
Setelah selesai makan bersama di kediaman Perdana mentri , Alea berpamitan pada keluarga perdana mentri,
"Paman, Bibi...aku pulang dulu, lain kali kalau ada waktu Lea akan kemari menjenguk kalian berdua..." ucap Alea sambil tersenyum.
"Nak... kenapa kau masih memanggil paman dan bibi, bukankah kau kini bagian dari keluarga ini...?" ucap perdana mentri sambil mengusap kepala Alea dengan sayang. Sebenarnya mereka sudah lama menginginkan seorang putri yang hadir di rumah mereka. Namun niat itu belum terwujud, karena dewa memberi mereka tiga anak laki- laki, dan sampai sekarang belum ada satupun yang sudah berkeluarga.
"Benar kata pamanmu itu, panggil kami Ayah dan ibu seperti ketiga kakakmu..." sambung nyonya Heng pada Alea.
"Baiklah paman...Lea akan memanggil kalian Ayah ibu...sekarang Alea pamit pulang dulu, dan tolong obat yang Lea reseokan untuk kak Sauki segera di beli, setelah di rebus diminumkan pada kak Sauki saat pagi hari, dan pil nya di minum saat malam sebelum kak Sauki tidur bu.. tolong jangan sampai dia lupa meminumnya..."'ucap Alea mengingatkan .
"Tentu nak..ibu yang akan melihat setiap dia meminum pil dan ramuan itu.." jawab nyonya Heng sambil memeluk Alea.
'Apakah kalian langsung pulang...?" tanya perdana Mentri lagi.
"Tidak Ayah...Lea akan singgah sebentar di kerajaan, Lea ingin berjumpa dengan Raja dan permaisuri, sambil sekalian memeriksa keadaan kesehatan baginda Raja dan permaisuri ....." jawab Alea lagi.
"Baiklah kalau begitu hati- hati di jalan.... Ingat, sering- seringlah berkunjung kemari..." ucap Perdana mentri lembut .
"Baik Ayah...jaga diri Ayah baik- baik, kalau ada apa- apa kabari aku..." kata Alea sambil tersenyum manis .
"Baik ayah akan mengingat ucapanmu..." ucap perdana Mentri sambil mengusap rambut Alea lembut . setelah itu Alea berjalan kearah nyonya Heng.
'Ibu...jaga kesehatan ibu dengan baik, kalau terjadi apapun di sini tolong kabari Lea... Walau Lea hanya anak angkat Ayah dan Ibu, Alea akan Berusaha membantu sebisa Alea..." ucap Alea sambil menatap nyonya Heng dengan tersenyum.
Dan nyonya Heng yang mendengar perkataan Alea merasa ada aliran hangat menjalar dalam hatinya. Dia segera memeluk tubuh Alea.
"Nak...kenapa baru sekarang ibu bertemu denganmu... Ibu merasa telah miliki putri yang ibu harapkan sejak dulu, dan mulai sekarang kalau ada liburan sebentar datanglah kemari, ibu akan sangat senang sekali...."kata nyonya Heng lembut.
"Baiklah ibu...Lea akan berusaha datang sesering mungkin...."jawab Alea .
Setelah itu Alea berpamitan juga pada Sauki.
"Kak jangan lupa minum obatnya dengan teratur. Aku menulis resep itu agar kakak cepat sembuh. dan ingat kalau sudah benar- benar sembuh jangan mendekati gadis itu lagi , Masih banyak gadis baik di dunia ini kak, kalau ingin membalas dendam padanya tunggu aku..." bisik Alea sambil berlalu. Sauki terlihat terkejut walau cuma sebentar ketika mendengar perkataan Alea., namun tak lama terlihat senyuman tipis di bibir pucatnya.
