PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.

PENGAWAL KESAYANGAN RAJA.
KESEMBUHAN PUTRI ASUYA .


__ADS_3

Sepertinya Raja We sudah putus asa dengan penyakit sang putri. Melihat semua itu Alea terdiam. Ada Rasa haru di dalam hati Alea saat melihat Raja Saujin mengorbankan harga dirinya demi kesembuhan sang Putri.


"Nak...kalau kau tidak ingin membantu, semua itu terserah padamu, walaupun Raja Saujin sahabat Ayahanda, namun yang pernah Raja Saujin sakiti adalah dirimu. Mungkin dengan kejadian ini bisa menyadarkan putri Asuya atau pun paman Saujin, kalau semua keinginan kita tak harus terwujud semua. Walaupun kita merupakan Orang yang sangat berkuasa.." ucap Raja Rong Kyu Bijak.


"Maafkan aku Putri...memang akulah yang salah, aku terlalu egois dan serakah. Aku merasa kekuasaan merupakan kekuatan terbesar untuk mendapatkan apapun yang aku inginkan, hingga aku salah mendidik putriku , maafkan aku nak..." ucap Raha Saujin dengan wajah sedih.


Melihat semua itu , Alea akhirnya luluh juga. Memang dasarnya Alea bukan gadis yang berhati batu. Melihat orang yang sudah menyadari diri salah, diapun tidak dapat terus berkata tidak.


"Baiklah paman...akan ku lihat apakah aku bisa menyembuhkan putri Paman atau tidak , Jika bisa aku akan mencoba mendapatkan obat untuk penyakitnya..." akhirnya Alea ingin memaafkan putri Asuya.


Semoga dengan kejadian ini Putri Asuya akan memiliki sifat yang lebih baik lagi.


"Apaaa...kau mau membantu menyembuhkan putriku...?!" seru Raja Saujin gembira.


"Itu kalau Paman mengijinkan...."jawab Alea .


"Tentu, tentu saja nak...tentu saja paman mengijinkannya , bukankah paman yang meminta tolong padamu..!" seru Raja Saujin bahagia. Dia terlihat meneteskan air mata karena bahagia.


Sedang Raja Rong Kyu tersenyum melihat tingkah Raja Saujin. Dia juga menatap Alea yang terlihat tenang, ada perasaan bangga pada calon menantunya itu. Sejak tadipun dia yakin kalau sang menantu pasti menolong sahabatnya itu . masih teringat di benaknya. Bagaimana putus asa dan sedihnya sang sahabat ketika dia datang tadi. Dengan menangis dia meminta maaf atas kesalahan yang dia perbuat, dan dia juga mengakui kalau dia telah mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh Alea di dunia kecil. Dan kini dia sudah mendapatkan balasan atas Kejahatannya , hingga sang putri sakit dan tak ada yang sanggup menyembuhkannya. Melihat semua itu Raja Rong Kyu bergidik atas kekuatan yang bisa Alea lakukan. Untung saja gadis yang seperti itu kini milik kerajaan Shi ini.


Sedang tabib Cheng tersenyum bangga melihat Alea yang begitu mudah memaafkan orang yang telah bersalah begitu besar padanya. Sebagai anggota Sekte Tiangzi tabib Cheng Raw sangat bangga memiliki pemimpin masa depan sekte Tiangzi .


"Baiklah paman, apakah Putri Asuya sekarang ada di sini...?" tanya Alea.


"Benar nak...dia masih ada di kereta, kami tidak berani menurunkan dia takutnya kau menolak dia..." jawab Raja Saujin.


"Kalau begitu tolong bawa dia ke ruang pengobatan Paman..saya akan menunggu di sana...."jawab Alea.


"Baik akan paman bawa dia kesana.." ucap Raja Saujin gembira.


Raja Saujin segera keluar dari ruangan setelah memberi hormat pada Raja Rong Kyu.


"Ayahanda...saya undur diri, saya akan langsung menangani putri Asuya..." kata Alea mohon diri.


