PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
DESA CAHAYA.


__ADS_3

Karena rumah makan penuh dengan para pelanggan, akhirnya Alea memutuskan untuk jalan- jalan di desa Cahaya. Agar penduduk tak bingung mengenali wajahnya , Alea kembali memakai pakaian si tabib Hanpey . melihat perbuatan Alea, Pangeran Lingzhi tersenyum.


"Sayang...kenapa kau memakai baju samaranmu...?" tanya pangeran Lingzhi sambil menatap pada Alea.


"Aku tidak suka melihat tatapan mereka pada hamba pangeran...rasanya seperti seseorang yang sudah kita kenal tapi menatap kita dengan tatapan aneh, lebih baik hamba memakai pakaian ini dulu..." jawab Alea sambil masih membetulkan letak topeng di wajahnya.


"Aku juga setuju, karena mereka tak akan menikmati kecantikan wajahmu sayang.." ucap pangeran Lingzhi sambil memeluk pinggang Alea. tentu saja pelukan itu membuat Alea merasakan kembali debaran di dadanya. Saat tangan Akeh ingin melepaskan tangan pangeran Lingzhi, pria itu segera mempererat pelukannya.


"Sayang...bisa nggak kalau kita lagi berdua atau lagi di luar kerajaan , jangan mengucapkan kata- kata formal. Rasanya aku bukan berjalan dengan calon istriku, tapi berjalan dengan para mentri Kerajaan..." goda Pangeran Lingzhi .


'Maksud banginda...?" tanya Alea tak mengerti.


"Misalkan , jangan mengucapkan kata hamba, ucapkan Aku, jangan memanggil ku dengan sebutan Pangeran, panggil saja namaku, itu lebih enak di dengar sayang..." ucap pangeran Lingzhi dengan wajah lembutnya.


"Pangeran ..Mana mungkin hamba memanggil anda dengan sebutan nama saja , jika terdengar rakyat kerajaan She bisa- bisa hamba di penggal..." ucap Alea.


"Kau ini..Siapa yang berani memenggal kepalamu, apa mereka ingin aku habisi..." seru pangeran Lingzhi gemas .


Alea terdiam mendengar ucapan pangeran Lingzhi, dia menatap pangeran Lingzhi dengan mata bertanya .


"Ayolah sayang....aku mohon jangan memanggilku seperti itu...?" ucap pangeran Lingzhi dengan tatapan mata hitamnya membuat hati Alea bergetar.


"Baiklah,...aku akan mencari panggilan buat anda yang orang lain tidak tahu atau tidak akan mengerti. .." ucap Alea pasrah . apa yang harus dia lakukan, kalau mereka mendengar Alea memyebut nama pangeran Lingzhi dengan namanya saja, Waah...bisa- bisa dia masuk penjara. Alea terdiam sejenak, dia yang nggak pernah bisa membuat nama untuk seseorang membuat kepalanya sakit karena permintaan pangeran Lingzhi, sedang pangeran Lingzhi terlihat tersenyum dengan senyum liciknya.


Tak berapa lama Alea berucap sambil menatap pangeran Lingzhi.


"Anda boleh memilih hamba punya beberapa panggilan untuk Anda. Yaitu


Hubby, My Zhi , atau Zhi ge..yang mana yang anda suka..." kata Alea pasrah.


Semoga nama ini ada yong cocok...seru Alea dalam hati.


Terlihat ada binar gembira di mata pangeran Lingzhi.


"Jelaskan dulu arti kata dua nama yang kau ucapkan tadi selain Zhi ge, karena aku bukan gegemu, tentu saja aku tidak mau nama itu..." kata pangeran Lingzhi.


"Baik...tapi anda jangan tertawa jika hamba jelaskan, kalau anda tertawa hamba tidak akan mengucapkan panggilan itu untuk anda ..." ucap Alea. Sebenarnya Alea merasa sangat malu menerangkan arti nama itu pada pangeran Lingzhi.


