
Tak terasa hampir satu bulan perjalanan mereka lalui. Saat hari menjelang siang terlihat kota kerajaan Shi sudah berada di depan mata. Alea dan rombongan terlihat bernafas lega.
"Syukur kita sudah sampai, Rasanya aku ingin berendam di bak mandi...Oh ya Pangeran...hamba tahu anda lelah ,kalau pangeran langsung ingin kembali kekerasan silahkan, mungkin juga pekerjaan pangeran sudah menunggu edatangan pangeran ..." kata Alea sambil tersenyum.
"Tidak Lea'er...aku akan mengantarmu sampai di perguruan. mungkin aku akan tinggal sementara di sana...?" kata pangeran Lingzhi sambil menatap Alea.
"Baiklah, kalau begitu kita langsung ke perguruan Calang..." kata Alea lagi.
Merekapun langsung mengarahkan kuda- kuda mereka kearah perguruan Calang. Dua jam kemudian mereka telah sampai di perguruan Calang di desa Hanleng .
"Kita makan dulu Lea'er..."kata pangeran Lingzhi.
"Baik...aku juga sudah lapar .." jawab Alea sambil tersenyum. Merekapun segera mampir di rumah makan yang paling terkenal di desa Hanleng . saat mereka masuk kedalam rumah makan, terlihat rumah makan tidak terlalu ramai , hingga mereka dengan mudah mendapatkan tempat duduk buat mereka. Saat mereka telah duduk, seorang pelayan mendatangi mereka. Dan bertepatan pelayan itu adalah pelayan yang pernah Alea tolong dulu. Saat dia melihat keberadaan Alea, wajahnya terlihat sangat bahagia. dia buru- buru mendatangi meja Alea.
"Tabib...kau ada di sini...?" serunya dengan gembira. Melihat kegembiraan di wajah si pelayan Alea tersenyum.
"Apa kabar...?" sapa Alea sambil tersenyum.
"Baik tabib..tabib hamba ucapkan terimakasih atas pertolongan tabib pada ibu hamba., berkat obat dari tabib, keadaan ibu hamba telah sehat dan sampai sekarang tidak pernah kambuh lagi..." kata pelayan itu dengan wajah bahagia.
"Syukurlah kalau ibumu sudah sehat..."
Kata Alea. Merekapun segera memesan makanan untuk mereka makan. Saat mereka sedang makan, ada tiga gadis masuk kedalam rumah makan. Saat melihat keberadaan pangeran Lingzhi salah satu dari mereka berseru gembira.
"Pengeran Lingzhi...!" serunya sambil berjalan cepat kearah sang pangeran. Tentu saja seruan itu membuat seisi rumah makan menatap pada gadis yang sedang berjalan menuju pangeran Lingzhi. Begitu juga dengan rombongan pangeran Lingzhi . ketika sampai di dekat sang pangeran, gadis itu langsung memeluk pangeran Lingzhi dari belakang.
"Apa kabar pangeran ku..." serunya dengan wajah bahagia.
Dengan cepat pangeran Lingzhi melepas pelukan gadis itu.
"Kau gila ya...! Jaga sikapmu putri Asuya...!"seru pangeran Lingzhi dengan marah.
"Kenapa sikapmu seperti ini pangeran...? Bukankah wajar aku berbuat seperti itu pada calon suamiku..?" kata putri Asuya dengan wajah cemberut.
"Dasar gadis gila...siapa yang calon suamimu..? Sembarangan...!" seru pangeran Lingzhi marah. Sedang Alea yang berada di dekat pangeran Lingzhi hanya diam saja. Dia tetap meneruskan memakan makanannya.
"Tentu saja pangeran..." kata putri Asuya dengan wajah bahagia.
"Kau fikir aku mau denganmu...? Aku sudah memiliki gadis pilihanku sendiri.." jawab pangeran Lingzhi dengan wajah kesal.
