PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
BERANGKAT KEDAERAH BENCANA .


__ADS_3

Saat tubuhnya jatuh dalam pelukan Pangeran Lingzhi, Alea kaget bukan main.


"Pangeran...apa yang anda lakukan." seru Alea panik..


"Memelukmu...." jawab Pangeran Lingzhi tenang .


Alea melihat kanan kiri. Dan ternya di sekitarnya hanya ada pengawal bayangan sang pangeran , Mimi dan sang kakak Lian Han.


"Ist...dasar pangeran ...kita ini ada di halaman pangeran, apa anda nggak takut di lihat orang...?" tanya Alea kesal.


"Tidak sama sekali....malahan aku ingin semua orang mengetahui kalau kau adalah milikku..." jawab Pangeran Lingzhi dengan tenang.


Saat itu tiba- tiba terdengar suara yang membuat Alea kaget.


"Gege Lingzhi..." terdengar seruan seseorang dari arah belang mereka .


Mendengar seruan itu , Alea buru- buru melepas pelukannya, namun bukannya terlepas, sang pangeran malah semakin mempererat pelukannya. Dan tak lama terlihat putri Lan wen datang sambil membawa kotak makanan Dari dalam istana.


"Pangeran...." seru Putri Lan Wen kaget melihat postur tubuh mereka yang saling berpelukan.


"Ada apa kau datang kemari...?" tanya Pangeran Lingzhi datar.


"Oo ada tabib Hanpey..." ucapnya pelan.


Alea menatap putri Lan Wen sambil tersenyum canggung.


"Aku membawakan makanan untuk gege..." ucap putri Lan Wen dengan wajah terlihat memerah dan sedih.


"Aku sudah makan, bawa kembali makanan itu... "Jawab pangeran Lingzhi dengan acuh.


"Tapi gege...makanan ini aku bawa khusus untukmu...." ucap putri Lan Wen dengan wajah kecewa.


" Tapi aku tidak menginginkannya ... dan ingat mulai sekarang aku minta kau menjauh driku, jangan lagi mendekatiku dan mengejarku lagi, Hangan berharap aku akan mencintaimu, bukankah kau sudah tahu itu sejak dulu...menjauhlah , karena aku takut kekasihku calon putri mahkota ini , akan cemburu melihat mu..." kata pangeran Lingzhi dingin.


"Apaa..putri mahkota....?" terdengar suara putri Lan Wen kaget , terlihat wajahnya pucat mendengar perkataan pangeran Lingzhi.


"Iya..dialah calon putri mahkotaku..." jawab pangeran Lingzhi cuek.


"Tapi Pangetan...bukankah kita sudah di jodohkan...?" tanya putri Lan Wen.


Terlihat wajah putri Lan Wen semakin pucat ,


"Itu keinginan kau dan orang tuamu..." ucap pangeran Lingzhi.


"Tapi permaisuri sudah menyetujuinya..." jawab putri Lan Wen lagi .


"Bunda tidak pernah berkata nenyetujui perjodohan itu, beliau malah telah menolaknya, tapi ibumu yang memaksa perjodohan itu , Bunda tidak menerimanya karena bunda tahu kalau aku tidak pernah mencintaimu, kalau kau tak percaya tanyakan itu pada ibumu..." ucap pangeran Lingzhi dengan tegas .


tak lama putri Lan Wen berlari meninggalkan mereka berdua .


-


"Pangeran ...kau telah membuat hatinya patah..." ucap Alea sambil memandang kepergian putri Lan Wen.


"Aku tidak perduli...dan aku tidak ingin dia selalu mencari kesempatan untuk mendekatiku, apalagi kini aku sudah memilikimu, aku tak ingin memberi harapan pada mereka untuk mendekati diriku lagi..." jawab pangeran Lingzhi tegas . Mendengar perkataan sang Pangeran, Alea tiba- tiba merasakan kehangatan di dalam hatinya.


"Maafkan hamba pangera kalau hamba egois, hamba tak ingin membagi cinta suami hamba dengan wanita lain..." ucap Alea pelan.


"Sayang...jangan kau meminta maaf padaku, itu juga menjadi keputusanku aku memang tak ingin memiliki istri lain selain dirimu...aku ingin hidup hanya dengan dirimu dan anak- anak kita ..." ucap pangeran Lingzhi sambil menatap wajah Alea dengan penuh cinta. Mendengar omongan pangeran Lingzhi , Alea hanya bisa memberi senyuman manis untuk pria tampan yang sekarang sedang memeluk dirinya.


