
Satu minggu sudah Alea berada di sekte Tiangzi.Kedua kakeknya memanjakan Alea dan Lian Han dengan semua kasih sayang mereka . Namun hari ini mereka haris pulang kebenua barat , karena seorang putra mahkota mana bisa terlalu lama pergi dari kerajaan terlalu lama kalau bukan tugas negara. Pagi- pagi sekali Alea dan Mimi sudah mengemasi barang milik mereka untuk bersiap diri meninggalkan Sekte Tiangzi.
" Kak...biarkan aku menaruh barangmu di cincin ruangku...." kata Alea pada Mimi.
"Nggak usah Lea'er.. Kalau kau bawa barangku lalu aku harus bawa apa...?" jawab Mimi.
" Ya sudah kalau itu mau kakak..ayo kita keluar, kita harus berpamitan pada kakek Jing Hao dan kakek Bing Hu serta para tetua...." ajak Alea.
"Ayo...." jawab Mimi sambil berjalan di belakang Alea . Merekapun segera keluar dari kamar tempat mereka tidur selama berada di sekte Tiangzi . Ketika Alea membuka pintu , ternyata Lian Han dan pangeran Lingzhi ada di depan pintu mereka.
"Gege...kau di sini...?" tanya Alea sambil memandang kedua pria itu bergantian.
"Aku fikir kau belum selesai...?" kata Lian Han.
" Sudah kok... Ayo kita keluar menemui kakek dan para tetua..." jawab Alea .
Mereka segera berjalan keluar istana. Namun ketika mereka sampai di ruang tamu istana kediaman kakek Jing Hao, mereka melihat Kakek Jing Hao dan kakek Bing Hu telah duduk bersama beberapa tetua dan kedua pengawal pangeran Lingzhi di kursi ruang tamu , Alea dan Rombongan segera mendekati tetua agung atau kakek Jing Hao untuk berpamitan .
"Nak...sering datang kemari...jangan lupa bawa Ayahmu serta, kakek ingin bertemu dengan menantu kakek yang telah memberi kakek cucu yang tampan dan cantik seperti kalian. Kakek ingin berterimakasih pada Ayahmu..." kata Kakek Jing Hao lembut.
"Baik kek...kalau ada waktu kami akan kembali kesini bersama Ayah..." jawab Lian Han sambil memeluk kakek Jing Hao dengan sayang .
Setelah itu dia juga memeluk kakek Bing Hu . Sedang Alea mendekati kakek Jing Hao.
"Jaga kesehatan Kakek hingga Alea pulang kembali kemari, Alea tak ingin mendengar kakek sakit..." kata Alea lembut.
"Tentu nak...kakek masih ingin melihat dirimu lagi, kakek juga ingin melihat cicit kakek, jaga diri baik- baik, kau sekarang adalah pemilik dari sekte tiangzhi ini ingat itu..." kata kakek Jing Hao mengingatkan Alea.
"Iya kek... Kalau nanti ada liburan , Alea akan datang kemaren bersama Ayah, .." jawab Alea. Dia segera memeluk tubuh sang kakek walau sudah tua tapi terlihat masih segar. Tak lupa dia juga memeluk kakek Bing Hu. Kakek Jing Hao juga menitipkan Alea pada pangeran Lingzhi. Tentu saja pangeran Lingzhi bahagia karena sudah mendapatkan lampu hijau dari sang kakek. Setelah berpamitan pada semua orang Alea meninggalkan sekte Tiangzi diiringi tatapan dari semua murid Tiangzi yang sudah tahu siapa Alea.
Setelah itu mereka segera melakukan perjalanan kembali ke kerajaan Shi, kembali ke benua Barat tempat perguruan mereka berada. Mereka menouh perjalanan dengan hati bahagia. Apalagi pangeran Lingzhi, Dia sangat bahagia menempuh perjalanan ini dengan gadis yang teramat dia cintai berada di sisinya.
Namun kegembiraan mereka tergangu, saat Alea dan rombongannya melalui hutan yang terletak sudah agak jauh dari perguruan Tiangzi , tiba- tiba mereka di hadang oleh beberapa orang yang berpakaian serba hitam dengan wajah sangar dan bengis, sebagian juga memakai penutup kepala.
