
Perlahan Sauki menapakkan kakinya di atas lantai dingin. Dia masih merasakan ketakutan di dalam hatinya. Apakah dia bisa berjalan...? Namun saat tekat mulai datang kembali di hatinya, dia mulai berusaha untuk berdiri. Sang ayah dan adiknya membantunya berdiri di sebelah kanan dan kirinya.
"Ayo kak...kau pasti bisa....?" ucap Quiro memberi semangat.
"Benar nak...kau pasti bisa, ayo coba..." kata sang Ayah juga memberi semangat. Sauki tersenyum pada ayah dan adiknya . dia pun perlahan berdiri dengan kaki gemetar. Saat tubuhnya mulai tegak berdiri ada binar kebahagiaan di Wajahnya.
"Ayah...aku bisa berdiri kembali..." serunya bahagia .
"Benar nak kau sekarang benar- benar sudah sembuh..." seru sang Ayah yang merasakan juga kebahagian putranya. Sedang Quiro hanya bisa menatap sang kakak sambil memapah dengan wajah terharu .
"Kak...ayo mulai jalan..." ucap Quiro pelan.
"Iya, iya dik kakak akan mulai jalan..." jawab Sauki bahagia.
Dengan langkah pelan Sauki mulai melangkahkan kakinya. Perlahan dia melangkah dengan bantuan Ayah dan Adiknya, lama- kelamaan tangan yang memegang sang Ayah dan Quiro terlepas .
"Ayah, Quiro aku bisa berjalan Ha ha ha..." terdengar tawa heboh Sauki membahana di ruang kamarnya hingga sampai keluar, para pelayan yang mendengar jadi keheranan, ada apa dengan tuan muda pertama mereka hingga tertawa sesenang itu.
"Kenapa tuan mudah Sauki tertawa sekeras itu ya...?" tanya salah satu pelayan pada temannya .
"Iya...tak biasanya dia segembira itu...kita belum pernah mendengar dia tertawa semenjak kejadian itu..?" jawab yang lain.
"Apa penyakitnya sudah sembuh...?" kata pelayan yang lain pula.
"Mana mungkin...bukankah tabib yang datang tadi sudah pulang...dia keluar dengan wajah sedih... " ucap sang kawan yang tahu kepulangan tabib tadi.
"Lalu siapa tadi yang bersama tuan Mentri yang masuk kedalam kamar tuan Sauki..." tanya salah satu pelayan wanita yang tahu saat tuan Heng masuk bersama pangeran dan Alea.
"Kau ini gimana sich, bukankah dia Putra Mahkota bersama teman tuan muda kedua...di depan juga masih ada teman tuan muda kedua dan pengawal Pangeran Lingzhi..." jawab seorang pelayan pria yang tadi membawa kuda Alea dan yang lain.
"Apaa...putra mahkota ada di sini...?" seru mereka hampir bersamaan , saat mereka tahu kalau Pangeran Lingzhi berada di rumah ini .
"Ada apa ini...kok kalian pada ribut sendiri ....? Bukannya kerja tapi ngobrol sendiri...?" ucap teguran sebuah suara lembut yang baru datang dari dalam rumah .
"Nyonya...maaf nyonya, kami sedang membicarakan tuan Muda pertama yang sedang tertawa gembira..." jawab salah satu pelayan yang terlihat lebih tua dari pelayan yang lain.
"Apaa...anakku tertawa gembira...?" tanya perempuan cantik itu heran, dan ternyata nyonya Heng lah yang baru datang dari kamarnya. Sebab tadi etelah menyuruh para pelayan menyiapkan makanan untuk putra Mahkota dan teman putra keduanya, dia langsung pergi kekamarnya . jadi dia tidak mendengar saat putra pertamanya itu sedang tertawa atau berteriak. Jadi saat sang pelayan mengatakan kalau sang putra tertawa dia kaget bukan main , karena sudah lama semenjak Sauki mengalami kelumpuhan, anak pertamanya itu tidak pernah tertawa sama sekali. Kehidupan nya bagai mati bersama kelumpuha anggota tubuhnya .
