pemuda senior yang tadi mengantarkan dia ke kamar yang sekarang akan menjadi tempat tinggalnya.


"Baik kak...aku akan menunggu kedatanganmu...?" jawab Alea ramah.


Siswa pria itu segera pergi dari hadapan Alea. setelah melihat siswa tadi menjauh Alea segera ingin masuk kedalam ruang kamarnya. dia segera mengeluarkan kunci kamar dari dalam kantong yang ada di ikat pinggangnya. saat Alea mau memasukkan kunci kedalam lubang pintu kamar seseorang menegurnya.


"Sore tabib Hanpey..." suara lembut terdengar dari belakang tubuh Alea. reflek Alea membalikkan tubuhnya.


Kini Alea melihat seorang pria tampan sedang berdiri di depannya , pangeran Lingzhi dan kedua sahabatnya sedang berdiri dan tersenyum manis di wajah tampannya.


Alea terpanah melihat senyum manis di wajah dingin putra Mahkota.


"Ck..pantas dia menjadi idola para gadis di seluruh kerajaan, kalau dia tersenyum seperti ini terlihat wajahnya sangat tampan sekali..." seru Alea dalam hati.


"Hey Lea'er...kau terpesona dengan wajah tampannya kan....?" goda Lauyan dari dalam ruang dimensi.


"Aku mengagumi Yan ge...bukan terpesona..." Alea mengelak godaan Lautan.


"Ha ha ha....itu sama saja Lea'er.." kata Lauyan sambil tertawa.

__ADS_1


"Ada apa tabib...kenapa kau terdiam..." kata- kata pangeran Lingzhi menyadarkan Alea kalau dia sekarang sedang berhadapan dengan pangeran Lingzhi.


"Ah..tidak Pangeran...hamba hanya berfikir kenapa pangeran ada di sini..?" kata Alea menjawab pertanyaan pangeran Lingzhi, namun tak urung wajahnya memerah.


"Lo kenapa...?" aku murid perguruan Calang, bukankah keharusan bagi siswa calang berada di sini...?" jawab Lingsi dengan pandangan dan senyuman menggoda.


"Ck...kenapa dia berubah seperti ini sich..? bukankah biasanya dia berwajah dingin dan acuh bila bertemu denganku...?" seru Alea dalam hati.


"Bukan..maksud hamba bukan begitu pangeran... Pangeran itu memang benar murid perguruan Calang , tapi saya mendengar kalau pangeran Lingzhi itu tidak pernah berada di perguruan Calang, katanya anda datang hanya pada saat ujian akhir tahun,..." kata Alea menjelaskan .


"Oo itu..memang sich...aku memang jarang berada di perguruan, aku akan datang jika saat ujian akhir tahu saja, tapi tahun ini pengecualian...karena ada yang sedang aku kejar..." kata pangeran Lingzhi sambil menatap Alea.


Alea salah tingkah melihat tatapan Pangeran Lingzhi. namun dia berusaha bertahan memperlihatkan wajah yang biasa saja.


"Kalau begitu hamba doakan semoga Pangeran mendapatkan apa yang anda inginkan..." doa Alea tulus. mendengar perkataan Alea Jendral Guansi dan Jihao manahan tawa mereka.


"Trimakasih doanya, aku pastikan aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan tabib..." kata Lingzhi sambil tersenyum menggoda. Jendral Guansi dan Jihao yang berada di kanan dan kiri pangeran Lingzhi ternganga melihat senyuman dan wajah sang pangeran yang tak pernah mereka lihat.


Dan Alea hanya membalas dengan senyuman manis yang membuat pangeran Lingzhi kelabakan.


" Maaf pangeran ...kalau nggak ada masalah lagi, boleh hamba masuk dulu kekamar hamba...?" tanya Alea membuat pangeran Lingzhi sadar dari pesona Alea.


"Oh ya silahkan..kalau kau membutuhkan sesuatu kau bisa meminta tolong pada kami, kamar kita bersebelahan tabib..." kata- kata Pangeran Lingzhi mengagetkan Alea.