"Putri Lea, walau kau baru saja menjadi keluarga kami, namun kau telah menunjukkan ketulusan dan perhatianmu pada kami, aku juga heran pada diriku sendiri, kenapa aku begitu terbuka kepadamu walau kita baru saja kenal. Sedangkan pada keluargaku sendiri aku tidak seterbuka ini... Apakah aku memang menginginkan seorang adik perempuan..?" ucap Sauki di dalam hati.
Sedang Alea kini mendekati Quiro.
"Kak aku pergi dulu, kapan kakak kembali ke perguruan...?" tanya Alea pada Quiro .
"Mungkin aku baru besok kembali ke perguruan.." jawab Quiro .
"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa di perguruan...." ucap Alea sambil tersenyum.
"Trimakasih atas pertolonganmu pada kak Sauki , hati- hati di jalan..." jawab Quiro sambil tersenyum.
"Jangan mengucapkan terimakasih pada sesama keluarga, kalau kau ucapkan itu kau tidak menganggapku sebagai saudaramu...." kata Alea sambil cemberut.
"He he..benar katamu, maafkan aku.. Kini kau adalah adik perempuanku..." kata Quiro sambil tertawa bahagia.
"Aku pergi kak..." ucap Alea.
Merekapun segera pergi meninggalkan kediaman keluarga perdana mentri bersama Putra Mahkota Lingzhi.
Mereka menjalankan kuda mereka menuju kerajaan Shi.
Ketika mereka sampai di sana Pangeran Lingzhi langsung membawa Hanpey bertemu dengan Raja di istana. Sedangkan Mimi dan Lian Han di bawa Jihao menuju istana sang Pangeran.
Saat itu Raja sedang bersama permaisuri dan beberapa pembesar kerajaan di ruang pertemuan. Mereka sedang membahas soal pangeran Lingzhi yang sudah saatnya memilih seseorang untuk menjadi putri Mahkota. saat kasim memberitahukan kedatangan mereka raja sempat kaget.
"Kebetulan sekali anak ini datang kemari gumam sang Raja .
"Maaf hamba mengganggu baginda..." kata kasim itu perlahan.
"Ada apa kasim Su...?" tanya sang Raja.
"Di luar ada putra mahkota dan tabib Hanpey baginda..." jawab kasim Su dengan penuh hormat .
"Tabib Hanpey....?" tanya Baginda Raja tak percaya.
"Benar Baginda...?" jawab sang kasim.
"Kenapa kau biarkan mereka di luar...? Suru mereka masuk...tumben putra mahkota meminta ijin dulu...?" kata sang Raja lagi.
"Baik hamba laksanakan baginda, kasim mohon diri..." kata kasim Su sambil menghormat dan keluar dari ruangan.
Tak lama terlihat Putra Mahkota dan Hanpey serta Jendral muda Guansi masuk kedalam ruang pertemuan.
"Salam sejahtera bagi Raja dan permaisuri , semoga di berkahi hidup lama..." ucap Alea dan pangeran Lingzhi serta Guansi bersamaan.
"Salam kalian kuterima, duduklah..." jawab sang Raja sambil tersenyum. mereka segera duduk di kursi yang sudah ada. Sedang sang permaisuri tersenyum menatap Alea. ada binar kebahagiaan di wajah permaisuri Shulia
"Ada apa putraku... Ini Tabib Hanpey kapan datang...?" tanya sang raja menatap Alea sambil tersenyum.
"Baru saja hamba datang baginda..." jawab Alea sambil menunduk hormat. Sedang para pejabat yang sedang berada di sana heran, kenapa ada tabib datang kemari... Apakah ada yang sakit..?
__ADS_1
"Kenapa kau baru datang sekarang nak...gimana keadaanmu di perguruan..?"tanya sang raja dengan lembut.
"Maafkan hamba baginda....hamba mendapatkan tugas sebagai calon prajurit khesus dari perguruan ... Keadaan hamba baik- baik saja yang mulia..." jawab Alea dengan lembut.
"Jadi kau kini sebagai calon prajurid khusus...?" tanya sang Raja.