"Oo..nggak jadi masalah, aku nggak masalah kau memiliki seorang selir, dia bisa jadi Selirmu..." jawab putri Asuya dengan wajah gembira dan percaya diri .
Mendengar perkataan putri Asoya , Alea menatap sebentar pada pangeran Lingzhi Melihat tatapan Alea, pangeran Lingzhi merasakan dingin di tengkuknya.
"Siapa yang mau mejadikanmu istriku, aku tidak ingin memiliki banyak istri, aku hanya butuh satu istri dan aku memiliki gadis yang aku cintai, tapi itu bukan dirimu..." kata pangeran Lingzhi datar. .
Tentu saja putri Asoya malu dan marah mendengar pengakuan pangeran Lingzhi.
"Pangeran mengapa kau mengatakan perkataan yang menyakitkan, bukankah aku adalah calon putri mahkota, lalu kenapa kau berkata seperti itu..." ucapnya dengan nada marah dan malu.
"Cukup putri...! Jangan memaksaku untuk mempermalukan dirimu di sini. Bukankah aku sudah mengatakan beberepa kali padamu kalau aku tidak menginginkan dirimu . dan perlu kau tahu, dialah kekasihku..." kata pangeran Lingzhi sambil mengambil tangan Alea dan menggenggamnya dengan lembut..
"Apaa..kau memilih dia daripada aku...?apakah kau tidak salah pangeran, aku lebih segalanya dari pada dia...! aku cantik, putri seorang raja, mana bisa sebanding dengan dia...!" kata Putri Asuya tak percaya.
"Itu katamu, tapi untukku dia lebih segalanya dari pada dirimu, dia gadis yang aku cintai, dia calon putri Mahkotaku, Ck kau ini, membuat nafsu makanmu hilang..ayo sayang kita pergi, aku sudah tak ada selera untuk makan..." ucap pangeran Lingzhi sambil mengambil tangan Alea, dan menariknya pergi dari meja makan.
"Pengertian tunggu...!" seru putri Asuya sambil berlari mengejar pangeran Lingzhi yang berjalan sambil menggandeng tangan Alea. Namun pangeran Lingzhi tak perduli dia tetap berjalan dengan cepat. Namun putri Asuya telah sampai di dekatnya dan memegang tangan pangeran Lingzhi.
"Pangeran...tunggu..!" seru sang putri sambil mencekal tangan pangeran Lingzhi.
"Lepaskan tanganmu putri...selama kesabaranku masih Ada..." kata pangeran Lingzhi dingin.
"Tidak..aku tidak akan melepas tanganmu sebelum kau mengakui perasaanmu yang sebenarnya padaku,
kau mencintaiku pangeran...aku tahunitu.." ucap putri Asuya keras kepala.
"Jihao....!" .teriak pangeran Lingsi pada Jihao.
"Hamba yang mulia..." ucap Jihao yang sudah berdiri di depan pangeran Lingzhi.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan...?" kata pangeran Lingzhi dingin.
"Baik yang Mulia..." jawab Jihao, Dia segera menarik tubuh putri Asuya dari tangan pangeran Lingzhi.
"Maaf putri...anda harus melepaskan tangan pangeran Lingzhi.
"Tidak, tidak aku tidak mau...!" teriak pitri Asuya tidak merasa malu menjadi tontonan di dalam rumah makan. Namun karena tenaganya lebih kuat dari Jihao dan pangeran Lingzhi juga berusaha melepas tangan putri Asuya, maka akhirnya putri Asuya bisa di jauhkan dari pangeran Lingzhi. Setelah terlepas dari putri Asuya, pangeran Lingzhi dan Alea segera keluar dari rumah makan, dan kembali ke perguruan setelah memberikan kuda mereka pada pengawal bayangan.
"Pangeran...anda tadi belum makan lo.." kata Alea khawatir.
"Kau menghawatirkan diriku sayang...?" tanya pangeran Lingzhi dengan wajah bahagia. Menyadari pertanyaannya, Alea merasa malu dan salah tingka . Terlihat pipinya yang memerah.