"Benar nyonya...kami mendengar dia tertawa dengan gembira..." jawab pelayan tua itu .
"Ya dewa...apa yang terjadi , apakah dia mengalami sesuatu yang bisa membuat dia gembira...?" seru nyonya Heng heran.
"Lebih baik nyonya melihatnya sendiri... Apa yang terjadi sebenarnya pada tuan Sauki....?" kata pelayan itu lagi.
"Benar apa katamu, lebih baik aku kesana..." ucap nyonya Heng seperti di ingatkan . dia segera berjalan cepat keluar dari dapur dan berjalan kearah kamar sang anak.
Ketika sampai di sana dia mendengar Sauki yang sedang tertawa bahagia . Dia merasa kaget dan tak percaya, Dengan cepat dia berjalan masuk kekamar sang putra . Saat sampai di pintu kamar dia tertegun, dia melihat putra pertamanya berjalan- jalan di dalam kamarnya. Tanpa terasa air mata mengalir di pipi cantiknya.
"Anakku...." ucapnya perlahan sebelum kesadarannya hilang.
Sedang orang yang berada di dalam kamar Sauki saat itu sedang fokus melihat keberhasilan Sauki berjalan , tiba- tiba terdengar benda jatuh, Mereka segera melihat kearah suara itu. Mereka terkejut ketika melihat nyonya Heng terkapar di depan pintu .
"Ibu...." teriak Tuan Heng, Sauki dan Quiro hampir bersamaan. Mereka segera berlari kearah nyonya Heng yang terkapar di depan pintu. Sauki tanpa sadar berlari kearah sang ibu. Dia lupa kalau dia baru sembuh dari penyakit kelumpuhannya .
Mereka segera mengangkat nyonya Heng yang pingsan, dan menaruhnya di atas pembaringan sang putra. Setelah urat kesadarannya di tekan secara lembut oleh Alea, perlahan - lahan kesadaran nyonya Heng kembali. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah kesadarannya pulih sepenuhnya dia melihat Sauki putranya yang telah lama sakit itu sedang duduk di sebelahnya bersama sang suami.
Dia segera bangun dari pembaringan nya, dengan haru dan bahagia dia memeluk sang putra.
"Nak...kau sudah sembuh...?kau sudah bisa berjalan nak..." ucapnya di sela tangisannya.
"Benar ibu...Sauki telah sembuh...Sauki kini bisa berjalan kembali...?" kata- kata Sauki membuat sang ibu gembira. Setelah puas meneluk sang putra perlahan dia melepas pelukannya. Di tatapnya wajah dan tubuh sang putra bagai tak percaya.
"Kau benar - benar sembuh nak...?" tanya sang ibu lagi.
"Benar ibu Sauki telah sembuh, semua ini berkat tabib muda Hanpey teman Ro'er ibu..." jawab Sauki sambil menatap Alea dengan wajah kekaguman.
__ADS_1
Melihat Sauki yang menatap Alea terlihat wajah Pangeran Lingzhi memerah. ada yanh krmbali meminum cuka nich😂 😂Sang ibu ikut menatap Alea dengan wajah heran.
"Benarkah pemuda tampan itu yang telah menyembuhkanmu nak...?" tanya sang ibu bagai tak percaya menatap Alea yang kini berada di sebelah Pangeran Lingzhi. Dia tak percaya pria muda itu telah menyembuhkan putranya, sebab sudah berpuluh tabib yang mereka datangkan, namun tak satupun yang berhasil menyembuhkan putranya.
"Dia bukan pemuda bu...tapi seorang gadis...?" ucap Quiro mengoreksi ucapan ibunya yang mengira Alea seorang pria . dia menyela pembicaraan sang ibu dan kakaknya.
"Apaa...?" seru tuan dan nyonya Heng serta Sauki hampir bersamaan.
Mendengar perkataan Quiro , pangeran Lingzhi berwajah kesal. Kenapa pria bodoh itu harus mengatakan kalau Hanpey wanita . karena merasa kesal dia mengeluarkan hawa dingin menakutkan,
Quiro tiba- tiba merasakan tubuhnya merinding karena ketakutan.