"Baik aku janji..." jawab pangeran Lingzhi.


" My Hubby artinya suamiku, sedang My Zhi Artinya Lingzhi ku...apa anda sudah jelas..." ucap Alea dengan wajah memerah karena malu.


"Apa itu benar sayang... ?" ucap pangeran Lingzhi gembira.


"Hmm..." angguk Alea sambil menatap kearah lain. Melihat wajah Alea yang memerah, dan menatap arah lain membuat Pangeran Lingzhi gemas ingin menciumi wajah cantik itu .


"Baik...untuk sekarang kau lebih baik memanggilku My Zhi dulu, kelak kalau kita sudah menikah , kau harus memanggilku dengan nama yang satunya ..." ucap pangeran Lingzhi dengan gembira .


"Baiklah kalau itu mau pangeran...." kata kata Alea tertenti karena ucapan pangeran Lingzhi


"Sayang....." potong pangeran Lingzhi saat Alea kembali memanggilnya Pangeran.


"Maaf My..My Zhi.." ucap Alea gugup.


"Ha ha ha...itu panggilan yang sangat merdu sayang..." ucap Pangeran Lingzhi sambil memeluk Alea dengan bahagia.


"Ingat...aku hanya ingin panggilan itu keluar dari mulutmu tidak yang lainnya.." kata pangeran Lingzhi sambil mencium mesra kening Alea.


"Tapi My Zhi...bagaimana kalau di depan yang mulia Raja...?" tanya Alea lagi. Membayangkan saja Alea merasa Wajahnya memanas karena malu. Melihat wajah Alea , ingin rasanya Pangeran Lingzhi mencium wajah cantik itu sepuasnya, namun dia berusaha untuk menahan keinginannya. Dia tahu Alea belum begitu mencintainya. Karena itulah dia harus hati - hati dalam bertindak.


" Saat di depan Raja kau boleh memanggilku Pangeran, tidak di tempat lain. .." jawab Pangeran Lingzhi.


"Baiklah...ya sudah ayo kita keluar, aku akan menunjukkan desa ini padamu..." ucap Alea .


"Baik ayo...." pangeran Lingzhi melepas pelukannya setelah lebih dulu mencuri ciuman di keningnya. Alea hanya bisa tertegun merasakan kembutnya bibir pangeran Lingzhi di keningnya.


"Pangeran....kenapa sekarang kau sedikit- sedikit menciumku sich, apa kau tidak sadar kalau jantung ini jadi berdebar tak karuan, kalau seperti ini terus aku bisa sakit jantung nich..." teriak Alea dalam hati.


Terlihat wajah Alea kembali memerah dan itu sukses membuat Pangeran Lingzhi ingin tertawa dan kembali ingin mencium wajah cantik itu. Alea segera berjalan cepat keluar rumah untuk menutupi debaran di jantung nya. Pangeran Lingzhi pun segera menyusul Alea sambil tersenyum geli. Ketika mereka sampai di luar rumah, terlihat Jihao dan Guansi sudah menunggu mereka .


"Kalian tunggu sebentar di sini..." ucap Alea dan ingin beranjak pergi meninggalkan mereka. Namun lengannya tertahan oleh tangan Pangeran Lingzhi yang sudah memegangnya.


"Mau kemana sayang...?" tanya pangeran Lingzhi lembut.


"Aku akan berpamitan dulu pada mereka, sebentar saja kok..." ucap Alea. Mendengar perkataan Alea yang ingin berpamitan pada mereka , pangeran Lingzhi tanpa sadar menatap ke arah rumah makan yang terlihat ramai. Dan terbayang di fikiran pangeran Lingzhi, saat Alea masuk kesana pasti banyak mata yang akan menatap pada tubuh sang kekasih. Dan tentu saja bayangan itu membuat dia merasa panas di dalam hati.


"Biar Jihao yang berkata pada mereka.." ucap pangeran Lingzhi .


Mendengar perkataan pangeran Lingzhi membuat Alea menatap padanya.