"Tidak Ayahanda...dia sekarang sudah menjadi pengawal pribadi hamba..." sela Pangeran Lingzhi cepat- cepat sebelum Alea menjawab.
"Pangeran....bukan anda yang di tanyai Ayah anda, tapi tabib Hanpey..." tegur permaisuri sambil menatap Pangeran Lingzhi.
"Maaf Ayahanda , maaf Bunda.." ucap sang Pangeran datar. Ayah dan Bundanya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Hanpey...apakah kau kemari ada tujuan lain selain ingin berkunjung ke istana...?" tanya Raja Rong kembali.
"Tidak baginda...hamba hanya ingin berkunjung dan sekalian memeriksa kesehatan baginda..." jawab Alea.
"Kalau begitu kau bisa menungguku di rumah putri Yinhan , setelah ini aku akan memanggilmu..." ucap sang raja kembali,
"Biarkan dia ikut hamba saja Baginda, biar nanti Yinhan yang datang ke kediaman hamba..." ucap permaisuri Shulia.
"Tunggu Bunda... Tabib Hanpey datang bersama hamba, jadi biarkan dia pergi bersama hamba bunda... Kedua kakaknya sekarang juga ada di kediaman hamba Bunda..." kata Pangeran Lingzhi menyela tak terima.
"Biar dia bersama bundamu dulu... Sekarang ini mumpung kau disini ada yang ingin kami bicarakan denganmu..." kata Sang Raja sambil melihat putra kesayangannya itu dengan lembut.
"Dengan hamba...? " tanya sang pangeran sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya denganmu..." jawab sang Raja.
"Soal apa Ayah... Kalau masalah perbatasan bukankah sudah hamba selesaikan ...." kata pangeran Lingzhi kembali.
"Kita bahas saja nanti, sekarang biarkan Hanpey dan Bundamu masuk dulu..." kata Baginda lagi.
Pangeran Lingzhi pun terdiam menuruti perintah sang Ayah, walaupun di dalam hatinya dia tak rela Alea pergi bersama bundanya.
" Hamba mohon Diri Baginda...." ucap permaisuri lembut.
"Hamba juga Baginda..." ucap Alea.
Mereka segera berjalan keluar ruang pertemuan setelah berpamitan pada sang Raja .
Alea dan permaisuri serta para dayang pergi ke istana milik permaisuri.
Permaisuri menyuruh Salah satu pelayan untuk memanggil putri Yinhan agar datang ketempatnya. Setelah itu mereka menuju istana milik sang permaisuri.
Sedang pangeran Lingzhi dan Jendral Guansi masih berada di ruang pertemuan .
"Baiklah kita lanjutkan pembicaraan kita sekarang, dan tepat sekali orang yang kalian bicarakan sekarang sudah berada di sini, jadi katakan saja keinginan kalian..." ucap sang Raja sambil menatap sekilas putra mahkota.
Sedangkan sang pangeran mendengar perkataan sang Raja, hatinya menjadi was - was.
" Ada apa ini...kenapa Ayahanda berkata demikian ..." batin Pangeran Lingzhi . apalagi Baginda Raja menatapnya sekilas.
Para Mentri terdiam ketika mendengar perkataan sang Raja ,
Bagaimanapun juga para mentri banyak yang takut pada putra Mahkota yang terkenal dingin dan sangat tegas itu. Walaupun belum menjadi seorang raja namun putra mahkota berani menghukum seorang mentri kalau dia terbukti berbuat salah.
"Ada apa ini....apakah kalian sedang membicarakan tentang diriku..?" tanya pangeran Lingzhi dingin.
Semua orang terdiam, sedang sang baginda tersenyum tipis melihat para mentri nya yang terdiam saat orang yang mereka bicarakan tadi ada di depan mereka.
