
Dengan tekun Alea memurnikan beberapa tanaman obat yang memang berada di ruang dimensi. Setelah mendapatkan cukup banyak obat , Alea segera kembali kedalam ruang kamar tidur di istana putri Yinhan. Kali ini Alea di temani oleh White dan Xiao Bai yang merubah tubuhnya menjadi rubah kecil. Saat mereka keluar dari ruang dimensi. Ternyata hari mulai menjelang pagi.
Alea segera membereskan tempat tidur yang belum sempat dia tempati. Setelah selesai dia segera merapikan baju dan riasan wajahnya. Dia menaikkan rambutnya dan mengikatnya menjadi ekor kuda. Serta memakai baju warna biru dan putih. Terlihat wajah itu semakin cantik menawan.
Walah Alea saat keluar dari ruang dimensi.
"Lea'er...kau semakin cantik dan menawan, kau tahu...kecantikanmu bisa membuat bencana pada empat kerajaan ini...mungkin juga di benua lain masih belum ada gadis yang secantik dirimu.. bukan begitu Xiao Bai...?" ucap White sambil melingkar di pergelangan tangan Alea.
"Benar katamu White...andai kau bukan master kami. Mungkin kami bisa jatuh cinta padamu Lea'er..." tambah Xiao Bai yang sedang berbaring dengan tenang di atas pembaringan.
"Hey...kalian mulai pandai merayu ya...?" seru kaget Alea.
"Ha ha..Kami mengatakan yang sebenarnya Lea'er... " ucap White sambil tertawa.
"Benar...tapi kami bangga menjadi mahluk kontrakmu sekaligus hewan yang kau anggap kakak laki- lakimu..." jawab Xiao Bai.
"Benar kata Xiao Bai...kami sangat bangga menjadi hewan kontrakmu, kau bukan menganggap kami hewan kontrak, tapi malah menganggap kami kakak laki- laki mu, kau memang master kami yang paling keren..." jawab White dengan bangga.
"Iya, iya kalian tidak merayu..tapi bermulut manis..." kata Alea dengan wajah cemberut.
"Jangan cemberut seperti itu Lea'er... Kalau nanti ketemu dengan pangeranmu, pasti dia akan menganggap kau sedang menggodanya..." ucap Lauyan dari ruang dimensi sambil tertawa .
"Waah...sekarang para gege gue pada pinter menggoda ya....?" seru Alea kesal. Melihat Alea marah bukannya mereka takut, mereka mengikuti Lauyan mentertawakan Alea.
"Dasar hewan kontrak tak berahlak, bukannya takut, malah mentertawakan gue..." sungut Alea.
"Tertawain terus...lihatin aja...gue nggak akan mau membuat makanan untuk kalian lagi..." ancam Alea .
Mendengar ancaman Alea , mereka segera menutup mulut mereka dengan cepat. Mereka tidak ingin kehilangan masakan Alea yang membuat mereka ketagihan.
"Eee...jangan marah Lea'er.. Maafkan kami, kami janji nggak akan mentertawakan Lea'er kami lagi..." terdengar ucapan Lauyan meminta maaf.
Sebenarnya Alea tak benar- benar marah pada mereka, dia hanya ingin membuat mereka menghentikan tawa mereka saja.
"Benarkah....jadi yang berjanji cuma Yan'ge doang...?trus yang lainnya nggak sayang lagi sama gue...?" goda Alea .
Mendengar ucapan Alea, merekapun tahu kalau Alea hanya menggoda mereka berempat.
"Lea'er...jadi kau hanya menggoda kami...?" seru White yang segera berdiri di depan Alea. Mendengar pertanyaan White, Alea pun ganti mentertawakan mereka karena ketakutan. Melihat itu white segera mencubit kedua pipi Alea dengan gemas .
"Aauu sakit gege ha ha....." seru Alea mengadu sambil tertawa .
"Dasar gadis nakal...." seru White kesal. Namun sebelum Alea mendapat pelampiasan kekesalan para mahluk kontraknya tiba- tiba terdengar ketukan di daun pintu dan terdengar suara putri Yinhan memanggil.
