PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
JEBAKAN QUIRAN.


__ADS_3

Dua hari kemudian baru rombongan itu sampai di tempat bencana banjir. Ketika sampai di sana, Rombongan di sambut oleh beberapa orang yang mungkin sudah mendengar kabar kedatangan bala bantuan. Setelah itu mereka di bawa ketempat kepala desa . mereka di tampung di balai desa dan rumah kepala desa yang selamat dari banjir. Setelah selesa membantu menurunkan bahan - bahan yang telah mereka bawa, Alea bisa melihat pemandangan yang membuat hati nurani sedih. Banyak rumah- rumah yang hancur tersapu air bah. Tanaman pangan yang rusak dan hancur di terjang banjir. Para penduduk yang kehilangan rumah di tampung di balai desa bersama dengan mereka . hanya di bedakan ruang dan tendanya ,Setelah puas melihat keadaan desa, Alea segera mendatangi penduduk yang terkena penyakit, mereka di tampung di sebuah bangunan kosong.


Dengan cekatan Alea membantu mengobati mereka bersama para tabib. Melihat Alea yang cekatan dalam menangani para penduduk, para tabib yang tadinya terlihat agak enggan kini mempunyai semangat membantu para penderita.


Saat Alea selesai memeriksa seorang pasien pria tua karena terserang penyakit kulit, tiba- tiba seorang anak laki- laki kecil datang dengan menangis.


"Kak...tolong ibuku...." isaknya.


"Kenapa dengan ibumu dik...?" tanya Alea sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak laki - laki itu.


"Ibuku sedang sakit...dia sulit bernafas..." jawab anak itu sambil menatap Alea dengan wajah takut dan cemas.


"Di mana ibumu...?" tanya Alea dengan lembut.


"Di rumah kak....?" jawab anak itu. Melihat itu Alea segera berdiri dan menuntunnya.


"Ayo kita kerumahmu dan menolong ibumu..." jawab Alea. Mereka segera berjalan keluar dari ruangan tempat para penduduk yang sakit. Mereka berjalan menuju rumah kediaman anak laki- laki itu. Ternyata rumah anak itu Cukup jauh dari rumah penampungan.


Sekitar seratus meter dari rumah penampungan terlihat sebuah rumah kecil berdiri dengan kokoh.


Anak itu membawa Alea memasuki halaman rumah.


"Ini rumahmu dik...?" tanya Alea lembut.


"Iya kak..." jawabnya . mereka masuk kedalam rumah yang terlihat bersih walaupun sangat sederhana.


"Di mana ibumu...?" tanya Alea. Pria kecil itu hanya memandang Alea Dan membawa dia masuk kedalam kamar yang terlihat bersih walaupun agak sempat. Saat mereka masuk kedalam kamar itu, Alea melihat seorang ibu setengah baya yang sedang tidur dengan kesulitan bernafas. Melihat itu Alea buru- biru mendekatinya.


Alea segera mendekati wanita yang berbaring di ranjang tua itu. Dengan cepat Alea melihat nadi wanita itu.


Alea merasakan detak jantung wanita ini tidak teratur, Kulit pucat, dan demam .


Setelah itu Alea melihat betis sang pasien, dia melihat pembengkakan pada betis wanita itu.


Dia melihat pasien sangat kesulitan untuk bernafas.


"Dik...apa ibumu mengalami batuk ...?" tanya Alea pada anak itu.


"Iya kak...." jawabnya dengan nada sedih.


'Benar ...ternyata benar dugaanku dia mempunyai penyakit emboli paru ..." ucap Alea dalam hati.


"Kalau begitu tunggu kakak di sini..


Jaga ibumu dengan baik, kakak akan mengambil obat untuk ibumu..." ucap Alea sambil mengusap kepala anak kecil itu.


"Baik kak..." jawabnya.


Alea segera keluar dari kamar itu. Setelah lepas dari penglihatan anak kecil itu, Alea segera masuk kedalam ruang dimensi dan pergi ke ruang kecil dekat istana yang baru muncul saat Alea mendapatkan gelang giok itu.


Saat masuk keruang dimensi dia bertemu dengan keempat mahluk kontraknya yang sedang bermeditasi. Merasakan. kehadiran Alea mereka bangun dari kultivasi mereka.


"Mau kemana Lea'er...?" tanya Eagle.