Melihat keberadaan mereka, pangeran Lingzhi segera lebih mendekat ke Alea, terlihat sikap melindungi terlihat dari sikap pangeran Lingzhi. dia tak ingin terjadi apapun pada sang kekasih. dan dia tahu kalau di balik pepohonan masih banyak para penjahat itu bersembunyi.
"Berhenti ..!" seru salah satu dari mereka dengan nada kasar .
Alea dan rombongan segera menghentikan laju kuda mereka. Terlihat Jihao , Llan Han dan Mimi berada di belakang , Guansi, pangeran Lingzhi dan Alea .
"Siapa kalian..." tanya Jendral Guansi yang berada di sebelah pangeran Lingzhi dengan nada keras .
"Tak perlu tahu siapa kami, serahkan harta milik kalian dan kedua wanita itu.." kata salah satu dari mereka dengan wajah sombong .
"Oo..kalian ingin merampok kami...?" tanya Guansi lagi.
"Terserah apa kata kalian, pokoknya tinggalkan harta dan wanita yang bersama kalian itu..." kata pria itu dengan wajah sinis.
"Kalau kami tidak mau...?" kata Guansi dengan nada mengejek.
"Kami akan membunuh kalian, .." jawab Pria itu.
"Apakah kalian mampuh.....?" tanya Guansi mengejek .
"Sombong...kalian hanya berlima, apa yang akan kalian lakukan menghadapi kami yang jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak dari kalian...?" ejek pria itu,
"Banyak omong ...kalau kalian mampuh rebut mereka dari tangan kami...!."seru
Guansi marah.
"Brengsek ..bunuh mereka..dan jangan sampai dua gadis itu terluka..." seru pria tadi , sepertinya dia pemimpin dari gerombolan itu. Mereka pun akhirnya terlibat dalan satu pertempuran, untuk mempercepat menyelesaikan urusan dengan pria- pria itu , Alea dan Pangeran Lingzhi ikut bertempur. namun hanya beberapa menit saja, mereka banyak yang tumbang, Melihat kejadian itu teman- teman mereka yang berada di balik pepohonan mulai bermunculan untuk membantu teman mereka, namun mereka kewalahan menghadapi keenam orang - orang itu, hingga akhirnya keluar dua orang pria dan satu wanita dari dalam gelapnya hutan.
"Lea'er...hati- hati, aku merasakan. Aura hitam pada pria yang memakai baju hitam, dan pria yang ada di dekat wanita yang baru datang itu.." kata Eagle dari ruang dimensinya .
"Gege jangan kawatir, aku juga merasakan aura kejahatan dari mereka bertiga. ..." jawab Alea.
Melihat kedatangan mereka bertiga. Para penyerang tadi menghentikan serangannya . mereka memberi salam pada pria yang memakai pakaian hitam.
"Hormat kami yang mulia..." seru para penyerang pada pria berbaju hitam.
"Bangunlah..." jawab pria itu sambil menatap pada rombongan Alea.
"Hanya mengalahkan enam orang ini saja kalian tidak mampu, dasar tak berguna...!"serunya marah.
__ADS_1
"Maafkan kami yang Mulia..." jawab mereka serempak.
"Dasar bodoh...! Waah ...ternyata kalian kuat juga ya....? Zheng Rua...yang mana keponakanmu...?" tanya pria berbaju hitam sambil menatap Alea dan Mimi bergantian dengan wajah sinisnya .
"Aku juga tidak tahu...tapi melihat wajahnya yang hampir mirip dengan adikku. pasti gadis yang tercantik itu keponakanku..." kata pria berbaju coklat yang berada di sebelah pria itu.
"Ha ha ha...ternyata keponakanmu cantik sekali Zheng Rua, andai dia tidak diinginkan Raja kegelapan, sudah pasti aku akan mengambilnya sebagai Selirku, sayang sekali..." kata pria berbaju hitam dengan mata menatap Alea mesum .
"Lea'er..mungkinkah dia pamanmu itu..?" tanya pangeran Lingzhi pada Alea pelan.
"Hamba juga tidak tahu pangeran, tapi sepertinya memang dia..." jawab Alea.