"My Zhi...aku cuma sebentar kok..." ucap Alea dengan wajah lembutnya. Mendengar ucapan Alea yang memanggil namanya dengan sebutan nama khusus dari Alea , membuat pangeran Lingzhi tersenyum gembira. Sedang Jihao dan Guansi saling pandang, mereka merasa terkejut dengan panggilan Alea yang tidak pernah mereka dengar.


"Sayang...aku tak ingin kau menjadi pusat perhatian mereka..." jawab pangeran Lingzhi lagi. dan kalimat itu sepertinya tak ingin di bantah.


"Baiklah aku mengalah..." jawab Alea . Pangeran Lingzhi segera menyuruh Jihao untuk pergi ke rumah makan dan berpamitan. Dengan sigab Jihao berjalan ke arah rumah makan. Sedang Alea dan pangeran Lingzhi segera berjalan meninggalkan rumahnya. Ketika sampai di rumah perawatan, Alea melihat kalau rumah perawatan atau rumah obat terlihat agak sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat di sana. Alea segera mengajak pangeran Lingzhi masuk kedalam rumah obat. Ketika sampai di dalam rumah seorang wanita muda yang Alea tahu kalau gadis itu pekerja rumah obat menghampirinya.


"Tuan apakah ad....." suaranya terhenti ketika dia menatap wajah Alea yang tertutup topeng di wajahnya .


"Tu..tuan Hanpey....!" serunya tergagap. Ucapannya membuat orang yang ada di rumah obat menatap kearah mereka.


Semua yang ada di dalam ruangan itu tertegun melihat sosok tampan memakai topeng yang ada di depan pintu .


"Tuan Hanpey....!" seru mereka bahagia. Mereka segera berlari kearah Hanpey yang berdiri di dekat pangeran Lingzhi.


Mereka segera berebut menyalami Alea dengan wajah bahagia.

__ADS_1


"Tuan Hanpey...gimana kabarnya..." seru mereka bahagia .


"Aku baik- baik saja , gimana kabar kalian..waah sepertinya rumah obat kita banyak kemajuan ya..dan ini , kalian pegawai di sini juga..." ucap Alea pada dua orang gadis dan seorang pria muda yang berada di ruang obat itu.


"Benar tuan...kami adalah pekerja di rumah obat ini..." jawab pria muda itu.


"Mereka bekerja di sini karena pasienya setiap hari bertambah tuan..." jawab gadis yang sudah lama bekerja di rumah obat itu.


"Tidak ada masalah kan di rumah obat ini...?" tanya Alea lagi .


"Tidak tuan.. hanya ada sedikit keluhan..." ucap wanita yang bekerja di rumah obat milik Alea itu.


"Apa itu...?" tanya Alea heran.


"Sepertinya rumah obat ini kurang besar, karena semakin hari , orang yang ingin berobat kesini semakin banyak, terkadang mereka sampai antri di luar..." jawab wanita itu.


"Oo...soal itu...kalian tenang saja , rumah obat ini akan segera di perbesar oleh kerajaan, sebentar lagi kalian akan memiliki rumah obat yang lebih besar lagi.." jawab Alea. Mendengar perkataan Alea, terlihat wajah bahagia di mata mereka.


"Ya sudah aku pergi dulu, aku ingin melihat keadaan desa ini..." ucap Alea lagi.


"Silahkan tuan ..." ucap mereka bersamaan. Alea tersenyum lalu berjalan keluar dari rumah pengobatan bersama Pangeran Lingzhi dan Kedua pengawalnya. Terlihat wajah kekaguman di wajah mereka saat melihat Hanpey dan ketiga temannya yang berwajah tampan semua , keluar dari ruangan itu.


"Gila...mereka tampan- tampan sekali, terutama pria yang bersama tabib Hanpey..." kata salah satu wanita pegawai rumah pengobatan itu.


"Tapi tunggu dulu.. Sepertinya aku tadi bertemu mereka....." kata pelayan pria yang ada bersama mereka .