Tok tok tok.
."Lea'er...apa kau sudah bangun sayang...?" terdengar panggilan dari luar kamar.
"Jie jie...iya aku sudah bangun..." seru Alea sambil berjalan kearah pintu.
Sedang White sudah kembali menjadi gelang Alea, dan Xiao Bai kembali menjadi rubah kecil imut, dan yang lain kembali masuk keruang dimensi.
Ketika pintu terbuka terlihat putri Yinhan dan Mimi sudah berdiri di depan pintu.
"Jie jie...kakak...selamat pagi...?" sapa Alea ceriah.
"Kau sudah rapi...?" tanya Putri Yinhan sambil menatap Alea dengan wajah kagum.
"Sudah jie jie...he..kenapa jie jie menatapku seperti itu...? Apa dandanan Alea aneh ya...?" tanya Alea tak enak hati.
"Bukan, bukan itu...tapi jie jie kagum akan kecantikan mu Lea:er..." jawab putri Lea.
"Benarkah...? Trimakasih Jie jie cantikku.." ucap Alea lembut.
"Benar Lea'er...hari ini kau terlihat lain, kau terlihat sangat cantik sekali..." puji Mimi sambil menatap Alea dengan pandangan sayang.
"Ya ampuun..Kenapa semua orang memujiku sich...apa karena gue makai baku ini ya...seru Alea dalam hati.
Alea hanya bisa tersenyum masam.
"Tu kan...semua orang memujimu kan... Itu tandanya omongan kami benar Lea'er..." seru Lauyan dari dalam ruang dimensi.
__ADS_1
"Iya, iya, gue nyerah..." jawab Alea pasrah.
"Ya sudah ayo kita sarapan dulu, tu gegemu sudah menunggumu di meja makan..." seru putri Yinhan dengan Menarik tangan Alea.
Mereka segera berjalan kearah ruang makan dengan rubah putih di gendongan Alea., ketika sampai di sana ternyata pangeran Lingzhi beserta kedua pengawal dan Lian Han sudah berada di sana . mereka sedang berbincang dengan mentri Ji .
Saat mereka melihat kedatangan Alea, Semua orang terpanah dengan penampilan Alea, setelah tersadar pangeran Lingzhi tersenyum senang. Dia berdiri dan menarik kursi yang ada di sebelahnya.
"Lea'er..Duduklah di sini..." ucapnya sambil masih berdiri di belakang kursi. Akhirnya mau tak mau Alea duduk di kursi yang telah di sediakan sang pangeran. sedang rubah putih tidur dengan aman di pangkuan Alea.
"Trimakasih pangeran..." ucap Alea sambil tersenyum walau sebenarnya ada rasa kesal di dalam hatinya. Gadis yang tak senang mendapat sorotan ini, Menjadi kesal karena melihat tatapan dari semua orang yang ada di depannya
.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu...? ada yang salah...?" tanya pangeran Lingzhi sambil menatap mereka bergantian .
"Ah..tidak...kami hanya kagum saja pada pangeran , iya kan kak Yinhan...?" ucap Guansi sambil menatap putri Yinhan.
"Hmm..." ucap putri Yuanzhi sambil menganggukkan kepala, namun terlihat bibirnya menahan senyuman.
"Bagus...kalau begitu kita langsung makan saja..." ucapnya tenang. Dia segera duduk di dekat Alea. Mereka akhirnya menikmati makanan yang sudah tersedia di atas meja, dan seperti biasa pangeran Lingzhi akan memberikan beberapa macam sayur dan ikan di mangkok Alea. Hingga Alea meminta sang Pangeran untuk berhenti memenuhi mangkoknya .
Alea tak lupa menawarkan makanan pada keempat mahluk kontraknya, namun mereka tak mau.