Mereka tadi mendesak baginda Raja untuk segera melaksanakan pemilihan calon putri mahkota. Karena sebentar lagi Putra mahkota akan segera di Nobatkan sebagai raja. Mereka beralasan kalau nanti dalam penobatan itu belum ada calon pendamping sang raja baru, takutnya akan menjadi pembicaraan publik, namun sebenarnya Raja Rong tahu maksud mereka, mereka ingin putri mereka menjadi calon permaisuri atau selir sang Raja baru .
"Kenapa kalian semua diam setelah orang yang kalian bicarakan ada di depan kalian.." kata sang Raja dengan tegas.
Mereka saling pandang, Tak lama terdengar suara dari mentri keamanan yang memang paling ngotot mengutarakan pendapatnya agar pangeran Lingzhi segera mencari calon putri Mahkota.
"Begini Pangeran Lingzhi, sebelumnya maafkan hamba , bukankah sebentar lagi penobatan anda sebagai seorang Raja akan segera di laksanakan , karena itu kami memohon agar pangeran segera memilih calon pendamping anda atau putri Mahkota, karena jika nanti anda di nobatkan dan anda belum memiliki seorang istri atau calon istri, kami takut kalau nanti akan menjadi bahan gunjingan. karena itu kami harap anda segera memilih calon putri mahkota. ..." kata Mentri keamanan dengan wajah meyakinkan. Pangeran Lingzhi tahu, kalau Mentri yang bernama Coiran ini ingin putrinya menjadi permaisuri ataupun selir. namun jangankan memilih, melihat saja Pangeran Lingzhi ogah, sebab wanita itu terkenal licik. sombong, angkuh dan sangat jahat, walaupun wajahnya cantik. Pangeran juga mendengar kalau dia telah mengklaim dirinya sebagai permaisurinya.
"Jadi kalian ingin aku menentukan pemilihan putri Mahkota...?" tanya Pangeran Lingzhi dingin.
"Benar pangeran..." jawab mereka serempak.
"Baik...aku akan memilih seorang putri Mahkota, tapi harus kalian ingat ini, sampai kapanpun aku pangeran Lingzhi hanya akan memiliki satu istri yaitu putri Mahkota. dan aku tidak akan memiliki seorang selirpun di dalam kehidupanku.." kata pangeran Lingzhi tegas. semua orang terkejut mendengar perkataan sang pangeran.
"Mana mungkin Pangeran...itu menyalahi aturan kerajaan..." ucap Mentri Coiran.
"Peraturan yang mana...?" ucap Pangeran Lingzhi dingin.
"Bukan begitu pangeran...bukankah ini sudah tradisi kerajaan..." jawab Mentri Coiran dengan tenang.
"Karena itu aku ingin merubah tradisi yang sudah ada..." jawab pangeran Lingzhi tenang.
"Tapi pangeran...." ucap Mentri Coiran ngeyel.
"Sudahlah....sekarang begini saja Putra mahkota, Apakah kau sudah memiliki calon putri mahkota...?" tanya sang Ayah.
__ADS_1
"Benar Ayah..." jawabnya tenang.
perkataan Pangeran Lingzhi membuat orang yang berada di ruangan itu kaget selain Raja dan Guansi.
"Bagus...apakah kau bisa membawanya kemari...? aku takut ini hanya kebohongan mu saja untuk menunda pemilihan putri mahkota. ..." ucap Raja Rong Kyu tenang.
"Apakah Ayah menyetujui keinginanku jika aku membawanya kemari...?" tanya Pangeran Lingzhi dengan tersenyum. melihat senyum sang pangeran semua Mentri yang berada di ruangan itu kaget sekaligus kagum, sebab mereka tidak pernah melihat wajah sang putra Mahkota memperlihatkan senyumannya. Dan wajah itu terlihat sangatlah tampan.
"Kalau kau membawanya sekarang aku akan mempertimbangkan permintaanmu itu..." ucap Baginda Raja.