"Hey gadis cantik...kalau kau tidak menginginkan teman- temanmu mati, maka kemarilah dan ikutlah dengan kami tanpa banyak perlawanan...!" seru pria itu sombong.
"Kalau aku tidak mau...?" jawab Alea sinis.
"Teman- temanmu akan mati, ..." jawab pria itu.
"Ist...kenapa anak buah dan bosnya sukanya mengancam, kalau kalian memang mampu , lakukan saja jangan banyak omong..." kata Alea kesal.
"Sombong...! Kalau kau bukan gadis yang diinginkan sang Raja, sudah ku bunuh kau...!" seru pria berbaju hitam dengan marah .
"Ha ha ha...apakah semudah itu kalian akan menangkapku dan membunuhku .?" kata Alea sambil tertawa mengejek,
"Brengsek ...! Bunuh mereka semua kecuali gadis itu. ..." seru pria itu marah.
Pertempuran kembali terjadi, kini, pangeran Lingzhi bertempur sambil mendekati pria berpakaian hitam, sedang Alea mendekati sang paman yang bertempur bersama wanita yang terlihat cukup cantik walau terlihat genit. Sejak tadi dia selalu menatap pangeran Lingzhi yang berada di dekat Alea dengan wajah kagum dan terpesona, Saat Alea sudah berhadapan dengan sang paman dan wanita itu, Alea berucap.
"Selamat berjumpa paman...ternyata kau telah mengetahui kehadiranku...?" kata Alea dingin. Saat sang paman menatap wajah Alea dari dekat, dia merasakan sedikit ada getaran di dalam hatinya. Namun kemarahan menutupi rasa yang ada di dalam hatinya.
"Ayah...dia kah putri dari bibi Mai Li..." tanya wanita di sebelah sang paman dengan nada sinis . mendengar perkataan wanita itu Alea menyadari kalau gadis itu putri sang paman.
"Sepertinya dia memang putri dari Mai Li..." kata Zheng Rau dengan wajah kesal menatap Alea.
"Kalau gitu kita akan manangkapnya Ayah... Bagaimana kalau kita meminta Cici untuk membantu kita..." seru gadis bergaun merah itu .
"Bagus nak panggil dia..." kata sang Ayah. Terlihat gadis itu bersuit nyaring, Tak lama terdengar kepakan sayap dan suara nyaring di udara.
Kaaaak.....
"Kalian ingin menangkap ku dengan bantuan burung itu...?" tanya Alea .
"Kenapa ...? Kau takut...?" tanya wanita berbaju merah dengan angkuh. Alea menyadari kalau gadis itu masih saudaranya, saudara sepupu putri sang paman yang sekarang ada di depannya .
"Apakah dia berani menangkap ku...?" tanya Alea dingin.
"Ternyata kau sombong sekali, atau ini trikmu untuk menutupi ketakutanmu ..?" seru gadis itu menghina.
"Baik...karena kau memanggil mahluk peliharaanmu, maka aku akan memanggil mahluk kontrakku, dan dengan berakhirnya perkataan Alea, tiba- tiba di sebelah Alea telah berdiri Eagle dengan gagahnya. Eagle yang berwajah tampan gagah dan cuek berdiri di sebelah Alea dengan wajah dinginnya. Melihat kehadiran Eagle terlihat wajah gadis itu berbinar, namun perlahan wajah itu terlihat kesal. Dia sangat kesal dan iri melihat Alea di kelilingi pria- pria tampan .
"Nach Ayo kita mulai permainan kita..." kata Alea dengan tenang.
Mendengar perkataan Alea gadis berbaju merah itu kesal. Dia segera bersuit kembali , dan elang hitam itu segera menukik kearah mereka, namun saat melihat Eagle tiba- tiba dia turun dan menunduk dengan hormat tanpa bergerak,
"Cici...hajar pria itu, dan tangkap gadis di sebelahnya. ..." seru gadis berbaju merah . namun bukannya menyerang, hewan itu tetap merunduk dan tak bergerak sama sekali. Terlihat elang besar itu merasa ketakutan, dia menaruh kepalanya di atas tanah.