"Alea hanya takut kalau pangeran sakit, nanti Alea di salahkan oleh baginda raja.." jawab Alea sambil berjalan lebih cepat dari pangeran Lingzhi.
Tentu saja pangeran Lingzhi tahu kalau Alea menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia tersenyum melihat tingkah sang kekasih . pangeran Lingzhi segera mensejajarkan jalannya dengan Alea.
"Lea'er...tunggu..." tiba- tiba terdengar suara Lian Han memanggil namanya.
Alea dan pangeran Lingzhi segera menghentikan langkah mereka dan melihat kebelakang . terlihat Lian Han berlari sambil membawa bungkusan di tangannya.
" Ini makanan untuk kalian betdua, makanlah bersama pangeran di kamarmu, kau dan pangeran Lingzhi tadi belum sempat makan yang benar, kalian hanya sedikit makannya,..." kata Lian Han penuh perhatian sambil memberikan bungkusan Yang berisi makanan untuk mereka berdua.
"Trimakasih gege..." jawab Alea sambil menerima bungkusan dari tangan Lian Han.
"Ternyata saudara iparku ingat aku juga..." kata pangeran Lingzhi sambil tersenyum.
"Kami ingat karena kita baru saja pulang dari perjalanan jauh , dan kita belum sempat makan sejak tadi pagi..." jawab Lian Han.
"Dan ini untuk mahluk kontrakmu Lea'er...mungkin mereka juga lapar..." kata Mimi yang sudah mendekat ke Alea sambil memberikan bungkusan pula.
"Trimakasih kak...kau telah ingat pada mereka..." kata Alea sambil tersenyum.
merekapun segera masuk kedalam perguruan Calang. Mereka segera kembali ke kamar mereka masing- masing. dengan janji akan menghadap guru besar setelah membersihkan diri .
Karena pangeran Lingzhi kembali ke perguruan, Mimi minta ijin pada Alea untuk kembali ke asramanya sendiri. Dengan terpaksa Alea mengijinkannya Dan untunglah asramanya memang masih dibiarkan kosing .hingga Mimi bisa masuk kembali .
"Pangeran anda bisa membersihkan badan lebih dulu, hamba akan mandi dan menata makanan di ruangan hamba ... nanti hamba akan memanggil pangeran kalau sudah selesai..." kata Alea sambil membuka pintu kamarnya.
"Baik Lea'er aku akan mandi dulu, kalau sudah selesai aku akan datang kemari . kau tak usah memanggilku..." kata pangeran Lingzhi sambil mengusap lembut kepala Alea.
"Baik Pangeran..." jawab Alea, setelah mendengar ucapan Alea, pangeran Lingzhi segera berjalan kearah kamarnya yang berada di sebelah kamar Alea. Sedang Alea segera masuk kedalam kamarnya., Ketika sudah berada di dalam kamar, Alea segera menaruh makanan di atas meja, dan menatanya dengan baik di mejanya , sebelum memanggil pangeran Lingzhi untuk makan. Setelah itu, dia segera masuk keruang dimensinya untuk memberikan makanan yang di belikan Mimi untuk ke empat mahluk kontraknya. Ketika sampai di sana, Lauyan sudah muncul di depan Alea sambil mengambil makanan yang ada di tangan Alea. Sedangkan Alea setelah memberikan makanan pada Lauyan dia segera mandi di bawah air terjun kehidupan. Dia berendam cukup lama di sana sambil berkultivasi. Setelah merasakan segar seluruh tubuhnya. Dia segera mengganti bajunya yang basah , lalu segera kembali kedalam kamarnya . dia takut pangeran Lingzhi telah menunggu . benar saja, baru saja dia menginjakkan kaki di dalam kamar, terdengar ketukan di daun pintu .
Tok...tok..tok..
"Lea'er...kau sudah selesai...?" tanya pangeran Lingzhi dari luar kamar.
