
Malam harinya saat Alea sedang menyiapkan barang untuk keperluan di dalam perjalanan, tiba - tiba pangeran Lingzhi sudah berada di belakangnya .
"Sayang...kau akan pergi ke Benua tengah...?" tanya Pangeran Lingzhi yang kini tiba- tiba sudah berada di belakang Alea dan memeluk pinggangnya. Tentu saja Alea terjejut bukan main,
"Pangeran...!" seru Alea kaget.
'Kenapa aku nggak merasakan kedatangannya, aku yang terlalu fokus apa dia yang sudah tinggi kultivasinya..?' kata Alea dalam hati.
"Sejak kapan pangeran di sini..?" tanya Alea yang merasakan debaran jantungnya semakin cepat saat dia merasakan pelukan erat dari tangan pangeran Lingzhi.
"Baru saja.." jawab Pangeran Lingzhi .
Kini dia menaruh kepalanya di pundak Alea, hingga Alea bisa merasakan hembusan hangat nafas pangeran Lingzhi.
"Pangeran...bisa nggak kalau pelukannya di lepas...?' kata Alea sambil melepas tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Biarkan kita seperti ini dulu sayang... Bukankah kau besok pergi meninggalkan diriku...?" ucap pangeran Lingzhi pelan. Alea mendengar perkataan sang Pangeran akhirnya diam.
"Sayang...kenapa kau nggak ngomong sich kalau mau ke Kerajaan Amora..?" ucap pangeran Lingzhi dengan tangan masich memeluk erat pinggang Alea.
"Maaf..habis waktunya mendesak Pangeran...besok pagi kami harus berangkat pagi, maunya Alea besok pagi akan menemui pangeran bersama Binatang kontrak Alea , untuk berpamitan , tapi karena pangeran sudah datang ya nggak jadi.." kata Alea sambil tersenyum.
"Beneran kau akan berpamitan denganku...?" tanya pangeran Lingzhi tak percaya
"Hmm..." angguk Alea .
"Trimakasih sayang ..kau mau perduli padaku.."ucap pangeran Lingzhi bahagia .
''Apa hamba nggak boleh perduli pada pangaran...?" tanya Alea sambil cemberat.
"Boleh...sangat boleh, aku malah Senang kau memperhatikan diriku, itu bertanda kau akan mencintaiku.." ucap Pangeran Lingzhi bahagia. Alea hanya bisa terdiam mendengar perkataan pangeran Lingzhi. Perlahan pangeran Lingzhi melepas pelukannya , dan dia membalikkan badan Alea menghadap ketubuhnya. Dia mengangkat dagu Alea agar bisa menatap Wajahnya.
"Sayang...dengarkan aku, aku besok tidak bisa mengantar kepergianmu, jadi hati- hati di jalan .. Dan ingat jangan terlalu dekat dengan pria lain , karena aku akan sangat cemburu..." kata pangeran Lingzhi lembut.
"Baik yang Mulia..." jawan Alea sambil tersenyum. Dia tak ingin banyak membantah pada pria pencemburu ini.
"Ya sudah aku pulang dulu, nanti kalau tugasku sudah selesai, aku akan datang kesana...?" kata pangeran Lingzhi lembut,
"Apa pangeran tidak ikut dalam partisipasi pertarungan itu...?" tanya Alea lagi.
'Mungkin tidak, tapi kita lihat saja nanti.." jawab pangeran Lingzhi.
"Sayang...aku tak ingin pergi tapi ada tugas yang harus aku kerjakan , ingat jaga diri baik- baik jangan sampai terjadi lagi seperti apa yang terjadi di desa dulu, aku pergi dulu hati- hati di jalan...." Pangeran Lingzhi segera pergi dari kamar Alea setelah mencium kening Alea dengan penuh sayang. Alea hanya bisa membeku seketika. Setelah tersadar Alea mengumpat.