"Pergilah nak...terimakasih atas pertolonganmu pada Putri sahabat Ayah. Dan Ayah juga mengucapkan Terimakasih kau telah memaafkan paman Saujin..sebenarnya dia sahabat Ayah yang paling dekat selain Raja Tan dari kerajaan Amora.


"Ayah bersahabat dengan Raja Tan...?" tanya Alea kaget.


"Iya...dan kau telah menyembuhkan putrinya kan... aku dengar kau sekarang adalah putri angkat mereka..?" tanya Raja Rong Kyu.


"Bukan Putri angkat Ayah...Raja Tan memberiku hadiah giok keluarga karena Alea tidak mau di beri uang..." jawab Alea lagi.


"Itu sama saja sayang... Secara halus mereka mengangkatmu sebagai putri mereka..." jawab Raja Rong Kyu sambil tertawa.


"Ooo...baiklah Ayah hamba mohon diri, mungkin putri Asuya sudah menunggu hamba..." kata Alea lagi.


"Pergilah..." ucap Raja Rong Kyu sambil tersenyum lembut. Aleapun segera keluar di ikuti oleh tabib Cheng Raw setelah berpamitan pada Raja Rong Kyu. Alea segera kembali bersama tabib Cheng dan kedua pengawalnya Mimi dan Zheng Bai ke rumah obat milik istana. Ketika sampai di sana terlihat kereta mulik Raja Saujin sudah berada di depan rumah obat. Ketika Alea melihat putri Asuya yang sedang di angkat oleh beberapa orang termasuk sang Ayah, Alea menyuruh Mimi menunjukkan kamar pasien yang akan di tempat oleh Putri Asuya. Saat Alea mau masuk, tiba- tiba Pangeran Lingzhi sudah ada di belakangnya bersama kedua pengawalnya.


"Salam sejahtera putra mahkota..." sapa tabib Cheng dan Zheng Bai ketika melihat kehadiran Pangeran Lingzhi.


"Hmm..." ucap pangeran Lingzhi sambil mengibaskan tangannya mengisyaratkan menerima penghormatan mereka.


Mendengar ucapan tabib Cheng dan Zheng Bai Alea membalikkan badannya.


"My Zhi...kau disini..ada apa...?" tanya Alea.


"Apakah itu Paman Saujin...?" tanya Pangeran Lingzhi dengan raut muka tak senang .


"Iya..." jawab Alea.


"Untuk apa dia kemari..." ucapnya dingin.


"Meminta tolong untuk menyembuhkan Putrinya..." jawab Alea dengan lembut.


"Dan kau mau menolongnya...?" tanya Pangeran Lingzhi pada Alea.


"My Zhi...dia telah memohon...apakah aku tega menolaknya...?" jawab Alea


Sambil memegang tangan Pangeran Lingzhi dengan lembut.


"Dasar tidak tahu malu..." umpat Pangeran Lingzhi.


"Stt..My Zhi...seorang Ayah yang sayang sama putrinya, apapun akan dia lakukan demi kesembuhan sang putri. Kelak kau juga akan seperti itu ..." hibur Alea.


"Ck...kau ini..hatimu selalu luluh jika ada orang yang menderita, biarpun dia musuhmu..." ucap pangeran Lingzhi sambil mengusap rambut Alea.


"Ya sudah aku akan pergi kesana , kau mau ikut atau pulang ke istanamu...?' tanya Alea lembut.


"Aku ikut denganmu saja .." jawab pangeran Lingzhi.


"Ya sudah ayo ikut aku ..kita lihat seberapa parah racun di dalam tubuhnya...oh ya Paman Chang..Paman bisa meneruskan pembuatan Pil yang kita buat tadi, kalau paman Mau pulang, biar kakak Zheng yang akan menemani paman pulang....' kata Alea sambil menggandeng tangan pangeran Lingzhi. sedang Pangeran Lingzhi sangat bahagia ketika sang Kekasih memperdulikannya.


"Baik putri..." ucap tabib Cheng Raw.


"Kalau gitu kami tinggal Paman.." pamit Alea.