__ADS_1
"sebentar Pangeran....!" seru Alea sambil berjalan kearah pintu kamar. Ketika pintu terbuka , terlihat pangeran Lingzhi sudah berdiri di depan pintu dengan wajah ceriah dan segar .
"Kau sudah selesai...?" tanya Pangeran Lingzhi kembut .
"Sudah pangeran ayo masuk.." kata Alea sambil mempersilahkan penguasa ke dua Kerajaan Shi itu masuk kedalam kamarnya . terlihat senyuman lembut di bibir sang pangeran saat dia masuk kedalam kamar Alea.
"Pangeran,... Ayo silahkan duduk, kita makan dulu . setelah itu hamba akan menunjukkan sesuatu pada Pangeran Lingzhi..." kata Alea dengan wajah serius.
"Apa itu...?" tanya sang pangeran penasaran.
"Nanti anda akan tahu..." jawab Alea sambil tersenyum .
"Baiklah...kalau begitu ayo kita makan dulu..." ajak pangeran Lingzhi .
"Baik pangeran ..." merekapun segera makan bersama . Mereka makan tanpa berbicara. Setelah selesai makan, dan membersihkan sisah makan mereka, Alea segera mendekati pangeran Lingzhi yang sedang duduk di kursi yang berada di dalam ruangan Alea. dia duduk di dekat sang pangeran.
"Lea'er..kita sudah selesai makan, lalu apa yang akan kau tunjukkan padaku , kau tadi mengatakan akan menunjukkan sesuatu padaku setelah kita selesai makan ..." tanya Pangeran Lingzhi menagih janji Alea.
" Baiklah akan hamba katakan . tapi tolong Pangeran harus merahasiakan ini dari siapapun, pangeran mau kan...?" tanya Alea.
"Pasti sayang...apalagi itu menyangkut keselamatanmu..." kata pangeran Lingzhi dengan tegas.
"Trimakasih pangeran. hamba menunjukkan ini karena hamba percaya pada pangeran, dan kita akan selalu hidup bersama, karena itu hamba tak ingin ada rahasia di antara kita berdua , walau sekecil apapun rahasia Itu..." kata Alea dengan menatap wajah pangeran Lingzhi.
"Itu berarti kau telah menerimaku sebagai kekasihmu...? dan kau mau menerima lamaranku...?" tanya Pangeran Lingzhi dengan binar kebahagiaan di wajah tampannya.
"Dengan catatan hamba tidak ingin di dua kan..." kata Alea mengingatkan.
"Tentu saja sayang...aku janjikan itu padamu..." jawab pangeran Lingzhi penuh percaya diri. dia segera memeluk Alea dengan erat. perasaannya hari ini bebar- benar bahagia. dan dia mencium lembut kening Alea. Tentu saja Alea kaget, namun bukankah dia sudah menerima cinta pangeran Lingzhi. walau dia sadari kalau degub jantungnya berdebar dengan keras. namun tak urung pangeran Lingzhi dapat melihat rona merah di wajah cantik milik Alea ketika dia tadi mencium keningnya.
"Dasar wanita polos...namun aku suka dengan wajah malu- malunya dan rona merah di pipinya, membuatku susah jauh darinya . sudah cukup sebulan lebih aku jauh darinya..." seru pangeran Lingzhi dalam hati.
"Sekarang katakan padaku, ada rahasia apa yang kau sembunyikan dariku...?" tanya pangeran Lingzhi lembut.
"Hamba memiliki ruang dimensi..." kata Alea pelan.
"Apaa...ruang dimensi...! seri pangeran Lingzhi kaget.
" Stt...jangan keras- keras pangeran..." ucap Alea sambil menaruh telunjuk di bibirnya.
"Uuff..maaf...habis kau mengagetkanku Lea'er..." kata Pangeran Lingzhi pelan.
"Bukan niat hamba mengagetkan pangeran, tapi memang kenyataannya seperti itu pangeran..." jawab Alea.