"Keruang perawatan Gege...?" jawab Alea sambil berjalan . Eagle dan Lauyan mengikuti dari belakang . sedang White tetap berada di bawah pohon kehidupan bersama Xiao Bai.


"Kau mau mengambil peralatan doktermu...?" tanya Eagle.


"Iya...ada pasien yang harus di bantu ..." jawab Alea.


Setelah sampai di dalam ruang perawatan , Alea segera menghampiri almari obat yang berisi obat- obatan modern. Dia segera mengambil tiga biji obat antikoagolan dan beberapa biji obat heparin. Serta mengambil Nabulizer untuk membantu pernafasan sang pasien.


Setelah itu dia buru- buru keluar dari dalam ruang pengobatan.


"Apakah kau perlu bantuan kami...?" tanya Eagle.


"Tidak perlu kak..nanti kalau aku membutuhkan kalian , kalian akan aku panggil. ..." jawab Alea.


"Lea'er aku ikut keluar...." seru White sambil berjalan mendekati Alea.


"Baik...ayo..." Alea segera mengusap bandul kalung gioknya. ketika kembali keruang kamar sang pasien, dia melihat pria kecil itu menatap sang ibu sambil menangis.


"Sayang...jangan menangis, sebentar lagi ibumu akan sembuh..." hibur Alea.


"Benar kak...?" tanya anak itu sambil menangis.


"Iya...sekarang pergilah dulu...biarkan kakak akan menyembuhkan ibumu....?" kata Alea lagi. Anak itu segera keluar dari kamar. Alea segera memberi pertolongan pada wanita itu dengan memberikan alat bantu nafas ( Nabulizer) serta memberikan obat antikoagulan pada wanita itu. Tak berapa lama terlihat nafas wanita itu mulai agak teratur. Setelah melihat wanita itu nafasnya teratur kembali, mungkin karena pernafasannya telah pulih sediakala, atau pengaruh dari obat, wanita itu tertidur. Alea segera melepas Nabulizer dari hidungnya. dia kembali menyimpan Alat Nabulizer kedalam cincin ruangnya. Dan memanggil sang anak kembali kedalam kamar sang ibu.


"Nach sekarang ibumu sudah sembuh, kau bisa menunggu dia bangun dari tidurnya...kau tadi sudah makan...?" tanya Alea lembut. Kepala kecil itu menggeleng.


"Apaa...kau belum makan...?" tanya Alea kaget. Pria kecil itu menganggukkan kepalanya.


"Kenapa..? Apa ibumu tidak memasak..?" tanya Alea.


Anak itu kembali menganggukkan kepalanya.


"Sejak kapan ibumu sakit...?" tanya Alea.


"Sejak kemaren kak...sebenarnya ibu sudah sakit semenjak tiga hari yang lalu, tapi baru kemarin ibu tidak bisa bangun..." jawabnya dengan wajah sedih.


"Lalu ayahmu di mana...?" tanya Alea heran, sebab sejak tadi dia tidak melihat adanya orang lain di dalam rumah itu.


"Ayah sudah lama pergi kekampung lain kak, katanya mencari pekerjaan..." jawab anak itu polos .


"Ya ampuun kasihan banget...Gege...


tolong kau ambilkan beberapa bahan makanan dari istana...?" seru Alea pada mahluk kontraknya. Tak berapa lama terlihat Lauyan datang menemui Alea dengan membawa beberapa bahan makanan. Alea segera sibuk di dapur milik keluarga itu . Dia membuat makana untuk mereka berdua. Setelah cukup lama memasak, Alea telah membuatkan makanan untuk wanita dan anak kecil itu..


"Dik...sekarang kau makanlah, dan nanti setelah ibumu bangun beri dia makan dan setelah makan minumkan obat ini satu ya...dan besok pagi kakak akan kembali kemari melihat ibumu...?" ucap Alea lembut.

__ADS_1


"Baik kak...trimakasih..." jawabnya sambil menangis


"Sama- sama...nach sekarang kakak pulang, jangan lupa makan..." tekan Alea sambil mengusap kepala kecil itu.


"Baik kak..." jawabnya. Alea segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah kecil itu. Dia berjalan sambil melihat keadaan desa yang terlihat mengalami bencana banjir yang cukup parah. Ketika sampai di kemp pengungsian Alea bertemu dengan pangeran Lingzhi yang terlihat berwajah cemas . saat melihat kedatangan Alea, pangeran Lungsi segera berlari dan memeluk Alea , tentu saja perbuatan Pangeran Lingzhi membuat Alea kaget dan membeku seketika. Pangeran Lingzhi memeluk Alea dengan sangat posesif.