Setelah selesai menikmati makan pagi, Pangeran Lingzhi membawa Alea pergi kepasar untuk membelikan selimut untuk mereka yang berada di pengungsian, juga beberapa tanaman obat untuk menambah pemurnian obat yang akan dia lakukan. Melihat perbuatan Alea, pangeran Lingzhi sangat terharu sekaligus bangga. Dia tak pernah menyangka kalau sifat Alea sangat tulus pada sesama. Setelah selesai membeli apa yang di butuhkan Alea, mereka segera kembali ke istana. Tanpa mereka sadari putri Lan Lan yang juga pergi kepasar karena ingin membeli baju baru untuk memikat sang pangeran melihat Alea dan pangeran Lingzhi serta beberapa orang yang sedang berbelanja. Melihat begitu lembut dan perhatiannya pangeran Lingzhi pada gadis itu, terlihat tangan halus putri Lan- lan mengepal dengan kuat di bawah lengan bajunya .
"Dasar wanita ja***g....nikmati hidupmu yang akan hilang sebentar lagi.... Dasar wanita murahan lihat saja akhir hidupmu yang sebentar lagi akan menghampirimu... " ucap Putri Lan Lan dengan wajah marah.
"Lan Lan...ada apa...?" tanya sang teman yang melihat perubahan di wajah Pitri Lan Lan.
"Tidak, tidak ada apa- apa...ayo kita mencari baju di tokoh lain...?" kata putri Lan Lan , Dia segera mengajak teman- temannya pergi agar tidak melihat pangeran Lingzhi yang sedang bersama gadis lain. Putri Lan lan takut apa yang akan mereka katakan kalau mereka tahu keberadaan pangeran Lingzhi yang sedang bersama gadis lain. Sedang Putri Lan Lan sudah bercerita pada mereka dan sudah mendaulatkan pada para sahabat dan temannya kalau dialah gadis yang sangat di cintai dan akan menjadi putri Mahkota. Mereka segera berjalan berlawanan dengan arah yang di tempuh rombongan pangeran Lingzhi . Dengan perasaan marah, benci , dan keinginan membunuh Alea ,putri Lan Lan berjalan bersama temannya masuk kedalam toko baju lainnya untuk mencari pakaian baru. Namun perasaan marah dan sedih membuat dia tak ingin lama - lama berada di dalam pasar. Setelah selesai mendapatkan satu pakaian yang bagus dia segera mengajak pelayannya pulang lebih dahulu. Saat dia masuk kedalam kereta milik sang Ayah, dia masih mampuh menahan kemarahannya, namun ketika sampai di rumahnya dia tidak dapat lagi membendung kemarahannya. Dengan berteriak- teriak histeris dia meluapkan kemarahannya itu. Sang ibu yang berada di kamarnya berlari ke arah ruang tamu karena kaget. Dia melihat sang putri sedang mengamuk dengan melemparkan barang - barang yang berada di ruangan itu. Cepat - cepat dia menyuruh orang untuk memanggil sang suami yang berada di istana . Untunglah rumah mereka tidak terlalu jauh dari istana,
"Lan'er...ada apa nak...?" seru sang ibu ketakutan dan cemas.
"Aah....sialan, sialan, dasar wanita Ja***g ...berani sekali dia bermesraan di depan umum, aaah....dasar wanita murahan...tunggu...tunggu kau, aku akan membuatmu pergi dari pangeranku,...aku akan membuatmu merasakan kematian yang menyakitkan, dasar wanita murahan, aaah..hik..hik.." terdengar sumpah serapah dari mulut putri Lan- Lan dari ruang tamu kediaman mentri Coiran.
Sedang pelayan rumah mentri Coiran yang sedang menuju istana kini, sudah sampai di gerbang istana . saat dia mau melapor pada penjaga , dia melihat kereta mentri Couran keluar dari istana.
"Tuan...tuan mentri Coiran...." teriaknya nyaring. Mendengar seseorang memanggil namanya mentri Coiran membuka kelambu penutup kereta. Dia heran ketika melihat salah satu pelayan pria dari rumah tangganya berada di luar kereta.
Dia menyuruh kusir keretanya berhenti.
"Ada apa kau datang kemari...?" tanya mentri Coiran heran .
"Tuan...hamba di suru nyonya memanggil tuan..." jawab sang pelayan cepat.