'Hey Cici...apa yang kau lakukan...? Serang dia dan tangkap gadis itu...!" seru gadis berbaju merah marah. Namun kembali sang elang tidak berkutik. Baru pada saat Eagle berkata.
"Pergi...dan jangan pernah kembali, atau kau akan merasakan akibatnya..." seru Eagle dengan wajah dinginnya. Mendengar ucaoan Eagle dengan cepat si elang terbang membumbung tinggi dan tak lama hilang dari pandangan mereka.
Melihat kelakuan elang peliharaannya , gadis berbaju merah itu marah, dia kembali bersuit, namun elang itu tidak kembali. Hingga beberapa kali dia lakukan, namun sang elang tidak kembali juga,
"Sialan ...apa yang kalian lakukan pada elangku...?" seru gadis itu marah.
"He he he...bukankah aku tadi sudah bilang, apakah burung peliharaanmu mampuh menangkapku ..." kata Alea sambil tertawa.
"Brengsek..Ayah, ayo kita keroyok gadis sombong ini...!" seru gadis itu marah. dia segera menerjang Alea dengan pukulan beruntun, begitu juga dengan sang Ayah, mereka mengeroyok Alea dengan nafsu ingin membunuh.
"Gege...sepertinya aku mampuh melawan mereka berdua, gege tolong saja gege Lian dan kak Mimi serta dua pengawal pangeran Lingzhi dari anak buah mereka ini, sepertinya mereka mengerahkan banyak anak buah mereka untuk menangkapku, biarkan aku bersama gege White di sini, kalau bisa gege Lauyan dan gege Xiao Bai keluar agar cepat selesai..." kata Alea di dalam telepatinya
"Baik Lea'er..." jawab mereka serempak. Maka segeralah Lauyan Dan Xiao Bai keluar dari dalam ruang dimensi, sedang White yang sejak tadi melingkar di pergelangan tangan Alea, tetap melingkar di sana dengan manisnya .
Alea segera berhadapan dengan kedua orang yang masih saudaranya itu. Dia melihat mereka menyerangnya dengan penuh nafsu membunuh. Namun dengan mudahnya Alea menghidar dari serangan kedua orang Ayah dan anak , malahan mereka berdua sering mendapatkan pukulan atau tendangan dari Alea. Dengan sangat marah akhirnya gadis berbaju merah segera mengeluarkan pedangnya yang berada di pinggangnya. Begitupun dengan sang Ayah , mereka mengeluarkan pedang mereka bersama- sama . Dan Alea dapat melihat pedang yang ada di tangan sang paman , terlihat mengeluarkan aura gelap . Alea tahu kalau itu adalah aura iblis dan memiliki racun yang teramat keras. .
__ADS_1
"Lea'er...hati- hati, pedang itu memiliki aura gelap dan beracun..." kata White dalam teleoatinya dengan Alea.
"Aku tahu gege...apakah kau masih mampu menyerap racun dari pedang itu..?" tanya Alea .
"Jangan khawatir... Sepertinya itu racun dunia gelap, dan itu mudah di atasi ..." jawab White tenang.
"Baguslah..." melihat itu Alea segera mengeluarkan pedang salju yang ber aura dingin itu. Saat melihat pedang Alea, sang paman dan putrinya kaget.
"Pedang salju....!" serunya dengan wajah kaget . Dia tak menyangka keponakan perempuan nya mampuh memiliki pedang yang sangat di cari oleh banyak pendekar itu.
"Ayah...dia memiliki pedang salju..." seru sang putri.
"Tenang putri ku...kalau kita bisa menangkapnya atau membunuhnya, maka pedang itu akan menjadi milikmu..." kata sang Ayah meyakinkan sang putri.
"Benarkah Ayah..." kata wanita berbaju merah itu dengan gembira .
"Jangan khawatir, yang penting sekarang kita harus bisa memuat dia kalah atau mati..." kata Zheng Rau dengan wajah penuh kebencian.
"Baik Ayah...ayo kita tangkap dia, atau kita bunuh dia..." seru sang putri.