"Benarkah dimana..." tanya sang teman kepo.


"Di rumah makan , saat itu aku mau membeli makanan , ketika aku masuk aku melihat keributan di rumah makan, dan ternyata tuan Zio Sang bersama dua adiknya sedang berbincang dengan seorang gadis yang teramat cantik, dan aku melihat mereka berada di sana . Dan sepertinya mereka selesai makan.


Apakah kalian tahu... mereka terlihat akrab sekali . Apalagi saat nyonya Zio dan nyonya San melihat gadis itu. Nyonya San memeluknya sambil menangis..." kata pria itu dengan mimik wajah serius.


"Lalu kemana gadis itu sekarang...? apa mereka teman tabib Hanpey...?" tanya sang kawan.


"Mungkin juga...tapi tadi aku tidak melihat keberadaannya tabib Hanpey,..." ucap pria itu lagi.


"Sudahlah...kita kembali kerja, jangan sampai para pasien mengeluhkan kinerja kita..." kata salah satu pegawai wanita rumah pengobatan. Mereka pun segera kembali bekerja .


Sedangkan Alea kini sedang berjalan di pematang sawah yang terlihat telah di tanami padi. Sejauh mata memandang terlihat hamparan sawah yang di tanami padi terlihat indah menyegarkan di bawah kaki gunun Golda. Memang desa cahaya adalah desa yang berada di kaki gunung Golda.


"Dulu daerah sini tidak seindah seperti sekarang ini My Zhi...saat itu , Desa Cahaya merupakan daerah tandus dan kering. Aku membutuhkan waktu empat bulan lebih untuk merubah daerah ini ..." ucap Alea sambil berjalan di tengah tengah hamparan padi dan sayuran milik penduduk desa.


"Bagaimana kau bisa merubah semua ini...?"tanya pangeran Lingzhi sambil berjalan di belakang Alea.


"Sebenarnya keadaan desa ini seperti desa Rusan yang ada di kerajaan Shi yang selalu mengalami bencana. hanya saja masalah desa ini tidak sampai di kerajaan Long. hingga kerajaan tidak memperhatikan keadaan masyarakat ini. saat itu hamba sedang menolong gege Zio Sang yang ibunya sedang sakit. ketika saya kemari untuk pertama kalinya saya melihat sekilas kalau desa ini sebenarnya indah, tapi saya heran kenapa daerah ini sepi. dan ketika saya ingin keluar dari Minsion milik Ayah akhirnya tempat inilah tujuan saya . dengan bantuan penduduk akhirnya saya bisa mewujudkan keinginan untuk membuat tempat ini tempat yang indah..." kata Alea menjelaskan pada Oangeran Lingzhi. Dab tak terasa mereka telah berada di bendungan yang ada di bawah air terjun. terlihat pemandangan indah terhampar di depan mereka.


"Lea'er..apakah semua ini ide darimu...?" tanya Pangeran Lingzhi dengan wajah kagum.


"Benar My Zhi... saya membuatnya dengan bantuan gege Zio dan para penduduk desa . bunga- bunga ini sebagian besar mereka cari di dalam hutan itu, setiap penduduk yang pergi kehutan untuk berburu, pulangnya pasti membawa bibit bunga dari hutan..." jawab Alea sambil tertawa.


"Kau hebat Lea'er...aku tak menyangka di kepala kecil ini ternyata memiliki banyak ide...." puji Pangeran Lingzhi sambil mengusap lembut kepala Alea.


"Dan setelah adanya bendungan itu, serta aliran sungai yang memiliki kedalaman yang cukup dalam , akhirnya kesulitan air saat musim kemarau tidak pernah lagi tejadi , Kami busa mengatur Aliran air dari bendungan itu, dan saat penghujan, karena Bendungan itu cukup mempuh menampung luapan Air dari air terjun itu. maka para penduduk tidak lagi merasa ketakutan akan adanya bahaya banjir yang akan melanda kampung ini. ..." kata Alea mengakhiri ceritanya.