"Iya aku tahu sayang...aku mepercayaimu.." ucap pangeran Lingzhi lembut.
"Hamba akan membawa anda kesana.." jawab Alea.
"kalau boleh tahu di mana ruang dimensi itu Lea'er...?" tanya Pangeran Lingzhi.
"Di dalam bandul giok ini pangeran..." jawab Alea sambil memperlihatkan kalung yang melingkar di lehernya , dengan bandul giok hijau.
"Tapi tanpa seijin hamba, tidak akan bisa siapapun masuk kedalamnya pangeran..." kata Alea lagi.
"Benarkah...?" ucap pangeran Lingzhi.
"Kalau tidak percaya sekarang coba anda usap kalung ini, mungkin anda bisa..." kata Alea lagi.
"caranya..." tanya pangeran Lingzhi.
Pangeran Lingzhi pun menuruti kata Alea dengan wajah tegang, namun sampai lama mengusap, pangeran Lingzhi tetap berada di depan Alea.
"Kok tidak bisa sayang...?" tanya pangeran Lingzhi .
"Karena itu hamba tadi bilang, tanpa hamba tidak akan bisa seseorang masuk kedalamnya. coba sini tangan pangeran, dan pejamkan mata yang Mulia...." kata Alea sambil menggenggam tangan Pangeran Lingzhi, dia lalu mengusap bandul gioknya. tak lama dia sudah berada di dalam ruang dimensi gioknya. melihat kedatangan Alea dan Pangeran Lingzhi, ke empat mahluk kontrak Alea tersenyum dan berdiri di depan mereka.
"Sekarang buka mata Anda Pangeran..." perintah Alea pada pangeran Lingzhi. perlahan mata pangeran Lingzhi terbuka. dan dia terkejut bukan Main, kini di depan
mereka telah berdiri empat pria tampan yang dia tahu kalau mereka semua mahluk kontrak Alea. dan di belakang mereka , berdiri sebuah istana dengan bangunan yang teramat mega, walau istana itu tak sebesar kerajaan miliknya, namun istana itu sangatlah indah .
'
Dan di belakang istana , Pangeran Lingzhi bisa melihat bermacam - macam tanaman obat tumbuh dengan subur, juga bermacam tumbuhan bunga terlihat tertata dengan rapi. dan agak jau sedikit dia melihat pohon yang menjulang tinggi dengan daun berwarna keemasan dan buah kuning kemasan pula yang sekarang terlihat berbuah sangat lebat.
"Sayang...ini di mana..?" tanya pangeran Lingzhi heran.
"Inilah ruang dimensi bandul giok hamba yang Mulia...." jawab Alea sambil tersenyum lembut.
"Ya dewa...indah sekali tempat ini...dan apakah itu istanamu...?" tanya Pangeran Lingzhi kembali.
"Benar pangeran...dan itu pohon Buah kehidupan yang pernah yang mulia rasakan saat hamba beri...." kata Alea menerangkan .
"Ya dewa...ternyata aku bisa melihat tumbuhan itu disini...!" seru pangeran Lingzhi kagum. dia berjalan mendekati pohon kehidupan dengan wajah terkagum- kagum.
"Dan itu air terjun kehidupan, yang airnya bisa menghilangkan racun di tubuh kita, namun kita juga harus meminum penamgkal racunya..." kata Alea sambil menunjukkan air terjun kehidupan.
Pangeran Lingzhi hanya bisa terpaku dan tak bisa berbicara. dia menatap semua yang ada di dalam ruang dimensi dengan wajah kagum terpesona.
"Jika yang Mulia berkultivasi di bawah air terjun, anda akan lebih cepat mendapatkan tenang atau Qi lebih banyak. di Alam sini hawa Qi dan Mana nya masih cukup banyak yang mulia. anda bisa berkultivasi di sini dengan tenang. selain Qi dan mana lebih banyak, waktu disini lebih cepat dari waktu di dunia kita.
