
Sesampainya didalam kamarnya Alea segera menutup pintu kamarnya. dengan rapat.
"Ya Dewa...jadi pangeran Lingzhi sudah tahu kalau gue seorang wanita..." ucap Alea perlahan.Dia bersandar di daun pintu kamarnya.
"Lea'er bukankah gege sudah memberitahukan padamu , kalau kami curiga pangeran Lingzhi sebenarnya sudah tahu siapa dirimu...?" kata Lauyan pada Alea.
"He he he...sekarang kau baru mempercayai kami kan...." kata White sambil tertawa.
"Iya, iya gue salah...habis gue nggak nyangka kalau samaran gue bisa dia ketahui..tungu..apakah mungkin saat gue pakai baju dari putri Yinhan kapan hari itu ya...? Tapi saat itu gue nggak ngelihat ada orang sama sekali...? Trus dari mana dia tahu gue ya...?" kata Alea perlahan.
"Mungkin tanpa kau sadari pangeran Lingzhi berada di rumah putri Yinhan Lea'er..." kata Eagle menghibur.
"Uff pusing gue...lalu apa yang harus gue lakukan gege...?"seru Alea sebal.
"Sudah jangan lagi kau fikirkan , bukankah besok kau akan pergi ke hutan Halimun, lebih baik sekarang kau mempersiapkan perlengkapan yang akan kau bawa..." kata Eagle bijak.
"Benar juga kata gege Eagle, untuk apa aku pusing sendiri. Lebih baik aku mandi lalu pergi kekantin setelah itu bermeditasi di ruang dimensi..." kata Alea sambil beranjak pergi menuju kamar mandi. Melihat Alea berjalan kearah kamar mandi, mereka para hewan kontrak Alea segera masuk kedalam ruang dimensinya dan menutup pintu ruang dimensi. Mereka akan melakukan. itu setiap Alea melakukan pekerjaan pribadinya.
Setelah cukup lama berendam Alea segera keluar dan berganti baju . namun setelah mandi Alea merasa lelah dan ingin tidur. Dan akhirnya dia tertidur di pembaringannya dengan nyenyak. Melihat Alea tertidur ketiga Hewan kontraknya hanya bisa tersenyum melihat wajah cantik yang tertidur dengan lelap.
Sedang di tempat pangeran Lingzhi terlihat wajah dingin sang pangeran semakin terlihat dingin menakutkan.
"Jihao...apakah dia belum keluar dari kamarnya.....?" tanya Pangeran Lingzhi dengan nada dingin menakutkan.
"Belum pangeran..." jawab Jihao denga perasaan takut. Bukan hanya Jihao Guansi yang menjadi sahabat dekatnya saja juga merasa agak takut. Mereka bukan hanya takut karena pangeran Lingzhi seorang putra Mahkota, namun pangeran tampan yang terkenal dingin dan kejam pada setiap orang yang bersalah. atau seorang pangeran yang tak pernah mengenal rasa takut menghadapi musuh itu, membuat siapa saja akan merasa merinding jika mereka melihat wajah sang pangeran yang sedang marah. apalagi seperti saat ini wajah dingin itu semakin dingin menakutkan kala dia sedang marah dan kesal.
"Apa yang di lakukan gadis itu sekarang.. apakah dia semarah itu padaku...?" kata pangeran Lingzhi dingin.
"Mungkin tabib Lea sedang beristirahat pangeran...?" kata Guansi lembut.
"Baik..akan kutunggu sebentar lagi, kalau dia masih belum keluar terpaksa aku akan masuk kekamarnya...." ucaonya dingin.
"Tapi pangeran...apakah Hanpey tidak semakin marah padamu..." kata Guansi lagi .
"Terserah dia marah atau tidak, aku akan tetap masuk kesana, dan jika dia berani pergi dariku , aku aka mengikat dirinya di istanah..." kata pangeran Lingzhi dingin.
Akhirnya kedua pengawalnya terdiam , mereka tidak ingin membuat pangeran Lingzhi semakin marah.
Setelah hari semakin malam dan Alea belum juga keluar dari kamarnya , pangeran Lingzhi sudah tidak tahan lagi, dia segera keluar dari kamarnya di ikuti kedua pengawalnya.
"Kalian tunggu di sini aku akan masuk kedalam,..." kata pangeran Lingzhi dingin.