"Dan sekarang My Zhi bisa lihat, sekarang banyak rumah- rumah baru dan bagus di bangun di desa ini. .." lanjut Alea.


"Tak kusangkah calon permaisuri kerajaan Shi seorang wanita yang sangat cerdas...." ucap Pangeran Lingzhi pada Alea.


"Jangan memujiku terlalu tinggi My Zhi... bisa- bisa aku menjadi wanita sombong Lo .." kata Alea sambil tertawa.


"Tapi benar putri...apa kata yang Mulia Lingzhi, kami juga bangga melihat keberhasilan putri ini..." ucap Jihao sambil menatap Alea dengan kekaguman. Melihat tatapan Jihao pada Alea, pangeran Lingzhi merasa tak rela,


Dia menatap Jihao seakan ingin membunuhnya. melihat tatapan Pangeran Lingzhi , Jihao segera mengalihkan pandangannya dari wajah Alea. Jihao dan Guansi ingin rasanya tertawa melihat pangeran Lingzhi yang terlalu posesif pada Alea. namun mereka pun sadar, andai Alea kekasih mereka, mungkin mereka akan seposesif pangeran Lingzhi. siapa yang tak akan takut kehilangan wanita secantik dan sejenius putri Lea, apalagi dengan kebaikan hatinya.


"Jihao...jangan sampai kau tertarik pada calon istriku, camkan itu..." ucap pangeran Lingzhi dengan wajah dinginnya.


" Mana mungkin hamba berani pangeran..." ucap Jihao merasa merinding melihat tatapan tajam pangeran Lingzhi. walaupun di dalam hati dia ingin rasanya tertawa keras. melihat kecemburuan pada pangeran Lingzhi.


"Dasar pria yang baru merasakan jatuh cinta...sekalinya jatuh cinta, ee...pada gadis secantik putri Lea..."seru Jihao sambil tertawa dalam hati. begitu juga dengan Guansi. dia membalikkan badannya menatap arah lain, agar senyum kecilnya tidak terlihat oleh pangeran Lingzhi .


Sedang Alea merasa heran, kenapa semakin lama pangeran Lingzhi semakin posesif padanya. Alea bisa melihat kecemburuan pangeran Lingzhi pada pria yang menatap padanya.


"My Zhi..sudahlah...ayo kita pulang , mungkin pembeli di rumah makan sudah berkurang, lagian kita belum makan siang..." kata Alea lembut. Suara Alea membuat tatapan pangeran Lingzhi beralih kearah Alea.


"Baiklah Ayo..." ajak Pangeran Lingzhi. Dia segera menggandeng tangan Alea dan berjalan kembali di pematang sawah.


Sedang Jihao dan Guansi tersenyum mendengar panggilan yang di ucapkan oleh Alea pada pangeran Lingzhi.


Ketika mereka akan keluar dari persawahan , mereka melihat banyak orang berada di pinggiran sawah.


"Sayang...kenapa banyak orang di pinggir jalan...?" tanya Pangeran Lingzhi yang berjalan di depan Alea, namun tangannya tetap memegang erat tangan Alea. Seperti takut kehilangan Alea.


"Hamba juga tidak mengerti My Zhi.. kenapa mereka ada di sana..apa ada masalah...? bukankah tadi mereka tidak ada...?" kata Alea sambil berjalan di belakang oangeran Lingzhi, dan sesekali melihat jalan yang mereka lewati. bagaimanapun dia takut juga terjatuh di sawah. Ketika mereka sudah mendekati tempat orang- orang itu berada , salah satu dari mereka berucap.


" Pak kepala desa..ternyata memang dia tabib Hanpey kita..." seru salah satu dari warga penduduk desa Cahaya. mereka segera mendekati rombongan Alea. Seorang pria paruh baya berjalan paling depan.


"Nak Hanpey...kau datang nak...?" seru pria itu dengan wajah bahagia. Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alea. sedang yang lainnya memberi salam dan menunduk hormat.