"Silahkan Putri..." jawab tabib Cheng Raw. Mereka pun segera berjalan masuk kedalam ruang rawat putri Asuya. Ketika sampai di dalam terlihat Raja Saujin dan istrinya sedang menemani putri Asuya. Alea melihat tubuh putri Asuya terlihat sangat kurus sekali. Kecantikan yang dulu dia bangga- banggakan kini hilang sudah. Wajah penuh luka dan sebagian bernanah terlihat sangat menjijikkan .


"Selamat siang permaisuri, selamat siang putri Asuya..." sapa Alea ramah. Sedang pangeran Lingzhi terlihat berwajah dingin.


"Siang Putri Mahkota..." jawab Putri Asuya dan sang Ibu berbarengan.


"My Zhi..kau duduk saja di kursu dekat mejaku, aku akan memeriksa Putri Asuya dulu..." bisik Alea pada Pangeran Lingzhi.


"Baik sayang..." jawab Pangeran Lingzhi lembut . ucapan kedua orang itu sempat di dengar oleh Putri Asuya, walaupun dia merasa sedikit iri dan ada rasa sakit di hatinya. Namun dia sudah sadar kalau pangeran Lingzhi bukanlah untuk dirinya.


Sudah cukup kebodohan yang membuat dia menderita, Dia melihat pangeran Lingzhi berjalan dan duduk di kursi yang ada di dekat meja kerja milik Putri Alea.


Sedang Alea sendiri segera berjalan kearah Putri Asuya.


"Bileh aku memegang tanganmu..?" tanya Alea kembut.


"Kau tidak jijik...?" tanya Putri Asuya yang memberikan tangannya dengan ragu.

__ADS_1


"Kau pasienku...tentu saja aku tidak akan jijik.." jawab Alea ramah. Setelah itu terlihat Alea memeriksa denyut nadi putri Asuya .


"Sejak kapan kau terkena penyakit ini...?' tanya Alea ramah .


"Sepulang kita dari dunia kecil...." jawab Putri Asuya terlihat dia mulai ingin menggaruk tubuhnya .


"Apa gatal sekali...?" tanya Alea dengan wajah tenang.


"Sangat Putri....sangat gatal dan sakit..?" kata putri Asuya dengan wajah kesakitan..


"Aku periksa dulu ya....?" kata Alea lagi. Dia mulai melihat mata dan luka- luka di tubuh Putri Asuya.


"Putri...apakah kau ingin sembuh...?" tanya Alea lembut.


"Tentu saja putri...aku ingin sembuh dari penyakit ini. Walaupun aku tahu ini teguran dari dewa atas sikapku selama ini, tapi aku juga ingin sembuh , aku juga ingin terbebas dari siksaan ini Putri..." jawab Putri Asuya dengan wajah sedih.


"Kalau kau sembuh apakah kau mau me menyumbangkan sebagian hartamu pada rakyat miskin...?" tanya Alea lagi.


"Mau - mau sekali Putri...!" ucap Putri Asuya dengan suara serak .


"Apakah kau bisa merubah sikap sombongmu...?" tanya Alea lagi. Walaupun begitu tangan dan mata Alea masih meneliti kerusakan yang terjadi di tubuh putri Asuya. Dia ingin tahu sebesar apakah efek yang di hasilkan oleh obat yang dia buat dulu. Tanpa rasa jijik dia memegang dan mengamati luka di tubuh putri Asuya. Melihat tingkah Asuya yang tenang tanpa rasa jijik atau tegang membuat Raja Saujin dan istrinya merasa sangat bersalah pada gadis cantik yang pernah mereka benci ini. Terlihat sekali sikap dan tindakannya sangat tulus pada sang pasien. Mereka baru tahu kalau Putri Asuya ternyata seorang tabib.


"Bisa putri...aku akan berusaha merubah sikapku jadi lebih baik...!" ucap Putri Asuya dengan yakin.


"Baiklah, semua janjimu dewa lah yang menyaksikannya. Jadi jika kelak kau mengingkarinya. Kau akan tahu sendiri akibatnya..."ucap Alea dengan tenang .