"Tapi pangeran..." kata Jihao mencoba mencegah. Namun Jihao segera terdiam ketakutan saat mendapat tatapan dingin dari pangeran Lingzhi. Tak lama terlihat pangeran Lingzhi sudah menghilang dari pandangan kedua pengawalnya. Pangeran Lingzhi masuk kedalam kamar Alea melalui cendela yang ada di kamar . Sesampainya di dalam dia melihat gadis yang sangat dia cintai tertidur dengan pulasnya . perlahan dia mendekati pembaringan Alea. Di pandangnya wajah cantik milik Alea .
"Dasar gadis menyebalkan....Kau tahu aku resah di kamarku, dan kau ternyata tidur dengan tenangnya..." gumam pangeran Lingzhi sambil tersenyum.
"Jika kau tidur seperti ini, kau amat cantik gadisku..." kata pangeran Lingzhi sambil mengusap lembut pipi Alea.
"Kau gadisku, kau wanitaku , kau milikku, tak akan kubiarkan kau pergi dariku... jangan pernah kau berniat lari dariku, jika itu kau kakukan , di manapun kau berada aku akan mencari keberadaanmu..." kata pangeran Lingzhi lembut. perlahan dia menundukkan kepalanya dan mencium lembut dahi Alea. dan dia kembali mengusap pipi Alea dengan lembut.
"Tak akan pernah kubiarkan siapapun mengambil dirimu dariku..." kata Pangeran Lingzhi pelan.
Mungkin karena merasa usapan di pipinya, Alea terjaga dari tidurnya. Dia menatap sekeliling kamarnya.terlihat kesunyian yang ada di dalam kamarnya.
"Lo..perasaan ada yang mengusap pipi gue...tapi kok nggak ada orang ...? Apa tadi gue mimpi ya..?" gumam Alea pelan. Dia memegang pipinya yang masih merasakan usapan lembut di pipinya.
"Kenapa rasa ini sepwrti nyata ya...? ah...bodo amat.."Dia segera bangun dari tempat tidurnya.
"Ya ampun..ternyata cendela belum gue tutup..." seru Alea. Dia segera berjalan kearah jendela kamarnya. Saat ingin menutup cendela Alea melihat hari sudah larut malam, suasana perguruan sudah sepi, dia berdiri di depan cendela sambil menatap bintang- bintang yang bertaburan di angkasa.
Suasana itu membuat dia kembali teringat keluarganya yang tidak akan lagi dia temui.
"Papa..Mama...semoga Mama dan Papa juga kalian kakak- kakak gue selalu bahagia di sana... " batin Alea dengan wajah sedih. Dia cukup lama menatap bintang di kejauhan. Seolah bayangan dirinya ingin pergi kealam di mana dia pernah tinggali. Setelah menatap bintang di langit cukup lama, Dia segera menutup jendela kamarnya . Tanpa dia sadari sepasang mata dingin menatap wajahnya penuh kekaguman.
__ADS_1
"Gadisku...apa yang ada di dalam benakmu...?Kenapa kau berwajah sedih..?" ucap pangeran Lingzhi perlahan . Dia segera meninggalkan tempatnya dan kembali kekamarnya.
💖💖💖💖
Keesokan paginya Alea sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke hutan Halimun . Agar mereka tidak terlalu curiga Alea memakai cincin ruang yang dia beli dahulu di kota kelahiran putri Lea. Yaitu kerajaan Long. Cincin ruang memang sudah membudidaya di jaman kuno ini. Tapi hanya mereka yang memiliki uang banyak saja yang bisa memilikinya. Setelah selesai berkemas, Alea segera keluar dari kamarnya. Sambil berjalan dia memakan buah pohon kehidupan yang di beri Lauyan. Seperti biasa Alea akan di temani oleh White yang sudah melingkar dengan manis di lengan nya.
Ketika dia keluar dari kamarnya terlihat pangeran Lingzhi sudah berada di depan pintunya.
"Pangeran..." seru Alea kaget.
"Kau akan berangkat....?" tanya Pangeran Lingzhi lembut. semenjak mengenal Alea, Guansi dan Jihao bisa menikmati wajah pangeran Lingzhi yang lembut.
"Benar pangeran..." jawab Alea datar.
"Hati- hati...jaga dirimu, aku tidak bisa mengantarmu karena ini tugas setiap calon prajurit utama, dan aku akan kembali ke Kerajaan karena Ayahanda membutuhkan diriku..." kata pangeran Lingzhi sambil menatap Alea. Sebenarnya ada perasaan tak rela melepaskan Alea pergi sendiri.