"Bapak kepala desa....? ada apa ini...kenapa kalian berada di sini...?" tanya Akeh kaget dan membalas sapaan mereka.


"Nak...kami datang kesini karena mendengar kau datang...dan mereka berkata kalau kau sedang berada di bendungan desa, kami tadi mau kesana tapi kami memutuskan untuk menunggumu di sini saja...." ucap pria paruh baya yang ternyata kepala desa itu sambil tersenyum ramah.


"Ya ampun...saya fikir ada apa tadi, benar saya baru datang tadi pagi, dan ingin melihat bendungan dan keadaan desa yang lama aku tinggalkan, karena itu saya memutarkan jalan- jalan untuk melihat keadaan desa..." ucap Alea sambil tersenyum.


"Kami tadi mendengar kau datang, kami sangat kaget dan bahagia, karena itu kami berkumpul di sini untuk membuktikan kebenarannya..." ucap kepala desa pada Alea, namun Alea bisa melihat tatapan mereka pada Alea dengan tatapan aneh , apalagi pada tangan pangeran Lingzhi yang sedang memegang tangannya dengan erat. melihat semua itu, Alea baru sadar kalau sekarang dia berdandan sebagai Hanpey,

__ADS_1


"Waah...pasti mereka berfikir kalau aku melakukan hubungan tidak wajar. .." pikir Alea. akhirnya dengan terpaksa dia harus membuka samarannya.


"Trimakasih pak atas perhatian penduduk pada saya, oh ya pak...ada sesuatu yang akan saya beritahukan pada kalian semua..." Alea terdiam sejenak.


"Apa itu nak....?" tanya pak kepala desa dengan wajah penuh tanda tanya.


"Sebelumnya Hanpey minta maaf, selama ini Hanpey telah menyembunyikan siapa Hanpey sebenarnya, Kali ini Hanpey akan mengatakan siapa Hanpey sebenarnya.." Hanpey terdiam sejenak. lalu dengan tangan yang tidak di genggam pangeran Lingzhi Alea membuka topeng yang ada di wajahnya. ketika topeng terbuka, semua orang terlihat sangat kaget dan terpukau melihat kecantikan wajah Alea. mereka semua terlihat sangat kagum dengan wajah milik Alea.


"Sebenarnya aku bukan seorang pria seperti dugaan kalian , aku seorang wanita, dan aku adalah putri Lea Min Han , Putri dari Jendral besar kerajaan Long yang bernama Murong Han..." ucap Alea sambil menatap mereka.


"Apaaa...Putri Lea Min Han...!" seru mereka kaget.


"Benar...aku adalah Putri Lea Min Han putri dari Jendral Muring Han..." jawab Alea kembali .


"Tapi Putri.. maaf..kami mendengar kalau rumornya Putri Lea Min Han itu adalah putri yang sangat Bodoh , pendiam, penakut, serta sangat jelek, karena kejelekan rupanya sehingga dia tidak berani keluar dari kediamannya, dan karena wajahnya , Putra Mahkota Fang memutuskan perjodohannya...apa itu semua benar putri...?" tanya salah satu penduduk yang terlihat cukup terpelajar.


Alea tersenyum mendengar semua itu,


"Itu semua benar adanya. kalau Putra Mahkota Fang telah membatalkan perjodohannya dengan diriku, mungkin beliau mendengar kalau aku orang yang sangat jelek hingga dia tak ingin berjodoh denganku , tapi kalian sekarang bisa melihat rumor itu benar atau salah, sekarang putri Lea berdiri di depan kalian, apa benar aku orangnya Bodoh , penakut, pendiam dan sangat jelek, kalian bisa menilainya sendiri..." jawab Alea sambil tersenyum.


'Ya ampuun...ternyata semua rumor tak selalu benar ya, bagaimana bisa gadis secantik Dewi di bilang sangat jelek..." ucap salah satu penduduk.


"Benar sekali, gadis secantik itu di katakan jelek, lalu gadis seperti apa yang di bilang cantik...?" kata yang Lain.