"Dasar nich jantung nggak dapat di ajak kompromi , kenapa sekarang selalu berdebar gini sich, setiap di dekat Pangeran Lingzhi atau mendapat perlakuan yang aneh darinya.. " gerutu Alea sambil menekan dadanya .
"Ada apa Lea'er...?" tanya Mimi yang tiba- tiba berada di belakangnya. tentu saja Alea kaget.
"Kakak...kau mengejutkanku...!" seru Alea kesal.
"Ha ha ha...kamu ini kenapa..? di mana kewaspadaanmu Lea'er..?" tanya Mimi sambil tertawa.
"Kakak saja yang usil, kenapa tiba- tiba berada di belakangku..." kata Alea menutupi rasa malunya.
"He he he.." terdengar tawa Mimi di kamar Alea .
"Ya sudah kak, Aku mau masuk kedalam ruang dimensi, kakak mau ikut...?" tanya Alea.
"Nggak usah Lea'er kakak di sini saja, kakak mau tidur lebih awal.." jawab Mimi.
"Kalau begitu aku pergi dulu..selamat malam kak..." ucap Alea lalu menghilang dari pandangan Mimi. Mimi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berjalan kearah tempat tidurnya.
Dan Keesokan paginya Alea, Mimi dan guru Lao serta ketiga utusan dari kerajaan Amora segera berangkat ke kerajaan mereka yang ada di benua tengah . Mereka menaiki kuda yang sudah di sediakan oleh para utusan kerajaan Amora. Ketika Alea dan Mimi keluar dari perguruan Calang bersama para utusan ,mereka jadi tontonan para penduduk yang ada di desa. Mereka yang penasaran dengan sosok tabib Hanpey segera memadati jalan utama desa.
"Yang mana sich yang namanya tabib Hanpey...?" tanya salah satu penduduk.
"Aku juga belum tahu , tapi lihatlah itu.. Itu ada dua orang anak muda yang bersama mereka, satu perempuan dan yang satunya memakai tudung kepala, pasti salah satu dari mereka adalah tabib Hanpey, jangan - jangan anak muda yang terlihat tampan dan memakai tudung kepala itu...bukankah tabib Hanpey orangnya terkenal tampan sekali...dan pria itu terlihat sangat tampan walau memakai tudung kepala." kata sang teman.
"Tapi dia masih sangat muda..." jawab penduduk lainnya.
"Hey...Bukankah dia pria dan gadis yang kemarin datang ke restoran..!" seru seorang pria di sebelah penduduk tadi, dan ternyata dia si pelayan rumah makan.
"Benarkah...? "Tanya sang teman.
"Iya , benar sekali mereka datang bertiga, pria tampan itu malah menanyakan kenapa banyak orang yang datang ke desa ini,..." kata pelayan itu.
"Ya ampuuun..kau sudah bertemu dengan dia kenapa kau tidak memanggilku...?" seru sang teman merasa keberuntungan lepas dari mereka.
"Mana aku tahu kalau itu dia..." jawab pelayan itu.
"Kita membuang kesempatan bertemu dia ya..." kata sang teman.
"Andai aku tahu kalau dia tabib Hanpey pasti aku meminta tolong padanya untuk menyembuhkan ibuku..." kata pelayan itu pada sang teman,
"Memangnya bibi sakit apa...?" tanya temannya.
"Beberapa hari ini badannya panas, dan sakit sesak nafasnya kambuh, .." jawab pelayan itu.
"Karena itukah kau sering telat..." tanya temannya lagi . Pelayan muda itu hanya menganggukkan kepalanya dengan sedih. namun saat itu Alea melewati tempat dia berada. Dan dengan ketajaman telinga Alea , dia bisa mendengarkan percakapan mereka berdua. Alea segera menghentikan jalan kudanya.
"Hanpey ada apa...?" tanya tabib Lao yang memang berada dekat dengan Alea dan Mimi.
"Sebentar guru, kalian tinggalkan saja aku...?" ucap Alea,
"Aku akan menunggumu Lea'er..." kata Mimi .