"Benarkah...?" tanya pangeran Lingzhi kagum.
"Benar yang Mulia...jika disini Anda berkultivasi selama satu minggu, maka di alam kita hanya beberapa jam saja.." jawab Alea. Pangeran Lingzhi hanya bisa menggelengkan kepalanya karena kagum. tak lama dia menatap Alea denga penuh kekaguman.
"Lea'er...terimakasih kau telah mempercayaiku....!" Seru pangeran Lingzhi sambil memeluk erat Alea. tentu saja perbuatan pangeran Lingzhi tidak di duga Alea . dia kembali terkejut dan kaku. sedang keemapat mahluk kontrak Alea hanya bisa tersenyum lucu melihat reaksi Alea.
"Pangeran....!" seru Alea.
"Sayang..trimakasih, trimakasih telah mempercayaiku, trimakasih telah mau menerimaku, lalu kapan kau mau kita segera bertunangan...?" tanya pangeran Lingzhi menodong. tentu saja Alea kaget.
"Benar Lea'er..kau harus cepat- cepat mengadakan pertunangan dengan pangeranmu, ..." kata Eagle.
"Baiklah, aku akan memikirkan itu, berikan hamba waktu untuk berfikir yang Mulia..." kata Alea.
"Baiklah..tapi jangan lama- lama sayang.." kata pangeran Lingzhi.
"Iya...ya sudah ayo kita keluar dulu, bukankah kita akan melaporkan kedatangan kita pada guru besar...?" kata Alea sambil menatap wajah pangeran Lingzhi.
'Tapi bolehkah aku berkultivasi di sini... aku ingin mencobanya, aku merasakan memang di sini Mana dan Qi sangat banyak..." kata pangeran Lingzhi sambil menatap sang kekasih.
"Boleh...setelah kita pulang dari ruang guru besar .." jawab Alea.
merekapun segera keluar dari ruang dimensi . sesampainya di kamar Alea, Alea berkata kepada pangeran Lingzhi.
"Pangeran...apa boleh hamba bertanya..?" tanya Alea pelan.
__ADS_1
"Ada apa Lea'er..kau ingin menanyakan apa...?" tanya Pangeran Lingzhi sambil tersenyum.
"Kalau hamba boleh tahu...mahluk apa yang sekarang menjadi hewan kontrak anda..sebab kata kakek Jun, hewan kontrak yang anda miliki adalah hewan kontrak terhebat dan terkuat di bumi ini..?" kata Alea pelan.
"Kau ingin mengenal mereka...?" tanya pangeran Lingzhi sambil tersenyum.
Alea menganggukan kepalanya.
"Tapi jangan sampai jatuh cinta pada mereka, karena kau hanyalah milikku satu- satunya, tidak akan kubiarkan siapapun mengambilmu dariku,..." kata pangeran Lingzhi posesif .
"Ck..dasar sukanya minum cuka...mana mungkin hamba jatuh cinta pada mahluk kontrak yang Mulia, andai hamba mau gege- gege hamba semuanya tampan- tampan..." jawab Alea kesal.
Mendengar perkataan Alea, Pangeran Lingzhi tertawa keras. Dia mengacak rambut Alea gemas.
"Aku tahu itu sayang...kau gadis yang tak mudah tergoda juga tak mudah jatuh cinta, karena itulah aku sangat bangga menjadi kekasihmu..." kata Pangeran Lingzhi lembut.
"list...kenapa sekarang pangeran Lingzhi pandai sekali bermulut manis..?" ucap Alea sambil mengerucutkan bibirnya. tingkah Alea , membuat pangeran Lingzhi gemas.ingin rasanya dia mencium bibir merah mereka yang sedang menggoda di depannya.
"Kau menggodaku sayang...?" tanya pangeran Lingzhi sambil mendekatkan mukanya.
