Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 81


__ADS_3

"Kalau capek, tidurlah! Jangan dipaksa," kata Malvyn lembut yang setia menemani Aisyah yang sedari tadi mengerjakan tugas kuliah.


Bahkan Malvyn tidak keberatan untuk menyuapi Aisyah agar istrinya itu tidak melupakan tubuh sendiri karena hanya fokus mengerjakan tugas.


Awalnya Malvyn sudah menawarkan agar dirinya saja yang mengerjakan tugas tersebut. Tetapi, agaknya Aisyah masih ingin berjuang sendiri dulu.


Kini, ia mengerti bila istrinya sudah berjuang menyelesaikan kuliah walau dengan nilai pas-pasan saja.


Aisyah menyandarkan kepala di meja karena sudah merasa kelelahan. Ia menegakkan tubuhnya seperti semula. Kedua tangan nya menengadah dengan mata terpejam.


Mulutnya bergumam yang hanya dirinya yang mendengar. Ia mengucapkan doa-doa kemudian mengusapkan ke wajahnya.


"Aku masih bisa ngerjain sendiri, Vyn. Kalau kamu sudah capek dan mau istirahat, duluan saja. Nanti aku nyusul," kata Aisyah menenangkan.


Tetapi, bukan Malvyn namanya jika meninggalkan Aisyah sendiri. Ia bangkit menuju koper di sudut kamar, mengambil iPad dan mengerjakan pekerjaan nya yang sempat tertunda.


Aisyah menoleh melihat Malvyn yang juga tengah mengotak-atik iPad. Ia bangkit hendak pergi ke dapur sementara meninggalkan suaminya.


"Aku mau ke dapur," kata Aisyah ketika tangan nya dicekal oleh Malvyn.


"Mau ngapain, sayang?" lagi-lagi pertanyaan Malvyn menyiratkan kekhawatiran.


"Cuma mau buat kopi dan susu cokelat. Aku gak akan keluar villa. Aku janji," kata Aisyah. Ia seakan mengerti ke khawatiran Malvyn.


Malvyn tersenyum disertai anggukan. "Hati-hati. Pelan-pelan saat tuang air panas nya," kata nya karena tahu istrinya sering membuat ulah.


Aisyah juga telah berjanji kepada Oma Nadira dan Mami Ivy untuk tetap berada di dekat Malvyn karena kedua pengawalnya tidak ikut.


John dan Johan tidak ikut karena sedang mengurus usaha papi Askar yang sedang bermasalah. Semua keluarga sudah memutuskan agar musibah ini tidak diketahui oleh Aisyah.

__ADS_1


Sementara Mario, Aisyah tidak sedekat itu kepada sahabat suaminya karena merasa takut melihat pria itu yang sangat irit bicara. Persis seperti Malvyn ketika awal-awal menikah.


Bagi Aisyah, kedua pria itu ialah patung hidup dan berkomunikasi memakai kemampuan telepati. Seperti film di Indosiar berjudul Angling Darma.


Aisyah mengelilingi villa yang mereka tempati selama berada di Maldives. Ia berharap setelah pulang akan membawa kabar bahagia. Tanpa sadar ia memegang perutnya dengan senyuman yang manis di wajahnya.


Mungkin gadis kecil yang awalnya sering membuat ulah dan membuat pusing seorang Malvyn Carlson Abraham. Sekarang, gadis kecil tersebut telah menjelma menjadi istri yang sesungguhnya. Walau tidak melepas sifatnya yang terkadang masih kekanak-kanakan karena tetap saja Aisyah adalah gadis berusia 18 tahun.


Aisyah mengambil panci dan mengisi dengan air bersih kemudian merebus nya. Ia juga menyiapkan dua gelas serupa.


"Gini kalau bukan tempat sendiri. Kopi dan susu di susun dimana?" gumam nya bingung mencari kopi dan susu.


Tanpa disadari, Malvyn tengah memerhatikan Aisyah. Ia bersandar samping lemari es dengan kedua tangan bersidekap di dada. "Kopi dan susu ada di kulkas, sayang. Jangan marah-marah begitu," katanya membuat Aisyah terperanjat.


Pria itu


Aisyah balik badan ke arah Malvyn dengan nyengir kuda membuat pria itu merasa gemas.