"Trimakasih pangeran...." ucap Alea pelan.


"Sama- sama..sekarang jangan menyalahkan dirimu lagi... Karena keinginan dirimu itu juga keinginan diriku sendiri.." kata pangeran Lingzhi sambil mencium lembut kening Alea. Setelah itu dia melepas pelukannya di tubuh Alea. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


Tak berapa lama Alea ingat keinginannya untuk membeli makanan ringan tadi.


"Pangeran ...kita jadi membeli makan ringan...?" tanya Alea sambil menatap pangeran Lingzhi yang ada di sebelahnya.


"Aku telah menyuruh Jihao dan Guansi untuk membelinya sayang..." ucap sang Pangeran dengan lembut.


"Ooo..." ucap Alea. Dan memang benar Alea tidak melihat keberadaan kedua pengawal setia pangeran Lingzhi itu di sekitar mereka. Alea pun kembali menata barang- barang yang akan mereka bawa.


💖💖💖💖


Keesokan harinya, Alea bangun pagi- pagi sekali. Dia segera pergi mandi dan menyiapkan diri untuk pergi ke daerah bencana bersama tim dari kerajaan. Ketika dia keluar dari rumah putri Yinhan dia di temani oleh White dan Lauyan. Mereka pergi bersama Mimi dan pangeran Lingzhi yang telah menjemput mereka. Ketika mereka tiba di depan istana ternyata para pengawal kerajaan yang akan mengawal mereka telah berkumpul semua di depan istana.


Setelah mendengarkan kata - kata nasehat dari sang Raja, mereka segera berangkat menuju daerah bencana . Alea dan Mimi memilih menaiki kuda bersama Pangeran Lingzhi , , Lian , Jihao dan Guansi. Ternyata tabib yang di kirim ke daerah bencana bukan hanya Alea. Tapi beberapa tabib ikut juga dalam misi menolong korban bencana. Dari perguruan calang ada tiga tabib, sedang dari rumah pengobatan tabib Lau ada dua tabib yang di kirim.


Ketika mereka keluar dari istana banyak penduduk yang menyaksikan keberangkatan mereka di pinggir jalan.


"Sayang...kau nggak ingin naik kereta saja...?" tanya Pangeran Lingzhi pada Alea.


"Tidak pangeran...hamba naik kuda saja..." jawab Alea. Mereka berjalan di belakang kereta yang membawa para tabib dan sukarelawan yang ingin membantu mereka di daerah bencana..


Terlihat Alea yang memakai pakaian pria terlihat tanpan menawan berjalan beriringa dengan Putra Mahkota.


"Ya ampun...lihatlah tampan sekali putra Mahkota , siapakah pria yang berada di samping putra Mahkota itu...dia terlibat sangat cantik , dan Lihatlah burung yang berada di bahu kanannya itu, ya ampuun cantik sekali..selama hidupku aku belum pernah melihat burung seindah itu..." seru salah satu penduduk yang berada di pinggir jalan melihat iring- iringan itu.


"Benar...pria yang berada di sebelah pangeran Lingzhi tak kalah tampannya dengan sang putra Mahkota.. dan apa yang kau katakan itu benar sekali, aku juga belum pernah melihat burung seindah dan secantik itu..itu burung apa sich....?" ucap penduduk yang berada di sebelah wanita yang berucap tadi.


"Aku juga nggak tahu...sebab aku baru sekarang melihatnya..." jawab sang teman.


"Ngomong - ngomong aku belum pernah melihat pria cantik itu di kerajaan ini.." tanya seorang gadis diantara mereka.


"Aku dengar Putra Mahkota telah memiliki calon putri Mahkota...? dan katanya Putri Mahkota sering menyamar jadi seorang pria...jangan- jangan pria tampan itu adalah Putri Mahkota...?" tebak salah satu dari mereka, ketika mereka kembali melihat Pangeran Lingzhi dam Alea diantara iring- iringan itu.


"Ya ampuun....benar apa kata kamu... mungkin pria itu Putri Mahkota yang sedang Menyamar, Lihatlah sikap sang Pangeran, Dia terlihat sangat memperhatikan Pria itu..." jawab teman lawan bicaranya.