"Biar aku yang jadi saksinya Putri... akulah yang akan menegurnya..." terdengar Permaisuri Raja We berucap lembut.


"Aku pegang janji Kalian. Sekarang kau minum ini dulu,.." Alea mengambil pil penawar racun yang Ada di tubuh putri Asuya dari cincin ruangnya . dia segera memasukkan pil itu kedalam mulut Putri Asuya dan memberikan Air kehidupan yang memang Alea taruh di dalam botol - botol kecil yang memang sudah ada di ruangannya.


"Sekarang bertahanlah sebentar dari rasa sakit. Aku akan mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuhmu..." kata Alea pelan.


"Racun...?" ucap Putri Asuya dan kedua orang tuanya dengan wajah kaget.


"Benar...ada racun serangga yang membuat kau tersiksa..." jawab Alea.


Mereka tertegun mendengar ucapan Alea. Walau dalan hati Alea meminta maaf pada para dewa . karena dia telah berbohong pada keluarga ini.


Setelah itu Alea mulai mengeluarkan jarum petak akupunturnya .


"Kalau kau takut melihat jarum- jarumku


Kau bisa memejamkan mata... Kau harus bisa menahan sakit ini. Kalau kau tidak tahan , kau bisa berteriak sekencangnya." ucap Alea lagi.


"Baik Putri. ..." jawab Putri Asoya dengan yakin. Tak lama terlihat Alea mulai menancapkan jarum perak itu ketitik akupuntur di tubuh Alea. Lalu dia mulai duduk di kursi dekat pembaringan. Perlahan dia mengangkat tangannya. Terlihat jarum akupuntur mulai bergetar, jarum yang semula berwarna putih kini menghitam sepenuhnya . tak berapa lama Alea membuka matanya. Dia mengambil pisau dari cincin ruang dan melukai jari tangan Asuya. Tak lama keluarlah dara hitam dari luka itu. Juga tubuh putri Asuya mengeluarkan keringan yang sangat bau dari pori- pori kulit tubuhnya. Melihat semua itu, Raja We terlihat kagum pada Putri Asuya. Tadi dia sempat kaget ketika tiba- tiba di tangan putri Asuya terlihat sebuah belati yang sangat mengkilat . apalagi puti Asuya melukai tangan putri nya. Untunglah dia tidak bertindak gegabah dengan menyerang putri Asuya. Saat kemudian dia melihat cairan hitam keluar dari tangan sang Putri. Bukan hanya darah hitam yangbkeluar tapi tubuh putri Asuya juga mengeluarkan cairan hitam yang sangat bau.


Setelah darah yang keluar dari tangan Putri Asuya telah berwarna merah terang. Alea segera menghentikan darah yang keluar.


"Kak Mimi...!" seru Alea. Mimi yang merasa di panggil segera masuk kedalam.


"Ya Putri..." jawab Mimi.


"Tolong kakak ambilkan air hangat ya .." ucap Alea sambil mencabuti jarum akupuntur dari tubuh putri Asuya.


"Sakit yang saat ini aku rasakan, lebih sakit saat aku menderita penyakit ini selama beberapa bulan Putri.." jawab Putri Asuya .


Alea tersenyum mendengar perkataan Putri Asuya . tak lama Mimi datang dengan membawa tempayan agak besar kedalam ruangan di bantu Zheng Bai. Mimi menaruh di dekat tempat tidur. Serta kain putih bersi di atas pembaringan.


"Trimakasih kak..." ucap Alea lembut. Melihat tingkah Alea yang begitu lembut dan sopan pada Mimi yang hanya pengawalnya. Raja dan Permaisuri kerajaan We sangat heran. Gadis yang kini menyandang sebagai Putri Mahkota masih begitu menghormati pengawalnya. Tidak ada kesan sombong dan arogan di wajah cantik itu.


"Sella, Gita...Kalian kemarilah.." panggil Alea pada kedua pembantu setianya.