""Pangeran...mana ada hamba menggoda pangeran...!" seru Alea kesal. dia menjauhkan wajahnya dari pangeran Lingzhi dengan wajah kesal. dan pangeran Lingzhi kembali tertawa melihat tingkah sang kekasih.
"Baiklah nanti akan aku kenalkan kau dengan mereka, setelah kembali dari ruang guru besar...oh ya Lea'er..demi keselamatanmu, jangan kau katakan masalah bandul giok ini pada supapun , " kata putra Mahkota Lingzhi serius.
"Baik yang mulia..." jawab Alea.
"Selain diriku, siapa yang oernah datang kesana...?" tanya Pangeran Lingzhi.
"Kak Mimi pangeran...saat itu hamba sedang melatih dirinya..." jawab Alea.
"Ya sudah...sekarang jangan kau katakan lagi soal bandul itu pada siapapun.." ucap pangeran Lingzhi .
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi..." ajak Alea.
mereka segera keluar untuk menuju ruang guru besar. ketika sampai di luar kamar, terlihat Jihao, Guansi dan Lian Han sedang menunggu sang pangeran keluar dari kamarnya, namun ketika mereka melihat pangeran Lingzhi keluar dari kamar Alea, mereka bertiga kaget.
Mereka fikir sang pangeran ada di dalam kamarnya.
"Lo...kalian berdua dari mana...?" tanya Lian Han dengan wajah bingung.
"Dari kamar Alea gege..." kata Alea dengan tenang.
"Mana mungkin...aku barusan maaf masuk kedalam kamarmu, tapi kalian berdua tidak ada...?" tanya Lian Han dengan wajah heran. mendengar perkataan Lian Han, pangeran Lingzhi dan Alea saling berpandamgan.
"Oo..barusan aku dan Lea'er baru keluar lewat jendela...ada sedikit urusan yang harus kami lakukan..." kata Pangeran Lingzhi dengan tenang.
"Benarkah...?apa benar Lea'er...?" tanya Lian Han tak percaya.
"Be..benar gege...aku dan Putra Mahkota pergi sebentar menyelesaikan suatu urusan..." jawab Alea, walaupun sempat tergagap.
"Ya sudah, ayo kita pergi keruang guru besar..." kata Lian Han lagi.
"Tapi gege...kak Mimi belum datang .." kata Alea sambil memandang jalan yang biasanya Mimi Lalui. namun tak lama terlihat Mimi dari jauh.
"itu Mimi sudah datang..." seru Jihao .
"Ya sudah ayo kita pergi..." ajak pangeran Lingzhi sambil menggandeng tangan Alea. melihat tingkah pangeran Lingzhi, Guansi dan Jihao tersenyum saling pandang. merekapun segera pergi ke ruang guru besar. mereka berjalan bersama di sepanjang koridor perguruan, dan bisa kalian tebak, mereka jadi pusat perhatian para murid, apalagi Alea sudah menjadi buah bibir bagi murid perguruan, karena dialah perguruan Calang menjadi juara pertama di kompetisi antar cabang perguruan di tiga benua. walaupun Putra Mahkota Fang juga andil, karena dia juara ketiga. Alea mendapatkan tatapan iri, bangga, juga marah dari para gadis yang ada di perguruan itu, mereka iri karena kemampuan Alea yang cukup tinggi di segala bidang hingga kompetisi Alkemia pun Alea jadi juaranya, hingga hadia yang mereka terima sangat bermanfaat bagi murid perguruan, mereka iri, kenapa mereka tidak sejenius Alea, namun mereka juga bangga dan senang pada Alea, karena dengan kejadian itu, perguruan mereka akan menjadi perguruan yang terbaik di benua barat ini maupun benua lain. sedang bagi mereka yang berhati jahat, mereka marah karena Alea menjadi pusat perhatian semua murid pria yang ada di perguruan ini, apalagi melihat kedekaran Alea dengan putra Mahkota, mereka belum tahu kalau Alea adalah calon putri Mahkota, gimana nanti kalau mereka tahu ya..๐ค๐คSedang dari murid pria, terlihat mereka menatap Alea dengan tatapan bangga, takjub , dan mendamba, melihat pada Alea . semua itu tak luput dari mata hitam milik sang Putra Mahkota. terlihat wajah merah sang pangeran ketika melihat tatapan dari beberapa siswa pria yang berpapasan dengan mereka . dengan posesif pangeran Lingzhi menggandeng tangan Alea .