"Baik ayo..." seru sang Ayah. Mereka kembali menyerang Alea, pertarungan sengit pun kembali terjadi, tiga pedang berkelebat dengan cepat. Dan tiba- tiba pedang milik Zheng Rau mengeluarkan Asap hitam dan asap itu menghantam kearah Alea. Dengan cepat Alea mencoba menggunakan ilmu yang dia dapat dari kakek Jun. Dia mengalirkan hawa panas pada lengan kanannya , dan segera dia salurkan kekuatan itu pada pedang salju yang dia pegang. Terlihat pedang salju mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Dan saat kekuatan pedang salju bertabrakan dengan kekuatan hitam milik Zheng Rau, terdengar ledakan yang sangat kuat di udara , hingga terlihat asap mengepul di udara menutupi Alea dan pamannya . Mendengar suara ledakan itu semua orang terdiam. Tak lama setelah asap hilang dari udara, mereka melihat Alea berdiri dengan gagahnya , sedang Zheng Rau terlihat membungkuk dan terbatuk serta mengeluarkan darah seteguk dari mulut nya.
'Ayaaah..." seru sang putri kaget melihat sang Ayah mengeluarkan darah dari mulutnya. Dia berlari mendekati Zheng Rua yang masih terbungkuk menahan sakit di dadanya . Sedang Zheng Rua menatap Alea penuh kemarahan.
"Kau ternyata kuat juga gadis sialan...!' serunya dengan marah.
"He he he..kau masih ingin melawan dan membunuhku paman....?" ejek Alea dengan wajah sinis.
"Kaaaauu...gadis brengsek, akan ku bunuh kau...!" seru sang putri dengan wajah merah karena marah menatap Alea dengan kebencian mendalam .
"Jangan putriku, biarkan Ayah membunuhnya sekarang. dasar gadis sialan, aku tak akan segan lagi membunuhmu, sekarang trimalah kematianmu , Susul ibumu kealam akhirat...!" serunya Marah.
"Baik Ayah...bunuh dia Ayah....!" seru gadis berbaju merah dengan marah. dia segera menyingkir dari tempat itu, karena sang Ayah akan mengeluarkan racun yang sangat mematikan bagi manusia.
"Gege kau siap...?" tanya Alea pada White.
"Siap sekali Lea'er...karena racun ini sangat aku tunggu.." jawab White gembira .
Tak lama terlihat tangan Zheng Rau mengeluarkan Asap tebal dari telapak tangannya . melihat itu Alea hanya memandang sang paman dengan wajah tenang,
Sedangkan saat itu Pangeran Lingzhi sedang bertarung dengan pria yang ternyata seorang Raja yang bergabung dengan Raja iblis, dia mendapatkan kekuatan sepenuhnya dari si Raja iblis.
Namun Pangeran Lingzhi bukannya takut, dia malah mempermainkan Raja itu. saat dia sedang bertarung, dia melihat Alea yang sudah mengalahkan sang paman, dan kini dia melihat Zheng Rua mengeluarkan ilmu racun yang berasal dari kegelapan , Dia kaget saat melihat Alea dengan tenang menghadapi ilmu sang paman.
"Sayang...hati- hati...!" seru pangeran Lingzhi dengan cemas..
"Jangan khawatir pangeran...aku sudah siap kok..." jawab Alea tenang .
Melihat itu pangeran Lingzhi hanya bisa tersenyum gemas.
"Dasar gadis nakal...bukannya takut malah bersikap tenangdan santai ...." seru pangeran Lingzhi dalam hati.
"Pangeran busuk...jangan perdulikan orang lain, perdulikan dirimu sendiri. sekarang terimalah kematianmu...!" seru sang Raja marah, melihat pangeran Lingzhi menyepelehkan dirinya.
"Ha ha ha...kenapa kau marah...? kalau kau bisa membunuhku lakukan saja...!" ejek pangeran Lingzhi membuat sang Raja semakin marah. akhirnya pancingan pangeran Lingzhi untuk membuat Raja tersebut marah berhasil. dengan penuh emosi dia menyerang pangeran Lingzhi. denga kemaranahnya itu, serangannya jadi tak terkontrol , dengan kemarahan di dalam dadanya, dia menyerang pangeran Lingzhi membabi buta . Tindakan itu merugikan dirinya sendiri . akhirnya pangeran Lingzhi mendapat cela untuk menghantam dia dengan kekuatan yang pangeran Lingzhi miliki . dan saat cela itu ada, dia segera menghantam dada sang Raja secara telak hingga dia terhempas secara keras menghantam sebuah pohon hingga memuntahkan darah dari mulutnya .