"Hamba Putri.." jawab Mereka setelah berada di depan Alea.


"Tolong kau basuh tubuh tuan Putri Asuya, jangan terlalu keras, bisa kan...?" tanya Alea lagi.


"Bisa Putri, kami bisa melakukannya.." jawab mereka.


"Baik bersihkan dia, aku akan menunggu di luar, kalau sudah selesai panggil aku, maaf paman...apa paman membawa baju ganti buat Putri Asuya...?" tanya Alea pada Raja Saujin.


"Ada..ada putri..." jawab cepat permaisuri Raja We.


"Baguslah...kalau begitu anda bisa memberikan pada kedua pelayan saya, biar mereka bisa menggantikan baju itu setelah mereka selesai membersihkan tubuh Putri Asuya.." ucap Alea sebelum beranjak pergi keluar bersama Pangeran Lingzhi.


Tak berapa lama kedua pelayan Alea keluar dari dalam kamar.


"Putri ..sudah selesai.." ucap Gita pada Alea.


"Trimakasih Sela, Gita... kalian kembalilah ke istana. siapkan makan siang untuk kami..." ucap putri Alea pada Gita dan Sela.


"Baik Putri..kami undur diri..." merekapun segera pergi meninggalkan Alea. Setelah kepergian kedua pelayannya. Alea segera masuk kembali kedalam kamar perawatan putri Asuya bersama Pangeran Lingzhi.


Terlihat putri Asuya telah di bersihkan dan sudah berganti baju


"Gimana Putri...apakah masih gatal...?" tanya Alea pada pitri Asuya.


"Trimakasih Putri...aku tidak lagi merasakan gatal di sekujur tubuhku. Hanya badanku saja yang sekarang sakit semua. .." jawab putri Asuya.


"Tentu saja...bukankah kau merusak sendiri tubuhmu...?" jawab Alea.


"Benar Putri...habis aku nggak tahan dengan gatalnya..." jawab Putri Asuya.


Saat mereka berbincang- bincang terlihat empat pelayan dari istana Naga datang membawa makaan untuk mereka bertiga . Di sana juga ada bubur untuk putri Asuya.


.


"Ini obat kau minum satu butir tiap botol, minum setelah selesai makan, jangan lupa ..." ucap Alea.


"Baik putri.." jawab Asuya dan sang ibu bersamaan.


"Ya sudah aku pergi dulu...jangan lupa minum obatnya..." ucap Alea sambil berjalan pergi keluar. Alea segera meninggalkan ruma obat. Mereka berjalan bersama para pengawal pribadi mereka menuju istana Anggrek.


"Sayang...kenapa kau menyembuhkan dia...?" tanya Pangeran Lingzhi saat di dalam perjalanan menuju istana Anggrek.

__ADS_1


"Apakah hamba harus menolak pada orang yang telah bersimpuh pada hambar untuk kesembuhan putri nya...?" tanya Alea pelan.


"Tapi mereka hampir membunuhmu sayang..." kata pangeran Lingzhi pelan.


"Apakah kejahatan harus di balas dengan kejahatan yang Mulia My Zhi..?" jawab Alea sambil tersenyum


"Kau terlalu baik hati sayang...." kata pangeran Lingzhi lagi.


Kruuuuk....terdengar perut Alea berbunyi.


"Ist ...dasar perut tak tahu diri..." ucap Alea kesal dalam hati. Terlihat wajah Alea memerah. Melihat itu Pangeran Lingzhi tersenyum.


"Ayo cepat pulang, perutmu sudah berbunyi ..." goda pangeran Lingzhi sambil menarik tangan Alea dan membawanya pergi berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka. Dan ke empat pengawal pribadi mereka ikut melakukan itu.