"Sayang ...dari mana saja ...?" serunya dengan wajah cemas.


"Pangeran....ada apa...?" tanya Akeh bingung.


"Kau dari mana...?" tanya pangeran Lingzhi sambil merenggangkan pelukannya. Dia menatap dan memeriksa keadaan Alea.


"Hamba membantu penduduk yang sedang sakit...memang kenapa yang mulia...?" tanya Alea heran.


"Kau ini...kenapa tidak memberitahukan pada seseorang...kau tahu aku sangat mencemaskan keadaanmu...?" jawab sang pangeran sambil kembali memeluk tibuh Alea. Alea pun sadar kalau dia tadi pergi tanpa seorangpun yang tahu kepergiannya .


"Maaf....haba lupa itu..." jawab Alea menyadari kesalahanku.


"Jangan kau ulangi lagi...kau tahu, kau telah membuatku hampir mati ketakutan karena ulahmu ini..." ucap sang pangeran dengan menatap Alea penuh kelembutan.Melihat itu Alea kembali merasakan rasa hangat dan debar jantungnya kembali berdebar tidak normal.


"Iya, iya...maafkan hamba pangeran... tapi tolong lepaskan dulu pelukan pangeran...kita masih berada di halaman , pangeran..." ucap Alea mengingatkan.


"Kau ini....baik, ingat jangan kau ulangi lagi...." kata pangeran Lingzhi sambil melepas pelukannya.


"Iya hamba janji..." jawab Alea. dan tanpa Alea ketahui, saat Alea tadi menghilang, pangeran Lingzhi telah mengamuk mencari keberadaan dia. setiap prajurit dan para tabib tak terkecuali Guansi dan Jihao, mereka menerima kemarahannya.


Saat seorang prajurit melihat kedatangan Alea, dia segera berlari mencari sang pangeran yang sedang memarahi tabib dan prajurit di tenda.


"maaf yang mulia....tabib Hanpey sudah datang..." lapor prajurit tadi.


"Apa..dia datang...?di mana dia sekarang...?"tanya pangeran Lingzhi lega.


"Di depan yang Mulia .." jawab prajurit itu.


Tanpa berbicara Pangeran Lingzhi segera berlari keluar ruangan. dan benar kata prajurit itu dia melihat Alea berjalan dengan tenang kearah tenda pengungsian. dengan segera dia berlari kearah Alea.


Saat mereka melihat kasih sayang yang di tunjukkan pangeran Lingzhi pada Alea, para prajurit dan tabib yang ada di dalam atau di luar tenda tercengang.


"ya ampuun...ternyata sang Putra mahkota begitu menyayangi tabib Hanpey..." kata mereka pelan .


"Siapa sebenarnya tabib Hanoey itu... terlihat pangeran sangat perduli dan menyayanginya, ..." ucap salah satu tabib perempuan pada seorang relawan wanita yang ikut dalam misi itu dengan nada iri.


"Entahlah...yang aku tahu dia salah satu siswa dari perguruan Calang..." jawab sang teman.


"Hey kalian berdua...jangan sembarangan membicarakan Pangeran dan putri...?" ucap seorang pelayan kerajaan.


"Putri...?" tanya mereka tak mengerti.


"Iya putri...apa kalian tak tahu kalau tabib Hanpey itu seorang wanita..?" ucap pelayan itu kembali.


"Jadi dia itu seorang wanita...?" tanya mereka rak percaya.


"Iya...dan dia adalah calon putri Mahkota.." lanjut pelayan itu menjelaskan, karena di dalam kerajaan cerita tentang tabib Hanpey bukan rahasia lagi. Mereka sudah tahu siapa tabib Hanpey dan banyak dari mereka mengidolahkan dan menyukai tabib Hanpey.


"Benar...dan sebentar lagi sang putri akan di sahkan sebagai putri mahkota.." jawab pelayan itu dengan wajah gembira.


"Tapi kenapa kau yang bahagia...? bukankah dia bukan siapa- siapa kamu dan dia hanyalah seorang tabib..." kata tabib perempuan itu dengan nada sinis.