" Putri...kalau boleh tahu siapa mereka yang sekarang bersama putri ...?" tanya seorang gadis yang sejak tadi menatap pangeran Lingzhi dengan tatapan memuja. Dia menatap pangeran Lingzhi dengan tatapan seperti ingin menerkamnya.


Alea tersenyum dan menatap pangeran Lingzhi sejenak sebelum menjawab pertanyaan gadis itu. mendapat tatapan Alea, Pangeran Lingzhi tersenyum dan menjawab pertanyaan tadi sebelum Alea berkata .


"Aku adalah calon suami dari putri Lea Min Han. Aku adalah putra Mahkota kerajaan Shi, namaku Pangeran Lingzhi dan di sebelahku ini para sahabatku Yaitu Jendral Guansi dan pengawal kepercayaanku Jihao. ..." ucap pangeran Lingzhi membuat mereka terdiam dalam keterkejutan. mereka menatap pangeran Lingzhi dan dua pengawalnya bergantian. tak lama terlibat mereka semua bersujud pada pangeran Lingzhi. Bagaiman mereka tidak bersujud, Desa mereka adalah desa perbatasan antara kerajaan Long dengan kerajaan Shi, dan sebagian tanah mereka atau sanak saudara mereka merupakan penduduk kerajaan Shi dan diantara mereka yang berkumpul sekarang ini sebagian besar rakyat kerajaan Shi.


"Ampun yang Mulia...kami tidak menyadari kehadiran yang Mulia di daerah kami..." seru mereka sambil bersujud. Melihat perbuatan mereka Pangeran Lingzhi kaget.


"Sudah, sudah berdirilah kalian semua, bukan salah kalian kalau kalian tidak mengenalku, aku datang kesini tidak sengaja, aku hanya mengantarkan putri mahkota datang kemari untuk menjenguk kalian..." jawab Pangeran Lingzhi .


"Apaa...putri Mahkota...!" seru mereka dengan wajah kaget.


"Benar...orang yang kalian sayangi ini, adalah putri Mahkota Kerajaan Shi, dia adalah calon permaisuriku..." ucap pangeran Lingzhi dengan bangga.


"Pangeran..." ucap Alea tak enak hati.


"Kenapa sayang...aku ingin semua orang tahu kalau kau itu wanitaku....calon istriku ..." bisik pangeran Lingzhi di telinga Alea. membuat nafas dan hidung mancungnya mengenai telinga Alea.


Tentu saja bisikan yang di lakukan Pangeran Lingzhi membuat jantung Alea berdebar tak karuan.


"Benarkah....?selamat Putri Mahkota, selamat Putra Mahkota...!" seru mereka serempak dengan wajah bahagia.


"Ya sudah kembalilah kalian kerumah kalian masing - masing karena kami Akan kembali ke kediaman Putri Mahkota.." ucap Pangeran Lingzhi.


"Baik yang Mulia..." seru mereka lagi . akhirnya Pangeran Lingzhi membawa Alea kembali kerumah Alea sebelum para penduduk pergi.


"Ya ampun...ternyata tabib Hanpey seorang gadis cantik ya...?" kata seorang gadis dengan wajah sangat mengagumi Alea.


"Benar...dan ternyata dia putri Lea yang rimornya jelek itu, dasar mulut - mulut tidak ada kerjaan, wanita secantik itu di bilang berwajah jelek..." jawab yang lain.


"Apakah Putra Mahkota Fang Tidak menyesal ya, membuang seorang gadis yang cantik, lembut , baik hati juga sangat dermawan, ...apa kalian masih ingat, saat daerah ini baru di buka, bukankah tabib Hanpey memberikan bermacam bibit untuk kita tanam, mulai bibit padi, sampai bibit sayuran, dan dengan kebaikan dia , dia mengajari kita bercocok tanam dengan baik, dia juga tidak segan turun kesawah ..." kata Gadis manis yang memang sangat mengidolahkan Hanpey.