"Nggak usah kak..kakak pergi saja dulu bersama guru.." ucap Alea.
__ADS_1
Akhirnya Mimi dan sang guru serta rombingan berjalan kembali, Sedang Alea segera mengambil obat dari cincin ruang nya. Lalu dia turun dari kuda dan berjalan kearah kerumuman penduduk. Perbuatan Alea menjadi tontonan para penduduk yang berada di sana. Dengan cepat dia berjalan kearah pelayan yang tadi berbicara. Dia mendekati pelayan muda itu.
"Berikan ini pada ibumu, minumkan setiap pagi satu butir..." kata Alea sambil mengulurkan botol giok berisi pil penyembuh. Pelayan mudah itu terkejut, begitupun dengan para penduduk di sana, sebelum mereka tersadar dari rasa terkejut mereka, Alea telah kembali dan memacu kudanya meninggalkan tempat itu menyusul rimbongannya. Setelah dia pergi para penduduk segera sadar dan mengerubungi pelayan muda itu.
"Ya ampuuun...kau mendapatkan pil dari tabib Hanpey...!" seru teman pelayan tadi. Dia merasa gembira karena ibu temannya mendapatkan obat dari tabib Hanpey .
"Kau beruntung sekali , Apa yang kau lakukan tadi hingga tabib Hanpey memberimu obat...?" tanya seorang pria yang merasa iri dengan keberuntungan si pelayan itu.
"Aku tidak melakukan apa- apa... Aku hanya mengobrol tentang keadaan ibuku yang sedang sakit dengan dia...mungkin tabib Hanpey mendengar perkataanku.." jawab pria itu sambil menunjuk pada sang teman, dan sang teman segera me ganggukkan kepalanya.
"Andai aku tahu tabib Hanpey sebaik itu, aku mau juga meintakan obat untuk istriku...?" kata pria itu.
"Maaf aku tidak bisa memberikan obat ini pada dirimu , karena ibuku sekarang sedang sakit..." jawab pelayan itu.
"Bolehkah aku membeli barang sebutir saja pil itu darimu...?" tanya pria paruh baya itu.
"Tunggu akan kulihat ada berapa pil di dalam botol ini..." kata pelayan itu sambil membuka botol obat. Saat botol itu terbuka, tercium harum ramuan dari botol giok kecil itu. Ternyata di dalam botil itu ada tiga butir pil penyembuh yang semua orang tahu kalau pil itu sangat efektif menyembuhkan segala penyakit ringan .
"Ada tiga pil...baiklah kau kuberi satu, bawalah pulang, kau tak usah membayarnya." kata si pelayan restoran.
pria itu kaget juga senang menerima oil dari pelayan itu.
"Trimakasih sobat... Apakah kau tidak rugi..?" tanya pria itu lagi .
"He he he...bukankah aku juga mendapatkan cuma- cuma dari tabib Hanpey...kalau kau ingin berterimakasih seharusnya bukan padaku , tapi nanti pada tabib Hanpey kalau kita sudah bertemu dengannya..." jawab si pelayan sambil tertawa.
"Benar juga, tapi aku harus berterimakasih padamu juga, karena kau sudi memberiku satu pil ini, ya sudah aku harus buru- buru pulang, aku pergi dulu sampai jumpa..." kata pria itu,
Dia segera pergi meninggalkan tempat itu. Begitupun dengan pria pelayan tadi, dia segera pulang untuk memberikan obat itu pada sang ibu .
Sedangkan Alea kini telah kembali bersama rombongannya.
"Apa yang kau lakukan tadi Lea'er...?." tanya Mimi ketika melihat kuda Alea dan sang adik sudah berjalan di sebelah kudanya.
"Ada sedikit masalah yang harus aku lakukan kak..." jawab Alea tenang, dan Mimi tahu pasti masalah apa yang di selesaikan sang adik, pasti masalah yang di ucapkan pelayan itu, Mimi juga sempat mendengar pembicaraan mereka. Dan Mimi tahu sifat dari Alea.