"Ada apa ini...?" serunya dalam hati. Dan tanpa sengaja dia menatap pada pangeran Lingzhi , dia melihat kilat kemarahan di mata sang putra Mahkota. Buru- buru dia mengalihkan matanya .
'Kenapa sang pangeran Marah padaku...?" seru Quiro heran dalam hati .
Sedang nyonya Heng setelah mendengar perkataan dari putra keduanya dan tersadar dari rasa terkejutnya , dia segera turun dari pembaringan , Dia berjalan kearah Alea.
"Nak...apakah benar kalau kau itu seorang gadis...?" tanya nyonya Heng dengan wajah tak percaya .
Alea kebingungan sebentar untuk menjawab pertanyaan dari nyonya Heng. Dan akhirnya dia tersenyum dan berkata.
"Benar bibi....hamba memang seorang gadis,...." jawabnya sambil tersenyum manis .
Nyonya Heng segera memeluk tubuh Alea dengan wajah gembira.
"Nak...terimakasih atas bantuanmu pada kami...bibi sangat bahagia melihat putra pertama bibi telah sembuh dari penyakitnya, jadi sekarang apa yang harus bibi berikan padamu nak sebagai rasa Terimakasih ku padamu.. ..?." ucap Nyonya Heng yang masih memeluk tubuh lembut Alea.
"Bibi...mengapa bibi berfikiran seperti itu, Hanpey adalah teman senior Quiro , kami juga siswa seperguruan, untuk apa ibu berfikir yang bukan- bukan,...sudah kewajiban kami sebagai sesama siswa seperguruan yang saling tolong- menolong, jadi tenang saja bibi..Hanpey tidak meminta apapun dari keluarga senior Quiro.. Hanpey menolong dengan hati tulus, jadi Hanpey harap paman dan bibi tidak berfikir untuk memberi apapun pada Hanpey..." jawab Alea tegas .
Nyonya Heng segera melepas pelukannya.
"Tidak nak.. Hutang budi kami terlalu besar, andai tidak ada dirimu pasti putraku Sauki tidak akan pernah sembuh dari kelumpuhannya, ...oh ya apakah kau sudah mempunyai suami atau calon suami...?" tanya nyonya Heng dengan wajah berbinar dan menatap wajah Alea.
Alea kaget mendengar pertanyaan nonya Heng. Begitu juga dengan putra Mahkota yang ada di sebelahnya. Dia sangat kaget mendengar pertanyaan nyonya Heng pada gadis yang dia cintai.
"Pangeran...." ucap Alea pelan sambil menatap Pangeran Lingzhi yang berwajah dingin.
"Sejak kapan gue jadi wanita dia...?" Pikir Alea.
"Maaf pangeran hamba tidak tahu...?" jawab nyonya Heng pelan. Ada kekecewaan di matanya.
"Dia calon istriku... Jadi jangan berfikiran untuk mengambilnya jadi menantu kalian...." ucap pangeran Lingzhi posesif. Semua orang tertegun kembali mendengar perkataan Pangeran Lingzhi.
Terlihat kalau dia tidak ingin membiarkan seorangpun yang ingin merebut Alea dari tangannya.
"Kalau kami mengangkatnya jadi putri kami , apakah boleh pangeran....?" tiba- tiba terdengar ucapan perdana Mentri Heng mengejutkan keluarganya.
Alea pun terkejut mendengar perkataan perdana mentri Heng.
"Lah apa ini....kenapa gue mau di jadikan anak angkat..?gue masih punya orang tua Broo..." seru Alea dalam hati.
"Kalau soal itu kalian tanyakan sendiri padanya, asal jangan ada niatan untuk mengambil dia jadi menantu kalian..." jawab Pangeran Lingzhi dengan datar.
"Baik Pangeran... Nah nak Hanpey... apakah kau mau menjadi putri kami...? Kami hanya memiliki tiga orang anak, semuanya anak laki- laki..kami ingin memiliki seorang putri, apakah kau mau mengabulkan permintaan Kami nak...?" tanya Perdana Mentri Heng dengan wajah lembutnya.
