
Aisyah perlahan membuka mata dan pertama kali dilihatnya adalah dada bidang sang suami yang terbungkus pakaian pasien seperti yang dikenakan nya.
Selama satu Minggu lebih rasanya baru malam ini tertidur nyenyak karena berada dalam pelukan pria yang dirindukan nya.
Rasanya sangat menyedihkan jauh dari Malvyn karena berpura-pura kuat di depan kedua teman nya itu berat.
Aisyah belum mengerti apa yang dirasakan nya. Ia sangat merindukan Malvyn tetapi sangat kecewa dengan suaminya itu.
Mengingat kejadian malam itu langsung membuat Aisyah mendorong dada Malvyn sehingga sang empu terbangun.
"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya Malvyn yang belum bisa bergerak bebas karena salah satu tangan nya masihterdapat infusan begitu juga dengan tangan Aisyah.
"Pindah sana. Sempit," kata Aisyah ketus tetapi membuat Malvyn tersenyum geli.
"Maaf, ya. Kita baikan, ya!" bujuk Malvyn tetapi Aisyah hanya diam saja memandang langit-langit ruang rawat nya itu.
Jantung nya berdegup kencang ketika menyadari bila Malvyn dirawat, itu berarti keluarga nya juga tahu.
Aisyah menelan saliva mengingat akan hal itu tetapi mau bagaimana lagi selain menghadapinya.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang akan tetap bertahan jika masalah rumah tangga kita masih punya jalan keluar untuk menyelesaikan nya, Ais?" tanya Malvyn dan pandangan mereka bertemu.
__ADS_1
"Kamu sudah selingkuh, Vyn."
Malvyn menggeleng kecil. Rasanya tak sanggup melihat Aisyah seperti ini, terlebih dengan wajah pucat begini. Walau dirinya juga tak kalah pucat.
"Aku nggak pernah selingkuh, Ais. Jesica teman wanita yang paling dekat denganku selama beberapa tahun ini. Itu juga aku lakukan demi keselamatan kamu, Ais. Jangan mencoba untuk mengingatnya kalau membuat kepala kamu sakit," ungkap Malvyn lagi seakan mengerti yang ada dipikiran Aisyah.
Aisyah terus menatap Malvyn begitu intens. Siapa yang rela bila harus berbagi sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya dengan wanita lain.
Mainan saja Aisyah tidak ingin berbagi apalagi pasangan hidup?
"Jangan sentuh aku kalau kamu masih berhubungan dengan Jesica," kata Aisyah menjadi dingin.
Ada satu hal yang keduanya lupakan. Aisyah meminta agar jangan disentuh dan Malvyn menyetujui. Tetapi lihatlah sepasang suami istri ini masih dalam satu brankar dan tubuh mereka saling melekat.
"Selamat pagi," sapa seorang dokter yang tak lain dan tak bukan ialah Adrian.
Sepasang suami istri itu menoleh. Aisyah tersenyum sementara Malvyn mencebik bibir karena kesal.
"Sayang. Jangan senyum-senyum sama pria lain," kata Malvyn membuat Aisyah langsung menyurutkan senyuman nya.
"Apaan sih," cebikan Aisyah langsung membuat Malvyn berubah pias.
__ADS_1
Sementara Adrian tertawa melihat Malvyn yang terdiam karena ulah istrinya. "Akhirnya ada yang mengalahkanmu, Vyn. Aku suka itu," katanya kemudian menatap Aisyah. "Teruskan saja. Jangan biarkan Malvyn berkeliaran, nyonya!"
Aisyah terkekeh seraya melirik Malvyn. "Harus. Kalau gak, bakal aku potong anu nya."
"Sayang," rengek Malvyn membuat Aisyah mencebik lagi.
"Sudah-sudah," sela Adrian mendekati Malvyn dan segera memeriksa sahabatnya itu.
"Jaga kesehatan dan makanmu, Vyn. Boleh galau, tapi tetap ingag makan makanan sehat!!" Adrian tidak menyangka bila seorang Malvyn dapat sakit dan terlihat sangat lemah hanya karena seorang wanita.
Yang diketahui Adrian, baik Malvyn ataupun Mario tak jauh berbeda jika mengenai wanita. Apalagi melihat hubungan Malvyn dengan Jesica yang begitu dekat tetapi tidak juga dinikahi, membuat nya paham bila kedua sahabatnya tidak percaya pernikahan sama seperti yang dipikirkan nya.
Namun, begitu mendengar Mario meminta ya datang ke apartemen Malvyn untuk memeriksa istri dari pemilik apartemen tersebut.
"Istriku sudah kembali. Aku sudah sembuh," kata Malvyn membuat Adrian menggeleng.
"Terserah," gumam Adrian kemudian mendekati Aisyah.
"Keadaanmu sudah membaik, nyonya muda. Janga lemah kalau ada masalah tetap makan agar tidak kambuh lagi. Jangan kabur, hadapi kalau perlu sadarkan Malvyn."
Aisyah hanya mengangguk pasrah dan Malvyn hanya dapat menghela nafas panjang
__ADS_1