Setelah melihat Alea telah berada di dalam rombongan dan mereka sudah berada di luar desa, para utusan kerajaan
Amora segera meminta mereka untuk memacu kuda mereka lebih cepat. terlihat delapan kuda membawa para penumpangnya berpacu cepat menuju kerajaan Amora. perjalanan itu ternyata tidak sebentar , dua minggu perjalanan tanpa henti membawa mereka sampai di desa perbatasan benua tengah dan benua barat, Desa yang terlihat cukup ramai itu penuh dengan pendatang dan para pelancong yang ingin menuju kota benua tengah atau ke arah benua barat.
"Guru...apakah ini desa perbatasan...?" tanya Alea.
"Benar Hanpey ini desa perbatasan yang merupakan perbatasan benua barat dan benua tengah, lihatlah banyak sekali para pelancong yang datang di sini..?" jawab guru Lao sambil menatap para penduduk dan pelancong di sekitar mereka. Di sebut sebuah desa namu tempat dan keadaannya sangat ramai dan indah, keindahan dan keramaiannya hampir sama dengan sebuah kota kerajaan.
Keasyikan Alea menikmati keindahan kota teralihkan oleh suara tuan Borong yang mengajak mereka singga makan dulu di sebuah rumah makan sederhana namun banyak pengunjungnya.
"Ayo kita makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan kita..." kata tuan Borong pada Alea Mimi dan tabib Lao.
merekapun mengikuti para utusan itu tampa banyak bicara . Setelah mendapatkan tempat duduk dan meja untuk mereka semua , seorang pelayan paruh baya datang menghampiri mereka.
"Selamat siang tuan- tuan ., tuan mau pesan apa..?" sapa pelayan itu dengan ramah .
"Baik tuan, tunggu sebentar kami akan segera menyiapkan pesanan kalian..." jawab pria itu lalu meninggalkan mereka. Memang mereka terdiri dari delapan orang , tiga orang utusan kerajaan bersama dua pelayan atau murid, serta Aalea, Mimi dan guru Lao. Mereka menunggu menunggu makanan sambil berbincang, beberapa saat kemudian para pelayan sudah datang menghidangkan makanan pesanan mereka. merekapun segera makan bersama.
Saat mereka sedang asyik menikmati makan siang mereka, tiba- tiba dua orang gadis dan dua orang pria datang masuk kedalam ruangan. dan di belakang mereka ternyata masih ada beberapa orang lagi yang datang bersama mereka.
Melihat kedatangan mereka , pelayan rua tadi buru- buru mendatangi mereka.
"Maaf tuan dan Nona... rumah makan kami telah penuh pengunjung, sepertinya tidak ada lagi tempat bagi kalian.." kata pelayan itu dengan ramah.
"Aku tak perduli..kau harus mencarikan tempat buat kami.." kata salah satu gadis di antara mereka. Gadis itu memakai baju warna merah muda, wajahnya cantik namun terkesan sombong .
"Tapi tempat kami memang benar- benar sudah penuh nona..." kata pelayan tua itu.
Salah satu pria yang berada paling depan memberikan kantong uang pada si pelayan sambil berucap.
"Beri mereka ganti rugi untuk memberi tempat duduk untuk kami..." ucapnya Angkuh. Mendengar perkataan pria itu, semua orang menundukkan kepala seolah sibuk agar mereka tidak di suruh pergi dari meja mereka.
"Itu tidak mungkin tuan..." jawab Pelayan tua itu.
Tentu saja keributan itu membuat semua orang yang sedang makan merasa terganggu , Tak ketinggalan juga kelompok Alea.