"Paman jangan karena hamba sudah menyembuhkan kak Sauki hingga paman bingung memberi balasan apa untuk hamba. Hamba menolong kak Sauki tanpa mengharapkan apapun paman... Lagian hamba masih memiliki orang tua dan kakak..." jawab Alea sopan.
"Nak...kau gadis berhati mulia, betapa bangganya orang tuamu nak..." ucap perdana mentri dengan wajah lembut. walaupun dalam hati merasakan kekecewaan atas penolakan Alea .
Melihat ada kekecewaan di wajah suaminya, nyonya Heng mendekati sang suami.
"Suamiku...karena tabib Hanpey tidak menginginkan apapun dari kita, maka ijinkan hamba untuk memberikan gelang leluhur ini padanya,..." kata Nyonya Heng sambil membuka gelang giok yang ada di pergelangan tangannya. Mendengar perkataan sang istri perdana Mentri terdiam sejenak, tak lama fia tersenyum, dan ada binar cahaya di matanya walau itu hanya sekilas.
"Benar katamu istriku...gelang itu cocok untuk kita berikan pada dia..." jawab tuan perdana mentri.
__ADS_1
"Benar sekali perhatian Ayah ...gelang itu lebih cocok di tangan tabib Hanpey ibu..." seru Sauki dengan wajah gembira .
"Benar apa yang dikatakan kakak dan Ayah ibu...aku juga setuju..." kata Quiro juga.
"Nach Hanpey...sekarang terimalah gelang giok ini, mulai sekarang gelang ini jadi milikmu, sini tanganmu...bibi akan memasangkan pada pergelangan tanganmu..." ucap nyonya Heng dengan wajah bahagia.
"Tapi nyonya..." ucap Alea berusaha menolak gelang itu.
"Kau telah menolak permintaan kami, apakah kau akan menolak pemberian kami ini juga...?" ucap nyonya Heng dengan wajah kecewa. melihat itu akhirnya Alea dengan terpaksa menerima gelang giok itu. dia segera mengulurkan tangannya pada nyonya Heng. dan dengan wajah gembira nyonya Heng memasukkan gelang itu ketangan Alea. Dan kini terlihat gelang giok itu telah melingkar dengan indah di pergelangan Alea. dan anehnya saat gelang itu telah menyatu dengan kulit Alea tiba- tiba ada cahaya yang memancar dari gelang itu, dan yang tadinya gelang itu terlihat kebesaran di tangan Alea tiba- tiba mengecil dan pas di tangan Alea. melihat kejadian itu semua orang kaget, Namun nyonya Heng tertawa bahagia.
"Ya dewa...tidak kusangka ternyata gelang itu telah menemukan pemiliknya...." serunya bahagia. begitupun dengan perdana Mentri Heng, dia ikut tertawa juga.
"Nak...kau telah menolak permintaan kami untuk menjadi putri kami, tapi ternyata gelang leluhur kami memilihmu menjadi keluarga kami, Kau tahu...gelang itu sejak dulu tidak pernah berubah di tangan keturunan keluarga kami yang manapun , tapi hari ini dia bisa terbentuk indah di tanganmu...dan apakah kau tahu dengan gelang itu di tanganmu, siapapun dari keluarga kami tak bisa menghalangi keinginanmu untuk meminta atau mengambil sesuatu dari keluarga besar kami dan juga mereka tidak bisa mengambil sesuatu dari keluarga besar tanpa ijin darimu..." kata perdana mentri dengan wajah bahagia.
"Paman itu tidak mungkin... mana mungkin kekuasaan sebesar itu ada di tanganku, maaf paman aku nggak bisa menerima semua ini, ...." ucap Alea. dia segera membuka gelang giok yang ada di pergelangan tangannya , namun sial..gelang itu tidak dapat lagi di lepaskan dari tangan Alea. gelang itu bagai melekat kuat di pergelangan tangan Alea.
"Nak...lihatlah , gelang itu sudah tidak mau lepas dari tanganmu lagi.... " ucap perdana mentri sambil tersenyum lembut.
"Maafkan aku paman...maafkan aku kak Sauki dan kak Quiro... seharusnya aku tadi tidak mau menerima gelang ini..." ucap Alea sambil menatap Perdana Mentri Heng dan kedua putranya dengan wajah penyesalan .