"Baik Ayah, hamba akan membawa gadis itu kemari, tapi hamba mohon Ayahanda menepati Janji Ayah. hamba tidak ingin memiliki banyak istri..." ucap Pangeran Lingzhi dengan senyum Liciknya.
"Baik...Ayah akan ingat itu...." ucap Sang Raja.
"Kalau begitu Hamba mohon diri Ayah.." pamit Pangeran Lingzhi.
"Pergilah... ingat kami menunggumu di sini..." kata sang Raja tegas .
"Baik Ayah...." jawab Pangeran Lungzhi . Dia segera keluar dari ruang pertemuan bersama Guansi. terlihat sang Raja menatap kepergian sang pangeran dengan senyuman di bibirnya.
"Nak...hanya dengan cara ini Ayah bisa membantumu , Ayah tahu pasti ini permintaan gadis itu, seandainya itu Ayah, untuk mendapatkan gadis seperti itu apapun akan ayah lakukan , jadi Ayah harapkan kau bisa mendapatkan gadis itu nak...." batin sang Raja sambil melihat kepergian pangeran Lingzhi dengan senyuman di bibirnya.
"Baginda...apakah anda akan mengabulkan permintaan dari putra mahkota untuk tidak memiliki seorang selir...?" tanya Mentri Coiran dengan wajah kecewa .
"Apa yang harus aku beratkan...ini kehidupan putra mahkota, jika dia tidak menginginkan seorang selir di antara dia dan putri mahkota, itu sudah pilihannya..
Kehidupan dia adalah milik dia sendiri, untuk apa kita harus menekankan keharusan dia untuk memiliki selir.." jawab Raja Bijak.
"Tapi Anda akan memiliki hanya beberapa cucu saja baginda...?" kata Mentri Coiran lagi.
"Ha ha ha...masalah seorang cucu...aku banyak memiliki Putra dan Putri, jika mereka sudah menikah semua tentu saja aku akan memiliki cucu banyak sekali..." ucap sang Raja sambil tertawa.
"Tapi Baginda..." belum selesai perkataan Mentri Coiran , Raja Rong Kyu sudah memotong.
"Aaah..sudahlah Mentri Coiran, kita bahas masalah lain sambil menunggu kedatangan pangeran Lingzhi dan calon pendamping nya. dan sekarang mari kita bahas soal kebanjiran rakyat di desa Nenggo..." ucap Raja Rong Kyu menutup masalah pangeran Lingzhi. terlihat wajah Mentri Coiran yang terlihat sangat kecewa. Mana mungkin dia tidak kecewa, sebab masalah ini di buka karena dia dapat desakan dari putrinya untuk mengajukan persoalan tentang pemilihan putri Mahkota. karena sang putri sudah sangat menginginkan dia jadi calon putri Mahkota. mereka sudah sangat yakin kalau putrinya akan terpilih jadi Putri Mahkota. Selain cantik dia juga pandai dalam bermain pedang. tapi kenyataan berbicara lain, putra Mahkota bukan menolak memilih putri mahkota, dia malah berkata kalau dia hanya menginginkan satu istri dan dia tidak menginginkan adanya seorang selir.
,,Mendengar perkataan sang pangeran dia bahagia, tapi saat pangeran mahkota berkata kalau dia sudah memiliki sendiri calon putri Mahkota , diapun merasa sangat kecewa. dan sekarang dia bingung apa yang akan dia katakan pada sang putri yang telah mengklaim dirinya menjadi putri Mahkota. Dia tidak bisa berbuat apa- apa, Dia hanya bisa berharap kalau perkataan putra Mahkota tentang gadis yang dia sukai itu hanyalah cara putra mahkota menolak perjodohan, sebab semua orang tahu kalau putra Mahkota tidak pernah dekat dengan gadis manapun, dan yang pernah dia dengar kalau putri kerajaan We menginginkan menjadi putri Mahkota, tapi putra mahkota menolak dengan alasan belum siap, Dan seandainya putra mahkota memang sudah memiliki gadis pilihannya, semoga gadis itu tidak berkenan di hati sang Raja. memiliki fikiran seperti itu, Mentri Coiran hatinya sedikit tenang. Diapun segera mengikuti pembicaraan dengan hati tenang.