"Waaah kau belum tahu ya...dia itu putra Jendral besar dari kerajaan Long...dia juga putri angkat dari perdana Mentri Heng . dan dia merupakan kesayangan Raja dan permaisuri , semua orang yang ada di dalam istana tahu semua. dia juga sangat di sayangi keluarga kerajaan.." jawab pelayan itu kembali.


"Sehebat apa sich dia hingga menjadi idola ...?" tanya tabib perempuan itu dengan nada dengki dan iri.


"Kau bukan tabib dari perguruan Calang


ya...?" kata pelayan itu dengan wajah jelek ketika mendengar perkataan tabib perempuan itu.


"Apa hubungannya di mana aku belajar.." kata tabib itu dengan nada kesal.


"Kalau kau dari perguruan Calang , kau akan tahu siapa tabib Hanpey itu..." jawab sang pelayan dengan bangga.


"Cih ..nggak penting aku mengenal dia.." jawab tabib itu sinis.


"Terserah...tapi ingat jangan sampai pangeran Lingzhi tahu kalau kau membenci tabib Hanpey, kalau tidak...kau akan merasakan akibatnya..." kata pelayan itu mengingatkan. dia segera pergi meninggalkan dua gadis itu yang tadi telah membicarakan tentang tabib Hanpey kesayangannya.


Saat mendengar perkataan dari pelayan tadi, si tabib perempuan itu merasakan rasa iri dan cemburu pada Alea.


"Ayo kita pergi...jangan sampai perkataan pelayan itu membuat kita celaka.." kata relawan teman wanitanya.


"Aku heran apa sich istimewanya gadis itu...? Jika soal kecantikan aku juga cantik, aku juga seorang tabib, kenapa dia di bedakan..?" katanya dengan nada marah dan kesal.


"Hey..kau sudah dengar tadi kan...dia itu calon putri mahkota, dan itu berarti dia kekasih sang putra mahkota.." jawab sang teman.


"Nasibnya aja yang beruntung...aku juga tak kalah cantik dari dia..." ucapnya sombong.


"Pff...kau itu nggak ngaca ya...? kau membandingkan kecantikanmu dengan putri mahkota...? yang benar saja...uda ah aku mau kembali kerumah pengobatan...lagian aku pergi tak ingin mendapat masalah gara- gara berbincang denganmu" seru sang teman sambil tertawa. Dia segera pergi meninggalkan gadis itu.


Sedang Alea kini sedang berjalan dengan pangeran Lingzhi menuju pinggiran sungai . mereka ingin melihat keadaan sungai yang sering membuat para penduduk mengalami bencana banjir jika terjadi hujan . saat mereka melintasi persawahan mereka sering berjumpa dengan penduduk yang entah mau pergi kemana. tak berapa lama sampai juga mereka di sungai yang terlihat sangat luas . Karena sudah hampir satu minggu ini tidak ada hujan, maka air yang ada di sungai besar itu, terlihat tak terlalu besar aliran airnya.


"Yang Mulia , lebih baik kita mulai pekerjaan memperdalam sungai ini , sebelum hujan besar datang lagi...." ucap Alea.


"Benar apa yang kau katakan Lea'er... kita akan memulai melakukan pekerjaan itu besok , ..." jawab sang pangeran.


"Nanti sore pangeran bisa mulai mengumpulkan mereka di balai desa ..." kata Alea kembali.


"Iya...." jawab pangeran Lingzhi .


mereka tinggal agak lama di pinggiran sungai untuk membahas pekerjaan yang akan mereka lakukan esok hari. Setelah cukup lama di sana , Alea dan pangeran Lingzhi segera kembali ke tempat pengungsian.


Keesokan harinya pekerjaan itu mulai di laksanakan, dan Pangeran Lingzhi sendiri yang melihat dan mengawasi para pekerja. terkadang Alea akan datang bersama sang pangeran kalau pekerjaan mengobati para pasien sudah selesai.