"Memanggilku...? Ada apa...?" tanya Mentri Coiran tambah heran. Sebab selama ini sang istri tidak pernah menyuruh seseorang untuk memanggilnya pulang.
"Maaf...tuan putri Lan Lan mengamuk di rumah sepulang dari pasar tuan..." jawab sang pelayan dengan takut.
"Apaaa...putriku Lan Lan mengamuk...?" serunya kaget.
"Benar tuan..." jawab sang pelayan. Mendengar jawaban si pelayan, Mentri Coiran segera menyuruh sang kusir cepat- cepat menjalankan keretanya. dengan cemas dia pulang kerumahnya. sesampainya di rumah dia segera melompat dari keretanya. dengan cepat dia masuk kedalam rumah. sesampainya di dalam ruang tamu dia melihat ruangan itu sudah berantakan, lantai penuh dengan barang - barang yang telah pecah . Sedang perabotan berantakan semua. dan dia melihat sang putri masih mengamuk dan menangis.
"Putriku...cukup...cukup nak....apa yang kau lakukan ini, ada apa...?" seru mentri Coiran sambil mendekati sang putri yang masih mengamuk sambil berteriak dan mengis . Saat melihat sang Ayah datang, putri Lan Lan berlari dalam pelukan sang Ayah,
'Ayaaah...' teriakannya membuat sang ibu semakin sedih.
"Putriku..." ucap Mentri Coiran sambil membawa putri Lan Lan kedalam pelukannya.
"Ada apa nak....kenapa kau menangis...? siapa yang telah berani menyakitimu ha...? tanya Mentri Coiran dengan lembut, dia mengusap kepala sang putri yang masih dalam pelukannya.
"Wanita itu Ayah...wanita itu berani menggoda pangeran Lingzhi di depanku , dia berani merayu Pangeran di muka umum...." teriak putri Lan Lan marah dan cemburu.
"Maksudmu....?" tanya Metri Coiran tak mengerti siapa yang di maksud sang putri.
"Wanita itu Ayah....wanita yang telah menggoda pangeran Lingzhi...!" teriak putri Lan Lan emosi. dia melepas pelukannya dari tubuh sang Ayah.
"Maksudmu putri Lea...? putri angkat perdana Mentri Heng...?" tanya Mentri Coiran kaget.
"Siapa lagi...aku bertemu mereka di pasar.." teriak Putri Lan Lan dengan wajah marah. Mentri Coiran ingat kalau hari ini mungkin putri Lea dan pangeran Lingzhi sedang mempersiapkan kepergian mereka yang akan pergi ke daerah bencana. sebenarnya Mentri Coiran sadar atas kekurangan putrinya di banding putri Lea. Dia melihat putri Lea sangat peduli pada masyarakat kecil yang menderita. gadis mana yang mau dengan suka rela datang kedaerah bencana, namun putri Lea dengan tulus meminta pada Raja untuk mengirimkan dia ke daerah bencana itu. sedang putrinya sendiri yang begitu terobsesi pada putra Mahkota hanya mengamuk menunjukkan kekurangannya .
"Nak... kenapa kau tidak menunjukkan pada putra Mahkota kalau kau lebih baik dari putri Lea , bukannya marah- marah seperti ini..kau tahu mereka itu akan pergi ke daerah korban bencana, kenapa kau tidak berkeinginan datang kesana juga....?"kata Mentri Coiran lembut.
__ADS_1
"Apa ayah...?Ayah menyuruhku datang kedarah bencana banjir itu...? hii..ayah... mana mungkin aku datang kesana..kau tahu kan, daerah bencana itu kotor, bau , kumuh...dan Ayah menyuruhku datang kesana...? ogah... " jawab sang putri bergidik ngeri dan jijik. melihat tingkah sang putri membuat Mentri Coiran sadar kekurangan putri nya dan kelebihan putri Lea .
"Kau tahu.....Putri Lea dengan tulus meminta Raja mengirim dia kelokasi bencana dengan kemampuan yang dia miliki,...." ucap Mentri Couran lembut.