"Sekte keluarga Yue..." gumam tuan Mu Yucan pelan, terlihat wajah acuhnya menatap keberadaan mereka. Saat pandangan gadis itu mengarah ketempat Alea, dia melihat gaun yang di pakai Mimi warnanya persis dengan miliknya, dia terlihat sangat marah. gadis itu bernama Jhia Yun , gadis tercantik di Sekte keluarga Yue dan putri dari Master Sekte. namun karena dia merasa dirinya paling cantik dan putri orang yang di segani , membuat dia memiliki sifat sombong dan arogan, dia merasa semua orang berada di bawa kendalinya.
"Pelayan....aku menginginkan meja yang di tempati gadis berbaju merah muda itu..." serunya lantang. Semua orang menatap arah telunjuk gadis Jhia Yun . Mereka melihat seorang gadis cantik sedang makan bersama beberapa pria paruh baya . Saat kalimat gadis itu jatuh, orang- orang yang ada di sana merasa legah, karena tempat duduk mereka sudah lepas dari incaran kelompok gadis itu.
Mereka merasa kasihan pada kelompok gadis yang berbaju merah muda ( Mimi)
"Mana mungkin Nona...mereka baru saja menikmati makanan mereka..." kata si pelayan ketakutan.
"Aku tak perduli suru mereka pergi atau kami yang mengusir mereka..." jawab gadis itu lagi. Dia dan ketiga temannya berjalan mendekati kelompok Alea, sedang yang lainya menunggu di luar.
"Nona..saya mohon jangan membuat keributan di rumah makan kami Nona...!" seru pria tua itu ketakutan. mungkin karena mendengar keributan di dalam rumah makan itu, seorang pria paruh baya yang terlihat bersih mendatangi pelayan tua itu.
"Ada apa ini pak Gu...?" tanya dia dengan wajah heran.
"Begini tuan..wanita cantik ini menginginkan tempat tuan- tuan ini, mereka baru saja makan tuan..." kata si pelayan dengan panik. Mendengar perkataan pelayannya , pria paruh baya yang ternyata sang pimilik rumah makan menjadi kaget , dia segera mendekati kelompok gadis itu.
"Nona tolong jangan membuat keributan di rumah makan kami, karena tempat ini merupakan satu - satunya tempat untuk mencari nafkah baginkami..." kata pria itu dengan wajah ketakutan.
"Aku tak perduli... kau suruh mereka pergi atau aku yang akan mengusir mereka.." jawabnya dengan sombong .
mendengar perkataan gadis itu, si pemilik rumah makan serba salah. melihat keadaan seperti itu. Alea segera membalikkan badannya menatap mereka semua. memang sejak tadi Alea memunggungi mereka , karena dia sedang menikmati makanannya. Ketika melihat wajah Alea semua orang terkesima, wajah tampan rupawan terlihat begitu memukau orang. Mereka tidak menyadari wajah Alea, karena ketika mereka masuk , wajah Alea tertutup oleh tudung kepala, dan sekarang wajah itu sudah terlihat sepenuhnya.
"Kalian berisik sekali ya..Nona ,apakah kau tidak mendengar kalau meja ini sudah kami tempati sebelum kalian datang..." kata Alea dingin. Jhia Yun masih tercengang dan terpesona dengan wajah Alea.
Namun setelah dia tersadar dari pesona Alea, gadis itu kembali menunjukan sifat sombongnya.
__ADS_1
"Aku tak perduli, karena aku membutuhkan meja itu untuk kami. .." jawabnya angkuh.
"Apakah kau tidak mendengar penjelasan pelayan dan pemilik rumah makan ini , kalau kami masih baru menikmati makanan yang kami pesan..?" kata Alea datar.
"Jangan banyak omong, pergilah atau kami yang akan memaksamu pergi dari sini...." teriaknya marah.
"He he he...ternyata seperti ini sifat para murid Sekte keluarga Yue..."kata Alea menghina.
"Brengsek...berani benar kau menghina kami , kami harus memberi pelajaran padamu.." teriak gadis itu marah.
"Tunggu..! kita keluar..." seru Alea saat gadis itu akan menyerangnya. Alea segera berdiri dan berjalan keluar dengan cepat, dan mereka pun segera mengikuti Alea keluar ruangan.