"Tak jadi masalah pangeran...hamba bisa menjaga diri hamba dengan baik..." jawab Alea meyakinkan.
"Aku akan menjemputmu di perbatasan hutan Halimun satu minggu lagi. Dan ingat kau adalah pengawal pribadiku dan jangan berfikir kau akan pindah ke asrama prajurit utama sampai kapanpun, ingat itu...." kata pangeran Lingzhi tegas.
"Tapi pangeran..." belum selesai ucapan Alea, pangeran Lingzhi sudah memotongnya.
"Aku tidak mau menerima bantahan .. itu perinrahku...Nach sekarang pergila... Ingat..Jangan terlalu dekat dengan siswa pria.. Kau tahu aku akan cemburu jika melihatnya..." kata pangeran Lingzhi sambil mengusap kepala Alea dengan sayang. Alea tertegun mendengar kata- kata dan sikap pangeran Lingzhi. Sebelum mendapat reaksi protes dari Alea ,pangeran Lingzhi sudah melangkah meninggalkan Alea sambil berkata pada Jihao.
"Jihao kau antar dia ke aula. Kawal dia sampai di perbatasan hutan Halimun, aku akan pulang bersama Guansi dan kau bisa menyusul kami setelah dia berangkat..." kata Pangeran Lingsi dingin. Namun terlihat ada senyuman di bibir merahnya saat dia membalikan badan terhibdar dari tatapan Alea.
"Laksanakan perintah Pangeran..." jawab Jihao dengan hormat.
"Jihao...kau bisa ikut pangeran pergi... aku nggak masalah pergi sendiri ke aula.." kata Alea buru- buru.
"Tidak putri...hamba sudah mendapat perintah dari putra Mahkota, dan itu tidak bisa hamba langgar, atau nyawa hamba taruhannya...." tolak Jihao.
"Apaa...? Kau panggil aku putri...?" tanya Alea kaget.
"Kau ingin membongkar rahasiaku...?" seru Alea kesal dan marah .
"Maaf..." jawab Jihao merasa salah memikirkan ini Jihao merasa bingung .
"Panggil aku seperti biasa, atau kau akan melihat aku marah..." ancam Alea.
Matanya terlihat dingin menakutkan, sejenak Jihao merasa kedinginan saat melihat wajah Alea.
"Baiklah aku akan memanggilmu seperti biasa tapi ijinkan aku mengawalmu sampai di perbatasan...." kata Jihao memohon.
"He he he...apa ini nggak salah Jihao.... Bukankah aku ini calon prajurit kerajaan , untuk apa aku di kawal...?" tanya Alea sambil tertawa.
"Ayolah Hanpey...jangan memperolok diriku, kau tahu apa yang terjadi jika aku membantah perintah Putra Mahkota..." seru Jihao memohon.
"Ck..dasar menyebalkan...tapi fengan satu syarat kau tidak boleh bersama diriku, kau bisa mengawalku darinjauh .." kata Alea lagi.
"Baik, baik...aku akan mengawalmu dari jauh, dan satu lagi ini barang titipan pangeran Lingzhi untuk bekalmu di perjalanan..." kata Jihao sambil memberikan kain bekal pada Alea yang berisi makanan kering dan air.
Alea tertegun menerima barang pemberian Pangeran Lingzhi. dia merasakan kehangatan di dalam hatinya. "Baiklah aku terima pemberiannya dan tolong sampaikan ucapan terimakasihku padanya...ya sudah ayo kita pergi..." ajak Alea sambil melangkah pergi setelah menutup pintu kediamannya. Jihao pun segera mengikuti langkah Alea menuju aula perguruan.
Di kejauhan terlihat pangeran Lingzhi dan Jendral Guansi melihat perdebatan mereka. Saat melihat Alea berjalan bersama Jihao dan mau menerima pemberian , pangeran tersenyum cerah.
"Ayo kita kembali ke Kerajaan..." kata putra Mahkota setelah melihat Alea dan Jihao hilang dari pandangannya.
"Baik pangeran...." jawab Jendral Guansi. Mereka segera pergi menuju kerajaan Shi
Sedang Alea kini sudah sampai di ruang Aula. Ternyata para siswa calon prajurit khusus sudah berada di dalam aula semua. Mereka akan segera berangkat menuju hutan Halimun setelah guru pembimbing datang untuk mengantarkan mereka ke perbatasan .