"Ah...itu hanya karena pangeran Lingzhi datang kesana Ayah...dia hanya ingin mendekati pangeran Lingzhi..." teriak putri Lan Lan tak senang.
"Tidak.....putri Lea mengucapkan itu sebelum pangeran Lingzhi mengajukan permohonan dia untuk membawa bahan makanan ke daerah bencana. dan Ayah yakin kalau pangeran Lingzhi meminta itu karena dia melihat kalau putri Lea meminta dia di tugaskan kesana..' jawab Mentri Coiran lagi .
"Ayah membela dia....?' teriak putri Lan Lan semakin marah.
"Ayah tidak membelanya nak...Ayah hanya menunjukkan kebenaran saja.. kenapa kau tidak ingin bersaing secara sehat dengan putri Lea itu, dari pada kau ingin menyakitinya. rebut dia dengan menunjukkan kepada pangeran Lingzhi kalau kau lebih baik dari dia..." nasehat Mentri Coiran pada sang putri.
'Tidak...aku tidak Mau...siapa yang sudi berada di tempat kumuh menjijikan seperti itu, aku kau suru kesana...? ogah.. lebih baik aku menyingkirkan dia dari sisih pangeran Lingzhi dengan cara lain.." jawabnya dengan wajah menghina.
"Putri Lan Lan ,perlu kau ingat nak...dia gadis pilihan putra Mahkota Lingzhi, jadi jika kau berbuat sesuatu padanya aku takut kau akan berhadapan dengan dia nak...Ayah hanya menghawatirkan keselamatanmu..." kata Mentri Coiran menasehati.
"Ayah...kau membela dia..? tidak Ayah, pangeran Lingzhi tidak akan pernah mencintai dia, pangeran Lingzhi itu hanya mencintai aku, jadi...jangan lagi Ayah bilang kalau dia gadis pilihan Pangeran Lingzhi... dia yang menggoda pangeran..!" teriak putri Lan Lan marah. dia segera berlari meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamar pribadinya .
Tuan dan nyonya Coiran hanya bisa menatap sang putri dengan wajah cemas dan sedih.
"Suamiku...apa benar perkataanmu itu...?" tanya nyonya Coiran .
"Benar istriku...gadis itu sangat baik dan sopan, dia dengan suka rela meminta pada Yang Mulia untuk di tugaskan sebagai tabib di daerah bencana kebanjiran. Saat aku menghinanya, dia dengan lugas mengatakan kalau sudah kewajibannya untuk membantu kesusahan rakyat kecil. saat mendengar kalau dia pergi ke daerah bencana, pangeran Lingzhi langsung meminta pada yang Mulia untuk menugaskan dia pergi kesana. aku fikir saat itu dia hanya ingin di perhatikan dan mencari muka, namun baru tadi pagi aku mendengar kalau dia adalah seorang siswa perguruan calang , dan dengan kepandaiannya pula dia telah terpilih menjadi pasukan kusus kerajaan, dan dia juga seorang tabib jenius, dia bisa menyembuhkan murid perguruan yang terkena racun ular kirin dan dia juga menyembuhkan putra Perdana Mentri Heng, bukankah kau tahu penyakit putra Perdana Mentri Heng yang sudah lama itu...sudah banyak tabib yang di datangkan, tapi mereka semua angkat tangan, tapi gadis itu..hanya sekali bertemu, putra Mentri Heng langsung bisa berjalan, dan paling membanggakan dialah yang telah menyembuhkan Raja kita, dia yang telah menyelamatkan Raja kita dari kematian, banyak tabib yang datang untuk menyembuhkan Raja Rong Kyu , namun tak satupun yang bisa menyembuhkannya...hingga akhirnya pangeran Lingzhi menemukan gadis itu, dan membawa dia ke istana..." jawab Mentri Coiran panjang kali lebar.
"Ya dewa...betapa membanggakan memiliki putri sebaik dan secerdas dia..." ucap nyonya Coiran.