"Kenapa hanya kau yang keluar..." tanya gadis itu dengan wajah sombongnya.
"Kalau hanya menghadapi kalian berempat, aku saja sudah cukup..." jawab Alea. Karena Alea tahu kalau kultivasi mereka berempat masih ada di rana Kaisar level dua dan tiga. di level ketiga pun hanya satu orang yaitu pria yang sejak tadi hanya diam saja.
Melihat kejadian itu, banyak penduduk yang datang berbondong - bondong ingin melihat pertandingan itu .
"Sombong...kak biarkan aku yang memberi pelajaran padanya.." jawab gadis itu dengan nada congkak.
"Berhati- hatilah..." kata pria di sebelah gadis itu, gadis itupun segera maju kedepan. namun tiba- tiba Mimi sudah berdiri di depan Alea.
"Kau mengatakan kalau saudaraku sombong, apakah kau tak berkaca kalau kau lebih sombong dari saudaraku...?" kata Mimi tajam. Alea melihat tingkah sang kakak tertawa.
"Dasar kak Mimi, dia mengatai aku sombong..." kata Alea dalam hati.
"Kaauuu....!" serunya marah.
"Kenapa kau marah...? ayolah...akui saja sifatmu itu, Baiklah kalau kau ingin berkelahi, akulah lawanmu sekarang , kau belum pantas melawan saudaraku .." kata Mimi dengan wajah sinisnya.
"Dasar gadis brengsek, kau ingin cepat mati ya..? baik , akan aku kabulkan permintaanmu , sekarang trimalah kematianmu...!" seru gadis itu sambil menyerang Mimi . dan akhirnya terjadialah pertarungan. Mimi melawan Jhia Yun . Karena memang rana kultivasi Mimi lebih tinggi dari gadis Jhia Yun , akhirnya hanya dengan waktu sebentar saja Mimi telah mampu mengalahkan gadis itu.
Melihat saudaranya jatuh dan mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya. Beberapa orang maju kedepan
"Ternyata kalian berisi juga, baiklah kami tak segan- segan lagi memberi pelajaran pada kalian, sekarang suru tetua kalian untuk berhadapan dengan kami..." kata pria yang terlihat lebih tua di antara mereka dengan nada marah . namun sebelum Alea menjawab tiba- tiba beberapa orang pria berpakaian hitam dengan lambang burung Elang elang di dada , terlihat datang menghampiri Alea dan Mimi.
"Tuan Putri...maaf kami datang terlambat..." kata pria yang terlihat lebih tua dan berwibawa , Dia menunduk memberi hormat di ikuti hampir lima belas orang yang datang bersama pria itu.
"Sekte Tiangzan..." seru mereka semua dengan wajah terkejut . kecuali Mimi dan Alea yang tidak tahu siapa mereka, dan malah bingung dengan kelakuan mereka.
"Tuan putri...? kalian salah mengenali orang..." kata Alea dengan wajah bingung.
"Tidak Putri...dengan benda yang ada di leher dan tangan sang putri, kami sudah mengenali tuan Putri kami , jadi ijinkan hamba Huang zi dan anak buah hamba menghadapi mereka..."Kata pria itu dengan wajah menunduk .
"Baiklah kalau itu keinginan kalian, Aku juga malas menghadapi mereka, jadi sekarang kau temani mereka bermain.." kata Alea ringan.
"Hamba putri..." kata si kepala pasukan dari Sekte Tiangzan
"Tunggu, tunggu...apa maksud anda dengan ini semua...? apakah anda akan melawan kami dan memutuskan persahabatan perguruan kita demi mereka berdua...?" tanya Pemimpin gadis yang menyerang Alea tadi.
"Kami terpaksa melawan kalian, dan memutuskan persahabatan kita kalau kalian tetap meneruskan menyerang junjungan kami..." kata Huang zi dengan tegas.