Aisyah membungkuk mencari kopi dan susu setelah membuka pintu lemari es. Setelah dapat apa yang dicari, ia pun segera membuat kopi dan susu tanpa memperdulikan Malvyn yang terus memerhatikan nya.


Malvyn melihat sikap Aisyah berdecak sebal. Ia pun mendekati dan memeluk istrinya dari belakang. "Jangan cuekin aku," bisik nya membungkuk karena bahu Aisyah tidak setinggi ilusi yang tak bertepi. (Emak lagi galau kayaknya🙄🤭)


Tubuh Aisyah membeku atas perlakuan Malvyn. Rasanya jantungnya seakan hendak lepas dari porosnya. Ia memejamkan mata menetralisir kegugupan yang melanda.


"V-vyn," ucap Aisyah lirih disertai kegugupan.


Malvyn membalikkan tubuh Aisyah menjadi menghadap kearahnya. Tak lupa pula tangan nya terulur ke arah kompor listrik tersebut untuk mematikan alat itu. Masih dalam mendekap, satu tangan nya telaten membuat kopi dan susu cokelat meneruskan pekerjaan Aisyah tadi.


Rupanya, ia masih memilih melayani sang istri daripada membiarkan Aisyah kenapa-kenapa. Apalagi menyadari jika istrinya itu terlihat gugup setelah kedatangan nya.

__ADS_1


"Kenapa kamu yang buat?" tanya Aisyah sedikit kecewa karena Malvyn tak membiarkan dirinya melayani sang suami.


"Aku hanya menuang air panasnya saja, sayang. Takaran kopi yang kamu buat sudah pas dan enak. Jangan hanya karena aku yang tuang air panas, kamu menjadi berkecil hati. Jangan begitu. Percayalah, aku lebih suka kamu terus bersamaku tanpa harus mencoba menjadi istri di luaran sana."


Aisyah mendengar penjelasan Malvyn merasa terharu. Ia sering sekali merasa rendah diri kegika melihat Oma Nadira dan Mami Ivy melayani suami mereka dengan telaten. Sangat berbeda dengan dirinya yang lebih sering dilayani oleh Malvyn.


"Kamu enggak malu kalau aku gak bisa layani kamu dengan baik?" tanya Aisyah ragu-ragu.


Malvyn menggendong Aisyah lalu mendudukkannya di sebelah wastafel, tepat di samping dua gelas mereka. Kemudian menarik satu kursi yang ada di meja mini bar dan duduk tepat di hadapan Aisyah.


Aisyah berdehem ketika posisi duduk mereka agak iintin karena wajah Malvyn tepat di depan selaangkangaan nya.


"Aku gak merasa kamu gak baik layani aku. Sudah pernah aku bilang, aku bisa masak sendiri. Aku bukan pria yang harus makan masakan istri atau masakan rumah. Sekarang jaman sudah maju, gak melulu merepotkan istri harus masak sementara istri masih punya kepentingan pribadi. Tapi harus ingat, aku gak suka kamu main sama pria lain. Kedua pengawal kamu, bolehlah!" kata Malvyn agak malas mengucapkan kalimat terakhir. Ia seakan tahu bila istrinya hendak protes mengenai kedua pengawal itu.


Aisyah terkekeh mendengar kalimat akhir Malvyn. Ia pun memberanikan diri mengecup kening suaminya itu hingga membuat pria tersebut menyandarkan kepala di pahaa nya.


Tidak ada adegan panas disana karena setelah menghabiskan kopi dan susu cokelat, keduanya beristirahat setelah membereskan peralatan kuliah dan kerja mereka.


*


*


"Berhentilah mencariku, Rio!!" sentak Malya dan mengguncang tangan nya yang dicekal oleh pria yang dihindarinya beberapa bulan ini.


"Enggak. Kamu harus ikut aku pulang," kata Mario dingin.


Mendengar ucapan Mario barusan semakin membuat Malya berang. "Untuk apa aku pulang? untuk melihat kemesraan kamu dan istrimu? untuk menjadi pemuas naffsu mu saja, begitu?" cecarnya menuju amarah.


Rasanya sangat menyesal telah jatuh cinta kepada Mario, pria yang tak memiliki perasaan ini.

__ADS_1


"Aku membencimu, Mario Wiguna!!"


__ADS_2