"Suamiku...apakah kesalahan kita yang terlalu memanjakan putri kita...?" tanya nyonya Coiran lagi
"Benar istriku...perbuatan kitalah yang membuat putri kita Manja, sombong dan congkak, dan sekarang tugas kita untuk membuat dia menjadi anak yang baik walaupun itu sudah terlambat..." kata Mentri Coiran penuh penyesalan .
"Baik suamiku..." jawab sang istri.
Akhirnya mereka masuk kedalam rumah dengan wajah sedih .
Sedang di tempat Lain terlihat pangeran Lingzhi dan Alea sedang menyiapkan perbekalan dan barang- barang yang akan mereka bawa ke daerah bencana .
"Tunggu yang Mulia...ada yang hamba lupakan..." seru Alea saat mereka mulai memasukan bahan makanan kedalam gerobak yang akan mereka bawa kesana.
"Ada apa sayang...." kata sang Pangeran sambil memandang Alea yang terdiam.
"Hamba tadi lupa membeli kue kering buat anak- anak di sana..." jawab Alea.
"Kue kering...?" tanya Pangeran Lingzhi.
"Benar...kita bisa memberi makanan ringan untuk menghibur anak- anak yang masih dalam kesedihan..kita bisa menghibur mereka dengan memberikan makanan ringan itu pangeran..." kata Alea dengan wajah ceria. pangeran Lingzhi menatap gadis di depannya dengan tatapan sulit di artikan, ada keharuan , ada kegembiraan , ada kebanggaan di mata hitamnya, dia sangat bangga dengan sifat Alea yang begitu peduli dengan penderitaan orang lain.
"Sayang...sebenarnya hatimu ini terbuka dari apa sich...mengapa kau terlalu baik pada masyarakat yang menderita..." ucap sang Pangeran dengan menatap Alea penuh dengan kebanggaan.
"Ck mulai dech....tentu saja hati hamba terbuat dari bahan yang nggak ada di dunia ini pangeran....hati hamba telah di ciptakan oleh sang pencipta entah dari apa..." jawab Alea kesal. masak iya hatiku terbuat dari sepotong kue..lanjut Alea dalam hati.
"Dasar gadis nakal....kau tahu dengan tingkah dan perbuatanmu ini semakin hari semakin membuatku mencintaimu dan tak ingin berpisah denganmu gadis nakal..." ucap Pangeran Lingzhi sambil mencubit pelan hidung Alea.
"Ya elah pangeran....sebenarnya anda ini bodoh karena telah mencintai hamba.." ucap Alea dengan beraninya.
"Kau mengatakan aku bodoh...?" tanya Pangeran Lingzhi kaget.
"Hmm ..." jawab Alea sambil menatap pangeran Lingzhi dan menganggukkan kepala.
"Kau berani mengatai aku bodoh...?" ucap sang Pangeran sambil berjalan mendekati Alea.
"He he he maaf...hamba hanya mengingatkan anda yang mulia..." jawab Alea cengengesan.
"Kenapa kau katakan aku bodoh...?" tanya pangeran Lingzhi sambil semakin mendekati Alea.
"Karena pangeran itu Putra Mahkota, dan pangeran merupakan orang nomer dua di kerajaan ini. Tentu saja akan banyak gadis yang ingin menjadi istri yang mulia, seperti putri Asuya dari kerajaan We, putri Lan Wen yang merupakan putri dari salah satu mentri di kerajaan ini, dan banyak gadis - gadis yang akan dengan sangat bangga menunggu uluran tangan baginda agar terpilih jadi istri anda. dan mereka tidak akan pernah menolak anda untuk mengambil beberapa selir, sedang hamba, hamba hanyalah gadis egois putri dari seorang jendral dari kerajaan tetangga dan yang tidak ingin berbagi cinta pangeran..." kata Alea panjang lebar.
"Aku tak perduli dengan semua gadis itu, karena gadis yang egois itulah yang sangat aku cintai, dan yang kuinginkan jadi pendamping hidupku selamanya..." ucap pangeran Lingzhi sambil menarik Alea kedalam pelukannya .
jangan lupa like, vote dan komennya ya
.
Bersambung.
__ADS_1