"Apaaa..Junjungan kalian...? apa maksud kalian...?" tanya si pemimpin lagi.
"Aku jelaskan pun kalian tak akan mengerti, yang harus kalian tahu adalah pria yang sekarang berada di depan kalian ini, dia adalah yang mulia kunjungan kami, jadi jika kalian masih ingin meneruskan persahabatan dengan perguruan kami, maka kalian harus meminta maaf pada dia..." kata Zhuang Zi dengan jelas.
Mereka saling berpandangan, ada rona wajah kebingungan di wajah mereka, akhirnya orang yang lebih tua dari mereka tadi maju kedepan .
Dia menyatukan tangan kanan yang terkepal dengan telapak tangan di depan dada sambil berucap.
"Maafkan kelancaran kami yang telah mengganggu tuan muda..." ucapnya dengan nada sopan.
"Baiklah aku memaafkan kalian, aku juga meminta maaf pada kalian karena ucapanku tadi yang menyakiti hati kalian..." Kata Alea ramah.
"Trimakasih tuan mudah, kalau begitu kami undur diri.." ucapnya dengan nada sopan . Akhirnya mereka meninggalkan Alea dan Mimi serta utusan dari Sekte Tiangzan. Setelah mereka semua oergi dan taj terlihat lagi ,Alea kembali menatap Zhuang Zi.
"Putri...kami tahu anda sekarang sedang dalam keadaan sibuk, jadi kami tidak akan mengganggu putri lebih lama, kami hanya ingin memberikan ini pada putri.
kalau ada waktu, tolong putri mau datang ke Sekte kami , karena tetua agung kami telah menunggu lama kedatangan tuan putri..." kata Zhuang Zi. lagi. Dia memberikan lencana giok yang bertuluskan Tiangzi pada Alea .
"Ini Sekte kalian....?" tanya Alea.
"Benar putri... Sekte Tiangzi akan menunggu kedatangan anda...." kata Zhuang Zi dengan hormat.
"Baiklah kalau urusanku telah selesai aku akan datang kesana..." janji Alea.
"Trimakasih Putri...kami akan memberitahu tetua Agung atas kabar ini...kalau begitu hamba mohon diri Putri .." kata Zhuang Zi kembali.
"Pergilah, sampaikan salam dan ucapan Terimakasih ku untuk tetua Agung, ..." kata Alea dengan wajah bersahabat.
"Baik yang mulia..." jawab Zhuang Zi ,
Lalu dia pergi bersama pengikutnya.
Setelah rombongan Zhuang Zi tidak terlihat lagi, Alea dan Mimi masuk kembali kedalam rumah makan. Saat mereka masuk , Alea mendapatkan ucapan terimakasih dari pemilik rumah makan yang terselamatkan dari bencana kehancuran .
"Tuan Muda...Terimakasih atas Pertolongan anda pada kami..." ucap pemilik rumah makan dengan bahagia.
"Sama- sama tuan..kami juga meminta maaf karena telah membuat keributan di rumah makan anda..." jawan Alea.
"Itu bukan kesalahan anda tuan.. merekalah yang telah mulai lebih dahulu, ..." kata sang pemilik rumah makan.
"Ya sudah kalau begitu kami harus kembali ke meja kami lagi.." kata Alea jenaka.
"Silahkan tuan...." kata pria itu. Akhirnya Alea dan Mimi kembali menghampiri tempat rombongan mereka . saat Alea kembali kemejanya, dia mendapat tatapan dari ketiga master serta sang guru . mendapatkan tatapan seperti itu, Alea jadi salah tingkah.
"Guru...kenapa kalian menatapku sepertu itu...?" tanya Alea tak mengerti. Terlihat raut wajah ketiga Master dan Guru Lao menatapnya dengan pandangan rumit.
__ADS_1
Maaf sampai di sini dulu ceritanya, kalau ada banyak tipo atau salah ketikan mohon maafkan author ya...jangan lupa Like, vote dan komennya selalu. author tunggu.
Bersambung