"Kalau begitu calon pitri Mahkota orang nya cantik sekali .lihat dia memakai baju pria saja sudah terlihat kecantikannya dan keanggunannya, apalagi memakai baju wanita.... Aku tidak bisa membayangkan kecantikan putri Mahkota..." jawab sang teman lagi.


Dan banyak lagi komentar para penduduk yang berada di pinggir jalan saat melihat kebersamaan Pangeran Lingzhi dan Alea di antara pengawal kerajaan.

__ADS_1


Dan ternyata putri Lan Lan ikut melihat iring- iringan pembawa bantuan itu yang berjalan di depan rumahnya. Terlihat wajahnya yang memerah karena menahan amarah saat mendengar percakapan para penduduk yang ada di sekitarnya.


"Dasar wanita ja***g...kau telah merebut perhatian mereka yang seharusnya untukku...tapi kau nikmati saja hari -hari indah yang sebentar lagi akan hilang dari hidupmu..." gumam putri Lan Lan dengan marah .


"Lea' er...aku merasakan ada aura kemarahan tertuju padamu...?" ucap Lauyan memberi peringatan pada Alea.


"Aku merasakan juga gege..." ucap Alea di dalam telepati nya.


"Aku tahu Lea'er...sepertinya dari arah gadis berbaju hijau yang berada di sebelah kanan jalan..." tiba- tiba White berucap. Dengan segera Alea mencari gadis yang memakai baju hijau seperti yang di ucapkan White. Dan akhirnya Alea menemukan wanita yang di maksud White. Seorang gadis cantik berpakaian hijau terlihat sedang menatap dengan sorot kebencian pada Alea. Saat mata mereka bertemu, Alea bisa melihat mata yang penuh kebencian menatap tajam padanya .


"Sayang...kau sedang melihat apa...?" tanya pangeran Lingzhi heran .


"Pangeran...apakah kau mengenal gadis yang memakai baju hijau itu..?" tanya Alea pada Pangeran Lingzhi.


"Gadis berpakaian hijau...?" tanya Pangeran Lingzhi heran . dia melihat arah mata Alea memandang. Terlihat seorang wanita dengan pakaian hijau sedang berdiri di antara para penduduk yang sedang berdiri di pinggir jalan . setelah melihat wanita itu, pangeran Lingzhi tahu kalau gadis itu putri Lan Lan , putri dari Mentri Coiran, gadis yang ingin menjadi putri Mahkota.


"Ooo dia...dia putri Mentri Coiran..." jawab Pangeran Lungzhi datar .


"Apakah dia mencintaimu Pangeran....?" tanya Alea. Dia menatap sang pangeran dengan wajah penuh tanya.


"Benar...dia mencintaiku, dan aku tahu kalau dia sudah menganggap dirinya calon permaisuriku..." jawab pangeran Lingzhi.


"Apakah kalian pernah berpacaran...?" tanya Alea .


"Hey...aku tidak pernah mengenal gadis manapun...kau percaya tidak ..baru sekaranglah aku dekat dengan seorang gadis.., bukankah kau mengenalku sebagai pria dingin...? Itulah aku di masa lalu. Aku tidak pernah dekat dengan gadis manapun selain Bunda serta saudara perempuanku, dengan merekapun aku hanya dekat dengan kak Yinhan dan adik kecilku putri Aura..." jawab Pangeran Lingzhi sambil menatap Alea dengan senyuman di bibir tipisnya. Ketika melihat senyuman itu para penduduk yang berada di sekitar itu, terpesona melihat senyuman Pangeran Lingzhi . begitupun dengan Lan Lan yang juga sempat melihat pangeran Lingzhi yang sedang tersenyum. Dia tertegun dan terpesona melihatnya.


"Lalu kenapa dia bisa menganggap dirinya calon putri Mahkota...?" tanya Alea dengan heran.


"Entahlah... Aku juga heran..sebab aku hanya sekali bertemu dengannya. Itupun tanpa di sengaja, dia datang bersama kedua orang tuanya saat Ayah sakit dulu itu. Mungkin dari situlah dia mengenalku.." jawab Pangeran Lingzhi.


"Kenapa pangeran tidak ingin mengenalnya...?" tanya Alea sambil tersenyum.