__ADS_1


Dan tak terasa waktu berlalu dengan cepat. tanpa terasa satu bulan lebih mereka berada di daerah bencana. Kini para penduduk sudah mulai terlihat melakukan pekerjaan mereka seperti biasanya , rumah bedeng tempat tinggal sementara buat mereka sudah tersedia. Karena banyak yang mengerjakan dalam penggalian sungai, maka pekerjaan itu cepat terselesaikan, mungkin karena pangeran sendiri yang datang, banyak bantuan pertolongan dari beberapa desa tetangga. mereka membantu dalam penggalian maupun pemasokan bahan makan. Sungai yang dulunya lebar dan dangkal, Kini terlihat lebar dan cukup dalam. tanah dan pasir yang di dapat dari dalam sungai, Alea sarankan untuk mempertinggi sedikit pinggiran sungai. Alea juga tak lupa menanam beberapa pohon di pinggiran sungai .


sedang sawah dan ladang mulai mereka tanami, banyak biji tumbuhan yang di berikan oleh Alea pada para penduduk desa agar dapat mereka tanam di ladang mereka kembali . Melihat perbuatan Alea, membuat sang pangeran semakin jatuh cinta. gadis yang tak segan turun kesawa membantu para penduduk , atau datang ke dapur umum untuk membantu para pelayan atau penduduk desa untuk membuat makanan yang akan di makan para pekerja adalah wanita yang akan jadi istri atau permaisurinya. sejak kecil sampai sekarang dia tidak pernah merasakan perasaan bangga dan sayang serta dekat pada seorang wanita, selain pada sang Bunda , tapi kini dia memiliki perasaan mencintai dan takut kehilangan hanya pada gadis ini .


"Lea'er...ayo naik...kau sudah sejak tadi ikut menanam padi..." kata pangeran Lingzhi pada Alea yang masih berada di lumpur persawahan.


"Sebentar lagi yang Mulia...tanggung..." jawab Alea, Pangeran Lingzhi hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah Alea. begitu juga dengan penduduk yang ada di sana. mereka tersenyum menatap Alea.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, ada sesuatu yang mesti aku kerjakan...setelah ini kau harus pulang, jika tidak aku akan memaksa mu untuk pulang.." ancam pangeran Lingzhi.


"Baik yang mulia...hamba akan segera pulang setelah menyelesaikan ini..." jawab Alea.


"Ya sudah aku pergi dulu..." pamit pangeran Lingzhi.


"Silahkan yang Mulia..." jawab Alea sambil menatap kepergian pangeran Lingzhi. Alea kembali melanjutkan


menanam padi bersama para penduduk.


Tak berapa lama selesai juga pekerjaan mereka, Aleapun segera berpamitan akan pulang. dia takut sang pangeran akan memaksa dia untuk pulang. ketika di dalam perjalanan tiba- tiba mereka mendengar teriakan seseorang meminta tolong. terdengarnya seperti suara seorang gadis. Alea segera mencari asal suara itu. sepertinya suara itu berasal dari hutan yang ada di seberang sungai, Alea segera berlari kearah hutan di seberang sungai itu.


"Lea'er...hati- hati .."seru Lauyan yang Kini sudah keluar dan terbang lebih dulu kearah suara itu. namun sebelum Alea sampai di sana, ternyata Lauyan sudah kembali.


"Tunggu Lea'er...sepertinya mereka ingin menjebakmu...?" kata Lauyan dingin.


"Maksud gege...?" tanya Alea tak mengerti.


"Gadis yang berteriak tadi ternyata mengenal para pria yang ada di sana...?" kata Lauyan kesal.


"Oo..ternyata mereka mencari masalah... baiklah kita akan membuat mereka sadar siapa orang yamg telah mereka provokasi..." ucap Alea tenang.


"Dan gadis yang brsama mereka yang tadi meminta tolong, gadis itu tinggal di tenda para petugas medis...." lanjut Lauyan.


"Baiklah kita kesana..." ucap Alea sambil kembali melangkah kearah mereka.


Saat Alea telah sampai di tempat gadis itu, dia melihat seorang gadis sedang terikat tangan dan kakinya di bawah sebuah pohon rindang..dan di sekitar wanita itu ada lebih dari sepulu pria dengan memakai baju hitam serta memakai penutup kepala sedang berdiri di depan gadis yang terikat itu.


Melihat Alea datang sendiri, terlihat pancaran kebahagiaan di wajah.si gadis .,


"Putri tolong aku putri..." seru wanita itu.


"putri....? kau memanggilku putri...?" tanya Alea heran.


"Siapa wanita ini...rasanya aku tak pernah ada masalah dengannya...tapi kenapa dia ingin menjebakku..?apa aku pernah menyakiti dia...?"batin Alea heran.