"Hey kenapa kau meminta maaf pada kami...kami malah bahagia karena kini kau telah menjadi keluarga kami kau kini adalah adik bungsu kami....." ucap Sauki gembira.
"Aku juga seperti itu Hanpey...jangan kau hindari lagi, kau kini adik bungsu kami..." kata Quiro sambil tertawa senang.
"Baiklah kalau memang semua ini sudah terjadi, sekarang karena aku sudah menjadi bagian dari keluarga ini,aku akan mengatakan namaku yang sebenarnya pada kalian . perkenalkan namaku Lea Min Han putri dari Jendral Murong Han dari kerajaan Long ..." kata Alea memperkenalkan diri.
"Apaa...jadi kau putri Jendral Murong Han..?" seru Perdana Mentri Heng kaget.
"Benar Paman..apakah Paman memiliki permusuhan dengan orang tuaku...?" tanya Alea .
"Tidak, tidak...si tua itu malahan sahabat lamaku..." seru tuan Heng gembira. Dia tak menyangka , gadis yang telah dia angkat sebagai anak angkatnya adalah putri dari sahabatnya sendiri .
"Tunggu...bukankah kamu gadis yang terkenal dengan gadis sampah dari rumah Jendral Murong Han itu ya...?" tanya Quiro dengan wajah kaget .
"Benar kak... apakah kakak menyesali keputusan yang kalian lakukan tadi....?" tanya Alea.
"Tidak, tidak...bukan seperti itu...Aku hanya heran, kenapa gadis secantikmu dan sejenius kamu di katakan gadis buruk dan sampah. kalau kau sampah lalu siapa kami ini...?" ucap Quiro , ada nada kesal di dalam ucapannya.
"Itu menunjukkan kalau rumor itu tak selalu benar nak..." jawab sang ibu lembut. ada pancaran bahagia di mata lembutnya. itu mengingatkan Alea pada sang mama di jaman modern nya.
"Ya sudah lebih baik sekarang kita keluar dulu, karena kita sudah terlalu lama di dalam sini, takutnya yang si luar merasa cemas menunggu kemunculan kita..." kata pangeran Lingzhi datar.
"Benar kata anda pangeran, mari kita keluar.." ajak Perdana Mentri .
Pangeran Lingzhi segera menggandeng tangan Alea dengan posesif. sedang semua orang yang berada di sana hanya bisa melihat tingkah sang pangeran dengan mulut ternganga walaupun akhirnya mereka mengikuti langkah pangeran Lingsi keluar dari ruang kamar Sauki.
Sesampainya di ruang tamu , ternyata kedua kakak Alea dan para pengawal putra mahkota telah menunggu mereka keluar dari dalam rumah sang perdana Mentri. saat mereka keluar terdengar helaan nafas lega dari mereka.
"Lea'er..kau tidak apa - apa...?" tanya Lian Han dan Mimi hampir bersamaan.
"Aku baik- baik saja kak..." jawab Alea lembut.
"Syukurlah...." kata mereka.
Pangeran Lingzhi segera mengajak Alea duduk berdampingan di kursi yang ada di ruang tamu itu.
Sedang Aleh hanya bisa mengikuti pangeran Lingzhi dengan pasrah.
"Ck kenapa manusia dingin ini semakin posesif seperti ini sich..." ucap Alea dalam hati.
"jangan cemberut seperti itu sayang...apa kau ingin aku menunjukkan kasih sayangku di depan mereka..." bisik pangeran Lingzhi di telinga Alea dengan nada lembut menggoda . Alea tahu maksud dari perkataan pangeran Lingzhi.
Alea segera memasang senyum manisnya yang dia paksakan di depan pangeran Lingzhi. melihat itu pangeran Lingzhi tersenyum dengan licik dan mengusap kepala Alea. Melihat tingkah pangeran Lingzhi yang tampak tidak dingin di depan Alea kembali membuat orang sekitarnya ternganga.
Maaf segini dulu ceritanya...author sambung besok ya... jangan lupa like. vote dan komennya autor tunggu.
__ADS_1
Bersambung.