"Tidak...aku tidak ingin mengelanya. Dia gadis sombong, congkak, manja dan angkuh...aku tidak menyukai wanita yang seperti itu..." jawab Pangeran Lingzhi tegas.


"Pangeran...jangan terlalu membenci dia...nanti anda jadi jatuh cinta Lo...?" goda Alea dengan senyuman menggoda.


"Lea'er...kau menyumpahiku...?" ucap Pangeran Lingzhi terlihat agak kesal.


"He.he he...siapa juga yang menyumpahi Anda pangeran... Hamba hanya mengingatkan pada Pangeran...jangan terlalu membenci seseorang, sebab jarak benci dan Cinta itu tipis lo...jadi jangan sampai pangeran membenci seseorang dan berbalik mencintaimu ...." ucap Alea.


"Baik, baik...aku nggak akan membenci orang lagi..." jawab Pangeran Lingzhi .


Alea tersenyum melihat pangeran Lingzhi yang terlihat cemberut kesal karena mendengar perkataan nya .


Sedang Putri Lan Lan terlihat cemburu dan mengepalkan tangannya melihat pangeran Lingzhi yang terlihat sangat mesra dengan Alea.


"Lea'er...kau harus hati - hati...sepertinya gadis itu memiliki niatan jelek terhadapmu...." ucap Lauyan lagi.


"Benar Lea'er...dia juga memiliki ilmu, walaupun masih di rana prajurit tingkat Lima. tapi yang aku takutkan dia akan menyewa pembunuh bayaran..." ucap White menambahkan.


"Gege..terimakasih atas perhatian yang kalian berikan, tapi jangan khawatir, aku akan berusaha waspada seperti yang kalian harapkan..." jawab Alea .


Mereka melanjutkan perjalanan dengan tenang. ternyata waktu yang harus mereka tempuh untuk sampai ke daerah bencana memerlukan waktu dua hari satu malam. karena itu saat hari menjelang petang. mereka memutuskan untuk berhenti dulu dan beristirahat di sebuah penginapan di sebuah desa yang terlihat agak ramai.


dan kau Guansi, Minta pada kepala desa di sini untuk menyiapkan dua kamar ..." perintah pangeran Lingzhi.


"Baik yang Mulia..." jawab Lingzhi sambil menunduk hormat. namun sebelum dia melangkah ternyata kepala desa yang mendengar kalau Putra Mahkota pangeran Lungzhi datang, buru- buru datang menghadap.


"Maaf yang Mulia...seseorang yang mengaku kepala desa di desa ini ingin menghadap Yang mulia ..." lapor seorang prajurit pada Pangeran Lingzhi yang sedang turun dari atas kuda. lalu dia berjalan kearah Alea yang terlihat turun juga dari kuda .


"Bawa dia kemari..." jawab Pangeran Lingzhi.


"Baik yang Mulia..." jawab prajurit itu. dia segera meninggalkan Pangeran Lingzhi tang sedang mengajak Alea pergi dari sana setelah memberikan kuda mereka pada dua orang prajurit . Pangeran Lingzhi membawa Alea duduk di bawah sebuah pohon yang rindang .


Tak berapa lama terlihat seorang pria paruh baya mendatangi mereka.


"Salam sejahtera bagi Putra Mahkota , semoga berumur panjang..." salam pria tua itu sambil menunduk hormat.


"Salammu aku terima, apakah kau kepala desa ...?" tanya Pangeran Lingzhi datar.


"Hamba yang Mulia..." jawab pria itu .


"Kalau begitu apakah kau bisa menyediakan beberapa kamar untuk kami...?" tanya Pangeran Lingzhi kembali.


"Tentu Pangeran... hamba akan segera menyiapkan kamar buat anda dan para tamu .." jwab pria paruhbaya itu dengan wajah gembira


"Bagus...sekarang pergilah, siapakah kamar untuk kami..." ucap pangeran Lingzhi datar.


"Hamba yang mulia...ijinkan hamba mohon diri..." ucap pria itu sopan.


"Pergilah..." jawab Pangeran Lingzhi kembali. Terlihat pria paruh baya itu pergi meninggalkan Pangeran Lingzhi dan Alea .


"Lea'er...aku merasakan akan ada kekacauan di sini..." tiba - tiba Lauyan berucap.


"Kekacauan....?" tanya Alea .