Mendengar pertanyaan Alea gadis utu kaget sendiri .


"Ya ampun...aku keceplosan..." seru gadis itu dalam hati .


"Maksudku tabib Hanpey.. tolong aku tabib...?" kata gadis itu mengoreksi ucapannya.


"Kau minta tolong...? bukankah mereka teman - temanmu...?" ucap Alea tenang.


Mendengar perkataan Alea gadis itu tertegun sejenak. tak berapa lama terdengar dia tertawa.


"Ha ha ha...ternyata kau gadis cerdas , kufikir kau gadis yang memanfaatkan wajahmu saja..." ucap gadis itu sambil tertawa. merasa sandiwaranya telah terbongkar , gadis itu segera membuka ikatan tangan dan kakinya di bantu oleh salah satu dari mereka.


"Bos...dialah gadis yang aku inginkan kematiannya...." kata gadis itu pada pria bertubuh kekar dan memiliki cofet di wajahnya hingga membuat wajahnya terlihat menyeramkan.


"Ha ha ha...ternyata kau pandai juga mencarikan aku wanita Quiran...." seru pria berwajah codet itu .


"Siapa kau... apa masalahmu hingga kau menjebakku...?" tanya Alea dingin.


"Aku ingin kematianmu....." jawabnya angkuh.


"Kematianku....? tidak semudah itu nona... kenapa kau ingin membunuhku, sedangkan aku tidak pernah memiliki urusan denganmu...?" tanya Alea.


"Karena kau kekasih Putra Mahkota, dan aku ingin memiliki dia... kau tidak pantas bersamanya.." jawabnya sombong .


" Ya ampuun...penggemar sang pangeran lagi... Nona...apakah kau tidak berfikir, jika kau membunuhku dan pangeran Lingzhi tahu itu , apakah kau masih sempat lari dari kemarahannya...? dan satu lagi... apakah kau sudah melihat wajahmu di cermin...? maaf, ...Putri Lan Wen aja yang cantiknya seperti itu pangeran Ogah, apalagi wajah sepertimu.. tolong sadarlah...." kata Alea menasehati.


"Hey..gadis sialan, kau menghinaku ha..


jangan sombong kau, lalu kau fikir wajahmu cantik...?cih...wajah sepertimu itu di pasaran banyak tahu..." seru gadis itu marah.


"Dasar wanita gila...wajahmu yang cantik itu tidak ada bandingannya Lea'er... berani sekali dia menghinamu... Biarkan aku memukul kepalanya agar dia sadar akan kecantikanmu..." seru Lauyan Marah.


"Benar Lea'er...biarkan kami menghajarnya..." seru White marah.


"Sabar gege....biarkan dia menikmati mimpinya.." jawab Alea .


"Benarkah....lalu kau fikir wajahmu lebih cantik dariku...?" tanya Alea sambil tersenyum.


"Pasti...." jawabnya dengan nada yakin.


"Ppfff...bhua.ha ha ha..." terdengar para pria itu tertawa mendengar perkataan gadis itu.


"Hey kenapa kalian tertawa..." teriak gadis itu marah .


."Quiran...kau itu gadis bodoh atau matamu yang terbalik, kau mengatakan kalau kau lebih cantik dari dia...?" ha ha ha....dasar wanita gila...kalau bukan karena uangmu kita mana mungkin mau melakukan pernintaanmu, untunglah gadis yang kau targetkan cantik bagai dewi..." kata Pria yang di panggil Bos oleh Quiran.


"Kalau begitu cepat kau bunuh dia ..." teriak Quiran marah.


"Baik....Hey gadis cantik daripada kau habis di tangan kami, lebih baik menyerahlah...jadilah istriku, kau akan hidup enak bersamaku..." kata pria kekar itu sambil menatap Alea dengan tatapan mesumnya.


"Ck...Pria tak tahu malu...apa pantas kalian jadi priaku,...? jangankan jadi piraku, jadi pembantukku saja kalian belum pantas...?" kata Alea kasar.


"Brengsek...ternyata mulutmu lebih tajam dari pisau ya...." seru pria itu marah.


"Sudahlah Bos....Bunuh dia...lebih cepat dia mati, itu lebih baik...?" kata gadis yang bernama Quiran itu.

__ADS_1


Maaf kalau banyak tipo nya...jangan lupa Like, vote, dan Komennya author tunggu.


Bersambung.


__ADS_2