"Benar sekali, dan kita juga ingat, saat kita membangun bendungan itu, tabib Hanpey tidak segan- segan ikut membawa dan mengangkat batu untuk di jadikan bendungan..." kata gadis yang lainnya.


"Alah...itu hanya gayanya aja agar dia di perhatikan semua orang..." tiba- tiba gadis yang tadi bertanya pada Alea siapa pria di sebelahnya terlihat sangat kesal.


"Hey...kau jangan sembarangan bicara ya...Putri Lea selama ini tidak pernah memperlihatkan sifat yang jelek, dia sangat baik dan sopan, apalagi dia menyembunyikan kecantikan wajahnya di balik topeng, jangan lagi kau berkata seperti itu, kau akan di benci penduduk sini kalau kau tak merubah sifat kasarmu itu...kami tahu kau iri pada putri Lea, karena kau menginginkan pangeran Lingzhi kan...? jangan bermimpi terlalu tinggi nona...kalau kau membandingkan dirimu dengan putri Lea, kau kalah jauh nona... " kata wanita yang mengidolahkan Alea dengan marah .


"Ck..Aku juga tak kalah cantik dari putri Lea..." kata gadis itu sombong.


"Apaaa...kau membandingkan kecantikanmu dengan putri Lea ha ha ha..dari mana kau menyamakan kecantikanmu dengan putri Lea Ha...? jangankan dengan putri Lea, dengan kakaknya saja kau tidak akan bisa sebanding...." kata wanita itu sinis pada gadis yang menghina Alea.


Sedang Alea sendiri kini sudah sampai di rumahnya. setelah mandi dan mengganti bajunya , Alea segera keluar dari ruangannya. dia berjalan kearah meja makan, karena saat tadi dia melewati ruang makan , ketika akan masuk kekamarnya. tanpa sengaja dia melihat


di atas meja makan sudah tertata tapi beberapa masakan. memang Kamar Alea berdekatan dengan ruang makan. Ketika sampai di sana dia melihat Nyonya San dan nyonya Zio ada di sana.


"Ibu...kalian berdua ada disini...?" seru Alea dengan wajah gembira.


"Kami ingin menyiapkan makanan kesukaanmu sayang..." jawab Nyonya Zio.


"Waah...pasti ini enak sekali..." ucap Alea dengan wajah gembira. dia melihat semua masakan yang ada di atas meja.


"Hey...ini ada bakso...!" seru Alea senang. dia segera mengambil mangkok dan sendok untuk memakan bakso.


"Ibu mencoba resep yang kau berikan dan kau ajari pada kami sebelum kau berangkat ke kerajaan Shi dulu nak... dan ternyata mereka menyukai masakanmu itu ,coba kau rasakan kurang apa rasa masakan ibu itu....?" kata Ibu San sambil menatap Alea . Alea segera mengambil satu bakso yang terlihat menggiurkan.


"Hmm..enak...hanya kurangi sedikit tepung tapiokanya bu..." ucap Alea.


" Ooo..begitubya, ...baik ibu akan mencobanya lagi nak..." ucap Ibu San. .


"Tapi ini sudah enak kok Bu..." puji Alea.


"Trimakasih nak..." kata ibu San dengan lembut.


"Sedang apa kau sayang..." tiba- tiba Pangeran Lingzhi sudah berada di belakang Alea dan memeluk pinggangnya.


Melihat perbuatan pangeran Lingzhi Alea kaget.


"My Zhi...ada ibu..." ucapannya sambil berusaha melepas pelukan pangeran Lingzhi. namun pelukan itu semakin erat.


"Ibu berdua sudah pernah Mudah, mereka sudah memaklumi kalau kita saling mencintai sayang..." goda pangeran Lingzhi . dan kedua wanita paruh baya itu segera pergi dari ruangan itu dengan senyum di bibir mereka.

__ADS_1


Udahan dulu ya...jangan lupa like, vote, dan komennya.


Bersambung.


__ADS_2