"Iya... sepertinya ada sekelompok orang yang akan merampok bahan makanan yang kalian kawal...." ucap lauyan Lagi.


"Benarkah...? berani sekali mereka, .. apakah mereka tidak takut pada pangeran...?" tanya Alea heran.


"Entahlah....sepertinya mereka punya nyali untuk memprovokasi pangeran Lingzhi..." Jawab Lauyan lagi.


" Sepertinya mereka memiliki seseorang yang sangat kuat di sana..." kata White menimpali.


"Waah...bakal seru nich..." seru Lauyan dengan nada gembira.


"Gege...kenapa kau bahagia...?" tanya Alea bingung


"Sudah lama kita tidak berolah raga..." jawab Lauyan dengan santai.


"Benar katamu Lau...aku juga ingin berolah raga..." kata White menambahi.

__ADS_1


"Baiklah...kita lihat saja nanti..." jawab Alea.


"Lea'er...ada apa...?" tanya pangeran Lingzhi lembut menyadarkan Alea.


"Tidak...tidak ada apa - apa pangeran.." jawab Alea.


"Apakah kau mencemaskan mereka yang akan datang kemari...?" tanya sang Pangeran sambil tersenyum menatap Alea.


"Pangeran Sudah tahu...?" tanya Alea bodoh.


"Hmm..." angguk pangeran Lingzhi.


"Lalu apa yang harus kita lakukan yang Mulia...?" tanya Alea.


"Kita lihat saja nanti. berusaha lah bersikap tenang agar musuh tidak tahu kalau kita sudah tahu rencana mereka.." ucap Pangeran Lingzhi dengan wajah tenang.


"Baik Pangeran..." jawab Alea. pangeran Lingzhi tersenyum dan mengusap kepala Alea dengan sayang.


"Sekarang istirahatlah, nanti malam kita lihat apa yang akan mereka lakukan..." kata Pangeran Lingzhi lembut.


"Baik pangeran..." jawab Alea.


Mereka segera berjalan kearah rumah sang kepala desa yang sudah menyediakan kamar untuk mereka . Ketika sampai di rumah sang kepala desa, mereka telah di sambut oleh kepala desa dan keluarganya. mereka segera di ajak untuk melihat kamar yang sudah di sediakan untuk mereka. Alea mendapatkan kamar bersama Mimi , sedang pangeran Lingzhi mendapat kamar yang ada di sebelah kamar Alea. sedang Jihao , Lian Han dan Guansi mendapatkan satu kamar yang berada di sebekah kamar pangeran Lingzhi.


"Lea' er..istirahatlah... nanti kalau makanan sudah tersedia aku akan membangunkanmu..." ucap pangeran Lingzhi sambil menatap dan tersenyum pada Alea .


"Baik , hamba istirahat dulu pangeran..." pamit Alea. Pangeran Lingzhi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Alea segera masuk kedalam kamarnya sesampainya di kamar , dia segera pergi keruang dimensi bersama Lauyan dan White. karena akan ada penyerangan , Alea memutuskan untuk bermeditasi untuk menghilangkan kelelahan dan menambah kekuatan . Dia segera berjalan kearah air terjun dan duduk lotus di bawah air terjun. Dia merasakan hempasan air dari atas tebing menghantam kepala dan tubuhnya. dan tak lama dia tenggelam dalam alam meditasinya. begitupun dengan keempat Mahluk kontraknya. mereka berkultivasi di bawah pohon kehidupan. setelah bermeditasi selama satu hari satu malam di dalam ruang dimensinya, Alea segera menyudahi kultivasinya. saat dia keluar dari bawah air terjun , dia melihat keempat mahluk kontraknya sedang bermeditasi di bawah pohon kehidupan. Dia tersenyum dan melangkah masuk kedalam istananya untuk mengganti bajunya yang basah. setelah itu dia berjalan kearah dapur untuk memasak makanan untuk mereka. Dia segera mengambil bahan makanan dari ruang pendingin yang ada di istana miliknya.


setelah bekerja dengan cepat, dua jam kemudian tiga macam masakan sudah tersedia di meja makan.


"Hmmm...harum sekali Lae'er..." seru Lauyan gembira.


"Kalian sudah selesai....?" tanya Alea.


"Mana bisa kami konsentrasi dalam berkultivasi jika membaui masakanmu Lea'er..." seru White yang sudah duduk di kursi meja makan. tak lama Eagle dan Xiao Bai datang dan bergabung di meja makan .


