
Aisyah tersenyum melihat penampilan nya yang mengenakan seragam kerja di Kafe itu. Ini adalah pengalaman pertamanya mencari uang sendiri untuk menghidupi dirinya sendiri.
Sedari pukul 5 pagi, ia sudah dihadapi mual dan muntah hingga membuatnya lemah. Tetapi, semua itu tidak menyurutkan kegigihan untuk mencari uang.
"Semangat!!!" ucapnya tegas di depan cermin.
Aisyah mengambil tas selempang dan ponselnya. Senyuman terus terukir seraya elusan lembut di perutnya.
Ia keluar dari apartemen dengan jalan santai karena kafe tempatnya bekerja tidak jauh. Bahkan sangat menghemat tabungan dari John dan Johan. Tidak ada yang menyuruhnya bekerja, tapi kesadaran diri bila kedua pengawalnya akan memiliki istri maka dirinya tak mungkin terus-menerus bergantung hidup pada mereka.
Bagaimana jika anak sudah lahir?
Bagaimana jika anak nya sudah sekolah?
Dirinya sudah memikirkan kehidupan sang anak meski belum lahir ke dunia. Membayangkan bagaimana dirinya akan menggendong, berlari, memberi makan, tertawa bersama. Rasanya sangat menyenangkan memikirkan itu.
Aisyah mengusap sudut matanya yang berair membayangkan dirinya dan anaknya sudah mandi dan wangi menyambut kedatangan Malvyn pulang bekerja. Bagaimana kecewa nya ia kepada pria itu, tetap saja mereka memiliki kenangan manis yang sulit dilupakan.
Perlakuan Malvyn yang selalu mengutamakan kebahagiaan nya membuat dirinya jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada pria itu. Namun, semua lenyap setelah kenyataan yang diterimanya.
__ADS_1
Ternyata, kehamilan Jesica menutupi kejahatan wanita itu kepadanya. Malvyn tampak begitu perhatian dan bahagia atas kehamilan wanita itu. Sementara dirinya memilih pergi dan bekerja membawa benih cinta mereka.
"Hai," sapa seorang gadis kepada Aisyah yang sedang membersihkan dinding kaca kafe tersebut.
Aisyah menoleh ke arah gadis itu lalu tersenyum. "Hello."
"Nama kamu siapa?" tanya gadis itu.
"Aku Ais. Kamu?" tanya Aisyah ramah.
"Aku Grace. Kenapa kamu terlihat kaku begitu?" tanya Grace membuat Ais tersenyum.
Sulitnya memulai pekerjaan dimana dirinya tak memiliki pengalaman sedikitpun. Bukan terlahir dari keluarga kaya, tapi selalu dicukupi keperluan nya. Begitupun dinikahi Malvyn, bahkan hidupnya bergelimang harta. Semua keperluan nya selalu disediakan. Bahkan hingga hari ini.
"Pantas saja. Wajah Asia mubterlihat asing disini. Tapi kamu cantik, aku suka melihat wajah orang Asia!" puji Grace membuat Aisyah terkekeh.
"Aku juga cantik. Gadis bule," puji Aisyah juga.
Grace tergelak mendengarnya. "Kamu bisa saja."
__ADS_1
"Kalian dibayar untuk bekerja, bukan mengobrol!!" seru seorang wanita di mengejutkan mereka.
Aisyah dan Grace balik badan dan melihat siapa sang pemilik suara. Seketika itu pula kedua nya menunduk karena yang menegur adalah Manager Kafe.
Fedora. Gadis berusia 30 tahun yang menjabat sebagai Manager Kafe. Wanita seksi dan angkuh juga berstatus janda.
"Masih anak baru seharusnya kerja yang benar. Bukan Mengobrol," sentak nya lalu pergi begitu saja.
Suara Fedora membuat Aisyah terkejut karena selama ini tak ada yang begitu kepadanya. Grace melihat Aisyah ketakutan langsung mencoba menenangkan.
Grace, gadis asli kota Manchester yang hidup sebatang kara setelah rumah keluarga nya terbakar beserta keluarganya langsung iba melihat Aisyah ketakutan seperti itu.
"Tenanglah. Fedora memang seperti itu karena dia kepercayaan pemilik Kafe ini dan berasa calon istri juga," kata Grace menepuk-nepuk bahu Aisyah.
Aisyah menghela nafas panjang lalu tersenyum ke arah Grace. "Aku nggak takut. Hanya terkejut saja," katanya.
*Sesulit ini. Kita harus kuat, nak.
❤️
__ADS_1
Mampir di karya temen emak ya*..