Sedang Jihao segera meninggalkan Alea setelah Alea bergabung dengan siswa lainnya. Dan ternyata di dalam siswa calon prajurit utama terdapat dua wanita yang lolos juga di dalam ujian seleksi . Saat melihat kedatangan Alea. Salah satu gadis itu menyapa Alea dengan ramah.
__ADS_1
"Kau siswa baru itu kan...?" tanya gadis itu dengan ramah.
"Benar kak..." jawab Alea ramah juga.
"Kau sudah mendapatkan teman dalam perjalanan nanti...?" tanya gadis itu lagi.
"Belum kak..." jawab Alea.
"Kalau begitu kita bisa pergi bersama, sebab aku juga belum mendapatkan teman kelompok...kenalkan aku Xio Mei .. aku berasal dari kerajaan Li..." kata Xio Mei sambil mengulurkan tangannya .
"Baik...kita bisa bersama- sama nanti, kenalkan namaku Hanpey kak...." jawab Alea sambil menerima uluran tangan Xio Mei.mereka saling berjabat tangan. Saat memegang tangan Alea , Xio Mei kaget merasakan tangan Alea yang lembut seperti tangan seorang gadis.
"Ada apa kak..." tanya Alea yang melihat Xio Mei tang tertegun.
"Tidak ada...hanya aku heran, kenapa tanganmu lembut seperti tangan seorang wanita...?" tanya Dio Mei .
Namun sebelum Alea menjawab pertanyaan Xio Mei, terdengar suara lantang memanggil namanya.
"Hey Hanpey...kita ketemu lagi..." sapa seorang pria yang ternyata Han Yunja . teman baru Alea , dan pria ini yang membuat pangeran Lingzhi marah.
"Hay kak...kau juga sudah datang ..?" tanya Alea basa- basi.
"Aku sudah datang dari tadi... Oh ya kenalkan temanku Saojin... dan ini Hanpey siswa baru yang aku katakan kemarin..." kata Yunja pada sang teman.
"Hey Hanpey...kenalkan aku Saojin teman yang memiliki kamar di sebelah kamar Yunja..." kata pria gagah yang berada di sebelah Yunja.
"Hay kak...aku Hanpey .." jawab Hanpey sambil tersenyum ramah.
"kau Siswa baru itu kan..?" tanya Saojin.
"Benar kak..." jawab Alea.
"Waah kau hebat ya...baru masuk kedalam Perguruan kau sudah terpilih jadi prajurit khusus, sedang kami butuh tiga sampai empat tahun baru bisa jadi prajurit khusus. dan aku dengar kau juga menjadi murid khusus guru besar...?" tanya Saojin sambil menatap iri sekaligus kagum pada Alea.
"Benar kak...mungkin saja nasibku kebetulan baik..." jawab Alea.
"tidak, tidak...kami juga melihat pertarunganmu dengan guru besar. dan itu membuatku sangat iri padamu. kau yang masih semudah ini sudah mampu mengimbangi pertempuran melawan guru besar..." kata Saojin lagi.
"Itu karena guru mengalah padaku kak.." kata Alea merendah.
"Ha ha ha...kau pandai berkata...oh ya apakah kalian sudah mendapatkan kelompok...?" tanya Saojin .
"Kami hanya berdua kak...?" jawab Alea.
"Gimana kalau kita bergabung jadi satu kelompok ....?" tanya Yunja memberi ide.
Xiu Mei menatap Alea dengan pandangan bertanya.
"Kalau kak Xiu Mei mau kita satu kelompok, boleh saja..." kata Alea.
Terlihat wajah gembira di mata Xiu Mei.
"Bagus , kalau begitu kita jadi satu kelompok... " seru Yunja senang. tak lama guru pembimbing bersama guru besar pun telah datang. mereka segera berkumpul .
Setelah mendapatkan nasehat dari guru besar, akhirnya mereka mulai di bawa menuju perbatasan gunung Halimun.
setelah sampai di sana , guru pembimbing segera melepas mereka masuk kedalam hutan Halimun. terlihat mereka mulai masuk bersama kelompok mereka masing- masing.
Alea, Xiu Mei, Yunja, dan Saojin segera bersama- sama memasuki hutan Halimun. Melihat Alea sudah pergi bersama ketiga teman barunya , Jihao segera kembali ke kerajaan Shi untuk menemui sang junjungan Putra Mahkota.
serta melaporkan semua tentang Alea. yang sudah berjalan masuk bersama tiga siswa teman barunya.
Udahan dulu ya...author lanjut besok . Jangan lupa like , vote, dan komennya selaku author tunggu.
__ADS_1
Bersambung.