Melihat tingkah sang pangeran, Alea bertanya.
"Ada apa yang Mulia.." tanya Alea sambil memandang wajah pangeran Lingzhi yang memerah.
"Tidak ada..." jawab Pangeran Lingzhi datar.
"Lalu kenapa wajah pangeran Memerah...?apa pangeran sakit..?" tanya Alea sambil memegang kening sang pangeran .
"Tidak panas...." gumam Alea.
"Aku tidak Apa- apa.." kata sang putra Mahkota. sedang Guansi dan Jihao yang ada di belakang mereka menahan senyum mereka, mereka tahu kalau pangeran Lingzhi sedang cemburu pada siswa perguruan calang yang menatap Alea dengan sorot mata yang membuat cemburu junjungan mereka.
"Putra Mahkota...kenapa semakin lama anda semakin mudah cemburu..." seru Guansi sambil tertawa dalam hati.
(Ha ha ha...ternyata pangeran Lingzhi terkena penyakit bucin akut tu ๐ ๐ )
untunglah mereka telah sampai di ruang guru besar. ketika sampai di sana, terlihat di depan pintu ruangan guru, kedua murid guru besar juga Senior Alea sedang berdiri menjaga pintu .
"Hanpey...kau sudah datang...?" seru Mereka berdua hampir bersamaan,
"He he...iya kak...apakah guru ada...?" tanya Alea ramah.
"Ada...itu didalam bersama guru besar Lao dan ada lagi satu orang tamu entah dari mana..." jawab Lhipo .
"Waah kalau begitu lebih baik kami kembali dulu kak..." kata Alea. namun terdengar suara dari dalam.
"Lhipo...ada siapa di luar...?" terdengar suara guru Juan dari dalam ruangan.
"Maafkan kami guru, maaf kami mengganggu guru..ini adik Hanpey telah datang, dia ingin menghadap guru..." kata Lhipo dengan wajah menyesal.
"Apaa...Hanpey telah datang...?" terdengar suara guru Juan berseru kaget.
"Benar guru...Hanpey datang bersama putra mahkota..." jawab Lhipo lagi.
tiba- tiba pintu terbuka, dan terlihat duru Juan keluar dan memukul kepala Lhipo pelan.
"Selamat sore guru..." sapa mereka bersamaan.
"Sore..." seru guru juan sambil tertawa gembira.
"Bodoh...kenapa kau tidak menyuruh mereka masuk...mari pangeran, Hanpey dan kalian semua masuk...dasar murid bodoh...!" seru guru Juan kesal. mereka yang sudah berhari- hari menunggu Alea datang, dan dia datang dengan Putra mahkota, bisa- bisanya mereka berdua malah ingin mengusir mereka kembali ke kamar mereka.dasar bodoh...pekik guru Juan dalam hati.
"Ayo silahkan duduk..." kata guru Juan sambil menyuruh mereka ber enam untuk duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Kapan kalian datang...?" tanya guru Juan lagi.
"Tadi siang guru... maaf kami mandi dulu baru datang kemari guru..." jawab Alea .
"Nggak jadi masalah... aku melihat kalian sudah datang dengan selamat, guru sudah bahagia melihat itu semua nak.." kata guru juan dengan wajah bahagia.
"Gimana perjalanan kalian..." tanya guru Juan lagi.
"Kami baik- baik saja guru..." jawab Alea kembali.
Maaf segini dulu ceritanya ya...kita lanjut besok lagi. dan jangan lupa like, vote dan komennya selalu aku tunggu.
Bersambung.
__ADS_1