Sedang di tempat permaisuri terlihat Alea sedang melihat kondisi kesehatan permaisuri.
"Maaf yang Mulia...apakah akhir- akhir ini baginda merasakan Sakit kepala terutama di pagi hari, merasakan gangguan penglihatan, badan terasa lelah, mual dan maaf anda sesekali muntah, serta nyeri dada..." tanya Alea perlahan.
"Benar sekali Nak.. kenapa kau bisa tahu itu.." tanya Permaisuri heran.
"Anda juga merasakan kecemasan yang tiba- tiba..?" tanya Alea lagi.
"Ya ampuun ...itu benar sekali Hanpey... mengapa kau bisa tahu apa yang aku alami,...?" tanya permaisuri heran .
"Karena itu salah satu gejala orang mengalami tekanan darah tinggi yang mulia..." jawab Alea.
"Apa itu tekanan darah tinggi nak...?" tanya permaisuri lagi.
"Tekanan yang di sebabakan oleh tekanan darah yang ada di tubuh kita di atas normal yang mulia, tekan darah itu ada tiga macam yang mulia. tekanan darah renda, tinggi dan normal. tekanan darah tinggi bisa mengakibatkan penyakit jantung seperti yang di alami baginda raja, dan struk , serta gagal ginjal, jadi sebisa mungkin kita jangan terlalu banyak mengkonsumsi daging dan garam yang berlebihan yang mulia...." jawab Alea.
"Lalu apa yang harus aku lakukan nak..?" tanya permaisuri dengan wajah penuh perhatian pada Alea.
"Sementara ini yang Mulia harus mengurangi daging, dan makanan yang mengandung banyak garam yang mulia.." jawab Alea sambil tersenyum manis.
"Sampai kapan...?" tanya permaisuri sedih.
"Sampai tekanan darah yang Mulia menjadi normal... " jawab Alea.
"Gege..tolong salah satu dari kalian untuk mengambilkan air kehidupan dan buah pohon kehidupan satu saja bisa nggak...?" seru Akeh pada keemlat hewan kontraknya yang ada di ruang dimensi.
"Baik Lea'er...aku akan mengambilkan untukmu..." terdengar suara White.
tak berapa lama Alea mengambil buah dan botol giok yang berisi air kehidupan dari lengan bajunya.
"Yang Mulia...coba anda makan buah ini, tapi sebelum itu minum dulu air dalam botol giok ini yang mulia..." kata Alea sambil memberikan botol dan buah kuning keemasan yang mirip buah apel.
" Hanpey buah apa ini...?" tanya heran permaisuri sambil menatap buah indah itu lama- lama.
"Buah untuk obat yang mulia...cobalah anda rasakan ..." kata Hanpey lembut.
Permaisuri Shulia segera menggigit buah itu sedikit setelah meminum air di dalam botol giok sampai habis.
"Hmm...manis dan segar sekali..." seru permaisuri Shulia dengan senang .
"Apa yang manis dan segar Bunda...?" terdengar suara lembut dari pintu ruang tamu permaisuri.
"Kak Yinhan..." seru Alea gembira.
"Hanpey.....kapan kau datang...? kenapa nggak ke istana ku..." seru Yinhan gembira.
"Dia baru tadi datang Yinhan...Bunda langsung membawanya kemari..." ucap permaisuri menjawab pertanyaan Yinhan.
__ADS_1
Udahan dulu ceritanya ya...jangan lupa like, vote, dan konennya author tunggu. trimakasih untuk semua pembaca yang telah sudi membaca karyaku, juga terimakasih like vote dan komen yang kalian semparkan buatku.🙏🙏
Bersambung.