Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 56


__ADS_3

Sudah satu minggu Aisyah tidak ditemukan dan berhasil membuat Malvyn terlihat kacau. Merokok, mabuk-mabukan, marah, bahkan menangis setiap hari dilakukan nya.


Ia selalu marah-marah setelah itu mabuk-mabukan, dan dalam keadaan mabuk, Malvyn akan menangis atas kehilangan istrinya.


Mario juga sampai kini belum mendapat informasi mengenai keberadaan Aisyah. Entahlah. Rasanya sangat pusing melihat hubungan suami dan istri ini.


"Tuan. Anda harus bekerja," tegur Mario setelah berada di Apartemen Malvyn.


Setelah berada di Apartemen Malvyn, Mario segera memadamkan lampu, membuka gorden kamar agar sinar Mentari masuk ke dalam nya.


Mario menggeleng melihat Malvyn yang duduk di sofa tunggal, masih memakai pakaian kemarin, penampilan yang berantakan, mata cekung, dan menghitam.


Ia yakin bila bos sekaligus sahabatnya itu tidak mandi ataupun tidur karena istrinya telah menghilang.


Mario sendiri mengakui kehebatan nyonya muda nya karena berhasil melarikan diri tanpa jejak.


"Anda harus mandi dan bangkit kembali, tuan. Kenapa anda lemah seperti ini? sangat terlihat asing," ledek Mario karena memang sangat terlihat berbeda dari biasanya.


Malvyn yang biasa Mario lihat selalu bersikap tegas, berwibawa, dan pantang menyerah. Tetapi, lihatlah pria itu sekarang persis pasien Rumah Sakit Jiwa, pikir nya.


Malvyn menatap Mario dengan tatapan tajam lalu tersenyum miring meremehkan. "Kau bisa bicara seperti itu karena kau tidak tahu cinta itu apa, Rio. Kau hanya tahu memuaskan nafsuumu. Dan sialnya, adik ku menjadi korban dari nafsuu bejatmu," kata Malvyn berang tak terima dengan ledekan dari Mario.


Mario tak dapat lagi berkilah. Jika Malvyn sudah membahas tentang kehidupan pribadinya maka lidahnya seakan kelu untuk membela diri.


*


*


Opa Qenan membanting berkas laporan selama seminggu belakangan. Omset yang di dapat turun drastis. Sangat berbeda dengan beberapa bulan belakangan yang meningkat sangat pesat.


"Apa yang terjadi?" tanya opa Qenan yang memang sesekali datang ke Perusahaan untuk memeriksa hasil kerja cucunya. Ia menatap sekretaris Mario dengan sangat tajam.

__ADS_1


"Ma-maf, tuan besar. Sudah satu Minggu ini tuan muda tidak masuk,-.." belum selesai wanitabitu berbicara sudah disentak kembali oleh Opa Qenan.


"Tidak masuk? kemana anak itu? Apa dia pergi bersama wanita itu?" tanyanya beruntun dan pikiran nya mengarah kepada Jesica.


Sekretaris itu menggeleng dan menunduk karena merasa takut. Walau sudah berumur, opa Qenan tidak kehilangan wibawanya.


"Tidak, tuan besar. Nona Jesica juga datang ke kantor mencari tuan muda," jawab sekretaris itu takut-takut.


Opa Qenan tampak menggeram. Ia keluar dari ruangan Malvyn kemudian pergi meninggalkan Kantor miliknya itu. Opa Qenan datang ke mansion utama dan menjemput papi Edzard yang seperti baru saja bangun tidur.


"Astaga!! Jam segini kau baru saja bangun, Ed? bagaimana gak dipatuk ayam rejeki mu kalau begini kelakuan mu?" Kemarahan nya belum juga redah, ketika sampai di Mansion utama justru mendapati sang anak sulung seperti pengangguran.


Opa Qenan dan Oma Nadira lebih suka tinggal di rumah pertama kali ditinggali mereka setelah menikah. Papi Edzard dan mami Ivy yang tinggal di Mansion utama keluarga Abraham.