"Kami rindu masakanmu Lea'er .." ucap Eagle.


"Maafkan Aku gege...lain kali aku akan menyempatkan membuat makanan untuk kalian..." ucap Alea merasa bersalah.


"Kami mengerti Lea'er...ayo kita makan... perutku sudah lapar..." seru Lauyan yang sudah mulai mengambil makanan .


"Maaf...aku nggak bisa menemani kalian makan, aku takut mereka sudah menungguku...?" ucap Alea dengan perasaan bersalah.


"Sudah pergi sana...kami sudah bahagia karena kau telah membuatkan kami makanan ini..." ucap Eagle denga. wajah lembutnya.


"Kalau begitu aku keluar dulu, oh ya... tolong kalian bersiaplah, mungkin nanti kita akan bermain- main sebentar..." ucap Alea sambil tersenyum.


"Baik Lea'er..." jawab mereka serempak. Alea segera mengambil kotak makanan yang berisi makanan yang dia buat tadi, yang memang sudah dia persiapkan untuk dia makan bersama pangeran Lingzhi nanti. Ketika dia baru menginjakkan kaki di kamar yang di sediakan untuknya, tiba - tiba terdengar ketukan di pintu kamar.


Tok tok tok


"Lea'er...kau sudah bangun..." terdengar suara pangeran Lingzhi dari luar Kamar.


"Sebentar Pangeran...."seru Alea sambil berjalan kearah pintu kamar.


Saat pintu terbuka terlihat pangeran Lingzhi sudah berdiri dengan wajah segarnya .


"Lea'er...kau sudah rapi...? apakah kau tidak istirahat...?" tanya pangeran Lingzhi heran.


"Tentu saja sudah Pangeran.... "jawab Alea dengan senyuman di bibir merahnya.


" kalau begitu ayo kita makan dulu... sejak tadi kau belum makan apapun .." ajak Pangeran Lingzhi.


"Tunggu pangeran....anda masuk dulu.." ajak Alea .


"Ada apa Lea'er....?" ucap pangeran Lingzhi sambil menatap Alea penuh tanya.


"Masuklah dulu Pangeran..." perintah Alea lembut. perlahan Pangeran Lingzhi masuk kedalam kamar Alea. saat masuk kekamar dia melihat kotak makanan di atas meja kamar. pangeran Lingzhi mengeryitkan dahinya.


"Apa itu sayang....?" tanya pangeran Lingsi penuh tanya.


"Makanan...?" jawab Alea tenang.


"Makanan...? dari mana...?" tanya Pangeran Lingzhi heran.


"Tadi hamba membuatnya pangeran..." jawab Alea tenang.


"Lea'er...jangan berbohong...sejak tadi kau berada di dalam kamarmu, kapan kau keluar membeli makanan...?" tanya pangeran Lingzhi dengan gemas.


"Hamba tidak membeli pangeran, hamba membuat sendiri..kalau anda tidak percaya apakah di kerajaan ini ada yang bisa membuat masakan seperti ini...?." jawab Alea sambil membuka penutup makanan dan mulai menatanya di atas meja. Alea segera menunjukkan beberapa masakan jaman modern yang di buatnya tadi.


"Lea'er...kau benar- benar memasak tadi...?" seru Pangeran Lingzhi penuh kekagetan .


"Sudah percaya...?" tanya Alea dengan nada menggoda.


"Iya aku percaya...lalu di mana kau memasaknya tadi...?" tanya Pangeran Lingzhi sambil menatap Alea dengan wajah herannya.


"Rahasia...?" jawab Alea kocak.


"Lea'er...." ucap Pangeran Lingzhi dengan wajah sulit di gambaran .


"Baiklah hamba akan mengatakan pada pangeran, tapi bukan sekarang ..." jawab Alea.


"Baiklah....aku akan menunggunya sampai kau mau menjelaskan padaku..." ucap pangeran Lingzhi dengan wajah penuh kelembutan.


"Pasti Pangeran...tapi bukan sekarang... ya sudah ayo kita makan dulu..." ajak Alea dengan wajah ceriah.


Merekaoun segera menikmati makan buatan Alea hanya berdua saja .

__ADS_1


Bersambung dulu ya...jangan lupa like, vote, dan komennya.


__ADS_2