Tak memerlukan waktu lama hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di halaman istana Anggrek. Dengan segera mereka masuk kedalam ruang makan . terlihat sudah banyak hidangan di sajikan. Tak memerlukan waktu lama , pangeran Lingzhi dan Alea segera makan bersama dengan para pengawalnya. Mereka berdua memang tidak membedakan setatus mereka. Apalagi mereka berenam saling keterkaitan bukan hanya sebagai pengawal pribadi saja. Tetapi sahabat saudara dan orang yang paling di percaya


💖💖💖💖


Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Satu minggu lebih putri Asuya tinggal di kerajaan Shi. Kini wajahnya sudah berangsur- angsur membaik. Luka yang bernana dan bekas garukan perlahan mulai mengering. Alea juga membuatkan ramuan agar wajah putri Asuya kembali seperti semula. Dan sang Ayah yang kapan hari pulang. Kini sudah kembali menjemputnya. Kini sifat putri Asuya berubah . dia berubah menjadi gadis yang baik dan ramah, Setelah keadaannya pulih sehat. Setiap hari dia akan berlatih dengan Mimi, dan Zheng Bai yang mengajar Sella dan Gina. Dia juga berlatih pedang dengan Zheng Bai. Terlihat kalau kehidupan putri Asuya berubah. Apa itu hanya sementara atau seterusnya entahlah. Hingga akhirnya hari ini Raja Saujin datang bersama sang istri untuk menjemput Putri Asuya.


Hari menjelang siang ketika mereka datang. Saat bertemu dengan kedua orang tuanya Putri Asuya berkata kalau dia masih ingin tinggal di istana kerajaan Shi. Namun kedua orang tuanya mana mau mengijinkan. Sang Putri yang baru sembuh dari sakit parah , tentu saja mereka ingin merawatnya.


"Ayah...Asuya di sini dulu ya...!" seru putri Asuya ketika di ajak pulang .


"Tidak nak...kau baru sembuh dan kami tidak ingin kau jauh dari kami nak.." jawab sang Ayah.


"Tapi Yah..." ucapan Putri Asuya terpotong oleh kalimat Alea.


"Putri...kau harus pulang dulu...kasihan kedua orang tuamu . mereka pasti tidak tenang memikirkan dirimu. Bukanya kau masih belajar di perguruan Calang, nanti kau bisa sesekali main kesini ..." ucap Alea lembut. Sejak Putri Asuya mulai sehat . dia memang lebih dekat dengan Sella , Gita dan Mimi serta Zheng Bai.


Mendengar ucapan Alea. Kedua orang tua Asuya jadi heran. Mereka jadi cemas takut putri Asuya masih menginginkan Pangeran Lingzhi.


"Baiklah aku akan pulang, tapi dengan satu syarat..." kata putri Asuya .


"Apa itu putri....?" tanya sang Ayah dengan cemas. Dia takut Asuya minta yang macam- macam lagi.


"Aku ingin Putri Alea menjadi adikku..." kata Putri Asuya dengan wajah memohon.


Mendengar perkataan Putri Asuya semua orang terkejut. Tapi tidak dengan kedua orang tua Asuya. Karena itu adalah sumpah Putri Asuya sebelum dia sembuh. mereka malah merasa legah.


"Tunggu..tunggu...apa maksud putri Asuya...?" tanya Alea kaget.


"apa- apaan ini...di keluarga Heng..aku jadi anak angkat, di keluarga kerajaan Amora aku juga jadi anak angkat, dan sekarang putri baru sadar ini mau menjadikan diriku adik...kan sama aja aku jadi anak angkat Raja kerajaan We.?


Seru Alea dalam hati.


"Maaf nak...sebenarnya ini sumpah putriku saat kami akan datang kemari. Jika sampai kau bisa menyembuhkan dia dari penyakitnya, maka dia akan mengangkat dirimu menjadi adiknya. Karena itulah dia memintamu jadi adik angkatnya. Mendengar perkataan Raja Saujin , Raja Rong Kyu tertawa keras.


"Rong...kenapa kau tertawa....!" seru Raja Saujin kesal.


"Ha ha ha...apakah kau ingin tahu , bukan saja putri mu yang menginginkan dia jadi saudara angkat. Dia itu sudah menjadi putri Angkat perdana Mentri Heng karena telah menyembuhkan putra tertuanya. Jika saja putra Mahkota terlambat bertemu dengan dia, mungkin dia menjadi menantu mereka, dan satu lagi yang mengangkat dia menjadi putri angkat ..." ucap Raja Rong Kyu sambil masih tertawa.