Papi Edzard masuk ke dalam mobil, duduk disebelah opa Qenan dan menutupi tubuhnya dengan sarung yang masih dipakainya sejak tidur tadi.


"Pi. Omset naik turun dalam bisnis itu wajar. Ayolah, jangan terlalu giat bekerja. Keturunan rudal Amerika juga butuh hiburan, kasihani kami!" ungkap papi Edzard bergumam dengan mata yang terpejam.


"Kembalilah sadar sebelum hartamu lenyap dalam hitungan detik Edzard Abraham!!!" geram Opa Qenan dan berhasil membuat seorang Edzard Abraham langsung terbangun dan tak merasa kantuk kembali.


Papi Edzard menoleh ke arah opa Qenan dengan wajah kesal. "Papi gak boleh begitu. Dari dulu gak pernah berubah. Sama Elysia saja selalu dimanja padahal sudah punya suami," ia kesal karena sedari dulu memang Opa Qenan selalu memanjakan adik nya itu.


"Tentu saja berbeda," kata opa Qenan semakin membuat Papi Edzard merasa kesal.


Mobil mereka telah sampai di basement apartemen mewah yang berada di Jakarta Selatan.


Beruntung resepsionis yang bertugas disana memang mengenal Opa Qenan karena dirinyalah yang menghadiahkan apartemen ini kepada Malvyn saat ulang tahun cucunya itu ke seperempat abad.


Tetapi, kedatangan mereka membuat salah fokus dengan kostum papi Edzard yang mengenakan baju tidur bermotif Spongebob Squarepants pada siang hari.


*

__ADS_1


*


Opa Qenan berjalan diikuti dengan malas papi Edzard memasuki apartemen Malvyn. Papi Edzard begini karena sangat menghormati privasi sang anak.


Tetapi, papi Edzard sangat mengerti bagaimana didikan opa Qenan. Hanya saja, dirinya sering melawan, adiknya Alice yang selalu patuh, dan Elysia yang selalu dimanja.


Kedua pria dewasa beda usia itu menatap sekeliling tampak rapih namun masih tercium bau alkohol yang menyengat.


Lantas karena itu membuat mereka penasaran dan membuka pintu kamar utama. Opa Qenan dan papi Edzard melihat penampilan Malvyn yang terlihat kacau dan Mario hanya diam saja.


"Opa?!!!" kata Malvyn terkejut kemudian berdiri menahan rasa sakit dikepalanya.


Opa Qenan dan papi Edzard berdecak melihat keadaan Malvyn seraya mendudukkan bobot tubuh mereka.


"Opa mendidik kamu dan Mario dari dulu hingga sekarang sangat bagus. Tapi kenapa kamu masih saja menyimpang, Vyn?" sentak opa Qenan menatap Malvyn sangat tajam.


Sementara Malvyn yang ditatap menunduk seketika. Yang dikatakan opa Qenan benar adanya. Hanya dirinya dan Mario memiliki dunia gelap yang tak dimiliki sang opa.


Mata papi Edzard memicing menatap sebuah figuran kecil yang tergeletak di atas nakas. Ia bangkit dan langsung menuju kesana dan mengambil figuran tersebut.


Papi Edzard terbelalak melihat siapa yang ada di figuran itu ternyata anak nya sendiri. "Apa maksudnya ini, Vyn? kamu sudah menikah dan menyembunyikan nya dari kami?"


Opa Qenan tampak terkejut dan langsung menatap Malvyn dengan tajam. "Apa maksudnya ini, Vyn?"


Malvyn yang menunduk memberanikan diri menatap opa Qenan dan papi Edzard secara bergantian.


"Malvyn sudah menikahi wanita yang sangat ku cintai. Maaf harus menyembunyikan nya."


"Jadi, kemana menantuku?"


"Dia sudah pergi,"

__ADS_1


__ADS_2