Bersamaan saat itu Alea di serang oleh sang paman dengan kabut hitam dari tangannya. saat kabut itu akan di hantamkan padaAkra , tiba- tiba kabut hitam itu tersedot kearah tangan Alea yang terangkat mengarah kearah kabut hitam yang berada di telaoak tangannya . melihat kejadian itu, paman Alea tertegun dan heran , Dia marah sekali . kemudian dia mengulangi lagi perbuatannya. namun lagi- lagi kabut itu hilang tersedot kearah tangan Alea.
"Kenapa paman...kau kaget...?" tanya Alea tenang.
"Dasar pe****r sialan...rasakan ini..." serunya sambil kembali menyerang Alea dengan pedangnya . namun karena dirinya telah terluka cukup parah dan kehabisan tenaga, akhirnya dengan mudah Alea bisa menghindari terjangan sang paman dengan pedangnya. Malah dengan tendangan memutar kaki kanannya dia bisa melepas pedang yang ada di tangan Zheng Rua, dan di susul Kaki kiri menghantam kembali dada sang paman hingga jatuh terhempas menghantam pohon juga.
Zheng Rua Sah kembali memuntahkan darah dari mulutnya. Melihat sang Ayah kembali jatuh dan terlihat terluka parah, gadis baju merah semakin marah, dia segera menyerang Alea dengan kemarahannya. dia menyerang Alea dengan pedang miliknya. Dia tak perduli lagi dengan keselamatannya, yang ada di otaknya hanyalah membunuh Alea. namun sayang , dengan mudahnya Alea membuat dia jatuh terkapar tak sadarkan diri di dekat sang Ayah. Terlihat wajah Zheng Rua memerah karena marah, namun dia tidak bisa bergerak.
"Walaupun dulu kau ingin membunuh ibuku , Ingin menghilangkan nyawa ibuku karena keserakahanmu, namun hari ini kau kumaafkan paman, bagaimanapun juga kau masih kerabatku . pamanku satu- satunya. namun ingat , jika kita sempat bertemu kembali dan kau masih tidak menyadari kesalahanmu dan masih ingin membunuhku, jangan salahkan aku jika akulah yang akan membunuhmu..." ucap Alea dingin. Alea menatap sang paman dengan wajah sedih.
Melihat para pemimpin mereka jatuh , dan taknbisa bangun lagi, mereka para pengikutnya berhenti dan tidak melawan lagi. Melihat itu, Alea menatap pangeran Lingzhi.
"Kita lanjutkan perjalanan....?" kata Alea.
"Ayo sayang..." jawab pangeran Lingzhi sambil mengusap peluh di wajah Alea dengan ujung lengan bajunya. sedang ketiga mahluk kontraknya telah kembali kedalam ruang dimensinya.
Terlihat mayat atau pun orang yang terluka berserakan di sekitar mereka. mereka segera pergi dengan menaiki kuda mereka . Sedang Zheng Rau Sah dan Raja teman koalisi Zheng Rau hanya bisa menatap kepergian mereka dengan tatapan, marah, kesal, juga kagum. Zheng Rau tidak pernah menyangka kalau sang adik memiliki seorang putri yang teramat kuat . Dia tidak tahu kalau sang adik memiliki dua orang anak , anak laki- laki dan perempuan, yang dia tahu dan dia dengar kalau sang adik hanya mempunyai seorang putri. dan kini dia mengetahui kekuatan putri sang adik. Dia iri, marah, benci dengan sang adik, mengapa harus sang adik yang memiliki putri yang secantik dan setangguh itu. kenapa bukan dia...!
__ADS_1
Maaf..ceritanya segini dulu ya..author lanjut besok lagi, tapi author minta jangan lupa like, vote dan komennya ya... author juga mengucapkan banyak - banyak terimakasih pada para pembaca yang telah sudi memberi kritik, saran , serta komentar agar membuat author lebih bisa menulis cerita dengan lebih baik lagi. trimakasih 🙏🙏🙏