"Siapa...?" tanya Raja Saujin.


"Raja Tan dari kerajaan Amora. Dia mengangkat Putri Alea menjadi Putri angkat mereka karena dia telah menyembuhkan sang Putri yang sudah lama koma. Dan sekarang kau juga akan mengangkat dia jadi putrimu...ck ck ck...ternyata Menantuku sangatlah beruntung sekali , hingga semua orang ingin memilikinya..." kata Raja Rong Kyu.


"Ayolah Putri...kau mau kan menjadi adik perempuanku...aku ingin seperti dirimu, yang berguna bagi rakyat Ayahku...mau ya...?" rayu Putri Asuya.


"Putri Asuya...kalau kau menjadi kakakku apakah kau tidak sakit hati ketika melihat diriku dengan Pangeran Lingzhi...?" tanya Alea dengan menatap wajah Putri Asuya.


"Jangan Khawatir Mei mei...aku sudah tidak menginginkan calon suamimu lagi, mungkin dulu aku terlaku teropsesi dengan Pangeran Lingzhi . tapi setelah aku sakit keras, aku sadar kalau aku bukan jodoh pangeran Lingzhi. Maafkan aku ya...?" ucap putri Asoya sambil memeluk Alea. Tak lama dia melepas pelukannya .


"Kau mau kan menjadi adikku...?" kata Putri Asuya sambil menatap Alea dengan sorot mata memohon.


Alea menatap wajah yang melihat dirinya dengan sorot mata sedih. Melihat itu Alea menatap pada pangeran Lingzhi.dan sang kekasih menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Baiklah kalau itu mau Putri Asuya, aku mau jadi adik angkat Putri..." ucap Alea dengan tersenyum lembut .


"Yee..kau memang gadis terbaik yang pernah aku kenal Alea, kau tak pernah berpura- pura dalam setiap perbuatan yang kau lakukan. Kenapa aku baru sekarang menyadari kebaikanmu.." ucapnya sambil kembali memeluk Alea.


"Jangan terlalu memujiku ..aku bisa lupa diri lo..." ucap Alea sambil tertawa.


"Kalau begitu kita bisa pulang kan nak..?" tanya Raja Saujin pada putri Asuya.


"Tapi Ayah..."


"Tidak ada tapi- tapian lagi Nak...kita akan pukang sejarang..." kata Raja Saujin tegas.


"Baiklah Ayah..." jawab Putri Asuya Pasrah. Raja Saujin pun segera berpamitan pada Raja dan permaisuri serta kerabat kerajaan. Tak lama terlihat mereka berjalan keluar ruang pertemuan.


"Jiejie...aku tahu ada seseorang di dalam hatimu saat ini ." bisik Alea pelan. Mendengar perkataan Alea, Putri Asuya kaget .


"Apa maksudmu ..." ucap putri Asuya dengan wajah cemas.


"Apakah aku harus mengatakan siapa dia...?" ucap Alea dengan wajah menggoda .


"Kaauuuu...jangan macam - macam Lea'er ..." acan Asuya namun wajahnya memerah bagai tomat.


"Kak Zheng Bai...kemarilah..." panggil Alea pada Zheng Bai.


"Ada apa Putri...?" jawab Zheng Bai sambil mendekati Alea. Dan terlihat Putri Asuya salah tingkah.


"Kakak...gimana pelajaran pedang jiejie Asuya sekarang...?" tanya Alea sambil menatap Asuya yang semakin salah tingkah.


"Hamba rasa ilmu pedang Putri Asuya semakin baik..." ucap Zheng Bai tenang.


"Begitukah...? baguslah kalau lebih baik.." ucap Alea sambil tersenyum dan menatap Putri Asuya yang semakin salah tingkah.


Besok aku sambung lagi ya..


Jangan lupa Like, vote, dan komennya author tunggu ...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2