"Maksud Pangeran...?" tanya Alea kaget.


"kamar di sebelah, adalah kamarku.. dan di sana , ada beberapa kamar yang yang di huni oleh Guansi dan Jihao serta beberapa pangeran yang belajar di perguruan Calang ini... ' ucap pangeran Lingzhi dengan tenang. Alea ternganga mendengar omongan pangeran Lingzhi. setelah di perhatikan memang letak kamarnya beda sendiri dengan kamar yang lainnya. kamar dia terletak di pinggiran taman yang sangat indah.


dan letak kamar yang dia huni berdampingan dengan kamar milik Pangeran Lingzhi .


"Kok bisa kamar hamba bisa bersebelahan dengan kamar milik Pangeran...?" tanya Alea bingung.


"Entahlah...mungkin karena kamu satu- satunya yang bisa mengikuti ujian masuk prajurit utama...." jawab pangeran Lingzhi seenaknya.


sedang Guansi dan Jihao hanya menangis dalam hati.


"Sejak kapan pangeran Lingzhi pandai berbohong. mana mungkin tabib Lingzhi bisa tinggal di sini kalau bukan permintaan putra mahkota. Kamar yang di huni oleh Alea sebenarnya kamar kerja milik putra Mahkota. kamar itu di sediakan kalau pangeran berada di perguruan dan akan menyelesaikan tugasnya , jadi kamar itu sebenarnya kamar khusus putra mahkota. dan kini kamar itu di peruntukkan untuk tempat tinggal tabib Hanpey.


"Lalu bagaimana kalau hamba tidak bisa lolos dalam ujian itu..." tanya Alea.


"Aku yakin kau akan lolos..." kata Pangeran Lingzhi meyakinkan.


"Trimakasih pangeran, semoga saya bisa..." ucap Alea.


"Pasti kau bisa..." kata pangeran memberi semangat.


"Ya sudah aku masuk dulu kedalam kamarku, kau pasti sekarang lelah , istirahatlah...." kata pangeran Lingzhi penuh perhatian.


"Trimakasih Pangeran..." ucap Alea.


Pangeran Lingzhi segera berjalan kearah kamarnya. Sedang Alea segera masuk kedalam kamar tinggal miliknya.


"Lea'er...bukankah pangeran Lingzhi penuh perhatian..." goda White.


"Benar...dia pria yang cocok buatmu..." goda Lauyan juga.


"Ck..ck..ck..kalian ini ya.. dia belum tahu siapa aku sebenarnya...dia berbuat seperti itu karena aku telah menyelamatkan nyawa sang Raja... jangan berfikiran yang tidak- tidak gege.." kata Alea dengan sabar.


"Seandainya dia sudah tahu jati dirimu dan mencintaimu gimana...?" tanya White.


"Itu tidak mungkin gege...masih banyak gadis cantik di kerajaan Shi ini..." jawab Alea.


"Dasar wanita keras kepala...kau dengar Lea'er...selama ini aku belum pernah melihat gadis yang secantik dirimu... " kata Lauyan dengan serius.


"He he he...trimakasih para gegeku yang tampan, tetapi aku tidak percaya... udah ah..aku mau masuk kedalam ruang dimensi. aku ingin mandi dan berendam. aku mau meditasi di bawah air terjun untuk memulihkan staminaku..." kata Alea sambil masuk kedalam ruang dimensi setelah menunci pintu kamarnya. sesampainya di dalam ruang dimensi Alea segera mengambil dua biji buah kehidupan , dia memakan buah itu sambil berjalan kearah air terjum . setelah memakan dua bijin buah kehidupan, Alea segera mengambil sikap lotus di bawah air terjun air kehidupan.


Jangan lupa Like, vote, dan komennya ya...


Bersambung.

__ADS_1



Alea saat mengikuti ujian masuk perguruan calang. Maaf jika tidak sesuai dengan bayangan yang ada di fikiran kalian ya...🙏🙏


__ADS_2